Wartawan ‘Plus-Plus’: Sebuah Pledoi

 (Photo credit: Wikimedia Commons)
Wartawan sekarang juga mesti plus-plus. (Photo credit: Wikimedia Commons)

Melalui WhatsApp, suatu siang saya diajak bertemu oleh seorang teman di hari libur di tengah pekan. Saya berkelit dari kewajiban untuk hadir segera  untuk memenuhi ajakannya bertandang ke rumah seorang teman lain yang cukup jauh dari tempat tinggal saya di jantung ibukota. Kata saya,”Saya masih ada pekerjaan yang harus saya selesaikan. Mungkin habis makan siang saya baru bisa ke sana.” Begitulah kira-kira janji saya kepadanya dalam bahasa yang lebih halus.

“Ah, kamu ini! Bekerja terus tapi nggak kaya-kaya!” selorohnya pada saya. Saya tersenyum kecut meskipun saya hanya menatap layar gawai. Saya memang tidak mengada-ada. Ada sebuah pekerjaan menerjemahkan yang saya sedang tangani. Dan saya sudah menetapkan disiplin ketat untuk menyelesaikan setidaknya sepuluh halaman dalam sehari agar bisa lekas selesai pada batas waktu yang sudah disepakati. Jika gagal saya penuhi, denda sudah menanti.

Anda pikir saya penerjemah penuh waktu? Tidak, saya wartawan. Dan saya sudah menekuni pula banyak pekerjaan selain jurnalisme. Di waktu luang saya berusaha untuk melengkapi diri dengan beragam ketrampilan selain jurnalistik yang bisa bermanfaat dalam mengais rezeki halal. Karena memang mengandalkan nafkah dari jurnalisme saja tidak mungkin cukup untuk bisa bertahan hidup di pasar tenaga kerja Jakarta yang makin mahal dan kompetitif serta dunia bisnis dan ekonomi makro yang secara umum masih terhimpit.

Di tengah degradasi jurnalisme seperti sekarang, saat konten orisinal dan berkualitas makin jarang dan daur ulang konten makin menjadi-jadi, belum lagi dengan desakan teknologi informasi, rasanya profesi wartawan makin tergerus. Saya sudah pernah membaca bahwa jurnalis ialah salah satu profesi yang akan segera digantikan oleh mesin/ algoritma. Programmer sudah bisa membuat kode-kode khusus yang nantinya akan mengumpulkan konten secara otomatis, yang hasilnya kemudian bisa disajikan sebagai berita dan disuguhkan pada pembaca. Berita jenis ‘hard news’ misalnya berita gempa bumi akan bisa dengan mudah dibuat karena sudah memiliki pola (template) 5W dan 1H yang sudah lazim itu. Tidak perlu menyuruh seorang reporter mengetik, algoritma itu akan bekerja mengumpulkan data dari pusat data seismik yang ada dan mengirimkannya ke kantor-kantor berita yang membutuhkan dan menyebarkannya secepatnya.

Saya tentu awalnya takut mendengar ramalan semacam itu. Kemudian saya mulai menyiasatinya dengan melakukan diversifikasi ketrampilan diri. Saya harus bisa lebih dari hanya sekadar menyajikan fakta dalam berita, atau mendaur ulang konten dari portal berita lain yang sudah ada. Saya pun mencari berbagai celah potensial untuk mengembangkan diri saya agar menjadi wartawan plus-plus.

Pekerjaan sehari-hari saya sebagai jurnalis daring membuat saya terpapar dengan media sosial secara terus menerus, perlahan-lahan saya mulai belajar media sosial juga. Saya menyisihkan waktu secara sengaja untuk belajar lebih mendalam tentang media komunikasi baru ini. Dan dari sana, saya bereksperimen dengan apapun yang saya miliki, baik itu alat, kesempatan dan berbagai metodenya yang memungkinkan untuk belajar media sosial karena saya sadar akan makin banyak orang memerlukan ketrampilan berkomunikasi secara lebih efektif dan efisien di kemudian hari. Saya pun nekat mengikuti lokakarya media sosial selama beberapa hari di tengah pekan meskipun itu artinya jatah cuti saya tergerus. Saya tahu ini merupakan investasi masa depan, karena sebagai wartawan, sampai kapan saya mesti mengetik berita daur ulang dan mewawancarai orang-orang hanya untuk dibaca di portal berita hanya untuk dilupakan setelahnya? Dan investasi ini terbukti menghasilkan karena saya baru-baru ini diundang untuk menerangkan media sosial dan mekanisme pemanfaatannya sesuai tujuan komunikasi kelembagaan.

Bidang pekerjaan jurnalisme juga berkaitan erat dengan dunia tulis menulis kreatif (creative writing). Sehingga saya pun mencoba menulis artikel di media jurnalisme warga. Selain itu, saya beruntung karena beberapa kali artikel yang saya tulis termuat di dalam surat kabar juga. Upah untuk satu artikelnya memang tidak seberapa tetapi toh sudah membantu memupuk reputasi saya sebagai wartawan yang tidak cuma bisa menulis berita tetapi juga lainnya (karena ada juga wartawan yang menulis hanya saat mereka bekerja, sebab passion mereka bukanlah menulis). Semua itu membantu saya mendapat pekerjaan sebagai ghostwriter (penulis bayangan) sebuah buku dan penulis di sebuah majalah seni.

Setelah itu, saya juga berhasil memasukkan tulisan-tulisan saya dalam beberapa buku yang diterbitkan oleh teman-teman saya. Sekali lagi, memang imbalannya sangat tidak seberapa tetapi saya terus melakukannya sebab saya yakin saya melakukan ini untuk mengasah ketrampilan saya dan memperkaya wawasan dan memperluas jaringan. Pendeknya, tidak ada yang sia-sia jika saya berpikir dalam jangka panjang.

Dalam membuat berita/ konten, saya juga terbiasa menerjemahkan (karena saya diserahi segmen berita mancanegara). Dengan ditambahi dengan latar belakang pendidikan yang mendukung (Sastra Inggris), saya pun juga melakoni profesi penerjemah paruh waktu. Saya mencoba menjalin relasi dengan banyak orang karena saya sadar dari banyaknya kenalan, saya bisa menawarkan jasa saya sebagai penerjemah. Dan relasi itu dibangun dengan organik, yang maksudnya ialah hubungan yang saya bangun tidak melulu karena saya berhasrat menawarkan jasa penerjemahan pada mereka tetapi juga karena saya ingin menjadi teman yang baik. Saya paling benci jika menemukan orang yang terlalu bernafsu memonetisasi hubungan mereka dengan orang. Jika menguntungkan, ia dekati dan berhubungan baik dengan orang tetapi jika tidak ada keuntungan yang bisa dipetik, orang itu diacuhkan begitu saja.

Hobi lain yang saya minati juga kemudian saya terus tekuni. Saya menyukai yoga untuk diri sendiri awalnya. Saya anggap ini upaya menyehatkan diri agar saya bisa bekerja leboih produktif, karena profesi wartawan sungguh identik dengan kebiasaan kurang sehat, dari merokok, mengopi, begadang, makan sembarangan (asal kenyang dan enak)  Hingga kemudian saya menemukan celah untuk memaksimalkan minat saya ini lebih jauh. Saya terus berlatih dan akhirnya memutuskan belajar lebih dalam sampai mengikuti pelatihan mengajar yoga. Singkatnya, saya terjun dalam dunia yoga sebagai pengajar dengan salah satu alasannya, yakni untuk meragamkan ketrampilan hidup saya di samping kemampuan dan pengalaman jurnalistik yang ada.

Selain semua bidang di atas tadi, saya juga masih meluangkan waktu untuk mengajar bahasa Inggris untuk klien pribadi. Saya juga sebelumnya sudah mengajar di sebuah kampus tempat seorang politisi memberikan celetukannya soal gaji kecil pewarta. Saya meninggalkan tempat itu sekarang. Tidak lain karena gajinya juga tidak kalah memprihatinkan dari gaji wartawan. Dari pengalaman itu, saya lebih suka mengajar klien individual karena tidak perlu kerja ‘rodi’ mengajar kelas berisi 60 orang dan meneliti kertas jawaban ujian tertulis sampai larut malam. Upah lebih tinggi karena saya yang menentukan jumlah dan jadwalnya sendiri. Mau, ambil. Tidak mau, silakan cari yang lain. Dan setelah les, saya bebas. Tidak terbebani kewajiban menyetor nilai, menandatangani lembar ini itu untuk bisa mengambil honor, berbasa-basi dengan rekan pengajar yang mengira saya mahasiswa juga. Merepotkan.

Jadi, kalau saya mendengar politisi itu mengolok-olok gaji pewarta dan mengukur kesejahteraan dari kekerapan mengunjungi mall dan berbelanja barang-barang konsumtif, saya hanya bisa berdehem dan menggulingkan bola mata. Saya tidak akan terhina karena memang begitulah faktanya. Akan tetapi meskipun itu benar, kalau mau berpikir lebih bijak, tidaklah etis bagi seorang tokoh publik untuk melontarkannya dalam kesempatan terbuka, saat leluconnya bisa dikutip dan disebarkan setelah konteksnya dipreteli secara semena-mena.

Alih-alih  merasa terhina dan berang, saya anggap lelucon yang sama sekali tidak lucu itu sebagai sebuah cambuk untuk menjadi wartawan ‘plus-plus’. Maksud ‘plus-plus’ itu tentu bukan wartawan yang menyambi menjadi pekerja seks komersial (meskipun memang harus diakui lumayan menggiurkan, tetapi masalahnya berapa banyak wartawan yang bahkan peduli dengan penampilan fisik mereka sendiri), tetapi menjadi wartawan yang sanggup menjadi lebih dari sekadar pekerja teks komersial. Karena wartawan plus-plus akan memiliki kekuatan tersendiri, tidak hanya bisa pasrah pada pemodal yang mau menang sendiri dengan menggaji mereka sekecil-kecilnya. Jadi jika idealisme wartawan dilanggar, wartawan itu tidak akan kelaparan saat harus meninggalkan kantor-kantor berita para pemodal kikir atau kantor redaksi yang tercemar kapitalisme digital yang mengukur kinerja dengan pageviews. (*)

11 Cara Cerdas Bedakan Berita yang Tepercaya dari Hoax

Berita bohong membanjiri dunia informasi kita. Yang kita perlukan adalah cara untuk menyaringnya sebelum masuk ke otak kita. (Foto: Wikimedia Commons)

KEMUAKAN terhadap beredarnya berita bohong (hoax) di dunia maya saat ini sudah mencapai titik klimaks. Sampai-sampai media sosial Facebook mesti turun tangan dan mengeluarkan pernyataan bahwa pihaknya akan menempuh langkah konkret untuk memberangus konten berita bohong yang berlalu lalang di sana.

 

Dan parahnya lagi ialah hal ini tidak hanya melanda kaum muda yang secara intelektual belum matang tetapi juga kaum dewasa dan cendekia. Tak peduli pendidikan formal yang sudah ditempuh, seseorang masih berpeluang menyebarkan berita bohong sebab hasrat untuk menyebarkan berita yang sesuai dengan selera dan tendensi pemikiran kita memang akan selalu ada. Jika berita tidak mendukung opini yang kita sokong, apakah kita akan membagikannya di dinding atau me-retweet di linimasa kita? Saya rasa kecil kemungkinan demikian kecuali untuk sebagian orang yang memang sangat berpikiran terbuka (open-minded), yang berani mengakui kesalahan pemikirannya sebelumnya dan meluruskan jalan pikirannya sendiri. Tetapi di era sekarang, orang macam itu sudah langka. Sangat langka. Kita semua, tak terkecuali penulis sendiri, juga berlomba untuk menjadi yang jawara. Mana ada yang mau terlihat bodoh dan kurang mutakhir di media sosial. Daripada terlihat dungu, lebih baik tidak usah tampil saja, bukan?

 

Dari pemilihan presiden RI tahun 2014 kita sudah banyak belajar mengenai soal jurnalisme abal-abal ini sebetulnya. Menjelang Pilkada DKI Jakarta kali ini, rasanya kita masih juga belum banyak belajar dari pengalaman tersebut. Bahkan akumulasi kekesalan di Pilpres masuk dan menambah parah kondisi di Pilkada DKI. Dan ini juga bukan masalah yang dihadapi oleh bangsa kita saja. Amerika Serikat yang mengklaim dirinya lebih maju dalam banyak hal termasuk jurnalisme dan demokrasi juga mengalami masalah yang serupa. Publik AS kerap teperdaya semasa masa kampanye Pilpres mereka yang baru saja berakhir dengan hasil yang membuat banyak orang terperangah.

 

Menyebarkan berita bohong di media sosial memang sepintas tidak merugikan karena mudahnya menyebarkan. Tinggal klik ’bagikan’ atau ‘retweet’ atau ‘repath’ dan selesai. Tetapi kita seolah tidak bertanggung jawab atas apa yang kita sebarkan melalui akun-akun kita itu. Seolah kita sudah mempercayakan semuanya pada mereka yang sudah menyebarkannya sebelum kita. Namun, dampaknya makin lama tidak bisa diabaikan.

 

Namun, sekarang masalahnya ialah apakah kita bisa membedakan berita yang faktual dan objektif dari berita bohong di internet? Dan jika memang bisa, bagaimana caranya?

 

Pertama-tama ialah mengendalikan dulu diri akal sehat kita masing-masing. Emosi berperan penting dalam menyebarkan berita bohong. Para pembuat berita bohong tahu bahwa jika judul dan konten merangsang emosi naik, akan lebih mudah bagi mereka untuk mengeruk keuntungan.

 

Keuntungan apa? Banyak. Kalau mereka mengincar keuntungan ekonomi, mungkin bisa dari segi pendapatan iklan. Makin kontroversial sebuah artikel berita, makin banyak dikunjungi, makin banyak dibagikan, makin viral, otomatis akan makin banyak orang berkunjung dan tingkat kunjungan situs mereka naik pesat. Dari sini, mereka bisa menjual traffic tinggi itu pada para pihak yang berminat memasang iklan (advertisers). Kalau bukan keuntungan material yang diincar, bisa jadi keuntungan tidak langsung lain yang tidak terpikir oleh kalangan awam, misalnya saja situs berita ‘aspal’ (asli tapi palsu) yang mengemas dirinya seolah situs berita tetapi hanya berisi opini satu pihak, tidak ada cross check, sehingga pemberitaannya menjadi penuh bias, dengan tujuan ingin mengarahkan opini masyarakat luas ke arah tertentu, atau menggerakkan massa. Bahkan bisa saja ada situs yang berpura-pura menjelek-jelekkan satu pihak agar membuat pihak yang bersangkutan seperti difitnah dan dari sana citra korban fitnah yang tertindas akan terpatri dalam benak masyarakat dan simpati bermunculan untuknya. Intinya, semua bisa terjadi. Apalagi dengan makin murahnya pembelian domain dan hosting website saat ini. Untuk memiliki blog ini saja saya cuma harus bayar sewa Rp160.000 per tahun. Bagi mereka yang punya banyak modal, uang itu cuma sekeping receh.

 

Masalahnya saat kita menemukan berita yang kurang selaras dengan pemikiran kita, biasanya kita memverifikasinya pada orang yang pemikirannya sepaham dengan kita. Langkah semacam ini bukannya memberikan pencerahan tetapi kadang lebih menyulut emosi secara kolektif karena dengan begitu, kita hanya seperti ingin mencari pembenaran atas emosi yang muncul. Dari sini bola salju itu mulai menggelinding. Padahal semestinya, kita melakukan cross check ke pihak yang berseberangan itu, bukannya teman-teman yang sudah pasti sepemahaman dengan kita, yang dengan menggebu-gebu akan mengatakan kita benar.

 

Kedua ialah menghindari memakai popularitas sebuah situs sebagai ukuran kredibilitasnya. Kadang memang kita tidak bisa mempercayai mentah-mentah sebuah media (baik cetak dan daring) yang sudah mapan dan beredar luas di masyarakat selama jangka waktu lama tetapi kebanyakan sumber berita yang paling dapat dipercaya di dunia maya adalah organisasi-organisasi media lama. Materi berita mereka masih bisa dikatakan relatif lebih dapat dipertanggungjawabkan daripada isi berita dari portal-portal berita baru. Ini karena mereka lebih banyak makan asam garam di dunia jurnalisme. Lain kasusnya jika media lama ini kemudian diintervensi oleh kepentingan pemilik modal di dalamnya. Secara otomatis, media lama semacam ini mesti dimasukkan ‘daftar hitam’. Sehingga bila kita ingin memastikan apakah sebuah berita di dunia maya benar atau tidak , kita bisa cek situs-situs berita media yang mapan dan sudah memiliki rekam jejak dan pengalaman yang lama. Jika ada di sana, artinya peluang berita yang Anda sebar adalah hoax lebih rendah. Namun demikian, kita juga mesti tetap waspada jika ada isi berita yang sengaja dilebih-lebihkan atau diberikan sorotan yang kurang proporsional agar mengaburkan kenyataan yang sebenarnya dan seutuhnya (sebab benar pun kalau tidak utuh bisa disalahartikan).

 

Ketiga ialah meneliti apakah ada banyak kesalahan ejaan (typo) dalam konten berita yang dimaksud, terutama jika itu adalah konten teks (artikel). Biasanya makin banyak typo yang ditemukan, makin tidak tepercaya juga isinya dan situs beritanya. Saya pernah menemukan sebuah artikel yang dengan sembrono dibagikan oleh kolega yang terdidik. Rupanya ia juga terjebak oleh judul yang bombastis dan mengukuhkan opininya sendiri soal seseorang atau suatu isu. Di dalam artikel, banyak dijumpai salah ejaan dan tipografi (gaya dan tampilan teks berita di sebuah situs berita) juga acak-acakan. Lain dari penataan situs yang lebih mapan, yang cenderung lebih rapi dan dibuat dengan pertimbangan matang.

 

Keempat ialah menemukan ada tidaknya nama (atau setidaknya inisial) reporter atau penyunting (editor) yang bertanggung jawab atas berita yang diunggah di situs tersebut. Selain itu, cari tahu juga di halaman “About” atau “Tentang Kami”, yang isinya mengenai seluk beluk situs daring tersebut. Siapa saja orang-orang di meja redaksinya? Bagaimana dan kapan mereka berdiri? Siapa pemilik dan pemegang sahamnya (karena ini sangat menentukan sikap mereka pada isu-isu tertentu)? Berada dalam grup bisnis apa situs berita itu? Siapa pimpinan redaksinya? Dan juga carilah alamat kantor redaksinya. Ini sangat penting karena dengan mencantumkan alamat yang jelas dan nyata, mereka akan berpikir lebih panjang jika akan menyebarkan berita bohong atau yang tidak objektif. Media yang mencantumkan alamat resmi redaksinya bisa dikatakan patut diapresiasi karena itu sudah menjadi satu langkah berani. Jika ada sesuatu yang terjadi, citra mereka akan buruk di masyarakat dan aparat bisa langsung mendatangi kantor dan menciduk mereka jika ada aduan dari pihak-pihak yang merasa dirugikan dari berita bohong yang disebarkan. Belum lagi risiko keselamatan jiwa yang dihadapi jika ada teror dari pihak-pihak yang berseberangan.

 

Kelima ialah bagaimana situs berita itu menggambarkan pihak lain dan mencoba meluruskan jika memang ada yang kurang benar. Jika situs itu menggambarkan pihak lain (baca: lawan) sebagai pihak yang 100 persen jahat atau patut dibasmi, Anda mesti waspada. Ini ciri berita bohong dan situs media abal-abal. Begitu juga sebaliknya jika Anda menjumpai berita yang isinya mendewa-dewakan satu pihak saja. Di dalam situs berita bohong, cuma ada hitam dan putih. Itu saja. Padahal di realita, tidak semudah itu.

 

Keenam ialah kewajiban untuk jeli memilah berita dari konten kehumasan (PR). Berita objektif berbeda dari artikel yang dibuat oleh staf humas sebuah korporasi. Berita objektif cenderung netral, tidak memihak dan menyuguhkan keterangan pihak-pihak yang bersangkutan dengan sebuah isu yang diberitakan. Sementara itu, konten kehumasan biasanya bersifat mengelu-elukan, mengunggulkan satu pihak saja. Tidak ada atau sedikit sekali unsur kritis dalam konten kehumasan sejenis ini.

 

Ketujuh ialah meneliti jika konten itu sangat memancing Anda untuk membagikannya di media sosial. Makin gatal Anda merasa untuk menyebarkannya setelah membaca (bahkan hanya dengan membaca judulnya saja), makin besar potensi berita itu hoax.

 

Kedelapan, apakah berita itu memiliki nada tajam dan penuh penghinaan pada satu pihak? Berita yang tendensius dan menempatkan satu pihak sebagai inferior, orang yang lebih rendah harkat dan martabatnya, atau lebih bodoh dan menjijikkan besar kemungkinan masuk dalam kategori hoax.

 

Kesembilan ialah monopoli atas fakta. Ketahuilah bahwa tidak ada manusia di dunia ini yang bisa memonopoli fakta. Jika sebuah berita mengklaim apa yang disajikannya sebagai fakta dan berita di sumber lain sebagai fitnah semata, di situ Anda mulai harus berpikir cerdas.

 

Kesepuluh ialah status nonpartisan. Ini sangat berlaku dalam masa-masa pemilihan jabatan publik atau pemilu. Semakin ngotot sebuah media berkata dirinya bukan situs partisan, biasanya kenyataannya adalah sebaliknya.

 

Kesebelas ialah dengan meneliti apakah situs berita itu cuma menulis ulang berita dari sumber-sumber lain atau mereka juga melakukan peliputan sendiri? Jika Anda menemukan berita di sebuah situs yang beritanya kebanyakan diperoleh dari sumber lain yang lebih mapan dan besar, dan beritanya juga sedikit atau bahkan tidak ada yang bersifat analisis dan mendalam (alias cuma artikel-artikel pendek 200-300 kata sebagai pemuas dahaga pengunjung akan informasi semu), bisa jadi itu cuma situs berita palsu. Biasanya juga artikel-artikel itu dikemas dengan judul yang berlebihan, hiperbola dan memicu orang mengklik dan membagikan. Inilah yang namanya ‘click bait’. Tujuannya agar orang mau datang ke situs itu dan menaikkan pendapatan iklannya.

 

Mungkin semua cara di atas belum mencakup semua. Tambahkan di kotak komentar jika Anda memiliki pendapat lain tentang bagaimana membedakan berita bohong dari berita yang objektif. (*)

Repotnya Jadi Repo(r)ter

Repotnya pekerjaan yang dilakukan seorang reporter mungkin akan membuat anak-anak muda urung menempuh karier di jalur ini. (Sumber foto: Wikimedia Commons)

Beberapa tahun lalu saya menemukan sebuah lowongan pekerjaan yang ditawarkan di sebuah situs lowongan pekerjaan daring. Tulisannya “repoter”. Saya ingin tahu pekerjaan macam apa reporter itu. Saya baca dengan lebih cermat, deskripsi kerjanya mirip dengan reporter. Orang mengenalnya sebagai jurnalis, wartawan, atau sejenisnya. Profesi yang mungkin tidak banyak diminati anak muda saat ini kecuali mereka tidak tahu apa yang akan mereka lakukan dengan masa depan mereka.

Saya pikir lagi. Typo atau salah eja tadi memang cocok untuk menggambarkan pekerjaan seorang reporter. “Repot”, sebuah kata sifat, bisa diubah menjadi kata benda yang merujuk pada orang yang mengalaminya jika ditambahi akhiran -or atau -er. Melakoni pekerjaan ini memang membuat orang pontang-panting.

Akan tetapi, meski begitu kerepotan, pekerjaan reporter relatif kurang dihargai oleh masyarakat. Di Indonesia, jarang sekali orang tua menyarankan sejak kecil anak mereka agar bercita-cita sebagai reporter. Lihat saja, rata-rata pasti menyarankan anak menjadi dokter, insinyur, dokter, presiden. Tidak aneh, karena memang ada gengsi juga di sana (walaupun apresiasi finansial juga kadang tidak bisa dipatok — ada dokter yang pendapatannya juga kecil sekali meski prevalensinya rendah).

Penulis humor Raditya Dika pernah menuliskan dalam salah satu bukunya, “Babi Ngesot“, bahwa menjadi reporter itu “pekerjaan yang keren” hanya karena Superman adalah seorang reporter juga. Dan kalau saya boleh tambahkan, Spiderman atau Peter Parker juga seorang wartawan juga. Hanya saja ia jurnalis foto yang kerap ditindas pemberi kerjanya. Sebuah gagasan yang delusional khas anak muda yang penuh dengan idealisme. Ia mengaku dulu pernah bekerja sebagai tenaga magang di sebuah stasiun televisi swasta di ibukota.

Ia bercerita asyiknya menjadi seorang reporter di sana. Berbagai pengalaman sinting dan kocak ia alami. Dari salah paham saat mewawancarai narasumber, liputan ancaman bom palsu sampai harus kerja pagi sampai dini hari.

Menyoal kewajiban seorang reporter untuk memiliki ketajaman telinga saat mewawancarai via telepon saya juga pernah alami. Maka dari itu, dalam berbagai kesempatan jika saya tidak benar-benar terpaksa saya akan menggunakan media tertulis saja untuk menghubungi narasumber (entah itu via aplikasi obrolan bergerak) atau surel. Lebih baik lagi jika saya bisa bertemu langsung dan merekam perkataan narasumber itu. Saya tidak cuma mengandalkan pendengaran dan daya ingat saya yang begitu tidak bisa dipercaya. Kecepatan menulis saya juga kurang tinggi. Alhasil, untuk mencegah salah kutip saya selalu berupaya merekam dan transkripsi hasil wawancara itu dengan lebih baik

Kerepotan menjadi reporter sudah terjadi saat melamar lowongan kerja. Biasanya reporter sudah diwajibkan menyerahkan sebuah karya jurnalistik. Lalu bagaimana jika belum berpengalaman sehingga belum ada karya yang bisa dikumpulkan? Itu repotnya.

Kerepotan lain menjadi reporter muncul saat sudah diterima kerja. Tiba-tiba saja reporter bisa ditugasi beat atau ditempatkan di desk yang sama sekali tidak dikuasai. Beat sendiri bisa dimaknai sebagai sebuah area peminatan seorang reporter. Namun, tetap saja menurut pengalaman penugasan bisa mengabaikan minat seorang reporter dan di sini reporter harus rela kerepotan menyesuaikan diri, belajar dari nol tentang semuanya dengan sangat cepat. Pokoknya tidak ada waktu untuk santai. Harus belajar mandiri setiap hari.

Bagi reporter, setiap hari baru berarti sebuah tantangan baru. Reporter, sepintar apapun, tidak akan bisa meramal berita yang akan muncul dari dalam pikiran keesokan hari. Selalu ada insiden baru yang harus dicari dan diceritakan pada pembacanya.

Reporter juga mesti rela repot bekerja lembur tanpa diberi upah ekstra. Secara teoretis, seorang pewarta memang dikategorikan karyawan seperti buruh tetapi pada dasarnya beban kerja dan rentang waktu kerja mereka di lapangan sangat panjang dan penuh tekanan.

Tantangan bekerja sebagai reporter yang tak kalah besar bisa jadi ialah keharusan untuk bekerja jika diperlukan saat semua orang lazimnya berlibur atau santai. Bekerja di hari libur nasional, tanggal merah atau menghadiri sebuah event di akhir pekan, sudah terasa biasa bagi reporter.

Terakhir tetapi bukan yang satu-satunya ialah kerepotan yang jauh lebih hebat, yaitu kerepotan menjaga idealisme sebagai pewarta. Kita semua pasti tahu kecilnya gaji wartawan hingga memunculkan fenomena “wartawan bodrex”.

Pertanyaan yang Membungkam

Why_Did_You_Come_to_JapanTidak biasanya saya menanyakan pertanyaan yang ‘riskan’ pada narasumber. Tetapi tadi, saya mencobanya.

Startup itu sedang mengalami masalah dengan publik. Citra perusahaan mereka sedang mengalami sorotan tajam. Ada yang mencaci, seperti Sarah Lacy yang mengecam karena menganggap pendirinya tidak mengutamakan keselamatan pengguna terutama kaum perempuan. Ada yang bersikap biasa-biasa saja seperti Ashton Kutcher, salah satu investornya. Ada yang belum tahu apapun sehingga tidak bisa berkomentar banyak.

Karena ia tampil terakhir dalam event yang saya hadiri tadi, saya pun tergoda untuk meminta wawancara singkat. Saya sudah menyiapkan ‘amunisi’, sebuah pertanyaan tentang krisis humas tadi.

Kami pun duduk. Ia menjawab beberapa pertanyaan dari saya. Semuanya standar. Semuanya biasa. Semuanya lancar ia jawab.

Hingga satu pertanyaan terakhir saya muntahkan dari mulut. “Terkait krisis humas yang saat ini dihadapi startup Anda, bagaimana perusahaan Anda menghadapinya?” Ia tampak tersentak tetapi berhasil menampilkan ketenangan. Sedetik, dua detik, ia tak memberikan jawaban. “Startup kami masuk ke kota-kota….” Hening kembali. Waktu lama sekali berlalu rasanya. Saya menunggunya dengan ponsel teracung ke depan mulutnya. Pria yang masih berpikir itu masih diam. “Tunggu sebentar,”tangannya terkepal dan menempel ke mulutnya. Sangat kentara sekali ia sedang merangkai kata, menimbang-nimbang. Mungkin tentang akibat yang akan ditimbulkan dari perkataannya.

Lalu ia menegakkan kepala dan membuka mulut,”Startup kami masuk ke kota-kota baru dan kami berupaya memberikan layanan yang terbaik dan aman bagi konsumen. Begitu saja.” Pria muda itu tersenyum kecut. Ia bukan seperti pendirinya yang lantang berbicara. Jelas, risikonya terlalu tinggi, dan ia tidak mau memperparah kondisi di pasar yang penuh potensi ini.

Jawaban yang sama sekali tidak relevan. Kami berdua merasa sangat kikuk. Mata kami liar mengembara ke berbagai sudut ruangan, dan saat beradu, bergerak-gerak tak terkendali karena grogi.

Kami saling melempar senyum kecut. Ini sungguh akhir wawancara yang aneh. Saya pikir ia akan mengelak dengan berkata “no comment” atau semacamnya, tetapi memberikan isyarat yang penuh ketegangan semacam ini malah seolah membenarkan apa yang sedang beredar di luar sana.

Dan saya tidak akan mengatakan siapa dan apa startup ini. Karena mungkin ia akan melacaknya di Google atau Yahoo!, sebab di akhir wawancara ia berkata,”Kamu akan terbitkan kapan dan di mana?” Nada suaranya penuh kecemasan, seperti terancam. Ia sangat defensif. Dan saya sangat kasihan. Karena itulah, saya akhiri saja wawancara yang aneh itu.

Saya jawab singkat, “Di situs X…mungkin minggu depan dipublikasikan…” (Image credit: Wikimedia)

15 Kualitas Penulis Unggul

‎Berkecimpung dalam dunia jurnalistik selama bertahun-tahun dan berbincang dengan beberapa jurnalis, Roy Peter Clark yang pernah menulis “How to Write Short” menemukan kesamaan dalam diri para penulis terbaik.

Pertama adalah ‎mereka semua kecanduan membaca sepanjang hayat. Mereka melahap semua bacaan dari fiksi sampai non-fiksi, novel sampai film.

‎Kedua, mereka cenderung suka menulis panjang dan mereka menyadarinya. Mereka menulis dengan sepenuh hati dan itu terpancar dari semua kalimat yang dirangkai. Anda sebagai pembaca pastinya akan merasakan kejanggalan bila penulis atau wartawan tidak begitu menguasai atau tertarik pada satu topik. Tulisannya akan terasa hambar atau monoton. Penulis yang baik ingin memanjakan pembacanya dengan menyajikan karyanya yang terbaik, dan kerap karya itu menjadi begitu panjang. Namun demikian, mereka juga bisa menyesuaikan diri bila harus menulis dengan singkat dan padat.

Ketiga, penulis unggul memandang dunia sebagai tempat mereka bereksperimen. Dengan persepsi ini, mereka tidak segan turun ke lapangan, tidak hanya berkutat dengan buku dan komputer di ruangan sepi tetapi juga mengobrol dengan orang-orang baru, berkunjung ke tempat-tempat baru, ‎merasakan pengalaman baru. Semua itu pada gilirannya akan memperkaya cerita yang ia akan suguhkan ke pembaca.

Keempat, penulis berkualitas menyukai kebebasan dalam bekerja. Energi kreativitas mereka tidak bisa dikendalikan oleh orang lain termasuk editor. Mereka seolah memiliki kompasnya sendiri, semacam naluri yang mengatakan pada dirinya,”Ini pasti akan menarik untuk disajikan bagi pembaca saya.”

Kelima, penulis yang top tidak sungkan dan tidak malas mengumpulkan fakta dan informasi, termasuk anekdot, kisah yang membuatnya terkesan, dsb. ‎Mereka menggunakan berbagai alat yang ada untuk mengumpulkan dan menyimpan data berharga tadi, dari mencatat di buku harian, merekam di alat tertentu, mengetik di perangkat mungil seperti ponsel, atau mengandalkan catatan mental di benaknya.

Keenam, penulis unggul bersedia menghabiskan waktunya menyempurnakan bagian pembuka dalam karyanya. Karena ia tahu, tanpa pembuka yang baik, orang akan sulit tertarik membaca tulisannya lebih lanjut sampai habis. Dalam jurnalisme, kita kenal bagian ini dengan istilah “lead”, yang memuat gagasan utama tulisan dan sekaligus membuat pembaca makin penasaran.

Ketujuh, ‎penulis yang baik sanggup melarutkan diri dalam kisah yang mereka tuliskan. Ini berkaitan erat dengan totalitas dan fokus dalam berkarya. Mereka menulis dengan sepenuh hati, bukan hanya mencari uang atau memenuhi tuntutan editor dan pemilik modal.

Kedelapan, ketekunan selalu bersemayam dalam diri penulis-penulis unggul. Mereka sanggup bekerja sehari semalam untuk memberikan tulisan terbaik mereka.

Kesembilan, ‎mereka menyukai keteraturan terkait bahan tulisan yang akan digunakan karena mereka sadar pekerjaan akan jauh lebih mudah bila literatur dan sumber yang dibutuhkan dikelompokkan dengan baik.

Kesepuluh, penulis-penulis berkualitas “tega” untuk menulis ulang atau bahkan membuang bagian yang tak perlu. JK Rowling, misalnya, mengaku membuang bagian cerita tentang otopsi Barry Fairbrother dalam The Casual Vacancy meski sudah susah payah menulisnya selama berhari-hari hanya karena ia kemudian merasa bagian itu terlalu melenceng dari isi cerita.‎ Menyelesaikan draft pertama adalah sebuah langkah yang baik tetapi belum bisa disebut akhir proses kreatif penulisan. Menulis adalah menulis ulang, begitu kata seorang penulis. Buku-buku laris biasanya hasil dari penulisan ulang yang makin menyempurnakannya.

Kesebelas, mereka biasa membaca keras-keras tulisannya untuk mengetahui kejanggalan. David Sedaris membaca lantang hasil tulisannya sebelum menyerahkan ke editor atau penerbit. Sekali dua kali belum cukup. Belasan kali juga belum cukup kalau masih bisa diperbaiki lagi. Alasannya? Dengan membaca, kita bisa mengetahui seberapa mengalirnya kisah yang kita ceritakan dalam tulisan.

Keduabelas, penulis unggul suka bercerita. Elizabeth Gilbert mungkin contoh terbaik dari penulis yang begitu suka mengobrol tentang hal-hal konyol dan remeh temeh tetapi menarik dan menghibur. Ia kerap mengumpulkan anekdot-anekdot berharga dalam ingatan dan catatan hariannya untuk kemudian meleburkannya dalam karyanya. Daripada mentah-mentah menyuguhkan informasi dalam pola 5W dan 1H, ia memakai gaya bercerita yang mengalir dan menarik karena tulisannya padat dengan narasi, anekdot, kronologi dan suasana yang detil.

Ketigabelas, ‎penulis yang baik mampu memberikan keseimbangan antara memuaskan idealisme diri dan selera pembacanya. Mereka berusaha menarik tanpa harus menjadi orang lain dalam tulisannya.

Keempatbelas, penulis berkualitas tahu ia tidak bisa terjebak dalam satu gaya penulisan selamanya. Ia mau mengeksplorasi diri dengan mencoba berbagai bentuk dan gaya menulis. Dengan keluar dari zona nyaman itulah, ia akan memperkaya pengalaman dan ketrampilan menulisnya.

Itu semua menurut Clark adalah ciri-ciri umum penulis yang berkualitas. Dan menurut saya masih ada satu lagi ciri lainnya, yaitu kemampuan bekerja di dalam berbagai kondisi apalagi jika mereka diburu waktu. Mereka tidak memiliki ketergantungan yang begitu mengganggu pada suatu hal, dari kafein sampai keharusan menulis di tempat dengan kondisi tertentu. ‎ Kita tentu pernah menjumpai penulis-penulis eksentrik yang hanya bisa bekerja di dalam suasana tertentu atau dengan alat menulis tertentu. ‎Ini hanya akan menghambat produktivitasnya sebagai penulis.

Dari Ubud Writers Readers Festival 2014

IMG_3549Lain dari kawasan tujuan wisata di pesisir pantai seperti Seminyak, Kuta, dan sebagainya, Ubud memiliki pesonanya sendiri. Letaknya di dataran berbukit membuat kita teringat dengan pemandangan khasnya:sawah terasering dengan bulir-bulir padi yang menguning. Dulu Ubud hanyalah sebuah daerah sepi yang menjadi tempat kediaman para putri, kaum brahma yang terpelajar dan seniman-seniman Bali tetapi sekarang sudah disulap menjadi area turis yang padat dan hiruk pikuk. Berbeda dengan Kuta atau Seminyak yang kental suasana pantainya, Anda tidak akan menjumpai orang-orang memakai bikini atau celana renang di sini. Bahkan mengendarai sepeda motor dengan telanjang dada dilarang keras di Ubud Central. Di samping kantor kelurahan Ubud, Anda bisa menjumpai sebuah papan yang melarang terang-terangan naik motor ugal-ugalan tanpa baju. Larangan semacam itu tentu tidak bisa diberlakukan di daerah pantai semacam Kuta. Larangan yang cukup mengejutkan mengingat sebelumnya di perjalanan saya menjumpai seorang perempuan uzur tanpa penutup dada duduk bersantai di depan rumahnya.

Meski begitu, Ubud memang lebih berbudaya. Setahu saya sulit dijumpai klub-klub malam yang menonjolkan hedonisme dan suasananya hingar bingar di Ubud. Kebanyakan yang saya jumpai di sepanjang jalan adalah restoran mahal, butik mewah, toko buku, galeri seni lukis, studio yoga atau semacamnya. Tidak heran karena Ubud lebih banyak ditinggali oleh kaum budayawan, seniman dari berbagai bidang. Dari seniman kata-kata alias penulis, seniman lukis, seniman pahat, seniman patung, seniman musik, seniman ilmu alias kaum terpelajar, seniman kuliner atau chef, hingga mereka yang ingin mencari ilham atau sekadar mencari ketenangan di masa liburan.

Saya tidak ingat persisnya waktu terakhir saya berkunjung ke pulau ini, tetapi dalam ingatan saya tentang Bali, Ubud tidak termasuk dalam memori. Kalaupun dulu ada, sudah lama terhapus. Sehingga praktis Ubud terasa seperti tempat yang benar-benar baru bagi saya.

Sungguh sulit untuk menggambarkan keindahan Ubud hanya dengan barisan kata atau jepretan foto. Anda harus ke sana sendiri untuk bisa merasakan keindahan itu sepenuhnya.

Di sinilah Ubud Writers Readers Festival 2014 digelar. Bukan yang pertama dalam sejarah penyelenggaraannya, tetapi bagi saya inilah kali pertama. Tahun ini Ubud Writers Readers Festival menjadi kali kesebelas dalam penyelenggaraannya.

Festival tahun ini mengangkat tema “Saraswati Wisdom and Knowledge” karena bertepatan dengan perayaan Hari Saraswati pada hari Sabtu Umanis (yang sempat membuat lalu lintas Ubud sedikit lebih macet dan ada pengalihan lalu lintas karena adanya upacara di pura setempat), Watugunung sampai hari Rabu untuk mencapai tujuan utamanya:Maha Catur Purusha Artha. Sabtu diyakini sebagai hari turunnya ilmu pengetahuan ke dunia. Sementara hari Minggu diyakini sebagai Banyu Pinaruh, saat masyarakat Bali melaksanakan “tirtha yatra” ke tempat suci karena air dianggap sebagai sumber pengetahuan. Hari Senin disebut Soma Ribek saat warga bali mewujudkan pengetahuannya untuk mendapatkan kehidupan materi yang layak, hari Selasa merupakan hari raya Sabuh Mas dengan tujuan agar ilmu yang dimiliki bisa memuliakan diri dan hari Rabu dirayakan sebagai hari Pagerwesi  dengan ilmu pengetahuannya bisa mencapai keabadian hidup.

Festival bernuansa sastra dan jurnalisme ini bisa dikatakan sebagai buah kerjasama dua pihak: masyarakat ekspatriat yang bertempat tinggal di Ubud dan warga asli Ubud. Dengan begitu banyak tokoh dalam dunia sastra dan jurnalisme internasional, kita patut berterima kasih pada Janet DeNeefe dan Ketut Suardana. DeNeefe menggagas festival ini 11 tahun lalu setelah Bali diguncang oleh bom Bali yang menurunkan gairah pariwisatanya. Upayanya disambut baik oleh Yayasan Mudra Swari Saraswati.

Dengan makin meningkatnya populasi Bali, sukar rasanya membendung ekspansi turisme di sini. Di satu sisi, masyarakat Bali membutuhkan lapangan pekerjaan dari para wisatawan. Sektor inilah yang membuat mereka bisa bertahan dan berjaya secara ekonomi dibandingkan dengan provinsi-provinsi lainnya di tanah air. Tetapi di sisi lain, Bali tampaknya harus memikirkan bagaimana caranya mengendalikan turisme agar tidak menggerus alam dan budaya serta kearifan lokal mereka sendiri. Terbukti setelah bom Bali meletus, warga banyak yang menganggur. Hal ini sungguh berbeda dengan pulau wisata lain di dunia. Ambil contoh saja pulau Menorca di negeri matador Spanyol. Di sana, justru dikeluarkan undang-undang agar membatasi perkembangan pariwisata lokal. Apa pasal? Karena perekonomian warga lokal sudah bagus bahkan sebelum turis datang membanjiri daerah itu. Apakah Bali juga harus mengeluarkan aturan yang sama agar kemurniannya terjaga? Hanya warga Bali yang bisa menjawabnya.

Alam yang relatif masih murni di sini membuat Ubud menjadi lokasi yang memang layak untuk menyambut para pegiat sastra dari dalam dan luar negeri. Terletak di daerah berbukit dengan riam dan jurang di sela-selanya, Ubud sungguh menawan. Meskipun menurut penuturan teman saya Ubud sudah jauh lebih sesak daripada beberapa tahun lalu, Ubud masih tetap mempesona bagi mereka yang mendamba inspirasi agar bisa kembali bekerja dengan kreativitas yang lebih tinggi. Jalan-jalan di Ubud sempit, yang mungkin menandakan bahwa belum ada grand plan atau blue print untuk mendesain Ubud sebagai sebuah tujuan wisata kelas dunia. Akibatnya, kerap terjadi kemacetan singkat di jam-jam tertentu terutama saat lalu lintas bertambah deras.

Kami yang hadir di festival membahas berbagai isu tentang sastra, jurnalisme, buku dan kepenulisan dengan berlatar belakang ngarai dan sungai, sambil sesekali terkantuk-kantuk dibelai angin siang yang sejuk bukan main di tengah terpaan sinar matahari tropis pulau dewata di awal Oktober yang membuat rumput meranggas. Sungguh asyik masyuk.

Saat saya diwawancarai oleh seorang teman jurnalis, saya ditanya tentang mengapa saya hadir di sini. Festival ini benar-benar kesempatan yang langka dan saya ingin sekali menghadirinya untuk memperluas cakrawala dan koneksi. Meski memang biayanya relatif mahal untuk peserta perseorangan tanpa sokongan sponsor (tiket early bird yang saya beli hanya 40 dollar Australia), tidak akan ada yang sia-sia dengan menghadiri perhelatan akbar ini. Akan ada banyak kenalan baru, pengetahuan segar dan wawasan tentang sastra dan jurnalisme yang makin memperkaya diri.

Banyaknya peserta dan pembicara asing membuat saya merasa berada di wilayah sebuah negara asing. Bahasa Inggris menjadi menu sehari-hari. Padahal saya masih di Indonesia. Hanya dalam satu kesempatan, di sebuah diskusi yang dipandu I Wayan Juniarta, saya bisa menyaksikan seorang pembicara bernama Fadel Ilahi menggunakan bahasa Indonesia. Itu pun  ia harus didampingi penerjemah. Ditambah dengan porsi pembicara domestik yang relatif sedikit, saya merasa festival ini terkesan kurang Indonesia. Mengingat banyaknya komunitas atau lembaga pegiat sastra dan seni dan jurnalisme di Indonesia, tampaknya Ubud Writers Readers Festival masih harus mengangkat sastra Indonesia dengan lebih baik di penyelenggaraannya di masa mendatang. Dari sisi peserta sendiri, biaya untuk mengikuti workshop dan acara-acara program utamanya termasuk terjangkau, karena untuk WNI diberikan tarif khusus yang lebih murah. Jadi tidak ada alasan untuk melewatkan penawaran murah itu jika memang Anda benar-benar penyuka berat sastra, seni dan jurnalisme. Harga tiketnya bisa setengah atau sepertiga dari harga tiket untuk WNA! Jika Anda penyuka acara-acara bertema sastra tetapi merasa berat untuk menghabiskan uang sebanyak itu, saya sarankan untuk mulai menabung dari sekarang agar bisa segera membeli tiketnya jika nanti tiket early bird sudah dijual agar Anda bisa menghemat lebih banyak.

Digelar selama 4 hari dari 2 hingga 5 Oktober 2014, Ubud Writers Readers Festival cukup membuat puas. Bagaimana tidak puas? Anda bisa menikmati hingga 6 sesi diskusi dalam sehari, dari pagi hari sampai petang. Satu sesi berkisar antara 60-90 menit, cukuplah membuat Anda ‘mabuk’.

9 Jenis Judul yang Menarik Pembaca

Begitu pentingnya sebuah judul sehingga ia bisa turut menentukan menarik tidaknya sebuah tulisan. Kalau bisa saya katakan, judul juga sama pentingnya dengan sampul dan isi sebuah buku, jika tulisan itu bentuknya buku.Jika bentuknya sebuah artikel di media online yang tentu saja tidak memiliki sampul, tentunya judul itulah yang berperan sebagai sampul mukanya. Dalam banyak kasus, penggunaan judul yang berbeda (menggunakan kata-kata yang berbeda, atau menyusun kata dengan urutan berbeda meski maknanya sama) dapat membuat hasil yang berbeda pula. Karena itulah, kadang seorang copywriter harus melakukan eksperimen (A/B testing) terhadap judul naskahnya untuk menemukan tingkat efektivitas yang lebih tinggi dari masing-masing versi judulnya. Artikel yang isinya sama tetapi memiliki dua versi judul yang berbeda bisa menunjukkan jumlah pembaca yang berbeda pula. Itulah pentingnya sebuah judul. Dangkal memang kelihatannya kalau kita menentukan kualitas tulisan dari sebuah judul tetapi memang
demikianlah kenyataannya. Tidak banyak orang memiliki waktu dan kesempatan untuk menelaah semua tulisan atau iklan yang ia temui setiap hari, jadi membaca judul untuk menentukan akan membaca hingga habis atau tidak merupakan hal yang cukup masuk akal.

Menurut copywriter Bob Bly, ada 8 jenis judul yang telah teruji mampu membuat pembaca tertarik dan melakukan sesuatu, entah itu mengklik tautan, melakukan pemesanan/ pembelian, atau melakukan hal lain yang diinginkan oleh si penulis. Dan saya memasukkan 1 jenis lagi yang saya anggap patut kita ketahui sebagai pengetahuan atau sebuah ide untuk diterapkan dalam media Anda, jika Anda mau.

1. Judul langsung
Judul jenis ini seolah merangkum apa yang dikemukakan penulis dalam artikel atau tulisannya. Tidak ada upaya untuk menutup-nutupi atau membuatnya lebih menarik dengan distorsi yang bombastis. Contohnya yaitu “Seminar Copywriting Gratis!” Pembaca langsung bisa mengetahui isi tulisan yang dimaksud. Sayangnya, kadang jika terlalu sering dipakai, judul semacam ini terasa membosankan karena terlalu apa adanya. Orang menjadi tidak tergerak keingintahuannya. Namun, bila Anda memang ingin memberikan penjelasan yang gamblang lewat judul, silakan saja. Asal tidak dipakai terus menerus.

2. Judul tidak langsung
Kebalikan dari jenis pertama, judul semacam ini memberikan ambiguitas yang mendorong keingintahuan pembaca agar mengklik tautan Anda. Judul jenis tidak langsung biasa menggunakan kiasan atau kata-kata yang memberikan makna berbeda dan bermakna ganda. Seperti “Umpan Segar adalah yang Terbaik”. Nah, di sini konteks “umpan” belum diketahui pasti. Tergantung pada banyak faktor. Keingintahuan pembaca atas judul bisa membuatnya terpancing membaca. Bisa jadi ia puas atau kecewa setelah menemukan artikel Anda.

3. Judul berita
Anda bisa menemukan jenis headline seperti ini di situs-situs berita arus utama (mainstream). Misalnya, “Tentang Jurnalisme Warga” atau “Pro Kontra RUU Pilkada”.

4. Judul cara
Dengan menggunakan judul “Cara Me….”, biasanya orang yang sedang ingin tahu bagaimana cara melakukan sesuatu akan penasaran membacanya. “Bagaimana Menghasilkan Uang Online” membuat orang ingin tahu cara yang mungkin mereka belum tahu dalam menghasilkan keuntungan.

5. Judul pertanyaan
Pertanyaan akan membuat pembaca memunculkan empati dalam benak mereka atau menggerakkan mereka untuk melihat jawabannya. Gunakan pertanyaan tertutup (yang membutuhkan jawaban iya atau tidak) dan pertanyaan terbuka (yang membutuhkan jawaban yang lebih panjang) sesuai kebutuhan.

6. Judul perintah
Judul ini dengan lantang memberitahukan pada kita tentang apa yang harus ia lakukan. Pilihan kata kerja yang tepat akan membuat pembaca lebih terdorong berbuat sesuatu setelah membaca. Ambil contoh, “Beli Samsung Galaxy S5 Diskon Sekarang!”

7. Judul alasan
Pernah membaca judul yang menggunakan kata “mengapa” atau “kenapa” atau “alasan”? Inilah yang dimaksud dengan judul alasan. Judul ini memberitahukan pada pembaca bahwa penulis akan menyajikan sejumlah alasan. Contohnya, “Mengapa SBY Diam Plin Plan Soal RUU Pilkada?”

8. Judul testimonial
Jenis yang satu ini efektif dalam meyakinkan calon konsumen atau klien bahwa Anda memiliki kualitas yang mereka harapkan. Menuliskan kesaksian dari orang lain akan menambah kredibilitas Anda. Namun, terlalu banyak menggunakan testimonial juga membuat orang menyangsikan kredibilitas Anda, apalagi jika jangkauan reputasi Anda belum begitu luas. Bentuknya bisa berupa kutipan langsung, misalnya “‘Saya Menulis dengan MacBook Air,’kata Tim Cook” atau “Tim Cook: Saya Menulis dengan MacBook Air.”

9. Judul khas media baru
Judul-judul jenis sebelumnya sudah banyak dipakai di media lama seperti iklan cetak, surat kabar, majalah, tabloid, dan sebagainya. Di media baru seperti blog dan social media, ada juga jenis judul yang khas. Bentuknya tidak lagi berupa frase tetapi sebuah kalimat utuh. Ada subjek dan predikat, bahkan keterangan. Dijejalkan banyak informasi di satu judul. Bila perlu, judul itu bisa berupa dua kalimat terpisah, yang bernada provokatif. Baca saja judul seperti berikut: “Aileen Lee’s Cowboy Ventures Is Raising A $55 Million Second Fund” atau “With Plans of Investing $100M Next Year, Israel’s OurCrowd Forges Its Own Path in Equity Crowdfunding” atau yang berupa dua kalimat misalnya:”Pornhub launches a record label. Wait, what?”

Rasanya Masuk Koran

Apa sih keistimewaan masuk koran? Banyak orang masuk koran, toh hidup mereka tidak kunjung membaik, rejeki mampet, aset bersih tidak bertambah, saldo rekening juga stagnan saja. Malah kalau mau masuk koran untuk beriklan, bayarnya mahal bukan kepalang.

Mereka yang masuk koran biasanya cuma kaum pesohor yang sedang tertimpa masalah pribadi yang pelik, atau para pakar yang sangat disegani orang awam seperti Roy Suryo. Selain itu, koran juga kerap meliput mereka – orang awam – dengan prestasi luar biasa. Luar biasa dalam arti positif dan negatif. Lihat saja Florence Sihombing yang sampai meluas ke mana-mana. Penghinaannya pada Yogyakarta begitu epik hingga membuat banyak orang antusias mengikutinya.

Saya bukan ketiga golongan tadi tetapi toh saya pernah diliput oleh koran. Terdengar layaknya sebuah prestasi besar . Ada foto diri saya di situ, tampak dari samping saat saya sedang melayani pertanyaan dari seorang pewarta muda. Ia tampak terburu. Wawancaranya singkat, cuma membahas tentang pendidikan terutama pendidikan di tingkat dasar, karena saat itu saya mengajar di sebuah jurusan yang beraroma pendidikan. Ada semacam ekspektasi yang bisa saya tangkap dari si wartawan. Ia ingin saya menjawab layaknya pakar pendidikan padahal meskipun saya mengajar di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, saya tidak pernah secara intensif belajar mengenai pendidikan. Bahkan bisa dikatakan karir mengajar saya yang pendek itu cuma keterpaksaan dan saya hanya masuk kelas dengan logika sederhana: bagaimana agar mereka yang saya ajar bisa membentuk pengetahuan mereka sendiri tentang topik yang diajarkan dan saya sebagai fasilitator semata.

Maka Anda bisa bayangkan bagaimana rasanya diberikan pertanyaan yang di luar bidang penguasaan saya. Saya memutar otak sepanjang wawancara, mencari jawaban yang pas dan logis. Tetap saja bagaimana pun juga jawaban saya dangkal.

Keesokan harinya artikel hasil wawancara itu ditemukan seorang kerabat di koran lokal. “Kenapa tidak beritahu kalau masuk koran?”tanyanya. Entahlah, mungkin karena saya malu dengan publisitas dan utamanya ialah karena kurang puas dengan jawaban saya. Wajar saja karena wartawan muda itu menemukan narasumber yang kurang kompeten di bidang yang ia ingin bahas. Dan memang benar saat saya nekat membacanya, isinya bernada normatif. Dengan kata lain, jawaban saya standar saja, tidak mendalam. Semua orang dengan akal sehat bisa melontarkan jawaban semacam itu. Tak perlu sekolah yang tinggi apalagi gelar dari kampus negeri bergengsi.

Artikel dan foto yang menampilkan saya itu tidak saya kliping atau laminating. Buat apa? Toh tidak membuat saya bangga masuk koran.

IMG_3631.PNG

Menyoal Alasan Hatta Rajasa Tak Hadir Lagi Bersama Prabowo

Kara Swisher dari blog teknologi Recode pernah mengkritik bahwa para wartawan sering menulis hal-hal yang membosankan ‎untuk para pembacanya. Namun ironisnya, diskusi dan debat mereka di ruang redaksi (newsroom) yang justru lebih menarik dan tajam malah tidak disajikan pada audiens yang haus informasi dan analisis bermutu. Dengan kata lain, para wartawan memendam informasi, analisis dan prediksi logis yang lebih menarik itu bagi kalangannya sendiri dan tidak mau menyebarkannya melalui medianya.

Begitu juga dalam kasus satu ini. Seperti kita ketahui bersama, Prabowo sudah babak belur menderita kekalahan telak dua kali di Pilpres dan sengketa hasil Pilpres di Mahkamah Konstitusi. Dalam beberapa kesempatan Hatta memang tak lagi terlihat tampil di depan publik bersama Prabowo Subianto.Tetapi tahukah Anda‎ alasannya?

‎Menurut sumber tepercaya yang juga seorang pewarta, tidak tampilnya Hatta bersama dengan Prabowo dilatarbelakangi oleh hal berikut ini:kubu Prabowo-Hatta sebenarnya sudah terbelah dengan perpecahan pendapat dalam tubuh PAN sendiri. Ada kubu sang tetua PAN Amien Rais dan kubu sang besan Status Quo Hatta Rajasa. Amien mau Hatta terus mendampingi Prabowo, tetapi Hatta sendiri sudah “ogah”. Masuk akal juga. Siapa yang mau berjalan bersama pecundang? Tetapi kalau pecundang itu teman sejati Anda, asumsi ini pasti akan terpatahkan. Dan sayangnya di dunia politik tak ada yang namanya teman sejati, seperti yang ditunjukkan ‘wartawati senior’ Nanik S. Deyang, yang pernah secara terbuka dekat dengan Jokowi dan kemudian menyeberang ke kubu Prabowo lalu menyerangnya dengan cara yang sangat tidak etis dalam koridor jurnalisme.

Bila sumber ini salah, mungkin alasan sebenarnya akan tetap terkubur dan menjadi objek spekulasi kita bersama sebagai bangsa dalam berbagai wacana.

Jurnalisme 'Positif' vs Jurnalisme Investigatif

‎Sekitar setahun yang lalu, saya berkesempatan menghadiri sebuah seminar yang digelar IFC (International Finance Corporation) dan sempat ada pertentangan antara para jurnalis yang ada di dalamnya. Salah satunya ialah karena satu orang pembicara di depan mengatakan pihaknya hanya akan mendukung publikasi berita yang “positif”, sementara untuk publikasi berita yang bersifat investigatif, mereka tidak akan mempublikasikannya. “Kami ingin menyebarkan kabar baik, bukan kabar buruk,”begitu katanya pada kami yang hadir.

Opininya itu disanggah oleh seorang jurnalis lainnya yang menganggap hal semacam itu sebagai penyia-nyiaan hak pers media yang bisa mengabarkan hal-hal yang tak kalah penting daripada berita-berita manis dan normal belaka. ‎Sangat disayangkan kalau wartawan hanya mengangkat hal-hal yang diinginkan tetapi enggan membeberkan hal lain yang kurang mengenakkan tetapi patut diketahui orang, demikian kurang lebih si jurnalis membantah.

Hal yang sama juga terjadi di negeri Paman Sam lho! Kalau Anda pikir kondisi semacam ini cuma ditemui di tanah air, Anda salah besar. Beberapa hari lalu, saya membaca sebuah artikel yang ditulis Paul Carr di blog teknologi dan startup Pando.com yang berisi pergulatan serupa. Dalam sebuah diskusi panel yang melibatkan dua jurnalis perempuan terkemuka di dunia teknologi dan startup, terjadi sebuah pembeberan publik yang bisa dikatakan cukup sadis. Alexia Tsotsis (editor blog Tech Crunch) dan Kara Swisher (pendiri blog Re/Code) masing-masing menunjukkan perbedaan sikap dalam meliput dan bekerja sebagai jurnalis. Tsotsis terkesan lebih lunak, lebih jinak dan mencerminkan kebijakan umum Tech Crunch yang menjilat penguasa, dengan memberitakan hal-hal yang menyenangkan. “Kami hanya penggembira,”begitu kata Tsotsis. Lebih lanjut Tsotsis berkata betapa ia terus berdoa agar dalam kotak masuk surelnya tidak dimasuki bocoran informasi dari pihak-pihak kontra pemerintahan Obama seperti informasi dari Edward Snowden yang amat kontroversial itu. Ia bahkan mengatakan menolak untuk mengangkat informasi seperti itu dalam blog yang dikelolanya.

Lain dengan Kara Swisher yang telah dikenal dengan reputasi jurnalismenya yang telah teruji dan tak peduli dengan pihak yang berisiko dibuat berang dengan pemberitaan yang ia turunkan, yang menolak untuk menulis hanya untuk menjilat satu pihak saja. Carr pun memuji:”Setidaknya Swisher adalah jurnalis yang hebat. Re/Code juga situs berita yang bagus.” Swisher menegaskan dirinya tidak pernah menolak bocoran informasi seperti milik Edward Snowden dan seolah “memaksa” Tsotsis untuk mengakui keunggulan jurnalisme dan integritas editorial Red/Code. Tsotsis pun menyatakan dengan jujur,”Karena itulah kau lebih baik dari kami.” ‎
Berikut kutipannya:

“”I never say that,” Swisher said.

“That’s why you’re better than us,” Tsotsis said sweetly.”

Carr yang menganut idealisme dalam bekerja ini mengatakan betapa memalukannya pengakuan Tsotsis sebagai editor sebuah organisasi media besar seperti Tech Crunch itu. Bagaimana bisa ia mengakui bahwa organisasinya tunduk di bawah kekuasaan lain?

Yang tak kalah menyedihkan: Inilah fakta yang juga merundung banyak organisasi berita di Indonesia dari jaman baheula sampai SBY berkuasa.

20140718-184304-67384137.jpg