Formula Novel Best Seller

Novelis perempuan dengan gaya menulis feminin memiliki peluang sukses lebih tinggi daripada pria. Bagaimana bisa? (Sumber: Wikipedia)

“There’s an app for everything.” Begitu pepatah zaman digital sekarang. Setiap masalah bisa dipecahkan dengan membuat sebuah aplikasi digital di ponsel dan sabak elektronik yang setiap hari kita genggam dan kontennya kita konsumsi secara rakus dan tak kenal waktu.

Di balik aplikasi, banyak komponen yang terlibat. Salah satunya yang tidak kalah penting ialah algoritme, yang secara sederhana bisa dikatakan sebagai sebuah proses atau serangkaian aturan yang harus diikuti dalam penghitungan atau operasi pemecahan masalah, terutama oleh komputer.

Baru-baru ini dibuat sebuah algoritme berhasil dibuat sedemikian rupa untuk mencari resep jitu memproduksi novel best seller. Dan hasil pengamatan berdasarkan penggunaan algoritme pada teks-teks novel yang selama ini menjadi best seller menghasilkan simpulan-simpulan sebagai berikut, yang bisa jadi patut kita pertimbangkan jika ingin menjadi novelis yang berhasil dalam aspek penjualan (bukan dalam aspek idealisme dan sebagainya).

Tema

Kriminal dan cinta ialah dua tema yang dikatakan amat menjual dalam dunia perbukuan. Dan apapun genre yang Anda garap sekarang, jika Anda ingin novel yang Anda tulis masuk ke daftar best seller, tidak ada salahnya menambahkan dua bumbu tadi ke plot yang Anda terapkan dalam novel sehingga calon pembaca lebih tertarik memboyong pulang.

Alur Emosional

Lain dari karakteristik pembaca nonfiksi, para pembaca karya fiksi terutama novel ialah mereka yang sangat mendambakan pengalaman emosional yang kental. Dengan mengetahui hal ini, Anda bisa memberikan sentuhan emosional yang kuat pada setiap elemen novel Anda, terutama alurnya. Plot yang menghanyutkan emosi pembaca itulah yang membuat pembaca kecanduan dan tidak bisa menutup buku sebelum sampai ke lembar terakhir.

Contoh novel yang sukses berkat penggunaan plot yang emosional ialah “Fifty Shades of Grey” yang ditulis E. L. James. Novel ini menurut sebagian pihak memang memiliki prosa yang kurang estetis dan literer dan cenderung menjual fantasi seks sadomasokis. Namun, harus diakui James berhasil membuat emosi pembaca naik turun sedemikian rupa sehingga sangat mengasyikkan dan adiktif. James menunjukkan bahwa tema seks – yang meskipun menurut algoritme tidak begitu menjual sebagai tema buku best seller – ternyata mampu mengedepankan elemen emosi ini dan mendongkrak penjualannya hingga ke angka yang begitu fantastis walaupun dikritik banyak kalangan elit sastra yang merasa novel itu lebih mirip sebuah karya pornografi.

Kesederhanaan

Simplicity is the best policy”. Kesederhanaan adalah senjata utama bagi para novelis agar karya mereka bisa mendobrak jajaran bergengsi di jaringan toko buku besar dan bahkan pasar buku global. Para novelis terkemuka bisa saja menggunakan kalimat-kalimat panjang dengan diksi dan jargon yang rumit tetapi karena mereka ingin menjangkau pembaca seluas mungkin, mereka lebih memilih kata-kata yang mudah dicerna dan kalimat-kalimat yang pendek dan ringkas sehingga tidak membingungkan. Ini berlawanan dengan asumsi yang ada dalam benak novelis pemula yang mengunggulkan penggunaan kata-kata rumit dan mengawang-awang dan kalimat-kalimat panjang yang membuat pembaca terengah-engah. Justru yang sulit ialah bagaimana novelis menyuguhkan ide-ide rumitnya dalam kata dan kalimat yang mudah dipahami siapa saja.

Algoritme menjelaskan bahwa novel-novel best seller lazimnya menggunakan kata-kata aktif (do) dan menggunakan kata “sangat” (very) lebih jarang daripada novel yang lebih jarang digemari.

Femininitas

Anda novelis pria? Perlu Anda ketahui bahwa novelis perempuan memiliki peluang sukses lebih tinggi daripada mereka yang pria. Begitu tingginya peluang itu sampai bisa dikatakan peluang sukses novelis perempuan bisa menjangkau hingga 90%. Setidaknya demikian menurut hasil penelitian berdasarkan algoritma.

Namun demikian, para novelis pria tidak perlu patah arang karena sebetulnya asal mereka bisa menyesuaikan gaya bercerita mereka sehingga karya mereka memiliki elemen femininitas yang lebih kental. Algoritma membuktikan bahwa novel-novel hasil tulisan penulis pria yang terbukti sukses bisa menjadi best seller karena gaya menulis mereka mirip perempuan menurut algoritma.

Lalu kita perlu bertanya, seperti apa gaya menulis yang feminin dan maskulin? Gaya menulis feminin menonjolkan aspek ‘style’ dan kesederhanaan dan pendekatan blak-blakan yang mengena bak gaya menulis seorang jurnalis. Novelis dengan latar belakang jurnalisme dalam tingkatan tertentu terbantu untuk bisa menelurkan karya yang digemari daripada yang tidak pernah menjadi pewarta.

Sementara itu, gaya menulis maskulin mengedepankan gaya literer yang tinggi. Dengan kata lain, menulis dengan gaya berbunga-bunga yang khas pujangga justru membuat peluang sebuah novel menjadi best seller lebih rendah. Dan uniknya, gender novelis belum tentu sesuai dengan jenis gaya menulisnya. Artinya, seorang novelis pria bisa saja memiliki gaya menulis feminin dan begitu juga sebaliknya.

Kekuatan Tokoh Utama

Menggunakan judul yang mengacu langsung pada karakter utama adalah elemen lain yang mempertinggi peluang sukses suatu novel. Namun demikian, menggunakan nama karakter tersebut sudah dianggap usang (katakanlah “Anna Karenina” milik Leo Tolstoy). Novel-novel best seller masa kini tetap mengacu ke tokoh utama di dalam judulnya tetapi tanpa menguak nama si tokoh. Frase yang menarik untuk menggambarkan tokoh utama bisa memicu keingintahuan calon pembaca.

Tokoh utama yang berkarakter kuat dan terdefinisi secara jelas memberikan peluang sukses bagi sebuah novel untuk melejit. Hal ini bisa dicapai melalui penggunaan kata-kata kerja yang tegas dan mendorong terjadi serangkaian perbuatan dan aksi.

Lalu apakah yang kita mesti lakukan setelah mengetahui semua elemen sebuah novel best seller ini? Kita bisa mengamati buku-buku yang laris ini dan meniru resep sukses mereka. Dengan membaca banyak novel best seller, dengan sendirinya kita akan makin akrab dengan pola-polanya.

Namun, jangan sampai membuat kita terlalu terobsesi untuk melihat keluar, mengejar status best seller sampai lupa dengan ide-ide orisinal kita sendiri dan menggadaikan idealisme yang semula kita punya demi selera pasar.

(Disarikan dari “The Bestseller Code: Anatomy of the Blockbuster Novel” oleh Jodie Archer dan Matthew L. Jockers)