Anomali Bernama Baduy (11)

Supaya pengalaman menyinggahi kampung Baduy makin berkesan, diusulkan pengunjung mengenakan busana warga asli. Saya justru merinding membayangkannya. (Foto: Tim Geo Tour/ Jalan- Jalan Baik)
Supaya pengalaman menyinggahi kampung Baduy makin berkesan, diusulkan pengunjung mengenakan busana warga asli. Saya justru merinding membayangkannya. (Foto: Tim Geo Tour/ Jalan- Jalan Baik)

MENGHAYATI BADUY. Saya duduk di beranda sore itu. Beranda rumah orang Baduy Dalam lain dari beranda rumah orang Baduy Luar. Baduy Dalam merancang rumah mereka tidak sebagai tempat untuk bekerja (terutama bagi kaum Hawa untuk mengerjakan tenunan kain mereka) sehingga luas berandanya ala kadarnya. Barangkali cuma bisa untuk menempatkan bokong saja tanpa bisa meluruskan kaki. Kaki mesti menjuntai ke bawah jika ingin duduk santai dan bercakap-cakap lama dengan banyak orang.

Di ambang pintu rumah yang saya tinggali semalam itu, saya mendengar lamat-lamat dua jenis percakapan yang berlainan secara bersamaan. Di dalam dinding anyaman bambu, percakapan khas orang-orang urban mengalir tanpa henti. Soal dunia akademik, perkuliahan, lalu berlanjut ke pekerjaan, pendidikan, dan prestise dan tetek bengek kehidupan masyarakat perkotaan. Semua pembicaraan itu tentang dunia luar, dunia yang asing dari tempat yang kami sedang pijak sekarang.

Sementara itu, di luar rumah, saya dengarkan di waktu bersamaan sekelompok pria Baduy Dalam yang bercakap-cakap dalam bahasa Sunda Kasar yang hampir saya tidak bisa pahami.

Dua percakapan yang membuat saya kebingungan. Yang pertama membuat saya segan mengikuti karena saya sedang ingin menghayati pengalaman hidup di sini, jadi apapun soal dunia luar saya coba sekuat mungkin tinggalkan sejenak. Saya ingin tidak hanya tubuh kasar saya yang berada di kampung Baduy ini tetapi juga segenap pikiran dan jiwa saya. Karena ini saat-saat yang langka dan mungkin tidak akan terulang lagi. Begitulah saya selalu mencoba menghargai tiap momen ini. Saya yakin tidak ada hari atau kesempatan yang sama. Sabtu ini berbeda dengan Sabtu depan meskipun sekilas masih sama-sama bernama Sabtu.

Kang Cecep dari rombongan kami mengusulkan bahwa agar pengalaman tinggal di perkampungan Baduy Dalam lebih mengesankan, akan lebih baik jika segala perlengkapan dan peralatan yang dibawa dari ‘dunia luar’ Baduy dititipkan di sebuah pos khusus untuk kemudian dibawa kembali jika kunjungan sudah selesai.

Dan tidak lupa supaya lebih menghayati kehidupan orang Baduy Dalam, kami juga usulkan untuk memperbolehkan pengunjung mengenakan busana Baduy. Jadi, di sini tidak ada orang yang pakai kaos dengan tulisan aneh-aneh ala anak kota, atau celana pendek (hotpants) yang minim.

Jaro yang menemui kami menampik gagasan tersebut. Menurut hematnya, mereka warga Baduy Dalam sendiri merasa tidak tega untuk menyusahkan pengunjung sampai harus melucuti mereka dari pakaian yang biasa mereka kenakan dan berganti mengenakan pakaian tradisional seperti mereka. “Lagipula nanti susah membedakan mana orang Baduy dan yang pendatang,” jaro beralasan. Kami menerima argumentasinya itu. Masuk akal juga. Maka kami tidak memaksa lagi.

Saya sendiri bergidik jika gagasan itu diterima dan diterapkan. Bagaimana tidak? Para pria Baduy Dalam ini konon tidak mengenal pakaian dalam. Karena itulah, mereka duduk dengan kedua kaki terlipat rapat. Selalu. Meskipun ada argumentasi ilmiah bahwa tidak memakai celana dalam  apalagi yang ketat lebih kondusif bagi kesuburan, tetap saja saya tidak terlintas untuk mengaplikasikannya di luar rumah apalagi saat bepergian dan bertemu dengan banyak orang. Jadi, tidak terbayang bagaimana leganya saya karena jaro sudah menolak ide itu mentah-mentah.

Meskipun memiliki citra introvert dan konservatif, masyarakat Baduy terutama yang lelaki tidak sepenuhnya anti terhadap dunia luar. Sebagian dari mereka kadang berkunjung ke kota besar seperti Jakarta.

Jika kita menempatkan diri kita sebagai seorang manusia Baduy Dalam, memandang dunia luar tentu kita anggap sebagai sebuah dunia penuh kebebasan sementara kampung halaman sebagai tempat yang penuh kekangan. Dan kita pasti lebih merindukan kebebasan itu. Namun, mereka tidak merasakan hal itu. Mereka lebih merasa rindu pada kehidupan desa yang tenang.

Jaro kampung Cibeo ini sendiri pernah diajak berkunjung ke Jakarta. Ia bersama temannya yang pernah bertandang ke rumah mengajak untuk menonton film Barat di bioskop. Bioskop yang pernah ia kunjungi ada di Pondok Gede dan juga Mal Taman Anggrek. Bahkan mereka sempat menginap di sebuah apartemen di lantai 20.

Sebagai pihak luar, saat berada di Jakarta, warga Baduy tentunya mengalami banyak gegar budaya dan sosial sebagaimana yang warga urban alami di perkampungan Baduy. Perjuangan mereka untuk bertahan di Jakarta tentu lain dari kita yang memiliki cara hidup dan pemikiran yang hampir sama dengan masyarakat Jakarta. Ditambah lagi dengan tingginya angka kriminalitas di ibukota serta beragam risiko lainnya yang bisa datang dari interaksi kultural dan sosial, warga Baduy yang menyambangi Jakarta pasti mengalami saat-saat sulit. Jaro yang pernah ke Jakarta itu mengatakan tidak tebersit dalam pikirannya bahwa diri mereka akan tertimpa tindakan kriminal di kota besar.

Di kampung-kampung Baduy, angka kriminalitas hampir nol. Tidak ada bahkan, kata jaro yang kami ajak bicara. Kasus-kasus pencurian, perzinahan, dan segala macam penyakit masyarakat yang menjangkiti masyarakat modern di luar sana jarang sekali dijumpai di sini.

Warga Baduy yang melanglang buana ke luar daerahnya biasanya bukan karena keinginan sendiri tetapi lebih karena diundang oleh orang luar. Tetamu dari kota-kota besar seperti Jakarta kerap mengundang mereka untuk bersilaturahmi atau beranjangsana. Jika mereka beruntung, mereka akan disediakan oleh si pengundang segala moda transportasi dan tetek bengeknya. Tetapi jika tidak, mereka akan tetap berangkat juga. Dan untuk membiayai perjalanan ke Jakarta demi memenuhi undangan tadi, mereka mesti berjualan sepanjang perjalanan. Pria-pria Baduy itu berkelana ke jalan-jalan kota Jakarta tanpa alas kaki dan lazimnya karena mereka tak memiliki dana untuk menyewa tempat menginap, mereka bisa meminta pertolongan aparat kepolisian untuk menyediakan kantornya sebagai tempat menginap semalam saja. Selain kantor polisi, mereka juga biasa tidur di kantor satpam, kenalan yang berbaik hati dan kebetulan memiliki rumah yang luas, serta masjid.

Dan jaro yang kami tanyai menjawab begini saat kami tanya apakah mereka iri atau tidak melihat gemerlapnya Jakarta:”Kami tidak merasa iri. Semua sudah ada tempatnya masing-masing…” (bersambung)

Anomali Bernama Baduy (10)

Screen Shot 2017-06-01 at 13.16.15
(Foto: Tim Geo Tour)

PLASTIK YANG MENGGELITIK. Jika Anda memiliki kesukaan untuk berperilaku aneh, biasanya Anda akan dihapal oleh orang-orang di sekitar Anda. Dan demikianlah yang terjadi di situ juga. Siang itu setelah sesi yoga dan salat zuhur di alam terbuka di tepi sungai perkampugan Baduy Luar, saya menyempatkan diri untuk berfoto dengan dua anak laki-laki Baduy Dalam yang membawakan barang-barang beberapa orang: Aceng dan Damin.

Mereka berdua tidak banyak berekspresi. Aceng dan Damin hanya bermimik muka datar saat saya ajak berfoto bersama. Saya berdiri di belakang mereka dan melakukan pose yoga bernama durvasana yang menurut saya ‘praktis’ karena tak mesti mencari tempat yang bersih atau rata. Cukup dengan berdiri tegak lalu menaikkan satu kaki ke belakang kepala, saya sudah bisa mencapainya.

Amor, teman saya yang saya titipi untuk menjepret kami bertiga, duduk dan berancang-ancang memberikan aba-aba. Saya fokus ke ponsel berkamera saya dan memasang senyum lebar. Dalam tiga kali jepret, saya amati Damin lebih salah tingkah daripada Aceng. Aceng lebih alami dan tidak setegang sahabatnya itu dalam berpose. Damin lebih pemalu dan cenderung mengarahkan pandangannya ke bawah, ke tanah tempat dedaunan mati berserakan tanpa pernah tersapu.

Selain rombongan kami, di sana juga duduk sejumlah penjual makanan dan minuman instan sebagai pengisi tenaga kami yang sudah kepayahan mendaki. Sebenarnya saya agak menyayangkan masuknya makanan dan minuman instan semacam itu ke daerah ini. Pasalnya makanan dan minuman semacam itu terbungkus dalam kemasan plastik, yang pasti menimbulkan gunungan atau ceceran sampah plastik di mana–mana. Dan jika makanan instan berkemasan plastik sudah hadir di sebuah daerah di Indonesia, kita bisa pastikan tingkat kebersihannya sudah menurun.

Perjalanan kami akan dimulai lagi ke kampung Baduy Dalam. Harry dan Johar meminta kami semua memperhatikan sampah-sampah yang kami hasilkan sepanjang kami singgah di tepi sungai. Pokoknya jangan sampai dibiarkan begitu saja mengotori lingkungan Baduy Luar ini. Penanganan sampah di sini ternyata sederhana, hanya dikumpulkan dalam sebuah kantong (plastik pula) untuk kemudian dibakar, demikian kata pemandu perjalanan kami, Teguh.

Mendengar jawaban ini, Johar dan saya sebenarnya tersentak juga. Johar berusaha menolak pembakaran sampah kami tetapi saya tahu ia tidak memiliki ide penanganan lain yang lebih masuk akal dan realistis. Apa boleh buat, kami pun tak bisa berbuat apa-apa. Saya juga cuma bisa membisu.

Melontarkan ide daur ulang sampah plastik itu tampaknya juga akan membutuhkan tindak lanjut yang panjang dan kompleks. Itu memang idealnya. Tetapi di sana saat kondisi itu, rasanya tidak mungkin dengan pongah dan idealis saya berkata,”Jangan dibakar. Daur ulang saja.” Saya sadar setelah memberikan saran semacam itu, bakal harus ada penjelasan yang lebih pelik dan pengajaran yang konkret. Berbicara sungguh mudah.

Kami pun mendaki kembali siang itu. Kami lewati ladang-ladang di perbukitan tinggi yang bermandikan sinar matahari yang teriknya tidak terbendung awan. Dan persoalan sampah plastik yang menjadi isu laten itu agak terlupakan. Namun, sejujurnya dalam hati saya tetap resah juga.

Hingga saat jaro (kepala adat di kampung) perkampungan Baduy Dalam yang kami singgahi bertandang ke beranda rumah pagi itu setelah kami menyantap sarapan pagi. Salah satu pertanyaan yang dilancarkan kepadanya juga tentang penanganan sampah plastik di kampung.

“Bagaimana penanganan sampah plastik yang dibawa oleh pendatang ke sini (kampung Cibeo)?” tanya Johar pada sang jaro.

Saya sendiri sudah menduga jawabannya setelah menyaksikan adegan di hari sebelumnya saat kami hendak berangkat mendaki setelah beryoga di tepi sungai.

“Sampah plastiknya kami kumpulkan untuk dibakar. Daripada berserakan,” ucap jaro yang bijak itu tenang.

Pengumpulan sampah plastik memang sudah relatif baik di kampung ini. Di depan beranda setiap rumah, ada sebuah anyaman bambu yang bentuknya mirip ember dan ternyata difungsikan sebagai pengumpul sampah. Dan karena para pengunjung di akhir pekan ramai, saat saya saksikan sampah begitu memenuhi wadah tadi. Dan kebanyakan adalah sampah kemasan makanan dan minuman instan.

Jaro mengakui bahwa masyarakat dan para tetua adat di kampungnya belum memiliki suatu skema penanganan sampah plastik yang terpadu dan sistematis. Saya bisa memakluminya karena sampah plastik sejatinya masalah luar yang diimpor ke dalam. Tentu mereka tidak memiliki sumber daya untuk menghadapinya. Mestinya orang-orang luar Baduy-lah yang tahu diri untuk tidak membawa sampah plastik dalam bentuk apapun ke dalam.

Kami pun mengusulkan agar warga Baduy Dalam jangan sampai disusahkan dengan penanganan sampah plastik itu. Membakar sampah plastik itu saja sudah suatu tindakan penghasil pencemaran udara. Dan patut dicamkan juga bahwa asap hasil pembakaran plastik mengandung racun yang tidak hanya berbahaya buat manusia yang ada di sekitarnya tetapi juga pastinya ekosistem alami Baduy yang relatif masih terjaga.

Di sekitar perkampungan Cibeo itu saya memang tidak sempat menemukan lokasi pembakaran sampah plastik tetapi saya duga pastinya ada. Hanya saja lokasinya tersembunyi jauh dari perkampungan.

Jaro menampik halus usulan solusi kami, mengatakan bahwa mereka tidak tega membuat pengunjung kerepotan dengan mengurus dan membawa sampah plastik lagi. Saya kemudian ingat bahwa orang-orang Baduy Dalam ini begitu ramah dalam memperlakukan kami saudara-saudara mereka dari luar. Mereka mendahulukan tetamu sebelum menyantap dan meneguk apapun. Dan soal sampah plastik, mereka juga segan menegur pengunjung luar untuk mengurus soal itu sendiri. “Kami tidak tega dan tidak ingin merepotkan jika mengingatkan,” terang jaro.

Warga Baduy Dalam juga kurang memiliki ketegasan dalam menghadapi para penjual makanan dan minuman instan dari luar sehubungan dengan sampah plastik yang dihasilkan dari kegiatan niaga mereka dengan turis-turis di sini.

Seperti seorang pria pedagang mi instan dan minuman sachet yang sekonyong-konyong menghampiri saya setelah beberapa saat menyaksikan saya bersantai di beranda setelah trekking yang melelahkan.

Dalam bahasa Sunda yang saya kurang pahami, ia bercakap-cakap dengan Damin dan Aceng sembari sesekali terkekeh memandangi saya. Saya menduga ia ingin memastikan pada Aceng dan Damin bahwa saya adalah orang yang berfoto dalam posisi berdiri di satu kaki dan menaikkan satu kaki di belakang kepala. Orang yang aneh, langka dan hanya satu-satunya ada di rombongan turis lokal yang ia jumpai hari itu.

Begitu ia yakin saya adalah orang yang ia ingat, pria itu mendekati saya tanpa meninggalkan beranda yang ia duduki di rumah seberang. Tetapi kali ini kami berhadap-hadapan lebih dekat.

Tanyanya pada saya kemudian,”Mas, biasa olahraga ya?”

Saya terbengong-bengong, tidak menyangka akan disuguhi pertanyaan seperti itu. Saya sudah biasa menghadapi pertanyaan ini di Jakarta tetapi di sini saya sama sekali tidak menduga ada yang tertarik dengan yoga.

“Ya, mas. Sudah biasa. Hehe,” tukas saya, mencoba beramah tamah dengannya. Saya mencoba mempertahankan aliran percakapan,”Tinggal di sini?”

“Tidak. Saya dari kampung luar sini,” dalam bahasa Indonesia yang berakses Sunda ia menjawab singkat. Pakaiannya memang menunjukkan ia bukan warga Baduy Dalam. Ia memakai kaos jersey sebuah klub sepakbola negeri asal pizza. Celananya jeans biru tua yang bisa ditemukan di toko-toko pakaian di pasar-pasar tradisional atau toko pakaian di Lebak.

Pria ini ialah salah satu orang dari rombongan pedagang yang mengiringi kami selama trekking. Mereka juga berjalan kaki di bawah sengatan mentari, sampai kulit legam dan berkilau.

Masyarakat Baduy Dalam di kampung Cibeo ini terbilang relatif terbuka daripada kampung Baduy Dalam lainnya. Mereka membuka diri terhadap kunjungan orang luar dan bahkan menganggap kedatangan mereka sebagai berkah, bukan bencana. Pariwisata budaya ini mereka jadikan sumber penghasilan yang bisa memacu kesejahteraan.

Hanya saja, seperti tren pariwisata pada umumnya, eksploitasi berlebihan menjadi momok yang menakutkan. Dan di sini mereka belum memikirkan kemungkinan terjadinya kerusakan yang berpotensi muncul dan mengganggu keseimbangan ekosistem alam sekitar dan kondisi keseluruhan masyarakat di dalamnya.

Masyarakat Baduy Dalam di sini belum memahami batas tipis antara pariwisata massal dan ekoturisme. Yang pertama lebih berorientasi kuantitas dan volume dan bersifat eksploitatif tanpa kendali. Yang kedua lebih beretika, terkontrol, terencana, tidak serampangan dan mengindahkan kelestarian dan daya dukung lingkungan sekitar.

Klaim saya ini terbukti setelah kami secara spontan menanyakan dan mengusulkan adanya peraturan kuota yang diberlakukan segera agar kampung tersebut tidak diluberi wisatawan secara berlebihan. Layaknya orang berkunjung ke sebuah tempat suci untuk berziarah seperti berhaji, diperlukan pembatasan jumlah orang luar yang memasuki wilayah tersebut agar ketertiban dan kebersihan kampung tetap terjaga.

Masyarakat Baduy Dalam masih memerlukan masukan dari kita mengenai solusi-solusi yang baik untuk memaksimalkan upaya-upaya dalam memanfaatkan potensi wisata budayanya sambil memelihara kelestarian dan kemurnian budaya dan alam sekitarnya. (bersambung)

Anomali Bernama Baduy (9)

Stres kalau sudah urusan mandi! Karena di perkampungan Baduy Dalam, tidak ada kamar mandi tertutup buat kami. Foto ini diambil di perkampungan Baduy luar. (Foto: Tim Geo Tour)
Stres kalau sudah urusan mandi! Karena di perkampungan Baduy Dalam, tidak ada kamar mandi tertutup buat kami. Foto ini diambil di perkampungan Baduy luar. (Foto: Tim Geo Tour)

MCK. Tidak ada yang paling membuat stres di kampung Baduy ini bagi kami selain urusan ke belakang. Apapun kami bisa tahan tetapi soal mandi, cuci dan kakus, sebagian dari kami tidak bisa menolerir. Tidak bisa tidak, kami harus mandi tanpa bisa dilihat orang lain. Dan alternatifnya cuma dua: mandi sebelum atau sesudah semua orang mandi atau mandi di tempat yang agak jauh dari permukiman (yang sebenarnya juga tidak beratap juga jadi tidak sepenuhnya kebal pandangan mata manusia lain).

Sungai menjadi tempat kami melakukan segala aktivitas yang amat sangat pribadi tersebut. Dan ketiadaan pembatas menimbulkan rasa segan, rikuh, dan tertekan. Kegiatan mandi menjadi suatu perbuatan yang harus dilakukan dengan kewaspadaan yang tidak ada redanya dan kehati-hatian ekstra serta perasaan penuh curiga. Pandangan terus disebarkan ke sekeliling. Dan memikirkan kemungkinan pakaian hanyut atau hilang terbawa orang atau sengaja dibawa orang makin membuat kepala pening. Pertanyaan “bagaimana jika…?” yang terus menghantui membuat mandi cukup menguras tenaga dan pikiran.

Sebelum mandi, saya mengkondisikan diri agar dapat menganggap kegiatan mandi sebagai suatu aktivitas berenang bersama yang mengasyikkan. Karena di sana juga tidak boleh memakai sabun, jadi berenang dan mandi terlihat sama saja. Dan itulah yang saya saksikan dan pelajari dari anak-anak Baduy yang mandi di sungai. Mereka melakukannya dengan riang gembira. Sementara orang-orang tua melakukannya sebagai kewajiban. Dan orang-orang luar yang dengan angkuhnya merasa lebih maju dan modern seperti kami menganggap mandi di alam terbuka sebagai suatu kenistaan yang tidak patut dilakukan, sangat purba, menjijikkan, permisif dan sinting.

Jika kita mencermati tata letak zona permandian di sepanjang sungai ini menunjukkan pemikiran orang Baduy juga. Begini letaknya dari hulu ke hilir: zona atas, tengah dan bawah. Zona atas ialah yang paling dekat ke hulu dan khusus diperuntukkan bagi para tetua adat Baduy. Dua kali saya mandi di sungai, saya belum pernah sekalipun menemukan tetua adat mencelupkan tubuh di sana.

Zona tengah, yang dekat dengan jembatan penyeberangan, diakses khusus oleh para pria dan anak laki-laki. Di bawah jembatan tersebut, terdapat sebuah palung yang cukup dalam. Mungkin setinggi leher orang dewasa. Karena tidak dapat berenang dengan baik, saya hindari area ceruk dalam itu dan memilih menjauhi jembatan serta memilih berendam santai sambil menggosok tubuh dengan bebatuan yang ada di dasar kali.

Sementara itu di zona bawah, para perempuan dipersilakan membasuh tubuh. Dari sini kita bisa ketahui bahwa masyarakat Baduy bersifat patriarkis karena perempuan-perempuan Baduy segala usia harus rela menggunakan air sisa mandi dari para tetua (yang notabene juga pria) dan suami, saudara laki-laki, atau anak laki-lakinya. Bahkan air sisa mandi para pria pendatang yang tidak dikenalnya!

Sebetulnya jika kita mau berjalan lebih jauh lagi agak jauh dari permukiman, ada dua bilik tertutup yang bisa dipakai mandi. Tetapi tetap saja meskipun ada dinding jerami sebagai penghalang pandang, Anda akan mandi dengan menatap langit.

Sekembalinya ke Jakarta, kami mengobrol soal MCK. Ada yang mengaku menahan selama di perkampungan. “Sampai Jakarta, langsunggg!” katanya penuh kelegaan. Ada juga teman yang berhasil menyelesaikan ‘hajat’ di sana. “Pantas tidak ada sepagian,” seloroh seorang yang lain menyadari ketidakhadiran temannya di acara tur.

Saya sendiri bukan tipe orang yang bisa melampiaskan urusan pembuangan secara serampangan. Buang air kecil masih bisa diselesaikan dengan santai. Namun, soal buang air besar, sungguh sulit. Mungkin karena dehidrasi juga. Karena sepanjang perjalanan, keringat mengucur tanpa ampun.

Kebiasaan ke toilet atau kamar mandi sebelum tidur terasa jauh lebih mudah di rumah. Di sini, kami tidak bisa sembarangan ke kali di malam hari sebab medannya yang tidak rata dan siapa tahu ada satwa yang kehadirannya tak terduga dan bisa membuat celaka? Maka sebelum berangkat tidur, kami yang laki-laki secara berkelompok saling menjagai saat ingin kencing di malam hari. Baru kali ini, kami kencing berdiri, di tepi kali, lalu menjerit-jerit minta diterangi tetapi begitu disoroti, kami minta jangan terlalu diterangi. Intinya serba salah. Ingin melihat tetapi juga tidak ingin dilihat. Saya sendiri berdoa supaya tidak ada ular yang iseng berenang melintasi titik tempat kami bergerombol. Jika ada, tamatlah kami dipatuknya. (bersambung)

Anomali Bernama Baduy (8)

Anak-anak Baduy tidak diperkenankan orang tua mereka untuk mengenyam pendidikan formal. Tak cukup di situ, mereka tidak disarankan menjadi terlalu pintar. (Foto: Tim Geo Tour/ Jalan- Jalan Baik)
Anak-anak Baduy tidak diperkenankan orang tua mereka untuk mengenyam pendidikan formal. Tak cukup di situ, mereka tidak disarankan menjadi terlalu pintar. (Foto: Tim Geo Tour/ Jalan- Jalan Baik)

‘LARANGAN’ PINTAR. Menjadi cerdas seolah sudah menjadi ambisi dan impian masyarakat modern. Kita diajarkan untuk menjadi makhluk yang haus informasi dan ilmu pengetahuan. Di mana-mana, kalau ada waktu, membacalah, begitu nasihat yang sudah tertanam dalam benak kita. Terus belajarlah sampai ke negeri China, begitu bahkan petuah dari agama. Dari segala arah, manusia modern sudah dibentuk sedemikian rupa untuk terus bersaing dan menyempurnakan kecerdasan mereka.

Lain halnya dengan orang-orang Baduy, terutama Baduy Dalam. Alih-alih mendidik anak-anaknya agar sepintar mungkin, masyarakat Baduy lebih memilih untuk memberikan kesempatan belajar secukupnya dan membatasi agar jangan sampai terlalu cerdas.

“Karena saat seseorang terlalu pintar, ia bisa membohongi orang lain,” ujar jaro.

Saya termangu. Ada hal-hal yang dianggap sebagai penderitaan, atau ketertinggalan yang bukannya dihindari tetapi malah dipilih secara sadar dan tanpa paksaan oleh orang, atau dalam kasus ini, sekelompok orang. Dan saya tidak bisa menghakimi ini sebagai suatu kepandiran. Ini pilihan hidup mereka dan kita sebagai orang luar mestinya menghargai.

PERMUKIMAN. Permukiman orang Baduy tidak stagnan, atau sama dari waktu ke waktu. Seperti halnya masyarakat lain yang dinamis, permukiman Baduy juga terus berubah-ubah dalam banyak aspek. Mengenai jumlahnya, ternyata bisa terjadi pertambahan sesuai kebutuhan.

Satu rumah yang dibangun bisa berisi satu atau dua keluarga. Sebuah rumah yang saya tempati satu malam bersama teman-teman serombongan juga dihuni satu keluarga besar yang kebetulan adalah keluarga Damin, salah satu anak laki-laki yang turut berjalan kaki bersama kami membawakan barang bawaan. Di akhir pekan seperti sekarang mereka menyewakan ruangan luar rumah sederhana berdinding anyaman bambu dan beralas tikar anyam itu dengan traif sukarela. Jadi, kalau bisa dikatakan mereka mirip host di layanan AirBnB. Jumlahnya mungkin tidak seberapa jika dibandingkan penghasilan manusia urban tetapi toh jumlah sebesar itu bisa menghidupi sebuah keluarga dengan 8 anak seperti di keluarga ini.

Sebagai salah satu kebutuhan pokok manusia, papan juga menjadi fokus penting dalam kehidupan masyarakat Baduy. Biaya pembangunan setiap rumah di perkampungan Baduy diperoleh dari si pemilik rumah. Mereka harus menyiapkan materialnya yang sebagian besar adalah bambu, kayu keras dan dedaunan. Namun, untuk tenaga, pemilik dibantu oleh warga lain juga dalam proses pendiriannya.

Yang unik, dalam bangunan rumah dan apapun di suku Baduy Dalam, penggunaan paku sama sekali dilarang. Sehingga yang kita bisa jumpai di rumah-rumahnya hanyalah pasak kayu atau penyusunan bahan yang lebih taktis untuk mengakali ketiadaan paku sebagai perekat antarelemen bangunan. Suku Baduy Luar lebih fleksibel perkara paku. Bangunan rumah mereka masih diperbolehkan memakai paku.

KEBERSIHAN DIRI. Salah satu sumber frustrasi para wisatawan urban di daerah ini ialah larangan tegas untuk menggunakan bahan-bahan pembersih badan dan rambut yang mengandung zat dan senyawa kimiawi buatan pabrik. Larangan tersebut bukannya tanpa alasan. Selain karena memang bungkus plastik kemasannya bisa menambah gunungan sampah plastik di alam terbuka, air bilasan dari penggunaan produk-produk perawatan semacam itu juga bisa mencemari lingkungan. Saya sendiri tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika larangan itu tidak ada, padahal sungai menjadi satu-satunya andalan kami dalam berbagai urusan mandi, cuci, sampai kakus!

Tetapi karena adanya larangan tegas tersebut, saya yang terbiasa mandi di ruangan tertutup dan air bersih yang sudah disedot sedemikian rupa dari dalam perut bumi, bisa juga menikmati sesi mandi di alam terbuka dengan air mengalir di permukaan tanah tanpa ada rasa cemas yang berlebihan jika ada kotoran atau hal-hal semacamnya. Air yang mengalir begitu bersih dan jernih serta alirannya konstan. Tidak ada kotoran yang tertahan. Jikalau ada butiran pasir atau tanah pun bisa dibilas lagi.

Sebagai pengganti shampo dan sabun, masyarakat Baduy memakai bahan-bahan alami dari dedaunan untuk membersihkan diri. Untuk pengganti sikat gigi, sang jaro mengatakan sabut kelapa bisa dipakai membersihkan gigi. Daun hejo juga dapat dipakai untuk mencuci rambut.

Perkara perapian rambut, masyarakat Baduy tidak mengenal gaya rambut yang bermacam-macam. Mereka juga tidak mengenal adanya profesi penata rambut (hair stylist) atau juru potong rambut (barber). Dalam pengamatan saya, pria-pria Baduy memilih membiarkan rambut mereka tergerai sepanjang telinga atau bahu. Tidak lebih dari itu. Sementara para perempuan memanjangkan dan memelihara rambut mereka sampai ke pinggang. (bersambung)

Anomali Bernama Baduy (7)

Suatu bentuk arogansi yang umum kita temui dan lakukan ialah menghakimi keterbelakangan atau kemajuan sebuah masyarakat dengan menggunakan standar kita sendiri. Padahal belum tentu yang kita anggap kemajuan itu diinginkan oleh masyarakat lain yang kita nilai. (Credit: Tim Geo Tour Baduy)
Suatu bentuk arogansi yang umum kita temui dan lakukan ialah menghakimi keterbelakangan atau kemajuan sebuah masyarakat dengan menggunakan standar kita sendiri. Padahal belum tentu yang kita anggap kemajuan itu diinginkan oleh masyarakat lain yang kita nilai. (Credit: Tim Geo Tour Baduy)

KEMAJUAN. Manusia memang saling memandang kondisinya masing-masing. Ada yang memandang kondisi orang lain dengan rasa iri. Ada pula yang memandang kondisi orang lain dan merasa kasihan lalu ingin membantu karena berpikir kondisi orang lain lebih malang darinya. Hanya saja, kadang bantuan itu dibutuhkan, kadang juga sama sekali tidak. Mengapa? Karena yang ditolong merasa sudah cukup atau bahkan malah ingin mempertahankan apa yang ia miliki.

Seperti saat kami menanyakan apakah selama ini ada orang luar yang ingin memberikan pendidikan bagi orang Baduy agar bisa “semaju” masyarakat luar. Tentu menurut standar orang perkotaan, standar hidup dan pendidikan suku Baduy kurang dari kata “layak”. Tetapi di sinilah kita perlu memberikan empati kita bahwa mereka sama sekali tidak menghendaki bantuan semacam itu. Karena dengan bantuan semacam itu, justru mereka merasa terusik dan terganggu sehingga mereka tercerabut dari akar budaya mereka yang sudah susah payah dilestarikan selama ini.

Sang jaro dengan nada datar dan sabar menjawab bahwa sudah sejak dulu kala telah dilarang bagi orang Baduy untuk menerima pendidikan formal dari pihak luar. Namun demikian, bukan berarti mereka sama sekali abai dengan pentingnya pendidikan. Suku Baduy masih memperkenankan anggota sukunya untuk memberikan pendidikan bagi anak-anaknya asal dilakukan oleh kalangan dalam sendiri. Hal ini untuk mencegah upaya “brainwash” yang kelak malah membuat budaya Baduy memudar dan punah.

Antipati semacam ini memang sangat bisa dipahami. Pendidikan adalah metode penyemaian benih-benih dari sebuah masyarakat budaya. Jika pendidikannya sudah menuju ke arah yang keliru, budaya dan masyarakat itu bisa dipastikan akan segera menjemput kepunahannya. Hal inilah yang juga terjadi pada suku Jawa yang menjadi bagian dari identitas saya juga. Dalam hal jumlah populasi, kita tidak meragukannya. Akan tetapi, dalam hal kelestarian budaya, banyak orang Jawa yang sudah hilang identitas Jawa-nya. Anak-anak muda Jawa masa kini telah susah berbahasa Jawa. Jangankan bahasa Jawa krama inggil, bahasa Jawa ngoko yang kasar pun sudah tidak lagi dikuasai dengan lancar. Belum lagi soal aksara. Berapa banyak orang Jawa yang masih bisa menuliskan aksara Jawa?

Meski tidak mengenyam pendidikan formal layaknya anak-anak di luar, anak-anak suku Baduy juga belajar menulis dan membaca serta berhitung. Hanya saja cara belajar mereka menurut sang jaro tidak di bangku sekolah tetapi membaca buku atau apapun yang ada tulisannya bahkan kardus kemasan pun bisa dijadikan materi belajar. Dengan kata lain, mereka tidak belajar dari orang tua tetapi diarahkan untuk belajar secara mandiri. Anak-anak Baduy diarahkan sebagai pembelajar otodidak yang gigih. Tidak hanya menganga meminta asupan dan suapan dari guru-guru. Mereka diperbolehkan untuk belajar apa saja, asalkan tidak di sekolah formal.

Karena itulah, warga Baduy bersikap tegas soal masuknya upaya ‘peningkatan dan pemerataan’ pendidikan di wilayahnya. Begitu ada orang asing (terutama warga negara asing) yang berusaha memasuki wilayah dengan tujuan ingin ‘mencerdaskan’ generasi mudanya, mereka akan segera menindak dengan tegas untuk mengeluarkannya segera. Para petinggi suku Baduy menjalin koordinasi dengan jajaran pemerintahan kelurahan atau kecamatan di Lebak untuk mengidentifikasi jika ada WNA yang masuk ke wilayahnya. WNA yang dimaksud ini juga termasuk orang-orang yang serumpun dengan bangsa Indonesia sendiri, seperti warga Melayu dari Malaysia sekalipun. (bersambung)

Anomali Bernama Baduy (4)

Di tepian sungai inilah kami beryoga bersama setelah menyelesaikan leg pertama trekking yang ternyata masih panjang. (Credit: Machfud Achyar)
Di tepian sungai inilah kami beryoga bersama setelah menyelesaikan leg pertama trekking yang ternyata masih panjang. (Credit: Machfud Achyar)

YOGA. Hari pertama pukul 11-12 siang kami melakukan yoga di dekat sungai yang dilintasi sebuah jembatan bambu yang didirikan dengan rancangan yang tiada duanya. Jembatan bambu Gajeboh ini adalah sekumpulan bambu yang disatukan dengan tekun dan teliti memakai tali ijuk pohon aren. Ia membentang sekitar 20 meter menyatukan dua tepi sungai Ciujung. Konon konstruksi ini dibangun dengan gotong royong warga Baduy Luar.

Tidak ada logam apalagi paku dan baut serta mur untuk saling menggabungkan elemen-elemennya. Hanya elemen-elemen organik dari alam yang ada. Selain bambu, pengikatnya hanya serabut berwarna hitam yang juga dipakai sebagai atap rumah yang dipilin sedemikian rupa sehingga berbentuk tali yang besar dan kokoh. Para pelintas jembatan yang baru pertama kali pastinya merasa miris tetapi saya pikir itu karena kebiasaan mereka yang sudah terbiasa menapak di beton yang diam dan kokoh sehingga saat menyadari bambu yang mereka injak berayun-ayun, mereka panik, seakan tidak percaya dengan kekokohan desain dengan material alami ini. Padahal alam itu dapat diandalkan lebih daripada yang kita kira.

Matras-matras yoga berwarna-warni digelar di salah satu tepi sungai yang disatukan jembatan tersebut. Saya di tengah dengan pandangan menghadap ke aliran sungai yang gemericiknya terdengar lirih tersamar keriuhan suara para wisatawan lokal di akhir pekan seperti sekarang. Keramaian memuncak di hari Sabtu dan Minggu sehingga membuat perkampungan menjadi lebih hingar bingar.

Karena baru saja kami melalui jalur trekking yang begitu menantang, fokus latihan pun saya berikan pada area bahu, leher, punggung, sepanjang tulang belakang dan seluruh daerah pinggul yang mendapatkan tekanan dari beban-beban berupa barang bawaan dan tas-tas berat.

Kami berangkat lagi dari perkampungan Baduy Luar setelah makan siang serta salat zuhur. Pukul 1 siang, kami pun melangkahkan kaki untuk melanjutkan kembali perjalanan yang ternyata masih jauh. Beberapa gambar masih bisa diambil di titik ini karena meskipun kami sudah masuk ke perkampungan Baduy, ini baru wilayah Baduy Luar, yang dikenal lebih terbuka dan lebih moderat dalam menyambut pengunjung luar. Penggunaan alat-alat komunikasi dan elektronik masih diperkenankan. Meski demikian, saya enggan juga menyentuh alat-alat simbol keterhubungan – dan keterikatan – dengan dunia modern. Saya ingin menenggelamkan diri dalam kehidupan mereka tanpa komunikasi virtual dan digital. Setidaknya dalam 2 hari ini. Diet digital ini ampuh untuk mengurangi tingkat ketergantungan manusia modern perkotaan yang kerap cemas dan merasa tidak berdaya tanpa gawai-gawainya. Saya ingin memberikan gawai itu pada porsinya kembali, bahwa mereka tidak bisa menentukan suasana hati saya. Bahwa perangkat-perangkat itu hanyalah kepanjangan dari diri saya, bukan bagian dari diri saya. Jadi, jika saya tidak memakainya, saya masih merasa utuh, tidak merasa ada yang kurang dan perlu untuk dilengkapi.

Beryoga di tepi sungai seperti ini menyuguhkan suatu sensasi berbeda dari beryoga di studio bahkan di taman kota sebagaimana yang saya kerap lakukan di Jakarta. Perbedaan itu begitu subtil, halus, sampai saya kehilangan kemampuan untuk menggambarkannya dengan kata-kata yang tertata. Yang pasti, inilah bedanya beraktivitas di tengah lansekap yang sudah penuh rekayasa dan lansekap yang relatif masih terjaga kemurniannya dari intervensi manusia.

Keesokan paginya latihan yoga bersama kami adakan juga di halaman antarrumah yang sebetulnya tidak seberapa lapang. Permukaan sebidang tanah mungil itu lebih rata dan kering dibandingkan halaman yang lebih luas tetapi permukaannya lebih penuh bebatuan dan basah.

Beryoga di ruang terbuka semacam ini memang memerlukan konsentrasi ekstra agar pikiran bisa lebih terfokus. Begitu banyak potensi distraksi, yang jika dipikir-pikir akan menjadi tantangan tersendiri.

Kelas kami pagi itu mulanya berlangsung khidmat. Kami memulai dengan pikiran yang tenang. Saya sendiri harus menempatkan diri di beranda sebuah rumah yang posisinya lebih tinggi dari sekitarnya, seolah membuat saya memiliki sebuah panggung khusus untuk melakukan demonstrasi yoga. Ian, seorang peserta, saya daulat sebagai peraga juga.

Semua berjalan lancar tanpa kendala…

Hingga sekonyong-konyong entah dari arah mana seekor ayam jantan merangsek masuk ke tengah para peserta yang sedang asyik masyuk melakukan yoga. Belum cukup, seekor ayam jantan lainnya mengikuti temannya (atau lawannya?) lalu bertarung sengit di tengah-tengah halaman, seakan tidak peduli ada sejumlah peserta yang kalang kabut dan panik tidak tertahankan karena ketakutan terkena taji dan patukan.

Menyaksikan insiden itu, saya sempat kebingungan apakah harus tertawa menikmati ini semua atau mengusir dengan keji kedua satwa yang sejatinya tidak tahu apa-apa. Dan sebelum kelas yoga saya kocar-kacir dan bubar sebelum waktunya, untunglah ayam-ayam jantan itu sudah berpindah dari arena persabungan yang tidak sepatutnya. (bersambung)

Anomali Bernama Baduy (3)

Menyusuri suasana perkampungan Baduy Luar sebelum mendaki Tanjakan Cinta. (Credit: Cecep)
Menyusuri suasana perkampungan Baduy Luar sebelum mendaki Tanjakan Cinta. (Credit: Cecep)

TANJAKAN CINTA. Tiap tanjakan membuat jantung saya bekerja lebih keras. Pemandu kami, Teguh, mengatakan akan ada “Tanjakan Cinta” yang tiada ampun sudut kemiringannya. Ia berusaha menyiapkan mental kami rupanya. Saya sendiri tidak ingin berceletuk untuk memberikan komentar dan keluhan. Sebab semakin banyak berkomentar, makin terasa berat. “Terus saja jalan!” hardik saya pada diri sendiri.

Matahari siang makin condong ke barat tetapi teriknya sungguh di luar dugaan. Aktivitas fisik yang intens ini ditambah sengatan matahari membuat tenaga saya terasa terperas habis-habisan. Napas tersengal. Baju sudah kuyup.

Tanjakan demi tanjakan terlewati. Hingga saya tiba juga di tanjakan maut itu. Tidak salah jika ia dinamai Tanjakan Cinta sebab saat siapa saja menaikinya dengan kedua kaki (memang hanya kaki saja yang bisa menempuhnya, tidak ada kendaraan atau alat lain yang bisa), jantung akan berdegup kencang. Bukan karena jatuh cinta tetapi karena jantung diinstruksikan untuk memompa darah semaksimal mungkin ke seluruh tubuh untuk memberi tenaga pada tubuh agar sampai di atas tanjakan. Ditambah dengan adrenalin yang terpicu karena rasa cemas jika terpeleset atau pijakan kami runtuh atau pikiran-pikiran buruk lain (pingsan atau lemas mendadak di tengah tanjakan, misalnya), pendakian Tanjakan Cinta seakan menjadi puncak perjuangan trekking setengah hari ini.

Dalam kondisi semacam itu memang semestinya terus memfokuskan diri pada apa yang harus dijalani. Bukan malah berpikir yang tidak-tidak. Memberikan ruang bagi pikiran yang negatif untuk berkembang malah menyurutkan semangat dan membuat kita mudah menyerah. Jadi, saya terus mendaki saja dengan tas punggung yang lumayan berat dan mat yoga yang saya harus bawa di salah satu tangan. Satu tangan yang lain akan saya tugasi meraih apapun yang bisa saya genggam jika terpeleset. Lagipula saya tidak mendaki sendirian. Di bawah masih ada teman yang bisa menolong saya.

Matahari tidak memudarkan pancarannya. Saya memandang ke tanah yang saya pijak hanya untuk menyaksikan keringat ini menetes dari dahi langsung ke tanah, seperti tetesan air hujan.

Saya terus mendaki. Otot-otot kedua tungkai saya terus berdenyut. Lalu saya entah bagaimana bisa mendengarkan denyut jantung saya sendiri di telinga. Ini sungguh menakutkan. Rasanya jantung saya hampir meletus. Jika cinta bisa membuat hati meletus karena lika-likunya yang tiada bisa ditebak makhluk yang fana seperti manusia, tanjakan satu ini saya pikir bisa sungguh-sungguh membuat jantung saya meletus juga. Dan meletus di sini yang saya maksudkan benar-benar meletus karena dipaksa memompa darah sekencang mungkin. Saya terus mendaki dengan berhati-hati. Lengah sedikit, bisa berakibat panjang.

Entah ada berapa jumlah pijakan tanah yang ada di Tanjakan Cinta itu. Tetapi jumlahnya rasanya banyak  dan merayap panjang ke atas. Saya terus mendaki dengan segenap kekuatan yang tersisa. Niscaya habis ini napas seketika.

Sampai di atas tanjakan, saya hanya bisa bernapas lega. Beberapa teman yang berhasil naik juga dalam waktu yang kurang lebih bersamaan dengan saya berjuang mendapatkan napas mereka kembali. Wajah mereka sudah merona tidak karuan, gradasi antara kecokelatan tertimpa sinar matahari dan keringat yang membuat kulit berkilauan dengan semburat merah karena derasnya darah mengalir ke seluruh penjuru tubuh untuk menyuplai oksigen.

Kami sibuk mencari tempat untuk beristirahat begitu kami tahu masih ada rombongan lain yang juga sedang mencari hawa sejuk dan rehat sejenak di atas bukit. Sebuah pondok berdiri di tempat itu dan menjadi pit stop bagi kami yang ‘sekarat’ ini.

Sementara itu, anak-anak Baduy tadi hanya berdiri tegak sambil tetap memanggul bawaan orang-orang kota yang tak biasa mengeluarkan banyak tenaga. Mereka memang masih berkeringat dan sedikit lelah tetapi tidak banyak ekspresi yang terpasang di mimik muka. Semua sudah begitu biasa bagi mereka.

“Aceng, duduk!” imbau salah satu dari kami padanya. Yang dipanggil diam saja, seraya melempar pandang sejauh hamparan di bukit-bukit yang ada di bumi Lebak, provinsi Banten ini. Berdiri diam di bawah lindungan pohon besar sudah bermakna istirahat baginya. Tak perlu duduk lalu meluruskan kaki, mengipasi badan, atau membeli minuman dingin.

Tanjakan Cinta resmi saya taklukkan. (bersambung)

Anomali Bernama Baduy (2)

Aceng berfoto di Jembatan (Credit: Cecep)
Aceng berfoto di Jembatan (Credit: Cecep)

PUNCAK. Niscaya inilah bagian perjalanan trekking yang paling menantang hari ini. Kami terus dipandu oleh Teguh dan Didi yang sudah hapal dengan rute dan seluk beluk alam dan masyarakat Baduy Dalam dan Luar. Medan yang kami harus lalui dengan berjalan kaki ini cukup ganas juga.

Sebagian memutuskan untuk meminta bantuan warga lokal untuk membawakan barang-barang bawaan mereka ke tempat tujuan. Tenaga mereka kemudian dipertukarkan dengan sejumlah uang yang dapat dipakai untuk menafkahi diri.

Dua orang anak juga termasuk dalam rombongan warga lokal yang mengiringi kami masuk ke dalam wilayah perkampungan Baduy Luar dan Dalam. Aceng (11) dan Damin (12), begitu nama mereka, membawa masing-masing satu tas punggung (backpack) seukuran punggung orang dewasa. Bobotnya mantap, mungkin setara dengan setengah atau dua pertiga tubuh mereka sendiri. Sepasang kaki anak-anak Baduy ini juga kalah kekar dengan kebanyakan kaki kami.

Saya sendiri mengikuti kedua anak ini tepat di belakang mereka. Dan untuk merasakan pengalaman trekking yang sesungguhnya, saya juga memanggul barang bawaan saya sendiri. Meski saya bisa merogoh kocek, saya hanya ingin mengetahui kemampuan saya baik dalam ketahanan, kekuatan dan kecepatan. Percuma rasanya saya sudah bersusah payah memelihara kesehatan tetapi masih mengandalkan bantuan orang lain. Maka, saya putuskan membawa semuanya sendiri.

Satu-satunya yang mungkin belum saya bisa tinggalkan agar pengalaman trekking kali ini bisa sedekat mungkin dengan apa yang dirasakan Aceng dan Damin ialah alas kaki. Saya rasanya tidak sanggup menanggalkan alas kaki (sepatu) sebab medan trekking ini tidak bisa ditebak permukaannya. Kadang memang permukaan tanahnya bersahabat. Ada bebatuan sebagai pijakan, ada tanah yang padat dan kering sehingga memungkinkan saya melangkah dengan nyaman dan aman. Tetapi lebih seringnya permukaan yang saya harus lalui ialah tanah basah cenderung berlumpur, bebatuan yang licin berlumut, ranting-ranting pohon yang jatuh berserakan di lantai hutan, batu-batu mungil yang sisinya tidak beraturan sehingga jika terinjak akan menancap atau menggores telapak kaki. Untuk kemelakatan pada alas kaki ini, saya berharap permakluman karena inilah setidaknya garis demarkasi pembeda saya yang orang luar dan mereka yang kalangan dalam suku asli.

Tanjakan demi tanjakan saya lalui. Damin dan Aceng terus menapaki semua itu dengan tabah. Tanpa banyak komentar, mereka melaju. Sementara saya, yang sesekali berkeluh kesah (dan dalam diam pun masih bersumpah serapah kenapa harus menyusahkan diri seperti ini). Saya upayakan terus untuk mengimpangi kecepatan mereka yang ada di lini terdepan rombongan. Ibarat pelari, merekalah fore runners kami.

Di belakang, rombongan yang terdiri dari 33 orang seluruhnya termasuk peserta tur dan pemandu serta panitia tur terus bergerak merayap. Jika ada helikopter atau pesawat dari atas, kami terlihat bak sekoloni semut hitam yang melintasi sebuah gundukan tanah. Merayap pelan-pelan tetapi pasti. Kecepatan kami begitu lambat karena ada beban di sebagian pundak dan yang lain kakinya bekerja keras membawa berat tubuhnya sendiri, ditambah dengan cuaca Mei yang sudah memasuki musim kemarau. (bersambung)