Penelitian Ini Buktikan Kenapa Pria Cenderung Hindari Yoga dan Meditasi

Bagi sebagian pria, menyelami pikiran dan diri sendiri jauh lebih menantang daripada menjalani siksaan fisik. (Sumber: Wikimedia Commons)

Seorang perempuan menggelar mat yoganya di lantai rumah. Guru yoga mereka sudah duduk di depan. Sejurus kemudian seorang pria datang melintas, tampak sibuk membenahi hal-hal yang sebetulnya tidak begitu perlu dibenahi. Terkesan sekali ia menyibukkan diri. Benar saja, beberapa detik kemudian perempuan yang ternyata istrinya itu mengajaknya duduk beryoga. “Sebentar, masih sibuk nih,” kilah si suami. Sang istri menunggu hingga kesibukannya usai. Begitu usai, sang suami dibujuk lagi untuk ‘melantai’. Kali ini jawabnya,”Aku mau nemenin (nama anak mereka).” Akhirnya kelas yoga kami berjalan hingga tuntas tanpa kehadiran sang suami yang memang tidak ingin mengikuti kelas dari awal.

Kondisi semacam itu juga yang bisa dijumpai di lapangan, tidak cuma di lingkungan rumah pasangan tadi. Saya kerap menemukan para pria — entah suami atau pacar — yang duduk di pinggir kelas, menghabiskan waktu mereka untuk duduk santai, mendengarkan musik atau bermain games, atau memilih untuk berlari keliling taman (karena saya sering beryoga di taman umum) sementara pasangan mereka tengah khidmat di atas matras yoga. Walaupun ada beberapa suami yang ikut turun dan mengikuti yoga, tetap saja perbandingannya relatif lebih rendah dari jumlah pria yang dengan segala cara menghindari berlatih yoga.
Usut punya usut semuanya menjadi lebih terang sekarang setelah saya membaca hasil sebuah penelitian ilmiah yang dilakukan oleh sebuah tim gabungan para ilmuwan dari dua kampus kenamaan: University of Virginia dan Harvard University. Dalam simpulan studi yang diterbitkan di jurnal Science tahun 2014 itu, mereka menyatakan bahwa kaum Adam cenderung lebih memilih untuk mencari rangsangan eksternal lebih banyak dari kaum Hawa. Bahkan jika para pria dalam studi itu disuruh memilih untuk sendiri dengan pikiran mereka atau menyetrum diri mereka sendiri, 67 persen lebih memilih siksaan fisik tersebut.
Gila dan tak masuk nalar? Tidak juga. Kita perlu memahami bahwa pikiran dirancang sedemikian rupa untuk melibatkan diri dalam dunia ini. Sehingga saat seorang manusia berfokus pada pikirannya sendiri, konsentrasinya biasanya tetap mengarah liar ke dunia luar. Di sinilah yoga dan meditasi berperan penting untuk mengarahkan konsentrasi pikiran itu untuk masuk ke dalam Diri (Self). Sebab tanpa pelatihan meditasi atau teknik pengendalian pikiran yang masih sulit, mayoritas manusia akan lebih menyukai terlibat dalam aktivitas eksternal.
Semua peserta studi ini diajak untuk menyelami pikiran mereka — tanpa rangsangan luar apapun — dalam jangka waktu antara 6 menit hingga 15 menit. Ditemukan bahwa kebanyakan peserta merasakan periode berpikir yang hening itu tidak begitu menyenangkan, membuat pikiran mereka ‘gatal’, seakan ada yang ingin digaruk. Alih-alih lebih tenang, mereka cenderung merasa resah.
Simpulan studi ilmiah tersebut rasanya bisa sedikit memberikan titik terang mengapa kadar partisipasi kaum pria masih terbilang sedikit dalam kelas-kelas yoga. Saya telah menyinggungnya dalam beberapa kali kesempatan, bertanya mengapa hal ini bisa terjadi. Padahal jika dirunut ke masa lalu, para yogi itu kaum pria juga. Tokoh-tokoh besar perintis ajaran yoga dan meditasi itu semuanya bahkan pria. Sebut saja Patanjali, Krisnamacharya, Pattabhi Jois, Iyengar, Swami Vivekananda, dan sebagainya.
Menurut Anda sendiri, mengapa para pria menghindari yoga dan meditasi?