Dolorosa Sinaga: Seni Itu Mencerdaskan

“Jangan hidup seperti gelas yang sudah penuh,” tandasnya berapi-api. “Tak bisa lagi diisi.” Wanita itu tampak amat menjiwai perkataannya tadi. Ia hidup dengan pikiran yang terbuka, siap menyambut berbagai dialog, interaksi, dan pertukaran gagasan.

Dolo, demikian panggilan akrabnya, tak pernah merasa puas sehingga ia menolak untuk menjadi gelas yang penuh. Ia menyandarkan diri ke kursi lalu mengatakan sesuatu yang coba ia ingat dari masa lalu. Pandangannya menerawang sejenak dan sedetik kemudian berucap,”Setiap saya bertemu wartawan, saya teringat dengan tulisan seorang budayawan yang mengatakan ada empat aspek yang membuat kekuasaan tak bisa berdiri lagi. Yang pertama, kaum intelektualnya. Kedua, budayawannya. Ketiga, teknologi informasi. Dan terakhir, jurnalis.”

Ia mengimbuhi pernyataannya tadi dengan penjelasan: kaum cendekiawan akan selalu mempertanyakan kebijakan-kebijakan yang diambil pemegang kekuasaan; kaum budayawan akan terus-menerus berupaya mempertahankan nilai-nilai masyarakat yang bisa tergerus karena ambisi kekuasaan; teknologi informasi juga bisa meruntuhkan benteng kokoh penguasa di era digital seperti sekarang; dan kelompok pewarta berperan menjembatani penguasa dan rakyat banyak.  “Jadi, you are the agent of change, actually,” tegas perempuan itu lagi.

Sebagai agen perubahan, para jurnalis memiliki kekuatan dalam membentuk dan mengarahkan opini publik. “Saya juga bisa membangun opini publik tetapi tidak sehebat dan semasif kalian karena kalian mencetak berjuta-juta dan berulang kali dikonsumsi para pembaca sementara saya hanya satu.”

Dolorosa bukan penganut aliran realis dalam berkarya sebagai perupa. Ia justru lebih tertarik pada bentuk-bentuk yang tidak secara jelas menggambarkan sosok manusia. Yang ia suguhkan pada para penikmat karyanya ialah bentuk-bentuk tiga dimensi yang sarat dengan gestur-gestur yang bermakna. Setiap kekaburan bentuk itu malah sanggup memberikan ruang yang lebih bebas bagi penikmat seni rupanya dalam menginterpretasikan. Ada ruang yang tersisa yang justru dapat diisi dengan fantasi dalam benak masing-masing orang yang melihatnya.

Ia mencontohkan dalam sebuah pameran, ia menyaksikan bahwa karyanya yang bertajuk “Tak Terjudulkan” menjadi perhatian pengunjung karena pesan di dalamnya tidak mudah ditebak. Namun, karena Dolorosa piawai menyematkan pesan ke dalam karyanya, tanpa judul ia bisa mengajak audiens untuk berpikir lebih kritis memaknainya. Ia sempat menyaksikan diskusi seorang ibu dan anaknya mengenai “Tak Terjudulkan”. Sang ibu rupanya tengah menasihati anaknya untuk tidak takut dalam menyampaikan aspirasi dan pendapatnya, sebagaimana makna besar yang ia tangkap dari karya tersebut. Mengetahui diskusi yang terbangun dari karyanya itu, Dolorosa merasa berhasil sebagai seorang perupa.

Dolorosa memiki keahlian yang tidak diragukan lagi dalam hal analisis anatomi manusia. Pendidikannya di mancanegara memungkinkannya belajar aspek penting raga manusia sebagai subjek seni, yang turut berperan memberikannya ciri khas dalam setiap karya. Sebab ia merasa sudah ‘kenyang’ dengan gaya realisme itulah, Dolorosa kemudian memutuskan untuk menjajal gaya yang lebih unik, yakni dengan mengambil pemahaman atas gerak sebuah subjek. Jadi, ia tidak semata-mata menyuguhkan subjek secara ‘mentah’. Ia kemas lagi dengan gayanya sendiri yang tiada duanya.

Untuk menemukan seniman realis di Indonesia, kita lebih mudah. Di Yogyakarta, kita bisa jumpai banyak seniman realis, terang perempuan yang memiliki sapaan akrab Dolo ini. “Tetapi membuat figur itu mempunyai nyawa, dan bagaimana ia bisa dibuat gesturnya sehingga membuat orang berhenti.”

Dinamis dan ekspresif menjadi dua kata kunci utama yang ia utamakan dalam karya-karyanya. Dolo mengatakan figur-figur realis terlalu mementingkan akurasi dan menekankan aspek-aspek yang sebetulnya sudah diingat dan diketahui dengan baik oleh audiens. Inilah alasan Dolo tidak membuat figur-figur realistis. “Tetapi saya reenact (memeragakan kembali) gestur-gestur mereka sehingga membuat audiens harus berpikir lebih keras. Dengan begitu, mereka menjadi lebih produktif dan cerdas.”

Dolo memiliki suatu slogan dalam beraktivitas di ranah seni. “Seni itu mencerdaskan,” tegasnya. Ia meyakini bahwa semua produk manusia yang di dalamnya ada unsur kreativitas, membuat kita melihat adanyah kecerdasan dan kerja keras di dalamnya. Pencerdasan ialah suatu aspek terpenting dalam seni, menurutnya. Seni sepatutnya mendorong pikiran kita lebih bersemangat dan kritis dalam berpikir.

Di samping alat untuk mencerdaskan manusia, seni juga kata Dolo bisa berperan sebagai alat yang ampuh dalam menangkal kekerasan. Karena seni mendorong kita menuju keindahan dalam berbagai variasi bentuknya.

Meskipun bergerak dalam seni rupa, Dolo juga penikmat musik. Dalam berkarya di studionya, ia mengaku selalu mendengarkan musik untuk memacu semangat menghasilkan karya-karya anyar.

Ada alasan kenapa menurutnya musik bisa menggiring pendengarnya ke suasana hati tertentu, kenangan masa lalu yang mengharu biru, dan semacamnya. “Karena telinga lebih dekat ke otak daripada indra lainnya,” terangnya.

Ditanya soal jenis musik yang ia dengarkan, Dolo berkata ia mendengar semua jenis musik. Bahkan dangdut sekalipun. “Dalam dangdut, Anda bisa menelusuri jejak sejarah,” terang perempuan berambut bergelombang itu. Ia menggarisbawahi keterbukaan dangdut sebagai bentuk seni yang dengan luwes mengakomodasi elemen-elemen yang datang dari luar dirinya. “Dangdut bisa memakai melodi-melodi melengking dari Zeppelin. Para pemusik dangdut itu mengadaptasikannya dan melebur menjadi dangdut juga,” tegasnya.

Seni itu menurut Dolo suatu entitas yang terbuka dan mampu memberikan pemahaman pada kita yang masih berpandangan sempit ini bahwa perbedaan itu ada dalam diri setiap manusia. Itulah mengapa setiap manusia dinamai berbeda, ia mencontohkan. Karena itu, ia sangat prihatin dengan adanya tren yang berkembang di tanah air untuk mengarah pada keseragaman dan memadamkan semangat pluralisme.

Selain sebagai perupa yang sudah berkarya ke tataran dunia, Dolo juga mendarmabaktikan waktunya sebagai seorang pengajar di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Dan soal pendidikan, ia banyak memiliki kritik. “Negara kita memiliki pendidikan yang sangat terbelakang,” tandasnya dengan nada sedih.

Bentuk pendidikan seni kita juga mengalami kemunduran. Dahulu, anak-anak selain mendapatkan pendidikan formal di sekolah, mereka juga mendapatkan waktu untuk menekuni seni di lingkungan sekitar mereka. “Dengan begitu, generasi muda masih memiliki jiwa tetapi sekarang sudah luntur,” tuturnya.

Dolo menyoroti bahwa jejak-jejak rezim militer Orde Baru yang represif itu masih ada. Reformasi juga ia anggap belum berjalan sebagaimana mestinya karena baru sanggup menggulingkan Suharto tetapi tidak memiliki fondasi yang kuat untuk menentukan masa depan Indonesia. “Jika saat itu, kita memiliki basis kuat itu dalam menentukan masa depan, ada banyak hal yang bisa kita kerjakan. (*/)