Menelisik Fitartistik (6): Menanamkan Disiplin Latihan

MEMASUKI PERTEMUAN KEENAM, teknik-teknik dasar sudah diberikan semua dan tugas saya sekarang ialah terus berlatih dengan konsistensi yang terpelihara. Begitu sudah mulai dan berkomitmen, sebaiknya memang tidak berhenti begitu saja karena alasan apapun juga. Kenapa? Karena kalau Anda sudah terbiasa dan kemudian berhenti di tengah jalan, apapun hasil yang Anda sudah dapatkan di titik itu akan surut kembali ke nol begitu berhenti berlatih dalam waktu lama yang tidak bisa ditentukan. Itulah kenapa latihan harus konsisten dan disiplin.

Lagi-lagi saya harus menghadapi menu yang sama dengan sebelumnya. Jogging beberapa putaran, melompati anak tangga, lalu lari mundur, dan kemudian pemanasan ala Fitartistik yang ada enam sirkuit itu (lain kali akan saya rinci lagi keenamnya), latihan inti dan pendinginan.

Latihan inti sendiri terbagi dalam beberapa gerakan dasar. Pertama handstand. Ya, lagi-lagi handstand. Ini supaya makin terbiasa dengan sensasinya. Dan memang dengan pengulangan, keterampilan apapun bisa tersempurnakan. Repetisi juga membuat saya makin fokus dalam meneliti detail-detail yang penting agar handstand ini makin sempurna. Tidak seperti yoga, dalam Fitartistik tidak dilarang untuk mengejar kesempurnaan (meskipun relatif juga makna kesempurnaan itu).

Detail-detail yang terlewatkan dalam handstand itu misalnya penempatan dan posisi jari jemari saya di permukaan lantai. Selama ini saya tidak mengamati benar tetapi begitu saya perhatikan lebih cermat, jari jemari saya memang kurang pas dan kokoh dalam menopang berat tubuh. Ruas-ruas jari saya ternyata seharusnya tidak terkena permukaan lantai semua. Sisakan sedikit rongga antara sendi jari dan lantai sehingga jari-jari itu bisa difungsikan sebagai rem bila tubuh hampir condong ke depan. Dan fakta aneh yang saya rasakan ialah kekuatan jari kelingking saya yang terlalu rendah untuk ikut mengerem daya tarik bumi. Saya merasa kelingking saya terlalu melebar ke samping luar. Jari-jari yang terlalu lebar dibuka sehingga telapak tangan menempel semuanya di lantai (seperti dalam downward-facing dog) juga malah kontraproduktif dalam handstand, menurut pengalaman saya. Posisi mencengkeram lebih pas untuk handstand.

Apakah jari-jari ini cuma bisa dipakai mengetik dan tidak bisa dilatih handstand? Hanya waktu yang bisa menjawab. Sementara itu, yang saya bisa lakukan hanyalah berlatih terus.

Untuk cartwheel, saya masih harus berjuang untuk menyeimbangkan sisi kanan dan kiri. Sisi kiri saya masih tidak sekuat dan selentur sisi kanan sehingga saat cartwheel, saya merasa canggung dan gerakannya kaku, kurang memenuhi ekspektasi.

Untuk persiapan planche, saya terus memperlama ketahanan dalam posisi tubuh di atas paralel bar. Saya masih terus berlatih dengan posisi kedua tangan menggenggam palang dan posisi lutut ditekuk ke arah dada tetapi tidak menyentuh ketiak dan dada sama sekali. Bila ini sudah stabil dan tahan lama dan di ketinggian yang memadai, saya bisa mencoba planche dengan kaki terbuka lurus ke samping (straddle legs). (*/)