Wartawan ‘Plus-Plus’: Sebuah Pledoi

 (Photo credit: Wikimedia Commons)
Wartawan sekarang juga mesti plus-plus. (Photo credit: Wikimedia Commons)

Melalui WhatsApp, suatu siang saya diajak bertemu oleh seorang teman di hari libur di tengah pekan. Saya berkelit dari kewajiban untuk hadir segera  untuk memenuhi ajakannya bertandang ke rumah seorang teman lain yang cukup jauh dari tempat tinggal saya di jantung ibukota. Kata saya,”Saya masih ada pekerjaan yang harus saya selesaikan. Mungkin habis makan siang saya baru bisa ke sana.” Begitulah kira-kira janji saya kepadanya dalam bahasa yang lebih halus.

“Ah, kamu ini! Bekerja terus tapi nggak kaya-kaya!” selorohnya pada saya. Saya tersenyum kecut meskipun saya hanya menatap layar gawai. Saya memang tidak mengada-ada. Ada sebuah pekerjaan menerjemahkan yang saya sedang tangani. Dan saya sudah menetapkan disiplin ketat untuk menyelesaikan setidaknya sepuluh halaman dalam sehari agar bisa lekas selesai pada batas waktu yang sudah disepakati. Jika gagal saya penuhi, denda sudah menanti.

Anda pikir saya penerjemah penuh waktu? Tidak, saya wartawan. Dan saya sudah menekuni pula banyak pekerjaan selain jurnalisme. Di waktu luang saya berusaha untuk melengkapi diri dengan beragam ketrampilan selain jurnalistik yang bisa bermanfaat dalam mengais rezeki halal. Karena memang mengandalkan nafkah dari jurnalisme saja tidak mungkin cukup untuk bisa bertahan hidup di pasar tenaga kerja Jakarta yang makin mahal dan kompetitif serta dunia bisnis dan ekonomi makro yang secara umum masih terhimpit.

Di tengah degradasi jurnalisme seperti sekarang, saat konten orisinal dan berkualitas makin jarang dan daur ulang konten makin menjadi-jadi, belum lagi dengan desakan teknologi informasi, rasanya profesi wartawan makin tergerus. Saya sudah pernah membaca bahwa jurnalis ialah salah satu profesi yang akan segera digantikan oleh mesin/ algoritma. Programmer sudah bisa membuat kode-kode khusus yang nantinya akan mengumpulkan konten secara otomatis, yang hasilnya kemudian bisa disajikan sebagai berita dan disuguhkan pada pembaca. Berita jenis ‘hard news’ misalnya berita gempa bumi akan bisa dengan mudah dibuat karena sudah memiliki pola (template) 5W dan 1H yang sudah lazim itu. Tidak perlu menyuruh seorang reporter mengetik, algoritma itu akan bekerja mengumpulkan data dari pusat data seismik yang ada dan mengirimkannya ke kantor-kantor berita yang membutuhkan dan menyebarkannya secepatnya.

Saya tentu awalnya takut mendengar ramalan semacam itu. Kemudian saya mulai menyiasatinya dengan melakukan diversifikasi ketrampilan diri. Saya harus bisa lebih dari hanya sekadar menyajikan fakta dalam berita, atau mendaur ulang konten dari portal berita lain yang sudah ada. Saya pun mencari berbagai celah potensial untuk mengembangkan diri saya agar menjadi wartawan plus-plus.

Pekerjaan sehari-hari saya sebagai jurnalis daring membuat saya terpapar dengan media sosial secara terus menerus, perlahan-lahan saya mulai belajar media sosial juga. Saya menyisihkan waktu secara sengaja untuk belajar lebih mendalam tentang media komunikasi baru ini. Dan dari sana, saya bereksperimen dengan apapun yang saya miliki, baik itu alat, kesempatan dan berbagai metodenya yang memungkinkan untuk belajar media sosial karena saya sadar akan makin banyak orang memerlukan ketrampilan berkomunikasi secara lebih efektif dan efisien di kemudian hari. Saya pun nekat mengikuti lokakarya media sosial selama beberapa hari di tengah pekan meskipun itu artinya jatah cuti saya tergerus. Saya tahu ini merupakan investasi masa depan, karena sebagai wartawan, sampai kapan saya mesti mengetik berita daur ulang dan mewawancarai orang-orang hanya untuk dibaca di portal berita hanya untuk dilupakan setelahnya? Dan investasi ini terbukti menghasilkan karena saya baru-baru ini diundang untuk menerangkan media sosial dan mekanisme pemanfaatannya sesuai tujuan komunikasi kelembagaan.

Bidang pekerjaan jurnalisme juga berkaitan erat dengan dunia tulis menulis kreatif (creative writing). Sehingga saya pun mencoba menulis artikel di media jurnalisme warga. Selain itu, saya beruntung karena beberapa kali artikel yang saya tulis termuat di dalam surat kabar juga. Upah untuk satu artikelnya memang tidak seberapa tetapi toh sudah membantu memupuk reputasi saya sebagai wartawan yang tidak cuma bisa menulis berita tetapi juga lainnya (karena ada juga wartawan yang menulis hanya saat mereka bekerja, sebab passion mereka bukanlah menulis). Semua itu membantu saya mendapat pekerjaan sebagai ghostwriter (penulis bayangan) sebuah buku dan penulis di sebuah majalah seni.

Setelah itu, saya juga berhasil memasukkan tulisan-tulisan saya dalam beberapa buku yang diterbitkan oleh teman-teman saya. Sekali lagi, memang imbalannya sangat tidak seberapa tetapi saya terus melakukannya sebab saya yakin saya melakukan ini untuk mengasah ketrampilan saya dan memperkaya wawasan dan memperluas jaringan. Pendeknya, tidak ada yang sia-sia jika saya berpikir dalam jangka panjang.

Dalam membuat berita/ konten, saya juga terbiasa menerjemahkan (karena saya diserahi segmen berita mancanegara). Dengan ditambahi dengan latar belakang pendidikan yang mendukung (Sastra Inggris), saya pun juga melakoni profesi penerjemah paruh waktu. Saya mencoba menjalin relasi dengan banyak orang karena saya sadar dari banyaknya kenalan, saya bisa menawarkan jasa saya sebagai penerjemah. Dan relasi itu dibangun dengan organik, yang maksudnya ialah hubungan yang saya bangun tidak melulu karena saya berhasrat menawarkan jasa penerjemahan pada mereka tetapi juga karena saya ingin menjadi teman yang baik. Saya paling benci jika menemukan orang yang terlalu bernafsu memonetisasi hubungan mereka dengan orang. Jika menguntungkan, ia dekati dan berhubungan baik dengan orang tetapi jika tidak ada keuntungan yang bisa dipetik, orang itu diacuhkan begitu saja.

Hobi lain yang saya minati juga kemudian saya terus tekuni. Saya menyukai yoga untuk diri sendiri awalnya. Saya anggap ini upaya menyehatkan diri agar saya bisa bekerja leboih produktif, karena profesi wartawan sungguh identik dengan kebiasaan kurang sehat, dari merokok, mengopi, begadang, makan sembarangan (asal kenyang dan enak)  Hingga kemudian saya menemukan celah untuk memaksimalkan minat saya ini lebih jauh. Saya terus berlatih dan akhirnya memutuskan belajar lebih dalam sampai mengikuti pelatihan mengajar yoga. Singkatnya, saya terjun dalam dunia yoga sebagai pengajar dengan salah satu alasannya, yakni untuk meragamkan ketrampilan hidup saya di samping kemampuan dan pengalaman jurnalistik yang ada.

Selain semua bidang di atas tadi, saya juga masih meluangkan waktu untuk mengajar bahasa Inggris untuk klien pribadi. Saya juga sebelumnya sudah mengajar di sebuah kampus tempat seorang politisi memberikan celetukannya soal gaji kecil pewarta. Saya meninggalkan tempat itu sekarang. Tidak lain karena gajinya juga tidak kalah memprihatinkan dari gaji wartawan. Dari pengalaman itu, saya lebih suka mengajar klien individual karena tidak perlu kerja ‘rodi’ mengajar kelas berisi 60 orang dan meneliti kertas jawaban ujian tertulis sampai larut malam. Upah lebih tinggi karena saya yang menentukan jumlah dan jadwalnya sendiri. Mau, ambil. Tidak mau, silakan cari yang lain. Dan setelah les, saya bebas. Tidak terbebani kewajiban menyetor nilai, menandatangani lembar ini itu untuk bisa mengambil honor, berbasa-basi dengan rekan pengajar yang mengira saya mahasiswa juga. Merepotkan.

Jadi, kalau saya mendengar politisi itu mengolok-olok gaji pewarta dan mengukur kesejahteraan dari kekerapan mengunjungi mall dan berbelanja barang-barang konsumtif, saya hanya bisa berdehem dan menggulingkan bola mata. Saya tidak akan terhina karena memang begitulah faktanya. Akan tetapi meskipun itu benar, kalau mau berpikir lebih bijak, tidaklah etis bagi seorang tokoh publik untuk melontarkannya dalam kesempatan terbuka, saat leluconnya bisa dikutip dan disebarkan setelah konteksnya dipreteli secara semena-mena.

Alih-alih  merasa terhina dan berang, saya anggap lelucon yang sama sekali tidak lucu itu sebagai sebuah cambuk untuk menjadi wartawan ‘plus-plus’. Maksud ‘plus-plus’ itu tentu bukan wartawan yang menyambi menjadi pekerja seks komersial (meskipun memang harus diakui lumayan menggiurkan, tetapi masalahnya berapa banyak wartawan yang bahkan peduli dengan penampilan fisik mereka sendiri), tetapi menjadi wartawan yang sanggup menjadi lebih dari sekadar pekerja teks komersial. Karena wartawan plus-plus akan memiliki kekuatan tersendiri, tidak hanya bisa pasrah pada pemodal yang mau menang sendiri dengan menggaji mereka sekecil-kecilnya. Jadi jika idealisme wartawan dilanggar, wartawan itu tidak akan kelaparan saat harus meninggalkan kantor-kantor berita para pemodal kikir atau kantor redaksi yang tercemar kapitalisme digital yang mengukur kinerja dengan pageviews. (*)

Yoga, Mimpi, dan Kreativitas

Dalam savasana idealnya kita tetap sadar, jangan sampai lelap apalagi mendengkur. Inilah tantangannya. (Foto: Radiantly Alive Yoga Studio ,Ubud)
Dalam savasana idealnya kita tetap sadar, jangan sampai lelap apalagi mendengkur. Inilah tantangannya. (Foto: Radiantly Alive Yoga Studio ,Ubud)

Baru-baru ini saya bertemu dengan seorang mahasiswa yang ingin membahas yoga dalam penelitian akademiknya (skripsi). Dan saya entah kenapa menjadi orang yang ia pilih untuk menjadi narasumber. Kemungkinan besar karena saya sudah memajang berbagai kontak saya di dunia maya, sehingga tidak heran jika siapa saja termasuk dia bisa tiba-tiba memiliki akses menuju alamat surel saya dan bertanya soal yoga.

Kami pun bertukar kata lewat surel dan untuk kepentingan pemenuhan data, saya pun dikirimi sebuah daftar pertanyaan. Ia menanyakan pekerjaan saya, saya mengaku sebagai copywriter. Dan sebuah pertanyaan menggelitik yang tercakup di dalamnya ialah:”Apakah gerakan hatha yoga bisa membantu menemukan ide kreatif dalam pekerjaan Anda? Jika iya, kenapa bisa? Gerakan yoga apa saja yang bisa mengembangkan kreativitas? Apakah selama beryoga sering mendapat inspirasi? Seperti apa contoh nyata dan solusi kreatif dari yoga dalam pekerjaan Anda?”

Terus terang saya tergagap. Selama ini saya beryoga dan meyakini kontribusi yoga dalam performa kreatif dalam pekerjaan saya begitu saja. Tetapi itu saya mesti akui hanya sebatas sugesti subjektif yang tidak bisa saya jelaskan secara gamblang, apalagi secara ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan. Saya pun tidak yakin harus mengutip hasil penelitian siapa atau yang mana untuk mendukung opini saya itu, jadi saya selama ini hanya meyakini saja karena demikianlah yang setidaknya saya rasakan. Saya merasa lebih bisa bekerja dengan baik setelah beryoga. Itu saja.

Namun, begitu saya ditanya seperti ini, saya mau tak mau harus mencari jawabannya dari berbagai literatur yang saya bisa temukan. Awalnya saya hanya bisa memberikan jawaban yang mengawang-awang. Semuanya mengandalkan perasaan, sensasi, dan subjektivitas melulu.

Saya baru menyadari bahwa memang ada penjelasan yang lebih ilmiah untuk itu. Dan itu saya temukan dalam uraian Andrea Rock, seorang jurnalis investigasi yang berhasil memenangkan sejumlah penghargaan bergengsi seperti National Magazine Award dan Investigative Journalist dan Editors Award. Dalam karyanya yang berjudul “The Mind at Night”.

Tulisan Rock membahas soal mimpi dan hubungannya dengan pengasahan kreativitas. Dikatakan oleh Rock bahwa:

One way to really tap into the creative potential of dreams is to train yourself to experience lucid dreaming – that is, to realize you’re dreaming while you’re dreaming, and to stay asleep.

If you can do this, you might be able to then take control of your dream and do things that you can’t do while you’re awake, like take to the sky and fly.

This isn’t always possible, but there are a few techniques to increase you chances.

While you’re awake, stop from time to time to ask yourself whether what you’re seeing is reality or a dream. This will make it easier to raise this question in your dream without waking up, which is the key trigger to achieving lucidity.”

[Terjemahan bebas: Salah satu cara untuk menggali potensi kreatif mimpi ialah dengan melatih diri kita untuk mengalami mimpi secara jernih dan sadar – maksudnya, dengan menyadari bahwa kita sedang bermimpi saat kita tengah bermimpi dan tetap terlelap.

Jika Anda bisa melakukan ini, Anda mungkin bisa mengambil kendali atas mimpi Anda dan melakukan hal-hal yang tidak bisa Anda lakukan saat terjaga, seperti melambung ke angkasa dan terbang.

Ini memang tidak selalu mungkin tetapi terdapat sejumlah teknik untuk meningkatkan peluang untuk bisa mencapai kesadaran saat bermimpi.

Saat Anda terjaga, berhentilah dari waktu ke waktu untuk bertanya pada diri Anda sendiri apakah yang Anda saksikan itu kenyataan atau mimpi. Dengan melakukannya Anda akan lebih mudah untuk memunculkan pertanyaan yang sama dalam mimpi Anda tanpa harus terbangun, yang menjadi kunci untuk dapat mencapai kesadaran.”]

Kemudian pertanyaan saya, setelah kita tahu bahwa kreativitas yang lebih tinggi bisa dicapai dengan mencapai kesadaran (lucidity) sepanjang kita bermimpi, bagaimana yoga bisa membantu kita menjangkau dan mempertahankan level kesadaran semacam itu? Ini karena sulit sekali membangunkan kesadaran diri kita selama kita bermimpi. Kebanyakan manusia hanya akan membiarkan dirinya terhanyut dalam isi mimpinya, entah itu menyenangkan atau mengerikan atau menyedihkan. Mereka terlarut dalam emosi yang mendominasi mimpinya. Padahal saat emosi terlalu menunggangi pikiran, kesadaran sejati justru tertidur.

Dalam latihan yoga, kita biasa menemui istilah “awareness” atau kesadaran dalam instruksi-instruksi guru. Kesadaran ini memang wajib senantiasa dilatih selama beryoga, dan juga dalam kehidupan sehari-hari. Karena tanpa kesadaran, kita bakal cenderung larut dalam roda rutinitas sehari-hari. Dan inilah mengapa orang kerap berceletuk,”Waktu berjalan cepat ya?” atau “Rasanya hari/ minggu/ bulan ini cepat sekali berlalu.” Ini bisa terjadi karena orang selalu bergegas, tergesa, hingga tanpa sadar terseret dalam emosi dan pikiran keseharian yang kurang membekas dalam benak. Karena itulah, kesadaran perlu sekali dijaga dalam melakukan aktivitas apa saja.

Savasana atau pose mayat yang sering dijadikan pose penutup dalam latihan yoga serta teknik yoga nidra yang mengiringinya juga menurut saya juga ada manfaatnya dalam melatih kesadaran kita untuk membedakan mana mimpi dan kenyataan. Dan justru menurut saya pose mayat inilah yang paling menantang di antara pose-pose yoga lainnya sebab dalam pose ini seorang praktisi yoga mesti merilekskan tubuh fisik dan pikiran serta jiwanya secara menyeluruh, tanpa kecuali tetapi tidak melepaskan kesadaran begitu saja. Kesadaran sepanjang melakukan savasana idealnya terus terjaga. Dan inilah tantangan terberatnya: bagaimana pikiran kita tetap terjaga di ambang batas kesadaran dan tidak terseret dalam relaksasi sampai tidur nyenyak dan mendengkur. Dengan alasan tersebut, saya kurang setuju jika sebagian orang (terutama mereka yang pemula) berseloroh bahwa savasana adalah pose favorit mereka karena paling mudah dilakukan. Tinggal berbaring di lantai dan tidur pulas. Tunggu, itu tidur biasa, bukan savasana yang dimaksudkan dalam yoga.

Secara lebih rinci, kita perlu mengetahui perbedaan antara relaksasi dalam savasana versus tidur dalam pengertian yang dipahami khalayak umum. Swami Satyananda Saraswati dalam “Yoga Nidra” terbitan Bihar School of Yoga tahun 1976 menyatakan bahwa relaksasi tidak berarti tidur. “Relaksasi artinya kebahagaiaan sejati; ia tidak memiliki akhir. Saya menyebut kebahagiaan sebagai relaksasi mutlak; tidur ialah aktivitas yang berbeda sama sekali. Tidur hanya memberikan istirahat bagi pikiran dan indra kita. Kebahagiaan merilekskan atma, jiwa dalam diri ini; itulah kenapa, dalam tantra, Yoga Nidra ialah gerbang menuju Samadhi,” terang sang guru panjang lebar.

Kemampuan kita mengatur napas dan raga menurut saya menjadi penentu penting dalam melatih kesadaran sepanjang bermimpi. Dalam mimpi tentunya kita akan kehilangan kendali terhadap napas dan raga kita. Dalam kenyataan, kita memiliki kemampuan mengendalikan keduanya. Indra-indra aktif sehingga kita bisa merasakan sakit, nyeri, lega dengan nyata. Jadi, saat kita melakukan latihan yoga, kita coba saja untuk melakukan teknik pranayama dan asana dengan terus menerus menjaga kesadaran. Jangan lengah sedikitpun dengan menanyakan “apakah ini mimpi atau kenyataan?”.

Saat kita sudah terbiasa dengan pemeliharaan kesadaran dalam berlatih yoga, hingga dalam setiap kegiatan yang kita lakukan sehari-hari, akan lebih mudah juga untuk mengasah kemampuan untuk menyadari bahwa kita sedang bermimpi saat masih dalam mimpi. (*)

Nasi Goreng Vegetables

Nasi goreng dan lelucon-lelucon sebagai bumbunya. (Foto: Wikimedia Commons)

Hujan rintik-rintik sementara rasa lapar di udara dingin ini makin menggelitik. Saya sebenarnya sudah memesan agak awal, atau di tengah. Entahlah, saya tak tahu pasti. Tapi yang saya tahu saya tidak memesan paling akhir. Sialnya, pesanan saya datang paling akhir. “Nasi goreng vegetables,” begitu sebut si pramusaji di hadapan saya. Ia mengeja “vejetabels” untuk memastikan setelah saya melafalkan “vejteblz”. Tiba-tiba saya merasa agak snobbish. Kenapa pula saya lafalkan kata itu dengan benar di hadapan pramusaji itu? Toh ini bukan kelas Pronunciation atau Speaking di perkuliahan yang pernah saya akrabi bertahun-tahun lalu.

Lalu sembari saya menunggu nasi goreng bernama aneh itu, saya teguk minuman yang sudah datang lebih dulu. Saya pesan minuman lemon grass ginger, atau sederhananya jahe dicampur dengan serai. Si pembuat menu juga sama snobbish-nya dengan saya ternyata. Sok pakai bahasa Inggris tanpa alasan jelas. Rasanya hangat dan segar di mulut. Saya sudah bilang tanpa gula tetapi saya lihat di dasar gelas masih ada butiran putih laknat itu. Saya tak izinkan perkara sepele itu membuat saya masygul. Saya hanya ingin menikmati malam ini, bersantap sampai kenyang dan tidur nyenyak agar kembali bisa bekerja besok. Saya hanya berkeluh sebentar lalu saya teguk dan menyisakan gula yang tak saya aduk di bawah.

Untuk menghibur diri karena nasi goreng sayur mayur itu tak kunjung datang, saya baca-baca e-book dalam ponsel. Saya gagal berkonsentrasi membaca. Saya rasa karena otak menderita sebab lapar masih mendera.

Mereka yang semeja sudah menelan semua hidangan yang ada. Sementara saya masih termangu seperti nenek yang kehabisan benang untuk merajut. Tidak ada yang dikerjakan. Membosankan.

Suasana bosan mulai luntur begitu pertukaran kata mulai terjalin. Mereka berbicara perkara laptop, lalu seorang di antaranya mengatakan ada anak magang yang gagal memenuhi tenggat waktu peliputannya karena harus kembali ke kantor hanya untuk mengetik beritanya.

“Ya kalau kamu begitu nanti beritamu tidak akan dimuat kalau telat,” kata si wartawan pembimbing yang kesal karena tidak habis pikir. “Kamu kan bisa mengetiknya di ponsel?”

Kata di wartawan pembimbing itu, si anak magang beralasan,”Ponsel saya hang, pak. Mohon maklum.”

Padahal masih anak muda tapi disuruh memakai ponsel sebagai pengirim berita saja masih tidak terbiasa. Begitu mengetik dalam percakapan di WhatsApp dan Line, terampilnya bukan main dia. Begitu mungkin pikir si wartawan pembimbing dalam benaknya.

Pikir saya, mungkin anak magang itu ingin perusahaan membelikannya ponsel baru yang khusus untuk bekerja. Bukankah begitu logikanya? Kau membudakkan diri pada korporasi dan pada gilirannya kau mengharapkan timbal balik yang sama setelah memberikan kerelaan bergaji ala kadarnya sebagai wartawan magang. Wartawan saja sudah gajinya kecil, apalagi magang. Ah, saya tak boleh berkeluh kesah terlalu banyak dalam tulisan. Nanti pembaca berpikir saya terlalu cengeng dan suka mengeluh, begitu nasihat mentor penulisan saya tempo hari. Sesekali bolehlah, saya tetap bersikukuh.

Keterampilan mengetik cepat tanpa typo di ponsel memang sudah makin penting bagi pewarta modern. Omong-omong soal keahlian mengetik secepat kilat di gawai, mereka teringat dengan seorang jurnalis sepantaran mereka yang kebetulan bertugas dalam liputan peristiwa muncratnya lumpur dari perut bumi di ujung timur pulau ini bertahun-tahun lalu, yang kau juga pasti tahu.

“Sepertinya di ujung jempolnya sudah ada matanya,” tukas seseorang dari kerumunan pewarta senior itu. Saya tak tahu yang mana persisnya. Otak saya menolak bekerja keras sebelum nasi goreng sayuran itu terhidang. Saya lirik jam tangan dan kembali merutuk lambatnya juru masak bekerja untuk mencampur nasi dan sayuran di sebuah wajan.

Seorang lainnya berseloroh dengan berpura-pura memegang sebuah gawai di tangan,”Pak, nanti ngomong ini ya… Cocok nggak?!”

“Hahaha….,” mereka tergelak seraya menahan makanan yang sudah masuk agar tak keluar dari kerongkongan. Sementara itu, saya juga menahan kata-kata makian pada pemilik dan manajer rumah makan agar tidak terlontar dari lidah. Orang lapar bisa sangat agresif, tetapi saya untungnya tidak.

Send nih, pak. Send ya…!”

Tertawa mereka makin menjadi-jadi.

Saya teguk lagi serai dan jahe tadi untuk menghibur diri.

Habis satu lelucon, mereka temukan satu lagi yang baru dan tak kalah menggelikan. Asalnya dari media sebelah. Portal berita mereka pernah membuat kesalahan memalukan. Dan kesalahan itu sudah terpantau orang banyak.

“Masak ada berita judulnya dalam kurung ‘HOLD, NUNGGU UPDATE’?!?!”

Tawa mereka kembali pecah. Menunggu nasi goreng ini saya mulai lelah. Saya mulai menggosok-gosok mata, berharap jika mata saya terbuka, nasi goreng itu sudah ada. Tapi sia-sia.

“Itu yang upload siapa? Haha. Kok bisa?”

Wartawan di ujung meja itu menimpali,”Memang saya dulu juga begitu pas kerja di kantor berita X. Kalau ada pertandingan olahraga, saya ketik dulu judulnya ‘MENANG -KALAH’  lalu saya kirim saja. Redakturnya juga memble. Nggak dibaca kali ya. Begitu tayang, pembaca protes,’Woy, itu sebenernya menang atau kalah sih??!!”

“Pilih salah satu!!!” tukasnya dilanjutkan dengan meledaknya tawa.

Dulu, ceritanya, berita tidak dibuat dalam ponsel cerdas seperti sekarang tetapi harus pakai modem telepon yang sama sekali tidak praktis dan lamban. Mulai tahun 1990-an, para wartawan kantor berita X itu menerapkan teknologi satu ini untuk berkirim berita dari lapangan. Modemnya ditancapkan di gagang telepon lalu dimasukkan kartu dan baru dipencet nomor teleponnya.

“Berita baru masuk separuh, putus! Ulang lagi deh,” kenangnya.

Sungguh masa yang penuh penderitaan bagi wartawan, batin saya. Untuk saat itu saya masih duduk di sekolah dasar. Tidak perlu berpikir pusingnya mengirim berita dengan teknologi yang canggihnya belum seberapa.

Untuk mengetik dan mengirimkan berita, ada laptop yang tertancap ke modem. Di negeri ini konon alat semacam itu baru ada satu. Itupun juga bantuan dari ‘saudara tua’ yang pernah menjajah negeri ini 3,5 tahun. Tapi karena susah digunakan, akhirnya jarang yang pakai juga, ucap wartawan itu.

Ia memuji surat kabar lain yang sudah mendahului media lain di indonesia dengan menggunakan laptop plus modem dan meninggalkan faksimile untuk mengirimkan beritanya.

Saya terseret terus ke pemaparan tentang masa lalunya yang saya tak pernah bayangkan sebelumnya.

“Kalau kirim gambar pakai kamera Canon dengan ukuran wadah mirip kopor besar dari bahan aluminium. Kirimnya pakai modem dan kalau kirim foto warna, kirimnya harus tiga kali. Baru dua kali kirim kalau putus koneksinya harus ulangi lagi dari awal,” ucap wartawan itu lagi sementara yang lain termangu mendengarkan pengalamannya. Biayanya tak terkira. Mahal bukan main. Tagihan telepon di hotel cuma untuk mengirim gambar bisa membuat bokek perusahaan. Karena sekali kirim satu file saja bisa butuh waktu 15 menit sambungan internasional. Sungguh tidak terbayang. Sekarang bisa memakai laptop murah dan wifi gratis, mau kirim foto sebesar apapun juga bisa.

Saat wartawan indonesia masih berjuang mengirim file foto sedemikian rupa (cuci film dulu baru dikirim), wartawan Reuters sudah lincah memakai ponsel dan mengirim file lewat gawai itu. “Kita hanya bisa melihat saja. Iri…,” kata wartawan itu menggambarkan perasaannya.

Saat liputan, mantan wartawan kantor berita X itu kerap memikul sebuah mesin ketik portabel, benda yang mulai langka dan hanya bisa saya temui di kantor-kantor kelurahan. Suatu saat ia bertugas di luar pulau dan lebih memilih naik bus daripada naik pesawat terbang. Di sebuah rute berkelok, mesin ketik berat itu terlempar dari penyimpanan di atas kepala penumpang bus dan jatuh tepat di pangkuan seorang turis manca. Ia bersyukur benda logam itu tidak menghantam kepala turis tadi. Kalau terjadi, bisa sial ia dituntut karena sudah lalai menjaga barang sendiri dan mencederai orang lain.

Seorang lainnya membahas bagaimana konyolnya para jurnalis radio dari sebuah stasiun radio yang mewajibkan pegawainya ke mana-mana berpakaian necis dan berkaos seragam, dengan alat perekam suara di pinggang. Lalu saat liputan banjir di sebuah daerah di Jakarta Barat, dilihatnya sebuah adegan lucu si pewarta radio. “Saya lihat itu mereka tenggelam tapi urutannya kaki, badan dan tangan yang menggenggam erat alat perekam mereka. haha!” Apa lacur, karena memang dalamnya melebihi tinggi badan dan rentangan tangan, alat itu juga terendam air bah pula. Tetapi yang patut diacungi jempol, alat itu terendam paling akhir daripada orangnya yang naas karena perahunya terbalik.

“Antara kasihan dan lucu! Haha…,” komentarnya pada kenangan masa lalu itu.

Percuma berpakaian rapi, toh juga tidak kelihatan gambarnya, imbuh yang lain. Tawa membahana. Saya menggaruk kepala, masih menunggu nasi goreng keparat itu muncul.

Seorang yang lain di tepi meja sana menyumbang lelucon. Juga tentang pewarta radio yang dinaungi pemerintah. “Kalau saya dulu pernah tahu ada teman wartawan radio. Jika dia ingin melaporkan secara langsung (live), sebelumnya ia sudah rekam dulu suara sirine, suara kesibukan orang, lalu begitu masuk kamar hotel yang kebetulan saya ada di dalamnya, ia meminta saya diam dulu saat akan melapor ke Jakarta. Di telepon, ia berpura-pura sedang di lokasi kejadian dan untuk meyakinkan pendengar ia putar lagi suara-suara sirine dan keriuhan yang sudah disimpan di perekam.”

Teman-temannya tertegun siap menyambut punch line. Saya juga.

“Dia bilang,’Saudara, saya berada di garis finish,'” katanya. “Saya mau teriakin,’Boong!!!'”

Lain lagi dengan pengalaman wartawan di depan saya yang juga tentang wartawan radio. “Ini wartawan dari (masukkan nama kantor berita pemerintah di sini), saat itu dia harus meliput kunjungan Presiden Soeharto ke Tapos. Sialnya dia terlambat! Mana harus menembus penjagaan ketat pula. Kalau wartawan cetak masih bisa mengandalkan press release. Wartawan radio mana bisa?”

Akal kancil harus dipakai agar atasan tidak menyembur memuntahkan kata-kata cacian. Si wartawan akhirnya menempuh strategi satu ini:ia memakai efek suara (sound effect) sapi. Dan ia menyuruh temannya — para wartawan cetak — berpura-pura melenguh bagai sekawanan sapi Tapos yang sedang menjalani proses inseminasi buatan. “Ia menyuruh temannya bilang,’Muooooo!!!'”

Sontak derai tawa membuat kaca-kaca restoran itu bergetar. Saya makin meriang sebab hembusan angin malam menerjang tubuh yang belum mengasup makanan sama sekali ini. Saya teguk lagi cairan serai dan jahe tadi sedikit. Saya tak mau nasi goreng itu tiba dan minuman ini habis sebelumnya.

Soal siasat untuk tetap terkesan meliput jika terlambat, ia masih punya amunisi kisah lagi. Alkisah wartawan televisi yang sudah sampai ke tempat yang dituju terengah-engah hendak menjumpai jenderal. Apa daya si jenderal sudah meninggalkan tempat itu. Tak mau menyerah begitu saja si wartawan televisi menyuruh seorang temannya menghidupkan mesin mobilnya dan dengan nada tenang dan mantap ia melaporkan pada pemirsanya,”Pemirsa, itulah mobil dari jenderal U yang baru saja akan meninggalkan Polda M setelah konferensi pers tentang…”

Tahulah saya sekarang kenapa ada laporan-laporan langsung yang terlihat berlatar belakang aneh sekarang. Dan betapa meyakinkannya pewarta-pewarta itu menutupi kegilaan-kegilaan ini. Tiba-tiba saya bersyukur tak punya televisi.

Satu kisah lagi tentang wartawan radio yang harus mewawancarai seorang menteri di suatu era Orde baru. Sebut saja menteri W, yang bersuku Jawa. Karena ia baru tiba dan menteri W sudah meninggalkan tempat perhelatan, ia tak kurang akal. Ia tarik lengan temannya yang wartawan tulis dan berkata seraya memohon,”Kamu kan orang Jawa, pura-pura jadi W ya?!” Ia pun wawancarai wartawan tulis itu dengan sebuah skrip yang ia telah tentukan sebelumnya.

Kembali pada tema banjir. Wartawan yang rupanya sering meninjau peristiwa banjir ini mengisahkan foto yang dimuat di sebuah harian ibukota. Untuk menggambarkan dahsyatnya banjir Jakarta, ia membidik seseorang yang sedang terperangkap banjir sampai selehernya tapi masih di foto yang sama, tertangkap juga pemandangan kontras. Kenapa kontras? Karena di sudut lain dalam foto, ada sebuah angkutan umum yang terendam banjir juga tapi ketinggiannya tak sampai melahap roda-rodanya. Bisa jadi kesan banjir seleher itu karena orang tadi terperosok masuk ke selokan yang cukup dalam. Sebuah kesalahan fatal namun menggelikan juga.

Soal narasumber juga. Hanya karena kita sudah akrab dengan banyak narasumber, tidak serta merta kita bisa menggunakan mereka sebagai antek dalam membuat pernyataan palsu. Seorang wartawan teman wartawan di depan saya ini pernah mengalami kejadian tidak terduga. Karena sudah merasa akrab dan tak perlu meminta persetujuan atas pernyataan yang ia karang dengan menggunakan namanya, si wartawan tinggal membubuhkan saja ke berita yang ia buat. Berita dimuat dan sampai dibaca keluarga si narasumber. Keluarga itu pun menghubungi sang wartawan yang ceroboh. “Begini mas, kami bukan mau protes isi beritanya. Kami cuma keberatan karena bapak Y ini sudah meninggal.” Ah, siapa yang sempat memeriksa mati hidupnya narasumber? Kecuali orang-orang di sekitarnya. “Bener sih beritanya ada bantuan tapi bapak saya sudah meninggal lama, mas.” Lalu harus bagaimana lagi, beritanya sudah telanjur dimuat.

Wartawan juga mesti secerdas kancil dalam mencari peluang. Dan jika peluang itu tidak ada, ciptakan! Alkisah seorang wartawan koresponden di sebuah kota di Pantura merana karena semua perhatian media tersedot ke peristiwa tsunami Aceh tahun 2004. Dan ini memengaruhi tingkat pemasukan mereka. Berita-berita dari daerah mereka tak laku dijual dan banyak yang tidak dimuat redaktur pusat. Apakah ia akan mengarang ada kejadian tsunami di Laut Jawa? Tentu tidak sejauh itu. Yang ia lakukan hanyalah mengajak rekan-rekannya dari media televisi untuk iuran 10-20 ribuan untuk membeli tumpeng. Mereka sepakat membawanya ke sebuah pantai dan nelayan-nelayan lokal yang sebetulnya tidak memiliki tradisi sedekah laut itu disuruh mereka untuk mengadakan selamatan agar menolak bala tsunami yang mungkin bisa melanda daerah tersebut. Jadilah sebuah berita yang laku dan relevan dengan isu yang laris meski sedikit memaksa. Saya pikir inilah ‘inovasi’ dalam dunia jurnalistik. Journalists don’t cover news only. They make (fake) news sometimes. Tapi tentu jangan terlalu sering. 

Saat dinding usus-usus saya sudah lelah bergesekan, akhirnya tiba juga nasi goreng sayuran itu di depan muka. Di atas terhampar adukan nasi berbumbu, berminyak, dihiasi cacahan sayur dan buah nanas. “Tapi bukannya nanas masuk buah-buahan?” saya sedikit protes dalam hati sembari menyuap dengan gaya priyayi. Lambat dan sopan karena penuh perhitungan agar butiran nasi tak berhamburan di meja. Suasana hening, kering. Stok pembicaraan ludes juga. (Foto: Wikimedia Commons)

Repotnya Jadi Repo(r)ter

Repotnya pekerjaan yang dilakukan seorang reporter mungkin akan membuat anak-anak muda urung menempuh karier di jalur ini. (Sumber foto: Wikimedia Commons)

Beberapa tahun lalu saya menemukan sebuah lowongan pekerjaan yang ditawarkan di sebuah situs lowongan pekerjaan daring. Tulisannya “repoter”. Saya ingin tahu pekerjaan macam apa reporter itu. Saya baca dengan lebih cermat, deskripsi kerjanya mirip dengan reporter. Orang mengenalnya sebagai jurnalis, wartawan, atau sejenisnya. Profesi yang mungkin tidak banyak diminati anak muda saat ini kecuali mereka tidak tahu apa yang akan mereka lakukan dengan masa depan mereka.

Saya pikir lagi. Typo atau salah eja tadi memang cocok untuk menggambarkan pekerjaan seorang reporter. “Repot”, sebuah kata sifat, bisa diubah menjadi kata benda yang merujuk pada orang yang mengalaminya jika ditambahi akhiran -or atau -er. Melakoni pekerjaan ini memang membuat orang pontang-panting.

Akan tetapi, meski begitu kerepotan, pekerjaan reporter relatif kurang dihargai oleh masyarakat. Di Indonesia, jarang sekali orang tua menyarankan sejak kecil anak mereka agar bercita-cita sebagai reporter. Lihat saja, rata-rata pasti menyarankan anak menjadi dokter, insinyur, dokter, presiden. Tidak aneh, karena memang ada gengsi juga di sana (walaupun apresiasi finansial juga kadang tidak bisa dipatok — ada dokter yang pendapatannya juga kecil sekali meski prevalensinya rendah).

Penulis humor Raditya Dika pernah menuliskan dalam salah satu bukunya, “Babi Ngesot“, bahwa menjadi reporter itu “pekerjaan yang keren” hanya karena Superman adalah seorang reporter juga. Dan kalau saya boleh tambahkan, Spiderman atau Peter Parker juga seorang wartawan juga. Hanya saja ia jurnalis foto yang kerap ditindas pemberi kerjanya. Sebuah gagasan yang delusional khas anak muda yang penuh dengan idealisme. Ia mengaku dulu pernah bekerja sebagai tenaga magang di sebuah stasiun televisi swasta di ibukota.

Ia bercerita asyiknya menjadi seorang reporter di sana. Berbagai pengalaman sinting dan kocak ia alami. Dari salah paham saat mewawancarai narasumber, liputan ancaman bom palsu sampai harus kerja pagi sampai dini hari.

Menyoal kewajiban seorang reporter untuk memiliki ketajaman telinga saat mewawancarai via telepon saya juga pernah alami. Maka dari itu, dalam berbagai kesempatan jika saya tidak benar-benar terpaksa saya akan menggunakan media tertulis saja untuk menghubungi narasumber (entah itu via aplikasi obrolan bergerak) atau surel. Lebih baik lagi jika saya bisa bertemu langsung dan merekam perkataan narasumber itu. Saya tidak cuma mengandalkan pendengaran dan daya ingat saya yang begitu tidak bisa dipercaya. Kecepatan menulis saya juga kurang tinggi. Alhasil, untuk mencegah salah kutip saya selalu berupaya merekam dan transkripsi hasil wawancara itu dengan lebih baik

Kerepotan menjadi reporter sudah terjadi saat melamar lowongan kerja. Biasanya reporter sudah diwajibkan menyerahkan sebuah karya jurnalistik. Lalu bagaimana jika belum berpengalaman sehingga belum ada karya yang bisa dikumpulkan? Itu repotnya.

Kerepotan lain menjadi reporter muncul saat sudah diterima kerja. Tiba-tiba saja reporter bisa ditugasi beat atau ditempatkan di desk yang sama sekali tidak dikuasai. Beat sendiri bisa dimaknai sebagai sebuah area peminatan seorang reporter. Namun, tetap saja menurut pengalaman penugasan bisa mengabaikan minat seorang reporter dan di sini reporter harus rela kerepotan menyesuaikan diri, belajar dari nol tentang semuanya dengan sangat cepat. Pokoknya tidak ada waktu untuk santai. Harus belajar mandiri setiap hari.

Bagi reporter, setiap hari baru berarti sebuah tantangan baru. Reporter, sepintar apapun, tidak akan bisa meramal berita yang akan muncul dari dalam pikiran keesokan hari. Selalu ada insiden baru yang harus dicari dan diceritakan pada pembacanya.

Reporter juga mesti rela repot bekerja lembur tanpa diberi upah ekstra. Secara teoretis, seorang pewarta memang dikategorikan karyawan seperti buruh tetapi pada dasarnya beban kerja dan rentang waktu kerja mereka di lapangan sangat panjang dan penuh tekanan.

Tantangan bekerja sebagai reporter yang tak kalah besar bisa jadi ialah keharusan untuk bekerja jika diperlukan saat semua orang lazimnya berlibur atau santai. Bekerja di hari libur nasional, tanggal merah atau menghadiri sebuah event di akhir pekan, sudah terasa biasa bagi reporter.

Terakhir tetapi bukan yang satu-satunya ialah kerepotan yang jauh lebih hebat, yaitu kerepotan menjaga idealisme sebagai pewarta. Kita semua pasti tahu kecilnya gaji wartawan hingga memunculkan fenomena “wartawan bodrex”.

Tentang Wawancara, Mewawancarai, Diwawancarai dan Membaca Wawancara

Wawancara. Bisa dianggap mudah saja atau tantangan luar biasa. Mewawancarai secara alami lebih dituntun oleh keingintahuan lalu terkumpullah serangkai fakta atau apapun yang diasumsikan seperti fakta. Klaim dan simpulan tak berdasar kadang menyelip di sana sini yang terpaksa muncul karena ingin hasil wawancara lebih bombastis dan menarik dibaca orang. ‎Dan mungkin, karena pemeriksaan fakta (fact checking) sudah harus mengalah oleh tenggat waktu. Maklum, pembaca makin tak sabaran. Dunia (merasa) makin tak sabaran. Ini sungguh membingungkan dan sejatinya mengibakan. Karena pewarta makin lama makin seperti budak saja. Upah tak seberapa, tetapi mesti bekerja menata kata dari berbagai fakta yang ditemuinya, tanpa kenal penat yang meraja dan redaktur yang semena-mena.

‎Wawancara kerap dilakukan secara impromptu. Alhasil pertanyaan-pertanyaan yang dikeluarkan sekenanya. Tak tersusun baik, teracak, tanpa alur. Kalaupun tersusun sebelumnya, hanya dilakukan di sela rangkaian aktivitas yang padat luar biasa. Bahkan karena otak beku, pertanyaan sering mengabaikan logika. Norma juga bukan kendala, etika juga. Lalu bagaimana? Ini semua sungguh membuat gila! Bagaimana bisa mencapai hasil sempurna?!

Tetapi mendapatkan kesempatan wawancara pun sudah beruntung kadang. Bukan sekali dua kali pertanyaan sudah tertuang rapi di lembaran dan ternyata harus dibuang ke keranjang karena ‎sang narasumber yang (berpikir dirinya) terlampau terkenal sulit ditemui langsung dan begitu sibuk, atau memilih menyibukkan diri dengan jurnalis-jurnalis media besar dan melupakan pewarta-pewarta media maya.

Sementara itu, ada sebagian mereka yang mati-matian menjerat wartawan. Membuatnya terpaku di suatu waktu dan bangku, mendengarkan perkataan narasumber gila publisitas tanpa‎ jeda lalu menyajikan berbagai suguhan menggoda. Dari voucher makan tanpa biaya, jamuan makan cuma-cuma, memiliki kesempatan mencicipi kemewahan yang tak terjangkau anggaran dari upah bulanan.

Pewarta mewawancara sering karena tak ada pilihan lain di mata. Ya sudah, apa adanya saja, gumamnya.‎ Tenggat waktu toh makin dekat. Jadi daripada hari ini kena damprat, kenapa harus kesempatan ini dibiarkan lewat? Tinggal rekam atau catat. Sisanya bisa dikembangkan dari fantasi atau hasil menjelajahi hasil yang disuguhkan mesin pencari.

Kecewa kadang mendera kalau narasumber incaran menolak menjawab pertanyaan yang merangsang perbincangan intens. Seolah ia menutup pintu. Terkunci di situ dan tak bisa melangkah lebih jauh. Yang hanya bisa dilanjutkan hanya isu-isu yang membuat jemu. Itu itu melulu. Rasanya sudah buntu.

Hati berubah gembira jika berhadapan dengan narasumber yang dermawan bukan kepalang. Satu pertanyaan sentilan membuka sekaligus banyak jawaban, bahkan yang tidak terlintas sebelumnya untuk ditanyakan. Terus, terus, terus gali saja sampai habis. Tandas hingga puas.

‎Sial, ada hal bagus untuk diberitakan yang keceplosan diucapkannya tapi ia beberapa detik kemudian baru sadar dan minta dirahasiakan. “Off the record ya…” Mungkin akan lebih mudah jika diabaikan saja dan tetap memuatnya dalam berita lalu menikmati pujian dari redaktur dan pembaca tetapi bagaimana kalau narasumber murka dan mencap tak bisa dipercaya? Susah juga ya.

Mendapat masukan tentang kesalahan padahal sudah menulis sesuai pernyataan? Bukan anomali. Bahkan frekuensi terjadinya bisa tinggi. Karena itu, jangan menggores pena tetapi rekamlah suara. Jari tak bisa bersuara, tetapi suara manusia yang bisa.

‎Diwawancarai apalagi. Tak kalah pelik. Apa yang harus dipersiapkan? Duh, nanti kalau tidak tahu harus menjawabnya bagaimana? Baiklah, jawab sebisanya. Ini bukan ujian. Rileks saja. Berpakaian terbaik, supaya kalau difoto tak akan mengecewakan orang tua dan kerabat serta sobat yang akan menjadi sasaran pameran. Percuma, karena si pewawancara tak bawa kamera. Punyanya Blackberry semata. Di hari mendung saja, hasilnya sudah kabur. Ia tak pernah meminta foto, jadi mungkin memang tak memerlukannya. Lalu setelah terbit, muncullah foto-foto di jejaring sosial. Sial! Baiklah, fotonya tak terlalu buruk tetapi bagaimanapun juga tak ada permintaan izin yang terlontar.

Spekulasi usia narasumber bukannya masalah raksasa. Bahkan bisa dikatakan propaganda biasa agar semua percaya itulah seharusnya usia berdasarkan tampilan di netra. Tak ada keberatan‎ karena kesalahan dari ketidaktahuan itu kadang sebuah kenikmatan. Namun, lain kali, akan lebih baik menulis yang benar-benar diketahui saja. Agar sang narasumber tak terkesan berbohong memudakan usia. Padahal ia tak juga berupaya menutupinya.

Waspada juga membaca hasil wawancara. ‎Mungkin yang berlebihan si pewawancara. Kadang juga si terwawancara. Acap kali dua-duanya. Atau kekurangtajaman pendengaran dan pemikiran yang perlu dimaafkan, bukan diperkarakan. Sepanjang tak ada yang merasa dirugikan atau disudutkan.

Wartawan Bodrexin

“Oh.. hmmm, hai pak. Namanya siapa? Tadi saya belum tahu pas bapak bicara di depan.”

“‎Oh, nama saya Somat.”

“Begini pak, saya mau buat tulisan tentang presentasi bapak tadi.”

“Oh gitu, bagus bagus.‎ Tapi kamu dari mana?”

“Saya dari [masukkan nama media apapun sesuai selera Anda].”

“Oh kampusnya?”

“Bukan, pak. Saya wartawan. Situs saya itu jadi media partner event ini, jadi saya akan tulis tentang paparan bapak tadi.”

“Oh hebat muda muda dah jadi wartawan. Saya kira tadi mahasiswa.”

“….” (senyum getir)

(sumber foto: tokokios1.blogspot.com)

Jurnalis Masuk Daftar Pekerjaan Terburuk 2015 versi CareerCast.com

Entah jika di Indonesia, tetapi yang pasti di negeri Paman Sam pekerjaan sebagai reporter surat kabar bukanlah jenis pekerjaan idaman. Berdasarkan survei yang dilakukan situs pencarian lowongan kerja CareerCast.com, pekerjaan yang dianggap paling buruk di AS ialah reporter surat kabar. Dua pekerjaan lain yang berhubungan dengan media, yaitu broadcaster (penyiar) dan jurnalis foto, juga disebut dalam deretan 10 pekerjaan terburuk. Ketiganya disebut bersama pekerjaan-pekerjaan lain yang rata-rata menyedot banyak tenaga.

Pekerjaan-pekerjaan ini diurutkan berdasarkan aspek-aspek penting seperti pendapatan, peluang di masa datang, faktor lingkungan kerja, tekanan mental dan tuntutan fisik. Aspek-aspek ini dianggap penting dalam data kerja di Biro Statistik Ketenagakerjaan AS (Bureau of Labor Statistics).

Dan pekerjaan terbaik di tahun 2015 adalah ‘actuary’, orang yang bertugas mengumpulkan dan menganalisis data statistik dan menggunakan data untuk menghitung risiko dan premi asuransi. Mereka ini membuat asumsi-asumsi yang akan menentukan surplus dalam dana pensiun, misalnya.

Inilah daftar pekerjaan terbaik tahun ini versi CareerCast.com:

1. Actuary
2. Ahli audio
3. Matematikawan
4. Pakar statistik
5. Insinyur biomedis
6. Ilmuwan data
7. Dental hygienist
8. Software engineer
9. Terapis terlatih
10. Analis sistem komputer

Sementara itu yang terburuk adalah:

1. Reporter surat kabar
2. Juru tebang pohon
3. Personel militer
4. Juru masak
5. Penyiar
6. Jurnalis foto
7. Petugas Lembaga Pemasyarakatan
8. Pengemudi taksi
9. Pemadam kebakaran
10. Petugas pos

Pewarta Tanpa Kantung Mata

‎Pewarta tanpa kantung mata
Musykil itu namanya
Meski pakai kacamata
Tak jua membantu apa-apa

“Istirahatkan saja”
Saran dia yang memeriksa netra
Di sebuah optik tepercaya
Saat aku sudah putus asa

Tapi bagaimana‎ bisa?
Nasihat yang gila
Bisa-bisa semua kerja tertunda
Karena rehat mata belaka

‎Lalu harus bagaimana?
Protes saya
Dia menggelengkan kepala
Seraya berkata
“Pintu keluar ada di sana…
Sampai jumpa.”

Strategi BuzzFeed

Dikenal sebagai situs yang kontennya kerap beredar secara viral di Internet, BuzzFeed bisa dikatakan menjadi salah satu fenomena media yang mencengangkan di abad informasi ini. Valuasinya diketahui mencapai miliaran dollar AS. BuzzFeed sukses sebagian karena mampu mencerminkan bagaimana kita merespon konten di dunia maya.

Seperti dirangkum dari laman TechinAsia, Buzzfeed sukses berkat beberapa strategi yang sebelumnya tak banyak terpikirkan oleh pebisnis media.

Tidak cuma menarik dan bagus, konten harus memiliki kepentingan sosial. Masalahnya hal itu cukup sukar dirumuskan. Semuanya cuma berdasarkan naluri tim editorial semata. Bahkan BuzzFeed menjadikan jejaring sosial sebagai tujuan utama pembuatan kontennya. Dengan 200 editor di dalamnya, BuzzFeed mempublikasikan 700 hingga 900 konten dalam sehari di situs mereka. Para penulis dibiarkan begitu saja mempublikasikan konten mereka namun tidak semuanya akan ditampilkan di laman depan situs. Bila konten itu tidak banyak dibagikan orang, ia akan lenyap dengan sendirinya. BuzzFeed akan habis-habisan mempromosikan konten yang begitu menarik bagi orang setelah menarik perhatian orang di jejaring sosial.

BuzzFeed mensurvei ke sebanyak mungkin orang. Dengan bertanya ke sebanyak mungkin orang yang akan menjadi target pembacanya, BuzzFeed terus menyesuaikan diri dengan minat mereka sehingga kontennya tetap digemari. Jadikan topik-topik yang paling digemari sebagai prioritas utama tanpa harus mengabaikan topik konten lainnya yang juga penting untuk menjangkau audiens baru yang sebelumnya tidak banyak digarap situs berita lain. Ini penting untuk terus menumbuhkan jumlah pembaca situs.

BuzzFeed merekrut blogger-blogger top. BuzzFeed berinvestasi secara serius dalam hal sumber daya penulis kontennya. Perusahaan media itu menarik blogger-blogger dengan audiens yang sudah setia untuk membuat konten di situs BuzzFeed.

BuzzFeed juga bereksperimen dengan banyak bentuk konten, termasuk bentuk konten tulisan panjang dan analitis yang mungkin bagi sebagian orang berbeda dari bentuk konten listicle atau kumpulan foto dan meme yang kurang mengasah intelektual pembacanya. Namun demikian, konten listicle yang bombastis, instan dan menarik utnuk dibagikan masih menjadi yang utama. Ini dilakukan karena pola konsumsi konten juga berubah. Untuk itu, mereka menunjukkan keseriusan dengan membawa masuk Ben Smith (jurnalis politik berpengalaman) dan Steve Kendall dari majalah Spin untuk menangani konten jenis long-form. Demi mengukur kinerja konten long-form, BuzzFeed tidak menggunakan tolok ukur (metrics) yang sama dengan konten listicle atau meme lainnya. Memang tidak ada yang absolut dalam mengukur kinerja konten. Cuma
mengandalkan logika, spekulasi, perasaan dan naluri.

BuzzFeed mengutamakan waktu yang dihabiskan dalam mengkonsumsi konten. Durasi waktu yang dibutuhkan orang untuk membaca konten dijadikan tolok ukur yang makin penting.

BuzzFeed membuat konten lebih mudah dibagikan dan sesuai untuk dibagikan di aplikasi percakapan mobile seperti WhatsApp, Line, Kakao Talk, WeChat, dan sebagainya. Ini penting bagi pasar dengan audiens yang getol mengakses konten via ponsel cerdas.

BuzzFeed terus menyesuaikan diri dengan berbagai situs jejaring sosial dan cara-cara lain yang membuatnya lebih mudah dibagikan dan ditemukan. Pertama, mereka menggunakan istilah-istilah pencarian dan mengunggah berbagai konten yang bertema serupa. Kemudian mereka mulai menggunakan Facebook lalu Pinterest. BuzzFeed tidak ambil pusing dengan algoritma jejaring sosial yang berubah-ubah karena mereka hanya fokus pada pembuatan konten yang menarik untuk disebarkan, entah itu tulisan, foto dan video.

BuzzFeed membolehkan artikel ‘daur ulang’. Namun, ini bukan berarti tinggal salin rekat (copy paste) begitu saja. Masih diperlukan pengolahan agar sudut pandang, nada penyampaian dan suara yang digunakan berbeda dari yang sudah ada.

BuzzFeed tak banyak menggunakan judul artikel yang bersifat menipu pembaca. Judul-judul yang disebut “clickbait” itu memang awalnya bisa mendatangkan banyak pengunjung tetapi efeknya dalam jangka panjang, makin sedikit orang yang percaya dan memilih untuk mengabaikan karena telah pernah dikecewakan sebelumnya karena judul yang tidak sesuai dengan kenyataan atau dilebih-lebihkan.

BuzzFeed menggunakan prinsip “tak banyak membual tapi memberikan lebih banyak” dalam tim editorialnya. Ini karena mereka mendorong pembaca untuk tidak hanya mengklik sebuah judul atau tautan tetapi juga mendorong mereka membagikannya ke sebanyak mungkin orang via jejaring sosial. Jika judul bombastis, dan isinya kurang sesuai harapan dan membuat kecewa, mana mungkin orang mau membagikannya?

(image credit:smallbusiness.foxbusiness.com)