Mengapa Sebagian Teman Reuni Kita Tampak Tetap Muda dan Sama

SELAIN MUSIMNYA HEDONISME, LEBARAN juga menjadi musimnya reuni. Satu hal yang niscaya ditemui ialah menyaksikan penuaan yang terjadi pada orang-orang yang kita temui. Frekuensi pertemuan yang lebih jarang membuat kita lebih dapat menemukan perubahan yang terjadi pada mereka. Demikian juga sebaliknya, orang lain yang lebih jarang bertemu kita lebih bisa menemukan perubahan itu daripada kita sendiri.

Reuni SMA, misalnya, di 5 tahun pertama tak memberikan banyak kejutan. Begitu pula tahun ke-10. Namun, penuaan itu makin kentara begitu reuni SMA memasuki tahun ke-20. Semuanya memang menua tetapi Anda bisa temui orang yang menua lebih lambat dan lebih cepat dibandingkan usia kronologis mereka sebenarnya.

Beberapa hari yang lalu saya mendengar kisah yang lebih ekstrim lagi. Reuni SD yang diadakan oleh orang-orang usia pensiun, yang kebetulan dihadiri seorang paman. Anda bisa hitung waktu antara kelulusan mereka dengan usia saat ini yang rata-rata 60-an tahun. “Ada yang dulu tampak tinggi menjulang, tetapi sekarang pendek (Pengapuran tulang? Bungkuk?) Ada yang sudah tampak seperti kakek-kakek benar, ada yang masih enerjik. Bahkan ada yang sebagian sudah meninggal,”cerita paman saya sepulang dari sana sambil terkekeh sesekali. Ia tampak menikmati hidup. Kualitas hidupnya itu menurut pengamatan saya bisa lebih baik karena dua faktor: pendidikan yang lebih memadai dan kesadaran tentang pemeliharaan kesehatan yang lebih tinggi. Semua itu berkontribusi pada tampilan fisiknya yang lebih muda dan segar untuk orang seusianya.

Apakah benar demikian?

Temuan sebuah studi di Selandia Baru menyatakan bahwa faktor lingkungan berpengaruh signifikan pada kecepatan menua kita. Dan faktor genetis memiliki kontribusi yang rendah (sekitar 20 persen) pada kecepatan menua seseorang.

Dan awet muda secara biologis ini bukan hanya diukur dalam tataran kulit semata tetapi juga kebugaran fisik luar dan kesehatan organ dalam secara detil. Jadi operasi plastik secanggih apapun tak akan bisa mengubah usia biologis seseorang yang kecepatan menuanya tinggi akibat, misalnya, stres berlebihan atau pola diet yang buruk. Kriteria awet muda yang digunakan di sini lebih utuh, komprehensif, dan holistik.

Studi ilmiah yang dimuat di makalah dalam Proceedings of the National Academy of Sciences itu melibatkan pengukuran 18 indikator biologis — seperti tekanan darah, imunitas tubuh, kondisi ginjal, gigi, paru-paru, tingkat metabolisme dan kesehatan liver hingga panjang telomeres (tutup pelindung di ujung kromosom yang memendek seiring usia) — sebagai tolok ukur kecepatan menua manusia pada lebih dari 1000 subjek yang lahir tahun 1972-1973 di kota yang sama hingga saat ini.

Proses penuaan itu memang tampak di mata, sendi, dan rambut yang lebih mudah dilihat tetapi penuaan itu juga lebih cepat di dalam organ dalam manusia sebetulnya.

Ditemukan bahwa sebagian orang memiliki laju penuaan lebih cepat dari usia kronologisnya. Sementara yang lain memiliki laju penuaan nol persen per tahun, sehingga dianggap awet muda. Seseorang berusia 38 tahun (usia kronologis) bisa memiliki usia biologis 40 tahun, yang artinya ia menua lebih cepat dari seharusnya.

Dan pencegahan penuaan dan mortalitas dini ini mesti dilakukan sejak dini dan terpadu, tidak hanya saat dirasa mendesak atau dilakukan secara setengah-setengah.

Dan ternyata bonus dari pemeliharaan kesehatan dari dalam itu adalah penampilan awet muda di luar. Buktinya, foto-foto wajah subjek studi yang mengalami penuaan organ dalam lebih cepat akan terlihat lebih tua juga di mata banyak orang. Jadi, ubahlah pendekatan kita selama ini yang mengutamakan penampilan muda di luar dan mengabaikan yang di dalam dengan berbagai campur tangan bedah medis yang sebenarnya tidak diperlukan jika cara hidup tertata dengan baik.

(sumber: Duke University‎/ sumber foto: wikimedia commons)



Bahaya Berolahraga Sampai OD

Berolahraga memang sehat. Jika dilakukan sesuai porsinya, tentu olahraga akan membantu kita mempertahankan kesehatan bagi yang sudah sehat dan meningkatkan kesehatan bagi yang sakit-sakitan.

Bahkan olahraga berlebihan bisa membuat bakteri dalam usus kita ‘bocor’ hingga masuk ke aliran darah. Akibatnya serius: keracunan darah, tulis peneliti sebuah studi. Akan tetapi, berolahraga dengan benar dan sesuai porsi masing-masing orang bisa membantu tuuh kita untuk mencegah hal mengerikan ini terjadi.

“Berolahraga dengan berlebihan biasa kita temui terutama di kalangan penggemar marathon, event ironman triathlon dan ultra marathon. Trennya makin meluas,” terang Dr. Ricardo Costa dari Department of Nutrition and Dietetics di Monash University.
Siapa saja disarankan untuk menjalani pemeriksaan kesehatan dulu sebelum mengikuti event pertandingan semacam itu dan melakukan latihan dengan bertahap daripada melakukan latihan berlebihan dan tidak terukur dalam waktu yang terlalu singkat.”
Dua penelitian yang dilakukan para peneliti di Monash University menunjukkan bahwa berlatih dalam jangka panjang dan progresif atau bertahap bisa mencegah tubuh mengalami sepsis (kebocoran bakteri di usus ke aliran darah) karena berolahraga terlalu intens.

Costa mengatakan hampir semua partisipan studinya menunjukkan bukti sepsis saat uji darah dilakukan sebelum event perlombaan dibandingkan dengan setelah perlombaan. Akan tetapi, tubuh mereka yang melakukan diet seimbang dan latihan bertahap menunjukkan mekanisme kekebalan yang memadai dalam mencegah efek samping apapun yang mungkin muncul dalam berlatih berat.

Inilah mengapa perlu ada waktu jeda untuk rehat. Berolahraga gila-gilaan setiap hari mungkin adalah kegilaan tersendiri yang mengundang sakit yang justru ingin dijauhi. Jadi, dengar badan sendiri agar tidak overdosis. Ingat, yang baik kalaupun berlebihan akan menjadi tidak baik juga.

Alasan Ilmiah Kenapa Beryoga di Taman Lebih Baik bagi Kesehatan Mental

Beryoga di ruangan tertutup berpendingin udara dan tenang atau di taman yang rindang yang agak gerah dan lebih riuh? Jika Anda bertanya pada saya, saya akan lebih memilih di taman. Mengapa? Alasan saya mudah saja, karena saya sudah berada di ruangan berpendingin udara 8 jam sehari, 5 hari seminggu. Mungkin lebih! Dan apa bedanya beryoga di tempat yang terasa mirip tempat kerja? Secara psikologis, udara dingin buatan itu membuat pikiran, tubuh dan jiwa saya agak tertekan. Saya ingin beryoga dengan suasana yang jauh berbeda dengan ruangan kantor. Saya ingin berkeringat, bermandikan peluh di bawah timpaan cahaya matahari pagi (bukan menggigil kedinginan karena terpaan AC), menghirup udara dengan pasokan zat asam dari pepohonan di sekitar saya (bukan menarik napas dengan udara dari saringan mesin), mendengar orang berbicara tentang hal sehari-hari (bukan urusan pekerjaan).

Argumentasi saya itu memang tampah rapuh secara ilmiah karena saya cuma mengajukan pembenaran naluriah nan subjektif belaka.

Namun, sebuah penelitian ilmiah bisa saya katakan menjadi pendukung pilihan saya beryoga di taman seperti yang selama ini saya lakukan di Taman Suropati.

Temuan studi yang saya maksud itu menyatakan bahwa bukti yang dapat diukur telah ditemukan, yang mendukung manfaat bercengkerama di alam terbuka dalam menjaga kesehatan mental kita. Dikatakan bahwa berjalan-jalan di alam bebas membuat kita memiliki risiko lebih rendah menderita depresi. Mungkin inilah yang harus Anda lakukan mulai saat ini begitu stres melanda. Alih-alih bergelut dengan gawai (gadget) lagi setelah kerja, atau berjalan-jalan di mall, mengapa tidak mengobrol dan berjalan santai atau beryoga di taman?!

Lebih rinci, dijelaskan bahwa mereka yang berjalan selama 90 menit di area terbuka nan alami (bukan area perkotaan penuh dinding beton dan bersuasana hiruk pikuk) menunjukkan penurunan aktivitas di area otak yang berkaitan dengan faktor utama dalam depresi.

Jelas peneliti sekaligus profesor ilmu lingkungan Gretchen Daily dari Stanford Woods Institute for the Environment,”Hasil ini menyiratkan bahwa berada di area alami penting bagi kesehatan mental dalam dunia yang makin modern ini.”

Daily ingin agar penelitian itu bisa mendorong masyarakat dunia untuk membuat kota-kota menjadi lebih layak huni (livable) dan membuat alam lebih mudah diakses bagi siapa saja yang tinggal terutama di kawasan perkotaan yang sumpek.

Inilah kenapa Jakarta dan kota-kota kita harus punya bukan cuma ruang terbuka hijau tetapi juga hutan kota! Hutan kota yang sejati, bukan ‘pulau-pulau’ berupa taman mungil yang tak terakses dan tak boleh diinjak rumputnya di tengah dua lajur jalan raya!

Sementara pemerintah berupaya memperluas taman-taman kita, mari kita sendiri meningkatkan kepedulian pada taman yang sudah ada. ‎Isilah taman dengan aktivitas-aktivitas positif, seperti beryoga dengan komunitas Yoga Gembira di Taman Suropati tiap Minggu pagi!

Wanita Cemas dengan Paha, Pria dengan Perut Mereka

Mereka yang mengalami kelebihan berat badan memiliki fokus yang berbeda dalam hal bagian tubuh yang ditangani menurut jenis kelamin dan kelompok usia.

Menurut analisis statistik 7.724 orang yang menerima bantuan dalam sebuah klinik diet dari April hingga Juni tahun lalu, para perempuan memiliki tingkat kecemasan yang paling tinggi mengenai paha mereka sementara para pria mencemaskan bagian perut dan pinggang mereka, dua area yang kerap dipegang oleh pasangan mereka saat bermesraan.

Berdasarkan analisis grup, para remaja dan mereka yang berada di kelompok usia 20-an berupaya mendapatkan perawatan untuk merampingkan bagian paha mereka tetapi mereka yang berusia 30 tahun ke atas, melakukan perawatan untuk merampingkan bagian perut mereka.

Seorang juru bicara untuk klinik itu mengatakan temuan mereka menunjukkan perbedaan dalam sebaran lemak tubuh dan perubahan hormon menurut jenis kelamin dan usia. Pasien berusia lebih tua cenderung menginginkan perawatan untuk obesitas perut karena banyak pria yang memiliki perut yang besar karena terlalu banyak minum sebagaimana yang dialami banyak wanita pasca melahirkan dan menopause, di samping kurangnya olahraga dan terlalu banyak makan.

20 Tips Bermeditasi bagi Pemula

‎MEDITASI ialah seni memfokuskan pikiran Anda sepenuhnya pada satu hal saja (biasanya berupa napas dan tubuh kita sendiri). Praktik ini dikenal memberikan banyak manfaat, dari tingkat konsentrasi yang lebih baik, kecemasan yang menurun hingga perasaan bahagia. Dan yang patut diketahui, meditasi tidak mengarah pada satu keyakinan tertentu karena dilakukan tanpa mantra atau doa.

Meski banyak orang mencoba meditasi, hanya sedikit yang kemudian bisa melakukannya secara rutin dalam jangka panjang. Sangat disayangkan jika seseorang berhenti begitu saja. Hal itu sebagian karena banyak orang yang mulai bermeditasi dengan pemikiran yang salah.
Tujuan artikel ini ialah memberikan 20 saran untuk membantu para pemula untuk bermeditasi dengan lebih terarah dan dapat berkomitmen melakukannya dalam jangka panjang.

1. Membuatnya jadi praktik formal. Anda akan hanya membuat kemajuan dalam meditasi dengan meluangkan waktu tertentu (idealnya dua kali sehari) untuk bermeditasi.

2. Mulailah dengan bernapas. Bernapas lebih dalam dan panjang memperlambat detak jantung, merilekskan otot-otot, memfokuskan pikiran dan menjadi cara ideal untuk memulai berlatih.

3. Regangkan badan dulu. Peregangan melemaskan otot-otot dan tendon yang memungkinkan Anda untuk duduk (atau berbaring) dengan lebih nyaman. Di samping itu, peregangan dimulai dengan proses “memahami diri” dan membawa perhatian ekstra pada tubuh.

4. Meditasilah dengan sebuah tujuan. Para pemula harus paham bahwa meditasi ialah proses yang aktif. Seni memfokuskan perhatian ke satu titik sungguh bukan hal yang mudah dan Anda harus terlibat dengan penuh kesadaran.

5. Sadari rasa frustrasi dalam diri Anda. Inilah hal yang paling lazim yang dirasakan oleh pemula. Benak Anda akan bergumam,”Apa yang saya sebenarnya lakukan?” atau “Kenapa saya tetap tak bisa menenangkan pikiran?” Saat ini terjadi, fokuskan pikiran pada napas masuk dan keluar. Dengan begitu, biasanya pikiran frustrasi atau bosan bisa dikendalikan.

6. Eksperimen. Meski banyak orang berpikir meditasi yang efektif adalah duduk diam di bawah pohon rindang, pemula mestinya bereksperimen dengan berbagai posisi yang ia anggap nyaman. Bisa duduk bersila, berbaring, bahkan dengan mata terbuka, dan sebagainya.

7. Rasakan bagian-bagian tubuh. Sebuah latihan untuk pemula ialah dengan memperhatikan badan saat meditasi mulai. Setelah pikiran lebih tenang, fokuskan perhatian pada telapat kaki lalu perlahan bergerak ke atas, ke betis, paha, perut, dan seterusnya. Termasuk rasakan dengan pikiran Anda organ-organ dalam tubuh seperti usus, jantung, paru-paru, dan lain-lain. Rasakan jika ada sakit di beberapa bagian, atau jika terasa baik-baik saja semuanya, tidak ada salahnya selipkan rasa syukur pada Yang Kuasa. Rasa syukur akan membuat kita lebih bahagia dan puas.

8. Pilih ruangan yang khusus di rumah untuk bermeditasi. Pastikan ruang itu bukan ruang kerja, ruang olahraga atau ruang tidur. Mengapa? Karena ini bisa membuat Anda lebih fokus dan lepas dari beban mental aktivitas sehari-hari. Redupkan lampu dan nyalakan lilin, bisa yang jenis aromaterapi, untuk membuat syaraf pikiran lebih tenang.

9. Baca buku meditasi. Dapatkan buku meditasi yang memuat instruksi meditasi dan manfaat-manfaatnya. Ini akan memotivasi pemula.

10. Komitmenlah dalam jangka panjang. Meditasi itu praktik jangka panjang dan Anda akan menuai manfaat dengan tidak menilai pencapaian atau hasil latihan meditasi harian Anda. Tugas Anda hanyalah melakukannya dengan penuh disiplin dan komitmen tiap hari dua kali dan jangan pikirkan hasilnya. Terus saja lakukan.

11. Dengarkan rekaman instruksi atau CD bertema meditasi yang sesuai dengan selera dan kebutuhan Anda.

12. Temukan momen-momen penuh kesadaran diri (self awareness) selama Anda menjalani aktivitas harian. Rasakan napas dan menghayati masa kini dengan fokus sepenuhnya pada apa yang Anda lakukan saat Anda tidak melakukan meditasi secara formal merupakan cara yang baik untuk meningkatkan kebiasaan meditasi Anda.

13. Pastikan Anda tidak merasa terganggu. Salah satu kesalahan terbesar pemula ialah tidak memstikan kondisi bermeditasi yang damai. Jika Anda merasa terhantui oleh pekerjaan kantor, pekerjaan rumah, atau hal-hal lain akan bisa menyela meditasi Anda, akan lebih sulit untuk mencapai relaksasi yang diharapkan. Maka dari itu, meditasi idealnya dilakukan di dini hari atau pagi buta saat tak banyak gangguan terjadi. Atau bisa juga saat malam menjelang tidur, saat pikiran lebih santai.

14. Perhatikan penyesuaian kecil. Bagi pemula, gerakan fisik terkecil bisa membuat praktik meditasi menjadi lebih nyaman dan efektif. Penyesuaian ini mungkin tak terasa bagi si pengamat tetapi berdampak besar.

15. Nyalakan lilin. Meditasi dengan mata tertutup biasanya membuat pemula mengantuk dan bosan. Nyalakan lilin dan gunakan lilin sebagai titik fokus untuk memperkuat meditasi dengan bantuan objek visual.

16. Santailah saat bermeditasi. Ini kiat terpenting bagi banyak pemula dan cukup menantang untuk diterapkan. Tak peduli apa yang terjadi selama bermeditasi, santailah. Lepaskan tekanan, beban. Bebaskan pikiran dari semua itu. Sebebas mungkin. Dan yang penting, nikmati kebebasan itu.

17. Lakukan bersama-sama. Bermeditasi dengan orang terdekat bisa memberi banyak manfaat dan meningkatkan kualitas latihan. Namun, pastikan Anda dan teman meditasi memahami aturan-aturan dasarnya.

18. Meditasilah di pagi hari. Seperti telah disinggung tadi, waktu pagi sebelum banyak rutinitas adalah waktu yang dirasa lebih tepat bagi orang pada umumnya. Bangunlah lebih awal 30 menit dari sebelumnya agar bisa bermeditasi tanpa gangguan.

19. Bersyukurlah di akhir meditasi. Setelah latihan selesai, luangkan 2-3 menit untuk memberi apresiasi pada diri karena telah meluangkan waktu untuk bermeditasi dan telah berupaya untuk berlatih fokus. Ini saja sudah perjuangan tersendiri.

20. Perhatikan kapan minat bermeditasi mulai memudar. Meditasi bukan rutinitas ringan dan Anda akan sampai di satu titik saat Anda merasa latihan menjadi membosankan atau tak sesuai ekspektasi semula. Inilah saatnya Anda menemukan motivasi kembali melalui buku, teman atau mentor meditasi yang tepat.

Selamat mencoba!

(disarikan dan diadaptasi dari tulisan Todd Goldfarb)

Dikirim dari ponsel cerdas BlackBerry 10 saya dengan jaringan 3 Indonesia.

Pola Makan Sehat dan Olahraga Ala Rasulullah SAW

“Perawakan Nabi Muhammad SAW tidak tinggi, tidak pendek. Rambutnya keriting, tak pula lurus. Wajah beliau tak bulat, bukan pula persegi. Kulit Nabi cerah, putih kemerah-merahan. Rambutnya disisir ketika sebahu, digerai ketika sepapak daun telinga. Dahi beliau lebar. Alis Nabi melengkung panjang, tebal dan nyaris bertaut di tengah. Di antara keduanya terdapat urat yang memerah kala beliau marah. Bola mata Nabi indah dan hitam, bulu matanya lentik menawan. Hidungnya mancung, bagian atasnya memancar cahaya. Dua pipinya datar. Janggut sang Nabi menggaris dari depan telinga, menebal menuju dagu. Mulutnya lebar, giginya besar dari selanya memancar cahaya. Dari bawah janggut Nabi menggalur ke bawah bebulu halus, lewat leher, melebat di dada, melajur bagai tongkat hingga ke pusarnya. Leher Nabi jenjang dan indah. Perut beliau sama rata dengan dadanya nan bidang. Jarak antara kedua bahu lebar. Persendiannya kokoh.  Dulu Nabi suka menyisir rambut ke belakang mirip Ahli Kitab. Saat nyata keingkaran mereka, beliau berselisih dengan menyisir belahnya. Nabi makan roti dari tepung utuh tak diayak (dulu dianggap rendah, kini sehat berserat), lauknya garam, minyak zaitun, cuka dan labu. Nabi yang penuh cinta memberi nama bebarang miliknya; dari perkakas RT, bejana, gelas, kuda, keledai, pedang, tombak. Nabi tak pernah mencela makanan. Jika menyukainya, beliau memakannya penuh syukur. Jika tidak suka, beliau cukup diam tanpa komentar….”

Begitu deskripsi singkat yang seorang unggah ke Facebook pagi kemarin, hari Maulid Nabi tepat di hari ketiga tahun 2015. Di bawahnya tertera nama seorang ustadz. Salim A Fillah, tulisnya.

Saya tak tahu sumber semua deskripsi ini tetapi kalimat-kalimat deskriptif ini memang kerap disebarkan sebagai cara membayangkan sosok fisik Muhammad SAW. Kita boleh membayangkannya, boleh menuangkannya dalam kalimat tetapi tidak boleh menjadikannya sebuah lukisan atau gambar atau patung. Bisa jadi karena pembuatan lukisan atau gambar atau patungnya akan membuat risiko kultus individu makin tinggi. Semua orang mungkin akan membuatnya sebagai jimat atau penolak sial atau memuja-muja benda-benda itu bak berhala. Karena inilah yang biasa terjadi di masyarakat luas yang memiliki tingkat fanatisme yang tak bisa kita bayangkan. Tidak boleh syirik, menyekutukan Allah, tetapi toh tetap juga terjadi bukan? Karena itulah wujud kecintaan pada Nabi, mungkin begitu dalih mereka.

Deskripsi itu membuat saya ingin meminjam mesin waktu Doraemon, untuk memastikan apakah demikian kenyataannya. Sebuah upaya verifikasi keabsahan sebuah pernyataan yang perlu sekali dilakukan para jurnalis sebelum memuatnya. Bagaimanapun juga sumber primer, observasi langsung, lebih meyakinkan daripada sumber sekunder, atau bahkan tersier, seperti kutipan dari kutipan dari pernyataan seseorang. Kita bisa bayangkan tingginya risiko kesalahan redaksional atau pengutipan yang bisa terjadi selama ratusan tahun hingga informasi deskripsi Nabi itu bisa sampai ke saya.

Mungkin inti dari deskripsi itu adalah betapa Nabi Muhammad adalah seorang yang secara fisik biasa-biasa saja, seperti kita semua. Saya teringat dengan perkataan seorang teman yang mengatakan bahwa justru orang-orang yang istimewa itulah yang kerap kali kita remehkan. Ia lalu menyebut agen-agen badan intelijen negeri ini yang sama sekali bukan orang yang memiliki badan dan rupa yang tipikal agen khusus intelijen seperti James Bond dan sebagainya. Mereka, kata teman saya, tampil sangat biasa sehingga sangat melebur dengan orang-orang dan lingkungan di sekitarnya. Seorang pria paruh baya kurus atau anak muda yang terlihat ‘alay’ bisa saja seseorang yang telah diangkat sebagai agen khusus intelijen. Ini berkebalikan dari orang-orang biasa yang ingin diakui sebagai istimewa. Mereka justru ingin diakui sebagai istimewa dan agar bisa diakui istimewa, mereka harus berpenampilan mencolok.Kita menjumpai banyak orang seperti ini di dunia bisnis. Sungguh perbedaan yang amat mencolok antara dunia intelijen dan bisnis.

Terlepas dari semua itu, saya lebih tertarik dengan pola makan dan olahraga yang menurut penjelasan dalam buku “Pola Makan Rasulullah” karya Prof. Dr. Abdul Basith Muhammad as-Sayyid, seorang “ahli biofisika dan biokimia sekaligus pakar pengobatan alternatif,” demikian dijelaskan oleh Penerbit Almahira, di Jaktim, yang mencetak buku ini pertama kali September 2006. Buku hasil terjemahan M. Abdul Ghoffar dan H. M. Iqbal Haetami , Lc. ini memberikan penjelasan gamblang mengenai kebiasaan makan Rasul dan olahraga yang membuatnya tetap berperut rata di segala usia hingga akhir hayatnya di usia 63 tahun.

Nabi Muhammad SAW menggunakan Al Qur’an surat Al A’raf ayat 31 sebagai panduan, yang terjemahannya ialah:”Wahai anak cucu Adam, pakailah pakaian kalian yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” Kalimat kuncinya ialah:”Jangan berlebih-lebihan.” Nasihat ini sesuai dengan saran seorang dokter yang saya kenal di tempat kerja. Ia pernah berkata, “Semua orang boleh saja makan semua makanan yang ia inginkan.” Saya tidak percaya dengan apa yang ia katakan. Ia kemudian menambahkan,”Asal sedikit-sedikit saja makannya…” Nah, itulah yang sulit dilakukan banyak sekali orang. Kita boleh saja makan apa saja asal cuma sesuap? Sayangnya, terlalu sering sesuap itu bisa menjadi dua suap, dua puluh suap, hingga dua ratus suap saat suasana hati sedang buruk atau ingin menggunakan makanan sebagai pelampiasan.

Meski melarang makan dan minum berlebihan, Islam juga tidak menganjurkan puasa berlebihan. “Syariat melarang seseorang berpuasa wishal (puasa yang tidak pernah buka selama berhari-hari). Sebab hal itu bisa melemahkan tubuh, mematikan jiwa, dan melemahkan keinginan beribadah,” tulis Abdul Basith Muhammad as-Sayyid di halaman 242.

Dijelaskan bahwa Ali bin Husain pernah bercakap-cakap dengan seorang dokter Nasrani. Saat sang dokter mengklaim Al Qur’an tidak mengandung ilmu kedokteran, Ali bin Husain mengatakan:”Allah SWT telah menghimpun ilmu kedokteran hanya dalam setengah ayat dari kitab kami.” Ayat yang dimaksud ialah:”Allah berfirman, ‘Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan.’” Sang dokter terus bertanya apakah Rosul juga memahami ilmu kedokteran. Ali menjawab:”Lambung adalah gudang penyakit, dan diet adalah sumber obat. Berikanlah untuk setiap anggota tubuh sesuai dengan kebiasaannya.”

Islam juga menganut pengendalian asupan makanan dan minuman. Penulis Abdul Basith Muhammad as-Sayyid mengatakan mengobati orang sakit dapat dilakukan dengan dua hal, obat dan diet (pantang makanan tertentu). Jika keduanya disatukan, orang akan jauh lebih sehat daripada hanya sekadar minum obat atau melakukan diet ketat.

Abdul Basith juga menyebut bagaimana tradisi penyembuhan melalui diet atau pembatasan konsumsi makanan dan minuman itu sudah dilakukan oleh orang India zaman dulu. “Oleh karena itu, sebagian besar pengobatan yang dilakukan oleh orang-orang India adalah “berpantang”. Dimana (sic) orang sakit dilarang minum, makan dan berbicara selama beberapa hari, sehingga dia sembuh dan sehat,” terang Abdul Basith di halaman 244.

Bahkan jika memiliki makanan berlebih, kita disarankan untuk memberikannya pada hewan-hewan di sekitar kita yang masih kelaparan. Ini lebih baik daripada memakan semuanya sendiri hingga terlalu kenyang. Dijelaskan Abdul Basith bahwa Luqman (yang dikisahkan dalam Al Qur’an surat Al Luqman) pernah berpesan untuk tidak makan terlalu kenyang. Abdul Basith menulis,“ Jika engkau memberikan makanan itu untuk anjing, maka yang demikianlah itu lebih baik daripada engkau terus memakannya.”

Rasulullah memerintahkan agar kita berolahraga agar memperbaiki tubuh dan hati, kata Abdul Basith. Ia menegaskan hal itu dengan mengutip sebuah hadis Nabi:

“Berperanglah kalian, niscaya kalian akan memperoleh ghanimah (harta rampasan), dan lakukanlah perjalanan, niscaya kalian akan menjadi sehat.” (Riwayat Ath-Thabarani di kitab al-Ausath, sanad dhaif/ lemah).

Dalam hal ini, yang dimaksud “melakukan perjalanan” ialah menunggang kuda, karena kuda ialah moda transportasi utama di Arab saat itu. Olahraga juga lebih baik dilakukan saat lambung kosong yaitu lima jam setelah makan, bisa kurang bisa juga lebih ( as-Sayyid: Pola Makan Rasulullah, halaman 98).

Untuk aturan tidur, Rasul menurut penuturan Abdul Basith menyarankan umatnya tidur setelah proses pencernaan selesai. Artinya, antara waktu tidur dan waktu makan besar (menu berat, bukan sekadar makanan ringan atau buah) idealnya 3-4 jam. Setelah 3-4 jam lambung telah kosong dan kita dapat mulai berbaring untuk tidur malam.

Berbaring dalam tidur juga disarankan oleh Rosul untuk bertumpu di sisi kanan tubuh. Mengapa? Karena sepengetahuan saya pernah dikatakan bahwa jantung kita ada di sebelah kiri, sehingga berbaring dengan sisi kanan bersentuhan dengan tempat tidur akan lebih baik. Pun demikian saat kita akan bangun tidur, gunakan sisi kanan tubuh sebagai tumpuan. Diriwayatkan dari Aisyah RA bahwa Nabi biasa mengawali tidur dengan berbaring ke sebelah kanan dengan menghadap kiblat (as-Sayyid: Pola Makan Rasulullah, halaman 99).

Terkait tidur siang, Rasul tidak melarang karena jika kita tidur siang, akan ada kekuatan untuk bangun di malam hari, mungkin untuk sholat malam. Syaratnya tidur siang ini tidak dilakukan setelah ashar atau di pagi hari karena menurut Aisyah RA barangsiapa tidur setelah Ashar lalu hilang akalnya, maka janganlah sekali-kali mencela, kecuali dirinya sendiri (as-Sayyid: Pola Makan Rasulullah, halaman 101).

Bagaimana Olahraga Berat Bisa "Merusak" Kesehatan

Seorang teman ingin menemukan olahraga yang ideal. Ia bertanya ke berbagai orang yang ia temui. “Karena ada seorang teman yang tampaknya sudah bergaya hidup sehat. Dia tenis, berenang setiap hari,”terangnya. Tak dinyana, orang itu divonis menderita sakit ginjal parah, sampai harus menjalani hemodialisis atau cuci darah secara rutin.

Ternyata kebiasaan sehat berolahraga tadi tidak diiringi dengan kebiasaan minum air putih yang mencukupi kebutuhan tubuh. Alhasil, dehidrasi berat tiap kali habis olahraga itu membuat kerja ginjalnya teramat berat dan akhirnya tak kuat lagi memikul beban detoksifikasi tubuh yang makin menumpuk tidap hari.

Di kasus lain, ada orang yang sudah merasa berolahraga mati-matian. Siang malam olahraga. Hari kerja dan hari libur terus menyempatkan diri menggerakkan badan secara intens. Bukannya lebih sehat, malah kerap terserang flu.

Lalu ada orang yang mengeluh tak pernah mencapai kemajuan dalam latihan asana yoganya. Setelah dicermati lagi, ternyata setiap sehabis latihan yoga, ia ‘balas dendam’ di warung makan terdekat. Segala yang terhidang dimasukkan ke dalam mulut. Tak peduli apapun pokoknya puas. Nafsu makan bolehlah sedikit dilepas. Kan sudah kerja keras tadi, begitu alasannya makan bebas setelah latihan.

Sementara itu ada cerita lain yang menunjukkan seorang dokter muda dengan segala gaya hidup sehatnya. Makan diatur, olahraga rutin di sela kesibukan tetapi kemudian ‎meninggal mendadak karena serangan jantung di usia awal 40-an. Konon, itu bisa terjadi karena kebiasaannya tidur malam yang kurang dari durasi normal (7-8 jam).

Ketimpangan-ketimpangan inilah yang membuat kita lupa bahwa kita harus mencapai keseimbangan dalam hidup. Karena ternyata hidup bukan tentang bagaimana menebus kekurangan yang ada sesekali waktu saat ingat atau sempat. Ekuilibrium itulah yang jauh lebih susah dipertahankan selama hidup.

Jadi kalau kita berpikir olahraga mati-matian sesekali atau terus menerus tanpa jeda sudah cukup membuat sehat luar dalam, tunggu dulu. Mungkin itu cuma asumsi kita semata.‎ Waspada!

17 Pekan Tanpa Shampoo

‎Berhenti memakai shampoo sejak tanggal 24 Agustus 2014, rambut ternyata masih baik-baik saja. Tidak bau karena saya mencucinya setiap hari dengan air bersih dan bahan-bahan alami lainnya seperti air perasan lemon dan air bersih saja.

Untuk melembabkannya juga saya tidak lagi pakai kondisioner. Cuka apel membuatnya lebih lembut. Dan kulit ke‎pala juga lebih bersih hanya dengan menggosoknya lembut. Tak ada bahan anti ketombe kimia yang selama ini digembor-gemborkan ampuh melawan ketombe lewat iklan. Padahal sebelumnya, saat masih pakai shampoo, ketombe kadang muncul. Masih ringan saja. Tetapi sekarang lebih baik. Semua itu karena kulit kepala dan rambut saya tak lagi terkena deterjen dan sabun dalam shampo buatan pabrik.

Saya akan meneruskan kebiasaan ini selama mungkin secara konsisten untuk melihat perbedaannya dengan rambut kepala Anda semua yang memakai shampoo dan tonik serta kondisioner buatan korporasi besar‎.

Semoga perbedaan itu signifikan dan lebih baik. Karena saya percaya alam sudah menyediakan yang terbaik bagi kita, seluruh umat manusia.

Mendikbud Anies Baswedan Libatkan Komunitas dengan #KetokPintu

Ruangan itu masih agak lengang saat saya datang. Sepuluh menit sebelum acara dimulai sebagian sudah datang di kompleks kantor pusat Kemendikbud RI di Sudirman, gedung A lantai 3. Beberapa orang berkerumun dan bercakap-cakap. Terlihat akrab dan hangat. Beberapa wajah saya telah kenal di media dan jejaring sosial, seperti Renee Suhardono yang mengundang komunitas Yoga Gembira kami ke acara ini, Ligwina Hananto sang perencana keuangan yang terlibat pembicaraan intens, Michael R. Tampi dari Kinara, Ainun Chomsun dari Akademi Berbagi dan lain-lain. Wajah mereka ada yang tampak familiar karena inilah orang-orang yang menggerakkan roda komunitas di berbagai daerah.

Beginilah yang terjadi saat seorang akademisi profesional sekaligus pegiat komunitas sejati menjadi seorang pejabat negara. Tepat pukul dua siang, seperti yang dijanjikan, Anies Baswedan tiba. Kami semua berdiri untuk menyambutnya, dan tak disangka ia menyalami kami semua di ruangan itu. Pakaiannya sederhana. Saya tahu ada orang-orang di dalam ruangan ini yang harga pakaiannya jauh lebih mahal dari kemeja bergaris tanpa dasi dan celana panjang hitam yang Anies pakai. Pria yang kini menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI itu mengundang kami – perwakilan para komunitas – dan mengajak bergotong royong menyumbangkan ide dalam pemecahan masalah-masalah bersama di masyarakat di Kantor Mendikbud tadi siang.

Saya bertemu Anies Baswedan pertama kali dua tahun lalu. Saat itu ia tampil dalam acara berbagi “Indonesia Mengajar”, gerakan pengiriman guru-guru ke daerah terpencil yang ia pimpin dengan sukses. Apresiasi datang dari mana-mana. Pengikutnya anak-anak cerdas lulusan berbagai kampus kenamaan yang terpanggil berbagi ilmu dan semangat pendidikan dengan anak-anak SD di berbagai desa di Indonesia.

Anies Baswedan yang kali ini kami hadapi masih orang yang sama. Namun, tentu saja kapasitas dan tanggung jawabnya sudah berbeda. Ia orang nomor satu dalam bidang pendidikan di negeri yang konon memiliki tingkat kualitas SDM yang tidak semembanggakan jumlah populasinya. Benar Indonesia negara besar, tetapi dalam hal pendidikan, ia ‘keok’.

Saya mengajak Yudhi Widdyantoro, penggagas Komunitas Yoga Gembira Taman Suropati, dan Bathara dari Komunitas Hidden Park untuk maju ke bangku deretan depan. “Toh bukan untuk undangan VIP,” kata saya optimis. Saya paling gerah kalau ada dalam acara yang kursi depannya masih kosong sementara di belakang penuh sekali. Seperti anak-anak mahasiswa saja yang takut dosen mereka. Atau seperti para abdi dalem di keraton. Mereka yang dianggap sepuh atau berjabatan tinggi – tak peduli terlambat sekalipun – harus diberi tempat di depan. Ini mental feodal! Dan Anies menunjukkan secara nyata bahwa ia tidak mau cara pikir yang sama berlaku di ruangan itu. Ia tidak meminta kursi paling depan, bahkan ia sukarela duduk di deretan kursi belakang saya. Tidak bisa disangkal, ia lebih egaliter dari para pejabat yang saya pernah temui. Bayangkan saja, Anda menteri sekaligus si empunya rumah tetapi Anda tidak keberatan ada di bangku kedua di perhelatan yang Anda adakan. Satu revolusi mental kecil yang nyata, menurut hemat saya.

Beberapa sosok terkemuka dari komunitas dihadirkan di depan. Ainun Chomsun hadir pertama memperkenalkan komunitasnya, kemudian diikuti Yudi yang menggagas gerakan kembali ke museum, Presdir NutriFood Mardi Wu, Iman si pembicara muda dan pendiri ruangguru.com, dan lain-lain.

Sebagai anak dari orang tua yang berprofesi dalam bidang pendidikan, saya baru sadar saya berada di sebuah institusi kenegaraan yang harus saya hormati. Harus saya akui, saya tidak mudah memberikan penghormatan, apalagi tanpa alasan yang jelas. Anies mengingatkan saya akan hal itu saat berkata,”Kita bisa berdiri di sana karena kebijakan yang dibuat di kantor ini. Karena itu kita semua bisa seperti sekarang ini.” Ah, ia betul! Bagaimana saya bisa menjadi dosen ‘aspal’ dulu dan menjadi reporter seperti sekarang kalau tidak berbekal ijazah yang diterbitkan lembaga ini. Mana mau perusahaan melirik seorang pelamar tanpa ijazah formal di situs lowongan kerja? Ibu saya juga menjadi salah satu guru penerima sertifikasi, yang keputusannya juga diproses di institusi ini. Jadi saya baru ingat betapa agungnya gedung itu dan betapa beruntungnya saya karena sudah bisa mengenyam pendidikan sejauh ini karena saya tahu di luar sana ada begitu banyak orang yang menganggap pendidikan tinggi impian abadi semata. Akses mereka menuju tingkat kesejahteraan yang lebih baik terblokir akibat pendidikan yang kurang memadai.

“Hari ini kita kumpul bersama, untuk saling melihat dan membayangkan Indonesia di masa depan,”seru Anies. Dengan menghadirkan komunitas-komunitas, Anies tampaknya ingin memanen ide-ide kreatif dan inovatif – yang tidak banyak dimiliki staf kementeriannya – kemudian berupaya memberikan jalur birokrasi yang terarah dan terorganisir dengan baik agar lebih efektif dan berdampak lebih luas serta dapat lebih dipertanggungjawabkan pengelolaannya. Komunitas kaya ide-ide dan pengalaman, sementara lembaganya miskin ide. Tetapi di sisi lain, komunitas kurang dalam hal manajemen dan sistematisasi serta skala program, sementara kementeriannya lebih bertenaga dalam hal anggaran, jangkauan dan kewenangan. Anies ingin menggabungkan kelebihan kedua entitas ini demi kemaslahatan bangsa.

“[Acara ini mengenai] tidak hanya bagaimana membangun program tetapi juga bagaimana memfasilitasi keterlibatan atau engagement. Kalau tidak salah ada 31 komunitas yang kumpul,”ucap Anies. Anies yakin tanpa atau bersama dengan kementeriannya, para komunitas ini tetap akan memajukan pendidikan di Indonesia. Ucapannya memicu tepuk tangan hadirin.

Anies menyindir sejumlah oknum yang berdalih “memajukan pendidikan”. Namun, ternyata hanya ingin menikmati anggaran pendidikan, tukasnya lugas. Sementara itu, ironisnya para komunitas tidak mengemis bagian dari APBN. “Bila yang satu siap dengan sumber daya, yang satu siap dengan ide, jika dijalankan sebagai satu gerakan, akan berdampak yang besar.”

Anies menekankan komunitas-komunitas juga perlu memahami prosedur operasional standar agar lebih teratur dan bisa mempertanggungjawabkan pemanfaatan sumber daya yang diterima. “[Karena] negeri ini memerlukan tata tertib, tata kelola yang baik,”ia beralasan.

“Saya lebih suka dengan volunteerism. Kalau dapat perintah, lebih suka ketika berhasil melanggarnya,”Anies berkata lagi. Saya mengangguk-angguk saja. Saya paham sekali pesan intinya karena saya juga begitu. Segan diperintah, enggan didikte, tetapi begitu dibebaskan, akan bekerja sendiri.

Anies menekankan agar diskusi curah gagasan kami bertujuan untuk menemukan persamaan, bukan perbedaan. Sebuah cara pandang yang bijak, apalagi dari dua dunia yang berbeda, yang jika membahas perbedaan akan tidak ada habisnya. Dengan memilih menemukan persamaan, kita akan lebih mampu bersikap optimis.

Anies juga menyinggung sedikit mengenai pemberitaan akhir-akhir ini mengenai kontroversi usulan doa di kelas. Ia sebenarnya mengusulkan tidak hanya berdoa tetapi juga diikuti dengan bernyanyi lagu-lagu yang mencerminkan semangat cinta tanah air dan lagu daerah sebelum memulai kegiatan belajar.

Band Ten To Five yang digemari sekali oleh Rahma, sahabat saya di universitas dulu juga hadir menyemarakkan acara. Mereka melantunkan aransemen apik lagu daerah dari Jawa yang konon digubah Sunan Kalijaga dalam menyebarkan Islam di tanah Jawa.

Karena ruangan ini dipenuhi dengan orang-orang kreatif, kegiatan di dalamnya juga sama sekali tidak lazim. Kami semua – termasuk Anies – harus pasrah Tulus Wibawanto dari 21 Steps mengajak kami menggerakkan badan. Entah apa yang dipikirkan Anies saat ia bersama seisi ruangan harus meniru gerakan-gerakan konyol yang dicontohkan Tulus. Ia mewajibkan jari jemari kami ‘ngetril’ seperti bencong sambil sedikit berjongkok, lalu menggoyang pinggul secara atraktif dengan kedua tangan di belakang kepala sembari diiringi lagi “I Feel Good.” Saya menyesal tidak berpaling ke belakang dan mengambil foto Anies saat ia meniru semua kegilaan tadi.

Tibalah acara intinya, sebuah sesi curah gagasan (brainstorming) yang dibagi dalam beberapa kelompok seperti kesehatan, pendidikan, wirausaha, dan lain-lain. Kami bertemu dengan sejumlah komunitas lainnya yang ikut berfokus di bidang kesehatan seperti Komunitas Sobat Diabet, Komnas Pengendalian Tembakau dan Good Life Society. Sederhananya, kami dipersilakan memberikan pandangan singkat mengenai masalah-masalah dalam kesehatan yang masih perlu dipecahkan dan juga memberikan usulan solusinya.

Sebagai komunitas, kami sadar sepenuhnya bahwa ini tidak akan mendatangkan keuntungan komersial instan – jikalau memang ada. Tetapi bahkan kami pun tidak sepatutnya mengharapkan hal semacam itu, karena dari ekspektasi akan datang kekecewaan. Dan karena hanya berlandaskan kesukarelaan dalam bekerja, komunitas pun bersifat sangat cair. Hal ini terlihat dari jumlah peserta acara, yang tadinya banyak sekali kemudian berkurang begitu sesi curah gagasan selesai. Ada sebagian yang cuma mampir. “Tetapi terima kasih untuk semua yang tinggal, karena Anda semua volunteer sejati…,”Anies mengapresiasi.

IMG_5013.JPG

IMG_5014.JPG

Yoga Bukan Obat Segalanya

Di satu episode Jewel in the Palace, tokoh utama Seo Jang Geum yang diperankan oleh Lee Young-ae itu pernah ditanya gurunya, tabib Shin. Shin dokter kerajaan yang berwatak keras, profesional, idealis serta memiliki cara berpikir yang bijak dan mendalam. Jang Geum disuruhnya membedakan bahan-bahan herbal mana yang ada di hadapannya yang tergolong obat dan racun. Jang Geum yang sudah melahap banyak buku sebelum ujian dengan percaya diri memisahkan. Dengan sangat tangkas, ia menjelaskan khasiat masing-masing bahan yang ia masukkan dalam kategori obat dan mengapa bahan tertentu dilabelinya sebagai racun.

Jang Geum yang cerdas itu gagal dalam ujian tersebut, begitu keputusan tabib Shin. ‎Apa pasal? Menurut tabib Shin, semua bahan apapun di alam ini tidak bisa digolongkan begitu saja dalam 2 kategori obat VS racun. Satu bahan yang dianggap obat bagi satu orang, bisa menjadi racun bagi orang yang lain. Begitu pun sebaliknya. Pun demikian dengan dosisnya. Satu bahan bisa menjadi obat bahkan nutrisi penting bagi tubuh jika dikonsumsi dalam jumlah rendah, tetapi begitu ia dikonsumsi terus menerus dalam jumlah berlebihan, ia berpotensi menjadi toksin yang membuat tubuh terganggu kinerjanya.

Kuncinya, jika saya boleh berpendapat, adalah keseimbangan. Ketimpangan‎ apapun itu bersifat merusak. Alam memiliki mekanismenya sendiri dalam mencapai titik ekuilibrium dan tatkala manusia bisa melakukan intervensi, risiko ketimpangan pun menjadi makin nyata saja.

Termasuk juga yoga. Yoga bukan panacea. Ia bukan obat ampuh segala penyakit dan keluhan kesehatan kita. Kita harus skeptis dengan klaim-klaim sembrono yang men‎cap yoga sebagai solusi semuanya. Terlalu konyol saya rasa. Menyodorkan yoga sebagai satu-satunya jalan keluar malah bertentangan dengan nalar.

Seperti halnya bahan-bahan yang ada di alam ini, yoga juga bisa ‎menjadi obat atau racun, tergantung pada banyak sekali faktor. Yoga bagaikan senjata yang bisa berpotensi melindungi atau melukai si empunya. Atau bumerang, yang bisa melukai lawan atau malah mencederai si pelempar sendiri.

Contohnya mengenai melakukan yoga di malam hari. Ada orang yang mengklaim:”Yoga bisa membuat tidur lebih nyenyak.” Namun, dalam kasus yang saya alami, beryoga di malam hari malah membuat saya terlampau lelah atau kadang terlalu bersemangat beraktivitas hingga saya lebih sukar lelap setelah itu. Alih-alih mengobati insomnia, yoga malah memicu insomnia bagi saya. Bisa jadi karena tubuh saya lebih terbiasa beryoga di pagi hari dan rehat lebih awal di malam hari.

Menurut saya, yoga hanya salah satu jalan menuju pencapaian keseimbangan yang berimbas positif pada kesehatan jiwa raga. ‎Imbasnya bisa saja negatif jika yoga dilakukan hingga taraf tertentu yang merusak keseimbangan hidup seseorang. Maka dari itu, ketahuilah kapan dan bagaimana keseimbangan itu bisa tercapai dalam diri melalui yoga. Dan itu tidak bisa diketahui tanpa kita belajar merasakan sendiri.

‎Sebuah pendekatan yang holistik atau menyeluruh perlu dilakukan agar yoga bisa dipakai dengan lebih bijak. Ia hanya alat, bukan tujuan. Yoga menjadi alat kita mencapai kebaikan dan keseimbangan.

(image credit: Wikimedia Commons)