Inikah Yoga Mat Terbaik di Dunia?

Mat yoga bukan sekadar pelengkap latihan yoga asana Anda. (Credit: Machfud Achyar)

Di awal latihan yoga, saya bukanlah orang yang berpikir bahwa mat menjadi salah satu faktor penentu yang krusial dan mutlak. Saya menganggap mat sebagai sebuah pelengkap saja. Ini memang benar, karena meskipun yoga sudah ada sejak lebih dari 5.000 tahun lalu, mat yoga baru dibuat mungkin abad ke-20. Hal ini bisa menerangkan mengapa saya begitu abainya saya terhadap mat, sampai saya hanya menggunakan alas seadanya (yang berupa banner bekas) saat berlatih yoga di kelas-kelas pertama saya di tahun 2010 dan 2011.

Baru kemudian saya memakai mat yoga yang pantas pada saat saya kebetulan mendapatkan mat yoga secara cuma-cuma dalam sebuah acara yoga bersama sekitar tahun 2012. Mat ini berbahan PVC dan setelah kotor saya kesulitan untuk membersihkannya. Bahkan setelah saya bersihkan dengan sikat dan deterjen, mat saya bukannya tambah bersih tapi masih ada nodanya (dari debu dan tanah bekas kaki karena saya lebih banyak beryoga di luar ruangan) dan permukaannya cepat terkikis. Plus, mat ini tampaknya memiliki celah di permukaannya sehingga saat dibasuh air, ia seperti menyerap kandungan air dan sangat sukar kering sampai tuntas. Setelah dicuci terasa ada air yang masih tertinggal di dalamnya, apalagi jika saya tekan. Air dan sisa deterjen masih bisa keluar dari mat itu. Memang kualitas dan harga tidak bisa berbohong.

Saya sendiri kemudian pernah menggunakan mat yoga produksi Adidas. Bahannya lebih baik dan mudah dibersihkan. Namun, permukaannya begitu licin bahkan bagi saya yang tidak banyak berkeringat. Kemudian saya beralih ke travel mat produksi Tortue yang tipis dan bisa dilipat. Kemudahan dibawa menjadi pertimbangan utama saya karena saya lebih banyak beryoga di luar ruangan dan tidak hanya di satu tempat.

Lalu saya ingin tahu mat yoga yang berkualitas paling tinggi yang pernah ada untuk membantu kawan-kawan saya di luar sana yang masih kebingungan mendapatkan mat ideal mereka (sepanjang dana memungkinkan tentunya). Saya mencoba untuk mendapatkan sejumlah data dan informasi yang objektif dan bisa dipertanggungjawabkan mengenai mat yoga paling berkualitas yang pernah diproduksi hingga sekarang. Menurut penelitian dan wawancara yang dilakukan oleh Reviews.com baru-baru ini, Manduka PROlite menjadi jawara di antara 10 mat terbaik yang tersaring secara ketat. Untuk sampai ke simpulan itu, pihak Reviews.com tidak main-main karena mereka mengklaim telah menghabiskan waktu sampai 50 jam untuk meneliti masing-masing produk yang dimaksud, melaksanakan survei pada lebih dari 100 pengajar yoga profesional dan berkonsultasi dengan “Instruktur Yoga Terbaik di Boston tahun 2014”.

Manduka PROlite dianggap terbaik dalam aspek keawetan berkat adanya jaminan seumur hidup dari produsennya. Ini sebenarnya cukup mengherankan bagi saya karena ‘kakak seniornya’, Manduka Black Mat Pro, yang lebih mahal malah gagal menjadi yang terbaik. Sejumlah mat berkualitas unggul lainnya juga tersingkir meskipun level harganya ada yang jauh lebih tinggi. Mat-mat terbaik ini bermacam-macam, dari Jade Harmony Professional Mat, Hugger Mugger Para Rubber, PrAna Revolutionary Sticky Mat, Kharma Khare (jenama/ brand yang jarang sekali saya dengar), PrAna E.C.O, Gaiam Print Premium, Liforme Yoga Mat (yang cukup tersohor di Indonesia), hingga Yoloha Native Cork Yoga Mat.

Jadi, yang mana yang terbaik untuk Anda? Jawabannya, seperti halnya keragaman anatomi kita, bergantung juga pada selera dan kebutuhan serta kecenderungan masing-masing individu yang menekuni yoga.

Jika Anda yogi yang peduli lingkungan…

Yoga mat Jade Harmony Professional Mat pilihan yang lebih baik. Kenapa? Karena bahannya seratus persen dari karet alami sehingga kesat, tidak licin meski telapak tangan berkeringat deras di tengah kelas ashtanga atau power yoga atau bikram yang menguras tenaga.

Jika Anda yogi yang peduli kantong…

PrAna E.C.O patut dilirik karena meskipun harganya yang termurah dibandingkan mat-mat dalam daftar di atas tetapi kualitasnya bisa ditandingkan.

Jika Anda yogi yang tidak mau terpeleset kubangan keringat sendiri…

Liforme Yoga Mat saya anjurkan untuk diboyong ke rumah. Tetapi ingat untuk menyediakan anggaran cukup sebelumnya sebab harganya relatif lebih mahal bahkan untuk jajaran mat yoga berkualitas terbaik di sini. Omong-omong, harga satu helainya ‘cuma’ 140 dolar AS. Bukan dolar Zimbabwe ya.

Jika Anda yogi yang malas bersih-bersih mat…

Saya tahu saya bukan satu-satunya yogi yang malas soal membersihkan mat sehabis latihan yoga. Enaknya setelah latihan, bukankah istirahat dan makan? Membersihkan mat yoga adalah hal paling terakhir yang terlintas dalam benak saat kita sudah hampir pingsan di akhir kelas. Untuk para yogi yang malas soal ini, cobalah Yoloha Native Cork Yoga Mat.

Kembali lagi, apakah kita harus memiliki yoga mat supaya bisa ‘tercerahkan’ dalam latihan yoga kita? Tidak juga. Yoga mat hanyalah sebuah alat untuk berlatih sehingga akan sangat dangkal untuk mengukur kedalaman latihan yoga seseorang hanya dari yoga mat yang dimilikinya. Namun demikian, yoga mat bukan dibuat tanpa alasan. Yoga mat memberikan kita kenyamanan, keamanan, kebersihan, dan ruang pribadi yang tidak bisa dilanggar orang lain saat berlatih kecuali Anda izinkan. Begitulah yang saya rasakan jika saya beryoga di ruang terbuka. Yoga mat membuat saya tidak harus berguling-guling di tanah yang membuat pakaian kotor (yang tentu bertentangan dengan asas saucha atau kebersihan dalam yoga) dan memberikan saya sebuah teritori untuk berlatih yoga tanpa harus menegakkan tanda atau peringatan “Jangan Mengganggu. Ada Orang Yoga di Sini!” Mat yoga Anda sudah menjelaskan semuanya. Untuk aspek keamanan, mat  dapat mengurangi risiko cedera terutama saat kita melakukan postur-postur tertentu yang mengharuskan bagian-bagian tubuh beradu dengan kerasnya lantai dan bumi. (*)

Penelitian Ini Buktikan Kenapa Pria Cenderung Hindari Yoga dan Meditasi

Bagi sebagian pria, menyelami pikiran dan diri sendiri jauh lebih menantang daripada menjalani siksaan fisik. (Sumber: Wikimedia Commons)

Seorang perempuan menggelar mat yoganya di lantai rumah. Guru yoga mereka sudah duduk di depan. Sejurus kemudian seorang pria datang melintas, tampak sibuk membenahi hal-hal yang sebetulnya tidak begitu perlu dibenahi. Terkesan sekali ia menyibukkan diri. Benar saja, beberapa detik kemudian perempuan yang ternyata istrinya itu mengajaknya duduk beryoga. “Sebentar, masih sibuk nih,” kilah si suami. Sang istri menunggu hingga kesibukannya usai. Begitu usai, sang suami dibujuk lagi untuk ‘melantai’. Kali ini jawabnya,”Aku mau nemenin (nama anak mereka).” Akhirnya kelas yoga kami berjalan hingga tuntas tanpa kehadiran sang suami yang memang tidak ingin mengikuti kelas dari awal.

Kondisi semacam itu juga yang bisa dijumpai di lapangan, tidak cuma di lingkungan rumah pasangan tadi. Saya kerap menemukan para pria — entah suami atau pacar — yang duduk di pinggir kelas, menghabiskan waktu mereka untuk duduk santai, mendengarkan musik atau bermain games, atau memilih untuk berlari keliling taman (karena saya sering beryoga di taman umum) sementara pasangan mereka tengah khidmat di atas matras yoga. Walaupun ada beberapa suami yang ikut turun dan mengikuti yoga, tetap saja perbandingannya relatif lebih rendah dari jumlah pria yang dengan segala cara menghindari berlatih yoga.
Usut punya usut semuanya menjadi lebih terang sekarang setelah saya membaca hasil sebuah penelitian ilmiah yang dilakukan oleh sebuah tim gabungan para ilmuwan dari dua kampus kenamaan: University of Virginia dan Harvard University. Dalam simpulan studi yang diterbitkan di jurnal Science tahun 2014 itu, mereka menyatakan bahwa kaum Adam cenderung lebih memilih untuk mencari rangsangan eksternal lebih banyak dari kaum Hawa. Bahkan jika para pria dalam studi itu disuruh memilih untuk sendiri dengan pikiran mereka atau menyetrum diri mereka sendiri, 67 persen lebih memilih siksaan fisik tersebut.
Gila dan tak masuk nalar? Tidak juga. Kita perlu memahami bahwa pikiran dirancang sedemikian rupa untuk melibatkan diri dalam dunia ini. Sehingga saat seorang manusia berfokus pada pikirannya sendiri, konsentrasinya biasanya tetap mengarah liar ke dunia luar. Di sinilah yoga dan meditasi berperan penting untuk mengarahkan konsentrasi pikiran itu untuk masuk ke dalam Diri (Self). Sebab tanpa pelatihan meditasi atau teknik pengendalian pikiran yang masih sulit, mayoritas manusia akan lebih menyukai terlibat dalam aktivitas eksternal.
Semua peserta studi ini diajak untuk menyelami pikiran mereka — tanpa rangsangan luar apapun — dalam jangka waktu antara 6 menit hingga 15 menit. Ditemukan bahwa kebanyakan peserta merasakan periode berpikir yang hening itu tidak begitu menyenangkan, membuat pikiran mereka ‘gatal’, seakan ada yang ingin digaruk. Alih-alih lebih tenang, mereka cenderung merasa resah.
Simpulan studi ilmiah tersebut rasanya bisa sedikit memberikan titik terang mengapa kadar partisipasi kaum pria masih terbilang sedikit dalam kelas-kelas yoga. Saya telah menyinggungnya dalam beberapa kali kesempatan, bertanya mengapa hal ini bisa terjadi. Padahal jika dirunut ke masa lalu, para yogi itu kaum pria juga. Tokoh-tokoh besar perintis ajaran yoga dan meditasi itu semuanya bahkan pria. Sebut saja Patanjali, Krisnamacharya, Pattabhi Jois, Iyengar, Swami Vivekananda, dan sebagainya.
Menurut Anda sendiri, mengapa para pria menghindari yoga dan meditasi?