Meditasi: Dari Latar Belakang Sejarah, Cara, Hingga Manfaatnya 

MENDENGAR kata ‘meditasi’ pertama kali, saya bergidik. Dalam benak saya, tertanam kesan bahwa hal itu cuma dilakukan oleh segelintir orang terutama para biksu dan pertapa serta pengelana spiritual yang membiarkan diri mereka larut dalam kehampaan dalam pikiran mereka hingga lupa makan, lupa minum, lupa segala-galanya.

Setelah saya menekuni yoga, saya juga kemudian mengetahui bahwa dalam yoga juga tercakup meditasi. Dan di benak sebagian orang, meditasi adalah yoga itu sendiri. “Yoga kan duduk duduk diem gitu, mana bisa keringetan?” Begitu persepsi masyarakat awam. Seseorang bahkan memiliki ingatan buruk soal yoga karena salah satu tetangganya yang hidup menyendiri dan cenderung anti sosial kemudian duduk dalam posisi lotus di rumahnya setelah sekian lama tidak keluar rumah. “Kami memasuki rumahnya karena banyak lalat dan bau busuk yang menyengat dari dalam. Begitu dibuka kami temukan orangnya. Atau jenazahnya tepatnya. Sudah tidak bernyawa. Membusuk di dalam posisi duduk bermeditasi..,” terang orang yang saya temui di sebuah taman di Jakarta itu.

Jelas ada kesimpangsiuran perihal apa meditasi sebetulnya. Betul meditasi melibatkan posisi duduk. Akan tetapi, meditasi tidak cuma aktivitas batiniah yang berujud duduk lama dan mewajibkan pelakunya untuk ‘mengosongkan pikiran’ (sebuah frasa yang keliru) sebagaimana yang saya juga kerap dengar dari komentar orang-orang awam di sekitar saya. Dalam perjalanan saya belajar yoga, saya pun akhirnya tahu bahwa meditasi bukanlah sesempit itu. Meditasi memiliki cakupan makna yang lebih luas dan mendalam.

Sebelum membahas makna meditasi, ada baiknya kita kembali ke masa lalu untuk mengetahui secara singkat sejarahnya. Dan dari pengetahuan mengenai sejarah ini, kita akan paham bahwa meditasi bukanlah monopoli kepercayaan atau agama tertentu.

Seperti yoga dan pengetahuan dari Timur lainnya, tidak ada yang tahu persis siapa penggagas/ pencipta dan kapan ilmu tentang meditasi dibuat atau disusun. Semuanya merupakan taksiran kasar, dan hanya diwariskan secara turun temurun sehingga sulit dilacak asal muasalnya yang pasti. Salah satu dugaan kenapa hal ini terjadi ialah karena sosok-sosok guru hebat dan bijak itu justru ingin menghindari publikasi dan menepikan kepentingan pribadinya (baca: ego) untuk lebih berfokus pada spiritualisme yang ia sudah rengkuh susah payah.

Selama era penyusunan kitab Upanishad (salah satu teks suci dan dianggap sakral di Asia Selatan), ilmu meditasi dikembangkan secara sistematis di wilayah India kuno. Lalu Patanjali menyusunnya secara tertulis dan sistematis sehingga lebih mudah dipelajari dan disebarluaskan ke mana saja dan diajarkan pada siapapun juga. Praktik meditasi pun makin berkembang dan menyebar luas hingga di luar India. Salah satu tanda perkembangan meditasi yang pesat ialah ditemukannya bukti sejarah yang menyatakan bahwa sekitar abad ke-3 atau 4 Masehi telah ada sekolah khusus meditasi yang didirikan para biksu tanah Hindustan di negeri para firaun Mesir. Di Tiongkok, tercatat dalam sejarah bahwa berdiri sekolah meditasi mulai sekitar tahun 525 SM.

Dari Tiongkok, ajaran meditasi menyebar ke Jepang. Kata ‘zen’ yang kita kenal sekarang diduga memiliki asal muasal dan keterkaitan dengan kata Sansekerta ‘dhyana’ yang artinya meditasi.

Sebelumnya saya pikir meditasi cuma didominasi para penganut agama Hindu dan Budha, tetapi menurut catatan sejarah ternyata tradisi meditasi juga ada dalam Kristen. Dirintis Saint Anthony, tradisi meditasi Kristiani ini turut dipraktikkan Saint Francis dan yang lain. Akan tetapi, karena ada kekhawatiran bahwa ia akan menjadi objek persekusi agama, seni meditasi di lingkaran pemeluk Kristen hanya dilakukan oleh sosok-sosok bijak dalam agama tersebut dan tidak disebarluaskan sebagaimana layaknya ajaran meditasi lain.

Selama berabad-abad, para yogi terus mengembangkan meditasi hingga menjadi suatu disiplin ilmu yang maju dan sistematis dengan tujuan utama memperluas kesadaran manusia. Dalam ranah yoga, kesadaran diwajibkan untuk selalu dijaga karena tiap manusia harus menjalankan apa yang diajarkan guru secara mandiri. Ia tidak bisa serta merta mengikuti semua perkataan sang guru tanpa pernah menjajal mempraktikkannya dalam kehidupan nyata. Karenanya loyalitas buta sangat dijauhi dalam yoga. Praktik-praktik tertentu beserta manfaat yang dapat diraih digambarkan oleh guru dan tugas murid ialah mempraktikkannya sendiri dan meyakinkan dirinya mengenai keabsahan hasil eksperimen tersebut. Apakah sesuai dengan yang dikatakan guru atau tidak? Jika tidak, kenapa itu bisa terjadi? Dan jika ada yang keliru, apa yang harus diperbaiki? Dengan pendekatan berbasis pengalaman nyata itulah, seseorang dapat secara langsung mengalami suatu kondisi kesadaran yang menjadi bukti keberadaannya di alam semesta ini. Tidak perlu ada bukti lain.

MAKNA MEDITASI

Meditasi sendiri merupakan suatu kata yang sudah terlalu sering dipakai secara bebas dan kurang tepat oleh banyak orang saat ini. Itulah kenapa muncul kebingungan masif mengenai bagaimana cara yang tepat dalam berlatih meditasi. Sebagian orang menggunakan kata tersebut saat mereka merujuk pada suatu kegiatan perenungan atau berpikir secara mendalam dalam waktu yang lama. Ada juga yang memakainya untuk menyebut aktivitas melamun atau berimajinasi. Namun, sayangnya meditasi yang sejati bukanlah itu semua.

Disarikan dari “The Real Meaning of Meditation” oleh Swami Rama, meditasi dapat didefinisikan sebagai teknik yang tepat dalam mengistirahatkan pikiran dan mencapai kondisi kesadaran yang berbeda sekali dari kondisi sadar yang lumrah. Meditasi ialah alat membayangkan semua level dalam diri dan pada akhirnya menjangkau pusat kesadaran dalam diri.

Yang patut digarisbawahi ialah: Meditasi bukanlah bagian dari agama apapun. Ia merupakan sains, sehingga prosesnya mengikuti urutan dan syarat tertentu, didasari oleh sejumlah prinsip dan menghasilkan hal-hal yang dapat diverifikasi.

Dalam meditasi, batin menjadi lebih jernih, rileks dan fokus ke dalam. Saat Anda bermeditasi, kesadaran dan kewaspadaan masih ada. Bedanya, pikiran tidak lagi berkonsentrasi pada dunia luar atau kejadian di sekitar Anda. Meditasi memerlukan kemampuan untuk masuk ke dalam diri yang diam dan terfokus sehinga batin menjadi hening. Saat benak lebih tenang dan tak lagi mengganggu, saat itulah meditasi masuk ke tahapan yang lebih dalam.

MENGAPA BERMEDITASI

Dari kecil kita diajari oleh manusia di sekeliling kita mengenai cara untuk mengamati dan bereaksi pada dunia luar. Dan kita lupa bahwa kita juga perlu mengamati diri sendiri. Inilah mengapa banyak manusia belum bisa mengenali diri mereka dan lebih mudah mengenali orang lain di sekitarnya. Di kemudian hari, ketidakmampuan mengenali diri memunculkan sejumlah problem. Misalnya kegagalan dalam hubungan dengan manusia lain, kecemasan dan kekecewaan yang mendalam terhadap orang di sekitar kita.

Sangat jarang kita melatih batin ini untuk mengenali diri karena waktu kita habis untuk dunia eksternal. Kita amat hapal dengan dunia fisik yang melingkupi kita beserta manusia-manusianya namun saat kita diajak menyelami alam bawah sadar kita, kita kerap menjadi ketakutan. Alam bawah sadar ini sekian lama menjadi tanah tak bertuan yang kita telantarkan. Meditasi membantu kita untuk tidak cuma mendisiplinkan batin, baik yang sadar dan bawah sadar.

Kemudian tujuan meditasi juga bukanlah untuk menjadi orang yang lebih bijak saja, tetapi agar kita bisa menjangkau di luar pikiran sadar kita dan mengalami hal-hal yang menjadi esensi diri kita sebagai makhluk. Di sinilah terdapat kedamaian, kebahagiaan dan ketenangan yang hakiki.

Namun, masalahnya pikiran juga sangat sulit dikendalikan. Pikiran yang liar ini menjadi karang penghalang antara diri kita dan kesadaran yang hakiki tadi. Alih-alih mencapai kondisi meditatif, kita malah terjebak dalam fantasi, lamunan atau ilusi masa lalu atau masa depan.

Dan bagi manusia modern, meditasi menjadi alat praktis dalam menenangkan batin dan pikiran, untuk melepaskan diri dari bias-bias dan dapat menyaksikan dan memahami fenomena di sekitar kita secara lebih jernih, tenang dan terkendali (tidak reaktif, tidak tergesa-gesa, tidak impulsif). Kiranya ini yang amat dibutuhkan tatkala kita membaca berita-berita yang memihak, cenderung menampilkan satu sisi yang ‘menjual’, tendensius, yang mengoyak ketenangan batin, dan memunculkan emosi-emosi negatif.

BAGAIMANA BERMEDITASI

Metode meditasi ialah belajar bagaimana kita dapat tenang dan hening. Proses mencapai keheningan tersebut dimulai dari raga. Dalam tradisi yoga, murid dipandu guru untuk menjaga tubuh dalam posisi tegak saat duduk bermeditasi. Setelah merasa nyaman dalam posisi duduk ini, biasakanlah untuk duduk diam dalam waktu yang lebih lama tiap hari.

Pilihlah sebuah tempat yang tenang, nyaman dan bersih serta bersirkulasi udara baik untuk bermeditasi. Duduklah di lantai (dengan alas yang bersih dan empuk bila perlu) atau duduklah di kursi dan tegakkan punggung dan tutup mata. Kemudian fokuskan kesadaran pada semua bagian tubuh dan rasakan setiap bagian tubuh makin berat dan rileks, kecuali yang menyangga kepala, leher dan punggung. Nikmati posisi ini sejenak dengan terus melepaskan ketegangan apapun yang kita miliki baik dalam tubuh atau pikiran. Ingatlah bahwa esensi meditasi ialah melepaskan ketegangan dan pikiran yang terus sibuk. Bila sudah lebih santai dan rileks, saatnya fokuskan perhatian pada pernapasan. Perhatikan bagaimana paru-paru Anda bekerja. Bila Anda bernapas dengan dada, cobalah untuk menggunakan diafragma. Namun, bila Anda merasa kurang nyaman, tidak perlu memaksakan diri. Bernapaslah sebagaimana Anda biasa bernapas. Yang penting ialah Anda bisa lebih memusatkan perhatian pada pernapasan tanpa harus berhasrat berlebihan dalam mengendalikannya. Perhatikan bagaimana napas kita yang semula cepat dan pendek menjadi makin panjang dan rileks. Tidak perlu terburu-buru dalam bermeditasi karena tidak ada kompetisi untuk itu.

Meditasi menjadi suatu proses yang melibatkan penyerahan perhatian secara penuh dan bulat terhadap satu objek yang sudah kita pilih secara sadar. Objek ini tergantung pada selera masing-masing orang. Misalnya, napas kita sendiri, nyala lilin dalam kegelapan, ibu jari atau sebuah botol di depan mata kita. Katakanlah bahwa kita memilih napas sebagai objek pusat konsentrasi. Biarkan napas mengalir daripada sibuk mengaturnya (terutama jika Anda sudah merasa terlalu berfokus pada bagaimana menyempurnakan napas sehingga menimbulkan ketegangan baru). Bukalah diri sedemikian rupa agar Anda dan napas itu sendiri melebur jadi satu dengan harmonis. Dalam proses peleburan ini, biasanya akan ada ‘pemberontakan’ dalam pikiran. Benak kita dipenuhi dengan beragam pikiran dan gagasan yang melintas secara tidak terkendali, seperti sensasi gatal yang merengek untuk segera minta digaruk tetapi setelah digaruk, rasa gatal itu makin meluas dan menular ke bagian lain.

Di titik ini, tetaplah diam dalam hening serta amati bagaimana pikiran Anda terus berkecamuk tanpa harus terlibat secara aktif dalam meresponnya.Ibarat Anda merasakan gatal yang sudah amat sangat tetapi Anda abaikan saja. Bila Anda sudah dapat mengendalikan keinginan untuk memberikan respon atas pikiran-pikiran yang liar tadi, berarti Anda telah berada di jalur yang tepat. Dan kondisi ini bisa berfluktuasi dari waktu ke waktu. Namun, meskipun memang terjadi fluktuasi, sebaiknya jangan berhenti berlatih meditasi tiap hari apalagi saat kita sibuk dan serasa tidak ada waktu untuk itu, karena justru pada saat pikiran kita paling sibuk dan harus terus bekerja, itulah saatnya kita paling memerlukan meditasi sebelum ‘bom waktu’ meledak.

Jadi kuncinya dalam meditasi ialah Anda biarkan saja pikiran lalu lalang, tetapi kendalikanlah diri Anda untuk tidak memberikan tanggapan, penghakiman, pelabelan, kemelekatan, dan sebagainya. Contohnya,  saat kita diam dan duduk, pikiran kita akan menggelitik dan menggoda agar kita lepas dari konsentrasi:”Apakah cara napas saya sudah benar?”, “Apakah cara duduk saya sudah tegak?”, “Kapan ini akan berakhir? Saya sudah mengantuk”, “Saya lupa menelepon klien. Saya harus lakukan sekarang atau saya akan kehilangan deal ini”, “Rasanya kepala saya berat. Lebih baik rebahan saja daripada bermeditasi terlalu lama.” Semuanya itu biarkan muncul, berkeliaran dalam kepala Anda lalu berlalu. Sepanjang Anda tidak memberikan reaksi dan bisa terus fokus pada napas (atau apapun yang Anda pilih sebagai objek), Anda telah bermeditasi dengan baik. Yang patut diingat ialah pada hakikatnya, bukan pikiran-pikiran tadi yang mengganggu diri kita tapi REAKSI kita terhadap semua itulah yang membuat kita sibuk dan konsentrasi menjadi terpecah.

Analoginya yang lebih sesuai dengan dunia digital yang kita akrabi ialah bagaimana saat orang-orang yang menjadi teman kita di media sosial memasang status yang menurut kita bertentangan dengan keyakinan dan sikap kita dalam hal apapun. Semua status itu sebenarnya bukan gangguan bagi kita kalau kita bisa membiarkannya lalu begitu saja. Namun, sebagian besar orang MEMILIH BAIK SECARA SADAR ATAU TIDAK untuk merasa terganggu dengan melabeli status-status tadi sebagai ‘musuh’ yang harus diburu dan dimusnahkan, ‘argumen’ yang harus didebat, ‘kebodohan’ yang mesti dibasmi, dan ‘kekonyolan’ yang harus disebarkan dan diolok-olok. Ada yang secara impulsif dan spontan melakukannya; ada yang lebih lambat dan cenderung ikut-ikutan saja atas dasar solidaritas; ada yang secara sadar menunggangi emosi-emosi negatif tersebut untuk melancarkan taktiknya mencapai tujuan. Jadi, sebetulnya cara orang bermedia sosial bisa menampakkan juga bagaimana tingkat kejernihan dan pengendalian pikirannya yang berkaitan erat dengan meditasi.

KONSENTRASI YANG TAK TERBAGI

Sebuah pandangan yang beredar di kalangan awam bahwa meditasi ialah ‘mengosongkan pikiran’ perlu diluruskan. Sebab seperti yang sudah dijelaskan tadi, meditasi masih membolehkan pikiran terisi tetapi bedanya saat bermeditasi, semua pikiran itu dibiarkan berlalu apa adanya tanpa penghakiman sementara dalam kondisi di luar meditasi, kita bisa lebih leluasa memberikan reaksi. Jadi, ini sebenarnya adalah pengendalian dari apa yang sudah ada – dan sekali lagi – bukan pengosongan atau pemusnahan yang ada. Mirip berpuasa, hanya saja ini puasa untuk level pikiran, yang lebih berat dan rumit dari sekadar berpantang makanan dan minuman atau berkata-kata kotor.

Sehingga meditasi bisa dikatakan sederhana. Intinya ialah memberikan perhatian yang tidak terbagi pada satu hal dala  benak kita. Anda bisa memulai dengan berfokus pada napas, dan jika suatu pikiran muncul dan sadarilah pikiran itu tetapi biarkan ia berlalu begitu saja tanpa harus membenci atau menyukainya secara berlebihan. Sadarilah bahwa pikiran itu bersifat sementara dan bisa berubah seiring waktu dan banyak faktor. Bisa jadi Anda membenci X saat ini, dan saat X besok berubah, Anda juga berubah menyukainya, dan sebaliknya. Itulah kefanaan dunia. Karena itulah, sekali lagi bersikaplah terbuka terhadap segala yang ada di dunia. Bila seseorang mendasarkan kebahagiaannya berdasarkan semua hal yang temporer ini, ia akan sangat sibuk untuk memberikan reaksi pada masing-masing hal itu sampai dirinya tenggelam dalam lautan kebingungan dan lupa pada tujuan hidupnya yang sejati. Ini seperti bepergian dengan banyak barang bawaan. Makin banyak beban, makin berat seseorang rasanya dalam menjalani kehidupan. Dalam meditasi, Anda belajar melepaskan beban-beban itu agar Anda dapat menjalani kehidupan dengan lebih ringan dan lincah, tidak terseok-seok dan kehabisan tenaga sebelum mencapai garis akhir.

Meditasi pada akhirnya bukan menjadi sebuah pelarian dari dunia nyata. Akan tetapi, ia berfungsi sebagai sebuah ‘liburan’ bagi diri ini, menguatkannya untuk menemukan kedamaian yang sejatinya sudah ada dalam diri tetapi terkubur seiring dengan kesibukan sehari-hari.

Di kemudian hari, kita dapat mengamati diri sendiri dan membandingkannya sebelum dan sesudah rutin bermeditasi. Biasanya sebelumnya, mungkin kita memberikan reaksi pada pengalaman-pengalaman yang menghampiri kita dengan reaksi yang sama saat kita memikirkannya. Saat bertemu dengan orang yang kita anggap sudah menyakiti kita, kita akan menjadi marah (dan mengabaikan kemungkinan bahwa di balik itu, mungkin orang yang kita benci itu memberikan pelajaran hidup yang berharga bagi kita). Atau jika kita menyaksikan peristiwa yang tragis, kita sedih sekali (dan pada saat yang sama menutup pikiran dari sudut pandang lain bahwa tragedi memberikan ruang bagi jiwa kita untuk tumbuh dan lebih kuat). Tiba-tiba kita sadari bahwa ‘kebahagiaan’ kita  begitu ditentukan oleh dunia luar. Kita hanya menjadi makhluk penderita yang cuma bisa memberikan reaksi terhadap rangsangan/ impuls yang bertubi-tubi dari luar secara konstan sampai lupa bahwa diri kita di dalam sudah bahagia dan tenang. Tentu bukan berarti mereka yang bermeditasi akan mengalami penumpulan emosi atau menjadi zombie atau robot yang bergerak tapi tidak bisa menangis atau tertawa. Emosi-emosi manusiawi masih ada dan tentu masih ada gunanya (karena inilah yang membuat kita bisa mempertahankan diri dalam kehidupan) tetapi hendaknya kita jangan sampai terhanyut di dalam aliran derasnya. Di sini, meditasi berfungsi sebagai jangkar yang membuat kita tetap di titik semula dan juga sebagai kemudi yang mengembalikan kapal ke jalur pelayarannya yang sudah direncanakan tanpa terbawa arus laut atau tiupan angin.

Meditasi tidak cuma bisa diterapkan saat kita duduk diam. Prinsip meditasi sebetulnya lebih luas dari itu. Kita bisa menerapkannya dalam menjalani kehidupan sehari-hari kita, saat menghadapi momen-momen menentukan dan bermakna dalam perjalanan hidup kita.

Caranya?

Cukup dengan mencurahkan konsentrasi sepenuhnya pada setiap aktivitas kita yang kita lakukan (ingat bahwa inti meditasi ialah perhatian yang tidak terbagi).  Kita bisa mengamati reaksi awal kita pada sesuatu tanpa bereaksi pada reaksi tersebut. Saya ibaratkan hal ini dengan mengamati diri Anda sendiri dari luar (seolah Anda seorang yang sedang mati suri dan roh Anda sudah melayang ke luar dari tubuh tetapi Anda masih hidup dan bisa melakukan apapun yang Anda mau). ‘Roh’ ini akan mengamati diri Anda yang biasanya reaktif, impulsif, bertindak tanpa berpikir dan kembali lagi dalam pikiran Anda untuk melaporkan,”Oh, lihat bagaimana kamu merasa terhina atau tersinggung saat si X mengatakan ini.” Inilah kenapa orang-orang yang bermeditasi tampak lebih tenang dan stabil emosinya dalam hidup karena mereka sibuk mengamati dirinya sendiri dalam memberikan reaksi pada dunia eksternal daripada mengamati dunia luar dan memberikan respon secara terus-menerus.

Karenanya, dapat dikatakan  meditasi memberikan peluang untuk penyembuhan bagi jiwa-jiwa yang sakit. Meditasi yang terapeutik ini tidak hanya membimbing pelakunya menuju keseimbangan dan stabilitas dalam diri (Self), tetapi juga membuat pelakunya mampu mengakses pribadinya sendiri, tindak-tanduk dan sikap yang kurang baik dan kurang dewasanya, kebiasaan-kebiasaan dan kecenderungan yang mengakar dan sulit diubah seperti kerak di dasar panci yang semakin lama dibiarkan semakin sulit dibersihkan. Alih-alih terus menerus terjebak dalam pola pikiran dan kebiasaan lama yang kurang baik, meditasi membawa kita ke gerbang perubahan seiring dengan makin meningkatnya kesadaran kita dalam menjalani hidup dan memberikan konsentrasi penuh dalam tiap detiknya. Hanya dengan demikian, hidup yang jernih akan teraih.

MENGINTEGRASIKAN DALAM KESEHARIAN

Tidak semua orang beruntung bisa bermeditasi setiap hari di bawah bimbingan seorang guru meditasi yang siap memandu kapanpun dan di manapun diperlukan. Kecuali mereka tinggal dalam sebuah asrama (ashram) di India yang dikelola secara ketat dan berlokasi di lingkungan yang tenang, aman dan nyaman. Ini semua merupakan ilusi atau impian dan ‘kemewahan’ yang tidak terjangkau bagi kita yang tinggal di perkotaan atau di tengah peradaban yang makin hiruk pikuk.

Jadi, bagaimana kita bisa menjadikan meditasi sebagai bagian dari keseharian?

Izinkan saya mengutip saran dari Mingyur Rinpoche. Ia mengibaratkan kecenderungan banyak orang untuk membiasakan meditasi sebagai cara seekor sapi kencing. Dari aliran yang kecil dan lambat dan lama-lama membesar dan deras lalu tiba-tiba berhenti sama sekali. Jadi, orang biasanya akan berlatih secara ambisius dan bersemangat pada awal-awalnya lalu menikmati puncaknya. Namun, begitu mulai bosan dan merasa bahwa meditasi menjadi semacam kewajiban, mereka mengendurkan diri. Dan akhirnya sama sekali melepaskan kebiasaan itu karena berbagai sebab dan alasan.

Rinpoche menyarankan agar kita berlatih meditasi secara bertahap dan sabar. “Sedikit demi sedikit,” ujarnya.

Alih-alih kencing sapi, kita lebih baik memiliki kebiasaan meditasi yang mirip tetesan air dari ember. Setitik demi setitik. Kecil tetapi terus menerus. Tapi terus menerus dan konsisten. Dan akhirnya bisa melubangi sebuah batu yang sekeras apapun.

Ada dua jenis latihan menurut Ringpoche yang bisa diterapkan dalam keseharian kita: meditasi formal dan informal. Meditasi formal ialah meluangkan waktu (durasi waktu terserah kita sendiri, asal setia pada komitmen tersebut) untuk duduk bermeditasi di jam tertentu.

Untuk meditasi informal, Anda bisa memakai banyak metode. “Karena Anda bisa bermeditasi kapanpun dan di manapun,” tandasnya.

Dan pesannya yang tidak kalah penting ialah: melepaskan ekspektasi. Daripada mencanangkan sebuah tujuan (“Meditasiku harus menyenangkan”, misalnya), Anda bisa berfokus pada keteguhan niat untuk melakukan meditasi sebaik yang Anda bisa tanpa berharap muluk-muluk dan membiarkan perjalanan meditasi Anda mengalir alami.

MERASAKAN PERBAIKAN

Mengukur kemajuan kita dalam berlatih meditasi sangat sulit karena aspeknya yang non-fisik. Dan sebagaimana dalam latihan asana, kita akan juga dihadapkan dalam kompetisi (ya, ada kompetisi juga dalam meditasi) yang kita bisa temukan dalam pembicaraan-pembicaraan soal pengalaman meditasi. Bukan berarti seminar atau diskusi soal meditasi buruk tetapi di dalamnya terdapat ‘jebakan-jebakan’ yang amat halus bagi para pelakunya untuk memamerkan ‘prestasi’ meditasi mereka. Saat Anda mendengar pengalaman meditasi orang lain yang berbeda dan menurut Anda lebih ‘tercerahkan’, Anda mungkin akan merasa sedih atau kecewa karena Anda tidak kunjung ke tahap tersebut. Yang lebih buruk lagi ialah jika berbicara tentang meditasi membuat Anda menjadi berbohong dan tidak nyaman dengan diri sendiri. Misalnya karena Anda ingin membuat orang lain terkesan, Anda akan mengarang pengalaman meditasi Anda. Jadi, jujurlah pada orang lain dan terutama diri Anda sendiri.  Abaikan opini orang lain atau pengalaman orang lain dalam perjalanan meditasi mereka. Perjalanan Anda adalah milik Anda. Tetaplah dalam jalur Anda tanpa merasa iri atau dengki pada yang lain. Dan sekali lagi, ini merupakan tantangan yang sangat abstrak dan memerlukan kepekaan spiritual yang tinggi.

Namun, untuk mengukur kemajuan itu secara lebih pasti, kita bisa mengamati perubahan-perubahan dalam aspek kehidupan kita. Apakah badan kita merasa lebih rileks usai meditasi? Apakah emosi kita lebih terkendali sehabis meditasi? Itu hanya beberapa indikator yang konkret. Seiring berjalannya waktu dan makin sering bermeditasi, kita akan menemukan perubahan-perubahan lain yang lebih halus dan abstrak.  Kadang perubahan itu begitu halus hingga kita sendiri tidak menyadarinya dan hanya orang lain yang bisa merasakannya. Tetapi sekali lagi, konsistenlah dalam berlatih dan rasakan kebahagiaan dalam tiap detik hidup kita sekarang dan di sini. (*)

Meditasi Basa-basi

(Sumber foto: Wikimedia Commons)

Ting! Layar gawainya menyala tiba-tiba. Azwar membuka pesan baru di WhatsApp. Tampaknya pesan itu dari nama yang belum tercatat di dalam kontak ponsel pintarnya. Ia menerka dari foto profil sang pengirim. Foto tak menjawab pertanyaan Azwar karena si pemilik nomor memasang foto tanda sakral Om. “Siapa lagi ini?” batinnya. Ia tidak merasa memberikan nomor ke sembarang orang yang tidak ia kenal dengan baik jadi bagaimana orang ini mendapatkannya dan yang terpenting siapa dia?

Segera ia baca dengan sedikit tergesa karena mesti mengejar bus Trans Jakarta jurusan Dukuh Atas. Begini bunyi pesan itu: “Hai Azwar. Apa kabar? Aku dapat nomormu ini dari Robby, temanmu. Kita bertemu di kelas yoga pekan lalu di Eco Yoga di Ancol. Kau masih ingat kan? Aku ada informasi workshop meditasi. Tanggal 16 April nanti, hari Minggu, jam 6. Kata Robby, kau berminat belajar meditasi jadi kupikir kau akan suka. RUSLI.”

Sialan si Robby, umpat Azwar. Berani-beraninya dia memberikan nomorku ke orang asing seperti ini. Saat Azwar hendak mengetik umpatan dalam benaknya dalam jendela percakapan di ponsel, sebaris kalimat tanya muncul menyita perhatian.

Rupanya dari Robby. Rupanya ia sudah menunggu dengan tekun hingga pesannya terbaca oleh si penerima. Begitu dua tanda centang biru itu muncul dan tulisan ONLINE tertera, seketika ia ketikkan pesan lagi pada Azwar. Ketiknya,”Tempatnya di Balai Kartini. Gurunya Sogyal Rinpoche yang terkenal itu. Dia dari Tibet. Kalau kita booking sekarang masih lebih murah. Nanti H-7 sudah naik banyak.”

Azwar dengan santai mengetik jawabannya sembari sesekali menoleh ke kanan kiri. Ternyata bus TJ keparat itu belum sampai ke halte ini juga, batinnya.
“Baiklah, memang berapa tiketnya?” ia mengetuk tombol ‘kirim’.

Sejurus kemudian Rusli mengirimkan jawaban. “Waktunya 3 jam penuh. Biayanya cuma Rp3 juta, bro.”

Azwar mengernyit. Ia tidak suka dipanggil “bro”, apalagi oleh orang yang belum begitu ia kenal seperti Rusli. Ia baru sekali bertemu Rusli dan itupun secara sekilas di sebuah kelas yoga tempo hari. Sehubungan dengan pertemanan, Azwar memang pribadi yang cukup pemilih.

Ia tidak begitu suka gaya Rusli. Dari pengamatannya, Rusli yang berambut gondrong dan tidak tersisir itu membuatnya cukup mual. Apa pasal? Pakaiannya kerap terlihat kumal dan bau badannya lumayan memicu rasa mual. Apalagi setelah kelas yoga yang membuat kelenjar keringat bekerja sangat giat.

Azwar berkata pada diri sendiri,” Acara meditasi sesingkat itu biayanya 3 juta?! Gila saja.”

“Mahal juga ya…” jawab Azwar lagi. Ia mengharap sinyal penampikan itu tertangkap oleh si penerima pesan.

“Tapi kita bisa dapat diskon 50% jika mendaftar berdua sekarang juga. Hari ini.”

Azwar menetralkan mukanya. Kalau Rp1,5 juta mungkin ia bisa mempertimbangkan. Toh ini lokakarya meditasi yang menghadirkan praktisi meditasi terkenal dari mancanegara. Wajarlah kalau biayanya mahal. 

Sedetik dua detik kemudian, sebuah file foto tertampil di layar percakapan. Tertera di situ sebuah pengumuman lokakarya meditasi dengan kalimat persuasif begini: 

“A MEDITATION WORKSHOP YOU’LL REGRET TO MISS

WITH SOGYAL RINPOCHE FROM TIBET

FEEL THE TRUEST MEDITATION EXPERIENCE…”

Sebagai latar belakang, tertampil foto seorang pria berkulit kuning dan bermata sipit, berkepala plontos.

Aneh sekali, gumam Azwar lagi. Di situ tidak ia jumpai keterangan biaya atau harga tiket masuk.

“Ini kok tidak ada harganya ya?” tanya Azwar. 

“Iya. Harganya baru diberitahukan jika menelepon ke nomor itu,” jawab Rusli dari ujung sana.

Karena Robby sudah menjerumuskannya untuk bertemu dengan orang itu dan masuk dalam lokakarya meditasi ini, akhirnya Azwar mendapatkan sebuah ide pembalasan. 

“Bagaimana kalau Robby sekalian saja diajak bareng ke sana?” Azwar melontarkan gagasannya.

“Oh, mau ajak Robby? Oke, bisa juga kok. Nanti aku daftarkan. Aku biasa ikut acara begini dan sudah kenal dengan panitia acaranya.”

Azwar mengangguk perlahan-lahan. Jadi, Rusli itu biasa meditasi. Pantas ia mirip pertapa begitu. Penampilannya agak tak terurus. 

Sebelum Azwar merespon, Rusli sudah menimpali lagi,”Kalau Robby ikut juga, tiket masuknya jadi cuma Rp1,25 juta, bro.”

“Oh ya?” tanya Azwar tidak percaya. “Okelah kalau begitu aku akan ajak dia secepatnya.”

“Hari ini ya, bro. Jangan terlalu lama.”

Bus Trans Jakarta itu datang juga. Azwar mengetik, “OK.” 

Sekejap ia sudah melompat, dan duduk di sebuah kursi di bus nyaman itu. Ponselnya tak ia hiraukan lagi. Ia takut jadi korban pencopet lagi jika pamer gawai di angkutan umum seperti ini.

 

***


Esok paginya, Azwar memeriksa WhatsApp. Mendadak ia ingat dengan pesan semalam. Ia terlalu sibuk menonton DVD sampai tertidur dan lupa mengirimkan biaya lokakarya meditasi ke rekening di pengumuman yang dikirimkan Rusli.

Karena merasa tidak enak, Azwar menghubungi Rusli. 

“Hai, maaf baru ingat transfer. Apa masih bisa transfer sekarang? Rp1,25 juta kan?” tanya Azwar.

Rusli segera menjawab,”Iya, jangan khawatir aku sudah bayarkan dulu, bro. Rp2,5 juta buat kamu dan Robby. Nanti transfer saja ke rekeningku di BCA 6524373649.”

“Oh sudah dibayarkan dulu? Wah jadi nggak enak nih,” alasan Azwar. Ia agak terkejut juga kenapa Azwar bisa melakukan hal itu padahal mereka belum berteman dekat. Mungkin itulah yang terjadi jika seseorang rajin bermeditasi. Mereka menjadi penuh welas asih, bahkan pada orang yang baru ditemui.

Segera ia hubungi Robby. “Hei Rob, kamu yang kasih nomerku ke Rusli ya? Sekarang kamu juga harus ikut lokakarya meditasi ini, kunyuk!” Ia ketuk tanda ‘kirim’.

Beberapa menit berlalu. Balasan dari Robby sampai juga. “Iya aku kasih ke dia. Kenapa? Kan orangnya juga baik sih. Jangan su’udzon dulu, War.”

“Ah sudahlah. Sekarang kamu juga mesti bayar Rp1,25 juga buat ikut acara itu. Aku mau transfer uang itu ke Rusli. Dia sudah bayarkan dulu untuk kita karena kemarin harusnya kalau kita bayar, kita dapat diskon lumayan,” tukas Azwar sedikit jengkel.

“Oke oke. Tapi mahal banget sih, War. Acara gitu doang juga,” timpal Robby.

“Tapi tahu gak itu harga awalnya malah Rp3 juta, cong!” 

“Hah masak 3 juta sih??!!” tukas Robby tak percaya.

“Iye, udah deh kamu cepetan transfer ke Rusli daripada kita malu,” ketik Azwar lagi.

Ia ke ATM terdekat di sebuah gerai minimarket dan mengirimkan uang itu ke rekening Rusli. 

 

***

 

Hari itu datang juga. Lokakarya meditasi akan berlangsung dalam beberapa menit lagi. 

Dari seberang jalan, Azwar dan Robby tampak panik. Mereka hampir terlambat. 

Mereka sempat menghubungi Rusli di WhatsApp tetapi belum ada jawaban. Pikir keduanya, Rusli tengah asyik menyiapkan diri untuk ke acara besar itu.

Sebuah gedung berdiri megah di hadapan mereka. Tak punya waktu untuk mengagumi kekokohan dan arsitektur gedung kuno itu, mereka masuk saja ke dalam, merapal doa agar masih bisa diperbolehkan masuk. 

“Gara-gara kamu mules pagi-pagi sih, kita jadi telat…,” Robby berbisik mengkritik.

“Siapa yang mau juga mencret kayak gitu, Rob! Sepertinya aku salah makan tadi malam,” Azwar memegang perutnya dengan sedikit meringis.

Mereka ke meja pendaftaran dan seorang gadis mempersilakan masuk. Tidak ada pemeriksaan tiket. Gadis itu cuma menunjukkan mereka jalan masuk ke auditorium yang sudah dipenuhi orang. Sebuah tulisan besar terpampang, bunyinya:”MEDITASI BERSAMA SOGYAL RINPOCHE”. 

Azwar sejenak bertanya dalam hatinya,”Judul acaranya sedikit lain dari poster digital yang dikirimkan Rusli padaku. Ah, mungkin itu hanya perasaanku.” Ia usir pemikiran itu dan berfokus pada apa yang ia harus lakukan: mengikuti lokakarya meditasi ini dengan khusyuk.

Kata Rusli tempo hari, mereka hanya cukup menunjukkan bukti pembayaran. Tapi gadis ini sama sekali tidak menunjukkan keinginan memastikan mereka pengunjung gelap. Aneh. Karena acara hampir dimulai, keduanya segera duduk tanpa banyak protes. Tempat duduk mereka kurang strategis. Di sudut yang agak gelap dan di barisan paling belakang. Sial sekali.

Lokakarya dimulai. Semua peserta sudah berdiam diri, bersiap menyambut sang pembicara Rinpoche yang termasyhur sebagaimana dikatakan Rusli pada keduanya. Ini kali pertama Azwar dan Robby menghadiri acara meditasi semacam ini. Dan pikiran mereka bercampur aduk, dari cemas sampai antusias. Cemas karena tidak tahu apa yang mesti dilakukan, Antusias karena tahu mereka akan belajar banyak hal berharga bagi diri mereka.

Mereka duduk di bantal meditasi tebal. Siapa saja tak diperbolehkan menghidupkan gawai di dalam auditorium dan suasana remang meraja di dalamnya. Membuat keduanya langsung merasa terbuai kantuk. Ditambah lagi dengan kondisi udara dalam ruangan yang makin sejuk.

Lampu menyorot ke sebuah panggung di depan. Pria itu duduk diam tanpa suara. Hanya beralaskan bantal tipis, ia tangkupkan kedua telapak tangannya di kedua kakinya yang terlipat. Azwar mengenali laki-laki itu sebagai Rinpoche yang tersohor ke mana-mana, yang selalu dielu-elukan Rusli. “Hei, tapi di mana Rusli? Aku tak bisa menemukannya…,” pikiran itu melintas dalam benaknya namun ia cepat singkirkan karena ia hendak berkonsentrasi pada meditasi.

Tetap tidak ada suara. Suasana hening sekali. Dan semua orang di dalam auditorium tampak bergeming. Akhirnya Azwar memejamkan matanya juga, mengikuti semua orang yang melakukan hal yang sama di sekitarnya. 

“Heh…,” bisik Robby menepuk lembut paha Azwar. “Apa yang kita perbuat di sini? Cuma diam saja seperti ini?”

“Iya,” tukas Azwar selirih mungkin yang ia bisa. Ia khawatir akan ditegur orang karena berisik.

Mereka pun duduk diam sampai 5 ,menit kemudian 10 menit dan 15 menit. Robby yang sudah terkantuk-kantuk akhirnya bertanya,”Sampai kapan begini?”

“Sebentar lagi,” bisik Azwar. Ia berpikir ini hanya meditasi pembuka jadi tak akan berlangsung terlalu lama. 

Memasuki menit ke 30, Azwar mulai gelisah juga. Seperti Robby, ia mulai bertanya dalam hati, sampai kapan duduk diam ini akan berakhir? Ia datang untuk belajar meditasi, bukan duduk diam. Kalau duduk diam saja, ia bisa melakukannya sendirian di rumah.

Musik berupa tetabuhan bambu terdengar mengalun pelan dan lirih tetapi itu malah makin meninabobokkan Azwar. Robby sendiri sudah dari awal berjuang menyingkirkan kantuknya. Beberapa menit kemudian Azwar mendengar dengkuran halus di sebelahnya. Dalam keremangan ia lihat Robby duduk bersandar dan kepalanya tergolek lemah ke samping.

“Dasar pelor,” ejek Azwar dalam hati. Ia pejamkan matanya lagi. Sebenarnyaia juga ingin menidurkan dirinya saja tetapi ada semacam gengsi dalam dirinya. 

“Sebentar lagi pasti Rinpoche akan berbicara sesuatu,” gumamnya.

Satu jam berlalu. Robby yang sudah bangun lagi menepuk halus paha Azwar yang sudah kesemutan parah. “Belum juga?” bisiknya.

“Lum,” jawabnya sependek mungkin. Azwar mulai merasa bosan juga. 

Dua jam berlalu dan tidak tampak adanya tanda-tanda Rinpoche akan berbicara jua. “Ada apa ini? Acara macam apa ini? Katanya lokakarya meditasi, kok cuma duduk duduk begini?” Azwar mulai kebosanan juga.

Sesekali ia mendengar orang terbatuk, bergerak membetulkan duduknya, atau memutar bahu yang pegal. Mereka sekadar ingin bergerak agar peredaran darah lancar kembali.

Hampir tiga jam berlalu, dan belum ada tanda-tanda Rinpoche akan membuka mulut dan memberikan pada kami petunjuk mengenai bagaimana melakukan meditasi dengan baik dan benar. 

Kesabaran Azwar hampir habis juga. “Masak tiga jam dan bayar satu juta lebih cuma untuk duduk duduk begini?”

Beberapa menit kemudian sebuah lampu menyorot ke depan. Rinpoche membuka matanya. Ia berdiri, tersenyum simpul, dan beringsut ke belakang panggung. Kakinya yang telanjang membuat suara berdecit halus di panggung yang alasnya terbuat dari kayu. Benar-benar sepi, bahkan saat sang bintang keluar panggung, hadirin tidak bertepuk tangan. 

Seorang gadis berambut panjang, berkacamata dan berdandanan sederhana tampil di depan, mengisi kekosongan panggung akibat kepergian sang meditator. Ucapnya santun,”Demikian meditasi bersama Rinpoche kali ini. Semoga bapak dan ibu dapat merasakan energi positif dalam ruangan ini. Sampai berjumpa kembali di sesi meditasi bersama Rinpoche tahun depan. Ajak keluarga dan teman menghadiri acara gratis ini.”

Gratis?! Azwar tersentak. Seketika Robby menoleh pada Azwar. “Jadi? Si Rusli…??!”

Penuh amarah, mereka berdua berlari meninggalkan ruangan meditasi itu dan menuju pintu depan. (*)

Meditasi Bergerak di Gunung Salak

Screen Shot 2016-08-12 at 17.50.36“Ini sebuah kesalahan besar!!!” rutuk saya dalam benak saat kedua kaki saya mulai pegal dan napas tersengal. Saya kerepotan mengatur keseimbangan. Lumpur ada di mana-mana. Air juga. Saya suka airnya. Jernih dan murni. Tapi saya tak peduli ‎karena bagaimanapun saya ingin sepatu kesayangan saya tetap kering dan bersih hingga akhir nanti. Masalahnya, sepertinya itu mustahil karena di depan sana, di medan yang saya tak tahu berapa kilometer persisnya pasti akan ada lebih banyak lagi lumpur semacam ini.
Kaki saya terus mengerang manja seperti anak kecil. Mau istirahat. Mau berhenti saja. Ini semua untuk apa? Mungkin begitu rajuknya. Tapi hanya dengan begini kau akan lebih kuat, kata sebuah suara entah dari mana dalam kepala.
Setelah beberapa lama saya menyadari bahwa saya bahkan belum menyelesaikan setengah perjalanan (7,5 km) dalam jungle marathon ini, semua kemarahan dalam diri saya tadi menyurut tanpa harus saya suruh. Karena apa? Sederhana saja, marah itu melelahkan. Dan lagipula saya tidak jelas marah pada siapa dan apa. Apakah saya marah pada sahabat saya yang mengajak mengikuti lari lintas alam dengan medan menanjak di ketinggian Gunung Salak yang ternyata masih aktif ini? Tentu saya tidak bisa, karena pada akhirnya saya juga yang menyetujui keikutsertaan diri saya sendiri, dia hanya pemberi saran. Saya bisa saja menolaknya. Jadi ini bukan salahnya. Salah batu-batu, lumpur dan air itu? Tentu tidak. Mereka semua sudah ada di sini bahkan sebelum saya. Kalaupun ada yang harus menyingkir, itu saya. Bukan mereka. Jelas sudah saya yang menjadi biang keladi kemarahan saya sendiri.
Di rute awal, saya memulai dengan ego membuncah. Ini tidak akan sesulit yang dibayangkan, batin saya. ‎Saya salah. Saya sempat percaya diri di beberapa kilometer awal. Saya saksikan kawan saya tertatih-tatih membawa cangkir minumnya lalu saya ucapkan ejekan,”Ayo! Kamu lambat!” Rasanya sungguh jumawa. Saya – seperti manusia pada umumnya – suka dengan sensasi kemenangan ini. Tiada yang bisa menandingi. Tapi perjalanan bahkan baru saja dimulai. “Karma!” cetus kawan saya itu terengah-engah. Ia sudah tampak tersiksa setengah mati dan saya tak bisa menunggunya. Saya putuskan melesat ke depan menyelesaikan pacuan ini sesegera mungkin. Sejam? Dua jam? Paling selama itu.
Saat medan lari makin menanjak, pelari-pelari yang tadinya bergerombol makin tercerai berai. Ada yang berlari santai menghemat tenaga di akhir rute, ada yang berlari kencang karena terobsesi mencengkeram tropi. Yang lain berjalan santai karena tidak punya beban. Mereka cuma mau habiskan akhir pekan dengan berwisata di luar ruangan. Tidak muluk-muluk dengan mencapai urutan ketiga teratas. Saya bukan termasuk dalam semua jenis pelari itu. Saya hanya ingin mencoba kemampuan lari saya di sini. “‎There’s nothing to lose but I will still try my best!” gumam saya.
Namun, saya perlahan berubah pikiran. Setelah medan makin sulit didaki karena kemiringan dan ketinggiannya yang di luar kewajaran, ego saya terluka. Ternyata saya tak bisa secepat yang saya duga. Untuk menyelesaikan rute 15 km ini saya rasanya sudah tidak sanggup. Tapi saya tak bisa berhenti.
Di saat saya hendak menjadi ‘gila’ karena ingin menyerah secepatnya itu, saya mencoba melambatkan langkah saya dan merenungi. Lari ini mirip hidup sebenarnya. Di saat masih belia, kita pikir hidup akan indah saja. Begitu masuk remaja, kita mulai memikirkan idealisme kita. Menjelang masa dewasa, kita bersiap dengan cita-cita penaklukan. Dan di tengah masa dewasa, kita mulai menelan pil pahit kehidupan sebutir demi sebutir, sebab tahu akhirnya kenyataan tidak seindah dan semulus harapan. Lalu mencapai kematangan dan menyadari bahwa pil pahit itu perlu juga ditelan dan tidak perlu ditolak sekuat tenaga karena sebuah keniscayaan yang pasti ditemui dalam hidup lalu mencapai kesadaran bahwa kepahitan sama saja dengan kebahagiaan. Keduanya sama-sama memperkaya pengalaman kehidupan, membentuk seorang manusia menjadi sebuah pribadi yang utuh dan penuh.
Pengalaman kontemplatif ini makin saya nikmati begitu saya sudah melepaskan ego dan kemarahan serta mulai menemukan irama dan menikmati perjalanan. Selangkah demi selangkah, saya mendekat ke garis finish.
Rute yang harus saya tempuh dalam jungle marathon di Gunung Salak di Sabtu  pagi itu memang cukup berat bagi pemula. Bayangkan, saya yang tak pernah ikut lomba lari semacam ini (bahkan ikut lomba lari di medan datar pun saya tak pernah) harus menempuh jarak 15 km yang terbagi dua yakni jarak pergi pulang yang masing-masing 7,5 km. Medannya menantang, makin lama makin menanjak dan terjal. Jangan bayangkan aspal, paving atau batubata apalagi permukaan bersemen yang mulus itu karena hanya ada tanah, bebatuan padas, dan lumpur yang menyambut kaki. Tidak ada sepatu peserta yang bakal luput dari noda lumpur.
Jika di awal saya membandingkan kecepatan saya dengan orang lain, makin lama saya makin tidak peduli lagi. Tapi tentu saya tidak mau sampai jauh sekali tertinggal, karena saya sadar jika saya terjatuh atau tersesat tanpa ada teman di sekitar, saya akan mengalami kesulitan besar. Gunung ini bukan kebun mungil di belakang rumah. Luasnya seolah tak terhingga.
Di saat sulit itu saya temukan beberapa teman bercakap-cakap. Seorang pria paruh baya bernama Efendi menceritakan dirinya sudah banyak makan asam garam berlari tapi belum pernah sekalipun di medan bergunung seperti ini. Saya meracau terus, mencoba menumpahkan kekesalan dan kelelahan saya padanya. Ia hanya berdehem, menjawab seadanya. Hingga di suatu titik, ia sudah tak sanggup lagi menemani saya dan melesat melampaui posisi saya. Saya tertinggal. Ia menapaki batu-batu itu dengan gesit. Saya memacu diri dengan kecepatan maksimal saya yang tidak ada separuh miliknya.
Lalu kami bertemu lagi di satu persilangan rute dan sungai. Tiga pria di depan, termasuk dirinya, mengalami kebimbangan. Apakah akan nekat menceburkan sepatu yang kering dan nyaman itu ke dalam sungai yang dangkal atau mencari akal agar bisa melompati sungai dengan sepatu tetap kering? Saya punya taktik sendiri:saya celupkan saja sedikit ujung kaki dan sepatu untuk bertumpu di bebatuan sungai dan berjingkat-jingkat. Dengan begitu saya relatif masih kering tapi akan lebih cepat melampaui mereka.
Keseimbangan dan kekuatan kaki menjadi poin plus di sini. Sementara tubuh jangkung dan kaki jenjang tidak. Apa pasal? Karena untuk menaklukkan medan terjal, tubuh jangkung cenderung mudah limbung, dan jika limbung, risiko jatuh‎ lebih tinggi. Tubuh tinggi membuat seseorang lebih jauh dari gravitasi dan ini menjadi masalah tersendiri. Kekuatan kaki juga diuji karena saat mendaki dibutuhkan kedua kaki yang kuat untuk mengangkat dirinya sendiri dan tubuh bagian atas.
Saya terus berusaha melangkahkan kaki dan makin naik ke atas, terasa udara makin sejuk tapi kaki dan paha makin pegal karena tanjakan makin banyak. Bebatuan makin bertaburan di sepanjang rute yang hanya ditandai dengan police line di dahan-dahan dan perdu.
Gunung Bunder saya lintasi dengan tersengal. Tiba di area yang lebih tinggi lagi, saya menemui beberapa pelari yang sudah kembali dari check point di Kawah Ratu. Dua di antaranya perempuan. Rasanya saya mau tersungkur saja. Malu!
Jelang Kawah Ratu, pemandangan lebih gersang karena pepohonan tampak cokelat meranggas, dan bekas aliran lahar dingin mengalir ke bawah.
“Kamu kentut ya?!” tanya seorang bapak bernama Sony yang berlari di depan saya. Apa?! Saya kaget. Tapi saya kemudian sadar ia bercanda. Bau kentut itu hanyalah bau sulfur alias belerang.
Lumpur berwarna kuning sangat berbahaya bagi para pelari karena begitu ceroboh menapakinya, sepatu kami akan tenggelam di dalamnya. Maka saya pun menyiasati dengan memilih untuk menjejakkan kaki di atas dahan dan ranting pohon-pohon mati yang kena lahar. Karena itu, kecepatan melangkah terpaksa pun dibuat merendah.
Di sekitar Kawah Mati, saya sempatkan menikmati pemandangan. Saya berjongkok dan menikmati aliran air berbau belerang yang ternyata hangat. Tangan saya yang sebelumnya kotor, saya cuci dengan air bersih hangat tadi lalu saya sapukan tangan dan sedikit air tadi ke wajah yang kedinginan terkena udara pegunungan yang sejuk sekali. Kalau saya punya lebih banyak waktu, saya bisa seharian istirahat di sini, memandangi langit yang sedikit mendung sambil berbaring di tanah tanpa peduli kotor atau tidak. Tapi saya harus bergegas karena saya tidak bisa menebak cuaca dalam beberapa jam ke depan. Saat itulah saya memutuskan untuk segera melangkah lagi. Setidaknya saya bisa membuang beberapa menit waktu di sana.
Di tengah jalan saat saya sudah berada di water station yang menjadi penanda setengah rute yang harus dilalui, awalnya saya merasa bodoh karena tidak membawa sebuah kamera atau gawai pengabadi gambar. “Bagaimana kalau saya tersesat? Bukankah lebih baik jika saya membawa alat komunikasi?” kata sebuah suara dalam tempurung kepala saya. Tapi kemudian saya sadari sinyal seluler di sini, kalaupun ada juga tidak stabil sehingga kemudian saya bersyukur karena tanpa membawa gawai saya merasa lebih bebas dan lincah dalam bergerak. Saya tak perlu memikirkan kecemasan jika saya terpeleset dan tercebur ke sungai lalu gawai itu akan rusak dan kemasukan air sampai berhenti bekerja seperti biasa.
Kembali ke bawah, lutut saya harus bekerja keras menopang tubuh dan di sinilah saya bersyukur memiliki bobot tubuh yang tidak seberapa. Itulah kenapa lari di sini bukan semata unjuk kekuatan tetapi juga efisiensi. Percuma tinggi dan besar jika tidak bisa menyiasati medan yang berbukit-bukit. Tubuh yang terlalu tinggi dan kaki jenjang tidak sellau menjadi kelebihan pelari. Di daerah gunung, terlalu jangkung bisa menjadi masalah karena itu artinya akan lebih sulit mengendalikan tubuh agar tidak terjatuh. Saya megetahui itu dari seorang pelari Kaukasia yang pulang dengan mobil yang sama.
Saya juga menyadari manfaat yoga dalam lari lintas alam ini. Saya merasa pose-pose yang melatih keseimbangan seperti warrior 3 (virabhadrasana 3), pose pohon dan sejenisnya sangat berguna mengasah kemampuan saya menelusuri rute yang tidak rata, penuh batu, licin dan basah. Bahkan tanpa berhenti saya bisa terus melaju mendaki di atas batu-batu pijakan yang sangat kecil.
Pilihan sepatu juga sangat berkontribusi di sini ternyata. Tak perlu sepatu mahal, asal bisa membuat Anda melangkah dengan nyaman dan terlindung dari batu-batu yang berpotensi melukai telapak kaki, sudah cukup.
Saya sepakat jika ada yang mengatakan lari merupakan meditasi bergerak. Seperti yang seorang teman yoga katakan pada saya di suatu sore, atasannya menemukan bahwa setelah lari, ia merasakan pikirannya lebih terbuka dan jernih sehingga lebih siap dalam membuat keputusan-keputusan penting.
Saat kelelahan di atas sana siang tadi, terlintas dalam pikiran untuk tidak akan pernah lagi berlari begini. Namun, dalam mobil menuju Jakarta di tengah terpaan cuaca hujan petang itu, saya berpikir saya akan mencobanya lagi. Lain kali tapi. Karena untuk sekarang kaki saya seolah mau rontok.

Penelitian Ini Buktikan Kenapa Pria Cenderung Hindari Yoga dan Meditasi

Bagi sebagian pria, menyelami pikiran dan diri sendiri jauh lebih menantang daripada menjalani siksaan fisik. (Sumber: Wikimedia Commons)

Seorang perempuan menggelar mat yoganya di lantai rumah. Guru yoga mereka sudah duduk di depan. Sejurus kemudian seorang pria datang melintas, tampak sibuk membenahi hal-hal yang sebetulnya tidak begitu perlu dibenahi. Terkesan sekali ia menyibukkan diri. Benar saja, beberapa detik kemudian perempuan yang ternyata istrinya itu mengajaknya duduk beryoga. “Sebentar, masih sibuk nih,” kilah si suami. Sang istri menunggu hingga kesibukannya usai. Begitu usai, sang suami dibujuk lagi untuk ‘melantai’. Kali ini jawabnya,”Aku mau nemenin (nama anak mereka).” Akhirnya kelas yoga kami berjalan hingga tuntas tanpa kehadiran sang suami yang memang tidak ingin mengikuti kelas dari awal.

Kondisi semacam itu juga yang bisa dijumpai di lapangan, tidak cuma di lingkungan rumah pasangan tadi. Saya kerap menemukan para pria — entah suami atau pacar — yang duduk di pinggir kelas, menghabiskan waktu mereka untuk duduk santai, mendengarkan musik atau bermain games, atau memilih untuk berlari keliling taman (karena saya sering beryoga di taman umum) sementara pasangan mereka tengah khidmat di atas matras yoga. Walaupun ada beberapa suami yang ikut turun dan mengikuti yoga, tetap saja perbandingannya relatif lebih rendah dari jumlah pria yang dengan segala cara menghindari berlatih yoga.
Usut punya usut semuanya menjadi lebih terang sekarang setelah saya membaca hasil sebuah penelitian ilmiah yang dilakukan oleh sebuah tim gabungan para ilmuwan dari dua kampus kenamaan: University of Virginia dan Harvard University. Dalam simpulan studi yang diterbitkan di jurnal Science tahun 2014 itu, mereka menyatakan bahwa kaum Adam cenderung lebih memilih untuk mencari rangsangan eksternal lebih banyak dari kaum Hawa. Bahkan jika para pria dalam studi itu disuruh memilih untuk sendiri dengan pikiran mereka atau menyetrum diri mereka sendiri, 67 persen lebih memilih siksaan fisik tersebut.
Gila dan tak masuk nalar? Tidak juga. Kita perlu memahami bahwa pikiran dirancang sedemikian rupa untuk melibatkan diri dalam dunia ini. Sehingga saat seorang manusia berfokus pada pikirannya sendiri, konsentrasinya biasanya tetap mengarah liar ke dunia luar. Di sinilah yoga dan meditasi berperan penting untuk mengarahkan konsentrasi pikiran itu untuk masuk ke dalam Diri (Self). Sebab tanpa pelatihan meditasi atau teknik pengendalian pikiran yang masih sulit, mayoritas manusia akan lebih menyukai terlibat dalam aktivitas eksternal.
Semua peserta studi ini diajak untuk menyelami pikiran mereka — tanpa rangsangan luar apapun — dalam jangka waktu antara 6 menit hingga 15 menit. Ditemukan bahwa kebanyakan peserta merasakan periode berpikir yang hening itu tidak begitu menyenangkan, membuat pikiran mereka ‘gatal’, seakan ada yang ingin digaruk. Alih-alih lebih tenang, mereka cenderung merasa resah.
Simpulan studi ilmiah tersebut rasanya bisa sedikit memberikan titik terang mengapa kadar partisipasi kaum pria masih terbilang sedikit dalam kelas-kelas yoga. Saya telah menyinggungnya dalam beberapa kali kesempatan, bertanya mengapa hal ini bisa terjadi. Padahal jika dirunut ke masa lalu, para yogi itu kaum pria juga. Tokoh-tokoh besar perintis ajaran yoga dan meditasi itu semuanya bahkan pria. Sebut saja Patanjali, Krisnamacharya, Pattabhi Jois, Iyengar, Swami Vivekananda, dan sebagainya.
Menurut Anda sendiri, mengapa para pria menghindari yoga dan meditasi?

Pentingnya Melek Media Sosial Agar Guru Yoga Tidak ‘Sial’

Yoga instan, penuh MSG, bahan pengawet, dan pewarna artfisial. (Sumber foto: Wikimedia Commons)
Instruktur yoga di era digital juga tidak cuma makin dituntut untuk menguasai pengetahuan yoga tetapi juga perlu melek media sosial. Sebagian dari mereka mampu beradaptasi dengan kemajuan teknologi informasi ini. Yang lain tertatih bahkan terseok. (Sumber foto: Wikimedia Commons)

Sore itu di sebuah studio yoga bersama dengan beberapa teman, saya terkekeh karena melihat salah satu dari teman kami, guru yoga juga, yang tampak kebingungan. Ia memiliki iPhone baru setelah berpindah dari ponsel cerdas Android. Karena baru beberapa hari memiliki ponsel keluaran Apple itu, ia dibuat pusing bukan kepalang karena ada penyesuaian-penyesuaian cara penggunaan yang menuntutnya harus belajar banyak. Hal-hal teknis semacam trik praktis menyunting foto, aplikasi yang mampu menyunting dengan hasil lebih menawan, hingga menarik kembali otorisasi akun media sosialnya dari aplikasi ponsel sebelumnya untuk mengatasi error saat mengunggah konten ke akunnya, membuat teman saya itu pening.

Lalu saya berceletuk,”Tampaknya kita perlu mengadakan kursus SOCIAL MEDIA 101 FOR YOGA TEACHERS di studio ini kapan-kapan ya? Hahaha!” Kami tergelak. Isi kursus intensif itu, saya bayangkan dalam benak, akan mencakup cara-cara menjepret foto-foto asana yang berkualitas unggul, yang akan memukau jika dipamerkan di jejaring sosial, yang memicu banyak orang mengklik tombol like, memakai tagar (hashtag) yang mudah diingat dan tidak lupa memberikan jeda saat mengetiknya di ponsel agar tetap bisa diklik untuk pelacakan lebih lanjut dan spesifik, dan begitu seterusnya.

Pikir punya pikir, saya rasa aspek-aspek teknis itu penting tetapi masih agak dangkal. Guru yoga tak perlu seahli fotografer dalam menghiasi galeri media sosialnya. Mereka juga tidak perlu seserius sebuah korporasi dalam menyusun kalender atau agenda konten yang akan diunggah secara kaku dan sangat terstruktur. Mereka hanya perlu ketrampilan teknis yang dasar lalu lebih mendalami bagaimana menciptakan konten yang terasa lebih ‘yoga’. Maksud saya adalah bagaimana seorang guru yoga bisa mencerminkan ajaran dan nilai-nilai bajik dari yoga melalui unggahan-unggahannya di media sosial (entah itu Facebook, Twitter, Snapchat atau Instagram).  Dan yang sama pentingnya ialah bagaimana ia bisa ‘berjualan’, alias memasarkan kemampuannya dalam memberikan manfaat pada orang lain melalui pengetahuan dan pengalaman yoganya, melalui cara yang lebih etis dan halus. Tentu saja menempuh cara-cara yang cenderung bersifat menyampah atau spammy akan membuat citra sebagai guru yoga ternoda. Pendekatan soft selling yang lebih personal dan humanis akan lebih sesuai. Caranya dengan tidak membombardir orang melalui tagging massal (Anda pasti tahu betapa menjengkelkannya itu). Mengedepankan pemberian manfaat dalam ‘menjual’ akan lebih efektif dan mengena daripada sekadar berpromosi membabi buta.

Akun-akun media sosial guru yoga hendaknya tidak hanya mengumbar foto-foto yoga asana yang menantang dan kurang masuk akal bagi mayoritas manusia. Kita tahu banyak bertebaran akun-akun semacam ini. Bukannya tidak diperbolehkan, tetapi kadang bagi para pengamat atau peminat yoga yang ingin mencoba, mereka bisa terintimidasi (Bisa saya katakan ini juga catatan bagi diri saya sendiri!).

Dalam akun media sosial, seorang guru yoga juga sebaiknya tidak menceritakan terlalu banyak detil kehidupan pribadi seperti putus cinta atau trauma. Saya menjumpai ada akun guru yoga yang secara blak-blakan mengaku sedang patah hati lalu mengunggah fotonya dengan rambut yang terurai masai, warna fotonya secara sengaja dibuat muram. Entah pendapat Anda, namun saya lebih mengapresiasi guru yoga yang tetap jujur dengan apa yang mereka alami tanpa harus membuka detil privat itu dengan terlalu ‘boros’.

Seorang guru yoga juga sebaiknya tidak terlalu banyak berpromosi di akun media sosialnya. Mesti ada proporsi yang disepakati sebelumnya. Katakanlah, 70 persen unggahan bersifat murni yoga, lalu sisanya 30 persen bisa bersifat komersial atau advertorial. Porsinya memang bisa fleksibel sesuai kebutuhan, tetapi jangan sampai sembarangan dan membuat jenuh dan jengah para pengikut setia.

Akun media sosial juga idealnya tidak digunakan untuk mengumbar kemesraan pribadi dengan keluarga dan teman dekat. Mengapa? Karena kita tidak tahu apa yang akan dilakukan orang-orang kurang waras di luar sana setelah mengetahui wajah orang yang Anda kasihi terutama anak-anak Anda yang belum bisa menjaga diri mereka dari perbuatan-perbuatan pihak yang kurang bertanggung jawab. Tetapi sebuah akun media sosial yang dimiliki guru yoga malah memuat foto dirinya bersama sang anak, dan bahkan guru yoga itu membuatkan sebuah akun Instagram tersendiri untuknya. Bagi saya itu tindakan yang kurang bijak. Namun, tentu saja semua terpulang pada diri masing-masing.

Yang perlu dihindari juga ialah sebaiknya guru yoga tidak hanya selalu menghiasi akun media sosialnya dengan foto-foto asana yang memiliki keterangan atau caption dari kutipan orang-orang bijak yang entah itu relevan atau tidak relevan dengan foto yang ditampilkan bersamanya.

Sebuah akun media sosial guru yoga menurut hemat saya idealnya:

  1. memuat cerita-cerita bajik yang menghibur dan jujur atau menceritakan mengenai anekdot-anekdot sehari-hari, perjalanan yoga sang pemilik akun misalnya apa yang dilakukan oleh Masumi (@masumi_g) yang mengunggah fotonya sedang handstand dengan apik namun menceritakan bahwa itulah dirinya dahulu. Ia penyuka yoga yang ‘keras’ dahulu namun setelah ia melalui perjalanan uniknya sendiri, setelah mengalami perawatan medis dan penyakit Lyme (sejenis arthritis yang dipicu oleh semacam kutu), ia lebih memilih yin yoga dan mendalami meditasi. Ia mengisahkan perjalanan yoganya dengan jujur bahwa apa yang ia alami itu hanyalah sebuah perbedaan dalam mempraktikan yoga. Dan semua itu membuatnya makin baik. Akun @kinoyoga juga menarik untuk diikuti karena Kino Macgregor memiliki kemampuan menceritakan (storytelling skills) yang relatif lebih baik dari para guru yoga pada umumnya. Kalimat-kalimatnya memang lebih panjang tetapi padat berisi pesan-pesan bijak mengenai yoga dan kehidupan.
  2. memberikan informasi dan kiat agar mencapai pose tertentu dalam foto dengan lebih aman dan nyaman, seperti apa yang dilakukan oleh akun @bohemian_heart yang menjelaskan bagaimana mengesksekusi pose urdhva dhanurasana dengan bertahap.
  3. memberikan peringatan, seperti apa yang dilakukan akun @gypsetgoddess yang menceritakan bagaimana ia dulu mengejar mati-matian foto-foto bagus hanya untuk diunggah di akunnya hingga harus jatuh dari pohon dan cedera hampir fatal. Ia mengatakan bagaimana yoga di Instagram bisa menyatukan para pelakunya dari seluruh dunia tetapi juga bisa membuat orang terluka karena terobsesi pada apa yang mereka lihat di dalamnya. Pose-pose menantang dan menawan bisa membuat kita terluka dan jika cedera, semua itu tidak setara dengan deritanya.
  4. memberikan kiat modifikasi pose yoga jika diperlukan seperti yang dilakukan oleh akun @yogini_rachel. Ia memberikan penjelasan dalam gambar dengan tulisan instruksional dalam foto yang singkat tetapi jelas disertai dengan deskripsi yang lebih detil dalam caption foto. Misalnya saat kita akan melakukan sebuah pose yang final dan dimodifikasi kita bisa lakukan semuanya dengan sama baik dan amannya sesuai dengan kondisi anatomi masing-masing pelakunya.
  5. memberikan tema berbeda yang tak berhubungan dengan yoga sama sekali tetapi tetap menunjukkan kebijakan seorang pelaku yoga. Misalnya apa yang dilakukan opleh @denisepayneyoga, yang mengunggah sebuah foto kelapa muda dan mengomentari bahwa kadang ia mendapati sebuah kelapa yang begitu sempurna. Rasa airnya sempurna, bentuknya dan suhunya juga tanpa cela. Dan ia menghargai semua detil itu untuk menunjukkan rasa syukurnya pada apapun yang ia temui. Ia menghayati hidup itu sendiri melalui hal-hal remeh temeh namun bermakna jika kita mau berhenti sejenak mengamati dan menghayati.
  6. memberikan sebuah misi sosial untuk dicapai bersama-sama, seperti apa yang dilakukan oleh @brianmilleryoga yang mengajak kita lebih peduli pada kesehatan kaum Adam dalam kampanyenya yang bertajuk “Yoga Beards Unite” dengan meninggalkan pisau cukur dan memanjangkan jenggot sebagai itikad positif dalam mengumpulkan dana untuk misi sosial itu.

Bagaimana menurut Anda? Sebagai guru, apakah ada poin yang terlewatkan? Atau dari sudut pandang murid, adakah yang ingin Anda tambahkan? Silakan berikan opini di kotak komentar.

Persamaan Manfaat Menulis dan Bermeditasi

(Photo credit: Adjie Silarus)
(Photo credit: Adjie Silarus)

Pengantar: Artikel yang akan Anda nikmati ini adalah buah pikiran dari kawan saya yang sudah dikenal luas sebagai praktisi meditasi, Adjie Silarus. Jika ingin mengetahui lebih banyak mengenai Adjie, silakan kunjungi blognya di AdjieSilarus.com dan ikuti kicauannya di akun Twitter @adjiesilarus.

Salah satu kegiatan yang saya lakukan setiap hari dan mampu mengubah hidup saya lebih baik adalah menulis.
Belum lama saya jatuh cinta pada menulis, apalagi mempunyai kebiasaan menulis setiap hari. Iya, mempunyai keinginan untuk menulis sudah lama, tetapi selalu saja ada alasan untuk tidak melakukannya.

Kebiasaan menulis sudah saya kenal sejak kecil hingga remaja, melalui menulis buku harian, maupun surat cinta. Entah mengapa saya sempat meninggalkan kebiasaan ini cukup lama. Tetapi sejak mulai menulis di blog saya: AdjieSilarus.com – tahun 2013, saya membiasakan diri lagi untuk menulis. Dan mengubah hidup saya.
Seandainya saya bukan penulis buku pun, menulis setiap hari merupakan kebiasaan yang ingin saya punya, karena kebiasaan ini memberikan manfaat yang tak sedikit.
Manfaat menulis juga saya rasakan tak jauh dari manfaat bermeditasi. Karenanya, menulis dan meditasi saling mendukung. Manfaat menulis dapat membantu saya dalam berlatih meditasi, dan sebaliknya, manfaat berlatih meditasi membuat kemampuan menulis saya membaik.

Berikut manfaat-manfaat yang saya dapatkan dari menulis, dan juga saya rasa ketika saya tekun berlatih meditasi:

– Menulis dan bermeditasi membantu saya untuk berkaca pada kehidupan saya sendiri, beserta perubahan yang terjadi di dalamnya. Manfaat ini sangat berharga, karena sebelumnya saya lebih sering melakukan rutinitas sehari-hari tanpa menyadari alasan sebenarnya, atau tidak sepenuhnya tahu akibat dari perilaku tersebut pada diri saya sendiri, apalagi pada sesama.

– Menulis dan bermeditasi menjernihkan pikiran saya. Pikiran dan perasaan seringkali terasa samar-samar, larut menumpuk, di dalam perputaran kehidupan. Saya tak kenal dengan pikiran dan perasaan saya sendiri. Tetapi menulis membantu saya untuk menelaah dan mengartikan makna pikiran dan perasaan, serta meletakkannya menjadi barisan huruf dan kata yang bisa dipahami. Bermeditasi melatih saya untuk hanya menjadi pengamat pikiran dan perasaan bukan larut di dalamnya. Sehingga saya tidak kewalahan sendiri karenanya.

– Terbiasa menulis membuat saya menulis lebih baik daripada sebelumnya. Dan di era digital ini, menulis adalah kemampuan penting yang sebaiknya terus saya asah. Hanya dengan membiasakan diri berlatih meditasi, saya menjadi lebih memahami akan meditasi. Kebutuhan berlatih meditasi menjadi oase bagi saya di tengah masa digital yang begitu gaduh.

– Menulis untuk dibaca orang lain (walaupun mungkin pembacanya hanya satu orang) membantu saya untuk melihat dari sudut pandang pembaca. Itulah awal mula keajaiban terjadi. Ketika mampu memahami pikiran pembaca, saya mulai lebih bisa memahami orang lain, kawan, saudara, dan siapapun. Dengan bermeditasi, saya juga terlatih berempati dan memahami lebih luas akan kehidupan.

– Menulis untuk menyampaikan gagasan, pendapat, membantu saya belajar supaya pembaca memahami dan menyetujui tulisan saya. Banyak orang tak mau mengubah pikirannya ketika mereka merasa ada seseorang yang sedang berusaha mengubah pikirannya. Mereka akan cenderung mempertahankan diri dan bersirekeras tak mau mempelajari gagasan baru. Sedangkan bermeditasi melatih • pikiran saya agar terbuka menerima wawasan-wawasan baru.

– Menulis dan bermeditasi setiap hari memaksa saya untuk mempelajari ide-ide baru secara berkala, sehingga membuat saya harus mencari di mana saya bisa mendapatkannya. Di manakah • ide-ide baru berada? Ide ada di mana-mana. Di orang-orang yang saya ajak bicara, di rutinitas kegiatan yang saya lakukan, di artikel online yang saya baca, di majalah, film, musik, buku, dan sebagainya. Bahkan di kala duduk, diam, dalam keheningan. Hanya dengan menulis dan bermeditasi, mata saya menjadi lebih peka pada ide-ide yang ada.

 

– Tekun menulis online dan bermeditasi membantu saya berkenalan dan menambah jumlah kawan yang saya punya, kawan-kawan yang menaruh minat pada tulisan-tulisan yang saya bagikan dan yang juga menekuni meditasi. Sehingga saya pun menjadi lebih memahami cara-cara supaya saya bisa turut serta membantu mereka. Manfaat ini baik untuk siapa pun, terutama untuk yang senang jika jumlah kawannya bertambah dengan minat yang serupa.

Manfaat-manfaat ini baru sebagian, hanya sebagai permulaan.

Persamaan manfaat-manfaat yang saya dapatkan dari kebiasaan menulis dan bermeditasi inilah yang mengakibatkan bermeditasi bisa melancarkan proses kreatif saya dalam menulis. Manfaat yang sepenuhnya dari menulis setiap hari bukanlah sesuatu yang bisa saya paparkan melalui tulisan, tetapi hanya bisa dirasakan dengan melakukannya. Begitu pun dengan manfaat bermeditasi.

20 Tips Bermeditasi bagi Pemula

‎MEDITASI ialah seni memfokuskan pikiran Anda sepenuhnya pada satu hal saja (biasanya berupa napas dan tubuh kita sendiri). Praktik ini dikenal memberikan banyak manfaat, dari tingkat konsentrasi yang lebih baik, kecemasan yang menurun hingga perasaan bahagia. Dan yang patut diketahui, meditasi tidak mengarah pada satu keyakinan tertentu karena dilakukan tanpa mantra atau doa.

Meski banyak orang mencoba meditasi, hanya sedikit yang kemudian bisa melakukannya secara rutin dalam jangka panjang. Sangat disayangkan jika seseorang berhenti begitu saja. Hal itu sebagian karena banyak orang yang mulai bermeditasi dengan pemikiran yang salah.
Tujuan artikel ini ialah memberikan 20 saran untuk membantu para pemula untuk bermeditasi dengan lebih terarah dan dapat berkomitmen melakukannya dalam jangka panjang.

1. Membuatnya jadi praktik formal. Anda akan hanya membuat kemajuan dalam meditasi dengan meluangkan waktu tertentu (idealnya dua kali sehari) untuk bermeditasi.

2. Mulailah dengan bernapas. Bernapas lebih dalam dan panjang memperlambat detak jantung, merilekskan otot-otot, memfokuskan pikiran dan menjadi cara ideal untuk memulai berlatih.

3. Regangkan badan dulu. Peregangan melemaskan otot-otot dan tendon yang memungkinkan Anda untuk duduk (atau berbaring) dengan lebih nyaman. Di samping itu, peregangan dimulai dengan proses “memahami diri” dan membawa perhatian ekstra pada tubuh.

4. Meditasilah dengan sebuah tujuan. Para pemula harus paham bahwa meditasi ialah proses yang aktif. Seni memfokuskan perhatian ke satu titik sungguh bukan hal yang mudah dan Anda harus terlibat dengan penuh kesadaran.

5. Sadari rasa frustrasi dalam diri Anda. Inilah hal yang paling lazim yang dirasakan oleh pemula. Benak Anda akan bergumam,”Apa yang saya sebenarnya lakukan?” atau “Kenapa saya tetap tak bisa menenangkan pikiran?” Saat ini terjadi, fokuskan pikiran pada napas masuk dan keluar. Dengan begitu, biasanya pikiran frustrasi atau bosan bisa dikendalikan.

6. Eksperimen. Meski banyak orang berpikir meditasi yang efektif adalah duduk diam di bawah pohon rindang, pemula mestinya bereksperimen dengan berbagai posisi yang ia anggap nyaman. Bisa duduk bersila, berbaring, bahkan dengan mata terbuka, dan sebagainya.

7. Rasakan bagian-bagian tubuh. Sebuah latihan untuk pemula ialah dengan memperhatikan badan saat meditasi mulai. Setelah pikiran lebih tenang, fokuskan perhatian pada telapat kaki lalu perlahan bergerak ke atas, ke betis, paha, perut, dan seterusnya. Termasuk rasakan dengan pikiran Anda organ-organ dalam tubuh seperti usus, jantung, paru-paru, dan lain-lain. Rasakan jika ada sakit di beberapa bagian, atau jika terasa baik-baik saja semuanya, tidak ada salahnya selipkan rasa syukur pada Yang Kuasa. Rasa syukur akan membuat kita lebih bahagia dan puas.

8. Pilih ruangan yang khusus di rumah untuk bermeditasi. Pastikan ruang itu bukan ruang kerja, ruang olahraga atau ruang tidur. Mengapa? Karena ini bisa membuat Anda lebih fokus dan lepas dari beban mental aktivitas sehari-hari. Redupkan lampu dan nyalakan lilin, bisa yang jenis aromaterapi, untuk membuat syaraf pikiran lebih tenang.

9. Baca buku meditasi. Dapatkan buku meditasi yang memuat instruksi meditasi dan manfaat-manfaatnya. Ini akan memotivasi pemula.

10. Komitmenlah dalam jangka panjang. Meditasi itu praktik jangka panjang dan Anda akan menuai manfaat dengan tidak menilai pencapaian atau hasil latihan meditasi harian Anda. Tugas Anda hanyalah melakukannya dengan penuh disiplin dan komitmen tiap hari dua kali dan jangan pikirkan hasilnya. Terus saja lakukan.

11. Dengarkan rekaman instruksi atau CD bertema meditasi yang sesuai dengan selera dan kebutuhan Anda.

12. Temukan momen-momen penuh kesadaran diri (self awareness) selama Anda menjalani aktivitas harian. Rasakan napas dan menghayati masa kini dengan fokus sepenuhnya pada apa yang Anda lakukan saat Anda tidak melakukan meditasi secara formal merupakan cara yang baik untuk meningkatkan kebiasaan meditasi Anda.

13. Pastikan Anda tidak merasa terganggu. Salah satu kesalahan terbesar pemula ialah tidak memstikan kondisi bermeditasi yang damai. Jika Anda merasa terhantui oleh pekerjaan kantor, pekerjaan rumah, atau hal-hal lain akan bisa menyela meditasi Anda, akan lebih sulit untuk mencapai relaksasi yang diharapkan. Maka dari itu, meditasi idealnya dilakukan di dini hari atau pagi buta saat tak banyak gangguan terjadi. Atau bisa juga saat malam menjelang tidur, saat pikiran lebih santai.

14. Perhatikan penyesuaian kecil. Bagi pemula, gerakan fisik terkecil bisa membuat praktik meditasi menjadi lebih nyaman dan efektif. Penyesuaian ini mungkin tak terasa bagi si pengamat tetapi berdampak besar.

15. Nyalakan lilin. Meditasi dengan mata tertutup biasanya membuat pemula mengantuk dan bosan. Nyalakan lilin dan gunakan lilin sebagai titik fokus untuk memperkuat meditasi dengan bantuan objek visual.

16. Santailah saat bermeditasi. Ini kiat terpenting bagi banyak pemula dan cukup menantang untuk diterapkan. Tak peduli apa yang terjadi selama bermeditasi, santailah. Lepaskan tekanan, beban. Bebaskan pikiran dari semua itu. Sebebas mungkin. Dan yang penting, nikmati kebebasan itu.

17. Lakukan bersama-sama. Bermeditasi dengan orang terdekat bisa memberi banyak manfaat dan meningkatkan kualitas latihan. Namun, pastikan Anda dan teman meditasi memahami aturan-aturan dasarnya.

18. Meditasilah di pagi hari. Seperti telah disinggung tadi, waktu pagi sebelum banyak rutinitas adalah waktu yang dirasa lebih tepat bagi orang pada umumnya. Bangunlah lebih awal 30 menit dari sebelumnya agar bisa bermeditasi tanpa gangguan.

19. Bersyukurlah di akhir meditasi. Setelah latihan selesai, luangkan 2-3 menit untuk memberi apresiasi pada diri karena telah meluangkan waktu untuk bermeditasi dan telah berupaya untuk berlatih fokus. Ini saja sudah perjuangan tersendiri.

20. Perhatikan kapan minat bermeditasi mulai memudar. Meditasi bukan rutinitas ringan dan Anda akan sampai di satu titik saat Anda merasa latihan menjadi membosankan atau tak sesuai ekspektasi semula. Inilah saatnya Anda menemukan motivasi kembali melalui buku, teman atau mentor meditasi yang tepat.

Selamat mencoba!

(disarikan dan diadaptasi dari tulisan Todd Goldfarb)

Dikirim dari ponsel cerdas BlackBerry 10 saya dengan jaringan 3 Indonesia.

Anatomi Meditasi Vipassana

‎Meditasi telah lama diyakini baik untuk menyeimbangkan dan menenangkan pikiran. Di dalam praktik meditasi, tidak ada pemujaan relijius tertentu karena yang dilakukan (terutama yang meditasi buddhis, vippassana) adalah memperhatikan aliran napas yang masuk dan keluar.

Selain napas, pikiran juga diupayakan fokus ke waktu dan ruang saat ini. Jika masih terpaut dengan masa lalu, pikiran terbebani penyesalan. Bila meloncat ke masa depan, pikiran dimanjakan imajinasi. Menikmati kekinian itulah yang diusahakan agar dapat menyeimbangkan pikiran yang sudah terlalu sering dipenuhi sesal dan fantasi.

Apa yang dilakukan selama meditasi? Meditasi bisa berlangsung selama 3 jam. Namun jangan khawatir, Anda tidak akan dibiarkan diam dan duduk selama 3 jam tanpa jeda. Biasanya ada beberapa bagian. Pertama ada pengantar, yaitu saat sang meditator mempersilakan peserta merasakan napas dulu selama 3 menit.

Setelah itu, diberikan ceramah singkat yang menyejukkan. Kemudian ada meditasi bagian kedua selama 5 menit. Masih fokus pada napas‎. Setelah selesai, diberikan ceramah lagi. Lalu peserta dipersilakan lagi bermeditasi kurang lebih 10 menit dengan iringan musik instrumental nan lembut dan menenangkan pikiran untuk memaksimalkan sensasi bermeditasi.

Di bagian penutup, peserta dipersilakan bermeditasi selama 20 menit tanpa musik. ‎Di sesi meditasi terakhir ini, tantangan untuk fokus makin besar karena peserta akan didorong lebih keras memusatkan pikiran agar tidak terganggu distraksi eksternal lingkungan fisik maupun distraksi mental dalam bentuk imajinasi dan pikiran di masa lalu.

Inilah tantangannya. Mindfulness meditation itu seyogyanya tidak dilakukan dengan sengaja menyisihkan waktu khusus di tempat yang benar-benar tenang. Bahkan di tempat penuh hiruk pikuk dan lalu lalang orang, Anda masih harus bisa bermeditasi. Meditasilah di tengah mall, di tengah jalan raya saat hari bebas kendaraan bermotor, dan sebagainya.

Kenapa demikian? Karena kita tak pernah tahu kapan faktor pemicu stres itu akan datang. Jangan mewajibkan diri untuk meluangkan waktu khusus untuk bermeditasi di tempat yang tenang. Boleh saja bermeditasi di tempat tenang tetapi idealnya di tempat seramai apapun, Anda juga perlu melakukannya dengan tingkat konsentrasi yang relatif setara di lingkungan yang tenang.

(Sumber foto: Wikimedia)

Undangan Yoga dan Meditasi Bulan Purnama 9 Oktober 2011 (Sore Setelah dari Central Park)

Sahabat pencinta damai,

Ini adalah undangan untuk Full Moon Meditation (Meditasi Lintas Agama) terbuka bagi semua yang ingin mengupayakan damai; baik bagi diri sendiri, keluarga maupun masyarakat luas tanpa membedakan agama, golongan atau label lain.

Full Moon Meditation, bertujuan untuk terus menjaga agar kita senantiasa dalam keadaan sadar sepenuhnya, sehingga mampu membangun dan menjaga kedamaian di dalam maupun diluar diri kita dengan melakukan meditasi bersama, setiap bulan purnama.

Full Moon Meditation bulan Oktober akan diselenggarakan  pada hari Minggu, 9 Oktober 2011 jam 19.00 hingga 20.30 WIB d rumah sdr. Maman, Jalan Bangka Raya 20, Kemang, Jakarta Selatan (antara Jalan Bangka XI dan Jalan Bangka IX, deket resto D’Spice ex Pasir Putih).

Bulan ini akan ada tambahan acara Yoga Gembira (bayar sukarela), yang dipimpin oleh Yudhi Widdyantoro, dari Social Yoga Club bersama Komunitas Yoga in The Park Taman Suropati pada jam 16.00.

Meditasi ini juga dapat diikuti dari jarak jauh; yaitu dengan menyelenggarakan kegitatan ini di rumah/daerah masing-masing pada waktu yang sama. Peserta dapat memberitahukan penanggungjawab masing-masing kegiatan untuk koordinasi dan penyebarluasan berita.

Marilah kita sebarkan energi damai bagi semua. Tanpa diskriminasi.

—————————————————

Dear Peace Makers,

This is an invitation to join a non-sectarian and non-denominational Full Moon Meditation.

The Full Moon Meditation aims to maintain mindfulness, equanimity and peace within and outside each of us by meditating together on every full moon.

This month, the Meditation will be held on Sunday, October 9, 2011 at 7.00 PM to 8.30 PM at Maman’s residence, Jalan Bangka Raya 20, Kemang, Jakarta Selatan (between Jalan Bangka XI dan Jalan Bangka IX, a few doors from D’Spice restaurant ).

We have an additional program prior to the meditation: Starting at 4.00 pm, Yudhi Widdyantoro will lead a yoga session (donation) in the green garden.

You could join full moon meditation in your neighborhood, from anywhere, during every full moon.

Breathe & Smile,

 

Maman, Jeanny, Yudhi, Jo, Mariza, Rani, Debra, Agus& Liang