Chris Dharmawan Orbitkan Seniman Jateng Lewat Galeri Semarang

DI KOTA LAMA yang kini menjadi areal pariwisata ramai di Semarang Utara, berdirilah sebuah galeri seni yang dikenal sebagai pengorbit seniman lokal potensial. Galeri Semarang – demikian namanya – menempati salah satu bangunan tua di sana dan kemudian direnovasi untuk dapat digunakan sebagai galeri seni kontemporer. Lokasinya dekat Gereja Blenduk yang menjadi landmark Kota Tua Semarang.

Beroperasi sejak 16 tahun lalu (2001), Galeri Semarang didirikan oleh Chris Dharmawan dan dua orang mitranya yang bernama Hendra dan Handoko. Mereka bertiga bersama menjalankan galeri itu sampai tahun 2005. Di tahun itu, dua rekan lainnya mundur dan membuat Chris menjadi satu-satunya yang bertahan mengelola galeri itu hingga detik ini. Dan meski latar belakang Chris bukanlah seni rupa atau lukis, ia tidak gentar menjalankan galeri itu. Ia mengaku sebagai seorang arsitek yang kebetulan memiliki passion besar di bidang seni.

Chris dengan tekun mengumpulkan dan menyeleksi karya dari komunitas seni lokal. Ia banyak berinteraksi dengan seniman-seniman muda dan berpotensi di wilayah semarang dan sekitarnya. “Jika saya lihat ada yang berpotensi, saya ajak ikut pameran,” ujarnya.

Ditanya soal kriteria seniman potensial yang layak diikutsertakan dalam pameran di galerinya, Chris menjelaskan bahwa seorang seniman harus memiliki teknik dan konsep. “Aspek lain ialah kepribadian seniman tersebut memenuhi syarat,” imbuh pria itu. Karena seniman juga sebuah profesi, ia juga memperhitungkan bakat artistik orang yang bersangkutan. Ia mengklaim dari seniman-seniman muda berpotensi yang ia angkat di galerinya, ada beberapa yang sudah mendulang kesuksesan.

Chris beruntung karena meskipun Semarang belum seaktif Jakarta atau Yogyakarta, di kota pesisir itu sudah ada sebuah institusi pendidikan yang menjadi pusat lahirnya seniman-seniman baru. “Di Semarang, ada jurusan Seni Rupa Unnes (Universitas Negeri Semarang -pen) yang menghasilkan banyak seniman.”

Ditanya soal jumlah seniman muda yang ia orbitkan ke dunia seni, Chris tidak yakin jumlah pastinya. Dengan frekuensi mengadakan pameran di galerinya dari enam sampai sepuluh kali dalam setahun, bisa ditaksir jumlah seniman muda yang karya-karyanya ia sudah tampilkan di galeri tersebut. “Dalam satu kali pameran, ada sekitar 5-7 seniman yang berpartisipasi. Jadi, bisa dikira-kira sendiri.”

Dalam urusan kurasi karya, Chris sengaja menyewa jasa kurator andal dan ia anggap cocok dan sukai. Ia tidak mengerjakan sendiri, apalagi ia berlatar belakang arsitektur.

Dengan kiprahnya selama belasan tahun ini, Galeri Semarang sudah diperhitungkan dalam arena seni Jawa Tengah dan sekitarnya. Buktinya ialah baru-baru ini galeri tersebut dipilih sebagai salah satu tempat perhelatan ajang bergengsi “Biennale Jawa Tengah”. “Ada empat bangunan peninggalan masa kolonial Belanda di Kota Lama Semarang yang menjadi venue acara tersebut, dan salah satunya Galeri Semarang ini,” terangnya mengenai event yang diramaikan seratus lebih seniman Jateng.

Chris membidik para seniman ‘muda’ yang lulus dari institusi-institusi seni lokal. “Istilah ‘muda’ memang subjektif, tetapi intinya mereka seniman yang masih berkarya aktif dan masih masuk kategori ‘emerging‘. Usia bukan masalah. Empat puluhan pun masih bisa saya anggap muda,” tuturnya sambil diiringi tawa. Tema-tema karya seniman itu juga harus mengikuti perkembangan zaman sehingga lebih segar saat disuguhkan kepada audiens.

Di Semarang, Chris mengamati bahwa ada dua kelompok besar. Pertama yakni kelompok yang memiliki ketertarikan sebagai penikmat tetapi belum sampai tergerak untuk memboyong pulang karya seni yang dipamerkan. Sementara itu, yang kedua ialah kelompok yang memiliki ketertarikan sekaligus daya beli yang nyata. Mereka ini biasanya kolektor muda. “Kelompok pertama jauh lebih banyak daripada yang kedua,” tegasnya.

Untuk menjangkau kolektor baik di skala nasional dan internasional, ia memang masih mengandalkan jaringan kolektor di kota-kota besar di Indonesia dan mancanegara. Ia menyebut Jakarta dan Singapura sebagai kota yang memiliki jaringan kolektor yang bisa ia andalkan.

Biasanya seniman-seniman tersebut adalah anak-anak muda yang kuliah atau baru saja lulus kuliah di program studi seni rupa di institusi pendidikan formal. Biasanya mereka baru pulang kampung dari studi di kota besar di Jawa. “Tapi biasanya jika asalnya dari kota kecil dan kuliah di Yogyakarta misalnya, mereka akan cenderung berkarya di Yogyakarta. Jadi sebenarnya asal seniman-seniman di Yogyakarta itu bervariasi,” ucap pria berkacamata itu.

Galeri Semarang telah mengikuti beragam pameran seni bertaraf internasional. Chris mengaku ini kali keduanya ikut dalam Art Stage di Jakarta setelah yang pertama ia ikuti di Singapura. Kemudian ia juga pernah ke pameran seni di Hongkong dan Brussel. Dengan mengikuti pameran, ia terus bisa memperluas jaringan dan menjangkau lebih banyak kolektor seni di berbagai pelosok dunia.

Chris sendiri tidak dibesarkan di keluarga yang kental dengan pendidikan seni. “Keluarga saya keluarga pedagang,” tegasnya.

Tertarik pada seni sejak kuliah arsitektur, Chris mengakui ia mengenal seni rupa secara lebih dekat sejak awal dekade 1990-an. Ia mulai mengoleksi karya seni yang sekarang jumlahnya ratusan buah. Chris tidak memiliki sebuah tema khusus dalam koleksi seninya tetapi ia sangat meminati karya-karya ‘old masters’ yang telah berpulang. “Inilah yang dinamai orang Indonesian modern art,’ ia menjelaskan. Sementara itu, publik menamai karya-karya seniman yang lebih muda pasca era old masters sebagai contemporary Indonesian art.

Kekuatan Indonesia terletak pada keragamannya yang menonjol. Di kawasan Asia Tenggara saja, ujar Chris, Indonesia dapat dikatakan memiliki kemajuan seni yang relatif membanggakan. “Paling beragam dan menarik. Orang-orangnya memiliki keragaman latar belakang budaya dan meski studi di lembaga yang sama, karena latar belakang budaya berbeda, seniman-seniman itu menghasilkan karya yang berbeda,” tegasnya. (*/)