Meditasi: Dari Latar Belakang Sejarah, Cara, Hingga Manfaatnya 

MENDENGAR kata ‘meditasi’ pertama kali, saya bergidik. Dalam benak saya, tertanam kesan bahwa hal itu cuma dilakukan oleh segelintir orang terutama para biksu dan pertapa serta pengelana spiritual yang membiarkan diri mereka larut dalam kehampaan dalam pikiran mereka hingga lupa makan, lupa minum, lupa segala-galanya.

Setelah saya menekuni yoga, saya juga kemudian mengetahui bahwa dalam yoga juga tercakup meditasi. Dan di benak sebagian orang, meditasi adalah yoga itu sendiri. “Yoga kan duduk duduk diem gitu, mana bisa keringetan?” Begitu persepsi masyarakat awam. Seseorang bahkan memiliki ingatan buruk soal yoga karena salah satu tetangganya yang hidup menyendiri dan cenderung anti sosial kemudian duduk dalam posisi lotus di rumahnya setelah sekian lama tidak keluar rumah. “Kami memasuki rumahnya karena banyak lalat dan bau busuk yang menyengat dari dalam. Begitu dibuka kami temukan orangnya. Atau jenazahnya tepatnya. Sudah tidak bernyawa. Membusuk di dalam posisi duduk bermeditasi..,” terang orang yang saya temui di sebuah taman di Jakarta itu.

Jelas ada kesimpangsiuran perihal apa meditasi sebetulnya. Betul meditasi melibatkan posisi duduk. Akan tetapi, meditasi tidak cuma aktivitas batiniah yang berujud duduk lama dan mewajibkan pelakunya untuk ‘mengosongkan pikiran’ (sebuah frasa yang keliru) sebagaimana yang saya juga kerap dengar dari komentar orang-orang awam di sekitar saya. Dalam perjalanan saya belajar yoga, saya pun akhirnya tahu bahwa meditasi bukanlah sesempit itu. Meditasi memiliki cakupan makna yang lebih luas dan mendalam.

Sebelum membahas makna meditasi, ada baiknya kita kembali ke masa lalu untuk mengetahui secara singkat sejarahnya. Dan dari pengetahuan mengenai sejarah ini, kita akan paham bahwa meditasi bukanlah monopoli kepercayaan atau agama tertentu.

Seperti yoga dan pengetahuan dari Timur lainnya, tidak ada yang tahu persis siapa penggagas/ pencipta dan kapan ilmu tentang meditasi dibuat atau disusun. Semuanya merupakan taksiran kasar, dan hanya diwariskan secara turun temurun sehingga sulit dilacak asal muasalnya yang pasti. Salah satu dugaan kenapa hal ini terjadi ialah karena sosok-sosok guru hebat dan bijak itu justru ingin menghindari publikasi dan menepikan kepentingan pribadinya (baca: ego) untuk lebih berfokus pada spiritualisme yang ia sudah rengkuh susah payah.

Selama era penyusunan kitab Upanishad (salah satu teks suci dan dianggap sakral di Asia Selatan), ilmu meditasi dikembangkan secara sistematis di wilayah India kuno. Lalu Patanjali menyusunnya secara tertulis dan sistematis sehingga lebih mudah dipelajari dan disebarluaskan ke mana saja dan diajarkan pada siapapun juga. Praktik meditasi pun makin berkembang dan menyebar luas hingga di luar India. Salah satu tanda perkembangan meditasi yang pesat ialah ditemukannya bukti sejarah yang menyatakan bahwa sekitar abad ke-3 atau 4 Masehi telah ada sekolah khusus meditasi yang didirikan para biksu tanah Hindustan di negeri para firaun Mesir. Di Tiongkok, tercatat dalam sejarah bahwa berdiri sekolah meditasi mulai sekitar tahun 525 SM.

Dari Tiongkok, ajaran meditasi menyebar ke Jepang. Kata ‘zen’ yang kita kenal sekarang diduga memiliki asal muasal dan keterkaitan dengan kata Sansekerta ‘dhyana’ yang artinya meditasi.

Sebelumnya saya pikir meditasi cuma didominasi para penganut agama Hindu dan Budha, tetapi menurut catatan sejarah ternyata tradisi meditasi juga ada dalam Kristen. Dirintis Saint Anthony, tradisi meditasi Kristiani ini turut dipraktikkan Saint Francis dan yang lain. Akan tetapi, karena ada kekhawatiran bahwa ia akan menjadi objek persekusi agama, seni meditasi di lingkaran pemeluk Kristen hanya dilakukan oleh sosok-sosok bijak dalam agama tersebut dan tidak disebarluaskan sebagaimana layaknya ajaran meditasi lain.

Selama berabad-abad, para yogi terus mengembangkan meditasi hingga menjadi suatu disiplin ilmu yang maju dan sistematis dengan tujuan utama memperluas kesadaran manusia. Dalam ranah yoga, kesadaran diwajibkan untuk selalu dijaga karena tiap manusia harus menjalankan apa yang diajarkan guru secara mandiri. Ia tidak bisa serta merta mengikuti semua perkataan sang guru tanpa pernah menjajal mempraktikkannya dalam kehidupan nyata. Karenanya loyalitas buta sangat dijauhi dalam yoga. Praktik-praktik tertentu beserta manfaat yang dapat diraih digambarkan oleh guru dan tugas murid ialah mempraktikkannya sendiri dan meyakinkan dirinya mengenai keabsahan hasil eksperimen tersebut. Apakah sesuai dengan yang dikatakan guru atau tidak? Jika tidak, kenapa itu bisa terjadi? Dan jika ada yang keliru, apa yang harus diperbaiki? Dengan pendekatan berbasis pengalaman nyata itulah, seseorang dapat secara langsung mengalami suatu kondisi kesadaran yang menjadi bukti keberadaannya di alam semesta ini. Tidak perlu ada bukti lain.

MAKNA MEDITASI

Meditasi sendiri merupakan suatu kata yang sudah terlalu sering dipakai secara bebas dan kurang tepat oleh banyak orang saat ini. Itulah kenapa muncul kebingungan masif mengenai bagaimana cara yang tepat dalam berlatih meditasi. Sebagian orang menggunakan kata tersebut saat mereka merujuk pada suatu kegiatan perenungan atau berpikir secara mendalam dalam waktu yang lama. Ada juga yang memakainya untuk menyebut aktivitas melamun atau berimajinasi. Namun, sayangnya meditasi yang sejati bukanlah itu semua.

Disarikan dari “The Real Meaning of Meditation” oleh Swami Rama, meditasi dapat didefinisikan sebagai teknik yang tepat dalam mengistirahatkan pikiran dan mencapai kondisi kesadaran yang berbeda sekali dari kondisi sadar yang lumrah. Meditasi ialah alat membayangkan semua level dalam diri dan pada akhirnya menjangkau pusat kesadaran dalam diri.

Yang patut digarisbawahi ialah: Meditasi bukanlah bagian dari agama apapun. Ia merupakan sains, sehingga prosesnya mengikuti urutan dan syarat tertentu, didasari oleh sejumlah prinsip dan menghasilkan hal-hal yang dapat diverifikasi.

Dalam meditasi, batin menjadi lebih jernih, rileks dan fokus ke dalam. Saat Anda bermeditasi, kesadaran dan kewaspadaan masih ada. Bedanya, pikiran tidak lagi berkonsentrasi pada dunia luar atau kejadian di sekitar Anda. Meditasi memerlukan kemampuan untuk masuk ke dalam diri yang diam dan terfokus sehinga batin menjadi hening. Saat benak lebih tenang dan tak lagi mengganggu, saat itulah meditasi masuk ke tahapan yang lebih dalam.

MENGAPA BERMEDITASI

Dari kecil kita diajari oleh manusia di sekeliling kita mengenai cara untuk mengamati dan bereaksi pada dunia luar. Dan kita lupa bahwa kita juga perlu mengamati diri sendiri. Inilah mengapa banyak manusia belum bisa mengenali diri mereka dan lebih mudah mengenali orang lain di sekitarnya. Di kemudian hari, ketidakmampuan mengenali diri memunculkan sejumlah problem. Misalnya kegagalan dalam hubungan dengan manusia lain, kecemasan dan kekecewaan yang mendalam terhadap orang di sekitar kita.

Sangat jarang kita melatih batin ini untuk mengenali diri karena waktu kita habis untuk dunia eksternal. Kita amat hapal dengan dunia fisik yang melingkupi kita beserta manusia-manusianya namun saat kita diajak menyelami alam bawah sadar kita, kita kerap menjadi ketakutan. Alam bawah sadar ini sekian lama menjadi tanah tak bertuan yang kita telantarkan. Meditasi membantu kita untuk tidak cuma mendisiplinkan batin, baik yang sadar dan bawah sadar.

Kemudian tujuan meditasi juga bukanlah untuk menjadi orang yang lebih bijak saja, tetapi agar kita bisa menjangkau di luar pikiran sadar kita dan mengalami hal-hal yang menjadi esensi diri kita sebagai makhluk. Di sinilah terdapat kedamaian, kebahagiaan dan ketenangan yang hakiki.

Namun, masalahnya pikiran juga sangat sulit dikendalikan. Pikiran yang liar ini menjadi karang penghalang antara diri kita dan kesadaran yang hakiki tadi. Alih-alih mencapai kondisi meditatif, kita malah terjebak dalam fantasi, lamunan atau ilusi masa lalu atau masa depan.

Dan bagi manusia modern, meditasi menjadi alat praktis dalam menenangkan batin dan pikiran, untuk melepaskan diri dari bias-bias dan dapat menyaksikan dan memahami fenomena di sekitar kita secara lebih jernih, tenang dan terkendali (tidak reaktif, tidak tergesa-gesa, tidak impulsif). Kiranya ini yang amat dibutuhkan tatkala kita membaca berita-berita yang memihak, cenderung menampilkan satu sisi yang ‘menjual’, tendensius, yang mengoyak ketenangan batin, dan memunculkan emosi-emosi negatif.

BAGAIMANA BERMEDITASI

Metode meditasi ialah belajar bagaimana kita dapat tenang dan hening. Proses mencapai keheningan tersebut dimulai dari raga. Dalam tradisi yoga, murid dipandu guru untuk menjaga tubuh dalam posisi tegak saat duduk bermeditasi. Setelah merasa nyaman dalam posisi duduk ini, biasakanlah untuk duduk diam dalam waktu yang lebih lama tiap hari.

Pilihlah sebuah tempat yang tenang, nyaman dan bersih serta bersirkulasi udara baik untuk bermeditasi. Duduklah di lantai (dengan alas yang bersih dan empuk bila perlu) atau duduklah di kursi dan tegakkan punggung dan tutup mata. Kemudian fokuskan kesadaran pada semua bagian tubuh dan rasakan setiap bagian tubuh makin berat dan rileks, kecuali yang menyangga kepala, leher dan punggung. Nikmati posisi ini sejenak dengan terus melepaskan ketegangan apapun yang kita miliki baik dalam tubuh atau pikiran. Ingatlah bahwa esensi meditasi ialah melepaskan ketegangan dan pikiran yang terus sibuk. Bila sudah lebih santai dan rileks, saatnya fokuskan perhatian pada pernapasan. Perhatikan bagaimana paru-paru Anda bekerja. Bila Anda bernapas dengan dada, cobalah untuk menggunakan diafragma. Namun, bila Anda merasa kurang nyaman, tidak perlu memaksakan diri. Bernapaslah sebagaimana Anda biasa bernapas. Yang penting ialah Anda bisa lebih memusatkan perhatian pada pernapasan tanpa harus berhasrat berlebihan dalam mengendalikannya. Perhatikan bagaimana napas kita yang semula cepat dan pendek menjadi makin panjang dan rileks. Tidak perlu terburu-buru dalam bermeditasi karena tidak ada kompetisi untuk itu.

Meditasi menjadi suatu proses yang melibatkan penyerahan perhatian secara penuh dan bulat terhadap satu objek yang sudah kita pilih secara sadar. Objek ini tergantung pada selera masing-masing orang. Misalnya, napas kita sendiri, nyala lilin dalam kegelapan, ibu jari atau sebuah botol di depan mata kita. Katakanlah bahwa kita memilih napas sebagai objek pusat konsentrasi. Biarkan napas mengalir daripada sibuk mengaturnya (terutama jika Anda sudah merasa terlalu berfokus pada bagaimana menyempurnakan napas sehingga menimbulkan ketegangan baru). Bukalah diri sedemikian rupa agar Anda dan napas itu sendiri melebur jadi satu dengan harmonis. Dalam proses peleburan ini, biasanya akan ada ‘pemberontakan’ dalam pikiran. Benak kita dipenuhi dengan beragam pikiran dan gagasan yang melintas secara tidak terkendali, seperti sensasi gatal yang merengek untuk segera minta digaruk tetapi setelah digaruk, rasa gatal itu makin meluas dan menular ke bagian lain.

Di titik ini, tetaplah diam dalam hening serta amati bagaimana pikiran Anda terus berkecamuk tanpa harus terlibat secara aktif dalam meresponnya.Ibarat Anda merasakan gatal yang sudah amat sangat tetapi Anda abaikan saja. Bila Anda sudah dapat mengendalikan keinginan untuk memberikan respon atas pikiran-pikiran yang liar tadi, berarti Anda telah berada di jalur yang tepat. Dan kondisi ini bisa berfluktuasi dari waktu ke waktu. Namun, meskipun memang terjadi fluktuasi, sebaiknya jangan berhenti berlatih meditasi tiap hari apalagi saat kita sibuk dan serasa tidak ada waktu untuk itu, karena justru pada saat pikiran kita paling sibuk dan harus terus bekerja, itulah saatnya kita paling memerlukan meditasi sebelum ‘bom waktu’ meledak.

Jadi kuncinya dalam meditasi ialah Anda biarkan saja pikiran lalu lalang, tetapi kendalikanlah diri Anda untuk tidak memberikan tanggapan, penghakiman, pelabelan, kemelekatan, dan sebagainya. Contohnya,  saat kita diam dan duduk, pikiran kita akan menggelitik dan menggoda agar kita lepas dari konsentrasi:”Apakah cara napas saya sudah benar?”, “Apakah cara duduk saya sudah tegak?”, “Kapan ini akan berakhir? Saya sudah mengantuk”, “Saya lupa menelepon klien. Saya harus lakukan sekarang atau saya akan kehilangan deal ini”, “Rasanya kepala saya berat. Lebih baik rebahan saja daripada bermeditasi terlalu lama.” Semuanya itu biarkan muncul, berkeliaran dalam kepala Anda lalu berlalu. Sepanjang Anda tidak memberikan reaksi dan bisa terus fokus pada napas (atau apapun yang Anda pilih sebagai objek), Anda telah bermeditasi dengan baik. Yang patut diingat ialah pada hakikatnya, bukan pikiran-pikiran tadi yang mengganggu diri kita tapi REAKSI kita terhadap semua itulah yang membuat kita sibuk dan konsentrasi menjadi terpecah.

Analoginya yang lebih sesuai dengan dunia digital yang kita akrabi ialah bagaimana saat orang-orang yang menjadi teman kita di media sosial memasang status yang menurut kita bertentangan dengan keyakinan dan sikap kita dalam hal apapun. Semua status itu sebenarnya bukan gangguan bagi kita kalau kita bisa membiarkannya lalu begitu saja. Namun, sebagian besar orang MEMILIH BAIK SECARA SADAR ATAU TIDAK untuk merasa terganggu dengan melabeli status-status tadi sebagai ‘musuh’ yang harus diburu dan dimusnahkan, ‘argumen’ yang harus didebat, ‘kebodohan’ yang mesti dibasmi, dan ‘kekonyolan’ yang harus disebarkan dan diolok-olok. Ada yang secara impulsif dan spontan melakukannya; ada yang lebih lambat dan cenderung ikut-ikutan saja atas dasar solidaritas; ada yang secara sadar menunggangi emosi-emosi negatif tersebut untuk melancarkan taktiknya mencapai tujuan. Jadi, sebetulnya cara orang bermedia sosial bisa menampakkan juga bagaimana tingkat kejernihan dan pengendalian pikirannya yang berkaitan erat dengan meditasi.

KONSENTRASI YANG TAK TERBAGI

Sebuah pandangan yang beredar di kalangan awam bahwa meditasi ialah ‘mengosongkan pikiran’ perlu diluruskan. Sebab seperti yang sudah dijelaskan tadi, meditasi masih membolehkan pikiran terisi tetapi bedanya saat bermeditasi, semua pikiran itu dibiarkan berlalu apa adanya tanpa penghakiman sementara dalam kondisi di luar meditasi, kita bisa lebih leluasa memberikan reaksi. Jadi, ini sebenarnya adalah pengendalian dari apa yang sudah ada – dan sekali lagi – bukan pengosongan atau pemusnahan yang ada. Mirip berpuasa, hanya saja ini puasa untuk level pikiran, yang lebih berat dan rumit dari sekadar berpantang makanan dan minuman atau berkata-kata kotor.

Sehingga meditasi bisa dikatakan sederhana. Intinya ialah memberikan perhatian yang tidak terbagi pada satu hal dala  benak kita. Anda bisa memulai dengan berfokus pada napas, dan jika suatu pikiran muncul dan sadarilah pikiran itu tetapi biarkan ia berlalu begitu saja tanpa harus membenci atau menyukainya secara berlebihan. Sadarilah bahwa pikiran itu bersifat sementara dan bisa berubah seiring waktu dan banyak faktor. Bisa jadi Anda membenci X saat ini, dan saat X besok berubah, Anda juga berubah menyukainya, dan sebaliknya. Itulah kefanaan dunia. Karena itulah, sekali lagi bersikaplah terbuka terhadap segala yang ada di dunia. Bila seseorang mendasarkan kebahagiaannya berdasarkan semua hal yang temporer ini, ia akan sangat sibuk untuk memberikan reaksi pada masing-masing hal itu sampai dirinya tenggelam dalam lautan kebingungan dan lupa pada tujuan hidupnya yang sejati. Ini seperti bepergian dengan banyak barang bawaan. Makin banyak beban, makin berat seseorang rasanya dalam menjalani kehidupan. Dalam meditasi, Anda belajar melepaskan beban-beban itu agar Anda dapat menjalani kehidupan dengan lebih ringan dan lincah, tidak terseok-seok dan kehabisan tenaga sebelum mencapai garis akhir.

Meditasi pada akhirnya bukan menjadi sebuah pelarian dari dunia nyata. Akan tetapi, ia berfungsi sebagai sebuah ‘liburan’ bagi diri ini, menguatkannya untuk menemukan kedamaian yang sejatinya sudah ada dalam diri tetapi terkubur seiring dengan kesibukan sehari-hari.

Di kemudian hari, kita dapat mengamati diri sendiri dan membandingkannya sebelum dan sesudah rutin bermeditasi. Biasanya sebelumnya, mungkin kita memberikan reaksi pada pengalaman-pengalaman yang menghampiri kita dengan reaksi yang sama saat kita memikirkannya. Saat bertemu dengan orang yang kita anggap sudah menyakiti kita, kita akan menjadi marah (dan mengabaikan kemungkinan bahwa di balik itu, mungkin orang yang kita benci itu memberikan pelajaran hidup yang berharga bagi kita). Atau jika kita menyaksikan peristiwa yang tragis, kita sedih sekali (dan pada saat yang sama menutup pikiran dari sudut pandang lain bahwa tragedi memberikan ruang bagi jiwa kita untuk tumbuh dan lebih kuat). Tiba-tiba kita sadari bahwa ‘kebahagiaan’ kita  begitu ditentukan oleh dunia luar. Kita hanya menjadi makhluk penderita yang cuma bisa memberikan reaksi terhadap rangsangan/ impuls yang bertubi-tubi dari luar secara konstan sampai lupa bahwa diri kita di dalam sudah bahagia dan tenang. Tentu bukan berarti mereka yang bermeditasi akan mengalami penumpulan emosi atau menjadi zombie atau robot yang bergerak tapi tidak bisa menangis atau tertawa. Emosi-emosi manusiawi masih ada dan tentu masih ada gunanya (karena inilah yang membuat kita bisa mempertahankan diri dalam kehidupan) tetapi hendaknya kita jangan sampai terhanyut di dalam aliran derasnya. Di sini, meditasi berfungsi sebagai jangkar yang membuat kita tetap di titik semula dan juga sebagai kemudi yang mengembalikan kapal ke jalur pelayarannya yang sudah direncanakan tanpa terbawa arus laut atau tiupan angin.

Meditasi tidak cuma bisa diterapkan saat kita duduk diam. Prinsip meditasi sebetulnya lebih luas dari itu. Kita bisa menerapkannya dalam menjalani kehidupan sehari-hari kita, saat menghadapi momen-momen menentukan dan bermakna dalam perjalanan hidup kita.

Caranya?

Cukup dengan mencurahkan konsentrasi sepenuhnya pada setiap aktivitas kita yang kita lakukan (ingat bahwa inti meditasi ialah perhatian yang tidak terbagi).  Kita bisa mengamati reaksi awal kita pada sesuatu tanpa bereaksi pada reaksi tersebut. Saya ibaratkan hal ini dengan mengamati diri Anda sendiri dari luar (seolah Anda seorang yang sedang mati suri dan roh Anda sudah melayang ke luar dari tubuh tetapi Anda masih hidup dan bisa melakukan apapun yang Anda mau). ‘Roh’ ini akan mengamati diri Anda yang biasanya reaktif, impulsif, bertindak tanpa berpikir dan kembali lagi dalam pikiran Anda untuk melaporkan,”Oh, lihat bagaimana kamu merasa terhina atau tersinggung saat si X mengatakan ini.” Inilah kenapa orang-orang yang bermeditasi tampak lebih tenang dan stabil emosinya dalam hidup karena mereka sibuk mengamati dirinya sendiri dalam memberikan reaksi pada dunia eksternal daripada mengamati dunia luar dan memberikan respon secara terus-menerus.

Karenanya, dapat dikatakan  meditasi memberikan peluang untuk penyembuhan bagi jiwa-jiwa yang sakit. Meditasi yang terapeutik ini tidak hanya membimbing pelakunya menuju keseimbangan dan stabilitas dalam diri (Self), tetapi juga membuat pelakunya mampu mengakses pribadinya sendiri, tindak-tanduk dan sikap yang kurang baik dan kurang dewasanya, kebiasaan-kebiasaan dan kecenderungan yang mengakar dan sulit diubah seperti kerak di dasar panci yang semakin lama dibiarkan semakin sulit dibersihkan. Alih-alih terus menerus terjebak dalam pola pikiran dan kebiasaan lama yang kurang baik, meditasi membawa kita ke gerbang perubahan seiring dengan makin meningkatnya kesadaran kita dalam menjalani hidup dan memberikan konsentrasi penuh dalam tiap detiknya. Hanya dengan demikian, hidup yang jernih akan teraih.

MENGINTEGRASIKAN DALAM KESEHARIAN

Tidak semua orang beruntung bisa bermeditasi setiap hari di bawah bimbingan seorang guru meditasi yang siap memandu kapanpun dan di manapun diperlukan. Kecuali mereka tinggal dalam sebuah asrama (ashram) di India yang dikelola secara ketat dan berlokasi di lingkungan yang tenang, aman dan nyaman. Ini semua merupakan ilusi atau impian dan ‘kemewahan’ yang tidak terjangkau bagi kita yang tinggal di perkotaan atau di tengah peradaban yang makin hiruk pikuk.

Jadi, bagaimana kita bisa menjadikan meditasi sebagai bagian dari keseharian?

Izinkan saya mengutip saran dari Mingyur Rinpoche. Ia mengibaratkan kecenderungan banyak orang untuk membiasakan meditasi sebagai cara seekor sapi kencing. Dari aliran yang kecil dan lambat dan lama-lama membesar dan deras lalu tiba-tiba berhenti sama sekali. Jadi, orang biasanya akan berlatih secara ambisius dan bersemangat pada awal-awalnya lalu menikmati puncaknya. Namun, begitu mulai bosan dan merasa bahwa meditasi menjadi semacam kewajiban, mereka mengendurkan diri. Dan akhirnya sama sekali melepaskan kebiasaan itu karena berbagai sebab dan alasan.

Rinpoche menyarankan agar kita berlatih meditasi secara bertahap dan sabar. “Sedikit demi sedikit,” ujarnya.

Alih-alih kencing sapi, kita lebih baik memiliki kebiasaan meditasi yang mirip tetesan air dari ember. Setitik demi setitik. Kecil tetapi terus menerus. Tapi terus menerus dan konsisten. Dan akhirnya bisa melubangi sebuah batu yang sekeras apapun.

Ada dua jenis latihan menurut Ringpoche yang bisa diterapkan dalam keseharian kita: meditasi formal dan informal. Meditasi formal ialah meluangkan waktu (durasi waktu terserah kita sendiri, asal setia pada komitmen tersebut) untuk duduk bermeditasi di jam tertentu.

Untuk meditasi informal, Anda bisa memakai banyak metode. “Karena Anda bisa bermeditasi kapanpun dan di manapun,” tandasnya.

Dan pesannya yang tidak kalah penting ialah: melepaskan ekspektasi. Daripada mencanangkan sebuah tujuan (“Meditasiku harus menyenangkan”, misalnya), Anda bisa berfokus pada keteguhan niat untuk melakukan meditasi sebaik yang Anda bisa tanpa berharap muluk-muluk dan membiarkan perjalanan meditasi Anda mengalir alami.

MERASAKAN PERBAIKAN

Mengukur kemajuan kita dalam berlatih meditasi sangat sulit karena aspeknya yang non-fisik. Dan sebagaimana dalam latihan asana, kita akan juga dihadapkan dalam kompetisi (ya, ada kompetisi juga dalam meditasi) yang kita bisa temukan dalam pembicaraan-pembicaraan soal pengalaman meditasi. Bukan berarti seminar atau diskusi soal meditasi buruk tetapi di dalamnya terdapat ‘jebakan-jebakan’ yang amat halus bagi para pelakunya untuk memamerkan ‘prestasi’ meditasi mereka. Saat Anda mendengar pengalaman meditasi orang lain yang berbeda dan menurut Anda lebih ‘tercerahkan’, Anda mungkin akan merasa sedih atau kecewa karena Anda tidak kunjung ke tahap tersebut. Yang lebih buruk lagi ialah jika berbicara tentang meditasi membuat Anda menjadi berbohong dan tidak nyaman dengan diri sendiri. Misalnya karena Anda ingin membuat orang lain terkesan, Anda akan mengarang pengalaman meditasi Anda. Jadi, jujurlah pada orang lain dan terutama diri Anda sendiri.  Abaikan opini orang lain atau pengalaman orang lain dalam perjalanan meditasi mereka. Perjalanan Anda adalah milik Anda. Tetaplah dalam jalur Anda tanpa merasa iri atau dengki pada yang lain. Dan sekali lagi, ini merupakan tantangan yang sangat abstrak dan memerlukan kepekaan spiritual yang tinggi.

Namun, untuk mengukur kemajuan itu secara lebih pasti, kita bisa mengamati perubahan-perubahan dalam aspek kehidupan kita. Apakah badan kita merasa lebih rileks usai meditasi? Apakah emosi kita lebih terkendali sehabis meditasi? Itu hanya beberapa indikator yang konkret. Seiring berjalannya waktu dan makin sering bermeditasi, kita akan menemukan perubahan-perubahan lain yang lebih halus dan abstrak.  Kadang perubahan itu begitu halus hingga kita sendiri tidak menyadarinya dan hanya orang lain yang bisa merasakannya. Tetapi sekali lagi, konsistenlah dalam berlatih dan rasakan kebahagiaan dalam tiap detik hidup kita sekarang dan di sini. (*)