Siapa Bilang Minat Baca dan Tulis Kita Rendah?

Kami sedang duduk mendengarkan wejangan seorang pria yang konon menjadi legenda hidup sastra nusantara. Kiprahnya memang tidak bisa dianggap remeh selama ini. Beliau dikenal sebagai pengajar, setidaknya begitu mulanya bagi saya. Tetapi kemudian saya sadar ia lebih dari sekadar seorang dosen luar biasa. Ia juga penyair kampiun. Sajak-sajaknya sudah melanglang buana ke mata jutaan pembca dan penikmat susastra nusantara kontemporer. Saya harus akui pengetahuan saya tentang kiprahnya sama sekali nihil.

Di depan, ia menggumamkan sesuatu. Apa yang ia ucapkan masih bermakna dan bisa diikuti dengan logika bahasa. Tetapi perkara artikulasi, saya mengamati adanya kemunduran di otot-otot lidah dan mulutnya. Proses menua yang alamiah. Dan saya sedang ia juga habis pulih dari sakit yang cukup serius. Jadi, kehadirannya di sini sudah bisa dikatakan suatu keajaiban. Tak heran seorang teman mengatakan ia tidak ingin mengecap usia panjang karena di dalam usia panjang, mesti ada ketahanan menjalankan roda kehidupan dengan sisa-sisa tenaga penghabisan di usia yang sudah petang, hampir malam, meredup, hingga akhirnya malam.

Meskipun secara fisik Sapardi sudah begitu turun dibandingkan sedekade lalu saat saya masih menjadi salah satu mahasiswanya di Universitas Diponegoro, saya masih menemukan bara dalam tatapan matanya. Jiwanya selalu belia, saya percaya.

Kemudaan yang tak kasat mata tersebut ia ungkapkan dalam pendapat dan sikapnya terhadap perkembangan dunia sastra saat ini. Pikirannya selalu progresif, tidak malu untuk menuruti perkembangan zaman tetapi seraya mencengkeram jatidirinya juga.

Menurut Sapardi, pemikiran kolot bahwa asal kualitas isi sebuah karya sastra itu tinggi, mau diberi sampul, judul, ilustrasi atau tidak dipromosikan sekalipun, pasti akhirnya akan laris juga. Hanya saja kenyataannya lain sekarang. Justru mereka yang yakin karya mereka bagus harus mengimbanginya dengan upaya pengemasan dan pemasaran yang tidak kalah garang dan sistematis. Karena mau tidak mau diakui, unsur-unsur nonsastrawi yang sering dipinggirkan oleh kalangan sastrawan jenis puritan zaman pra-digital.

Untuk menggambarkan sikapnya itu, ia mengatakan bahwa sekarang penerbit dan sastrawan perlu sekali membuka cara pandangnya agar tidak tergerus oleh arus zaman. Unsur kebaruan, inovasi dan kreativitas dalam mengemas isi karya sastra amat dibutuhkan agar lebih banyak pembaca potensial tertarik dengan karya yang ditawarkan. Karena jika sudah gagal menarik perhatian dari kulitnya, mana mungkin isi juga akan dikulik? “Ganti judul, ganti sampul itu penting juga,” tegasnya. Buku-buku lama yang sudah tak laku kini perlu dicetak ulang dengan pengemasan dan cara pemasaran yang lebih modern. Tidak cuma menunggu pembaca yang bisa menjangkau toko buku tetapi juga siapa saja di mana saja asal tersambung dengan internet.

Sebagai contoh nyata, pria yang tidak bisa menanggalkan topi pet dari kepalanya itu menceritakan peran elemen-elemen nonsastrawi itu pada keberhasilan penjualan buku-buku puisinya. Seperti sudah kita ketahui, genre puisi di pasar tidaklah begitu menguntungkan. Penggemar puisi cuma orang-orang tertentu. Namun, itu dulu. Sekarang dengan bantuan pemasaran digital di media sosial dan bahkan film, kita saksikan melejitnya puisi karya penyair muda Aan Mansyur. Puisi terangkat. Dan itu karena ia tidak berjuang sendiri tetapi terintegrasi dengan hal-hal lain di luar dunia puisi itu sendiri.

Dalam kasus Sapardi, ia mengakui bahwa buku puisinya yang semula susah laku di toko-toko buku, bisa lebih laris manis bahkan ditampilkan di rak best seller (yang membuatnya terkejut juga) karena dilibatkannya orang-orang yang terampil dalam mengemas konten agar lebih seksi dan menarik bagi para pembaca masa kini.

Sang sastrawan veteran ini juga menyerukan pada kalangan pegiat sastra dan perbukuan dalam negeri mengenai kemandirian dalam berkarya. Tiap kali Sapardi mendengar ada keluhan bahwa pemerintah tidak mempedulikan atau tidak membantu upaya-upaya menggiatkan industri perbukuan dan aktivitas literasi domestik, beliau mengaku kurang sependapat. Hendaknya kita semua jangan terlalu mengandalkan pemerintah. Secara spesifik beliau berpesan pada kalangan penerbitan agar tidak menggantungkan semua solusi pada pemerintah. Ada masalah apapun, ditujukan ke pemerintah, seakan pemerintah dewa yang bisa memecahkan semua masalah. Padahal jika kita cermati, pemerintah juga sebetulnya tidak akan berdaya tanpa dukungan semua elemen dari rakyat Indonesia. Pemerintah memang penting, tetapi peran rakyat juga sama krusialnya. Rakyat dalam hal ini mereka yang berkepentingan dalam dunia literasi dan susastra juga hendaknya turut aktif mencari solusi demi solusi dari masalah yang dihadapi bersama-sama. Tidak hanya berpangku tangan dan menunggu bantuan pemerintah. Lalu jika tidak ada solusi dari pemerintah, akan cepat menyalahkan pihak eksternal.

Sapardi mencontohkan bahwa di AS misalnya, dunia perbukuan bisa lebih bergairah dan berkembang pesat karena baik pemerintah dan kalangan pegiat perbukuan dari masyarakat umum sama-sama bekerja di jalurnya masing-masing dan saling bersinergi. Misalnya penerbit Penguin yang berhasil sukses dan menjadi sebesar sekarang itu juga bukan perusahaan penerbitan yang ongkang-ongkang menunggu bantuan pemerintah. Mereka bekerja keras sendiri juga di bidang-bidang yang mereka bisa, tanpa dibantu atau didorong pemerintah. Justru dengan independensi tersebut, nantinya penerbit akan lebih bebas dalam menentukan kebijakan dan arah langkahnya ke depan. Dengan menjadikan pemerintah sebagai induk semang, penerbitan berisiko hanya menjadi corong gagasan dan propaganda birokrat. Padahal hal itu amat riskan bagi perkembangan demokrasi dan daya pikir kritis bangsa. Karena di tangan status quo, sastra hanya akan menjadi komoditas legalisasi gagasan mereka.

Kembali ke Sapardi, ia menguak masalah besar dunia penerbitan tanah air, yakni strategi dalam menghadapi kebangkitan dunia digital. Untuk menghadapinya, alih-alih dipandang sebagai musuh, dunia digital (yang mencakup – tetapi tidak terbata dalam – internet, ponsel cerdas, tren e-book, media sosial) idealnya dianggap sebagai kawan. Demikian pesan sang sastrawan.

Jika di zaman sekarang, seorang pengarang karyanya gagal terjual laris padahal karyanya berkualitas, bisa dipastikan pengarang itu kurang cerdik. Dengan begitu banyaknya kanal media sosial yang tersedia secara cuma-cuma, memang konyol rasanya jika pengarang malah bersikukuh menghindarinya atau mengabaikannya. Dengan munculnya media sosial, pengaran dan penerbit justru harus melihatnya sebagai alat baru yang berpotensi mendongkrak produktivitas berkarya (baca: angka penjualan).

Sering kita baca dan dengar argumen dan klaim bahwa bangsa Indonesia memiliki minat baca yang memprihatinkan, rendah, kurang memuaskan, dan sebagainya. Karena daya baca rendah, kemampuan menulis pun menjadi pincang. Intinya, minat baca dan tulis bangsa kita perlu dipacu lagi.

Terkait ini, Sapardi menampiknya tegas. “Generasi sekarang itu malah lebih banyak membaca dan menulis dari generasi sebelumnya!” Sang begawan sastra ini menggarisbawahi, di balik klaim tersebut, ada pemikiran kolot bahwa jika tidak membaca tulisan yang tercetak di kertas, tidak bisa dianggap benar-benar membaca. Ini menurut Sapardi perlu diluruskan. Mereka sudah banyak membaca juga, tetapi mereka lebih banyak membaca di gawai daripada membaca buku fisik, sehingga generasi senior masih mencibir. “(Padahal) membaca di gawai sama membacanya juga,” tandas beliau.

Unsur selain konten yang juga berperan dalam keberhasilan sebuah karya sastra ialah pemilihan nama yang dipakai pengarang untuk ditampilkan di sampul bukunya. Pengarang tidak diwajibkan penerbit, publik pembaca atau pemerintah untuk menggunakan nama asli mereka sehingga terdapat ruang bereksperimen di sini. Salah satu contoh kasus yang membuktikan bahwa nama yang berbeda dapat memberikan efek yang berbeda terhadap persepsi dan respon publik mengenai sebuah karya sastra ialah saat J. K. Rowling menggunakan nama pena (pseudonim) Robert Galbraith dalam genre novel detektf (whodunnit). Saat menggunakan nama pena yang tidak dikenal, publik tidak merespon karya tersebut secara menggembirakan layaknya serial Harry Potter. Namun, begitu penerbit memberikan keterangan bahwa Galbraith ialah nama pena J. K. Rowling, angka penjualan novel kriminal tersebut melejit.
.
Kemunculan internet dan media sosial juga hendaknya tidak menjadi kambing hitam bagi menyurutnya pencapaian industri perbukuan dan dunia sastra. Sapardi justru menjungkirbalikkan pemikiran tersebut dengan menyatakan bahwa saat ini penerbit justru memburu para sastrawan, pencipta konten. Dengan adanya ruang berkreasi yang tanpa batas melalui kehadiran dunia maya dan media sosial, kreativitas sastrawan makin bisa dicurahkan, tanpa batasan-batasan yang seketat di masa penerbitan konvensional. Kalangan penerbit juga sebaiknya keluar dari zona nyaman dan terus mengeksplorasi berbagai peluang dan potensi penerbitan di ruang digital. (*)

Menyusuri Intisari Sastra Indonesia Abad ke-20

Screen Shot 2016-05-11 at 13.15.38Tanyakan pada generasi muda zaman sekarang mengenai asal mula sastra Indonesia dan bersiaplah untuk menganga karena sedikitnya atau bahkan tiadanya pengetahuan mereka mengenai hal tersebut. Keprihatinan pun menyeruak karena pengetahuan sastra sudah selayaknya menjadi bekal anak-anak muda terutama yang menekuni sastra untuk lebih mengenal bangsa ini dan jati dirinya. Terlebih lagi, sastra Indonesia abad ke-20 adalah masa perkecambahan yang amat penting dan berfungsi sebagai fondasi bagi sastra Indonesia kontemporer abad ke-21.

Untuk menjawab tantangan adanya jurang pengetahuan tentang sastra Indonesia di abad kemarin itu, Yayasan Lontar baru-baru ini meluncurkan proyek ambisiusnya yang kemudian berhasil menghasilkan empat buku super tebal:

  • John H. McGlynn, Dorothea Rosa Herliany, Deborah Cole, ed., Antologi Puisi Indonesia Pilihan Yayasan Lontar (Jakarta: Yayasan Lontar, 2016), +/- 850halaman.
  • The Lontar Anthology of Indonesian Poetry (Jakarta: Yayasan Lontar, 2016), +/- 550 halaman.
  • John H. McGlynn, Zen Hae, Andy Fuller, ed., Antologi Cerpen Indonesia Pilihan Yayasan Lontar, Jilid 1 dan Jilid 2 (Jakarta: Yayasan Lontar, 2016), +/- 625 halaman (Jilid 1), +/- 725 halaman (Jilid 2).
  • The Lontar Anthology of Indonesian Short Stories (Jakarta: Yayasan Lontar, 2016), +/- 550 halaman (Jilid 1), +/- 650 halaman (Jilid 2).

Pada dasarnya hanya ada dua karya tetapi dua buku lainnya yang berbahasa Inggris ialah versi terjemahan dari dua buku lainnya yang berbahasa Indonesia. Namun, tetap saja penerjemahan juga bukan pekerjaan yang sepele.

Dua jilid kumpulan cerpen ini memuat 109 fiksi pendek dari 109 pengarang yang pernah mengirimkan karya terbaik mereka ke media-media cetak masa itu yang diasuh oleh H. B. Jassin. Fokus penyeleksian yang hanya di koleksi Jassin ini sempat menuai kritik dari sastrawan Budi Darma yang menyarankan idealnya koleksi ini tidak cuma diambil dari karya-karya yang dikirimkan ke media ibukota asuhan Jassin tetapi juga mencari ke daetah-daerah karena menurut Budi karya-karya yang tak sampai ke media Jakarta juga bisa sama berkualitasnya. Hanya saja memang sang pengarangnya karena satu atau lain alasan tidak mengirimkan ke media cetak ibukota yang dipandang sebagai kiblat sastra Indonesia.

Sastra Indonesia yang bisa dinikmati dalam aksara Latin bermula muncul setelah sekelompok pemuda Indonesia yang beruntung mendapatkan pendidikan kaum penjajah Belanda menelurkan karya-karya mereka. Hingga menjelang akhir abad ke-19, tulisan fiksi pendek mereka ini dikemas dalam bahasa Melayu Pasar. Sebutan ini terbilang peyoratif menurut Zen Hai yang terlibat aktif dalam proyek ini sebagai kurator karya.

Beberapa dasawarsa pertama penulisan fiksi pendek berbahasa Melayu justru didominasi oleh sastrawan-sastrawan Cina Peranakan. Kemudian di awal abad ke-20 surat kabar beraliran nasionalis pergerakan seperti Sinar Hindia mulai memberikan ruang bagi cerita bersambung yang dipenggal menjadi 4-5 kali penerbitan. Kaum nasionalis kemudian makin aktif dalam upaya penerbitan pers dan penulisan fiksi pendek berbahasa Melayu.

Balai Pustaka kemudian berdiri sebagai reaksi dari maraknya bacaan liar di masyarakat saat itu yang didominasi karya sastra kaum Cina Peranakan dan Nasionalis abad ke-20. Balai Pustaka tidak mengizinkan adanya kritik pada pemerintah kolonial Belanda dan menyingkirkan segala macam bentuk unsur amoral dalam karya fiksi yang diedarkannya.

Dari kebangkitan Balai Pustaka itu, lalu kita mengendal kemunculan majalah sastra Panji Pustaka yang merupakan penerbitan pertama pemerintah kolonial Belanda untuk pembaca Melayu yang memberi peluang bagi penulisan fiksi pendek berbahasa Melayu tahun 1920-an. Muncullah beberapa sosok dari Sumatra yang menonjol di sini, misalnya Syuman H. S, Wachid Hasyim, dan sebagainya.

Salah satu ciri penting dari sastra Indonesia era pra revolusi 1945 ialah penggunaan bahasa Melayu. Bahasa Melayu ini sendiri sebetulnya terbagi dalam dua jenis: Melayu Kasar dan Melayu Riau (Melayu Balai Pustaka). Bahasa Melayu Riau ini dianggap berbahasa lebih baik daripada mereka yang berada di Jawa dan Sulawesi yang dipandang berbahasa Melayu lebih kasar. Periode inilah yang kemudian dimasukkan dalam kategori “Masa Permulaan hingga 1943” dalam buku Antologi Cerpen Indonesia Pilihan Yayasan Lontar. Masa ini berakhir begitu Jepang menjejakkan kaki di bumi nusantara.

Kemudian masa berikutnya ialah saat masa kemerdekaan atau masa revolusi hingga tahun 1965. Di jilid kedua termuat karya-karya yang dihasilkan selama masa panjang yakni masa Orde Baru dan seterusnya yang menurut Zen Hai merupakan masa paling kompleks dalam pertumbuhan sastra Indonesia sampai sekarang.

Zen Hae menceritakan bahwa dalam tahap awal proyek besar itu tersusun sedaftar pengarang Indonesia yang jumlahnya menembus angka 200 orang. “Akan tetapi karena pertimbangan ekonomi dan agar proyek ini bisa terus berjalan, setelah negosiasi dengan John McGlynn dan Andy Fuller maka kami sepakat menguranginya,” tegasnya dalam sambutan di depan hadirin acara diskusi buku dalam rangka peluncuran buku-buku ini.

Lebih detail, berikut ini ialah daftar pengarang yang karyanya dimasukkan dalam “Lontar Anthology of Indonesian Short Stories (LAISS)“:

  1. A’xandre Leo
  2. Bastari Asnin
  3. Kohar Ibrahim
  4. Asneli Lutan
  5. Jass
  6. Soelarto
  7. Bokor Hutasuhut
  8. Bur Rasuanto
  9. Chairul Harun
  10. Djamil Suherman
  11. Fadli Rasyid
  12. Gajus Siagian
  13. Jajak MD
  14. Julius R. Siyaranamual
  15. Kho Ping Hoo
  16. Kipanjikusmin
  17. M. Fudoli Zaini
  18. Marga T.
  19. Maria Amin
  20. Martin Aleida
  21. Matu Mona
  22. Mohammad Diponegoro
  23. Muhammad Ali
  24. Muhammad Kasim
  25. Nasjah Djamin
  26. Njoo Cheong Seng
  27. Nursjamsu Nasution
  28. Putu Arya Tirtawirya
  29. Rainy MP Hutabarat
  30. Ras Siregar
  31. Ray Fernandes
  32. Rusman Sutiasumarga
  33. S. M. Ardan
  34. S. N. Ratmana
  35. Satyagraha Hoerip
  36. Sitor Situmorang
  37. Sobron Aidit
  38. Soemantri (Synthema)
  39. Soewardi Idris
  40. Subagio Sastrowardoyo
  41. Titie Said
  42. Titis Basino
  43. Wildan Yatim
  44. Yusakh Ananda

 

Dan inilah daftar nama penyair yang karya puisinya dimuat di “Lontar Anthology of Indonesian Poetry (LAIP)” KOREKSI: Berikut ialah daftar nama penyair yang belum ditemukan kontak ahli waris atau belum mendapat izin dari pemegang hak ciptanya. Tulisan publikasi ini diharapkan bisa membantu menemukan kontak atau mendapatkan izin :

  1. Abrar Yusra
  2. Amal Hamzah
  3. Anas Ma’ruf
  4. Apip Mustopa
  5. Arifin C Noer
  6. Asrul Sani
  7. Basuki Gunawan
  8. Basyral Hamidy Harahap
  9. Bibsy Soenharjo
  10. Budiman S. Hartoyo
  11. Chairil Anwar
  12. D. W. Sijaranamual
  13. Dami N. Toda
  14. Danmeras Syamsudin
  15. Djawastin Hasugian
  16. Dodong Jiwapraja
  17. Dullah
  18. Emha Ainun Nadjib
  19. Fridolin Ukur
  20. H. D. Mangemba
  21. H. Munawar Kalahan
  22. Hamid Jabbar
  23. Hamidah
  24. Harijadi S. Hartowardojo
  25. Hidjaz Yamani
  26. HS Djurtatap
  27. Husain Landitjing
  28. Husni Djamaluddin
  29. Indonesia O’Galelano
  30. Intojo
  31. Isma Sawitri
  32. Jang Engelbert Tatengkeng
  33. Junedi Ichsan
  34. Kasim Mansur
  35. Kriapur
  36. Kuslan Budiman
  37. M. A. Iskandar
  38. M. Balfas
  39. M. Poppy Donggo Hutagalung
  40. M. Saribi Afn
  41. M. Taslim Ali
  42. M.A. Djoehana
  43. M.D. Asien
  44. M.D. Yati
  45. M.I. Nasution
  46. Magusig O Bungai
  47. Mahatmanto
  48. Mansur Samin
  49. Maria Amin
  50. Marius Ramis Dajoh
  51. Maskirbi
  52. Moh. Diponegoro
  53. Mohammad Hatta
  54. Motinggo Boesje
  55. Mozasa
  56. Muh. Rustandi Kartakusuma
  57. Muhammad Ali
  58. Muhammad Yamin
  59. N. Adil
  60. Nursjamsu Nasution
  61. Or. Mandank
  62. P. Sengodjo
  63. Purwa Atmaja
  64. Ridwan Siregar
  65. Rifai Ali
  66. Rita Oetoro
  67. Rivai Apin
  68. Rosni Idham
  69. Rustam Effendi
  70. S. Anantaguna
  71. S. Wakidjan
  72. S. Yudho
  73. Samadi
  74. Samiati Alisjahbana
  75. Sandy Tyas
  76. Sanento Yuliman
  77. Slamet Sukirnanto
  78. SM Ardan
  79. Subagio Satrowardojo
  80. Sugiarta Sriwibawa
  81. Suman HS
  82. Suparwata Wiraatmadja
  83. Supii Wisnakuntjahja
  84. Sutan Takdir Alisjahbana
  85. Sutardji Calzoum Bachri
  86. Syahril AL.
  87. Toto Sudarto Bachtiar
  88. Trisno Sumardjo
  89. Usmar Ismail
  90. Wahyu Prasetya
  91. Waluyati
  92. Yogi (Abdul Rivai)
  93. Yudhistira ANM
  94. Yusuf Sou’yb
  95. Z. Afif
  96. Z. Pangaduan Lubis

Semalam di Istana Sastra (Bagian 1)

Ada seutas tali tak kasat mata yang magis dan ganjil yang mengaitkan penulis dengan masa lalu dan tempat terpencil. Saya ingat penulis humor gaya standup comedy David Sedaris, yang pindah dari AS ke sebuah wilayah terpencil Inggris. Ia beli sebuah rumah antik yang berada di tengah padang rumput di perkampungan yang bertetangga jarang dan jauh. Lalu di pagi hari ia menulis dan siangnya ia berjalan kaki mengumpulkan sampah di lansekap terbuka itu.

Pun demikian pujangga yang akan kami temui hari itu.

Kami dijanjikan akan tiba di sebuah istana milik sang pujangga yang berada di lokasi yang tak tertera di GPS. Siapa yang menjanjikan itu? Tak penting. Percaya saja. Lagipula orang ini jarang berbohong. Tak tampak gurat canda di mukanya tatkala mengucapkannya.

Tirai malam turun menutupi cahaya matahari saat kami mulai bertolak ke tempat yang digadang sebagai istana tadi. Skeptis, tetapi saya cuma bisa menahan keingintahuan itu hingga tiba nanti di sana. Benar atau tidaknya bukan masalah. Asal kami bisa bertemu dengan sang pujangga penggempar jagat sastra nusantara dengan karya-karya dan sebuah hal yang tak bisa diusung sebagai sumber kebanggaan.

Saya semula menduga tempatnya terpencil. Memang terpencil. Sangat amat terpencil dan terkucil dari peradaban. Ruas jalan besar jaraknya berkilometer dari pintu gerbang istana itu. Sunyi dan gelap. Jalan setapak tak menyenangkan untuk digilasi dengan ban. Apalagi kaki.

Kalau di Inggris, orang menyebutnya “manor”, kediaman agung nan syahdu berpelataran luas, jauh lebih luas dari rumah-rumah biasa di sekitarnya yang dihuni oleh warga. Bedanya di istana ini, tak akan kau temukan hamparan rumput mirip permadani hijau. Hanya tanah kering dengan petak-petak mungil rerumputan meranggas di sana sini seadanya. Pohon memang besar tetapi terasa kurang meneduhi. Benar saja, daun-daunnya belum melebat lagi di awal musim penghujan ini.

Kengerian menelusup dalam benak kami yang tak biasa menjalani malam dalam kesunyian dan kegelapan yang hampir absolut. Saya tidak bisa membayangkan jika terjebak semalam di sini saat sambungan listrik PLN putus di tengah cuaca yang buruk. Sulit sekali pastinya meminta tolong ke dunia luar.

Masih bergidik, saya langkahkan kaki ke dalam halaman. Tiap tapak mengantar saya ke kediaman sang pujangga yang juga menjadi tempat peristirahatan kami malam itu. Cuma-cuma, tak ada biaya, terutama bagi karib yang pegiat sastra dan mahasiswa. Ia memang sengaja mendirikan rumah besar di lahan seluas lebih dari 2 hektar itu untuk menjadi sebuah padepokan sastra di era modern.

Beberapa tahun lalu saya pernah mendengar namanya. Ia bersanding saat itu bersama aktris jelita Rieke Dyah Pitaloka di kampus yang saya singgahi selama 3 tahun. Akan tetapi, saya lupa rupanya. Bagaimana ia sekarang, setelah satu dekade berdesir seperti angin kentut. Tak berwujud tetapi membuat dahi berkerut.

Begitu muncul, saya bisa menangkap citra dari masa lalu yang terselip di ingatan sel abu-abu saya. Ya, ini dia orangnya. Tak salah lagi. Topi khas itu, lalu sepasang mata yang kemerahan. Entah karena kurang tidur sepanjang malam merokok sambil menulis atau cuma begadang.

Pada kami, ia melontarkan wejangan sastranya yang membuat para penulis muda di seberang meja itu takjub.

Sembari sesekali menahan napas saat ia justru melepas bebas bubungan asap rokok, saya merasa berpindah ke sebuah daerah darurat asap di Sumatra berbulan-bulan lampau saat kemarau. Saya gunakan kesempatan mengambil air minum untuk beringsut dan menjaga jarak aman agar paru-paru tak rontok dalam beberapa menit ke depan.

Ia mulai menyampaikan sebuah wejangan panjang. Kalau khotib sholat Jumat memulai dengan atribut sorban atau podium tinggi, pujangga ini memakai atribut rokok. Ia nyalakan pemantik api dan bulll… Tanpa ucapan pemancing, tiba-tiba ia mengatakan kami tidak usah iri jika ada rekan penulis kami yang lebih sukses padahal kami sudah merasa bekerja lebih keras. “Iri apanya sih?” batin saya. Saya yakin semua orang punya jalannya masing-masing, sehingga rasa iri itu percuma.

“Kalau kamu iri, kembalilah ke niat pertama kamu menulis,” tuturnya. Saat usia muda, pikiran segar, niat hanya satu:menulis dengan sebaik mungkin. Tanpa harapan macam-macam. Jadi saat dulu ia menyaksikan tokoh-tokoh lain hilir mudik di berbagai perhelatan susastra, si pujangga mengaku tidak merasa iri. “Justru malah terpacu untuk bagaimana agar bisa mendapatkan kesempatan seperti mereka.”

“Apalagi kalau menulis puisi. Keikhlasannya harus lebih,” ucapnya dengan tangan terulur ke depan, lalu menjentikkan sebatang rokok murah ke asbak di meja kayu. Padahal sebelumnya ia terbiasa menikmati gulungan tembakau impor yang mahalnya minta ampun. Tetapi itu hanya gaya. Lebih mudah ditiru. Kualitas karya lebih sukar dijiplak.

Saya teringat dengan seorang teman di Depok. Ia hadiahkan buku puisinya yang kini teronggok di kamar saya dengan bangga. Buku bersampul hitam yang sungguh-sungguh ia tulis. Namun demikian, ia tetap bukan penyair sejahtera, apalagi kaya raya. Terakhir saya ke sana, hidupnya di ambang bersahaja, meski tidak sampai masuk ke kelompok papa. Merana atau bahagiakah yang ia rasa? Tanya saja padanya.

Telah menelurkan berbagai karya, membuat sang pujangga pemilik istana berhak berkomentar tentang pengalamannya menulis esai, novel, dan puisi. “Yang paling membahagiakan bagiku (menulis – pen) puisi. Begitu selesai rasanya wahhh.. Selesai menulis 3 novel rasanya biasa saja. Capek,” tegas pria yang rela mengganti nama aslinya dengan nama ‘baptis’ dari mendiang mentor besarnya. Gila? Eksentrik? Biarlah Anda yang menilai.

Diiringi bunyi jangkrik, ia berkata lagi pada kami,”Entah kalian tetapi saya menulis tanpa mempedulikan pasar. Memikirkan bagaimana karya saya bisa laku? Sama sekali nggak pernah.” Ia tidak peduli cetakan bukunya yang 3000 eksemplar itu tak laku-laku juga selama beberapa tahun. Ah, pasti dia punya sumber pencaharian lain dari menulis buku. Pasti itu.

Tentang Kebahagiaan

Menulis itu berkah dan kebahagiaan tersendiri. Bahagia itu sulit sekali didapatkan. Manusia dengan berbagai cara mengejar kebahagiaan itu. “Kawin lagi,” ia memberi contoh, diiringi dengusan halus istrinya yang duduk di kursi lain. “Berjudi, koleksi mobil, membunuh orang, menguasai banyak orang, menaklukkan ini, nyogok ini, korupsi. Maksudnya hanya ingin bahagia meski pada perjalanannya menghancurkan kebahagiaan orang lain.”

“Kalau kita bisa meraih kebahagiaan itu dengan cara kita sendiri, yaitu menulis, itu sungguh ajaib,” urainya. Kerlipan matanya mirip bintang-bintang yang memancar dari kibasan tongkat wasiat Nirmala, tokoh protagonis yang saya rutin baca di majalah anak-anak Bobo. Itu definisi ajaib saya. Menulis tidak ajaib. Sama sekali tidak. Ia lebih mirip membajak sawah. Berat, kotor, harus perlahan serta tekun. Tidak bisa ajaib apalagi instan.

Selesai menulis itu saja sudah sebuah berkah. Bahwa kemudian tulisan itu dimuat dan si penulis berhak mendapatkan ganjaran finansial tertentu, itu berkah berikutnya. Bahwa kemudian karya itu membuat kita dikenal banyak orang dan bisa menghibur serta mengilhami orang, itu juga berkah tambahan lainnya. Diundang ke acara-acara juga.

“Tetapi jika seandainya tidak (seberuntung tadi – pen), ketika kamu selesai menulis dan merasa bahagia, itu sudah melebihi kebahagiaan yang diburu orang-orang dengan berbagai cara tadi. Dan hebatnya kita bisa bikin kebahagiaan itu sendiri,” imbuh pujangga beranak satu itu pada kami yang terpana. Saat sudah menyadari hal itu, diakui atau tidak diakui sudah bukan menjadi hal yang dianggap penting. Karena yang terpenting adalah kita bahagia bisa berkarya sebagai penulis. Tidak tahu dia, kami generasi X, Y dan Z sedang haus-hausnya memburu pengakuan apa saja. Dan ia mau kami mengabaikan pengakuan begitu saja? Sinting! Nanti saja kalau kami sudah senja seperti dia.

Kalau sesuatu sudah diniatkan harus begini atau begitu, di perjalanannya nanti pasti akan ada penyesuaian. Maksud dia, akan ada kompromi-kompromi yang pada gilirannya menurunkan derajat kebahagiaan. Akibatnya karya pun harus diubah-ubah sesuai kebutuhan. Tidak asli lagi.

Tentang Fokus

Semua yang ada di alam ini termasuk karya sastra memiliki energi hidup, ujar pujangga itu lagi. Karya sastra tidak hidup sebagaimana manusia atau hewan hidup, tetapi ia hidup dalam artian berdaya.

Dan ada sebuah hukum timbal balik, bahwa saat penulis memfokuskan dirinya pada karyanya dengan intens, hasilnya akan lebih sempurna daripada jika terdistraksi oleh hal-hal lain. Karena karya juga sama seperti orang, yang akan memperlakukan kita sebagaimana kita memperlakukannya. Tentu dengan orang-orang tak tahu berterima kasih sebagai pengecualiannya.

Tentang Hidup dengan Mitos Kesenian

Ada sebagian seniman yang berasumsi bahwa seni itu adiluhung dan seniman sendiri adalah orang-orang terpilih, lebih tinggi dan mulia dari golongan lainnya. Padahal jika seni itu adiluhung, semuanya lebih rendah dari seni itu. Dan seniman adalah penjaga dari seni yang dimuliakan itu. Mendengar itu saya teringat keganasan dan keangkuhan Front Pembela Islam. “Mereka seolah lebih peka daripada orang lain. Padahal tidak juga,”ia berargumen.

Seniman-seniman kita di masa lalu berpikiran seperti itu. Akibatnya, mereka merasa enggan (karena gengsi) mengerjakan hal-hal lain.”Banyak yang menolak menjadi pegawai negeri, kerja kantoran ditolak, apalagi kalau harus menjadi pengasong, membuka warung, karena itu dianggap rendah. Nah!”

Tentang Seniman yang (Merasa) Harus Menderita

Mendengar opini berseberangan dari orang lain, pujangga itu seolah meradang,”Nah itu, kamu harus memahami betul penderitaan tetapi tidak harus menderita dong.”

“Bagaimana caranya?” salah seorang dari kami berseru karena tak tahu.

“Kalau kamu harus menulis tentang kematian, apakah kamu harus mati dulu? Apakah kalau mau menulis tentang pelacur, kamu harus melacur dulu? Nggak! Menderita itu tak harus. Itulah gunanya survei, riset. Itulah gunanya melihat dan mendengar,”jawab dia dengan semangat. Teman saya terbungkam.

Sebagian seniman menghabiskan hidup mereka untuk menderita dengan penuh keyakinan, meneguhkan diri bahwa itulah jalan yang semestinya. Jangan seperti itu, kata si pujangga, karena nantinya cara berkeseniannya pun akan cenderung bersifat destruktif dan egois. Seniman harus peduli dengan keluarga dan lingkungan sekitarnya juga. Berikan nafkah pada mereka yang menjadi tanggungan Anda walaupun Anda tetap berkesenian. Kami manggut-manggut meresapi kalimatnya.

Pujangga itu mengritik seniman-seniman yang abai dengan masa depan anak-anak mereka sendiri, menganggap bahwa pengabaian itu berbahaya bagi generasi selanjutnya. Keegoisan dari si seniman bisa menurun tanpa disengaja. “Menurut saya, seniman semacam ini tidak bertanggung jawab,” vonisnya.

Omong kosong, lalu apa implikasinya pada karya sastra? Pujangga tadi beralasan,”Bagaimana bisa bertanggung jawab pada karya sastra yang bisa kita ciptakan sendiri itu jika bisa mengabaikan manusia yang hidup dan bisa berbicara? Bertanggung jawab atas ciptaan Tuhan saja tidak bisa apalagi bertanggung jawab atas ciptaanmu sendiri? Pasti berantakan nanti karyanya.”

Banyak seniman-seniman destruktif ini yang akan bersuara paling lantang begitu ada kelompok lain dalam masyarakat yang melakukan kesalahan. Namun, mereka akan mengelak dan terbungkam begitu ditanyai,”Kesenianmu sendiri sudah beres belum?” Biasanya belum, jawab pujangga itu sendiri.

Secara alami seniman-seniman destruktif nirtanggung jawab itu mengelompok sendiri, dan menggunakan atribut-atribut khusus agar menegaskan kesenimanan mereka. Rambut sengaja dibiarkan panjang, pakaian lusuh, dan sebagainya. Tak heran muncul impresi di masyarakat bahwa seniman adalah orang yang lusuh, kucel, gondrong, anarkis, tidak disiplin.

Tentang Disiplin Kerja Seniman

Sabda si pujangga, seniman sejati harus mengadopsi kedisiplinan. “Kita mau jadi apa saja harus disiplin dan rajin. Jangan seenaknya sendiri.”

Kalau mau menjadi penulis, menulislah setiap hari. Apakah nanti menjadi sebuah karya atau tidak itu bukan masalah besar. Ia menganalogikan kerja penulis yang menulis tiap hari sebagai pedagang yang setiap hari buka meskipun sadar ia belum tentu laku pada hari itu. “Tidak harus jadi tetapi harus saban hari.”

Justru dengan menyadari bahwa menulis adalah sebuah profesi, kita memuliakan menulis, terangnya lagi.

Malam makin mendaki mendekati puncaknya. Obrolan yang mirip paparan seminar ini belum menampakkan tanda akan usai. Di kursi dekat pilar besar, seorang dari kami penginap-penginap ini mulai menguap, otaknya berdesis meminta rehat. Segera. Tak bisa ditunda.

(Bersambung)

Tembakau dan Sastra: Peran Rokok Kretek dalam Proses Kreatif Pramudya Ananta Toer

Pramudya_Ananta_Tur_Kesusastraan_Modern_Indonesia_p226
Sekelompok sastrawan dan tembakau sudah seperti bayi kembar siam. Pramoedya Ananta Toer termasuk di antaranya. (Sumber foto: Wikimedia Commons)

Sebagai seseorang yang tidak pernah menaruh sejumput tembakau pun di mulut, saya tidak pernah berpikir untuk menggunakan bahan adiktif apapun sebagai substansi utama untuk mendorong laju proses kreatif atau menghancurkan kendala menulis (writer’s block) yang menggelayut di benak. Kafein juga tidak, karena tubuh dan alam bawah sadar saya menolak. Saya tidak mau mengalami ketergantungan dalam bentuk apapun, apalagi dalam bentuk yang merugikan kesehatan dalam jangka panjang. Saya mau menulis dalam berbagai situasi, ada atau tidak sesuatu itu, saya akan tetap bertahan dan berhasil menyelesaikan tulisan. Semakin saya bersandar pada hal-hal itu, saya pikir kinerja saya dalam menulis akan tersendat secara konyol.

Namun, begitu saya membaca uraian sastrawan Indonesia Pramoedya Ananta Toer, saya mengetahui betapa pentingnya peran tembakau dalam kehidupan dan proses berkarya seorang penulis sekalibernya. Bisa dikatakan mengisap rokok kretek sudah menduduki prioritas yang setara dengan keharusan makan nasi setiap hari bagi Pram, sebutan akrab  almarhum yang menulis uraian itu dalam bentuk sekapur sirih dalam buku bertajuk “Kretek” (2000) tulisan Mark Hanusz. Gila tetapi nyata, pikir saya.

Pram menceritakan kenangannya itu pada pembaca. Persentuhan perdananya dengan berawal saat masa kanak-kanak. Pram belia sudah rajin mengumpulkan bungkus rokok kretek yang dijual bebas di Blora, kota kelahirannya. Di sana ia bermain dengan bungkus-bungkus yang beraneka ragam itu sebagai sebuah kesenangan belaka tetapi belum mencicip tembakau melalui isapan mulut. Ini tentu sangat berbeda dengan beberapa fenomena saat ini yang menunjukkan sebagian anak-anak di bawah usia remaja sudah mengadopsi kebiasaan buruk mengisap rokok. Pram muda baru merokok secara aktif saat ia berusia 15 tahun. Setidaknya itu menurut pengakuannya. Kita tidak akan pernah tahu apakah ia sudah menjajalnya sejak lama sebelum itu atau memang baru saja.

Saya mengingat nama “Nitisemito” sebagai salah satu ruas jalan besar di kota kelahiran saya, Kudus. Saya melintasinya tiap kali memasuki atau meninggalkan kota itu untuk ke Jakarta. Jadi bisa dikatakan ia menjadi salah satu urat nadi lalu lintas dan transportasi kami. Namun, dalam ingatan Pram, Bal Tiga Nitisemito adalah sebuah merek rokok kretek termasyhur yang ia isap pertama kali di masa remajanya. “Saya masih ingat dengan jelas rokok kretek yang saya pertama kali isap. Jenisnya klobot – terbungkus dalam kulit jagung dan diikat dengan benang katun merah,” tuturnya.  Sekelebat saya pernah juga melihat rokok semacam itu dalam keluarga saya. Rokok yang pernah dikonsumsi saudara nenek saya.

Ketergantungan yang saya singgung di awal itu sempat membuat Pram kepayahan saat harus bekerja tanpa rokok. Seperti ia katakan dalam pengakuannya:”Selama perjalanan pertama saya ke Amerika Serikat, saya berjanji pada diri sendiri saya akan berhenti merokok. Saat saya di Washington saya harus menulis laporan dan rasanya saya tidak sanggup melakukannya. Itulah saat saya mulai merokok kembali, (dan) meskipun kemudian saya sudah merokok, laporan itu tetap tak rampung juga.” Ironisnya, bahkan rokok kadang tidak bisa membuat kita lebih produktif. Hanya sebagai pelampiasan keresahan yang tidak beralasan.

Saat Pram mengklaim “semua pria Indonesia merokok dan mereka merokok kretek”, saya merasa saya sudah kehilangan jati diri saya sebagai pria Indonesia. Namun, tetap harus saya terima dengan lapang dada. Berdasarkan klaim Pram itu, saya bisa dicap tidak pria dan tidak Indonesia hanya karena menolak dan tidak pernah nyaman untuk merokok.

Pernyataan Pram memang ada benarnya. Rokok membantu para pria untuk bergaul, bersosialisasi dan membuka jalan ke lingkaran pergaulan di banyak hal. Kerap saya temui, dua orang yang asing satu sama lain bisa menjadi akrab karena meminjam pemantik api atau karena sama-sama harus berdiri di luar ruangan di kala tubuh mendamba tembakau karena di dalam berpendingin udara. Saat meminjam muka-muka perokok bisa sangat manis, ramah dan bersahabat meski dengan preman sekalipun. Heran? Tidak, karena sejak kecil saya juga sudah tak terhitung banyaknya menghadiri acara-acara sosial yang melibatkan rokok di dalamnya. Merokok seolah sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Kudus dan memang sudah semestinya demikian karena dari kabupaten terkecil di provinsi Jawa Tengah ini rokok kretek menyebar ke mana-mana. Dan karena rokok, saya juga relatif terkucil dari pergaulan. Saya lelah harus bercakap-cakap dengan menahan napas di sebuah kumpulan “cerobong asap” bersarung dan berpeci di hajatan kelahiran, pernikahan, khitan, syukuran, hingga kematian.

Dalam kasus Pram, rokok kretek membantunya untuk tidak hanya berkreasi dalam dunia sastra dan jurnalistik, tetapi juga memberikannya kemampuan menolerir semua penderitaan sepanjang hidupnya yang turun naik selama masa revolusi di republik ini. “Kretek membantu saya melalui beberapa masa sulit,” kenang sang sastrawan. Di pulau Buru, Pram yang harus menjalani masa pengasingan itu tetap tidak terpisahkan dari rokok dan merokok. Walaupun cengkeh sulit ditemukan karena pembatasan jual beli di pasar, Pram terus saja merokok tanpa peduli bahan-bahannya. Pokoknya, asal ada dedaunan yang bisa dikeringkan dan dimasukkan dalam gulungan sebagai rokok yang bisa diisap, ia sudah lega. “Kami membuat rokok sendiri, dengan daun kelapa dan longsongan kertas-kertas apapun yang kami bisa temukan.” Di masa pendudukan Jepang saat banyak orang tewas kelaparan, Pram menggunakan rokok sebagai alat bertahan hidup. Rokok menurut Pram bisa mencegah rasa lapar muncul. Mungkin inilah yang membuat para perempuan juga tertarik menggunakan rokok sebagai sebuah alat praktis penurun berat badan, yang tentu sebuah salah kaprah karena harga yang harus dibayar tidaklah setimpal dengan dampak kesehatannya.

Terlepas dari polemik kesehatannya, rokok kretek sudah memberikan Kudus kemajuan ekonomi yang relatif tinggi sejak kemunculannya di akhir abad ke-19, tulis Hanusz. Bukan hendak sesumbar, tetapi Anda bisa bandingkan sendiri kondisi ekonomi warga Kudus dengan kabupaten-kabupaten di sekitarnya, seperti Purwodadi, Pati, Jepara dan Demak. Semua karena kontribusi cukai.

Dan yang terpenting, rokok kretek juga telah menjadi lokomotif penggerak proses kreatif sastrawan-sastrawan Indonesia yang saya yakin juga mayoritas suka atau setidaknya di masa lampau pernah kecanduan merokok.

Salam kretek dari warga Kudus pembenci rokok!

Penerjemahan Karya Sastra, Pekerjaan Rumah Berlimpah bagi Indonesia

Ada hal yang menggelitik tatkala Wakil Pimpinan Frankfurt Book Fair Claudia Kaiser menyampaikan kritik transparannya mengenai proses kerjasama dengan pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), yang menurutnya berjalan sangat lamban. Kaiser menyatakan dengan nada kritis, yang segera dihentikan oleh editor John H. McGlynn dari Yayasan Lontar yang tampil bersamanya hari itu (22/3/2015) dalam diskusi “The Role of Literary Translation” dalam rangkaian Asean Literary Festival 2015 di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki. Meskipun interupsi McGlynn itu disampaikan dengan mimik muka bercanda, saya tahu hal yang Kaiser coba untuk sampaikan mungkin bisa disalahartikan oleh sebagian pihak dan berdampak pada kerjasama nantinya.

Desliana Maulipaksi telah menuliskan laporan selayang pandangnya yang berjudul “Pentingnya Program Penerjemahan Karya Sastra Suatu Negara” di Kemdikbud.go.id. Dan kini saya akan melengkapi reportasenya itu, bukan dengan sudut pandang birokrat atau pihak luar/ asing yang bekerjasama dengan birokrat, tetapi lebih sebagai bagian dari kelompok akar rumput alias rakyat yang mencemaskan kemajuan susastra negerinya di tingkat dunia.

Kaiser mengaku pemerintah Indonesia saat itu memiliki minat yang besar dalam berpartisipasi dalam Frankfurt Book Fair. “Tetapi kami katakan dibutuhkanwaktu setidaknya 3 tahun untuk mempersiapkan diri dengan baik,” sarannya pada kementerian. “Kami pun banyak menelepon, bertukar surel, dan kami menunggu selama 2 tahun. Akhirnya kami putuskan kami tak bisa menunggu lebih lama. Saat kami sudah berhenti berharap, nota kesepahaman diteken tiba-tiba. Namun, (persiapannya) sudah terlambat. Akhirnya hanya ada waktu 2 tahun untuk bersiap-siap.”

Masih kata Kaiser, program pendanaan penerjemahan juga menemui aral. Perubahan dari pihak pemerintah Indonesia terjadi terus menerus bahkan setelah jadwal dan linimasa sudah ditetapkan sebelumnya oleh pihak Frankfurt Book Fair.

McGlynn bukannya tidak mengkritik sama sekali. Tinggal di Indonesia puluhan tahun membuatnya tahu bagaimana menyampaikan kritik dengan lebih ‘Indonesia’, lain dari cara Kaiser yang lebih ‘Aryan’. Ia turut memberikan masukan mengenai kurangnya perhatian pemerintah pada perkembangan dunia susastra di sini. “Sudah banyak festival sastra di Indonesia, itu bagus. Akan tetapi untuk menghadiri acara-acara itu pun para penulis dan penerbit masih belum didukung oleh pemerintah. Tidak ada anggaran yang teralokasikan secara khusus untuk mendanai kegiatan para penulis dan penerbit untuk memperkenalkan karya-karya di festival sastra,” ujar McGlynn.

Selama ini, masih kata McGlynn, para penulis harus menggunakan kenalan mereka di dalam lingkaran birokrasi. Mereka yang diberangkatkan biasanya adalah para pegiat sastra yang dikenal kalangan pemerintah juga. Jika tidak dikenal, pupus sudah harapan untuk diajak.

McGlynn menyarankan pemerintah untuk merealisasikan rencana besar (grand plan) khusus bagi pegiat sastra di Indonesia agar mereka makin dimudahkan dalam berkarya dan memperkenalkan karya-karya mereka. Bertahun-tahun lalu saat McGlynn memulai karirnya sebagai penerjemah, digagas sebuah program penerjemahan sastra ke bahasa-bahasa negara Asean. Dan ia menegaskan ini bukan proyek yang bersifat komersial. “Siapapun yang memberikan uangnya untuk proyek ini akan kehilangan uangnya itu,” tegas McGlynn terus terang.

“Karena itulah diperlukan peran pemerintah,” timpal Kaiser dengan gemas sedetik setelah McGlynn berbicara.

Di Indonesia, peran pemerintah memang tidak bisa diabaikan. Namun, sebuah kebodohan untuk menunggu pemerintah mengatasi semua tantangan di lapangan secara otomatis dalam waktu secepatnya.

Untungnya, pihak swasta juga sudah menunjukkan kepeduliannya. “Ada sebagian kalangan swasta yang sudah menunjukkan kepeduliannya,” katanya. Lagi-lagi, tidak ada skema insentif yang dapat mendorong korporasi swasta Indonesia untuk secara kontinu menjadi penyandang dana proyek-proyek penerjemahan. Buktinya, tidak diberikan pemotongan terhadap jumlah pajak yang dibebankan pada perusahaan-perusahaan yang menyumbang di proyek-proyek penerjemahan karya sastra. McGlynn menjelaskan,”Diperlukan adanya struktur pajak yang memberikan keuntungan bagi korporasi swasta yang bersedia memberikan sumbangsih bagi keberlangsungan institusi-institusi budaya. Anda bisa mendapatkan insentif pajak untuk olahraga di Indonesia, tetapi tidak untuk sastra.” Skema insentif pajak semacam itu sudah terbukti sukses di Amerika Serikat dan negara-negara lain. Inilah yang menjadi pekerjaan rumah kita semua.

Jerman juga mengalami tantangan yang sama. Menurut Kaiser, minat korporasi swasta di negerinya untuk mendanai program penerjamahan karya sastra masih rendah karena mereka lebih mengutamakan visibilitas brand. Karenanya, mendukung sebuah acara olahraga akan lebih menguntungkan daripada mendukung program sastra, tandas wanita yang menguasai bahasa Mandarin itu. Kalaupun ada proyek penerbitan yang didanai, lanjutnya, buku hasil pendanaan biasanya bertema sejarah perusahaan yang memberikan pendanaan.

Cara Mengapresiasi Sastrawan

Di Ubud akhir pekan lalu, saya bertemu dengan seorang teman. Ia baru saja merilis sebuah buku puisi. Ia menawari saya buku tersebut. Ia merasa sangat bersemangat untuk memperkenalkannya pada semua orang yang ia temui di Ubud Writers Readers Festival (UWRF) tahun ini.

Edrida, begitu namanya, menawari saya,”Kamu mau beli?” Matanya berbinar-binar. Dan saya mengangguk. Ia makin tidak percaya saya ingin membeli karyanya.

Sekali lagi ia bertanya,”Benar? Mau beli???”

“Berapa?”saya bertanya padanya.

“Lima puluh enam ribu,”ia berkata dengan sedikit haru, masih dengan antusiasme lalu mengambil tas besarnya di sebuah sudut.

Saya kaget dengan reaksinya. Jujur saja, saya tidak mengharapkan reaksi yang demikian meluap-luap. Ia seakan tidak percaya ada yang ingin membeli karyanya, padahal ini bukan karya pertamanya yang diperjualbelikan. Ia sudah menerbitkan beberapa buku.

Usut punya usut, setelah mengobrol saya tahu ia mengeluhkan harganya yang cukup mahal menurut beberapa orang. Tetapi apalah artinya Rp56.000 jika saya bandingkan dengan sebuah kumpulan cerpen hasil suntingan editor negeri kanguru Angela Meyer yang dibanderol, ehem, Rp400.000 lebih. Padahal tebalnya sedang saja. Mutu kertasnya juga tidak istimewa sekali. Apakah karya di dalamnya sangat bermutu? Entah. Itu sangat subjektif dan saya tak bisa meneliti lebih lanjut isinya karena tidak ada sampel yang bisa dibuka untuk sekadar baca cepat.

Setelah ia menerima uang itu, saya berkata santai,”Kalau saya nanti menerbitkan buku, saya juga mau buku saya dibeli. Bukan dibagikan gratis.”

Membagikan buku secara gratis memang tragis. Ada teman saya yang seorang jurnalis Pertamina selama berpuluh-puluh tahun yang, entah terpaksa atau tidak, membagikan buku puisinya yang sudah diterbitkan secara cuma-cuma untuk para kolega dan kenalannya.

Saya merasa ini kurang benar. Kecuali jika sastrawan itu benar-benar ingin memberikannya secara gratis, orang-orang di sekelilingnya haruslah membeli buku itu. Bukan, bukan nilai nominalnya yang menjadi poin utama tetapi bagaimana apresiasi itu diberikan. Sastrawan itu merasa sudah dihargai, sudah dianggap ada, sudah dianggap bekerja dan sukses berkarya. Ini bukan semata-mata belas kasihan tetapi dalam sudut pandang yang lebih luas juga bisa dianggap sebagai upaya awal untuk menggiatkan dunia seni kreatif kita. Tolonglah jangan menyalin tanpa izin, memfotokopi seenaknya lalu membagikan ke siapa saja. Berikan setidaknya penghormatan atas hasil kerja mereka.

Saya tahu hidup penulis tidaklah mudah. Banyak yang harus berjuang setengah mati mencari nafkah. Lihat saja NH Dini di masa tuanya. Ia sudah produktif menulis sekian lama, toh di masa uzurnya masih saja menderita di dalam deraan keterbatasan finansial. Meski tak harus kaya raya bak JK Rowling, setidaknya Dini dan semua sastrawan dan penulis kita di Indonesia memiliki tingkat kesejahteraan yang lebih layak.

Edrida, seperti banyak penulis Indonesia lainnya, masih menunggu apresiasi kita. Apresiasi yang tak kunjung mengemuka. Malah apresiasi yang datang lebih banyak dari mancanegara. Ia ingin saya menerjemahkan buku puisinya. “Siapa tahu bisa diundang ke sana!,”jeritnya gembira.