Penulis Kelas Bulu

“Tidak bisa tidak. Kamu harus belajar tampil lebih tua,” tegas orang yang bernama Raksasa itu pada saya karena dalam pengamatannya rupa ini tertinggal cukup jauh dari usia kalender saya. Ia kerap menggunakan nama itu untuk membuka percakapan. “Tahukah Anda berat saya dulu 110 kilogram?” begitu kalimat andalannya melenturkan lidah di pertemuan-pertemuan dengan budak-budak korporat yang bermasalah dengan bobot tubuh. Ia berani jamin langsung detik itu pembicaraan mengalir secara alami karena meski namanya begitu, perawakannya sekarang jauh dari gemuk. Tiada bekas-bekas lemak tampak di badannya yang sekarang saya taksir cuma 60-70 kilogram itu. Saya akui ia memang pesilat lidah ulung yang mampu mengemas topik sesepele apapun menjadi menarik.

Kembali pada sarannya tadi yang begitu blak-blakan, saya bereaksi datar saja. Mungkin alis saya sedikit naik karena dahi mengernyit. Bukannya saya tidak tahu. Saya juga diam-diam berpikir sama. Banyak orang lain juga, saya sangat yakin. Tetapi baru orang ini yang berkata terang-terangan.

Lalu ia menceritakan si Marto yang sama-sama sekecil saya. Ia menyarankan Marto yang dulu masih kurus itu untuk memakai jas berlapis busa di kedua bahu, kemeja lengan panjang, dan kaos dalam dalam waktu yang sama. Cara berpakaian yang hangat dan nyaman di gedung berpendingin udara terpusat yang suhunya mirip kutub tetapi neraka buat yang mesti kerja di ruangan bertemperatur semi tropis yang mesin AC-nya kadang bocor dan dikendalikan manual dengan remote control. Pokoknya ia haruskan Marto terkesan mengembang, lebih besar dari sebetulnya. Kalau Marto adonan kue, pria itu juga mungkin akan menggelonggong mulut Marto dengan berliter-liter baking soda. Padahal tempo hari bertemu Marto, saya pikir anak itu lumayan berisi. Jadi apa rahasianya jadi begitu? Saya jadi iri. Atau apakah ia juga diberinya resep menaikkan bobot secepat-cepatnya? Saya makin liar berspekulasi.

Penampilan penting, sangat penting, tandas Raksasa lagi di depan saya. “Nanti apa kata orang kalau saya bilang kamu yang akan nulis? ‘Apa pak? Anak sekecil ini yang nanti nulis? Bisa? Yakin?!!”

Bibir saya bergetar. Kebingungan mau tersenyum kecut atau tertawa. Saya tidak percaya penulis juga mesti memoles citra fisiknya seperti ini. Saya bertanya dalam hati,”Apakah saya keliru masuk ke ruangan ini? Mungkin ini ruang untuk menyaring para model catwalk, bukan penulis.” Tetapi lain daripada dia yang memuntahkan kalimat demi kalimat dengan royalnya, saya telan mentah-mentah gumaman tadi seiring dengan ludah. Saya goyang-goyangkan sepatu, mencoba melepaskan kebingungan tanpa terlihat hendak gila. Padahal sebenarnya saya hendak berkata,”Semau Anda sajalah…”

“Baiklah, Akhlis,” hibur saya pada anak kecil bernama ego yang sedang terisak-isak di suatu sudut di dalam batok kepala,”Anggap saja ini audisi akting dalam sebuah produksi film. Kau harus memerankan penulis yang tinggi besar. Itu lho seperti Ewan McGregor di film ‘Ghost Writer’.”

7 Pelajaran dari Proyek Menulis Buku

21501_10209496582839276_8030530306342279508_nSetelah membaca banyak buku, pasti ada keinginan untuk juga menulis dan menerbitkan setidaknya sebuah buku. Itu yang sebagian orang rasakan termasuk saya. Ada semacam kebanggaan jika seseorang sudah menghasilkan sebuah buku dengan tangan dan pikirannya sendiri. Kebanggaan yang tidak terlukiskan dengan kuas atau pena atau kata apapun.

Pengalaman menulis buku saya memang masih seumur jagung. Tercatat baru dua buku yang mencatatkan nama saya di dalamnya sebagai penulis. Untuk buku pertama yang berjudul “Mencari Makna, Menemukan Cinta“, saya menuangkan pemikiran dan perasaan saya sebagai seorang pelaku yoga yang masih ‘hijau’. Gaya menulis saya mungkin akan membuat saya muntah dalam beberapa tahun ke depan (bahkan saya juga masih enggan membacanya kembali). Di sini saya bertindak sebagai kontributor beberapa tulisan yang dimuat di dalam buku itu. Dalam proyek buku kedua yang bertajuk “Kintamani Bali Dog“, saya bertindak sebagai salah satu penyunting bahasa Inggris, yang tentunya masih juga lekat dengan tugas menulis ulang materi yang sudah terkumpul sehingga bisa sedekat mungkin dengan harapan.

Selama proses pengerjaan buku yang rentangnya beberapa bulan itu, ada banyak sekali pelajaran yang saya kumpulkan jika saya ingat kembali ke belakang. Berikut di antaranya yang saya bisa sampaikan lagi pada Anda.

Perluas koneksi yang tepercaya

Soal koneksi tepercaya, niscaya menjadi sebuah keharusan. Kenapa? Karena jika Anda menerima tawaran proyek buku dari orang yang sudah dekat dan Anda percaya, proses pengerjaan juga semestinya akan lebih mulus karena sudah dilandasi rasa saling percaya. Lain jika proyek buku itu Anda terima dari orang yang bahkan belum Anda pernah temui secara langsung. Sedikit ketidaknyamanan akan terasa begitu ada ketidakberesan di sana sini.

Jangan lupa hitam di atas putih

Begitu menerima tawaran proyek buku, biasanya penulis pemula akan girang bukan kepalang. Gembira boleh saja. Bangga juga silakan. Hanya, sebelumnya jangan lupa meneken perjanjian yang lebih kuat di mata hukum. Sebagai pekerja kata, Anda perlu menegaskan hak-hak dasar Anda. Biasanya pembayaran fee akan dipecah menjadi tiga bagian sesuai perjanjian yang ditandatangani bersama di atas materai Rp6000.

Kendalikan ego

Iya, ini tugas yang sangat berat sebelum kita masuk dalam sebuah tim penulisan buku. Akan ada banyak gesekan dan friksi yang membuat ego Anda terluka. Karenanya bersiaplah untuk menghadapi kemungkinan terburuk, misalnya tersinggung atau merasa terhina dengan perkataan atau perilaku orang-orang yang terlibat dalam pengerjaan.

Jika Anda penulis dan mengetahui bahwa tulisan hasil kerja keras Anda yang sudah sedemikian lama dipangkas begitu saja dan dianggap terlalu bertele-tele atau kurang masuk akal atau kurang sempurna, ego akan masih sangat menguasai tindak tanduk Anda. Maka dari itu, tanamkan dalam kepala bahwa semua itu hanya akan bisa dihadapi dengan ego yang terkontrol dengan baik. Kuatkan ego Anda untuk menghadapi hantaman. Pahami bahwa ego yang terluka hanyalah sensasi semu. Bisa jadi itu hanya kesalahpahaman dan tidak perlu dianggap serius. Tentunya dengan catatan bahwa semua orang dalam tim pengerjaan buku itu memiliki itikad dan kepribadian yang baik. Bukan psikopat atau orang dengan gangguan jiwa.

Tetap sabar

Bukan hanya sabar dalam menghadapi sesama anggota tim penulisan buku, tetapi juga bersabar dalam menghadapi mereka yang ada di luar tim. Mereka ini bisa saja anggota keluarga atau teman dekat yang menginginkan kita untuk hadir dalam, katakanlah, sebuah acara atau perkumpulan yang sangat menggoda kita untuk meninggalkan pengerjaan buku berlama-lama. Jika tenggat waktu pengerjaan buku Anda setahun atau dua tahun, boleh saja rasanya menghabiskan waktu 2-3 hari untuk bertemu sanak saudara atau menghabiskan 3-4 jam bersantap siang dengan rekan-rekan. Tetapi begitu Anda hanya diberikan tenggat waktu yang cuma berdurasi 2-3 bulan, rasanya akan terlalu musykil bagi Anda untuk bisa melanglang buana ke mana-mana apalagi untuk mengerjakan sesuatu di luar urusan proyek buku yang sedang berjalan. Anda harus siap jika setiap saat Anda diwajibkan mengerjakan segala hal yang bertalian dengan buku karena waktu menjadi sebuah faktor penentu yang tidak bisa ditawar lagi. Walaupun sebenarnya faktor waktu membuat kita makin panik bila terlalu sempit, waktu juga bisa dianggap sebagai sebuah faktor pemacu dan peningkat tingkat kinerja kita sebagai pekerja kata. Dalam proses pengerjaan buku, kita juga akan dihadapkan dengan karakter berbagai macam orang. Pokoknya, jangan baper alias bawa perasaan. Fokus saja pada tujuan akhir:buku harus selesai bagaimanapun juga.

Kelelahan atau kebosanan yang mendera di tengah proses bisa muncul kapan saja dan jika ini terjadi biasanya frustrasi itu akan menular dari satu orang ke orang lainnya. Pemahamam yang perlu diteguhkan dalam benak ialah bahwa semua orang ini memiliki niat baik dan tujuan yang sama, yaitu menyelesaikan proyek ini dengan niat awal yang baik. Maka dari itu, jangan sampai kita mengakhirinya nanti dengan buruk. Idealnya, apa yang diawali dengan niat baik ditutup dengan kebaikan pula. Sebisa mungkin apapun pertengkaran yang terjadi perlu diselesaikan secara dewasa. Kesalahpahaman hanya bisa diatasi dengan berbicara secara terbuka dan penuh permaafan. Bila kegusaran sudah mencapai ubun-ubun, lakukan hal lain yang meringankan beban pekerjaan. Saya sendiri merasakan kepenatan itu akan makin destruktif jika tidak diselingi dengan aktivitas lain. Saya beruntung bisa melakukan yoga di sela-selanya.

Siap bekerja kapan saja di mana saja

Teknologi informasi memang bermata dua. Ada kalanya saya merasa beruntung bisa hidup di era teknologi yang secanggih sekarang. Saya begitu dimudahkan karena bisa menulis di mana saja dengan komputer jinjing (laptop) yag tak lagi seberat barbel atau kesusahan saat harus terhubung dengan sinyal Internet yang beberapa tahun lalu begitu langka dan jika adapun masih labil dan kecepatannya tidak bisa diandalkan saat cuaca buruk. Saya juga bisa bertukar informasi teks dan multimedia dengan aplikasi-aplikasi surel dan percakapan di ponsel cerdas saya. Semuanya begitu mudah rasanya.

Sayangnya, semua kemudahan juga selalu diiringi dengan ketidaknyamanan. Saat saya bisa dijangkau kapan saja, ada saat-saat saya merasa kurang nyaman untuk dihubungi karena ingin mengerjakan sesuatu yang lain, yang lebih pribadi dan terpisah dari urusan proyek buku yang saya sedang terlibat pengerjaannya. Batasnya menjadi begitu kabur. Kadang larut malam bisa saja sebuah pesan sampai di kotak masuk surel atau WhatsApp dan segera harus ditindaklanjuti malam itu atau esoknya. Intinya, Anda harus bersiap untuk selalu dikejar dan dituntut.

Dan saat Anda menuruti semua tuntutan itu, rasanya tidak akan ada habisnya pekerjaan yang datang. Anda bisa selalu bekerja seharian dan tiba-tiba waktu sudah larut malam. Sehari dua hari mungkin Anda bisa bertahan. Namun, jika pola kerja semacam itu dipertahankan selama berbulan-bulan, Anda akan kolaps juga. Bila Anda jatuh sakit dan sampai susah sembuh di tengah proses pengerjaan buku, pengerjaan akan tersendat dan irama kerja orang lain juga turut macet.

Cari aktivitas selingan nan sehat

Seperti saya sudah singgung tadi, jika durasi proyek buku itu sangat pendek, Anda perlu sekali mencari kegiatan selingan agar stres bisa dikendalikan secara sehat. Maksud saya “secara sehat” ialah bagaimana Anda mencari cara untuk melepas penat dengan kegiatan penyeling yang memiliki efek buruk pada kesehatan seminimal mungkin, dan bahkan jika mungkin harus menambah vitalitas Anda dalam menyelesaikan buku itu. Rokok, kopi atau makanan yang berlemak dan manis bisa jadi pelarian yang mudah untuk mereka yang bekerja dalam tuntutan waktu yang ketat seperti penyunting, penulis dan semacamnya. Akan tetapi, apakah aktivitas itu bisa dilakukan secara berkseinambungan atau terus menerus tanpa membuat diri kita celaka, baik berangsur-angsur atau sekaligus? Karenanya saya katakan saya beruntung memiliki aktivitas yoga sebagai selingan yang menyehatkan.

Novelis Ann Patchett pernah berkata ketahanan menulis selama berjam-jam membuatnya menjadi penulis. Menurut saya, duduk berjam-jam bisa membuat Anda gila. Anda harus menyelinginya dengan kegiatan fisik lainnya agar otak tetap berjalan lancar dan peredaran darah di kedua tungkai kaki Anda masih bekerja baik. Jangan sampai Anda duduk dan lupa minum air putih selama berjam-jam di ruangan berpendingin udara. Begitu tenggorokan kering, jangan menunda untuk segera meneguk segelas air putih. Kopi atau teh mungkin menjadi pilihan terakhir karena hanya akan membuat tubuh makin dehidrasi. Asupan air juga akan membuat tubuh Anda tetap aktif karena memaksa Anda terus berjalan kaki mondar mandir ke dan dari kamar mandi. Merepotkan? Tentu tidak. Akan lebih merepotkan lagi nantinya jika pinggang Anda nyeri dan ginjal Anda terbebani.

Ganti suasana

Jika ide mengering dan rasa bosan mulai melanda, ada kalanya emosi meluap. Di awal pengerjaan saya pernah merasakan adanya tekanan karena ide untuk menulis kering. Saya hanya membaca-baca dan tidak kunjung memulai. Otak saya terasa buntu dan ilham terasa masih jauh sekali. Tentu saya tak bisa menunggu inspirasi dan mood yang bagus datang hingga saya bisa memulai menulis atau mengerjakan buku itu.

Untuk itu Anda butuh ruang baru. Ruang dalam berbagai makna. Tidak cuma ruang fisik tetapi juga ruang psikologis dan mental saat mengerjakannya. Entah bagi Anda, tetapi bagi saya mengerjakan buku dalam kondisi tekanan tinggi membuat saya menjadi tambah stres dan kreativitas menjadi turun karena merasa panik dan tergesa-gesa.

Jangan terlalu menghukum diri dengan hanya berdiam diri mengerjakan di satu tempat. Bila memang sudah bosan dna perlu suasana baru, pergilah ke sebuah kedai kopi dan bekerjalah di sana sejenak. Atau pergilah ke perpustakaan lokal yang hening. Atau ke rumah teman yang tenang. Ke mana saja yang menurut Anda dapat membantu membangun suasana hati yang positif untuk menyelesaikan pekerjaan. Toh Anda bisa bekerja di mana saja selama masih memiliki komputer jinjing.

Jenis-jenis Teman Seorang Penulis

Dalam sebuah kesempatan saya pernah melontarkan sebuah pertanyaan bagi seorang teman baru. “Kenapa kau tak takut berteman dengan seorang penulis?” tanya saya.

Ia kebingungan. Meski pertanyaan saya itu hanya saya sampaikan melalui aplikasi percakapan maya, saya bisa membayangkan mimik mukanya. “Kenapa harus takut?”

“Karena aku bisa menulis tentang kisah pribadimu tanpa kau tahu, tanpa seizinmu,” ujarnya pada saya.

Ia mengunggah sebuah emotikon tertawa lalu berkata bahwa apa yang saya pikirkan itu konyol. Ia tak peduli. “Silakan saja, aku tak keberatan kok,” terangnya. Tak ada nada cemas tentang risiko detail privasinya akan terkuak begitu saja dengan kegatalan saya menjelaskan kisah nyata hidupnya di depan publik maya di media sosial.

Di lain hari, seorang peyoga senior menghubungi saya, mencurahkan pemikirannya dan kemudian tertahan sebentar saat kami hendak memungkasi percakapan. “Tolong jangan tulis tentang ini jadi status atau apapun,” begitu inti permohonannya.

Saya tertegun barang sedetik dua detik. Apakah ‘separah’ itu saya menjadikan detail kehidupan orang-orang di sekitar saya menjadi materi tulisan saya?

Bisa jadi demikian.

Sementara itu, dalam sebuah makan siang sekumpulan teman mengobrol dengan tergelak-gelak sampai makanan yang habis ditelan serasa mau keluar dari tenggorokan mereka. Lalu berkatalah mereka pada saya,”Eh, mana tulisan tentang kita? Kamu kan suka nulis panjang-panjang di Facebook tuh. Nanti kita tunggu ya tulisan abis ini.”

Saya cuma meringis ala kuda. Ini bukan seperti yang saya harapkan. Biasanya orang-orang malu, segan atau setidaknya enggan saya masukkan dalam tulisan. Tetapi ini berbeda seratus delapan puluh derajat. Mereka malah menuntut untuk dimasukkan dalam tulisan.

Lalu ada juga seorang teman yang menjadi korban kesalahpahaman gara-gara saya pernah menulis sebuah kisah fiktif berdasarkan curahan hati yang aktual. Katanya,”Gara-gara cerita kamu itu, saya jadi dikira si tokoh utama oleh orang-orang. Mereka pikir saya yang suka mengamati bola-bola seorang guru pria dalam kelas yoga.”

Jack Unterweger: Dari Residivis Jadi Penulis, Kembali Jadi Residivis

Penulis bagi banyak orang adalah sosok manusia yang paling tidak membahayakan dalam aspek fisik. Mereka terbiasa duduk, diam, mengetik atau menggoreskan pena ke kertas selama berjam-jam dalam sehari, sehingga tidak terbiasa menggunakan otot-otot mereka bak sprinter, binaragawan, pesenam, perenang atau atlet profesional lainnya. Dan meskipun ada sebagian penulis yang berolahraga yang intens seperti Haruki Murakami yang suka berlari marathon dan John Irving yang menekuni olahraga gulat, tak banyak penulis yang dikenal agresif atau memiliki predikat sebagai makhluk yang membahayakan bagi keselamatan orang lain. Mungkin ada penulis yang membahayakan posisi atau nyawanya sendiri, misalnya wartawan investigasi atau penulis buku atau novel sekontroversial Ayat-ayat Setan milik Salman Rushdie, tetapi citra penulis sebagai makhluk yang bisa membunuh sangatlah tidak lazim.

Apalagi jika Anda menyaksikan wajah manis Jack Unterweger. Siapapun mungkin akan meragukan apakah pria yang populer di kalangan wanita ini bisa menyakiti hewan sekalipun. Wajahnya tidak bisa dikatakan jelek. Tubuhnya tergolong kecil dan kurus untuk orang Eropa, tingginya hanya 5 kaki 5 inci. Jadi jangan membayangkan Jack sebagai seorang yang tinggi besar.

Unterweger berasal dari negeri yang membanggakan diri dengan tingkat kriminalitas yang rendah dan kebudayaannya yang tinggi, Austria. Musik-musik klasik baroque lahir di negara yang tidak berpantai ini.

Kehidupan Unterweger yang lahir 16 Agustus tahun 1950 itu dari kecil sangat malang. Ia tumbuh sebagai anak yang dibuang oleh sang ibu. Ibunya, menurut pengakuan Unterweger sendiri, adalah seorang pekerja seks komersial. Ayahnya adalah salah satu tentara yang bertugas untuk Amerika Serikat di masa perang. Pria ini pelanggan sang ibu.

Selama 7 tahun, Jack kecil harus tinggal bersama sang kakek yang tinggal di sebuah gubuk reot. Kakeknya juga bukan pengaruh yang baik bagi kejiwaan sang cucu. Ia seringkali mengajak PSK masuk ke gubuknya di malam hari, dan tidak peduli apakah sang cucu melihatnya asyik masyuk bersama wanita yang ia sewa. Dikatakan bahwa di dalam gubuk itu hanya ada satu kamar, sehingga saat Jack tidur, ia bisa mendengar sang kakek sedang bermesraan dengan PSK.

Masa remaja menjadi makin sulit bagi Jack. Menjelang masa dewasa, ia menghadapi berbagai masalah hukum dan dijebloskan ke pusat
rehabilitasi anak dan remaja pelaku kenakalan. Ia berkelana di Swiss dan Jerman. Di periode ini, ia sudah berhadapan dengan tuduhan kriminal, dari perkosaan, penganiayaan, bahkan penyekapan.

Tahun 1974 menjadi saksi bagaimana Unterweger makin mengarah pada dunia kekerasan. Margaret yang dikenal Jack sebagai teman pacarnya menjadi korban pencurian dan pembunuhan keji Unterweger. Unterweger tidak hanya menjarah harta bendanya tetapi juga menyeretnya ke tempat sepi kemudian menyuruh korbannya menanggalkan pakaian dan memukuli atau menjerat lehernya hingga mati tercekik.

Di Salzburg, Unterweger kemudian diadili atas tuduhan itu dan terbukti bersalah. Ia menjalani hukuman pidana selama 15 tahun lamanya. Penjara membuatnya menjadi seseorang yang berbeda. Entah bagaimana, ia berubah dari seorang penjahat menjadi seseorang yang sangat lihai memanfaatkan kata dan kalimat menjadi senjata yang menamenginya dari stigma negatif masyarakat. Dikisahkan bahwa Unterweger mampu belajar sebagai sastrawan dan menghasilkan karya berupa buku dengan banyak membaca di perpustakaan di lembaga pemasyarakatan tempatnya menjalani hukuman pidana. Kemampuan sastrawinya makin berkembang.

Di kalangan birokrat dan masyarakat Austria sendiri 6 tahun sebelum keluarnya Unterweger terjadi sebuah perubahan, yakni munculnya keyakinan bahwa siapapun yang menjalani hukuman pidana atas kejahatan bisa direhabilitasi sehingga dapat kembali berperan positif di kehidupan masyarakat luas. Dan semua ini berkontribusi pada dilepasnya Unterweger ke dunia bebas. Menurut wartawan Gunther Nenning, langkah ini didasari atas keinginan untuk membantu mereka yang kurang beruntung karena sudah mengalami ketidakadilan sosial dalam
masyarakat, seperti Unterweger muda yang lahir dalam lingkungan yang penuh kekerasan dan seks bebas.

Dengan keahlian menulisnya, pasca dilepas dari hotel prodeo ia menghasilkan puisi, naskah drama, bahkan buku anak-anak dan buku autobiografinya sendiri yang cukup menarik perhatian dunia sastra setempat.

Karya-karyanya itu meyakinkan masyarakat bahwa Unterweger bukanlah sosok yang sangat keji sebagaimana yang mereka sangka. Ia bisa sangat lembut dan memahami perasaan yang halus sekalipun dan mengungkapkannya dalam kalimat-kalimat indah.

Unterweger bahkan kemudian secara perlahan masuk lingkaran budayawan dan sastrawan elit Austria. Dia juga menjadi simbol kesuksesan program rehabilitasi residivis di Austria. Semua berkat kharismanya dalam menggunakan kata-kata. Sebagian berpendapat Unterweger menjadi contoh kasus bagaimana sastra memiliki pengaruh kuat dalam “menyembuhkan dan menebus dosa” dalam jiwa seseorang.

Salah satu bukunya berjudul “Fegefeur” (Purgatory/ Penyucian) diterbitkan tahun 1983. Kisah dalam buku ini mengenai masa sang penulis menjalani hukuman pidana. Sutradara Willi Hengstler tertarik membuat filmnya dan film itu dirilis tahun 1989.

Namun, bukan berarti Unterweger lupa caranya menjadi pembunuh. Ia menganggap bahwa menjadi seorang penulis akan membantunya keluar dari penjara lebih cepat dan diterima di masyarakat, bahkan menjadikannya sebagai pesohor. Dan yang penting, ia dihormati dan hidup makmur.

Pada tanggal 23 Mei 1990 Unterweger dibebaskan secara bersyarat setelah 15 tahun mendekam di penjara. Jumlah hukuman 15 tahun itu adalah masa hukuman minimal yang harus dijalani dalam hukuman seumur hidupnya.

Unterweger yang baru lepas dari hukuman itu langsung mencuat menjadi selebriti. Ia diundang dalam acara diskusi televisi nasional yang disaksikan secara luas mengenai reformasi hukum pidana di Austria. Melalui acara itulah, publik makin diyakinkan dengan tingkat intelektualitas dan kharisma Unterweger sebagai sosok panutan dan pujaan. Pria itu tampil bersih dalam setelan jas putih, berbicara dan berdebat dengan cerdas dengan para jurnalis dan sosok intelektual secara langsung di media.

Meski sudah terkenal dan menjadi penulis yang disegani masyarakat serta memiliki basis fans tersendiri, ia tidak berniat untuk menjadi warga baik-baik. Ia kembali ‘kambuh’, dan kali ini cakupannya meluas. Di Los Angeles, Amerika Serikat, Unterweger juga melakukan tindakan yang sama. Begitu juga di kota Praha, Chekoslowakia. Korban-korbannya kesemuanya adalah wanita muda, sebagian pekerja seks komersial, seperti sang ibu, yang ia benci karena sudah menelantarkannya begitu saja di dunia yang kejam ini.

Singkat cerita, Unterweger berhasil diringkus aparat setelah dituduh menghabisi 11 korban perempuan: 7 di Austria, 3 di AS, 1 di
Cekoslowakia. Para penggemar Unterweger masih memberikan dukungannya dengan hadir di pengadilan.

Publik makin lama makin mengetahui bahwa Unterweger adalah pribadi yang manipulatif dan mampu menggunakan kata-kata dan mimik muka serta menggunakan kedekatannya dengan lingkaran elit intelektual. Para pendukung Unterweger mulai meragukannya.

Unterweger memberikan pembelaan yang sangat meyakinkan dan menggugah emosi bagi banyak orang yang menyaksikannya. Namun, berkat juri yang menggunakan bukti-bukti yang kuat, Unterweger tak dapat lolos kali ini. Ia terbukti dengan meyakinkan sudah bersalah dalam 9 kasus pembunuhan tersebut. Dan ia juga dituduh menjadi pelaku dalam 2 kasus lainnya.

Ia mengancam akan bunuh diri begitu gugatan bandingnya ditolak dan dijebloskan ke penjara. Pria itu yakin dengan kemungkinan untuk bebas dari semua tuduhan. Rupanya ia telah berjanji dengan dirinya sendiri untuk tak akan pernah lagi menginjakkan kaki dalam penjara.

Unterweger tidak memberikan gertakan sambal. Ia benar-benar melakukan apa yang ia katakan. Dengan berbekal sebuah tali dalam pakaiannya, ia menggantung diri di selnya.

J. D. Salinger:Penulis yang "Terkutuk" oleh Kesuksesan Karyanya

‎Persis lima tahun berlalu sejak penulis J. D. Salinger meninggal dunia di usia 91 tahun. Ia meninggal 27 Januari 2010. Karyanya yang pertama dan paling sukses serta paling berpengaruh hingga saat ini ialah The Catcher in the Rye.

Namun, Salinger bukannya bahagia menjadi terkenal. Ia lebih merasa terkutuk oleh apa yang ia tulis di dalam novel pendek itu. Apa pasal? Tiga kasus pembunuhan terjadi sebagian karena “dipicu” oleh ‎novel yang mengisahkan tentang seorang pemuda bernama Hauden Caulfield tersebut. Dalam pembelaan Mark David Chapman (pembunuh John Lennon), novel ini dipakai sebagai penjelasan tindakan keji itu. Ada dua pembunuhan lagi yang menyebutkan novel itu sebagai alasan.

Kepada wartawati Betty Eppes yang sengaja mencarinya 6 bulan sebelum penembakan Lennon, Salinger ‎berkata,”Saya menyesal menulis tentang Haulden (Caulfield).”

Salinger‎, melalui Eppes, berkata bahwa ia bekerja untuk dirinya selama mengurung diri dari pergaulan sosial. “Seorang penulis harus menulis karena memang ia harus menulis. Yang paling penting adalah menulis”.

Saya baru membeli The Catcher in the Rye 13 Januari kemarin. Dan apakah saya juga akan terinspirasi melakukan hal-hal radikal?

Breaking News: Jonru Hentikan Newsletter

Mendapati email bersubjek “Saatnya Berpisah” dari Jonru yang tersohor itu beberapa menit lalu, saya terkejut. Beberapa saat kemudian saya menyadari email itu adalah email blast karena tahun 2009 saya pernah mendaftarkan alamat email saya di sekolah menulisnya. Ya, saya belum tahu saat itu akan menjadi orang seperti apa Jonru. Yang saya tahu, Jonru mengklaim dirinya sebagai orang yang kampiun ‎menulis sehingga otomatis ia bisa menularkan ketrampilan mengolah kata itu pada orang lain.

Di kesempatan lain, saya juga pernah melihatnya sekilas di Pesta Blogger yang saat itu berubah nama menjadi On Off ID tahun 2011. Namun demikian, saya belum pernah sekalipun berbincang dengannya. Jadi saya tak bisa banyak berkomentar atas sosoknya yang akhir-akhir ini amat kontroversial itu.

Seperti kita ketahui, Jonru adalah simpatisan PKS. Dan ia tidak malu-malu menunjukkan pandangan politiknya secara terbuka. Tidak salah. Itulah indahnya alam demokrasi. Bisa menghujat sana sini tanpa bukti. Tetapi saya lebih tertarik mengupasnya dari segi prestasi menulis. Ia mengecewakan.

Seorang teman yang juga simpatisan PKS menanyakan apakah saya benci Jonru. Bukan sosoknya yang patut dibenci, tetapi perbuatannya dan perkataannya yang bernada kebencian. Sungguh mengecewakan. Seseorang yang mengaku sebagai penulis tetapi buku-bukunya kalah membahana dibandingkan cuitan dan tulisan di jejaring sosial. Sekali dua kali mengecam masih manusiawi. Namun, bila menjadi semacam kebiasaan yang malah membuat kita teralihkan dari misi sebagai penulis (yaitu menyebarkan kabar dan pengetahuan yang baik), rasanya tidak berlebihan kalau saya merasa jengah.

Di tengah makan siang tadi, saya pun menyempatkan membaca email sendu itu. Begini tulis Jonru:

‎”Halo Akhlis

Apa kabar? Semoga baik-baik saja, ya. .. Terima kasih banyak, Akhlis telah menjadi anggota setia pada newsletter ini. Dengan berat hati saya sampaikan, bahwa newsletter ini akan ditutup untuk selamanya sejak 1 Januari 2015. Tentu banyak pertimbangan yang tak bisa saya sebutkan satu-persatu di sini.

Namun jangan khawatir! Jika Akhlis ingin mendapat update terbaru mengenai pelatihan penulisan atau buku terbaru Jonru, dipersilahkan bergabung dengan akun sosial media:

– Twitter: @jonru

– Instagram: @jonruginting

– Fan Page: https://www.facebook.com/jonru.page

Jangan lupa bergabung juga dengan toko online yang dikelola oleh Jonru Management, yaitu: https://www.facebook.com/tokojonru

Jika Akhlis ingin mendapat update info pelatihan penulisan terbaru bersama Jonru, silahkan SMS ke nomor berikut: 085770482715 atau 081281956427 (SMS ONLY)

Format SMS: Nama Anda – Tempat Tinggal Anda

Contoh: Andi Wijaya – Jakarta

Nanti jika ada info pelatihan penulisan, kami akan menginformasikannya kepada Akhlis.

Semoga informasi ini bermanfaat, ya… 🙂 ..

Terima kasih dan salam sukses untuk Akhlis !!!

Tertanda,

Jonru Pengelola Newsletter dari Penulis Lepas Group‎

http://www.penulislepas.com.‎

Yang menarik perhatian saya, ia membuka surat tanpa sapaan “assalamualaikum”. Jonru malah menggunakan “halo”. Saya mengernyit. Mengapa? Apakah ia mulai melunak pada sekulerisme sekarang? Apakah kini ia sudah terlalu sibuk menangani kasus hukum karena namanya jadi kosakata baru? Atau karena alasan lain yang lebih rahasia?

Selamat tinggal, Jonru…

Bagaimana Menulis Membuat Anda Lebih Sehat

Menulis menurut Haruki Murakami adalah salah satu aktivitas yang kurang sehat. Ada betulnya memang. Bayangkan Anda harus duduk di sebuah kursi di dalam ruangan selama belasan jam lamanya setiap hari sampai lupa (atau melupakan) kegiatan lainnya seperti makan, minum, atau beristirahat di malam hari sesuai kebutuhan tubuh yang
sebenarnya. Itulah mengapa novelis Jepang kenamaan itu mengimbanginya dengan berolahraga lari dan berhenti merokok, sebuah kebiasaan tak sehat yang kerap kita jumpai di komunitas penulis. Sudah lumrah kita jumpai para penulis yang juga perokok dan penggemar berat kopi atau minuman berkafein yang sampai berkata,”Saya tidak bisa menemukan inspirasi tanpa rokok dan kopi.” Haruki berbeda. Ia ingin berkarya lebih lama, dan karena itu, ia harus tetap sehat dan berumur panjang. Masuk akal.

Saya tidak hendak meyakinkan Anda untuk meninggalkan kegiatan menulis dengan memberikan paragraf pembuka seperti itu. Saya hanya ingin memberikan gambaran bahwa kegiatan sebaik apapun, termasuk menulis, jika berlebihan bisa berdampak negatif pula pada kita sebagai pelakunya. Itu sudah menjadi hukum alam.

Akan tetapi, jangan cemas. Bila Anda menulis dengan mengindahkan keseimbangan dalam hidup ini, manfaatnya justru akan lebih banyak.

Menulis sendiri memiliki manfaat yang tidak hanya di dunia akademis hingga dunia profesional. Kemampuan menulis yang baik juga menjadi bagian penting dalam kemampuan berkomunikasi saat ini. Saya sendiri pernah menjumpai seseorang yang mengaku sangat kesulitan saat harus menulis di ujian akademik atau ujian masuk kerja yang mengharuskannya menulis ringkasan eksekutif atau esai singkat. Bahkan hingga dekat dengan detik-detik terakhir ujian pun, yang ada di kertas jawaban hanya beberapa baris kalimat. Belum sampai menjadi paragraf yang utuh. Padahal ia tahu ia memiliki banyak ide dan pemikiran di dalam benaknya. Cuma ia tak tahu bagaimana merangkai kata-kata itu agar layak dibaca.

Kini ada alasan kuat mengapa siapa saja harus mencoba menulis lebih sering, meski bukan penulis profesional. Ternyata aktivitas menulis yang dilakukan secara rutin dalam waktu 15-20 menit selama 3-5 kali sepanjang 4 bulan menurut sebuah studi tahun 2005 sudah bisa memberikan manfaat yang signifikan pada kesehatan fisik dan emosional para subjek studinya. Artinya, menulis secara ekspresif (menuangkan uneg-uneg dalam sebuah catatan harian atau membuat cerita fiksi, misalnya) memperbaiki suasana hati, mengurangi tingkat stres dan gejala depresi. Tidak heran J. K. Rowling pernah mengatakan ia pasti akan gila jika tidak memiliki menulis sebagai pelampiasan. Menulis, selain membuatnya kaya raya, juga membuatnya lebih waras dalam menghadapi fase-fase tersulit seperti kemiskinan dan perceraian dalam hidupnya.

Dengan menulis mengenai kejadian-kejadian emosional, penuh tekanan dan membuat kita trauma, kita akan berpeluang lebih sedikit terserang penyakit dan akan terkena lebih sedikit dampak negatif dari trauma yang pernah kita alami di masa lalu. Mereka yang menulis secara ekspresif mengenai hal-hal tersebut juga akhirnya menghabiskan lebih sedikit waktu di rumah sakit. Tekanan darah mereka lebih terkendali (tentunya dengan juga memperhatikan makanan dan minuman yang dikonsumsi) serta memiliki fungsi hati (liver) yang lebih baik daripada mereka yang tidak terbiasa menulis ekspresif.

Pada kenyataannya, menulis ekspresif (expressive writing) bisa membantu kita menyembuhkan diri dari luka fisik lebih cepat. Di tahun 2013, para peneliti dari Selandia Baru memantau pemulihan luka-luka fisik setelah prosedur biopsi yang wajib dilakukan secara medis pada 49 orang dewasa. Semua subjek penelitian ini disarankan untuk menuangkan pemikiran dan perasaan mereka dalam bentuk tulisan selama hanya 20 menit, 3 hari secara berturut-turut, 2 pekan sebelum biopsi dilakukan. Sebelas hari kemudian, 76% dari subjek studi dalam kelompok eksperimen yang menulis sebagaimana disarankan telah sembuh
sepenuhnya. Sebanyak 58% dari kelompok kontrol (yang tidak
diperintahkan menulis) belum sembuh. Studi ini menyimpulkan bahwa menulis mengenai kejadian-kejadian yang membuat para pasien tertekan membantu mereka memahami kejadian-kejadian itu dan dengan demikian membantu menurunkan tingkat stres.

Bahkan mereka yang dinyatakan menderita penyakit-penyakit tertentu bisa meningkatkan kesehatan mereka melalui menulis. Studi-studi ini menunjukkan bahwa orang yang hidup dengan asma dan meluangkan waktu untuk menulis memiliki serangan yang lebih sedikit daripada penderita asma yang tidak menulis. Para pasien AIDS yang menulis memiliki jumlah sel T yang lebih tinggi. Sel-sel T ini merupakan limfosit yang diproduksi atau diproses oleh kelenjar timus dan secara aktif berperan dalam respon kekebalan tubuh manusia. Para pasien kanker yang menulis cenderung memiliki perspektif yang lebih optimis terhadap kehidupan secara umum dan kondisi yang tengah mereka hadapi. Dari sana, kualitas hidup mereka – terlepas dari sembuh tidaknya – biasanya lebih baik.

Jadi apa yang membuat menulis baik bagi kita semua? Seorang peneliti bernama James W. Pennebaker melaksanakan riset mengenai menulis untuk menyembuhkan diri secara alami selama bertahun-tahun di University of Texas di kota Austin, AS. “Saat orang diberikan kesempatan untuk menulis mengenai gejolak emosional yang mereka alami, kesehatan mereka biasanya lebih baik,”tulis Pennebaker. “Mereka lebih jarang
berkonsultasi ke dokter. Mereka mengalami perubahan dalam fungsi kekebalan tubuh.”
Bagaimana ini bisa terjadi? Pennebaker meyakini bahwa aktivitas menulis ekspresif ini memungkinkan orang untuk rehat, mengevaluasi diri dan bagaimana mereka menjalani kehidupan ini. Alih-alih terobsesi secara tidak sehat terhadap sebuah insiden atau memori di masa lalu, kita bisa memfokuskan diri pada bagaimana bergerak maju dalam hidup. Dengan demikian, tingkat stres kita bisa menurun dan kesehatan niscaya akan membaik. Tentunya sekali lagi, dengan diiringi perbaikan gaya hidup dan cara pandang terhadap kehidupan.

Kita tidak harus menjadi novelis atau cerpenis penuh waktu, kolumnis, blogger yang setiap hari menulis demi mencari nafkah (karena menulis untuk mencari nafkah malah kerap meningkatkan kadar kortisol juga). Cukup menulis catatan harian (diari) yang Anda simpan sendiri (jika Anda termasuk orang yang tertutup) atau mengetiknya dalam dokumen dengan kata kunci agar tak seorang pun bisa membuka dan membaca curahan hati Anda.

Menulis blog juga bisa membantu. Menurut sebuah studi, disimpulkan bahwa menulis blog bisa memicu pelepasan hormon dopamin yang efeknya mirip dengan efek berlari atau mendengarkan musik kesukaan. Jangan cemas curahan hati di blog bisa dibaca orang-orang yang tidak dikehendaki karena blog juga bisa diatur sedemikian rupa agar tidak bisa dilacak Google atau dibuka orang lain kecuali Anda mengizinkan mereka masuk. Di platform-platform blogging besar seperti Blogger, WordPress, Tumblr, saya pikir ada fasilitas semacam ini. Blog bisa diatur privasinya: publik atau privat. Jika tidak mau menutup akses ke semua tulisan di blog Anda, Anda juga bisa memberikan kata kunci untuk satu artikel alias postingan tertentu yang dikehendaki agar tidak dibaca sembarangan orang. Dengan demikian, Anda bisa lebih leluasa menumpahkan perasaan dan pemikiran Anda yang berpotensi memicu konflik dengan orang lain atau membuat Anda malu jika mereka membacanya.

Pertama kali menulis, Anda tak perlu cemas dengan standar-standar yang ada. Abaikan EYD, tata bahasa dan aturan sejenisnya yang mengekang. Menulislah seperti kita berbicara pada seseorang yang Anda sangat percayai dan tidak akan membocorkan rahasia Anda. Dengan begitu, kata-kata akan mengalir seperti air.

Jadi siap menulis sekarang?

(Sumber foto: quora.com)

15 Kualitas Penulis Unggul

‎Berkecimpung dalam dunia jurnalistik selama bertahun-tahun dan berbincang dengan beberapa jurnalis, Roy Peter Clark yang pernah menulis “How to Write Short” menemukan kesamaan dalam diri para penulis terbaik.

Pertama adalah ‎mereka semua kecanduan membaca sepanjang hayat. Mereka melahap semua bacaan dari fiksi sampai non-fiksi, novel sampai film.

‎Kedua, mereka cenderung suka menulis panjang dan mereka menyadarinya. Mereka menulis dengan sepenuh hati dan itu terpancar dari semua kalimat yang dirangkai. Anda sebagai pembaca pastinya akan merasakan kejanggalan bila penulis atau wartawan tidak begitu menguasai atau tertarik pada satu topik. Tulisannya akan terasa hambar atau monoton. Penulis yang baik ingin memanjakan pembacanya dengan menyajikan karyanya yang terbaik, dan kerap karya itu menjadi begitu panjang. Namun demikian, mereka juga bisa menyesuaikan diri bila harus menulis dengan singkat dan padat.

Ketiga, penulis unggul memandang dunia sebagai tempat mereka bereksperimen. Dengan persepsi ini, mereka tidak segan turun ke lapangan, tidak hanya berkutat dengan buku dan komputer di ruangan sepi tetapi juga mengobrol dengan orang-orang baru, berkunjung ke tempat-tempat baru, ‎merasakan pengalaman baru. Semua itu pada gilirannya akan memperkaya cerita yang ia akan suguhkan ke pembaca.

Keempat, penulis berkualitas menyukai kebebasan dalam bekerja. Energi kreativitas mereka tidak bisa dikendalikan oleh orang lain termasuk editor. Mereka seolah memiliki kompasnya sendiri, semacam naluri yang mengatakan pada dirinya,”Ini pasti akan menarik untuk disajikan bagi pembaca saya.”

Kelima, penulis yang top tidak sungkan dan tidak malas mengumpulkan fakta dan informasi, termasuk anekdot, kisah yang membuatnya terkesan, dsb. ‎Mereka menggunakan berbagai alat yang ada untuk mengumpulkan dan menyimpan data berharga tadi, dari mencatat di buku harian, merekam di alat tertentu, mengetik di perangkat mungil seperti ponsel, atau mengandalkan catatan mental di benaknya.

Keenam, penulis unggul bersedia menghabiskan waktunya menyempurnakan bagian pembuka dalam karyanya. Karena ia tahu, tanpa pembuka yang baik, orang akan sulit tertarik membaca tulisannya lebih lanjut sampai habis. Dalam jurnalisme, kita kenal bagian ini dengan istilah “lead”, yang memuat gagasan utama tulisan dan sekaligus membuat pembaca makin penasaran.

Ketujuh, ‎penulis yang baik sanggup melarutkan diri dalam kisah yang mereka tuliskan. Ini berkaitan erat dengan totalitas dan fokus dalam berkarya. Mereka menulis dengan sepenuh hati, bukan hanya mencari uang atau memenuhi tuntutan editor dan pemilik modal.

Kedelapan, ketekunan selalu bersemayam dalam diri penulis-penulis unggul. Mereka sanggup bekerja sehari semalam untuk memberikan tulisan terbaik mereka.

Kesembilan, ‎mereka menyukai keteraturan terkait bahan tulisan yang akan digunakan karena mereka sadar pekerjaan akan jauh lebih mudah bila literatur dan sumber yang dibutuhkan dikelompokkan dengan baik.

Kesepuluh, penulis-penulis berkualitas “tega” untuk menulis ulang atau bahkan membuang bagian yang tak perlu. JK Rowling, misalnya, mengaku membuang bagian cerita tentang otopsi Barry Fairbrother dalam The Casual Vacancy meski sudah susah payah menulisnya selama berhari-hari hanya karena ia kemudian merasa bagian itu terlalu melenceng dari isi cerita.‎ Menyelesaikan draft pertama adalah sebuah langkah yang baik tetapi belum bisa disebut akhir proses kreatif penulisan. Menulis adalah menulis ulang, begitu kata seorang penulis. Buku-buku laris biasanya hasil dari penulisan ulang yang makin menyempurnakannya.

Kesebelas, mereka biasa membaca keras-keras tulisannya untuk mengetahui kejanggalan. David Sedaris membaca lantang hasil tulisannya sebelum menyerahkan ke editor atau penerbit. Sekali dua kali belum cukup. Belasan kali juga belum cukup kalau masih bisa diperbaiki lagi. Alasannya? Dengan membaca, kita bisa mengetahui seberapa mengalirnya kisah yang kita ceritakan dalam tulisan.

Keduabelas, penulis unggul suka bercerita. Elizabeth Gilbert mungkin contoh terbaik dari penulis yang begitu suka mengobrol tentang hal-hal konyol dan remeh temeh tetapi menarik dan menghibur. Ia kerap mengumpulkan anekdot-anekdot berharga dalam ingatan dan catatan hariannya untuk kemudian meleburkannya dalam karyanya. Daripada mentah-mentah menyuguhkan informasi dalam pola 5W dan 1H, ia memakai gaya bercerita yang mengalir dan menarik karena tulisannya padat dengan narasi, anekdot, kronologi dan suasana yang detil.

Ketigabelas, ‎penulis yang baik mampu memberikan keseimbangan antara memuaskan idealisme diri dan selera pembacanya. Mereka berusaha menarik tanpa harus menjadi orang lain dalam tulisannya.

Keempatbelas, penulis berkualitas tahu ia tidak bisa terjebak dalam satu gaya penulisan selamanya. Ia mau mengeksplorasi diri dengan mencoba berbagai bentuk dan gaya menulis. Dengan keluar dari zona nyaman itulah, ia akan memperkaya pengalaman dan ketrampilan menulisnya.

Itu semua menurut Clark adalah ciri-ciri umum penulis yang berkualitas. Dan menurut saya masih ada satu lagi ciri lainnya, yaitu kemampuan bekerja di dalam berbagai kondisi apalagi jika mereka diburu waktu. Mereka tidak memiliki ketergantungan yang begitu mengganggu pada suatu hal, dari kafein sampai keharusan menulis di tempat dengan kondisi tertentu. ‎ Kita tentu pernah menjumpai penulis-penulis eksentrik yang hanya bisa bekerja di dalam suasana tertentu atau dengan alat menulis tertentu. ‎Ini hanya akan menghambat produktivitasnya sebagai penulis.

9 Tips Menulis Fiksi

Setelah bertahun-tahun terbiasa bekerja di bidang non-fiksi, menulis fiksi bagi saya menjadi sebuah kerja keras tersendiri. Menulis fiksi itu susah sekali. Satu cerita pendek yang tak lebih dari 1000 kata, misalnya, cukup membuat saya berpikir keras. Sebuah pengalaman yang sangat lain dari asumsi banyak orang. Banyak orang menganggap enteng menulis fiksi. Tinggal berfantasi, tulis fantasi itu, dan tada! Jadilah karya fiksi yang siap diterbitkan, atau setidaknya siap dibaca oleh Anda sendiri. Kenyataanya tidak semulus itu! Kalau menulis fiksi semudah itu, semua orang bisa menjadi penulis fiksi profesional.

1. Ketahui akhir kisah yang akan Anda tulis. Ini sangat penting karena banyak orang memiliki ide cerita atau ide karakter yang menurut mereka menarik jika dituangkan menjadi karya fiksi. Biasanya Anda akan bisa menulis bab-bab awalnya, setelah itu cerita rekaan tadi akan layu dengan sendirinya. Karena apa? Si penulis tidak tahu harus bagaimana mengakhirinya. Jangan hanya menulis dengan mengalir begitu saja tanpa mengetahui arah dan tujuan, atau Anda hanya akan membuang waktu saja. Jadi cukup masuk akal kalau kita melihat penulis kenamaan John Irving memilih untuk menulis novelnya dari ending/ akhir kisah, baru kemudian menulis bagian depan dan tengah.

2. Mulai dengan premis yang unik. Satu hal yang menyebabkan kisah fiksi menjadi membosankan dan datar adalah Anda sudah pernah mendengar atau membacanya. Kisah yang sudah klise akan membosankan bagi pembaca. Kisah Anda akan mudah ditebak dan pembaca tahu arah kisah Anda dan bagaimana akhirnya nanti. Ciptakan sebuah ‘twist’ baru dalam kisah yang sudah klise, misalnya. Atau ambil sudut pandang/ point of view yang segar dan berbeda.

3. Ketahui jalan ceritanya secara runtut dalam bentuk diagram. Saat Anda akan menulis karya fiksi, cobalah menyusun kausalitasnya, dari A ke B, lalu ke C dan D. Untuk itulah Anda perlu membuat diagram dengan panah sebagai penunjuk arah jalannya cerita. Para novelis sering menggunakan diagram seperti itu untuk mengingatkan mereka dengan plot cerita, yang kompleks. Makin rumit dan panjang ceritanya, makin diperlukan susunan jalan cerita agar Anda tidak ‘tersesat’ di jalan. Jadi nantinya Anda tahu hal-hal yang harus disebutkan dalam narasi Anda.

4. Kenali karakter Anda. Inilah yang cukup menantang bagi penulis non-fiksi seperti saya yang ingin mencoba menulis fiksi. Karena terbiasa dengan kisah-kisah yang nyata, menulis kisah rekaan membuat saya menjadi berimajinasi lebih tumpul. Membayangkan seseorang yang tidak pernah terlahir di dunia nyata apalagi menceritakan bagaimana kompleksitas karakter itu dalam berbagai kacamata sungguh sangat menantang dan melelahkan pikiran. JK Rowling memiliki cara ampuh untuk mengenali karakter-karakternya dengan lebih dalam. Ia
menggambarnya di kertas kosong agar memiliki gambaran lebih nyata tentang setiap karakter. Ya, setiap karakter! Bukan hanya karakter utama tetapi semuanya, termasuk latar tempatnya. Ketahuilah deskripsi karakter Anda, seperti tinggi dan berat mereka, tampilan fisik mereka, perangai, kebiasaan bicara dan makan mereka, dan sebagainya. Makin detil penggambarannya dalam narasi, pembaca akan lebih merasakan kehadiran karakter Anda dalam pikiran mereka. Seolah tertancap kuat di otak karena si penulis, yaitu Anda, menuliskannya dengan pemahaman penuh terhadap masing-masing karakter.

5. Utarakan momen yang paling penting. Inilah yang membedakan penulis fiksi dari penulis diari/ catatan sehari-hari. Jangan hanya tulis hal-hal rutin yang sudah biasa. Mungkin bisa dijadikan selingan saja tetapi berikan porsi lebih banyak untuk narasi hal-hal yang si karakter lakukan atau hal yang menimpa si karakter yang penting, yang mengubah hidupnya, yang mengubah dirinya dari orang yang, katakanlah, miskin menjadi kaya raya. Atau semacamnya. Inilah namanya “defining moment” atau saat yang menentukan karena penting dalam jalannya cerita.

6. Menulislah setiap hari. Manusia adalah apa yang ia lakukan secara berulang-ulang. Jika Anda mau menjadi seorang penulis fiksi, tulislah fiksi setiap hari. Entah itu berapa menit atau jam, yang penting Anda menyisihkan waktu untuk benar-benar menulis. Anda boleh saja berdiskusi atau mengobrol dengan teman sebelum menulis, tetapi pada akhirnya Anda harus duduk dan menuliskan apa yang ada dalam benak Anda ke kertas atau komputer karena yang membuat Anda menjadi penulis adalah kebiasaan menulis itu. Ini hanyalah soal pembiasaan.

7. Dengarkan gaya bicara orang lain. Agar Anda tidak terjebak dalam gaya menulis dialog yang itu-itu saja, Anda harus mempelajari gaya bicara orang lain di sekitar Anda dan menyesuaikannya untuk digunakan di karya fiksi Anda. Ada yang berpendapat makin tua seseorang, makin baik ia menulis fiksi. Alasannya karena orang itu lebih banyak bertemu dengan orang lain sepanjang hidupnya. Masuk akal kalau manusia 70 tahun bisa mengenal lebih banyak orang daripada remaja 16 tahun. Dan ini akan memperkaya narasinya. Tak merasa terlalu tua untuk menulis fiksi? Jangan khawatir. Bergaullah dengan sebanyak mungkin orang. Mungkin ini terdengar kontraintuitif bagi para penulis yang cenderung introvert atau tertutup dan tidak begitu suka pergaulan, tetapi cobalah untuk keluar dari zona pertemanan Anda yang sudah ada untuk mengenal lebih banyak orang baru agar Anda terekspos dengan lebih banyak tipe kepribadian yang kelak akan memperkaya cadangan fantasi Anda tentang karakter cerita fiksi yang paling ideal. Jika Anda kesulitan mempelajarinya hanya dengan mengingat gaya bicara dan kepribadian orang, cobalah menggunakan trik wartawan:merekam suara orang-orang yang sedang mengobrol. Saya kadang melakukannya dan menuliskannya menjadi sebuah tulisan. Hanya dari mendengarkan percakapan, sebuah narasi yang menarik bisa lahir. Anda tinggal memoles saja agar bahasanya lebih sesuai untuk ragam tulisan. Niscaya cerita Anda akan terasa lebih mengalir dan alami.

8. Berikan kepribadian pada karakter cerita Anda. Bagaimana karakter dalam cerita Anda bereaksi terhadap sesuatu? Apa yang ia akan lakukan dalam situasi-situasi tertentu? Di sini, pemahaman psikologis seorang penulis terhadap kepribadian manusia sangat membantu memperkaya ceritanya. Sebuah cerita yang memukau biasanya memiliki
karakter-karakter yang kepribadiannya sangat dalam sehingga pembaca akan selalu teringat dengan citra sang tokoh, terngiang-ngiang dengan kalimat-kalimatnya, dan sebagainya. Masalah yang sering ditemukan dalam karya-karya fiksi adalah penggambaran kepribadian karakter yang kurang mendalam sehingga terkesan hanya sepintas lalu dan kurang menancap di benak pembaca. Kebanyakan orang tidak akan peduli pada manusia yang tidak memiliki kepribadian yang unik. Di sinilah, penulis harus bekerja keras menonjolkan kepribadian masing-masing karakter dengan caranya sendiri.

9. Pastikan Anda menulis tentang hal-hal yang Anda ketahui dengan baik. Jika Anda belum tahu dan kenal dengan baik, lalau bagaimana caranya? Riset! Mengetahui suatu hal saja secara sepintas tidak menjamin Anda bisa menuliskannya dengan menarik. Anda perlu
mengenalinya lebih baik melalui penelitian. Tentu yang dimaksud penelitian di sini bukan penelitian ilmiah tetapi turun ke lapangan dan membuka semua indra Anda tentang objek yang akan ditulis. Jika tidak memungkinkan untuk menemukan objek itu secara langsung, coba membaca buku-buku atau sumber informasi lainnya tentang objek yang ingin ditulis atau yang ingin Anda singgung dalam karya fiksi Anda. Dalam jurnalisme, ada istilah “participatory journalism” yang di dalamnya sang pewarta terjun langsung agar bisa menyelami bahan yang akan ia tulis. Sama halnya dengan itu, penulis juga perlu melakukannya jika memungkinkan. Untuk menulis tentang balapan kuda, jangan sungkan datang ke arena pacuan kuda atau mengamati bagaimana orang-orang di pacuan kuda memasang taruhan mereka. Intinya, dengan terlibat atau mengamati langsung, Anda akan lebih mudah menemukan emosi dan pikiran yang khas dan hanya muncul di sebuah kondisi, tempat, dan sebagainya.

Cara Mengapresiasi Sastrawan

Di Ubud akhir pekan lalu, saya bertemu dengan seorang teman. Ia baru saja merilis sebuah buku puisi. Ia menawari saya buku tersebut. Ia merasa sangat bersemangat untuk memperkenalkannya pada semua orang yang ia temui di Ubud Writers Readers Festival (UWRF) tahun ini.

Edrida, begitu namanya, menawari saya,”Kamu mau beli?” Matanya berbinar-binar. Dan saya mengangguk. Ia makin tidak percaya saya ingin membeli karyanya.

Sekali lagi ia bertanya,”Benar? Mau beli???”

“Berapa?”saya bertanya padanya.

“Lima puluh enam ribu,”ia berkata dengan sedikit haru, masih dengan antusiasme lalu mengambil tas besarnya di sebuah sudut.

Saya kaget dengan reaksinya. Jujur saja, saya tidak mengharapkan reaksi yang demikian meluap-luap. Ia seakan tidak percaya ada yang ingin membeli karyanya, padahal ini bukan karya pertamanya yang diperjualbelikan. Ia sudah menerbitkan beberapa buku.

Usut punya usut, setelah mengobrol saya tahu ia mengeluhkan harganya yang cukup mahal menurut beberapa orang. Tetapi apalah artinya Rp56.000 jika saya bandingkan dengan sebuah kumpulan cerpen hasil suntingan editor negeri kanguru Angela Meyer yang dibanderol, ehem, Rp400.000 lebih. Padahal tebalnya sedang saja. Mutu kertasnya juga tidak istimewa sekali. Apakah karya di dalamnya sangat bermutu? Entah. Itu sangat subjektif dan saya tak bisa meneliti lebih lanjut isinya karena tidak ada sampel yang bisa dibuka untuk sekadar baca cepat.

Setelah ia menerima uang itu, saya berkata santai,”Kalau saya nanti menerbitkan buku, saya juga mau buku saya dibeli. Bukan dibagikan gratis.”

Membagikan buku secara gratis memang tragis. Ada teman saya yang seorang jurnalis Pertamina selama berpuluh-puluh tahun yang, entah terpaksa atau tidak, membagikan buku puisinya yang sudah diterbitkan secara cuma-cuma untuk para kolega dan kenalannya.

Saya merasa ini kurang benar. Kecuali jika sastrawan itu benar-benar ingin memberikannya secara gratis, orang-orang di sekelilingnya haruslah membeli buku itu. Bukan, bukan nilai nominalnya yang menjadi poin utama tetapi bagaimana apresiasi itu diberikan. Sastrawan itu merasa sudah dihargai, sudah dianggap ada, sudah dianggap bekerja dan sukses berkarya. Ini bukan semata-mata belas kasihan tetapi dalam sudut pandang yang lebih luas juga bisa dianggap sebagai upaya awal untuk menggiatkan dunia seni kreatif kita. Tolonglah jangan menyalin tanpa izin, memfotokopi seenaknya lalu membagikan ke siapa saja. Berikan setidaknya penghormatan atas hasil kerja mereka.

Saya tahu hidup penulis tidaklah mudah. Banyak yang harus berjuang setengah mati mencari nafkah. Lihat saja NH Dini di masa tuanya. Ia sudah produktif menulis sekian lama, toh di masa uzurnya masih saja menderita di dalam deraan keterbatasan finansial. Meski tak harus kaya raya bak JK Rowling, setidaknya Dini dan semua sastrawan dan penulis kita di Indonesia memiliki tingkat kesejahteraan yang lebih layak.

Edrida, seperti banyak penulis Indonesia lainnya, masih menunggu apresiasi kita. Apresiasi yang tak kunjung mengemuka. Malah apresiasi yang datang lebih banyak dari mancanegara. Ia ingin saya menerjemahkan buku puisinya. “Siapa tahu bisa diundang ke sana!,”jeritnya gembira.