Begini Cara Media-media Ini Bisa Bertahan dan Hasilkan Laba Tanpa Taktik Clickbait

KITA SEMUA TAHU apa itu “clickbait”. Judul berita (konten) yang menggoda untuk diklik karena membangkitkan emosi dan perasaan tertentu dalam diri pembacanya. Jangankan orang awam yang berpendidikan rata-rata, mereka yang tergolong intelektual dan berpemikiran dewasa dan matang saja kadang terperosok ke jebakan satu ini. Kenapa? Karena clickbait menyasar ke elemen emosi manusia, bukan akal. Mereka berupaya memuaskan emosi-emosi yang tak tersalurkan dan hasrat itu cuma bisa disalurkan hanya dengan satu tap (di layar ponsel) atau klik (di laptop atau desktop).

Saat ini clickbait sudah menjadi taktik yang lumrah dan murah(an). Tinggal mengutak-atik judul menjadi bombastis dan sedikit menipu, pembaca pasti gatal mengklik.

Tapi kita tahu bahwa cara semacam itu akan ada akhir masa efektifnya. Orang makin terlatih untuk mengenali judul-judul yang menjebak. Dan meskipun sebagian pembaca memang tidak jera jatuh di ‘perangkap’ yang sama, sebagian lainnya sudah mengenali betul judul-judul konten tipe clickbait dan meninggalkannya tanpa ingin sekalipun membaca.

Saya sendiri sebagai seorang jurnalis di era media baru sekarang ini makin jengah juga dengan kondisi jurnalisme yang makin semrawut. Siapa saja bisa mempublikasikan pendapat dan pemikiran mereka di internet dan tidak peduli apakah itu memang layak dipublukasikan atau tidak, pokoknya ada yang baca dan mengklik lalu ada yang mau beriklan, sudah baguslah.

Tanggung jawab terhadap kemaslahatan masyarakat yang membaca seolah dikesampingkan, kalau tidak bisa dikatakan diabaikan sama sekali.

Dan yang paling mencemaskan, perusahaan media lama yang sejak lama sudah punya nama besar dan reputasi baik di mata masyarakat lama-lama juga larut ke dalam pusaran tren clickbait ini.

Saya pernah mendengarkan sekelompok jurnalis dari perusahaan media tertentu yang mengeluhkan rekan-rekan mereka di segmen daring (alias para wartawan online) yang secara bebas memanipulasi judul berita sedemikian rupa tanpa mempertimbangkan faktor lain kecuali hitungan ditampilkannya sebuah laman web atau pageviews. Mereka ini jurnalis-jurnalis dari era media lama yang menyayangkan ‘pengkhianatan’ yang dilakukan rekan-rekan mereka di media baru.

Apakah clickbait itu salah?

Tentu tidak serta merta salah. Jurnalisme bukan bidang yang tidak membutuhkan modal besar (apalagi jika ingin melakukannya dalam koridor jurnalisme yang sebenarnya). Produk jurnalisme yang berkualitas bagus dihasilkan dengan biaya yang tinggi, waktu yang relatif lama dan melibatkan banyak pihak (tidak cuma kutip satu sumber lalu klik ‘publish’). Bisnis media juga bukan jenis bisnis yang bisa dilakukan sembarang orang. Perlu keterampilan dan pengalaman dalam melakukannya.

Hanya saja masalahnya ialah cara untuk meraup untung agar bisa bertahan hidup itulah yang melenceng dari hakikat jurnalisme semula.

Judul-judul clickbait sudah semestinya tidak menjadi andalan utama media-media saat ini untuk menarik pengunjung dan melejitkan hitungan pageviews.

Berikut adalah beberapa media yang terbukti sukses memanfaatkan strategi lain yang lebih kreatif dan menarik daripada sekadar memperbanyak pageviews melalui judul-judul yang menyesatkan dan isi/ konten yang kurang edukatif, informatif dan terkesan asal.

“Le Un” memang nomor wahid dalam hal menyajikan informasi dalam bentuk dan desain cetak yang menarik dan unik.

LE UN

Perusahaan media bernama “Le Un” (Satu) ini mengandalkan cita rasa seni untuk mengemas kontennya agar menarik pembaca. Media ini menggabungkan seniman dengan penulis-penulis. Le Un yang terbit mingguan ini berbentuk mirip sebuah peta raksasa yang dilipat dengan apik, memakai kertas yang mengkilap dan font yang rapi dan elegan. Konon format dan bentuk itu didapat dari poster propaganda yang turut membentuk sejarah Prancis modern seperti sekarang. Dan teks di dalamnya tidak mendominasi. Justru konten teks disajikan secara harmonis dengan grafis dan ilustrasi serta foto yang warna-warni sehingga tidak menjemukan pembaca. Ada komik, cerpen, kolom dan konten lain yang biasa ada dalam surat kabar atau majalah.

SUDDEUTSCHE ZEITUNG MAGAZIN

Majalah dari Jerman ini lain dari majalah lazimnya. Apa pasal? Sampul-sampulnya dihiasi dengan karya seni abstrak yang menggelitik keingintahuan calon pembelinya. Hal ini diakui sebagai kelebihan yang menjual bagi majalah tersebut karena banyak media mengandalkan foto dan ilustrasi yang terlalu gamblang untuk dipahami di sampul depan.  

Sebagai konsekuensinya, Suddeutsche Zeitung Magazin tidak bisa sembarangan memilih gambar sampul. Berbagai pilihan ditentukan secara cermat oleh seorang direktur seni yang berpengalaman. Dan penyunting kepala (editor in-chief) harus bekerja secara selaras dengan direktur seni tadi agar tercipta sampul yang memukau calon pembeli.

Monocle, majalah yang kemudian berkembang menjadi bisnis media yang komplit.

MONOCLE

Tahun 2007, majalah Monocle diluncurkan dengan konten yang global. Kini dengan jumlah pembaca yang makin besar, mereka mengandalkan komunitasnya sebagai daya tarik utama. Dengan kata lain, para pembaca diperlakukan secara istimewa dengan memberikan mereka banyak kesempatan untuk menghadiri event khusus pelanggan majalah tersebut saja. Layanan yang prima juga menggenjot daya saing di tengah persaingan yang tiada ampun di industri media.

Konten-konten di situs web dan majalahnya sama sekali tidak dibumbui headline yang terlalu ‘merangsang’. Mereka tetap berpegang teguh pada prinsip jurnalisme yang berimbang dan gaya penuturan yang bercerita (storytelling).

Tidak cuma web dan majalah, Monocle juga menyediakan kanal komunikasi radio, Monocle 24, yang disiarkan dari kantor pusat mereka di Midori House, London.

Tidak bisa dipungkiri Monocle memang menyasar segmen terbatas, yakni mereka yang tidak sungkan menghabiskan sejumlah uang untuk menikmati hidup dengan kualitas yang prima. (foto: Monocle/*)