Seperti Apa Tubuh Ideal Seorang Yogi agar Dapat Kuasai Semua Asana dengan Mudah?

Setelah membaca sebuah artikel dan data tentang dimensi tubuh rata-rata para pesenam yang berlaga di ajang Olimpiade dan memenangkan medali emas, saya mengetahui mengapa tubuh para pesenam unggulan itu rata-rata pendek. Makin pendek, bisa dikatakan berpeluang makin baik dalam arena kompetisi senam. Dan memang demikian adanya.

“Manlet”: Si Pendek Kekar yang Proporsional

Seorang pesenam pria asal Slovenia bernama Leon Stukelj yang memenangkan medali emas terakhirnya di usia 37 tahun tingginya hanya 5 kaki 5 inci, sebuah ukuran tinggi badan yang tergolong kurang bagi standar ras Kaukasia. Leon memiliki sejarah karir yang panjang di laga Olimpiade dan meninggal 4 hari sebelum ulang tahunnya yang ke 101. Menakjubkan bukan?

Sementara itu, pesenam Kohei Uchimura dari Jepang pemenang medali emas Olimpiade malah tinggi badannya cuma 5 kaki 3 inci. Meskipun secara fisik kedua pesenam pria ini sangat bugar dan baik, masing-masing tampaknya memiliki kelebihan dan kelemahan tersendiri. Tubuh Leon (di tahun 1924) lebih tinggi 2 inci tetapi bahu dan lengannya kurang berotot. Kohei (tahun 2012) lebih pendek tetapi memiliki bahu dan lengan yang lebih kokoh. Hal itu mungkin karena pengaruh latihan sehari-hari yang berbeda. Menurut pengamatan sekilas saya, Leon lebih mengandalkan ketangkasan dan Kohei lebih banyak menjurus pada kekuatan tubuh bagian atas.
image

Disimpulkan pula bahwa dari pengukuran indeks massa tubuh yang dilakukan pada para atlet senam ini, trennya dari masa ke masa menunjukkan penurunan (sumber: Mag Bodies). Kohei, misalnya, hanya memiliki indeks massa tubuh sekitar 20. Dan sebagai perbandingan, indeks massa tubuh pria Amerika Serikat ialah 32 di era yang sama. Apakah ada hubungannya dengan pola latihan atau pola diet, jenis makanan yang dikonsumsi sehari-hari? Hmm, tampaknya dibutuhkan penelitian lebih lanjut tentang hal itu.

Perihal tinggi badan, para atlet senam secara umum berperawakan pendek. Dengan tubuh yang lebih kecil, gerakan seorang pesenam akan jauh lebih efisien. Masih menurut data yang disusun Mag Bodies, dibandingkan tinggi badan rata-rata atlet pria cabang olahraga lainnya di Olimpiade, tinggi rata-rata atlet senam berada di jajaran terbawah. Mereka lebih kecil dari kebanyakan olahragawan sampai sebagian orang menyebut pesenam laki-laki ini sebagai “manlet” (dengan analogi babi “pig” dan anak babi “piglet”). Tetapi kebugaran dan bentuk tubuh secara keseluruhan atlet-atlet senam ini tidak perlu diragukan lagi. Mereka tampak lebih proporsional dan kokoh meskipun kecil dan pendek.
image

Bagaimana dengan YOGI?

Menilik dari dunia senam, saya pun tergelitik untuk melontarkan pertanyaan yang serupa:”Seperti apa tubuh ideal seorang yogi agar ia mampu berasana demikian lincah, kuat, lentur dan memiliki daya tahan yang tinggi pada saat bersamaan?”

Pernah suatu kali seorang teman bercerita ia mengetahui kelenturan di atas rata-rata seseorang dari caranya duduk saja. Saya pikir, hebat sekali dia! Tetapi apakah mengetahui kepiawaian seseorang beryoga (baca: berasana) bisa dilakukan tanpa harus melihatnya berasana? Entahlah, saya belum pernah mencoba dan memang mustahil untuk memberikan vonis pasti itu. Di saat bertemu teman-teman yoga baru, sering saya mendapati ‘kejutan-kejutan’ yang sebetulnya tidak mengejutkan tetapi terasa mengejutkan karena saya sudah memberikan cap pada seseorang dengan berdasarkan pada penilaian sekilas bentuk dan proporsi tubuhnya. “Ah, dia berpinggul lebar dan besar pasti dia tidak bisa headstand,”batin saya, tetapi orang itu bisa. Di kesempatan lain, saya mencap seseorang,”Wah, lengan, bahu dan telapak tangannya kokoh dan besar, pasti dia bisa handstand dengan mudah!” Begitu gumam saya suatu saat melihat seseorang di kelas tetapi ternyata jangankan handstand, teman tersebut saja kerepotan saat melakukan bakasana (bird pose).

Pengamatan saya pun selama ini menghasilkan satu hipotesis: tinggi badan seorang yogi idealnya tidak lebih dari 170 cm agar bisa bermanuver dengan lebih leluasa. Ambil contoh guru yoga dari AS Kathryn Budig yang memiliki bentuk badan yang lumayan pendek (untuk standar Kaukasia) dan berpinggul besar (saya pernah menonton dan membandingkannya dengan tubuh para muridnya yang lebih tinggi dalam sebuah video yang menunjukkan ia saat mengajar). Tetapi ia mampu mengimbangi besarnya tubuh bagian bawah dengan kekuatan tubuh bagian atas yang membuat Budig cukup lihai di pose-pose arm balance yang membutuhkan tangan, lengan dan bahu yang kuat serta inversi. Sementara itu, Tiffany Cruikshank yang pernah saya temui di Namaste Festival 2013 tidaklah begitu semampai, mungkin maksimal hanya 170 cm atau 5 kaki 5 inci. Dan lain dari Budig, hampir tidak ada lemak di tubuh Cruikshank. Kekuatan ototnya baik tetapi tidak sampai tampak kekar sekali. Pas. Femininely strong. Briohny Smith juga tergolong pendek. Ia lebih pendek dari suaminya Dice, yang membuat saya yakin ia hanya bertinggi badan cuma 160-an cm. Jarang sekali saya menyaksikan guru yoga yang hebat berasana tetapi badannya tinggi besar seperti model catwalk. Bahkan Dice Iida-Klein juga tidak setinggi yang saya bayangkan. Hanya dalam kisaran 5 kaki 6 inci atau 170 cm lebih tetapi tidak sampai 6 kaki atau 180-an cm. Dan ketrampilan berasana Dice patut diapresiasi. Di sisi lain, guru yoga yang berfokus pada nafas Leslie Kaminoff tingginya menjulang sampai lebih dari 6 kaki! Saya tahu karena saya pernah berfoto dengannya dan ia begitu semampai di samping saya. Dan saya amati Kaminoff tidak begitu piawai dalam berasana, tetapi ia memiliki kelebihan sendiri yaitu pranayama dan metode berasana yang lebih aman (baca: tidak bermanuver gila-gilaan dengan menekuk, memelintir atau membalik tubuh). Hipotesis itu pun makin solid saat saya menyaksikan Kaminoff melakukan kayang (urdhva dhanurasana). Struktur tubuhnya yang tinggi besar dan kokoh yang tipikal pria
Kaukasia usia senja membuatnya kesulitan untuk mencapai posisi kayang yang sepenuhnya.

Lalu apakah simpulan dari penelitian di dunia senam bisa diterapkan juga di yoga? Menurut hemat saya, bisa. Dalam aspek tinggi badan, seorang yogi atau yogini akan lebih mudah melakukan berbagai asana jika ia berpostur sedang atau pendek. Terlalu semampai, sekitar 180 cm lebih, akan menyulitkan karena efisiensi tenaga akan jauh lebih sukar dan menantang. Secara kasar, tinggi badan antara 150-170 cm mungkin lebih ideal karena berada di kategori sedang, tidak terlalu pendek dan tidak juga sangat tinggi.

Untuk berat badan akan sangat relatif, karena berat seseorang bisa berarti lemak (baca: kendala yang memberatkan badan dalam berasana) atau otot (baca: faktor penting dalam melakukan sejumlah asana yang menantang dan membutuhkan kekuatan luar biasa). Seseorang dengan berat badan yang sama bisa memiliki tinggi badan yang berbeda dan perawakan yang berbeda pula.

Menghakimi apakah seseorang yogi yang hebat dari dimensi fisik memang agak dangkal rasanya. Tetapi karena yang diukur adalah aspek fisik yoga (penguasaan asana), kita tidak bisa menghindarinya.

When a Yogi Falls Sick…

English: Praveen Gurukkal from Kalarickal Ayur...
English: Praveen Gurukkal from Kalarickal Ayurveda shows the use of Yoga in Kalari practise. (Photo credit: Wikipedia)

…Everyone would think one of these:

1. “Look at him. In spite of being thin, he would never listen to me. Eat a lot, for God’s sake! What is going through his mind? Does starving himself really pay? So eccentricly addicted to healthy life style. What’s the point of that? Now he’s sick and ..oh…poor wretched petite bony boy.”

2. “What is wrong with him? He’s been so fit so far and just as suddenly he declares he gets sick. That must have to do with the changing seasons.”

3. “If yoga can heal people, he should be able to cure himself. Well, he is supposed to be… Let him be.”

4. “He must have bent too much, twisted his body too often. ”

5. “He’s a human. That happens. It’s not like he gets sick every week or month. His sickness is once in an entire year. Why worry?”

6. “If that usually healthy and agile man can fall sick, how about me?? With all these abundant daily consumption of fried foods, sugary bread, greasy carnivore diets… Ah, leave it to God, and my insurance company. The world keeps spinning.”

7. “He needs bear hugs and intimate chats, I suppose. Let see if I can be of help.”

8. “He must’ve cheated on the diet plan too often.”

9. “His chakras may be clogged. He needs to fix them all.”

10. “He ought to a physician nearby.  He can heal on his own with Ayurveda but that’ll take much longer time. ”

 

Manfaat 5 Jenis Asana/ Pose Yoga

image

Sekadar berbagi saja bagi Anda yang suka beryoga tetapi belum mengetahui khasiat kesehatan masing-masing jenis gerakan yoga yang dilakukan. Dan bagi yang belum pernah beryoga dan belum tertarik mencoba, mungkin Anda akan menyukai yoga setelah membaca ini. Silakan menyimak manfaat-manfaat yang kita bisa tuai dengan melakukan 5 jenis asana berikut ini.

1. Asana berdiri: Pose-pose berdiri seperti tadasana atau pose gunung memberikan vitalitas, energi, semangat. Jika ditambah dengan gerakan mengangkat tangan, detak jantung akan makin meningkat dan menambah semangat. Karenanya, pose-pose jenis ini sangat bagus dilakukan di pagi hari, saat kita membutuhkan penambah semangat. Daripada minum kopi atau teh, lakukan saja pose-pose yoga berdiri untuk menambah semangat. Lebih sehat dan tidak menguras air dalam badan.

2. Asana duduk: Pose duduk seperti paschimottanasana (melipat tubuh ke depan), vajrasana, atau sukasana yang mudah dan bisa dilakukan semua orang membuat kita yang melakukan menjadi lebih tenang. Calm, begitu kata orang Barat.

3. Asana memutar: Memutar atau yang disebut twisting sangat bagus untuk membersihkan (cleansing and detox) organ-organ dalam misalnya organ pencernaan yang setiap hari kita kotori terus dengan memasukkan makanan dan minuman yang belum tentu menyehatkan tetapi malah membebani tubuh. Jika Anda suka menderita sembelit misalnya, cobalah melakukan pose-pose memilin torso atau batang tubuh sehingga organ pencernaan terstimulasi dan akhirnya terdorong untuk mengeluarkan material sampah dan racun di dalamnya. Ditambah dengan pola makan yang sehat dan asupan air yang mencukupi, pose memilin tubuh akan mengusir sembelit. Niscaya…

4. Pose melompat: Dalam melakukan yoga, kadang dilakukan lompatan-lompatan, seperti saat kita harus beralih dari downward facing dog (adho mukha svanasana) menuju half forward standing bend (ardha uttanasana). Di sini, ketrampilan dan kelincahan (agility) kita diasah.

5. Pose terbalik / inversi: Melakukan pose yang membuat posisi jantung ada di atas kepala memacu detak jantung lebih cepat dan bagi banyak orang, asana semacam ini relatif menantang karena risiko terjatuh, terbalik, pusing, berkunang-kunang dan sebagainya membuatnya terasa ‘menakutkan’ dan harus dihindari dengan segala cara. Padahal rasa pusing, takut itu jika dihayati dengan sebaik mungkin dan dilakukan dengan tidak berlebihan akan membuat kekuatan mental kita lebih baik daripada sebelumnya dan yang pasti membuat kita menjadi lebih pemberani dalam menghadapi tantangan dalam kehidupan. Mencoba sesuatu yang baru akan terasa lebih mudah, terutama bagi mereka yang suka zona nyaman (siapa yang tak suka dengan zona nyaman?).

 

Mengenal Nafas Ujayyi (Ujayyi Pranayama) dalam Yoga

“Ujayyi” artinya “victorius”  atau kemenangan. Ada juga yang mengartikannya sebagai nafas penakluk (conqueror breath). Ujayyi pranayama atau ujayyi breathing merupakan salah satu teknik pernapasan dasar dalam beryoga. Teknik ini dilakukan dengan sedikit menekan epiglottis (tempat kita merasakan sensasi batuk atau berkumur) ke langit-langit mulut dan tetap menjaga aliran nafas keluar dan masuk melewati hidung. Jika sudah berhasil, biasanya nafas kita akan terdengar bersuara lembut namun kuat seperti hembusan angin yang melewati dedaunan di tepi pantai. Devi Asmarani dalam bukunya “Yoga untuk Semua” menggambarkan pernafasan ujayyi sebagai “suara berdesir halus dari daerah tenggorokan seperti ketika tidur nyenyak”.

Teknik ini menjadi teknik yang paling umum digunakan dalam Hatha yoga. Ujayyi breathing berguna untuk mempertahankan asana yang sudah dicapai agar lebih kuat dan stabil. Kita akan rasakan dada sedikit menggembung.

Menurut sebagian ajaran yoga, teknik pernafasan ini akan dapat dikuasai dengan sendirinya dari waktu ke waktu, jika yogi/ yogini membiarkan pernafasannya bebas mengalir dalam melakukan praktik asana, bahkan yang paling menantang sekalipun.

Efek ujayyi breathing ada 3 menurut Mark Stephens:

a. Nafas menjadi hangat saat hanya bernafas melalui hidung, paru-paru pun menjadi hangat, darah pun demikian. Sangat berguna untuk membangunkan tubuh dalam melakukan gerakan alaminya dalam melakukan asana.

b. Suara dan sensasi ujayyi membantu mempertahankan kesadaran (awareness) pernafasan agar tetap mengalir konstan, nyaman, dan seimbang.

c. Suara yang ritmis/ berirama dari pernafasan ujayyi membantu menenangkan syaraf yang tegang dan membantu latihan yoga menjadi lebih terfokus pada diri kita sendiri, bukan ke lingkungan eksternal.

Pada intinya, pernafasan ini sangat berguna untuk memantau kualitas dan tekstur nafas kita selama berlatih (Asmarani: 7, 2011).

Cara mengajarkan ujayyi breathing pada murid:

– Duduk dalam posisi yang nyaman di kedua tulang duduk dan batang tubuh tegak, bahu turun, jauh dari telinga. Sikap tubuh rileks. Kedua kaki bersila dengan senyaman mungkin.

– Mulai menutup mata perlahan dan fokus ke nafas tanpa berusaha menguasai keluar masuknya nafas. Nafas rileks.

– Tarik nafas dengan menegangkan tenggorokan dan rasakan pita suara kita bergetar. Inilah yang dikatakan sebagai ‘tekstur nafas’ karena seolah-olah kita dapat meraba nafas dari getaran yang ditimbulkannya.

– Rasakan sensasi bernafas dengan getaran ini di seluruh badan. Konsentrasi penuh ke nafas dan rasakan apa yang tengah terjadi pada tulang belakang. Perubahan panjang pendek tulang belakang saat tarik dan hembuskan nafas menjadi salah satu fokus kesadaran.

– Di antara tarikan dan hembusan nafas, tekan tulang belikat ke arah batang tubuh untuk mengangkat dada. Hembuskan nafas pelan sambil rasakan sensasi memanjang pada tubuh.

– Lakukan smavritti pranayama atau bernafas dengan htungan yang sama dan konstan. Tarik nafas dan hitung dalam hati: 1, 2, 3, 4. Lalu keluarkan nafas dengan hitungan yang sama pula.

– Lanjutkan dengan hitungan yang sama hingga dapat dirasakan perpanjangan hitungan menjadi misalnya 5 banding 5 dan seterusnya. Artinya 5 hitungan/ ketukan nafas masuk dilanjutkan dengan 5 hitungan nafas keluar.

– Fokus pada jeda di antara tarikan dan buangan nafas yang dinamakan “Kumbaka” (retention/ penahanan nafas). Anda bisa memulai jeda 1 sampai 3 ketukan sebelum membuang nafas. Pastikan saat melakukannya badan tetap santai, tidak tegang.

– Setelah beberapa putaran, kembalikan nafas normal kita. Bila kepala terasa pusing atau lelah, berbaring dalam posisi savasana.

Growing Myself in Yoga Teacher Training

You have to grow from the inside out. None can teach you, none can make you spiritual. There is no other teacher but your own soul.“- Swami Vivekananda

On the second day of my first week (of four), I gradually found that this is not only a school of intellect,skills, expertise but also of self growth. It is definitely an opportunity to let myself grow. It is definitely an opportunity to let myself grow. It is a kind of growth that I choose myself. It isn’t because I have to, or I’m obliged to, or I must because of any other people’s willingness. It’s definitely the path I chose to be on.

While the vastness of the knowledge of yoga is infinite, I also found that it’s also connected to the whole aspects of life. Its depth and widths are inmeasurable.

This morning I again learned how to be more understanding and wise to others. Being judgmental is of course humane but wisdom is divine. Just because I can, it doesn’t necessarily mean others can do the same, and vice versa. And I really can relate to what my guru said, “ Do yoga on your OWN degree. Do it 100%.” Don’t struggle so much you injure yourself but never succumb too fast and too early. It is the pain that propels us to grow, not only physically, but also mentally, psychologically, and at last spiritually.

It dawned on me too that the Teacher Training has become a lot like the incubation center of transforming myself into a new “me”. I may not become the greatest yoga teacher but I am happy and content enough as there is so much wisdom to absorb, abundant life lessons to learn, and unnecessary, old, irrelevant insights that I have to unlearn. Maybe someday I will be a yoga teacher but even if I will not, I will still practice on my own. I don’t aim solely at that (i.e. becoming a yoga teacher, and earning money from teaching). It is too shallow of me to focus only on the financial aspects because I strongly believe that yoga is more than that.

The fact that I relatively deal with fewer challenges while doing ‘difficult’ asanas opens my eyes that learning yoga is not merely a mastery of asanas. Here a full grasp of philosophical foundations of yoga is equally essential to both a yoga teacher and student.

In spite of harmony, I also discover contradictions like yin-yang. While I always believed that yoga ractice should NOT involve any pressure, I deal with the fact that some degree of pressure is used to become a yoga teacher or even a yoga student. This non-pressure principle is closely related to non-competition principle very much, to me. Eventually, I must come to terms with the reality that even in yoga, we cannot get rid of that ‘competition’ thing. There is always a set of standards to achieve, which leads to an atmosphere of competition. Who surpasses the standards faster deserves praise. There is always a mission to accomplish. Yet, I realize that standards and missions in turn entail discipline and hence the pressure.

Talking about pressure and self growth, humans need pressure, in the right amount of course, to keep growing. Once the pressure is higher, one can make or break. One can either become a better person or a worse one. Perhaps even if I fail to make and have to break now, may the failure bring me to greater success.

Namaste…

Menjaga Kesehatan Mental dengan Beryoga

Perkembangan teknologi seperti pisau bermata dua. Di satu sisi, ia membawa banyak manfaat. Dan di sisi lain, ia membuka celah masalah baru. Salah satu masalah yang paling menonjol dalam  kehidupan manusia yang diakibatkan paparan dengan teknologi ialah kesehatan mental yang tak lagi seimbang. “Begitu banyak orang depresi sekarang. Itu karena kita terlalu banyak terfokus pada hal-hal di luar diri kita, termasuk di dalamnya adalah TV, smartphone, dan lain-lain,” kata Rustika Thamrin pagi tadi (14/10/2012) di sesi berbagi Yoga Gembira, Taman Suropati, Menteng, Jakarta Pusat. Topik ini berkaitan erat dengan Hari Kesehatan Mental Sedunia 10 Oktober 2012 yang baru saja berlalu minggu ini.

Menurut Rustika yang pakar psikologi itu, tak heran kita menjadi melupakan eksistensi atau keberadaan diri kita sebenarnya. Self-awareness atau kesadaran diri menurun. Sebagai konsekuensinya, orang makin sibuk untuk mengisi kekosongan dalam jiwa mereka dengan memburu ‘kebahagiaan’ di luar diri mereka. Sayangnya kebahagiaan eksternal itu tidaklah sejati. Semu dan temporer belaka.

Yoga dapat menjadi satu solusi bagi manusia modern yang telah kehilangan jati diri dan keseimbangan hidup dengan mengajak kembali melihat ke dalam diri. Yoga memberikan jalan bagi kita untuk melihat ke tubuh kita sendiri dan mengamati emosi-emosi yang muncul dan untuk kemudian membiarkan semua itu pergi karena kita tidak perlu menganalisisnya atau menghakiminya, ujar Yudhi Widdyantoro, pendiri Social Yoga Club atau Yoga Gembira. Menelisik kembali ke dalam diri juga menjadi bagian penting dalam mindfulness therapy yang kata Rustika selaras dengan prinsip yoga.

Satu pembahasan yang menarik oleh Rustika ialah ciri utama orang yang bermental sehat yang bisa kita gunakan untuk mengukur kesehatan mental kita masing-masing. Orang yang bermental sehat umumnya memiliki kemampuan untuk menertawakan dirinya sendiri. Mereka yang defensif (yang kurang sehat mentalnya), kurang mampu menertawakan diri sendiri tetapi justru melimpahkan ketidakberesan atau masalah dalam dirinya pada orang lain.

Kita juga diajak untuk tersenyum lebih banyak demi meningkatkan kesehatan mental. Mengapa harus tersenyum? Saat seseorang tersenyum kemungkinan besar ia merasa senang, terang Rustika. Dan saat seseorang merasa gembira tanpa ada tekanan, limbic system dalam tubuh akan terbuka dan saat itulah,informasi akan masuk dan terolah dengan lebih baik. “Pada gilirannya daya ingat jangka panjang kita akan membaik pula. Ini akan mencegah kita lebih mudah lupa dalam kegiatan sehari-hari akibat kebiasaan multi-tasking,” tambahnya.

Dalam kesempatan tersebut, Rustika juga menambahkan perlunya biodansa (dansa kehidupan) yang bisa menghubungkan diri kita dengan mereka yang ada di sekitar kita. Digabungkan dengan yoga yang menekankan pengenalan diri sendiri, biodansa menjadi langkah penyempurna berikutnya untuk mengenal dan terhubung dengan lingkungan sosial. Keduanya memungkinkan kita menjaga keseimbangan dan kesehatan mental baik dari sisi internal dan eksternal.

How Integrity May Mean The Entire World to Yogis and Writers

The debacle of a genius: In some way, I can relate to Jonah Lehrer’s journalism faux pas (or misdeeds?). I know how it feels when people around you want more new things to read or listen from you every single day. The lesson learned? Humans’ creativity, even geniuses’, is limited. Admit that you’re tired, exhausted at all. Maybe that is much better than running ragged and settle for mediocrity. Or not? You be the judge.

Like most young people, I have been listening to an elderly tycoon who keeps repeating the significance of integrity in every step taken in this life. Truthfully, I got sick of that. Who doesn’t? It sounds like a broken old tape to my ears. But that was before I realize that the absence of integrity , or even a meager amount of integrity violation, means the end of the world to some people.

Because I also work in journalism world, let me  take Jonah Lehrer as an example. This 31-year-young author and public speaker has triggered massive outrage in the past few months. He is said and proven to have committed two big sins : fabrication of Bob Dylan’s quotes and (self?) plagiarism (source: slate.com).

And because I also love doing yoga, let me scrutinize also what John Friend has done to his integrity affairs. I am not a staunch fan of anusara yoga yet it is one of yoga schools, though it originated partially from the ancient yoga in India. Friend is accused of committing intimate sexual rituals related to the modern pagan religion of Wicca.

Both cases offer invaluable lessons to learn. I find it easy to relate to these two heroes-turn-zeroes disasters. I am not saying I am as successful or widely known as mr. Friend and mr. Lehrer but I just want to emphasize the fact that anyone – whether or not s/he is famous or talented or intelligent – cannot be immune to the peril of lust, which is part of being a human being, and lie resulted from indolence.

It’s completely irrational to see other people who seem to possess everything you want without warning and sound reason excuses making the same mistake repeatedly, which at last strip them off what they previously earned for years with so much hard work. It’s tragic on one hand, and fair on the other hand.

And suddenly it dawns on me, once someone finds out and can exploits your list of sins for the sake of anything (some say for the sake of scientific objectivity or moral purity, but really how many of us can figure it out that way?), your life so to speak is over as a member of a certain society. It’s an utter disgrace that time cannot seem to heal rapidly.

Nevertheless, in the era of instant gratification and self indulgence instead of essence and real substance, it proves to be much easier for people to forget and forgive.

New Entrepreneurial Success Formula: "Yoga + Startup + Geeks = Productive Business"

I don’t work for startups but I know how it feels to be part of the startup grind. Your daily routines would include typing all day long, eyes being glued to the screen of your laptop or smartphone, and sitting for hours from dawn till dusk. All you can eat is anything tasty that can be served fast. You may forget drinking for hours because of the low temperature of the room you’re working in. At the end of the day you feel like your body is aching from head to toes. And to add more to the severity of the unhealthy life style, you work till the early morning and wake up after 10 or 11 am. Caffeine is your best friend. The pattern goes on and on until you find yourself badly near-sighted, feeble both physically and mentally. You then may realize you start lacking the power to perform physically demanding tasks, lacking physical strength and energy. Some people oddly enough can endure such a life style for years, and verily regret later.

 

But some others come to understanding that the typical sedentary life style commonly found in startups DOES kill them sooner or later. Of course everyone will die eventually but the thing is whether you can fully function or not while you’re alive. What can a huge startup success mean to its founders and team members when they’re diagnosed with degenerative, terminal diseases owing to the ignorance of healthy life style? The cost is not worth it all.  Suddenly, it dawns on them. Everyone, entrepreneurs and startups workers as no exception, needs to find balance in life.

 

And I have to admit that the best workout I have known so far for 21st century digital workers so far is YOGA. How so?? You may think I’m exaggerating. “Just because you like yoga, you certainly endorse it,” you may think so, but think this way. If you really want practical workout that can ease the stresses , improve physical fitness and mental acuity at the same time without having to hit any gym or sign up for a pricey class, yoga is definitely for you!

 

I once heard my friend with his new routines as a freshman at a local university. He has  been somewhat a gym rat for like years and then suddenly he couldn’t find any gym nearby. He misses the dumbells and all the equipments he used to use.

This is much different from yoga enthusiasts. All we need is only our mind, body and some space. You can even do yoga at literally anywhere, without performing challenging poses (let’s debunk this myth). Breathing more deeply and slowly is even already part of doing yoga. It naturally lowers the tension level your body is experiencing. It’s called pranayama.

 

Geeks usually sit very long in their chairs. This downward facing dog pose (asana) would energize them back by stretching the hamstring and inverting the head (which means a lot more oxygen running to the brain).

I should say it is such a surprise to read some startup workers in another part of the globe really put this healthy and balanced life style concept awareness into practice by means of yoga (Read “Startups Kick Asana with Nerd Yoga in Amsterdam”). The reportage published on VentureBeat.com itself was written by Ciara Byrne, a startup mentor who happens to be a yogini and voluntarily provided a free weekly yoga session for these Dutch geeks. Along with her is Dave Sevenoaks, a key figure of Nerd Yoga (a weekly yoga class in Volkskrantsgebouw, an area full of startup offices in East Amsterdam). The yogi commented, ” We try to focus on the upper body and back in Nerd Yoga. People who sit in front of computers all day tend to have really bad posture.” Well, I guess he did make a great point here.

 

Another geek named James Bryan Graves told Byrne that startup life style is very much identical to unhealthy one. He mentioned how people he had been working with in a startup in the US were embracing junk foods as their main diets and doing literally no workout. “One guy had back surgery because his back had gotten so weak from doing development for 10 years that he literally couldn’t walk one day. Every time I go to yoga, I think about this particular individual and how I don’t want to end up like that,” Mr. Graves added. Enough said. He decided to choose different path.

Sedentary life style and ignorance of healthy diets worsen the life quality of our brainy startup workers.

But again, even though some startup workers are fully aware of the fact that they have been living in a wrong life style, they still have to conquer stereotypes in their minds: “Yoga is ONLY for my moms and chicks. Real men don’t do yoga.” I wonder what Sting and Adam Levine would say about this.

And considering how male-dominated tech world and startups environment are, the effeminate image of yoga lingers in the minds of our startup workers (who, correct me if I’m wrong, mostly too are young males).

But really if you want to do yoga without being intimidated by the image of flexible females or feeling emasculated when mingling with girls and middle-aged women, you can try broga (a manly version of yoga) or simply invite a yoga teacher to your startup ‘fraternity’.

At the end, it all comes down to one thing: building a successful business is not a sprint. Instead, it’s a marathon. Startup workers should never feel guilty for taking a rest from the routines to do some yoga because it eventually rewards them even more.

Yoga is Likely to Enhance How Our Lungs Work

A new scientific study confirmed another health benefit which a yogi and yogini can reap from their regular practice of yoga. This time, our respiratory system thank you for doing yoga.

One can start seeing the improvement of their lungs functions after practicing approximately 10 weeks. Pranayama exercise (which requires you to breathe at a slower pace and deeper)  no doubt contribute to healthier lungs. Not only are lungs’ functions significantly improved by doing yoga, but the daily practice of it also boosts overall fitness and endurance, needless to say. Yoga also is known to be a great workout to lower heart rate and blood pressure due to the deep breaths taken throughout a session. That said, another yoga’s  benefit is of course controlling our body weight, something people long for.

The secondary study conducted by a group of researchers* examining data obtained by 10 other previosu studies indicated that yoga does make our lungs work better. The 10 studies examined showed the impact of yoga on lung function.

 

*Sources:

  1. Abel, AN, Lloyd LK, Williams JS. The Effects of Regular Yoga Practice on Pulmonary Function in Healthy Individuals: A Literature Review. The Journal of Alternative and Complementary Medicine. doi:10.1089/acm.2011.0516.
  2. Natural Standard: The Authority on Integrative Medicine. www.naturalstandard.com

Me, Giving Yogic Advice

  • hi mr. akhlis… where do u live now? like to ask you where can I find a yoga trainer in Kudus?

  • Akhlis Purnomo

    jakarta

    it’s even hard to find one in Semarang.

    let alone in our hometown

    why?

  • Miss X

    any suggestion to do yoga?

  • Akhlis Purnomo

    millions of yoga videos there

  • Miss X

    there? where?

  • Akhlis Purnomo

    try Youtube

  • Miss X

    well. smile what’s the most important in doing it?

    i’ll check it out in you tube..

  • Akhlis Purnomo

    nothing is important as long as u can enjoy yourself while doing it

    dont think too much

    let it flow

    and enjoy being who you are.

  • Miss X

    how if the way I do my life does not as good as what it is expected. hmmm…

  • Akhlis Purnomo

    self acceptance

    maybe your impefection is another form of perfection. Try another new perspective.

    and yeah, expectation is overrrated.

    our lives are much too messed up and disoriented because of expectations, from ourselves, parents, social circles,society.

  • Miss X

    yups. those expectations motivate me to reach any goals I hope, however, they bring me under pressure sometimes. I ever read your status about Yoga quiet often. I think it’s a good way to turn perspective of life… become calmer, I guess…

  • Akhlis Purnomo

    yeah,true.

    some people think yoga is not for moslems, but I found some universal positive values there and why not?

    calmer and more self-aware, mindful of our own self and surroundings…and the nature and of course Allah

  • 2:00pm

     Miss X

    I do not understand about flowing the energy of Yin and Yang, comes from nature and back to nature…

    any idea to do it?

  • Akhlis Purnomo

    haha, I’m not sure I have the authority to explain that. Really, I myself am a novice. My approach to anything is like… just do it. haha. i don’t think too much about any theoretical ground, as long as I feel good about it then it’s enough until I want to learn more. it’s a gradual process of learning. i prefer starting with practical things shifting to more philosophical ones

    and I think that’s how one should learn..through experiments, trials and errors..That’s the natural way of learning. I sometimes set methods away..i like thinking simple and doing simple

  • Miss X

    well, okay… my house doesn’t look appropriate to do yoga. mess, crowded, noisy. what should I consider to choose the place?

  • Akhlis Purnomo

    actually any place with fresh,flowing air and a piece of mat is enough

    u can do yoga anywhere,anytime

    u can do yoga at home in the early morning..when silent

    or even better, find an open silent green space to practice

  • Miss X

    ouh… make sense. when silent!

    smile

  • Akhlis Purnomo

    yes, the key is silence

    silence is the source of wisdom, i think smile

    it’s just perfect time to connect to the inner part of us

    clearing the mind

    maybe doing yga after early morning prayer suits you

    Try ester eckhart’s yoga videos. Great and informative for beginners who want to give yoga a try..

    and just in case u have a bad day with kids or coworkers at school, ester offers this sequence http://www.youtube.com/watch?v=e9iXwVJT3rM

    u can download the youtube videos on ixconverter.com. convert them into 3gp format and save them on the phone or PC so u can play them to guide you in practice..

  • Miss X

    really thanks, mr… I’ll try it. smile

  • Akhlis Purnomo

    good luck then

  • Today
  • Miss X

    good evening, sir… Doing yoga in a high stress is so difficult recently. frown

  • Akhlis Purnomo

    really?

    u tried?

  • Miss X

    yes. but I didn’t succeed. bad emotion is dominant. How should i do?

  • Akhlis Purnomo

    never mind. just enjoy anything appears in our mind without judging

  • Miss X

    can we cry in yoga?

  • Akhlis Purnomo

    if u feel like u want to,why not?

    In yoga, we should enjoy the present, being fully conscious in anything we are now doing. So it doesn’t really matter what emotions come up right now..as long as we know this is what is happenign to us and we shall make peace with the real life. Everything happens for a reason. We hate or love it because of the temporary volatile reactions, sometime later we may feel the opposite..That’s life

    Doing yoga is not always about always thinking positively or thinking good things al the time. It is not possible because life is not only a collection of positive things. So just let it go..

  • Miss X

    omg.. you’re right, sir. that’s what I need to realize. smile thanks…

    is it okay to say “I don’t care” in every single frustration?

  • Akhlis Purnomo

    Maybe…haha…but let’s say “it can happen to me but it should strengthen me instead of bringing me down”.

    I think the I-don’t-care attitude will worsen and intensify complicated situations in the long run. So maybe we just have to hit the bull’s eye, find the root of the problem and simplify the problem.