MOCO, Ahok dan Minat Baca Orang Indonesia di Era Digital (2 -Tamat)

Baca bagian sebelumnya (Moco, Ahok dan Minat Baca Orang Indonesia di Era Digital – 1)

Berbekal pengalaman, Lasmo dan jajarannya merombak secara radikal pendekatan mereka terhadap pasar Indonesia yang dikenal suka barang gratisan. Akhirnya mereka pun memilih untuk mendekati 98% orang Indonesia yang kurang gemar membaca daripada memfokuskan upaya mereka menggarap pasar 2% yang sangat amat sempit dan tidak menguntungkan (karena selain terlalu sedikit, orang-orang ini juga berdaya beli amat rendah).

“Kami biarkan 2% yang para pecinta buku ini mencari pengalaman sendiri. Sementara Moco menggarap 98% yang meskipun tidak begitu gemar membaca tetapi mereka ingin menampilkan diri secara intens alias ‘eksis’,” ujarnya.

Istilah ‘eksis’ ini memang berkonotasi kurang enak dalam bahasa Indonesia kontemporer. Jika seseorang dikatai ‘eksis’, besar kemungkinan ia adalah orang yang gemar menghabiskan banyak waktu berinteraksi secara aktif di media sosial dan menggunakan media sosial bagaikan panggung bagi dirinya seorang. Ia dengan percaya diri mengunggah detail-detail kehidupan pribadinya, mengeluarkan pernyataan, sikap dan emosi yang bagi orang awam terlalu pribadi dan intim. ‘Eksis’ menjadi amat dekat dengan narsisime.

Lasmo memang tahu konsekuensinya, kebiasaan membaca yang ia coba akomodasi dalam aplikasi Moco-nya hanyalah kebiasaan membaca yang palsu. Orang menjadi berlomba-lomba untuk hanya terlihat pintar dengan membaca buku dan foto dengan buku untuk kemudian dipamerkan di aplikasi Moco (sehingga diketahui teman-teman di sana) dan media sosial lainnya yang terhubung.

Namun, efek positifnya, aplikasi Moco menjadi lebih dikenal orang. Pasar menjadi makin tertarik. Persoalannya lagi-lagi hanyalah satu: keengganan untuk membayar.

Membujuk Ahok

Saat dalam titik nadhir itulah, Lasmono pun berpikir untuk menggandeng pemerintah dalam pengembangan aplikasi Moco. Tekadnya tidak tanggung-tanggung dalam memperjuangkan Moco. “Saya temui delapan menteri, mantan presiden, dan pejabat tinggi tapi tidak ada yang percaya,” kenang Lasmo.

Lasmo bahkan sempat menawarkan aplikasinya ke pemerintah negeri jiran Malaysia. Mereka berkomentar positif tetapi enggan untuk membelinya.

Akhirnya, setelah kembali terjebak dalam keputusasaan, Lasmono berhasil menemui gubernur DKI Jakarta kala itu, Basuki Tjahaja Purnama. “Akhirnya saya ketemu dengan sahabat saya yang sedang mendapat ‘musibah’, pak Ahok. Saya jelaskan 20 menit, beliau bisa jelaskan 1 jam 15 menit mengenai konsep DRM (digital rights management) yang saya sampaikan,” ujarnya.

Ahok memberikan persetujuannya. “Implementasikan di Jakarta,” ucap Lasmono meniru instruksi Ahok yang menyatakan minatnya.

Lasmo dengan muka berseri-seri menyatakan pasca pertemuan monumental dengan Ahok itu, ia pun mengubah aplikasi Moco menjadi e-Jakarta. Konsepnya mirip perpustakaan digital sehingga bentuknya kumpulan perpustakaan. Aplikasi yang hampir saja ditutup itu pun akhirnya diputuskan akan diakuisisi oleh pemerintah DKI Jakarta seharga Rp4 miliar.

Namun, Lasmo mengatakan dirinya tidak akan menjual Moco. Ia beralasan bahwa dana sebesar itu terlalu mahal untuk membeli aplikasi yang masih belum matang seperti Moco. “Tetapi untuk mengubah sebuah budaya (agar menjadi lebih suka membaca) juga terlalu kecil,” terang Lasmono menceritakan kembali percakapannya dengan Ahok.

Ahok makin ingin tahu maksud di balik ucapan Lasmo. Ia ternyata berniat menghibahkan Moco kepada pemerintah provinsi DKI Jakarta. “Aplikasi dihibahkan, pemeliharaan digratiskan, infrastruktur disiapkan,” ujar Lasmono.

Itu bukan berarti kerja keras Lasmo menjadi percuma. Ia mengajak Ahok untuk membeli buku elektronik. Inilah langkah yang ia anggap paling efektif untuk mendorong perkembangan Moco. Pemerintah memiliki dana untuk membeli buku elektronik, alias daya beli yang tidak dimiliki oleh masyarakat awam yang masih terkendala dalam banyak aspek.

“Beli buku digital kemudian sosialisasikanlah, pak,” nasihat Lasmo yang menyadari bahwa Ahok pada saat itu ialah sosok yang memiliki kemampuan yang memungkinkan agar lebih banyak masyarakat membaca buku di layar ponsel cerdas mereka.

Ternyata tidak cuma Rp4 miliar yang dikucurkan oleh Pemprov DKI Jakarta untuk membeli e-book. Ada Rp20 miliar yang digelontorkan mereka untuk membeli buku elektronik untuk melengkapi koleksi di e-Jakarta sejak tiga tahun lalu (2014).

Tren Buku Digital Produksi RI

Perjuangan Lasmo belum berakhir karena meskipun sudah ada dana yang berlimpah ruah, buku digital tidak mudah didapatkan di Indonesia. “Masalahnya, saat itu para penerbit di Indonesia belum mencantumkan hak cipta digital para penulis. Yang ada hanya buku cetak,” ungkapnya. Kentara sekali bagaimana lambannya dunia penerbitan dalam negeri dalam menanggapi tren buku elektronik. Untuk mengejar ketertinggalan yang sudah terlampau jauh ini, bangsa Indonesia seakan sudah tidak ada harapan. Sudah kurang suka membaca, daya beli buku kurang, digempur televisi dan tren gawai serta media sosial, masyarakat Indonesia terlihat memprihatinkan.

Lasmo berhasil memperoleh banyak buku elektronik dari sebuah penerbit arus utama yang menguasai pasar buku elektronik di Indonesia tetapi itupun masih menyisakan banyak dana.

Mengetahui masalah itu, Ahok menemukan solusi baru. Ia menganjurkan bahwa semua sekolah mengadopsi buku elektronik. Sekolah-sekolah di Jakarta mulai menggunakan buku teks digital, alih-alih cetak.

“Ramai sekali. Akhirnya saya datangi setiap penerbit dan mendapatkan lebih banyak dukungan soal buku digital ini. Dua tahun setelah itu saya sibuk berkeliling Indonesia untuk berbagi pengalaman soal buku digital ini. “Sekarang diimplementasikan juga di banyak daerah karena ternyata setiap kepala daerah ingin ‘eksis’ juga’.”

Tren ini menjadi berkah tersendiri bagi Anda yang ingin menekuni pasar buku digital (e-book). Ini juga menjadi berita baik bagi mereka yang sudah pesimis dengan masa depan dunia perbukuan di masa digital. Dunia perbukuan akan terus bertahan dan berkembang dengan caranya sendiri. Sekarang ini terkesan sulit dan tiada harapan karena masih dalam masa adaptasi yang menimbulkam kebingungan dalam banyak aspeknya. Guncangan-guncangan ini akan mereda begitu dunia perbukuan sudah menemukan jalur dan format yang pas. Kapan itu terjadi? Hanya waktu yang bisa menjawabnya.

Sekarang setelah banyak pemerintah daerah membuka peluang untuk membeli buku digital, tantangan berikutnya yang tak kalah besar masih menghadang di depan. Apa itu? Aturan di negara ini masih belum mengakui adanya aset digital. Sekolot dan sekuno itulah regulasi negara kita ini di abad ke-21. “Sehingga tidak ada rekening untuk buku digital. Semua anggaran dicoret di Bappenas,” keluh Lasmono sambil tersenyum kecut.

Tetapi kemudian digodoklah Undang-undang Perbukuan. “Mudah-mudahan tahun depan pasar buku digital Indonesia akan terbuka lebih lebar,” Lasmo berdoa.

Yang ia kemukakan itu baru pengalamannya dalam mendigitalkan buku cetak. Padahal ia meyakini bahwa buku harus berkembang sesuai dengan pengalaman para pembacanya. “Jadi saat saya membaca satu buku puisi Sapardi Djoko Damono misalnya, saya akan berupaya mengumpulkan buku Sapardi juga yang lainnya sedikit demi sedikit.” Artinya, para penulis di Indonesia mesti mengubah pengemasan karya mereka. Tidak dalam bundelan jilid buku tebal semata tetapi juga dalam bentuk lebih pendek yang dalam versi digital bisa dijual secara ritel/ eceran. Karya-karya pendek semacam itu kemudian akan bisa dijual pada pembaca Indonesia dengan metode potong pulsa. Seribu dua ribu tetapi kemudian bisa dikumpulkan dalam bentuk sebuah koleksi yang menarik dari penulis kesukaan. “Itulah hasil eksperimen saya dalam buku digital menurut saya,” pungkas Sulasmo Sudharno. (*)

MOCO, Ahok, dan Minat Baca Orang Indonesia di Era Digital (1)

Sulasmo Sudharno: MAsyarakat Indonesia maunya gratisa. (Dok. pribadi)

Lelaki itu duduk di belakang saya. Ia dipanggil ke depan beberapa menit kritis sebelum adzan maghrib yang kami nantikan berkumandang. Saya berhenti mencatat dan memberinya jalan. Saya tidak tahu apa yang akan ia sampaikan tetapi dari gelagat sang penyelenggara acara yang begitu antusias hingga mempersilakannya tetap berbicara di panggung meski momen kritis berbuka puasa sudah sebentar lagi, saya duga ia bukan orang yang bisa diremehkan. Dan memang benar, apa yang ia sampaikan bukan sesuatu yang normatif, membuat kami di kursi menguap dan gelisah memikirkan makanan dalam benak.

Sulasmo Sudharno, begitu namanya, adalah seorang lelaki Jawa tulen. Maksud saya, layaknya orang Jawa memberi pidato di depan publik, ia menunjukkan ‘unggah-ungguh’. Mimik dan bahasa tubuhnya yang merunduk-runduk di depan bangku yang dipenuhi para pegiat dunia susastra yang lebih senior, yang di antaranya mencakup penyair dan akademisi Sapardi Djoko Damono dan orang-orang di sekitar tokoh tersebut yang sudah menunjukkan pengalaman tinggi.

Dan untuk menunjukkan ke-Jawa-annya, tentu ia menyapa hadirin yang lebih sepuh dahulu daripada kami yang ada di kelompok bangku lain yang masih ‘hijau’. Saya selalu memandang kagum orang-orang yang bisa berbicara di depan publik dengan ketenangan dan kemurahsenyuman orang Jawa (sumeh, katanya). Karena saya sendiri Jawa tetapi sulit melakoninya. Ditambah rautnya yang bundar, membuat ia tampak seperti Semar yang bijak. Di masa tuanya saya pikir ia akan mirip menjadi karakter pewayangan satu itu. Bijak, uzur dan bernas, penuh dengan pelajaran hidup.

Tapi lain dari Semar yang mengabdi ke penguasa, Sulasmo tidak menggantungkan penghidupan ke pemerintah. Ia secara mandiri sebagai entrepreneur dan pendiri startup mencari nafkah dengan berjualan buku. Hanya saja, karena sudah era digital, ia memilih mencoba menjual buku dalam bentuk digital juga.

“Tidak laku, pak. Setahun omset kami cuma Rp800.000,” ujarnya, seolah-olah audiens di depannya hanyalah Sapardi Djoko Damono. Ada nada pilu dalam ceritanya tetapi beginilah orang Jawa, mereka sanggup bercerita kesedihan dengan suara mendayu-dayu sambil tetap menyungging senyum.

Saya mengangguk-anggukkan kepala, sepakat dengannya. Orang Indonesia mana mau merogoh uang untuk menebus biaya pembuatan konten? Gratis selamanya kalau bisa.

Itu omset tahun pertama. Bisa dimaklumi jika masih rendah. Tetapi apa daya, di tahun kedua, meski onset melonjak menjadi RpRp31 juta, tak banyak yang bisa dilakukan untuk bertahan dengan strategi yang sama: menyasar kaum pecinta buku.

Sulasmo terus mengoceh bagaimana nelangsanya menjual buku digital di aplikasi gratisan. “Sudah memakai strategi potong pulsa, tidak banyak yang mau beli buku dari kami. Padahal jumlah karyawan hampir 100 orang.”

Strategi yang sama ini saya pernah jumpai juga di Google Books. Dan belum pernah saya coba meski saya punya kemampuan membeli juga. Entah kenapa, membeli buku fisik masih terasa lebih mantap. Saya cenderung berpikir saat saya sudah berkutat dengan layar seharian dalam pekerjaan, di waktu luang saya ingin menatap benda lain saja tetapi masih tetap ingin membaca dan menikmati konten. Solusinya membeli buku kertas. Tidak bisa ditawar lagi. Mata saya lelah.

Setelah babak belur di tahun pertama dan kedua, Lasmo dan rekan-rekannya yang lain di Aksaramaya (Panya M. Siregar, Gani, dan Ardiansyah) yang mereka dirikan pada tanggal 4 Februari 2013, memutuskan menerapkan strategi lain untuk menggenjot pemasukan riil ke bisnis yang baru berkecambah itu. Mereka mencoba menangkap fenomena kegandrungan anak-anak muda pecinta sinetron “Ganteng-Ganteng Serigala” untuk dimasukkan sebagai lokomotif penarik animo membaca target konsumen.

Karena anak-anak generasi milenial ini adalah kelompok yang vokal dan memiliki luapan kreatif yang bisa disalurkan dalam bentuk tulisan (lain dengan kaum ibu yang saat menonton dan mengkritisi plot sinetron kesayangannya dengan mengomel dan berhenti di situ saja), mereka menuliskan jalan cerita sinetron GGS itu dengan plot yang mereka masing-masing kehendaki. Ini adalah penyaluran kreativitas menulis dari ketidakpuasan dengan skenario yang dibuat penulis naskah di rumah produksi mapan. Sebab mereka tak bisa memprotes, maka mereka memutuskan menulis skenario mereka sendiri. Tipikal anak muda yang pemberontak.

Tim Aksaramaya kemudian diperintahkan untuk bergerak menyisir dunia media sosial, terutama Instagram untuk mendapatkan sebanyak mungkin skenario-skenario GGS ‘tandingan’ tersebut. Dan dengan menggunakan alat tagar (hashtag) rasanya memang lebih mudah mencari unggahan yang dimaui di Instagram (Twitter terlalu pendek).

Hasilnya ada. Sebanyak 21 buku ditelurkan dari strategi ini. Aksaramaya pun turun tangan menjadi penerbit juga akhirnya untuk bisa mengakomodasi karya-karya anak muda tersebut. “Karena penerbit belum ada yang percaya dengan konsep semacam ini. Bukan tidak percaya pada teknologi tapi karena belum ada pasarnya,” terang Lasmo.

Tulisan-tulisan itu lalu ditayangkan di aplikasi MOCO. Terjadilah ‘traction‘, yang artinya muncul tanggapan dari pasar. Lasmo cukup bergembira karena ribuan orang membacanya.

Namun, traction itu sia-sia karena bagaimanapun juga sebuah bisnis akan mati merana tanpa ada pemasukan nyata tidak peduli sebanyak apapun orang menggemarinya. Penggemar yang tidak berdaya beli seperti tanaman bonsai yang mahal, langka dan molek tetapi tidak bisa memberi makan pemiliknya yang sekarat kelaparan. “Ada 35.000 yang mengunduh secara gratis. Begitu disuruh bayar, raib semua…” katanya lagi.

Mengenaskan.

Tetapi saya bisa katakan itu juga yang saya akan lakukan. Menikmati buku di gawai masih terbatas pada ‘permainan’. Koleksi yang serius dalam bentuk fisik. Itu paradigma saya dalam menikmati buku. Tetapi dalam kasus ini, saya duga karena muda-mudi penggemar GGS ini adalah mereka yang masih belum memiliki kekuatan membeli yang stabil, artinya belum memiliki penghasilan sendiri, masih sekolah atau kuliah. Jadi, bisa dimaklumi jika pos anggaran yang bisa disalurkan untuk pembelian konten digital dianggap jauh di luar jangkauan.

Lasmo mengajukan hipotesisnya dari pengalaman MOCO tersebut. Pertama ialah tampilan e-book yang masih belum pas untuk dinikmati di gawai. Banyak e-book yang sekadar bentuk digital hasil pemindaian (scan) atau file pdf dari buku cetaknya. Sehingga saat membaca, penikmat konten mesti susah payah scroll ke berbagai arah agar besar huruf pas di mata (bisa dimaklumi makin tua, makin susah membaca di layar ukuran kecil). Dan ini merepotkan sekali. Pengalaman menikmati e-book yang sungguh belum maksimal.

Aplikasi yang masih dalam proses pengembangan masih belum menarik konsumen. Ditambah dengan ketiadaan kanal pembayaran, membuat transaksi pembelian e-book masih terasa musykil. (*/ bersambung)