Siapa Bilang Minat Baca dan Tulis Kita Rendah?

Kami sedang duduk mendengarkan wejangan seorang pria yang konon menjadi legenda hidup sastra nusantara. Kiprahnya memang tidak bisa dianggap remeh selama ini. Beliau dikenal sebagai pengajar, setidaknya begitu mulanya bagi saya. Tetapi kemudian saya sadar ia lebih dari sekadar seorang dosen luar biasa. Ia juga penyair kampiun. Sajak-sajaknya sudah melanglang buana ke mata jutaan pembca dan penikmat susastra nusantara kontemporer. Saya harus akui pengetahuan saya tentang kiprahnya sama sekali nihil.

Di depan, ia menggumamkan sesuatu. Apa yang ia ucapkan masih bermakna dan bisa diikuti dengan logika bahasa. Tetapi perkara artikulasi, saya mengamati adanya kemunduran di otot-otot lidah dan mulutnya. Proses menua yang alamiah. Dan saya sedang ia juga habis pulih dari sakit yang cukup serius. Jadi, kehadirannya di sini sudah bisa dikatakan suatu keajaiban. Tak heran seorang teman mengatakan ia tidak ingin mengecap usia panjang karena di dalam usia panjang, mesti ada ketahanan menjalankan roda kehidupan dengan sisa-sisa tenaga penghabisan di usia yang sudah petang, hampir malam, meredup, hingga akhirnya malam.

Meskipun secara fisik Sapardi sudah begitu turun dibandingkan sedekade lalu saat saya masih menjadi salah satu mahasiswanya di Universitas Diponegoro, saya masih menemukan bara dalam tatapan matanya. Jiwanya selalu belia, saya percaya.

Kemudaan yang tak kasat mata tersebut ia ungkapkan dalam pendapat dan sikapnya terhadap perkembangan dunia sastra saat ini. Pikirannya selalu progresif, tidak malu untuk menuruti perkembangan zaman tetapi seraya mencengkeram jatidirinya juga.

Menurut Sapardi, pemikiran kolot bahwa asal kualitas isi sebuah karya sastra itu tinggi, mau diberi sampul, judul, ilustrasi atau tidak dipromosikan sekalipun, pasti akhirnya akan laris juga. Hanya saja kenyataannya lain sekarang. Justru mereka yang yakin karya mereka bagus harus mengimbanginya dengan upaya pengemasan dan pemasaran yang tidak kalah garang dan sistematis. Karena mau tidak mau diakui, unsur-unsur nonsastrawi yang sering dipinggirkan oleh kalangan sastrawan jenis puritan zaman pra-digital.

Untuk menggambarkan sikapnya itu, ia mengatakan bahwa sekarang penerbit dan sastrawan perlu sekali membuka cara pandangnya agar tidak tergerus oleh arus zaman. Unsur kebaruan, inovasi dan kreativitas dalam mengemas isi karya sastra amat dibutuhkan agar lebih banyak pembaca potensial tertarik dengan karya yang ditawarkan. Karena jika sudah gagal menarik perhatian dari kulitnya, mana mungkin isi juga akan dikulik? “Ganti judul, ganti sampul itu penting juga,” tegasnya. Buku-buku lama yang sudah tak laku kini perlu dicetak ulang dengan pengemasan dan cara pemasaran yang lebih modern. Tidak cuma menunggu pembaca yang bisa menjangkau toko buku tetapi juga siapa saja di mana saja asal tersambung dengan internet.

Sebagai contoh nyata, pria yang tidak bisa menanggalkan topi pet dari kepalanya itu menceritakan peran elemen-elemen nonsastrawi itu pada keberhasilan penjualan buku-buku puisinya. Seperti sudah kita ketahui, genre puisi di pasar tidaklah begitu menguntungkan. Penggemar puisi cuma orang-orang tertentu. Namun, itu dulu. Sekarang dengan bantuan pemasaran digital di media sosial dan bahkan film, kita saksikan melejitnya puisi karya penyair muda Aan Mansyur. Puisi terangkat. Dan itu karena ia tidak berjuang sendiri tetapi terintegrasi dengan hal-hal lain di luar dunia puisi itu sendiri.

Dalam kasus Sapardi, ia mengakui bahwa buku puisinya yang semula susah laku di toko-toko buku, bisa lebih laris manis bahkan ditampilkan di rak best seller (yang membuatnya terkejut juga) karena dilibatkannya orang-orang yang terampil dalam mengemas konten agar lebih seksi dan menarik bagi para pembaca masa kini.

Sang sastrawan veteran ini juga menyerukan pada kalangan pegiat sastra dan perbukuan dalam negeri mengenai kemandirian dalam berkarya. Tiap kali Sapardi mendengar ada keluhan bahwa pemerintah tidak mempedulikan atau tidak membantu upaya-upaya menggiatkan industri perbukuan dan aktivitas literasi domestik, beliau mengaku kurang sependapat. Hendaknya kita semua jangan terlalu mengandalkan pemerintah. Secara spesifik beliau berpesan pada kalangan penerbitan agar tidak menggantungkan semua solusi pada pemerintah. Ada masalah apapun, ditujukan ke pemerintah, seakan pemerintah dewa yang bisa memecahkan semua masalah. Padahal jika kita cermati, pemerintah juga sebetulnya tidak akan berdaya tanpa dukungan semua elemen dari rakyat Indonesia. Pemerintah memang penting, tetapi peran rakyat juga sama krusialnya. Rakyat dalam hal ini mereka yang berkepentingan dalam dunia literasi dan susastra juga hendaknya turut aktif mencari solusi demi solusi dari masalah yang dihadapi bersama-sama. Tidak hanya berpangku tangan dan menunggu bantuan pemerintah. Lalu jika tidak ada solusi dari pemerintah, akan cepat menyalahkan pihak eksternal.

Sapardi mencontohkan bahwa di AS misalnya, dunia perbukuan bisa lebih bergairah dan berkembang pesat karena baik pemerintah dan kalangan pegiat perbukuan dari masyarakat umum sama-sama bekerja di jalurnya masing-masing dan saling bersinergi. Misalnya penerbit Penguin yang berhasil sukses dan menjadi sebesar sekarang itu juga bukan perusahaan penerbitan yang ongkang-ongkang menunggu bantuan pemerintah. Mereka bekerja keras sendiri juga di bidang-bidang yang mereka bisa, tanpa dibantu atau didorong pemerintah. Justru dengan independensi tersebut, nantinya penerbit akan lebih bebas dalam menentukan kebijakan dan arah langkahnya ke depan. Dengan menjadikan pemerintah sebagai induk semang, penerbitan berisiko hanya menjadi corong gagasan dan propaganda birokrat. Padahal hal itu amat riskan bagi perkembangan demokrasi dan daya pikir kritis bangsa. Karena di tangan status quo, sastra hanya akan menjadi komoditas legalisasi gagasan mereka.

Kembali ke Sapardi, ia menguak masalah besar dunia penerbitan tanah air, yakni strategi dalam menghadapi kebangkitan dunia digital. Untuk menghadapinya, alih-alih dipandang sebagai musuh, dunia digital (yang mencakup – tetapi tidak terbata dalam – internet, ponsel cerdas, tren e-book, media sosial) idealnya dianggap sebagai kawan. Demikian pesan sang sastrawan.

Jika di zaman sekarang, seorang pengarang karyanya gagal terjual laris padahal karyanya berkualitas, bisa dipastikan pengarang itu kurang cerdik. Dengan begitu banyaknya kanal media sosial yang tersedia secara cuma-cuma, memang konyol rasanya jika pengarang malah bersikukuh menghindarinya atau mengabaikannya. Dengan munculnya media sosial, pengaran dan penerbit justru harus melihatnya sebagai alat baru yang berpotensi mendongkrak produktivitas berkarya (baca: angka penjualan).

Sering kita baca dan dengar argumen dan klaim bahwa bangsa Indonesia memiliki minat baca yang memprihatinkan, rendah, kurang memuaskan, dan sebagainya. Karena daya baca rendah, kemampuan menulis pun menjadi pincang. Intinya, minat baca dan tulis bangsa kita perlu dipacu lagi.

Terkait ini, Sapardi menampiknya tegas. “Generasi sekarang itu malah lebih banyak membaca dan menulis dari generasi sebelumnya!” Sang begawan sastra ini menggarisbawahi, di balik klaim tersebut, ada pemikiran kolot bahwa jika tidak membaca tulisan yang tercetak di kertas, tidak bisa dianggap benar-benar membaca. Ini menurut Sapardi perlu diluruskan. Mereka sudah banyak membaca juga, tetapi mereka lebih banyak membaca di gawai daripada membaca buku fisik, sehingga generasi senior masih mencibir. “(Padahal) membaca di gawai sama membacanya juga,” tandas beliau.

Unsur selain konten yang juga berperan dalam keberhasilan sebuah karya sastra ialah pemilihan nama yang dipakai pengarang untuk ditampilkan di sampul bukunya. Pengarang tidak diwajibkan penerbit, publik pembaca atau pemerintah untuk menggunakan nama asli mereka sehingga terdapat ruang bereksperimen di sini. Salah satu contoh kasus yang membuktikan bahwa nama yang berbeda dapat memberikan efek yang berbeda terhadap persepsi dan respon publik mengenai sebuah karya sastra ialah saat J. K. Rowling menggunakan nama pena (pseudonim) Robert Galbraith dalam genre novel detektf (whodunnit). Saat menggunakan nama pena yang tidak dikenal, publik tidak merespon karya tersebut secara menggembirakan layaknya serial Harry Potter. Namun, begitu penerbit memberikan keterangan bahwa Galbraith ialah nama pena J. K. Rowling, angka penjualan novel kriminal tersebut melejit.
.
Kemunculan internet dan media sosial juga hendaknya tidak menjadi kambing hitam bagi menyurutnya pencapaian industri perbukuan dan dunia sastra. Sapardi justru menjungkirbalikkan pemikiran tersebut dengan menyatakan bahwa saat ini penerbit justru memburu para sastrawan, pencipta konten. Dengan adanya ruang berkreasi yang tanpa batas melalui kehadiran dunia maya dan media sosial, kreativitas sastrawan makin bisa dicurahkan, tanpa batasan-batasan yang seketat di masa penerbitan konvensional. Kalangan penerbit juga sebaiknya keluar dari zona nyaman dan terus mengeksplorasi berbagai peluang dan potensi penerbitan di ruang digital. (*)

Menyusuri Intisari Sastra Indonesia Abad ke-20

Screen Shot 2016-05-11 at 13.15.38Tanyakan pada generasi muda zaman sekarang mengenai asal mula sastra Indonesia dan bersiaplah untuk menganga karena sedikitnya atau bahkan tiadanya pengetahuan mereka mengenai hal tersebut. Keprihatinan pun menyeruak karena pengetahuan sastra sudah selayaknya menjadi bekal anak-anak muda terutama yang menekuni sastra untuk lebih mengenal bangsa ini dan jati dirinya. Terlebih lagi, sastra Indonesia abad ke-20 adalah masa perkecambahan yang amat penting dan berfungsi sebagai fondasi bagi sastra Indonesia kontemporer abad ke-21.

Untuk menjawab tantangan adanya jurang pengetahuan tentang sastra Indonesia di abad kemarin itu, Yayasan Lontar baru-baru ini meluncurkan proyek ambisiusnya yang kemudian berhasil menghasilkan empat buku super tebal:

  • John H. McGlynn, Dorothea Rosa Herliany, Deborah Cole, ed., Antologi Puisi Indonesia Pilihan Yayasan Lontar (Jakarta: Yayasan Lontar, 2016), +/- 850halaman.
  • The Lontar Anthology of Indonesian Poetry (Jakarta: Yayasan Lontar, 2016), +/- 550 halaman.
  • John H. McGlynn, Zen Hae, Andy Fuller, ed., Antologi Cerpen Indonesia Pilihan Yayasan Lontar, Jilid 1 dan Jilid 2 (Jakarta: Yayasan Lontar, 2016), +/- 625 halaman (Jilid 1), +/- 725 halaman (Jilid 2).
  • The Lontar Anthology of Indonesian Short Stories (Jakarta: Yayasan Lontar, 2016), +/- 550 halaman (Jilid 1), +/- 650 halaman (Jilid 2).

Pada dasarnya hanya ada dua karya tetapi dua buku lainnya yang berbahasa Inggris ialah versi terjemahan dari dua buku lainnya yang berbahasa Indonesia. Namun, tetap saja penerjemahan juga bukan pekerjaan yang sepele.

Dua jilid kumpulan cerpen ini memuat 109 fiksi pendek dari 109 pengarang yang pernah mengirimkan karya terbaik mereka ke media-media cetak masa itu yang diasuh oleh H. B. Jassin. Fokus penyeleksian yang hanya di koleksi Jassin ini sempat menuai kritik dari sastrawan Budi Darma yang menyarankan idealnya koleksi ini tidak cuma diambil dari karya-karya yang dikirimkan ke media ibukota asuhan Jassin tetapi juga mencari ke daetah-daerah karena menurut Budi karya-karya yang tak sampai ke media Jakarta juga bisa sama berkualitasnya. Hanya saja memang sang pengarangnya karena satu atau lain alasan tidak mengirimkan ke media cetak ibukota yang dipandang sebagai kiblat sastra Indonesia.

Sastra Indonesia yang bisa dinikmati dalam aksara Latin bermula muncul setelah sekelompok pemuda Indonesia yang beruntung mendapatkan pendidikan kaum penjajah Belanda menelurkan karya-karya mereka. Hingga menjelang akhir abad ke-19, tulisan fiksi pendek mereka ini dikemas dalam bahasa Melayu Pasar. Sebutan ini terbilang peyoratif menurut Zen Hai yang terlibat aktif dalam proyek ini sebagai kurator karya.

Beberapa dasawarsa pertama penulisan fiksi pendek berbahasa Melayu justru didominasi oleh sastrawan-sastrawan Cina Peranakan. Kemudian di awal abad ke-20 surat kabar beraliran nasionalis pergerakan seperti Sinar Hindia mulai memberikan ruang bagi cerita bersambung yang dipenggal menjadi 4-5 kali penerbitan. Kaum nasionalis kemudian makin aktif dalam upaya penerbitan pers dan penulisan fiksi pendek berbahasa Melayu.

Balai Pustaka kemudian berdiri sebagai reaksi dari maraknya bacaan liar di masyarakat saat itu yang didominasi karya sastra kaum Cina Peranakan dan Nasionalis abad ke-20. Balai Pustaka tidak mengizinkan adanya kritik pada pemerintah kolonial Belanda dan menyingkirkan segala macam bentuk unsur amoral dalam karya fiksi yang diedarkannya.

Dari kebangkitan Balai Pustaka itu, lalu kita mengendal kemunculan majalah sastra Panji Pustaka yang merupakan penerbitan pertama pemerintah kolonial Belanda untuk pembaca Melayu yang memberi peluang bagi penulisan fiksi pendek berbahasa Melayu tahun 1920-an. Muncullah beberapa sosok dari Sumatra yang menonjol di sini, misalnya Syuman H. S, Wachid Hasyim, dan sebagainya.

Salah satu ciri penting dari sastra Indonesia era pra revolusi 1945 ialah penggunaan bahasa Melayu. Bahasa Melayu ini sendiri sebetulnya terbagi dalam dua jenis: Melayu Kasar dan Melayu Riau (Melayu Balai Pustaka). Bahasa Melayu Riau ini dianggap berbahasa lebih baik daripada mereka yang berada di Jawa dan Sulawesi yang dipandang berbahasa Melayu lebih kasar. Periode inilah yang kemudian dimasukkan dalam kategori “Masa Permulaan hingga 1943” dalam buku Antologi Cerpen Indonesia Pilihan Yayasan Lontar. Masa ini berakhir begitu Jepang menjejakkan kaki di bumi nusantara.

Kemudian masa berikutnya ialah saat masa kemerdekaan atau masa revolusi hingga tahun 1965. Di jilid kedua termuat karya-karya yang dihasilkan selama masa panjang yakni masa Orde Baru dan seterusnya yang menurut Zen Hai merupakan masa paling kompleks dalam pertumbuhan sastra Indonesia sampai sekarang.

Zen Hae menceritakan bahwa dalam tahap awal proyek besar itu tersusun sedaftar pengarang Indonesia yang jumlahnya menembus angka 200 orang. “Akan tetapi karena pertimbangan ekonomi dan agar proyek ini bisa terus berjalan, setelah negosiasi dengan John McGlynn dan Andy Fuller maka kami sepakat menguranginya,” tegasnya dalam sambutan di depan hadirin acara diskusi buku dalam rangka peluncuran buku-buku ini.

Lebih detail, berikut ini ialah daftar pengarang yang karyanya dimasukkan dalam “Lontar Anthology of Indonesian Short Stories (LAISS)“:

  1. A’xandre Leo
  2. Bastari Asnin
  3. Kohar Ibrahim
  4. Asneli Lutan
  5. Jass
  6. Soelarto
  7. Bokor Hutasuhut
  8. Bur Rasuanto
  9. Chairul Harun
  10. Djamil Suherman
  11. Fadli Rasyid
  12. Gajus Siagian
  13. Jajak MD
  14. Julius R. Siyaranamual
  15. Kho Ping Hoo
  16. Kipanjikusmin
  17. M. Fudoli Zaini
  18. Marga T.
  19. Maria Amin
  20. Martin Aleida
  21. Matu Mona
  22. Mohammad Diponegoro
  23. Muhammad Ali
  24. Muhammad Kasim
  25. Nasjah Djamin
  26. Njoo Cheong Seng
  27. Nursjamsu Nasution
  28. Putu Arya Tirtawirya
  29. Rainy MP Hutabarat
  30. Ras Siregar
  31. Ray Fernandes
  32. Rusman Sutiasumarga
  33. S. M. Ardan
  34. S. N. Ratmana
  35. Satyagraha Hoerip
  36. Sitor Situmorang
  37. Sobron Aidit
  38. Soemantri (Synthema)
  39. Soewardi Idris
  40. Subagio Sastrowardoyo
  41. Titie Said
  42. Titis Basino
  43. Wildan Yatim
  44. Yusakh Ananda

 

Dan inilah daftar nama penyair yang karya puisinya dimuat di “Lontar Anthology of Indonesian Poetry (LAIP)” KOREKSI: Berikut ialah daftar nama penyair yang belum ditemukan kontak ahli waris atau belum mendapat izin dari pemegang hak ciptanya. Tulisan publikasi ini diharapkan bisa membantu menemukan kontak atau mendapatkan izin :

  1. Abrar Yusra
  2. Amal Hamzah
  3. Anas Ma’ruf
  4. Apip Mustopa
  5. Arifin C Noer
  6. Asrul Sani
  7. Basuki Gunawan
  8. Basyral Hamidy Harahap
  9. Bibsy Soenharjo
  10. Budiman S. Hartoyo
  11. Chairil Anwar
  12. D. W. Sijaranamual
  13. Dami N. Toda
  14. Danmeras Syamsudin
  15. Djawastin Hasugian
  16. Dodong Jiwapraja
  17. Dullah
  18. Emha Ainun Nadjib
  19. Fridolin Ukur
  20. H. D. Mangemba
  21. H. Munawar Kalahan
  22. Hamid Jabbar
  23. Hamidah
  24. Harijadi S. Hartowardojo
  25. Hidjaz Yamani
  26. HS Djurtatap
  27. Husain Landitjing
  28. Husni Djamaluddin
  29. Indonesia O’Galelano
  30. Intojo
  31. Isma Sawitri
  32. Jang Engelbert Tatengkeng
  33. Junedi Ichsan
  34. Kasim Mansur
  35. Kriapur
  36. Kuslan Budiman
  37. M. A. Iskandar
  38. M. Balfas
  39. M. Poppy Donggo Hutagalung
  40. M. Saribi Afn
  41. M. Taslim Ali
  42. M.A. Djoehana
  43. M.D. Asien
  44. M.D. Yati
  45. M.I. Nasution
  46. Magusig O Bungai
  47. Mahatmanto
  48. Mansur Samin
  49. Maria Amin
  50. Marius Ramis Dajoh
  51. Maskirbi
  52. Moh. Diponegoro
  53. Mohammad Hatta
  54. Motinggo Boesje
  55. Mozasa
  56. Muh. Rustandi Kartakusuma
  57. Muhammad Ali
  58. Muhammad Yamin
  59. N. Adil
  60. Nursjamsu Nasution
  61. Or. Mandank
  62. P. Sengodjo
  63. Purwa Atmaja
  64. Ridwan Siregar
  65. Rifai Ali
  66. Rita Oetoro
  67. Rivai Apin
  68. Rosni Idham
  69. Rustam Effendi
  70. S. Anantaguna
  71. S. Wakidjan
  72. S. Yudho
  73. Samadi
  74. Samiati Alisjahbana
  75. Sandy Tyas
  76. Sanento Yuliman
  77. Slamet Sukirnanto
  78. SM Ardan
  79. Subagio Satrowardojo
  80. Sugiarta Sriwibawa
  81. Suman HS
  82. Suparwata Wiraatmadja
  83. Supii Wisnakuntjahja
  84. Sutan Takdir Alisjahbana
  85. Sutardji Calzoum Bachri
  86. Syahril AL.
  87. Toto Sudarto Bachtiar
  88. Trisno Sumardjo
  89. Usmar Ismail
  90. Wahyu Prasetya
  91. Waluyati
  92. Yogi (Abdul Rivai)
  93. Yudhistira ANM
  94. Yusuf Sou’yb
  95. Z. Afif
  96. Z. Pangaduan Lubis

Chairil Anwar, Sang "Robin Hood" Jenius dari Belantara Persajakan Indonesia

Kata orang, ada tindakan mencuri yang baik. “Mencuri” salam, begitu jawab mereka. Tentu saja mencuri salam memang baik, karena siapa peduli salam Anda dicuri oleh orang. Toh, ia hanya kata-kata yang terlontar dengan mudahnya. Tak perlu banyak usaha. Sekali dua kali meniru, sudah bisa.

Mencuri sudah bukan barang aneh dalam dunia seni, sebuah dunia yang begitu dikenal mengagung-agungkan orisinalitas, keaslian, kreativitas yang murni dari hati dan mungkin sedikit “wahyu” dari Ilahi. Apalagi setelah kapitalisme meresap hingga ke inti, para seniman
berbondong-bondong meminta karya mereka dilindungi oleh negara melalui undang-undang hak cipta dan akhirnya konsep orisinalitas menjadi senjata ampuh untuk mempertahankan sumber penghidupan.

Membedakan antara “terilhami” (atau bisa juga dikatakan “terpengaruh”) dan “dengan sengaja mencuri karya orang lain” (plagiat) itu memang bukan perkara gampang. Karena yang benar-benar tahu hanyalah diri kita sendiri yang melakukannya. Sejuta alasan bisa disemburkan ke muka publik demi menyelamatkan muka pelaku tetapi tidak ada yang tahu itikad meniru itu sejatinya.

Akan tetapi jikalau saya ditanya bedanya, akan saya jawab pembedanya terletak pada sukar mudahnya peniruan itu dilakukan. Jika memang sangat mudah melakukannya dan sama sekali tak dibutuhkan upaya intelektual, waktu yang panjang dan tingkat kerumitan yang relatif rendah, kemungkinan besar itu cuma perkara plagiarisme murahan biasa. Sama seperti penulis blog yang menyalin tempel (copy and paste) artikel orang lain di blognya begitu saja tanpa merasa bersalah.

Isu ini turut mengemuka dalam pertukaran pikiran yang diadakan di acara diskusi “Blast from the Past” yang dihelat kemarin sore (22/3/2015) di Taman Ismail Marzuki dalam rangka Asean Literary Festival 2015. Musisi Ananda Sukarlan petang itu menanyakan tentang tuduhan plagiarisme yang diarahkan pada mendiang Chairil Anwar yang menulis sajak legendaris nan heroik “Karawang Bekasi”. Dikatakan bahwa sajak tersebut memiliki kemiripan yang mengejutkan dengan sajak berjudul “The Young Dead Soldiers” gubahan Archibald MacLeish, seorang penyair Amerika Serikat. Dugaan plagiarisme terhadap Chairil muncul begitu sajak MacLeish dimuat di majalah Reader’s Digest sekitar tahun 1946-47, kata Hasan Aspahani yang menulis buku tentang kehidupan sang penyair kenamaan itu.

Sebagai musisi, Ananda mengambil kasus dalam dunia musik. Curi mencuri juga sudah jamak di dalam dunia musik. Dan salah satu musisi yang bernama Stravinsky begitu menunjukkan dukungannya pada plagiarisme dengan sengaja berkata:”Komposer hebat tidak meminjam tetapi mencuri!”

Hasan mengatakan sajak “Karawang Bekasi” ditulis tahun 1948 saat Agresi Militer Belanda II berkobar. Kedua kota itu diluluhlantakkan Belanda untuk mendesak tentara Indonesia keluar dari Batavia. Bekasi menjadi titik terdepan bagi tentara kita untuk bertahan. Saat tentara Inggris mendarat, para pemuda Indonesia menyerang mereka. Sekitar 20 tentara Inggris pun tewas begitu saja, yang membuat geram NICA (Inggris dan Belanda) sampai Bekasi dibombardir habis-habisan. Chairil berada di Karawang — tempat asal sang istri — dan menjadi saksi mata sekaligus pelaku dan pencatat peristiwa bersejarah dan berdarah itu dalam larik sajaknya. Begitu dahsyatnya peristiwa itu hingga muncul dorongan kuat dalam diri Chairil untuk menulis (atau lebih tepatnya menyalin dengan kreatif) sajak, hingga lahirlah “Karawang Bekasi” yang dibuat untuk menyemangati semangat para pejuang di era Agresi Militer Belanda I dan II yang begitu dahsyat.

Adapun sajak “The Young Dead Soldiers” ditulis MacLeish untuk menyemangati tentara Amerika Serikat. Ia menulis sajak itu dan menyerahkannya pada badan propaganda AS. MacLeish menolak namanya disebut sebagai pembuat saja karena ia ingin sajaknya menjadi sajak semua orang. Jadi jangan sampai namanya menjadi penghalang bagi orang untuk tersemangati oleh sajak tersebut.

Menurut Hasan, Chairil bukan semata-mata menjiplak sajak MacLeish. Ada bukti-bukti upaya Chairil yang juga tidak kalah hebat untuk membendung pengaruh MacLeish dalam sajak “Karawang Bekasi”. Di antaranya adalah perbedaan penggunaan kata “mereka” (they – kata sapaan orang ketiga jamak) di sajak MacLeish menjadi “kami” (we – kata sapaan orang pertama jamak) di sajak Chairil. “Kalau ini mencontek, tinggal terjemahkan saja. Selesai. Tetapi tidak! Chairil mengganti sudut pandangnya. Menurut saya, ini (sajak “Karawang Bekasi”) adalah saduran yang jenius,” tegas Hasan. Setelah diketahui ada kemiripan itulah, sajak “Karawang Bekasi” yang semula dilabeli sajak asli perlahan diturunkan derajatnya menjadi sajak saduran.

Asrul Sani, sahabat dekat Chairil, juga membantu menjelaskan duduk perkaranya dalam sebuah surat pembaca yang konon kata Hasan
dikarangnya sendiri. Asrul mengirimkan sebuah surat berisi pertanyaan dengan nama palsu untuk ia jawab sendiri terkait tuduhan plagiarisme Chairil dalam sajak “Karawang Bekasi”. Menurut Hasan, cara pembelaan Asrul juga tidak kalah jenius. Ia menyimpulkan bahwa esai bernada pledoi dari sang sahabat itu adalah:” Terpengaruh? Iya. Menjiplak? Tidak.”

Penyair kontemporer Joko Pinurbo menimpali bahwa Chairil mampu tetap tenang tatkala menulis sajak perjuangan seperti itu. Kecerdasan puitisnya tidak hilang, ujar Joko. Dan ia adalah pencuri yang paling ulung.

“Soal mencuri buku tidak ada nilainya bagi saya tetapi mencuri ilmu, mencuri teknik persajakan penyair-penyair lain, itu yang patut kita pelajari darinya. Sampai orang tidak sadar itu sajak curian,” ungkapnya. “Pencuri yang baik adalah pencuri yang sanggup membuat pembaca tidak sadar bahwa itu adalah pencurian. Ia menerjemahkan puisi tetapi terjemahannya menjadi lebih indah dibandingkan karya aslinya.” Bagi Joko, kebiasaan pencurian buku Chairil menjadi sebuah metafora, meski memang tidak dapat disangkal menjadi bagian dari fakta hidup sang pujangga.

(Sumber foto: Wikimedia)