A Little Life, A Gigantic Read

[This contains too much spoiler. So if you haven’t read this novel and wish to read it anytime soon, I have warned you. Or save this page to read later on.]

HANYA Yanagihara is one of those novelists who shun reading reviews. That makes sense as not all reviews are worth her time. And reading online reviews about your book seems to be very daunting and exhausting mentally.

What I’m writing below can never be called a proper review. Rather, it’s a sincere flattery of her tremendously thick and rich work.

Verbose, that’s certainly what came to my mind after I read the novel from cover to cover. But Yanagihara has a strong and sensible argument as to why the novel must be verbose.

I’ve been working for quite a while in magazines, which is why I’m so familiar with Yanagihara’s style of writing [for your information she’d worked as editor at CondeNast Traveler]. Her style is so magazinelike, making me sure that what I’m reading is actually a compilation of short stories or novellas skillfully sewn together as a mega novel. 

Salman Rushdie’s son recommended once after reading Harry Potter series that his father should write books published in series. Why? Rushdie said,”Easy. It’s more lucrative to publish that way.” Smart.

So I’m curious as to why Yanagihara never gave the idea any single consideration.  The idea that publishing in series or sequels does really make sense and enticing if one is a for-profit, commercial author. Yanagihara, as she admitted, is not one. She said an author especially those writing fiction must have a day job. Not only for the healthcare benefits, she added, but also because a day job provides you (paid) escape from all the emotional hardship one has to endure in the writing process of a long novel.

She mentions about her wish to make the story to become as claustrophobic as possible because she always tells it everything indoor. There’s not much told and narrated about the city’s landmarks, or landscape, or its wide array of population and all the humanity in it. Yanagihara is like using a microscope when telling the story of a horribly abused, lonesome, battered protagonist who never ever recovered thorughout his unexpectedly long life, Jude Saint Francis. She doesn’t allow any outdoor details coming into the story in abundance. Yet, the novel seems very generous when it comes to private lives of its characters. The author adds every detail (like their habit of getting together at a Vietnamese restaurant) and makes the story flow in a perfectly smooth fashion.

I like Yanagihara’s preference to pick some characters as her focus. She concentrates more on Willem and Jude’s relationships and how they and the ties change from time to time. Malcom and JB’s life may be considered supplementary compared to the other two though both later mentioned are also in the same clique.

If there’s something I’m very upset about the story is the fact that Jude is made in such a way to be an incurable victim throughout the novel. He is made to be forever suffering, relapsing, and going downhill.  All of betterment or progress he seems to make are fake and delusional. He is so rotten and damaged from the inside and out (I cannot imagine seeing his arms and legs which are depicted to be full of cuttings and infected wounds).

The issue of pedophilia raised here is so much relevant to the current issue of the day especially in Indonesia. I read KPAI (The Commission of Children Protection in Indonesia) has released a statement that now young boys are as fragile as girls when it comes to sexual abuse (considering the growing number of young male victims of sexual abuse). That said, the social problem doesn’t discriminate genders now. Whether you’re a parent of a boy or a girl, you need to be equally worrisome because boys apparently are also in need of protection also. It is always that way but public had never realized it until recently.

I’m also glad to see a new perspective towards male and masculinity from the point of view of a female author. This offers a unique  and fresh story and novel criticism not only towards people with penis but also the entire humanity as a whole unity.

I like her proposed ideology that males are allowed to feel weak and fragile and can speak up about their pain and suffering just like their female counterparts. Though I have to admit that such view takes a long time to be practiced in real life.  (*/)

Saat Sastra Mengkritisi Agama: 26 Tahun Fatwa Mati Salman Rushdie (2)

salman rushdie
salman rushdie

Kebebasan Berpendapat

Pemerintah Inggris melalui Foreign Secretary Jeffrey Howe yang disiarkan oleh BBC World Service mencoba memberikan pemahaman pada dunia dan terutama Iran, karena kedua negara baru saja membangun hubungan bilateralnya, bahwa pihaknya tidak terkait dengan novel The Satanic Verses. Mereka hanya mendukung kebebasan berpendapat dan jika dikatakan tersinggung, pemerintah Inggris juga sepatutnya tersinggung karena Perdana Menteri Margaret Tatcher juga disindir melalui penggunaan nama Mrs Torture (Nyonya Penyiksa) dan para polisi Inggris dalam deskripsi di novel tersebut juga digambarkan bengis dan rasis terhadap karakter Saladin.

Fatwa itu juga memicu korban di kalangan muslim Eropa sendiri. Seorang pimpinan muslim moderat di Belgia, yang menyatakan sikap kontra pada fatwa mati Rushdie di televisi, akhirnya tewas menjadi korban penembakan.

Dalam waktu sebulan, agar bisa terus menghindari kejaran, Rushdie berpindah tempat tinggal 57 kali. Ia hidup dalam pelarian, sehingga tak bisa tinggal di satu tempat lebih dari 1 malam. Kehidupannya mulai kehilangan keseimbangan.

Setelah Ayatollah Khomeini meninggal dunia, tidak seorang pun memiliki keberanian dan kekuasaan yang setara untuk menarik kembali fatwa mati Rushdie.

Di dalam negeri sendiri, pembelaan terhadap Rushdie dipersoalkan oleh beberapa pihak termasuk sejumlah penulis asli Inggris yang menganggap Rushdie – yang tidak terlahir di Inggris – tak pantas untuk dibela sedemikian rupa hingga begitu banyak ongkos yang harus dikeluarkan, baik dari sisi pemerintah hingga rakyat Inggris sendiri. Novelnya itu memang sudah mengoyak-ngoyak Inggris sedemikian rupa. Keresahan sosial politik terus meluas karena penerbitan The Satanic Verses.

Rushdie sendiri mengalami keruntuhan psikologis dan mental. Kehidupan rumah tangganya hancur. Ia bercerai dari istri keduanya Marianne Wiggins. Rushdie menyalahkan statusnya sebagai pesakitan fatwa mati Khomeini adalah biang keladinya. Selama 18 bulan, Rushdie juga tidak dihubungi oleh pemerintah Inggris. Ia diperlakukan seperti diasingkan. Pemerintah Inggris tampaknya juga tidak banyak membela Rushdie karena masih harus mempertimbangkan hubungan diplomatiknya dengan Iran, yang perlahan mulai dipulihkan kembali secara diam-diam setelah 18 bulan fatwa dikeluarkan. Inggris tidak mau terkesan banyak membela Rushdie yang menjadi musuh Iran. Dan bisa jadi pemerintah Inggris juga menyalahkan Rushdie atas semua kekacauan yang terjadi dalam bidang lain, misalnya pembebasan tawanan dan tahanan Inggris di Iran juga. Setelah The Satanic Verses terbit dan fatwa mati muncul, Inggris jadi was-was kalau warganya yang ditahan di Iran akan dihukum mati pula jika Rushdie tidak diserahkan untuk dihukum mati. Dikatakan oleh Frances D’Souza yang menjabat sebagai salah satu anggota Komite Pembela Rushdie, novelis itu memang merasa tidak berguna, tidak nyaman, tertekan karena terisolasi dari kehidupan normal, ditinggalkan orang-orang terdekatnya.

Rushdie Masuk Islam

Dalam sebuah wawancara, Rushdie menyebut kata “Tuhan”. Dan mengetahui itu, Essawy terhenyak,”Kenapa bisa sampai seorang atheis menyebut nama Tuhan?” Ia kemudian mencoba menghubungi Rushdie dengan menyerahkan nomor teleponnya, dan mereka bercakap-cakap via telepon selama berpuluh-puluh jam.

Essawy kemudian bertatap muka dengan Rushdie. Saat Essawy mengatakan bahwa Rushdie tak bisa berempati dengan muslim karena ia bukan bagian dari umat muslim, Rushdie menyanggah,”Saya muslim!” Rushdie berupaya meyakinkan Essawy bahwa dirinya ingin masuk Islam. Essawy menyusun rencana untuk memastikan Rushdie menjadi muallaf dengan sah. Ia mengundang dukungan dari presiden Mesir kala itu, Husni Mubarak, serta 6 ulama besar Islam. Mereka bertemu di Paddington Green untuk menyaksikan Rushdie bersyahadat di malam Natal 1990. Bersamaan dengan itu, Rushdie menyetujui pembatalan penerbitan edisi paper back novel The Satanic Verses dan resmi menjadi muslim dengan ulama-ulama sebagai saksinya.

Sayangnya, semua itu membuat posisinya malah makin terdesak. Para penentangnya tidak percaya ia benar-benar tulus masuk Islam, dan para pendukungnya menjadi terbelah dua. D’Souza yang semula membelanya juga berang tatkala mengetahui Rushdie menyatakan masuk Islam secara terbuka di media. Saudara perempuannya juga tidak percaya Rushdie masuk Islam.

Rushdie memang hanya berakting. Ia melakukan itu semua untuk meluluhkan hati para pendukung fatwa matinya. Dalam sebuah catatan harian tertanggal 1 Januari 1991, ia menulis:”Sejak berkompromi dengan ulama muslim di malam Natal itu, saya merasa muak. Muak di hati dan mual di perut. Ini bukan saya. Saya menelpon saudara saya, ia berkata,’Kau sudah gila?’ Dan ulama yang saya temui itu ada di TV mengutuk homoseksual, yang lain menulis artikel di surat kabar bahwa menampar istri kita yang melawan bukan hal terlarang. Apa yang sudah saya lakukan? Saya mengulangi alasan saya terus menerus. Saya ingin umat muslim tahu bahwa saya bukan musuh mereka. Saya hanya ingin umat muslim menjadi lebih baik, terbuka dan lebih ramah, tidak serepresif sekarang. Saya pikir saya bisa melakukannya dengan menjadi bagian mereka. Tampaknya omong kosong. Itu cuma pembenaran diri. Ini hal terburuk yang pernah terjadi dalam hidup saya.” Beberapa waktu kemudian Rushdie mengumumkan ia tak lagi menjadi muslim.

Setelah peristiwa pembunuhan Prof Hitoshi Egarishi penerjemah The Satanic Verses di Jepang dan penyerangan terhadap penerjemah Italia, pemerintah Inggris meminta Rushdie ‘tutup mulut’.

Tahun 1993, Rushdie bertemu dengan pemerintah Inggris dan mengatakan hasil pertemuan sangatlah positif. Inggris kemudian bertemu dengan Iran dan membicarakan penghapusan fatwa mati Rushdie. Iran mengatakan pencabutan fatwa secara teknis tidak mungkin terjadi tetapi Iran memastikan tidak ada lagi pengiriman orang untuk melenyapkan nyawa sang novelis.

Pembicaraan Iran dan Inggris di Kantor Pusat PBB, New York, membuahkan hasil. Tanggal 24 September 1998, menlu Iran mengumumkan pemerintahnya tidak ingin mengancam nyawa Rushdie dan semua pihak yang terkait dengannya. Namun, kaum garis keras tetap menganggap fatwa tak akan bisa dicabut begitu sudah ditetapkan. Dan bagi mereka pemerintah Iran tak memiliki kuasa setinggi Ayatollah Khomeini untuk bisa mencabutnya. Toh Rushdie menyatakan kepuasannya atas pernyataan resmi menlu Iran itu.

D’Souza berpendapat pencabutan fatwa mati itu penting karena itu menjadi jalan untuk menegaskan kembali kebebasan mengutarakan pendapat, menyelesaikan perselisihan pendapat dengan perundingan bukan kekerasan. “Inilah pilar demokrasi dan patut diperjuangkan,” kata D’Souza.

Bumerang bagi Muslim

Inayat Bunglawala (penulis isu-isu Islam) setuju bahwa umat muslim Inggris harus lebih bijak di masa datang jika dihadapkan pada skenario yang sama. Bila ada karya sastra yang dianggap melecehkan ajaran agama mereka, unjuk rasa dan pembakaran buku untuk mendesak penarikan dan pelarangan buku itu kurang efektif. Yang terjadi malah memburuknya citra muslim di masyarakat Inggris dan dunia. “Citra yang ditinggalkan di benak masyarakat Inggris (atas pembakaran buku itu) sangatlah negatif,” jelas pendukung Ayatollah itu. Alih-alih demikian, Inayat menyarankan masyarakat muslim untuk menyediakan ruang untuk bertarung secara intelektual. Dengan demikian, ide dilawan dengan ide. Karena ide tidak bisa mati dengan menembak kepala si pemilik ide atau dengan membakar buku yang bermuatan ide itu, apalagi setelah sebuah buku terbit secara luas.

Semua kekerasan memang menjadi bumerang bagi pelakunya, tidak peduli dilakukan demi kejahatan atau kebaikan. Efeknya sama saja. Buruk. Di samping memburuknya citra muslim, Rushdie malah makin menarik simpati publik. Ia kini dianggap sebagai korban dan pihak yang tertindas, meski sebelumnya ia bisa dikatakan sebagai penyerang, agresor yang semestinya dihukum berat. Rushdie pun diganjar penghargaan Knighthood (menyandang gelar Sir dari Ratu Elizabeth) karena dianggap sebagai sosok yang menginspirasi dalam dunia sastra. Sebuah pil pahit untuk umat muslim. Sesuatu yang bisa dihindari jika saja umat muslim bisa lebih bijak menyikapi.

Saat Sastra Mengkritisi Agama: 26 Tahun Pasca Fatwa Mati Salman Rushdie (1)

Dua puluh enam tahun tepatnya telah berlalu sejak sebuah fatwa hukuman mati yang menggemparkan jagat sastra diumumkan secara resmi oleh mendiang Ayatollah Ruhollah Khomeini, pimpinan Islam dari Iran. Tepat di hari Valentine tahun 1989, Radio Teheran menyiarkan pernyataan Khomeini yang menghukum mati novelis berkewarganegaraan Inggris kelahiran Bombay, India, Salman Rushdie. Sebuah pesan yang tentu menghenyak di tengah suasana penuh cinta kasih. Tiba-tiba dunia Rushdie seolah dirundung awan gelap. Alih-alih mendendangkan “Love is in the air, everywhere I look around,” yang terus terpikir dalam benak penulis novel The Satanic Verses (Ayat-ayat Setan) itu mungkin,”Death is in the air, everywhere I look around.” Dan awan gelap itu akan terus menghantuinya setidaknya hingga hampir satu dekade setelah fatwa itu diluncurkan dari bibir sang pemimpin besar Iran.

Begini kira-kira isi fatwa Khomeini:

“Saya memberitahukan pada umat Muslim di seluruh dunia bahwa penulis buku Ayat-ayat Setan (The Satanic Verses) adalah musuh Islam, Nabi Muhammad dan Al Qur’an. Semua pihak yang terlibat dalam penerbitan buku itu dan mengetahui isinya divonis hukuman mati.”

Rushdie mengetahui kabar tersebut segera setelah seorang staf BBC meneleponnya. Dan ia menanggapi serius berita itu. Rushdie bisa dikatakan ketakutan. Dalam sebuah wawancara ia berkata, “Ruangan saya ada di lantai atas dan saya kemudian turun ke bawah begitu mendengar berita itu. Saya kunci pintu depan dan menutup tirai jendela, dan saya berkata pada diri saya sendiri seakan saya adalah orang lain karena begitu terkejut,’Berapa hari atau jam lagi saya masih bisa hidup?”

Mungkin ini adalah salah satu insiden paling bersejarah dalam dunia sastra; bahwa seorang pengarang harus diperangi dengan cara dijatuhi hukuman mati karena karyanya. Ada benarnya juga kata-kata bijak “Temukan passion-mu, lalu biarkan ia membunuhmu”. Rushdie beruntung bakat sastranya yang luar biasa itu tidak sampai membunuhnya, setidaknya hingga detik ini. Namun, kebebasan hakikinya untuk menikmati kehidupan layaknya orang biasa sudah terenggut secara paksa. Ia kini harus berada dalam kawalan penjaga-penjaga (bodyguards) yang siang malam menjaganya dari ancaman pembunuhan yang siapa tahu mengintai kapan saja, di mana saja.

Sebuah ironi dalam dunia Islam yang terus saja mengemuka adalah bagaimana umat muslim terkoyak-koyak oleh pertentangan dalam tubuh mereka sendiri. Entah karena adu domba dari pihak luar atau karena memang ego yang meraja, tetapi saya pikir perpaduan yang tak bisa diukur dari keduanya, ditambah lagi dengan masuknya berbagai kepentingan ekonomi, politik dan sebagainya, kondisi umat muslim tak kunjung bersatu. Dan apa yang terjadi adalah kerinduan akan kebangkitan kejayaan khilafah, sebuah kerajaan atau negara yang menaungi semua umat Islam secara utuh dengan menggunakan syariat Islam sebagai pondasi dan sendi-sendi kehidupannya. Sayangnya, kerinduan itu kerap menjadi – jika boleh meminjam analogi kesehatan – ‘sel-sel kanker’ yang meskipun tumbuh pesat tetapi tidak bisa dikendalikan. Pada gilirannya, kerinduan akan kejayaan Islam itu menjadi layu sebelum berkembang dan membuat citra Islam dan umatnya makin terpuruk saja di mata dunia.

Salman Rushdie: Apa dan Siapa

Penyebab kehebohan ini adalah karya Salman Rushdie, The Satanic Verses. Seperti yang dikemukakan sebelumnya, kehebohan-kehebohan dalam umat muslim kerap bukan dipicu oleh kalangan eksternal tetapi internal. Apa pasal?

Rushdie yang lulusan King’s College, Cambridge, sebenarnya bukan orang yang sama sekali tidak mengenal Islam. Ia terlahir di Bombay, 19 Juni 1947 dalam sebuah keluarga muslim beraliran liberal di India. Ayahnya Anis Ahmed Rushdie adalah seorang alumni Cambridge University yang mulanya menjadi pengacara lalu berubah haluan menjadi pebisnis. Ibunya bernama Negin Bhatt, seorang guru. Jadi ia sebenarnya juga bisa dikatakan sebagai bagian dari umat muslim sejak kecil meski dalam perkembangannya ia mengklaim dirinya sebagai seorang “atheis garis keras”.

Namun demikian, Rushdie dengan jujur mengakui dirinya sudah tak lagi memeluk dan menjalankan ajaran Islam secara formal sejak usia belia. Ia berkomentar dalam sebuah wawancara,”I ceased to be formally religious from an early age, from the teenagehood I suppose and have never changed and have never been born again. But there was always a nagging space where the religion used to be.” Dan ruang kosong dalam kehidupan relijiusnya itu membuat Rushdie menjadi semakin ‘liar’ secara intelektual.

Sebagai seorang berdarah India yang tumbuh dewasa di tanah asing, Rushdie memiliki ketertarikan terhadap dinamika hubungan peradaban Timur dan Barat dan mengembangkannya sebagai tema-tema favorit dalam karyanya. Hal ini sedikit banyak mencerminkan kegundahan terhadap dunia sekitarnya dan keterikatannya pada tanah kelahirannya India.

Begitu dewasa, Rushdie yang bersuku India Kashmir itu merintis karir di dunia industri periklanan. Ia bekerja sebagai copywriter di perusahaan iklan kenamaan yang didirikan oleh David Ogilvy, Ogilvy & Mather. Sembari bekerja di agensi iklan inilah, Rushdie juga menulis beberapa karya sastra yang berbau realisme magis dan fiksi sejarah. Novel pertama Rushdie, Grimus, dirilis tahun 1975. Karya pertamanya itu tak banyak diperbincangkan, apalagi mengundang polemik.

Muncullah novel keduanya yang berjudul “Midnight’s Children”, yang ditulisnya saat masih bekerja sebagai copywriter di Ogilvy & Mather. Tak disangka-sangka, novel itu membuatnya diganjar menjadi pemenang The Booker Prize, sebuah penghargaan sastra yang prestisius, di tahun 1981. Karyanya ini juga sudah mengundang hiruk pikuk, karena di dalamnya penggambaran seorang karakter mirip Perdana Menteri India yang saat itu berkuasa Rajiv Gandhi dipersoalkan. Alhasil, sang pejabat menyeret Rushdie ke meja hijau atas tuduhan fitnah. Namun, hal yang patut disyukurinya adalah karena kesuksesan Midnight’s Children ia berhasil keluar dari posisi copywriter dan mencari nafkah yang lebih menjanjikan sebagai penulis penuh waktu.

Novelnya yang ketiga, Shame (1983), juga menjadi buku yang laris manis di pasaran. Shame juga membuatnya terlibat perseteruan dengan otoritas sebuah negara. Novel itu dilarang beredar di Pakistan karena menyinggung wibawa Jenderal Muhammad Zia-ul-Haq. Shame memenangi penghargaan Prix du Meilleur Livre Etranger (Buku Asing Terbaik) dan menjadi salah satu pemenang di The Booker Prizer.

Dari sini saja kita sudah ketahui bahwa Rushdie sudah akrab dengan kontroversi sebelumnya. Dan kelak reputasinya sebagai sastrawan sarat kontroversi akan makin memuncak.

Dalam berbagai kesempatan, penulis liberal itu menyampaikan pesan utamanya, yaitu bahwa Islam dan para pemeluknya harus menjadi lebih terbuka dan menerima kritik untuk berubah jika tidak ingin musnah akibat apa yang ia sebut sebagai “mutasi mematikan dalam jantung Islam”. Ia menuangkan pemikiran tersebut dalam sebuah tulisan yang dimuat The Washington Post dan The Times pada pertengahan tahun 2005. Ia menghendaki adanya sebuah gerakan di luar tradisi, “untuk membawa prinsip-prinsip utama Islam ke abad modern”. Rushdie juga
mendesakralisasi kisah-kisah yang menjadi bagian dari ajaran agama Islam dengan menganggapnya sebagai “peristiwa dalam rangkaian sejarah, bukan hal supranatural”. Tidak semua pemeluk Islam sependapat dengan pandangannya itu karena menganggap pondasi keyakinan mereka adalah sesuatu yang mapan, tidak bisa lagi diperdebatkan, dikritisi, apalagi direvisi.

Membedah The Satanic Verses
Pria yang memiliki dua orang anak kandung dan 4 mantan istri itu melejit menjadi selebriti justru setelah novelnya yang keempat The Satanic Verses (1988) meledak di pasar global. Sayangnya, resistensi yang tinggi juga muncul di beberapa negara, terutama yang dihuni oleh kaum muslim yakni Pakistan, Afsel, Bangladesh, Sudan, Srilanka, Kenya, Thailand, Tanzania, Venezuela, Singapura, India, dan Indonesia tentu saja.

Ide cerita The Satanic Verses, kata Rushdie, muncul saat ia belajar sejarah Islam di King’s College, University of Cambridge. Buku fiksi sejarah ini mengangkat tema kehidupan kaum pendatang India di Inggris dan memudarnya kepercayaan di dalam diri kaum imigran. Dibutuhkan waktu 5 tahun bagi Rushdie untuk menghasilkan novel setebal 547 halaman tersebut.Viking Penguin memegang hak penerbitan setelah membayarnya US$850.000.

Yang menjadi permasalahan adalah Rushdie menggunakan isu sejarah yang peka dalam novelnya itu. The Satanic Verses ditulis setelah Rushdie menemukan dalam sebagian catatan sejarah mengenai perkembangan Islam yang ia pelajari semasa kuliah. Kisah aneh itu bertema godaan setan. Dalam kisah sejarah yang ditolak mentah-mentah validitasnya oleh sebagian besar umat muslim ini, Nabi Muhammad dikatakan tergelincir oleh godaan setan saat membuat kesepakatan dengan warga Mekah yang menyembah berhala. Saat itu Rosul ingin membujuk mereka untuk ikut menyembah Allah SWT dan masuk Islam. Seperti diketahui, penyebaran Islam di masa itu sangatlah menantang, bahkan dapat dikatakan hampir mustahil sebab banyaknya hambatan dan tantangan dari orang-orang di sekelilingnya. Namun, menurut kisah yang dijadikan referensi Rushdie itu, entah bagaimana Rosul bisa tertipu oleh setan dengan
memperbolehkan warga Mekah yang telah mau menyembah Allah SWT untuk juga menyembah dewa-dewa mereka. Hal ini tentunya bertentangan dengan ajaran tauhid dalam Islam yang selama ini dipegang teguh dan menjadi inti dari Islam itu sendiri karena Islam adalah monotheisme. Menyandingkan Allah dengan pujaan lainnya – yang disebut syirik – termasuk dosa besar yang tidak terampuni kecuali jika seseorang bertobat secara sungguh-sungguh. Rosul dalam kisah sejarah itu seolah digambarkan sebagai seorang manusia biasa yang tidak kebal terhadap kealpaan.

Istilah “ayat-ayat setan” yang dijadikan judul merujuk pada sepotong ayat yang memuat kompromi penyembahan Allah dengan berhala-berhala kaum kafir tadi. Dikatakan dalam kisah aneh tersebut juga bahwa Malaikat Jibril kemudian menyadarkan Muhammad bahwa pernyataannya yang membolehkan warga Mekah menyembah Allah dan berhala-berhala mereka sekaligus adalah bujuk rayu setan. Alhasil, ayat tadi pun dihapus dari Al Qur’an. Mayoritas muslim tidak meyakini hal semacam ini pernah terjadi karena mereka yakin Muhammad suci dari kesalahan-kesalahan manusiawi semacam itu. Akan tetapi, Rushdie tidak berpikir demikian. Ia menganggap Muhammad juga manusia biasa yang bisa salah.

Ayat-ayat setan yang dipertanyakan kebenarannya itu menjadi ide bagi Rushdie untuk menulis subplot di novelnya. Dan inilah yang menyulut kemarahan dalam diri umat muslim dan membuat Ayatollah Khomeini unjuk bicara. Bisa jadi karena Rosul diyakini memiliki sifat shiddiq (benar), sehingga tidak mungkin Rosul mengingkari atau mengatakan perkataan yang bertentangan dengan sesuatu yang ia yakini benar secara mutlak, yaitu ajaran monotheisme Islam. Dalam surat An Najm ayat 4-5, ditegaskan bawah Muhammad hanya mengucapkan wahyu yang dianugerahkan padanya.

Dalam sebuah wawancara di tahun 1988, Rushdie mengatakan bahan sejarah Islam yang mengundang polemik itu ia masukkan dalam novel. Ia mengubah nama-nama tokohnya agar berlainan dari catatan sejarah. Ia mengatakan tidak menggunakan nama Muhammad tetapi Mahound karena kisah itu ia pakai dalam konteks mimpi, bukan realita. Kisah-kisah ayat setan tadi dimasukkan oleh Rushdie sebagai isi mimpi-mimpi magis yang dialami karakter Gibreel Farishta. Jadi bisa dikatakan ia membuat karya fiksi dengan berdasarkan catatan sejarah yang menurutnya menarik.

Namun, terlepas dari subplot yang membuat geram banyak pemeluk Islam tadi, novel The Satanic Verses berkisah tentang dua orang imigran India yang bekerja sebagai aktor. Gibreel Farishta dan Saladin Chamcha beragama Islam dan tak dinyana pesawat mereka dari India ke Inggris dibajak kemudian meledak di Selat Channel. Namun, keduanya secara ajaib bertahan hidup. Kisah menjadi makin menarik saat Gibreel dan Saladin menjadi dua pribadi yang berbeda setelah insiden naas tersebut. Gibreel berhalusinasi seolah dirinya adalah malaikat Jibril, mirip seseorang yang mungkin menderita skizofrenia dalam kehidupan nyata. Sementara rekannya Saladin mendekati kepribadian dan rupa fisik iblis dan setan. Ia pun harus menderita dalam siksaan polisi karena dugaan masuk ke Inggris sebagai imigran gelap. Gibreel dan Saladin sama-sama membangun kehidupan mereka kembali setelah kecelakaan pesawat itu. Gibreel kemudian memiliki kekasih. Karena merasa ditelantarkan setelah kecelakaan, Saladin ingin membalas dendam pada Gibreel sahabatnya. Ia menghasut Allie, kekasih Gibreel, untuk merasa cemburu hingga akhirnya berakibat putusnya hubungan asmara Gibreel dan Allie. Akhirnya Gibreel menyadari bahwa Saladin sahabat yang setia. Ia pun memaafkannya dan bahkan menyelamatkan jiwa Saladin. Suatu ketika mereka memutuskan kembali ke tanah kelahiran mereka India. Gibreel yang tersulut api cemburu membunuh Allie dan kemudian melenyapkan nyawanya sendiri. Saladin yang berhasil memaafkan Gibreel pun kemudian makin dekat dengan sang ayah yang sebelumnya ia jauhi. Saladin sejak itu tinggal di sana dan meleburkan jatidirinya sebagai seorang warga India.

Satu hal lagi yang tak dapat diterima umat muslim ialah bagaimana Rushdie menggunakan nama-nama dan kepribadian istri-istri Muhammad dalam 12 karakter pelacur di sebuah rumah bordil di sebuah kota bernama Jahiliah (yang mirip Mekkah) yang didatangi seorang pembawa pesan bernama Mahound (yang memiliki kemiripan dengan Muhammad, istilah ini sendiri digunakan untuk menyebut Muhammad oleh pasukan Perang Salib yang artinya nabi palsu).

Para Penentang dan Penengah
Apa yang dilakukan oleh Rushdie ini membuat pihak Penguin India juga was-was. Penasihat editorial Penguin India kala itu, Khuswant Singh, mengkritik karya Rushdie setelah membaca manuskripnya sampai habis,”Saya menemukan 2 referensi yang menurut saya tak bisa diterima di India. Yang satu adalah tentang Al Qur’an dan satu lagi tentang para istri Muhammad.” Singh menambahkan meski dirinya agnostik tetapi ia tak memahami alasan mengapa Rushdie harus mengisahkan sebuah rumah pelacuran yang nama-nama penghuninya menggunakan nama para istri Muhammad. “Sungguh sebuah perbuatan yang buruk!” kecamnya. Ia mengutip sebuah kalimat bijak:”Katakan apapun yang kamu kehendaki tentang Tuhan tetapi waspadalah jika membahas Muhammad.”

Dalam ingatan editor Channel 4 TV, Farrukh Dhondy, Rushdie juga telah diperingatkan akan risiko dikecam tetapi ia tetap membandel. “Saya katakan padanya,’Kamu akan bicara dari studio ke studio TV hanya untuk berdebat mempertahankan pendapat melawan para ulama!’ Ia menjawab,’Ah, silakan saja,'” kata Dhondy.

Pada kesempatan lain, Rushdie yang dikabari wartawan India Shrabani Basu bahwa Penguin India menolak distribusi dan penjualan novelnya di pasar India tersentak dan berkomentar,”Sungguh absurd jika berpikir sebuah buku bisa memicu kericuhan. Itu sebuah cara pandang nan aneh terhadap dunia.”

Dari semua kaum garis keras yang mengutuk karya sastra dan penulisnya tersebut, ada satu sosok yang menarik perhatian Rushdie kelak. Hesham El Essawy, seorang dokter gigi yang menghabiskan 6 jam sehari di waktu senggangnya hanya untuk melahap The Satanic Verses. El Essawy juga menjadi representasi wajah Islam yang lebih toleran dan moderat karena ia mewakili lembaga Islamic Society for the Promotion of Religious Tolerance di Inggris. Ia mengkritik The Satanic Verses dengan cara yang santun dan intelek serta tetap berkepala dingin, tidak sampai membakar dan mendukung fatwa hukuman mati Khomeini. Pria ini menyarankan agar penerbit Penguin dan Rushdie memberikan sangkalan (disclaimer) di novel itu, bahwa isinya bukan mengenai kejadian sejarah tetapi fiksi semata. “Itu saja yang saya himbau pada mereka.” Saran itu diabaikan.

Kondisi itu diperparah dengan diamnya pemerintah Inggris pimpinan Margaret Tatcher saat itu. Umat muslim Inggris yang mengetahui isi novel yang melecehkan agama mereka itu angkat bicara dan menuntut agar Rushdie diperkarakan dengan tuduhan pelecehan agama. Namun, ternyata UU yang mengatur tentang pelecehan agama di Inggris hanya berlaku untuk agama Kristen saja. Ditambah dengan fakta bahwa Rushdie menikmati ketenaran dari novel The Satanic Verses dan penghargaan untuk karya yang menyinggung keyakinan mereka, para muslim Inggris tidak bisa lagi berpangku tangan. Sebagai minoritas, umat Islam di Inggris pun merasa perlu mengambil langkah lebih lanjut.

Di kota Bradford, umat muslim yang merasa tidak didengar keluhannya itu pun mengadakan unjuk rasa yang menuntut penarikan novel The Satanic Verses. Sebelumnya telah ada unjuk rasa di Bolton, tetapi pers pun tidak mengindahkan. Ribuan muslim berkumpul di pusat kota Bradford pada 14 Januari 1989. Pers sempat mengabadikan pembakaran novel itu. Esok harinya pemberitaan media pun muncul. Nadanya memojokkan, sehingga akhirnya membuat umat muslim Inggris makin merasa merana karena dicap terlalu ekstrim karena harus membakar buku.

Ekskalasi kontroversi novel The Satanic Verses terus terjadi dan ribuan muslim membanjiri London untuk menyuarakan keberatan mereka dengan distribusi novel tersebut. Sementara itu, Rushdie juga berjuang membela haknya untuk mengkritisi Islam melalui karya sastra. Ia menjadi sasaran ancaman pembunuhan dan penerbit Penguin juga terdampak. Kantor mereka sempat menjadi target unjuk rasa, surat kaleng dan ancaman bom. Semua itu terjadi bulan Januari 1989.

Menyatukan, Memisahkan Sekaligus Memakan Korban
Diakui oleh aktivis muslim Inggris bahwa kontroversi The Satanic Verses memberikan dampak positif. Isu ini membuat mereka memiliki satu musuh bersama, yang berbentuk seorang novelis dengan ide dan fantasi liarnya yang telah menistakan kepercayaan mereka. Sebelumnya umat muslim Inggris lebih terfragmentasi berdasarkan kebangsaan. Mereka umumnya kaum imigran dari berbagai negara dengan jumlah penduduk Islam yang cukup signifikan dari Asia. Dari sinilah, muncul kebangkitan komunitas muslim Inggris yang lebih percaya diri dalam menyuarakan aspirasi mereka di kancah nasional.

Di skala internasional, novel tersebut mulai memicu keresahan sosial di berbagai negara. Pada tanggal 12 Februari 1989, 5 demonstran terbunuh dan ratusan lainnya terluka saat ratusan ribu orang berunjuk rasa di depan Pusat Kebudayaan Amerika di Islamabad. Ini hanya awalnya saja.
Konflik makin menghebat dan meluas begitu Ayatollah Khomeini mendengar kabar dan mengeluarkan fatwa hukuman mati bagi Salman Rushdie dan semua pihak yang membantu terbitnya karya itu.

Kehidupan Rushdie berubah drastis dalam beberapa jam begitu kabar fatwa diterima. Pemerintah Inggris berupaya melindunginya, karena Rushdie dianggap tidak bersalah dalam kacamata hukum Inggris.

Dalam kenyataan, di satu sisi fatwa Khomeini membuat banyak muslim mengelu-elukannya sebagai pembela Nabi Muhammad dan Islam serta umat muslim dunia. Namun, di sisi lain fatwa Khomeini juga membuat sebagian muslim yang lain – yang lebih moderat dan toleran – tidak setuju meski pada dasarnya mereka juga mengecam isi novel The Satanic Verses. Essawy sendiri menyatakan dirinya tidak sepakat dengan fatwa itu.

Untuk menuntaskan misinya, Khomeini menawarkan hadiah 1 juta poundsterling bagi siapa saja yang mampu membunuh sang novelis. Imbalan sebanyak itu tentunya setimpal mengingat tingkat pengamanan dari pemerintah Inggris di sekitar Rushdie sepanjang waktu yang begitu tinggi. Penulis itu selalu dikelilingi oleh pasukan bersenjata dalam pakaian sipil rapi 24 jam sehari 7 hari seminggu 365 hari setahun.

(Bersambung)

Referensi:
1. Salman Rushdie and The Satanic Verses Affair (BBC Productions, 2009), produser dan sutradara Janice Sutherland
2. Wikipedia