Yogikrat

Suasana masih lengang. Sebelum dirongrong tenggat, saya sempatkan untuk mengetikkan kata kunci “ketua [isi dengan nama lembaga negara] provinsi X” di kotak pencarian Google. Tertampillah beberapa tautan. Saya klik secara naluriah tautan yang paling memenuhi rasa ingin tahu saya.
.
Saya terperangah. Di sebuah halaman web, terpampang sebuah foto acara serah terima jabatan. Betul itu wajah pria yang saya temui pagi tadi. Deskripsi foto juga memuat sebuah nama yang ia berikan pada saya tadi. Tak salah lagi. Ia orangnya.
.
Perjumpaan saya dengannya bukan cuma kali ini. Sebetulnya sudah beberapa kali saya lihat sosoknya berseliweran di sebuah taman di jantung ibukota. Saya pikir ia seorang warga sekitar taman. Hanya saja ia jarang keluar jadi tak saban hari sosoknya terlihat.
.
Pertama kali melihatnya saya tahu ia mempraktikkan sedikit yoga meski ia lebih suka menghabiskan waktu berlari kecil memutari taman atau berjalan cepat. Namun, di akhir sesi olah tubuhnya ia selalu memungkasi dengan beberapa set surya namaskara. Ia menghadap ke timur di rerimbunan pepohonan yang justru menyembunyikan dirinya dari terpaan surya.
.
Dalam beberapa kali kesempatan, saya lihat ia bertumpu di lengan bawahnya dan memeragakan apa yang para yogi modern sebut dengan pincha mayurasana. Salah satu postur idaman yang amat populer, jika Anda mau mencermati media sosial. Tak terhitung banyaknya orang di sekitar saya yang tergila-gila dengan pose satu ini. Sampai siku robek berdarah juga tak masalah asal bisa berpincha mayurasana dengan semena-mena, begitu tekad mereka.
.
Tetapi pria paruh baya yang masih bugar, berperut ramping dan berperawakan tegap itu sekonyong-konyong mendekati saya tadi pagi. Begini ucapnya agak malu-malu begitu ia tahu saya sudah rampung berlatih,”Tadi bagaimana ya caranya supaya kakinya bisa pegang di belakang kepala?” Lalu tubuhnya memeragakan sebisanya. Ah, ia melirik-lirik dari tadi hanya karena ingin bertanya ini pada saya. Ia pasti sempat menyaksikan sekilas saat saya latihan sendiri tadi.
.
Saya sebut nama pose idamannya itu, natarajasana. Ia tidak tampak ambil pusing dengan nama. Persetan dengan nama, saya cuma mau bisa melakukannya, mungkin itu dalam benaknya. Kemudian saya tunjukkan tekniknya, bagian-bagian mana saja yang perlu diregangkan dulu agar pose sukses dieksekusi dengan aman dan nyaman.
.
“Saya dulu pernah diajari surya namaskara oleh seorang teman S3 di Leiden, Belanda. Saya hapalkan dan masih terus praktikkan sampai sekarang,” jelasnya. Saya mengangguk percaya karena saya melihatnya sendiri. “Setelah itu, saya masih sering latihan yoga sendiri tapi di YouTube.”
.
Sebagai seorang birokrat, ia memiliki disiplin yang mengagumkan untuk menjaga kesehatan pribadi. Tak peduli deretan kesibukan, katanya, ia masih menyempatkan menggerakkan badan. Gerakan-gerakannya hasil dari eksperimen dan observasi dari video YouTube. “Yang paling favorit seperti ini…,”ia duduk di mat yang hampir saya hendak gulung. Ia duduk dalam posisi kaki teratai lalu tangannya bertumpu ke depan dalam posisi mirip upward facing dog, kemudian duduk lagi dengan punggung terjulur ke depan dan merebahkan diri ke mat. Semua ia laksanakan dalam posisi kaki lotus yang sempurna. Boleh juga bapak ini, batin saya.
.
Belum puas, ia pertunjukkan pada saya kemampuannya melakukan kayang. Sungguh saya tak memerintahnya melakukan itu tetapi dengan sukarela ia berbaring telentang dengan kedua tangan di samping telinga dan ia dorong tubuhnya sampai melengkung ke atas. Saya betulkan telapak kakinya yang mengarah ke samping luar dan membantu meluruskan tangannya. Tampak bahunya masih kaku. Namun, ini sudah termasuk bagus untuk orang yang tidak secara khusus mendedikasikan waktunya pada yoga saban hari seperti sebagian dari Anda dan saya.
.
Ia katakan sedang berkunjung ke Jakarta karena tugas dan tinggal beberapa hari di sebuah hotel di dekat kantor lembaga negara yang pusing mengurusi pilkada di seantero nusantara. Saat pagi hari ia sempatkan diri ke taman ini untuk merawat kesehatan di tengah kelimpahan oksigen dan sinar matahari pagi agar siap berjibaku lagi melalui siang dan petang untuk membicarakan perkara-perkara pemilihan kepala daerah yang tiada henti-hentinya itu.
.
Ia beruntung memiliki teman yang mengenalkannya pada kebiasaan yang sehat dan baik. Dan keberuntungan itu makin tumbuh subur lagi dengan tekad dan disiplinnya dalam menjaga konsistensi. Karena semua orang sudah tahu apa yang baik bagi mereka tetapi sangat sedikit yang benar-benar melaksanakannya apalagi rutin melakukannya. Dan yang terpenting, jika ia sebagai individu memiliki kedisiplinan dan konsistensi sedemikian rupa, sebagai pemimpin di lembaganya, keberhasilannya sudah bisa dipastikan. Bukankah kita semua sudah muak dengan pemimpin yang tidak konsisten dan disiplin?

Upaya Gerindra Galang Dukungan yang 'Hilang'

‎Gerindra, partai politik pimpinan Prabowo Subianto, masih belum patah arang meskipun KPU telah memutuskan Joko Widodo dan Jusuf Kalla sebagai pemenang Pemilihan Presiden 2014. Pagi ini (2/8), tim media online partai itu mencoba menggalang suara yang mungkin tidak terjaring oleh berbagai TPS (tempat pemungutan suara) tanggal 9 Juli lalu. Melalui email blast (pengiriman konten via surel secara serentak ke banyak alamat surel) tersebut, tim ini mengirimkan sebuah pernyataan yang berjudul “Apakah Anda Terpaksa Golput di Pilpres 2014?” ke kotak masuk surel saya. Saya memang pernah mendaftar di situs mereka.

Begini isinya:

“Jika anda dapat memilih dengan mudah pada Pileg tanggal 9 April 2014, dan kesulitan memilih dalam Pilpres tanggal 9 Juli 2014 karena nama anda hilang dari DPT, laporkan kepada kami melalui:

http://tinyurl.com/TerpaksaGolput

Kontribusi anda sangat dibutuhkan, sebarkan pesan ini kepada saudara dan rekan, bersama-sama kita bangun demokrasi yang lebih baik. Jangan diam, karena suara anda menentukan masa depan Indonesia!

Tim Media Online Partai Gerindra”

Pertanyaannya: Mengapa baru sekarang? Dan apakah ini bisa banyak mengubah apa yang sudah diputuskan KPU?

Bagaimana pendapat Anda terlepas dari keberpihakan kita pada salah satu pihak?

Once Upon an Afternoon in Monas

So I happened to be at the ‘epicentrum’ of another political drama that Friday afternoon. One of the presidential election candidates who was declared lost didn’t seem to give up. And they filed a legal suit against KPU and the triumphant opponent. As a nation, we have seen more than enough drama. I believe millions others feel and agreed on this. We’re all tired of these incessant exchange of libelous statements or insults, which in turn prove how disgraceful these politicians actually become. To make it all worse, the media plunged into the raging wars on the web, sparking tsunamis of overly optimistic claims, agitations, self defense, self bragging and so forth.

But my eyes were focused on more interesting a phenomenon. With all the political unrest going on, I saw a group of foreign tourists taking an afternoon stroll without fear. Another young Caucasian male with a backpack was also spotted walking alone without giving a damn to the demonstration just across the street. He was showing no anxiety as well. It was like another afternoon in Jakarta, literally. Everything ran normally, except when you watch TV or read the newspapers. Things would be a lot more different. Jakarta would look like a riotous city, though it was in fact peaceful. The demonstration was under control. No violence was involved in any movements. So far we haven’t seen anyone getting killed horrendously.

Two of the foreign tourists scattered throughout Jakarta that afternoon were Dieter and Pia who are from Switzerland, Europe. I bumped into them in National Monument or famously called “Monas”, Central Jakarta. When I asked them why they decided to visit Indonesia during this political turmoil, they quipped,”We believe Indonesia is safe.”

“Maybe it’s not the smartest idea to choose this point of time (to visit Indonesia),”said Dieter who I saw taking pictures with Pia. Compared to African and South American countries, Indonesia according to Dieter and Pia is relatively safer to explore. “The risk is not that big, we believe…” They have an acquaintance in the capital who told them it is not the best time to travel here. “It’s presidential election and Idul Fitri holiday, but well we have no option,”Dieter added. Although it is a vacation season where million people have booked all the available tickets, Pia explained, it is still relatively easy to get them. So far their trip runs well.

Though Indonesians are known for their hospitality, complained Dieter, some of them sometimes rip foreigners off by selling goods five times the price. “You have to be smart and start to negotiate.”

One thing that separates Indonesian tourists and foreigners is that these foreigners tend to prefer private tours while Indonesians like to be a guided tour in a huge group. This preference, I suppose, has something to do with budget. With more people on tour, you only need to pay less money, and vice versa. Yet, Dieter and Pia like going around and visiting locals better than anything else. They seem to be more interested in seeing how natives live their lives. Alas, they were too late! Jakarta was left by millions by the time they got here. The next time they really want to get to know Jakartans in reality. Indonesians most of the time only get interested in going shopping and taking pictures of landmarks. How do I know? Because I am one of them.

Dieter has also something to say about the democratic process in the country. As I raised the question on the presidential candidate who claimed there was unfairness in the recapitulation process, he said,”What we believe, which is really important because Switzerland has a direct democracy where people can vote on all kinds of stuff. What is important in our culture is that you accept if there is a vote on something, or in elections you accept the results. You know what I mean, it’s considered a bad habit if there is a democratic election and then your party loses, you have to accept it, that’s the process of democracy. After you lose something, you cannot go on the street and challenge. You shouldn’t do that.” Of course, we cannot expect Indonesia to be as democratic, efficient, violation-free and transparent as Switzerland, because we have more than a hundred million voters, but what matters most is the mindset of the people while democratic events are in progress. Indonesia as an emerging nation might still have a long way to go towards a better state of democracy but they are already on the right track.

Dieter points out that if Indonesia wishes to accelerate and maintain its economic growth, what it badly needs is a democratic political system. “I don’t believe that the Chinese system will work for a long time because only if people feel they have the control over their country then the full economic potential comes to them. There is no single country that historically has managed through way of a dictatorship that becomes a sustainable and suscessful in business. You see all the advanced economies at some point switched to a democratic system.” In China he thinks it’s only a matter of time when they have to open up and right now what they can do is suppressing the democratic unrests. “They (the Chinese ruler) can do it for some time, but not forever,”Dieter argued. Political freedom should go hand in hand with the freedom of economy, he affirmed. So he feels optimistic that Indonesia’s economy and welfare, provided that they continue practicing the democratic system, will improve. I couldn’t agree more on this. As I came back from China last June, I recall one punching line blurted by our tour guide. She said,”To be honest, Chinese people are not rich. It is the government which is wealthy.” As she uttered that, she cast her glance at the Shanghai sky which is full of towering magnificent skyscrapers.

To the West, the perception on Indonesia is “strong”, Dieter said. In Switzerland, people believe Indonesia is very attractive a market that will take some time to develop. As Dieter put it, there are a lot of potentials like we all have 250 million people, we have fertile ground, so it’s just a matter of making the right choice.

20140725-210921-76161215.jpg

Alkisah di Masjid KPU…

‎Hari Jumat siang tanggal 11 Juli itu suasana begitu teduh. Banyak polisi yang berjaga datang ke masjid satu ini untuk duduk mendengarkan khotbah Jumat. Para pegawai KPU juga ada. Para kuli tinta laki-laki yang muslim juga berdatangan. Semuanya membaur. Di luar matahari bersinar terik. Seterik suhu politik Indonesia.

Sebenarnya ukuran kantor KPU Pusat di Teuku Umar ini terbilang kecil mungil. Saya tak tahu ukuran persisnya tapi yang pasti tak semegah Istana Negara atau Istana Maemun (random saja, teringat pertanyaan kuis Jari-jari yang dipandu Pepeng). Bangunannya kuno dan khas Belanda tetapi dipugar dan dirombak sana-sini di bagian depan. Di dalam cita rasa arsitektur zaman dulu masih terasa. Art Deco mungkin istilahnya. Benarkan jika saya salah. Tetapi bagi saya, meski mungil dan kuno, inilah istana demokrasi termegah di negeri ini. Bagaimana tidak? Saat ini dan besok semua perhatian menuju ke gedung mungil itu.

Saya ‘terpaksa’ solat Jumat di masjid itu karena harus berada di sana pagi dan siang itu untuk mendapatkan informasi untuk saya tulis dan sebarkan dari para narasumber lembaga pemantau pemilu partikelir yang menggelar jumpa pers di sana. Mereka itu selalu berkata:”Pemilu kali ini adalah yang paling banyak menarik animo rakyat.” Tentu saja. Rakyat kita makin ‘terdidik’, makin cerdas, makin cekatan mengakses informasi dan makin MUAK dengan kondisi negeri yang begini-begini saja. Mereka mau perubahan nyata! Bukan reformasi yang cuma retorika!

Saya juga peduli. Saya tidak secuek yang terlihat. Jujur, saya dulu sempat menyebarkan selebaran PAN yang bergambarkan Amien Rais, sosok paling reformis kala itu. Namun, itu saat saya masih kelas dua SMA. Saya bodoh dan saya dicemooh teman-teman sekelas karena membawa selebaran yang kata mereka jelek itu. Kini saya sependapat dengan mereka. PAN jadi sarang selebriti dan cenderung korup karena sudah menjadi bagian inti kekuasaan alias status quo. Amien Rais jadi arogan dan plin-plan. Semuanya mengecewakan. Saat kuliah, saya memilih SBY dan kembali kecewa. Tak usah dibahas mengapa. Toh kita tahu semua.

Jadi saya pikirkan dengan masak-masak,”Berhenti idolakan orang. Nanti akhirnya cuma mendapatkan rasa kecewa.” Dukung ide-ide dan programnya yang paling menarik dan baik di mata saya, itu saja. Cukup. Selebihnya adalah fanatisme. Tak selalu buruk, tetapi jika sudah berkembang liar, pastinya menjadi destruktif.‎ Bukan cuma menghancurkan pihak lain tetapi juga diri sendiri. Karena berusaha mendukung ide itulah, saya bisa perdebatan yang tak perlu dilakukan. Karena kebanyakan debat cuma menyinggung isu personal.

“Semua perbuatan itu tergantung niatnya…”tutur khotib siang itu lembut, membuka khotbahnya. Seperti biasa saya duduk bersila menopang dagu. Kalau pegal di kiri, saya pakai tangan kanan. Kalau pegal di kanan, saya alihkan ke kiri. Begitu seterusnya hingga khotbah selesai.

Saat saya hampir tersungkur ke depan karena kantuk, khotib berkata lagi,”Teliti lagi setiap aktivitas kita. Apakah saat memulainya kita sudah meniatkannya untuk beribadah kepada-Nya?”

Saya merasa angin meniup sepoi dan sedikit terlena, kepala menunduk.

“Seperti saat pemilu seperti sekarang…”

Oh, ia mengkaitkannya dengan kondisi aktual juga. Saya masih berada di ambang sadar dan bawah sadar.

“Bayangkan betapa banyaknya pahala jika seorang polisi yang bekerja mengamankan jalannya pemilu ini meniatkan tugasnya setiap hari atas nama ibadah…”

Suaranya terbawa angin. Ada hening lalu ia mulai lagi.

“Semua aktivitas positif bisa berbobot ibadah‎ jika kita niatkan sebagai cara untuk berbuat kebajikan bagi sebanyak mungkin orang…”

Ah, ya mereka benar. Lalu saya seperti terseret dalam bathtub berisi air hangat. Mata saya tertutup rapat dan telinga saya menjadi kurang peka dengan keriuhan yang menggejala di permukaan.

Tenang, tenang dan tenang…

Tenang sekarang

Tenang besok

Selamanya!