Hoer VS Huur

Salah satu yang guyonan tentang bahasa yang paling populer ialah kesalahan pengucapan oleh pembelajar bahasa asing yang memicu kesalahpahaman penutur asli. Dalam bahasa Belanda ada juga lelucon semacam itu.

Mevrouw Ita yang menggantikan Meneer Tonny yang entah kenapa absen sore itu menerangkan pentingnya pelafalan yang baik agar kami tidak terjebak dalam kesalahan yang menggelikan. Wanita itu berkacamata dengan warna hitam dan elegan. Rambutnya sebahu dan warnanya legam dan berkilau. Saya curiga ia mengecatnya secara rutin.

“Jadi hati-hati kalau mau mengucapkan ‘huur‘ dan ‘hoer‘ ya…,” pintanya. Ia tak menjelaskan pada kami arti kedua kata itu secara langsung.
.
Mevrouw Ita meraih spidol dan mulai menulis. Begitu kelar ( yang merupakaan serapan dari ‘klaar‘ yang artinya selesai), ada dua kalimat di papan tulis:
– Ik betaal de huur.
– Ik betaal de hoer.

Yang pertama, jelas Mevrouw Ita, maknanya lebih beradab. Yang kedua seperti sebuah pengakuan dosa.

Ia melanjutkan:”Bedakan pengucapan keduanya. Jika tidak, Anda bisa kehilangan muka.”

Kata ‘huur’ berasal dari kata kerja dasar ‘huren‘ yang artinya menyewa. Mevrouw Ita secara samar menyebut arti ‘hoer’ sebagai pekerja seks – bukannya teks – komersial. Otak saya mencari-cari padanan katanya dalam kosakata dalam bahasa Inggris dan Indonesia. Ah, pasti kata ‘whore’. Sejumlah kata bahasa Belanda memang mirip dengan bahasa Inggris tetapi lain pengejaannya.

Mevrouw Ita melanjutkan,”Kalimat pertama artinya ‘saya membayar sewa’ dan kedua ‘saya membayar pelacur’.

Kata-kata kotor semacam ini entah kenapa langsung menancap dalam ingatan tanpa banyak upaya. Begitu juga dengan kata-kata umpatan dalam bahasa kumpeni seperti “je moeder” (mbokmu), “kuss mijn kont” (kiss my ass), “hoerenjong” (son of a bitch), “godverdomme” (goddamit), “moederneuker” (mother fucker), “schijt” (shit) dan sebagainya. Semua kata kata kotor itu tentu tidak diberikan oleh Mevrouw Ita yang anggun dan sopan itu di depan kelas. Saya mencarinya sendiri. Dengan penuh semangat. (*)

Beetje Bij Beetje

Di dunia bahasa, dikenal citra-citra subjektif juga. Pernah saya membaca bahwa bahasa Rusia lekat dengan kesan jantan. Apakah karena Putin sang presiden dikenal sebagai duda yang sangar dan kerap berkuda bertelanjang dada sebagaimana pernah ditangkap kamera pekerja media? Entahlah. Lalu bahasa Prancis lebih diasosiasikan dengan femininitas. Mungkin karena pelafalannya yang sulit dan rumit, mengharuskan lidah dan bibir bermanuver sedemikian rupa sampai terpilin-pilin tanpa ampun. Bahasa yang seksi, kata orang. Tapi sumber frustrasi bagi saya.
.
Beetje bij beetje,” tulis guru bahasa Belanda saya yang berasal dari kota yang berlokasi tepat di garis khatulistiwa itu di papan tulis. Maknanya mirip “little by little”, sedikit demi sedikit. Lalu kami diinstruksikan menirunya,”Beice bei beiceee..”
.
“Ya ampun, lenjeh banget rasanya mengucapkan frasa satu ini,”komentar saya secara spontan. Tentu dalam volume suara terkendali agar tak menarik perhatian Tonny, guru kami.
.
Seorang teman di sebelah saya mendengar dan menukas dengan nada sepakat:”Lhah, kan emang bahasa bencong-bencong nyerap banyak bahasa Belanda! Ik, jij!”
.
Saya mengiyakan dalam hati juga jawabannya lalu tergoda membayangkan citra apa yang bisa dilekatkan dengan bahasa Indonesia. Bahasa tanpa perubahan kata kerja berdasarkan waktu dan subjek, tanpa variasi kata ganti orang, hewan dan benda baik yang maskulin, feminin (saya stres kalau melihat orang mengeja “feminim”).
.
Dan sebelum saya menemukan jawabannya, Tonny menyebut nama saya saat mata saya asyik menerawangi langit-langit ruangan yang pendek sambil membayangkan betapa tersiksanya orang-orang Belanda yang jangkung-jangkung itu jika di dalam sini. Ia sekonyong-konyong menunjuk gambar Barack Obama di layar samping papan tulis.
.
“Wat is zijn naam?” tanyanya tajam pada saya, seolah-olah dirinya seekor macan tutul yang sukses menangkap seekor kijang yang sedang lengah-lengahnya.
.
Gelagapan saya menjawab,”Beetjeee… Uhh ohh, Obama, meneer!”

Nederlands Is Makellijk

NEDERLANDS is makellijk, tulis meneer Tonny dengan huruf besar di papan tulis yang lebar, putih, dan mulus itu. Kalimat itu saja yang ia tegaskan untuk mencuci otak kami agar semangat tidak keropos di tahap awal belajar bahasa kompeni ini. “Nederlands is makeuleuk,” ucap kami serempak menirukan.
.
Ia katakan kelebihan bahasa Belanda dari bahasa Inggris ialah pengucapannya yang apa adanya. Apa yang tertera, dibaca saja, tuturnya. Tetapi saya sangkal pernyataannya dalam hati,”Kalau mudah, kenapa orang Indonesia merasa lidah mereka kaku saat membaca tulisan Belanda?” .
.
Namun, itulah enaknya belajar bahasa, yang tak masuk dalam ranah eksakta. Semuanya relatif, suka suka. Anda bisa mengajukan klaim mudah dan menambahkan pengecualian. Dan pengecualian itulah yang tak bisa dipahami secara logis dan susah dipahami dan dihapalkan.
.
Semangat belajar memang penting untuk dipelihara selama perjalanan mencari ilmu. Sebab tidak semua fase belajar itu menyenangkan untuk dijalani.
.
Tetapi seorang teman mengatakan, bahasa bekas penjajah ini susah. Begitu susah, sampai novelis termasyhur Eka Kurniawan bertekuk lutut saat mengikuti kursus ini.
.
Berkali-kali meneer Tonny mengajukan bukti pendukung pernyataannya bahwa Nederlands is makellijk (bahasa Belanda itu mudah). Disuruhnya kami mengajukan contoh kata-kata dalam bahasa Indonesia yang diserap dari bahasa ini, dari verboden (terlarang), kraag (krah), tas, handoek (handuk), korsluit (korslet), koelkast (kulkas), pootlood (pensil/ potlot), kantoor (kantor), fiets (pit, bahasa Jawa), om, tante, dan daftarnya tak habis-habis.
.
Sayangnya panjangnya daftar itu cuma menunjukkan besarnya cengkeraman mereka pada bangsa ini, bahkan di luar urusan politik dan kenegaraan. Sementara itu, pengaruh bangsa (yang kuantitasnya) besar yang (berdaya saing) ‘kecil’ ini relatif sangat rendah pada mereka. Buktinya, susah sekali menemukan kata-kata bahasa Indonesia yang diserap oleh penutur Belanda.
.
Di antara yang langka itu, meneer Tonny menyebut beberapa. Pertama, kata “pienter” yang diserap dari bahasa kita. Artinya juga sama dengan kata “pintar” yang kita sering pakai.
.
Lalu ada juga “piekeren”, yang kata meneer Tonny, memiliki makna “memikirkan sesuatu”. Setelah itu, meneer Tonny beralih topik. Sudah kehabisan contoh atau karena ingin fokus ke topik selanjutnya.
.
Saya manggut-manggut, dengan mata tidak berani menerawang liar ke mana-mana agar tidak ditunjuk saat lengah lagi.
.
Sambil menancapkan mata ke depan agar tetap terlihat memperhatikan, saya terus berpikir. Mau sebanyak apapun jumlah penutur bahasa Indonesia tetap tidak bisa dimasukkan menjadi kelompok bahasa berpengaruh di dunia. Salah satu sebab utamanya pengaruh Indonesia yang masih lemah di konstelasi pergaulan bangsa-bangsa. Dan salah satu aspek yang bisa diukur untuk menentukan tingkat pengaruh suatu bangsa di lingkaran global ialah banyaknya kata-kata dalam bahasa mereka yang dipinjam dari bahasa lain. (*)