Formula Novel Best Seller

Novelis perempuan dengan gaya menulis feminin memiliki peluang sukses lebih tinggi daripada pria. Bagaimana bisa? (Sumber: Wikipedia)

“There’s an app for everything.” Begitu pepatah zaman digital sekarang. Setiap masalah bisa dipecahkan dengan membuat sebuah aplikasi digital di ponsel dan sabak elektronik yang setiap hari kita genggam dan kontennya kita konsumsi secara rakus dan tak kenal waktu.

Di balik aplikasi, banyak komponen yang terlibat. Salah satunya yang tidak kalah penting ialah algoritme, yang secara sederhana bisa dikatakan sebagai sebuah proses atau serangkaian aturan yang harus diikuti dalam penghitungan atau operasi pemecahan masalah, terutama oleh komputer.

Baru-baru ini dibuat sebuah algoritme berhasil dibuat sedemikian rupa untuk mencari resep jitu memproduksi novel best seller. Dan hasil pengamatan berdasarkan penggunaan algoritme pada teks-teks novel yang selama ini menjadi best seller menghasilkan simpulan-simpulan sebagai berikut, yang bisa jadi patut kita pertimbangkan jika ingin menjadi novelis yang berhasil dalam aspek penjualan (bukan dalam aspek idealisme dan sebagainya).

Tema

Kriminal dan cinta ialah dua tema yang dikatakan amat menjual dalam dunia perbukuan. Dan apapun genre yang Anda garap sekarang, jika Anda ingin novel yang Anda tulis masuk ke daftar best seller, tidak ada salahnya menambahkan dua bumbu tadi ke plot yang Anda terapkan dalam novel sehingga calon pembaca lebih tertarik memboyong pulang.

Alur Emosional

Lain dari karakteristik pembaca nonfiksi, para pembaca karya fiksi terutama novel ialah mereka yang sangat mendambakan pengalaman emosional yang kental. Dengan mengetahui hal ini, Anda bisa memberikan sentuhan emosional yang kuat pada setiap elemen novel Anda, terutama alurnya. Plot yang menghanyutkan emosi pembaca itulah yang membuat pembaca kecanduan dan tidak bisa menutup buku sebelum sampai ke lembar terakhir.

Contoh novel yang sukses berkat penggunaan plot yang emosional ialah “Fifty Shades of Grey” yang ditulis E. L. James. Novel ini menurut sebagian pihak memang memiliki prosa yang kurang estetis dan literer dan cenderung menjual fantasi seks sadomasokis. Namun, harus diakui James berhasil membuat emosi pembaca naik turun sedemikian rupa sehingga sangat mengasyikkan dan adiktif. James menunjukkan bahwa tema seks – yang meskipun menurut algoritme tidak begitu menjual sebagai tema buku best seller – ternyata mampu mengedepankan elemen emosi ini dan mendongkrak penjualannya hingga ke angka yang begitu fantastis walaupun dikritik banyak kalangan elit sastra yang merasa novel itu lebih mirip sebuah karya pornografi.

Kesederhanaan

Simplicity is the best policy”. Kesederhanaan adalah senjata utama bagi para novelis agar karya mereka bisa mendobrak jajaran bergengsi di jaringan toko buku besar dan bahkan pasar buku global. Para novelis terkemuka bisa saja menggunakan kalimat-kalimat panjang dengan diksi dan jargon yang rumit tetapi karena mereka ingin menjangkau pembaca seluas mungkin, mereka lebih memilih kata-kata yang mudah dicerna dan kalimat-kalimat yang pendek dan ringkas sehingga tidak membingungkan. Ini berlawanan dengan asumsi yang ada dalam benak novelis pemula yang mengunggulkan penggunaan kata-kata rumit dan mengawang-awang dan kalimat-kalimat panjang yang membuat pembaca terengah-engah. Justru yang sulit ialah bagaimana novelis menyuguhkan ide-ide rumitnya dalam kata dan kalimat yang mudah dipahami siapa saja.

Algoritme menjelaskan bahwa novel-novel best seller lazimnya menggunakan kata-kata aktif (do) dan menggunakan kata “sangat” (very) lebih jarang daripada novel yang lebih jarang digemari.

Femininitas

Anda novelis pria? Perlu Anda ketahui bahwa novelis perempuan memiliki peluang sukses lebih tinggi daripada mereka yang pria. Begitu tingginya peluang itu sampai bisa dikatakan peluang sukses novelis perempuan bisa menjangkau hingga 90%. Setidaknya demikian menurut hasil penelitian berdasarkan algoritma.

Namun demikian, para novelis pria tidak perlu patah arang karena sebetulnya asal mereka bisa menyesuaikan gaya bercerita mereka sehingga karya mereka memiliki elemen femininitas yang lebih kental. Algoritma membuktikan bahwa novel-novel hasil tulisan penulis pria yang terbukti sukses bisa menjadi best seller karena gaya menulis mereka mirip perempuan menurut algoritma.

Lalu kita perlu bertanya, seperti apa gaya menulis yang feminin dan maskulin? Gaya menulis feminin menonjolkan aspek ‘style’ dan kesederhanaan dan pendekatan blak-blakan yang mengena bak gaya menulis seorang jurnalis. Novelis dengan latar belakang jurnalisme dalam tingkatan tertentu terbantu untuk bisa menelurkan karya yang digemari daripada yang tidak pernah menjadi pewarta.

Sementara itu, gaya menulis maskulin mengedepankan gaya literer yang tinggi. Dengan kata lain, menulis dengan gaya berbunga-bunga yang khas pujangga justru membuat peluang sebuah novel menjadi best seller lebih rendah. Dan uniknya, gender novelis belum tentu sesuai dengan jenis gaya menulisnya. Artinya, seorang novelis pria bisa saja memiliki gaya menulis feminin dan begitu juga sebaliknya.

Kekuatan Tokoh Utama

Menggunakan judul yang mengacu langsung pada karakter utama adalah elemen lain yang mempertinggi peluang sukses suatu novel. Namun demikian, menggunakan nama karakter tersebut sudah dianggap usang (katakanlah “Anna Karenina” milik Leo Tolstoy). Novel-novel best seller masa kini tetap mengacu ke tokoh utama di dalam judulnya tetapi tanpa menguak nama si tokoh. Frase yang menarik untuk menggambarkan tokoh utama bisa memicu keingintahuan calon pembaca.

Tokoh utama yang berkarakter kuat dan terdefinisi secara jelas memberikan peluang sukses bagi sebuah novel untuk melejit. Hal ini bisa dicapai melalui penggunaan kata-kata kerja yang tegas dan mendorong terjadi serangkaian perbuatan dan aksi.

Lalu apakah yang kita mesti lakukan setelah mengetahui semua elemen sebuah novel best seller ini? Kita bisa mengamati buku-buku yang laris ini dan meniru resep sukses mereka. Dengan membaca banyak novel best seller, dengan sendirinya kita akan makin akrab dengan pola-polanya.

Namun, jangan sampai membuat kita terlalu terobsesi untuk melihat keluar, mengejar status best seller sampai lupa dengan ide-ide orisinal kita sendiri dan menggadaikan idealisme yang semula kita punya demi selera pasar.

(Disarikan dari “The Bestseller Code: Anatomy of the Blockbuster Novel” oleh Jodie Archer dan Matthew L. Jockers)

Menimba Inspirasi Menulis dari “In the Heart of the Sea”

Moby Dick, sang paus ganas, membabi buta berenang di sekitar sekoci para pelaut yang memburunya tanpa ampun. (Sumber foto :Wikimedia Commons)

Beberapa hari lalu, saya merasa buntu dengan sebuah pekerjaan yang dibebankan pada saya. Pekerjaan menulis sebuah tema yang berada di luar pengalaman saya. Dan saya cukup terhantui dan putus asa awalnya karena harus melakukan banyak riset dan memfokuskan pikiran dengan  lebih keras.

Elizabeth Gilbert, salah satu penulis kesukaan saya, pernah mengatakan bahwa ia kerap menolak undangan dari temannya tatkala masih berada dalam rundungan sebuah proyek menulis. Ia mendisiplinkan dirinya agar tetap fokus pada pekerjaannya: menulis. Ia mengaku menolak mentah-mentah ajakan ke sebuah festival sastra atau menulis yang sebenanrnya relevan dengan bidang pekerjaannya tetapi karena merasa harus berfokus, ia tampik ajakan itu. Saya paham seorang penulis, yang seorang pekerja kreatif, juga harus disiplin. Dan saya terus terang merasa agak terpengaruh oleh pandangannya itu. Saya harus bisa disiplin! Gumam saya saat diajak ke sana kemari oleh teman-teman yoga saya.

Namun, di kesempatan lain saya bersua dengan seorang sastrawan lokal. Tak seterkenal Gilbert, tetapi ia cukup disegani. Dulu, tetapi karena sekarang ia terbelit kasus etika, pamornya redup. Tak masalah, karena saya toh masih mendapatkan banyak pelajaran berharga mengenai menulis tentangnya. Malam itu, saya bersama teman-teman mendengarkannya mengoceh panjang lebar,”Walaupun seniman, kita harus punya disiplin. Jangan mengandalkan ilham, inspirasi. Lihat saja profesi-profesi lain. Pedagang berjualan tiap hari meski tak selalu untung. Petani menggarap dan merawat sawah tiap hari meski belum tentu panen berhasil. Penulis? Juga idealnya demikian. Menulis tiap hari, meski ada ide atau tidak. Harus”.

Di percakapan selanjutnya, ia menyampaikan juga bahwa disiplin menulis itu tidak serta merta harus mengesampingkan hubungan sosial. “Saat kau mendapati ada teman atau tamu datang, masak mau mendekam di kamar untuk menulis? Temui saja tamu itu. Berbicaralah dengannya sejenak. Jika sudah baru lanjut menulis”.

Ah, itu kan bertentangan dengan apa yang saya yakini dari Gilbert. Ketegasan mutlak untuk menampik ajakan apapun yang berpotensi mengacaukan konsentrasi saya menulis. Dahi saya berkerut mendengar sarannya.

Lalu imbuhnya,”Kenapa mesti mengabaikan dulu tulisanmu dan mengutamakan teman yang sudah di depanmu? Karena inti dari menulsi itu adalah berkomunikasi! Sejatinya kau menulis untuk menyampaikan sesuatu pada orang lain. Kalau sudah ada orang lain di depanmu, lalu kau abaikan, malah tetap menulis, bukankah itu ironis? Utamakan selalu apa yang ada di depanmu. Baru yang lain”. Oh, begitu alasannya.

Saat nasihat-nasihat kedua sastrawan itu saya kenang, saya malah gamang. Mana yang saya harus turuti?

Hari itu hari libur yang tidak lazim. Pilkada serentak penyebabnya. Dan setelah beryoga pagi, saya diajak seorang teman baru untuk melakukan kegiatan penghibur diri yang hampir tidak pernah saya lakukan:menonton bisokop. Saya mengingat-ingat film yang pernah saya saksikan di bioskop dalam setahun terakhir ini. Tidak ada. Lima tahun terakhir ini? Masih tidak ada juga. Ingatan saya tentang film bioskop yang paling segar ialah Titanic di saat SMP. Sudah 15 tahun. Ya, sebegitu jarangnya saya mengunjungi bioskop.

Padahal kalau dipikir, menyaksikan film juga bagus untuk mengasah kemampuan menulis karya-karya yang lebih filmis alias menarik dibuat film. Ah, jadi merana lagi karena proyek menulis fiksi saya di bulan lalu tersendat.

Teman saya mengajak menonton sebuah film bertema lautan. Saya tahu ia suka menyelam, jadi saya berceletuk,”Kamu sungguh makhluk air ya. Menonton film pun yang bertema maritim”. Mungkin di kehidupan sebelumnya ia adalah jelmaan ikan, atau seorang manusia dengan kemampuan menyelam di laut dalam, seperti tokoh komik yang pernah saya baca, Denny si manusia ikan. Sementara saya, berenang di kedalaman 1,5 meter pun penuh perjuangan agar paru-paru tidak kemasukan air.

Saya pikir mengapa tidak. Toh saya sudah buntu saat menulis sendiri. Saya harus istirahat. Saya perlu campur tangan eksternal dan ilahi agar bisa bekerja lagi. Dan menerima ajakan menonton film ini rasanya lebih baik daripada harus meratapi monitor kosong di depan mata dengan otak ruwet lalu memaki-maki diri dan berkata,”Kamu penulis tak becus!” Ya, sebegitu kejamnya otokritik penulis itu pada diri sendiri. Jadi saat J. K. Rowling berkata penulis adalah makhluk yang ‘berkulit tipis’, saya paham apa yang ia maksudkan. Kami sungguh rapuh tetapi juga sekaligus keras kepala. Suatu gabungan kepribadian yang membingungkan.

Kami pun menonton sebuah film berjudul “In the Heart of the Sea” siang itu. Dan ternyata film ini tentang seorang penulis yang mewawancarai seorang pria lansia dengan sejarah hidup yang menarik dan unik. “Kenapa kebetulan begini?” gumam saya.

Di sela-sela penuturan itu, kisah dijabarkan dalam bentuk flashback ke masa lalu sang manula yang ternyata dulunya pernah bekerja sebagai kelasi rendahan nan amatir di sebuah kapal raksasa pembunuh ikan paus, Nantucket.

Beberapa momen dalam adegan film menyentuh saya dalam kapasitas sebagai penulis. Saya bisa merasakan kegetiran dan kecemasan yang dirasakan penulis muda yang ternyata bernama Herman Melville (yang diperankan oleh aktor Ben Wishaw), novelis yang membuahkan karya epik Moby Dick.

Ada satu kutipan yang benar-benar mencerminkan suasana hati saya saat itu. Begini kata Melville:”I’m afraid I’m not a good writer and I’m afraid I can’t write the stories as good as it should be“. Itulah rahasia yang selama ini ia simpan. Ia berani membuka diri setelah sang narasumber Thomas Nickerson mengalami kebuntuan emosional karena ketakutan akan dihakimi atas perbuatannya di masa lalu. Rahasia itu sangat menghantuinya hingga saat usia senja. Begitu Melville membuka rahasianya, barulah Nickerson menjelaskan dengan terbata-bata bahwa rahasia yang menghantuinya sejak keikutsertaannya di kapal Nantucket itu ialah saat ia menyaksikan dan menjalankan kanibalisme demi bertahan hidup di laut lepas setelah Nantucket karam akibat terbakar karena diobrak-abrik seekor paus raksasa nan perkasa yang berwarna putih. Begitu besarnya tenaga mamalia terbesar di planet ini sehingga membuat sang kelasi utama Owen Chase tak sanggup menghunjamkan harpoon ke kepala makhluk itu. Kewalahan, sekaligus terkesima dengan kekuatan alam yang biasa ia taklukkan dengan mudah. Paus ini lain dari paus-paus lain yang ia pernah bantai.

Setelah keluar dari bioskop, saya menjadi lebih tercerahkan. Bahwa penderitaan ini tidak cuma dialami saya, penulis pemula tanpa nama atau massa peminat karya ini. Bahkan oleh penulis sekampiun Melville. Bahwa wajar saja seorang penulis merasakan keputusasaan meski tak secara verbal melontarkannya pada orang lain. Ini rahasia paling peka, karena mempertanyakan kemampuan diri sendiri dan yang jika dilakukan terlalu sering, bisa merongrong kepercayaan diri sendiri dalam menyelesaikan misi.

Saya berterima kasih sudah mengabaikan prinsip kedisiplinan hari itu karena saya memang memiliki alasan kuat untuk melakukannya. Karena kadang mengisolasi diri malah menutup pintu inspirasi. Sesekali membuka diri tak masalah, seraya berharap agar yang masuk adalah ilham-ilham yang relevan dan menyegarkan pikiran, bukan yang makin mengaburkan saya dari tujuan.

Mengapa Yoga Olahraga Ideal untuk Penulis

Salah satu olahraga (dan jiwa) yang ideal bagi para penulis ialah yoga. Ambil contoh pengarang termasyhur J. D. Salinger yang pernah melakukan kriya yoga. Salinger konon juga melakukan latihan pernafasan (pranayama) dua menit sehari dan bereksperimen dengan Ayurveda. Salinger mengenal yoga dari ajaran Swami Vivekananda, seorang sosok agamawan dan pemikir ulung dari Kalkutta yang mempopulerkan Vedanta dan yoga di Barat di akhir abad ke-19. Menurut Vivekananda, yoga bermakna satu:”Kesadaran akan Tuhan.”

Namun, yoga juga tidak hanya mengenai spiritualisme. Ia juga menyentuh aspek fisik dan keseimbangan jiwa raga agar manusia dapat berkarya dan berkegiatan dengan lebih baik. Mengapa yoga merupakan olahraga ideal untuk penulis? Ada delapan (8) alasan untuk menjelaskan argumen itu. Selamat menyimak!

ATASI SAKIT OTOT. Pose-pose yoga atau asana yoga memiliki dampak positif bagi kesehatan penulis yang sibuk di meja kerjanya. Sebagaimana kita ketahui, duduk berjam-jam membuat metabolisme tubuh berubah, memicu kegemukan, penyakit kardiovaskuler dan kondisi kesehatan menurun. Keluhan-keluhan ringan seperti sakit leher, bahu dan punggung juga bisa diatasi dengan menggunakan asana yoga yang tepat. Pose downward-facing dog, misalnya, bisa meregangkan kembali hamstring yang kaku akibat duduk. Jika dibiarkan, otot yang kaku itu akan memicu gangguan kesehatan yang lebih serius, membuat tubuh lebih kaku dan kurang bugar sehingga produktivitas menurun akibat sakit berkepanjangan.

ATASI SAKIT PUNGGUNG. Melakukan sejumlah asana yoga akan membuat sakit punggung Anda berkurang, bahkan menghilang. Sakit ini bisa meningkat intensitasnya hingga menghalangi proses kreatif menulis Anda.

CEGAH SINDROM META KARPAL. Penulis dirundung kecemasan terkena sindrom meta karpal (carpal tunnel syndrome) yang dipicu oleh aktivitas mengetik selama berjam-jam setiap hari. Studi menunjukkan bahwa mereka yang bekerja dengan mesin kasir, menjahit dengan mesin, menghabiskan waktu lama bekerja dengan mesin di pabrik manufaktur memiliki tingkat kerawanan menderita sindrom ini. Dan gerakan yoga sederhana bisa mengatasi risiko ini.

MENINGKATKAN ENERGI. Saat merasa lelah dan kurang berenergi, penulis bisa menggunakan asana yoga tertentu seperti berdiri dengan kepala di bawah (headstand) untuk meningkatkan energi dan semangat menulis. Konon novelis Dan Brown melakukannya. Sebuah studi tahun 2006 menemukan bahwa mereka yang ikut serta dalam latihan hatha yoga (yoga yang berdasarkan gerakan fisik) selama 6 bulan mengalami peningkatan signifikan dalam vitalitas, energi dan pencegahan kelelahan lebih baik daripada mereka yang hanya berolahraga jalan kaki.

MENJERNIHKAN PIKIRAN. Menurut sebuah studi, yoga juga dapat membantu mendorong pikiran lebih jernih sebelum menulis. Sekelompok orang yang berpartisipasi dalam kelas yoga 60 menit seminggu dilaporkan mengalami perbaikan dalam tingkat kejernihan pikiran, energi dan kepercayaan diri.

MENGENDALIKAN STRES, CEMAS DAN DEPRESI. Stres dalam jumlah moderat diperlukan agar kita bisa menyelesaikan pekerjaan atau tugas. Tetapi begitu kita merasa terlalu tertekan dan stres mengendalikan kita, saat itulah stres bisa membahayakan kesehatan jiwa raga. Kita semua bisa mengendalikan (bukan menghilangkan sama sekali, karena itu tidak mungkin) dalam kehidupan kita. Bagi banyak penulis, yoga bisa melakukan hal ini dengan efektif. Dalam sebuah studi tahun 2011, peneliti menyimpulkan bahwa latihan yoga rutin mampu mengurangi kecemasan, stres dan depresi serta meningkatkan kualitas hidup seseorang dalam jangka panjang. Sebuah studi lain menemukan bahwa para perempuan yang menderita tekanan mental yang mengikuti kelas yoga selama 3 bulan mengalami penurunan tingkat stres dan depresi dan peningkatan kesehatan jiwa raga. Disimpulkan juga dalam penelitian lain bahwa yoga dapat membantu mengatasi depresi, sehingga jika Anda merasa sedih setelah mengalami kejadian yang kurang menyenangkan dalam hidup, lakukan beberapa asana yoga, ambil napas lebih dalam dan amatilah jika Anda merasakan pikiran Anda menjadi lebih jernih dan rileks.

MELEJITKAN KREATIVITAS DAN MENYINGKIRKAN HAMBATAN MENULIS. Writer’s block, begitu istilahnya, kerap dikambinghitamkan jika penulis tidak mampu menyelesaikan karya sesuai jadwal yang disepakati. Jika dilakukan dengan benar dan aman serta di bawah pengawasan pihak yang berpengalaman, latihan yoga akan memberikan efek meditatif yang pada gilirannya melejitkan energi kreatif dalam diri penulis yang beryoga. Para peneliti yakin bahwa bila digabungkan dengan pernapasan yang lebih tenang, dalam dan rileks serta gerakan tubuh yang lembut, yoga dapat membuat ide-ide kreatif itu membuncah kembali. Yoga dan meditasi memberikan akses pada kita ke dalam relung-relung di dalam jiwa dan kesadaran yang memicu kemunculan ide kreatif. Sejumlah studi membuktikan bahwa para praktisi yoga dan pelaku meditasi memiliki kemampuan untuk memperlambat gelombang otak mereka dalam hitungan menit (mencapai tingkatan “alfa” dan bahkan ke pola gelombang “theta” yang berkaitan dengan pemikiran kreatif). Katakan selamat tinggal pada writer’s block!

MENGAJARKAN MANFAAT KONSISTENSI. Konsistensi dalam yoga juga mengajarkan pada kita betapa berharganya konsistensi dalam menulis juga. Keduanya sangat berkaitan. Untuk mendapatkan manfaat dari keduanya, lakukan secara teratur setiap hari. Jadikan sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan Anda dan manfaat maksimal dari yoga dan menulis itu akan datang dengan sendirinya.

Delapan alasan tadi mungkin belum mencakup semua manfaat yoga bagi para penulis. Adakah alasan lain mengapa yoga menjadi pilihan olahraga bagi penulis? Bagikan di kotak komentar di bawah tulisan ini.

Bagaimana Menulis Membuat Anda Lebih Sehat

Menulis menurut Haruki Murakami adalah salah satu aktivitas yang kurang sehat. Ada betulnya memang. Bayangkan Anda harus duduk di sebuah kursi di dalam ruangan selama belasan jam lamanya setiap hari sampai lupa (atau melupakan) kegiatan lainnya seperti makan, minum, atau beristirahat di malam hari sesuai kebutuhan tubuh yang
sebenarnya. Itulah mengapa novelis Jepang kenamaan itu mengimbanginya dengan berolahraga lari dan berhenti merokok, sebuah kebiasaan tak sehat yang kerap kita jumpai di komunitas penulis. Sudah lumrah kita jumpai para penulis yang juga perokok dan penggemar berat kopi atau minuman berkafein yang sampai berkata,”Saya tidak bisa menemukan inspirasi tanpa rokok dan kopi.” Haruki berbeda. Ia ingin berkarya lebih lama, dan karena itu, ia harus tetap sehat dan berumur panjang. Masuk akal.

Saya tidak hendak meyakinkan Anda untuk meninggalkan kegiatan menulis dengan memberikan paragraf pembuka seperti itu. Saya hanya ingin memberikan gambaran bahwa kegiatan sebaik apapun, termasuk menulis, jika berlebihan bisa berdampak negatif pula pada kita sebagai pelakunya. Itu sudah menjadi hukum alam.

Akan tetapi, jangan cemas. Bila Anda menulis dengan mengindahkan keseimbangan dalam hidup ini, manfaatnya justru akan lebih banyak.

Menulis sendiri memiliki manfaat yang tidak hanya di dunia akademis hingga dunia profesional. Kemampuan menulis yang baik juga menjadi bagian penting dalam kemampuan berkomunikasi saat ini. Saya sendiri pernah menjumpai seseorang yang mengaku sangat kesulitan saat harus menulis di ujian akademik atau ujian masuk kerja yang mengharuskannya menulis ringkasan eksekutif atau esai singkat. Bahkan hingga dekat dengan detik-detik terakhir ujian pun, yang ada di kertas jawaban hanya beberapa baris kalimat. Belum sampai menjadi paragraf yang utuh. Padahal ia tahu ia memiliki banyak ide dan pemikiran di dalam benaknya. Cuma ia tak tahu bagaimana merangkai kata-kata itu agar layak dibaca.

Kini ada alasan kuat mengapa siapa saja harus mencoba menulis lebih sering, meski bukan penulis profesional. Ternyata aktivitas menulis yang dilakukan secara rutin dalam waktu 15-20 menit selama 3-5 kali sepanjang 4 bulan menurut sebuah studi tahun 2005 sudah bisa memberikan manfaat yang signifikan pada kesehatan fisik dan emosional para subjek studinya. Artinya, menulis secara ekspresif (menuangkan uneg-uneg dalam sebuah catatan harian atau membuat cerita fiksi, misalnya) memperbaiki suasana hati, mengurangi tingkat stres dan gejala depresi. Tidak heran J. K. Rowling pernah mengatakan ia pasti akan gila jika tidak memiliki menulis sebagai pelampiasan. Menulis, selain membuatnya kaya raya, juga membuatnya lebih waras dalam menghadapi fase-fase tersulit seperti kemiskinan dan perceraian dalam hidupnya.

Dengan menulis mengenai kejadian-kejadian emosional, penuh tekanan dan membuat kita trauma, kita akan berpeluang lebih sedikit terserang penyakit dan akan terkena lebih sedikit dampak negatif dari trauma yang pernah kita alami di masa lalu. Mereka yang menulis secara ekspresif mengenai hal-hal tersebut juga akhirnya menghabiskan lebih sedikit waktu di rumah sakit. Tekanan darah mereka lebih terkendali (tentunya dengan juga memperhatikan makanan dan minuman yang dikonsumsi) serta memiliki fungsi hati (liver) yang lebih baik daripada mereka yang tidak terbiasa menulis ekspresif.

Pada kenyataannya, menulis ekspresif (expressive writing) bisa membantu kita menyembuhkan diri dari luka fisik lebih cepat. Di tahun 2013, para peneliti dari Selandia Baru memantau pemulihan luka-luka fisik setelah prosedur biopsi yang wajib dilakukan secara medis pada 49 orang dewasa. Semua subjek penelitian ini disarankan untuk menuangkan pemikiran dan perasaan mereka dalam bentuk tulisan selama hanya 20 menit, 3 hari secara berturut-turut, 2 pekan sebelum biopsi dilakukan. Sebelas hari kemudian, 76% dari subjek studi dalam kelompok eksperimen yang menulis sebagaimana disarankan telah sembuh
sepenuhnya. Sebanyak 58% dari kelompok kontrol (yang tidak
diperintahkan menulis) belum sembuh. Studi ini menyimpulkan bahwa menulis mengenai kejadian-kejadian yang membuat para pasien tertekan membantu mereka memahami kejadian-kejadian itu dan dengan demikian membantu menurunkan tingkat stres.

Bahkan mereka yang dinyatakan menderita penyakit-penyakit tertentu bisa meningkatkan kesehatan mereka melalui menulis. Studi-studi ini menunjukkan bahwa orang yang hidup dengan asma dan meluangkan waktu untuk menulis memiliki serangan yang lebih sedikit daripada penderita asma yang tidak menulis. Para pasien AIDS yang menulis memiliki jumlah sel T yang lebih tinggi. Sel-sel T ini merupakan limfosit yang diproduksi atau diproses oleh kelenjar timus dan secara aktif berperan dalam respon kekebalan tubuh manusia. Para pasien kanker yang menulis cenderung memiliki perspektif yang lebih optimis terhadap kehidupan secara umum dan kondisi yang tengah mereka hadapi. Dari sana, kualitas hidup mereka – terlepas dari sembuh tidaknya – biasanya lebih baik.

Jadi apa yang membuat menulis baik bagi kita semua? Seorang peneliti bernama James W. Pennebaker melaksanakan riset mengenai menulis untuk menyembuhkan diri secara alami selama bertahun-tahun di University of Texas di kota Austin, AS. “Saat orang diberikan kesempatan untuk menulis mengenai gejolak emosional yang mereka alami, kesehatan mereka biasanya lebih baik,”tulis Pennebaker. “Mereka lebih jarang
berkonsultasi ke dokter. Mereka mengalami perubahan dalam fungsi kekebalan tubuh.”
Bagaimana ini bisa terjadi? Pennebaker meyakini bahwa aktivitas menulis ekspresif ini memungkinkan orang untuk rehat, mengevaluasi diri dan bagaimana mereka menjalani kehidupan ini. Alih-alih terobsesi secara tidak sehat terhadap sebuah insiden atau memori di masa lalu, kita bisa memfokuskan diri pada bagaimana bergerak maju dalam hidup. Dengan demikian, tingkat stres kita bisa menurun dan kesehatan niscaya akan membaik. Tentunya sekali lagi, dengan diiringi perbaikan gaya hidup dan cara pandang terhadap kehidupan.

Kita tidak harus menjadi novelis atau cerpenis penuh waktu, kolumnis, blogger yang setiap hari menulis demi mencari nafkah (karena menulis untuk mencari nafkah malah kerap meningkatkan kadar kortisol juga). Cukup menulis catatan harian (diari) yang Anda simpan sendiri (jika Anda termasuk orang yang tertutup) atau mengetiknya dalam dokumen dengan kata kunci agar tak seorang pun bisa membuka dan membaca curahan hati Anda.

Menulis blog juga bisa membantu. Menurut sebuah studi, disimpulkan bahwa menulis blog bisa memicu pelepasan hormon dopamin yang efeknya mirip dengan efek berlari atau mendengarkan musik kesukaan. Jangan cemas curahan hati di blog bisa dibaca orang-orang yang tidak dikehendaki karena blog juga bisa diatur sedemikian rupa agar tidak bisa dilacak Google atau dibuka orang lain kecuali Anda mengizinkan mereka masuk. Di platform-platform blogging besar seperti Blogger, WordPress, Tumblr, saya pikir ada fasilitas semacam ini. Blog bisa diatur privasinya: publik atau privat. Jika tidak mau menutup akses ke semua tulisan di blog Anda, Anda juga bisa memberikan kata kunci untuk satu artikel alias postingan tertentu yang dikehendaki agar tidak dibaca sembarangan orang. Dengan demikian, Anda bisa lebih leluasa menumpahkan perasaan dan pemikiran Anda yang berpotensi memicu konflik dengan orang lain atau membuat Anda malu jika mereka membacanya.

Pertama kali menulis, Anda tak perlu cemas dengan standar-standar yang ada. Abaikan EYD, tata bahasa dan aturan sejenisnya yang mengekang. Menulislah seperti kita berbicara pada seseorang yang Anda sangat percayai dan tidak akan membocorkan rahasia Anda. Dengan begitu, kata-kata akan mengalir seperti air.

Jadi siap menulis sekarang?

(Sumber foto: quora.com)