Kiat untuk Parivritta Trikonasana (Revolved Triangle)

SAAT memulai yoga di beberapa kelas pertama saya, salah satu asana yang terlihat sederhana dan mudah tetapi ternyata sama sekali tidak ialah parivritta trikonasana. Postur ini memiliki tingkat kesulitan eksekusi yang lebih tinggi daripada triangle pose karena mengharuskan saya memuntir tubuh atas ke sisi yang berseberangan.

Saat masih kaku, badan terutama area pinggang dan perut saya cenderung susah diputar. Belum lagi kepala yang mengalami disorientasi/ kebingungan karena torso (batang tubuh) diposisikan sejajar dengan lantai. Kaki juga tidak bisa menapak dengan sempurna. Dan ini berakibat pada hilangnya keseimbangan tubuh secara keseluruhan.

Solusinya? Gunakan props atau alat bantu untuk menjaga keseimbangan dan stabilitas kedua kaki. Props seperti balok yoga juga bisa mengarahkan seluruh tulang belakang agar mencapai ekstensi yang maksimal, atau menjaganya tetap panjang, tidak kolaps ke bawah.

Dengan memakai props berupa balok, mereka yang masih pemula juga bisa memutar kepala dengan lebih nyaman.

Kini, cobalah berdiri dalam posisi parivritta trikonasana dengan kaki kiri di depan. Bawa tubuh atas ke bawah dengan menjaga kesadaran bahwa sumbu pergerakan ialah sendiri pinggul. Dengan kata lain, pinggang ke atas tetap tegak dan stabil meski dilipat ke depan.

Kini letakkan tangan kanan di atas balok untuk menopang tubuh. Balok lebih baik diletakkan di sis dalam kaki kiri. Dengan demikian, tulang belakang terasa lebih panjang dan terentang maksimal serta mengokohkan kaki kanan.

Kemudian putar perut ke kiri saat membuang napas, lalu terus panjangkan tulang belakang dari tulang ekor sampai ubun-ubun.
Tekan tangan kanan secara keseluruhan ke blok dan bukalah area dada dengan mengarahkan lengan kiri ke atas. Di titik ini, parivritta trikonasana idealnya terasa stabil (di kedua kaki) dan panjang (sensasi di sepanjang tulang belakang) serta lega (di area dada).

Bila leher masih kaku atau ada sensasi pusing dan mata masih susah difokuskan ke jari tengah tangan kiri, jangan cemas. Coba dulu memfokuskan ke satu titik di lantai. Baru perlahan putar sedikit leher 90 derajat sehingga mata mengarah ke samping.

Bagi yang mengalami cedera leher atau kaku, disarankan berhati-hati di postur ini. Dalam kondisi tersebut, biarkan kepala terkulai begitu saja agar terasa lebih rileks. (*)

Belajar Mengurai Sebuah Asana Yoga

Saat saya baru berlatih yoga dahulu, melihat banyak pose-pose yoga yang menantang dan sulit seringkali membuat saya menyangka saya tidak akan bisa menguasainya. Itu karena saya belum tahu teknik-teknik dasarnya sehingga secara mental saya sudah terbebani. Kompleksitas mental dan psikologis itu akan menambah tantangan bagi murid pemula yang masih meraba-raba dan bereksperimen untuk menemukan apa yang sedang terjadi pada tubuh dan pikiran mereka saat sebuah pose dilakukan.

Karena itulah, seorang guru yoga perlu sekali memiliki kemampuan untuk bisa mengurai sebuah asana yang terlihat kompleks bagi para muridnya dan menjelaskan taat laksana atau prosedurnya dengan lebih runtut dan gamblang. Sebisa mungkin hindari kata-kata yang terlalu ilmiah, anatomis dan teknis, misalnya nama-nama otot dan tulang dalam bahasa Latin atau mencekoki murid dengan terlalu banyak nama asana dalam bahasa Sansekerta. Bukannya semua itu tidak penting untuk dipelajari, tetapi lakukan perlahan dengan penuh kesabaran sesuai porsinya. Kecuali jika mengajar murid yang level mahir (advanced), semua istilah ‘keren’ tadi bisa diaplikasikan secara liberal atau sesering dan sesuka kita.

Uraian berikut ini mungkin tidak hanya akan bermanfaat bagi Anda yang mengajar yoga tetapi juga bagi Anda, murid-murid  yang masih merasa perlu banyak belajar (seperti saya) agar nantinya jika seorang instruktur yang memimpin kelas kita masih kurang sesuai harapan, kita bisa memberikan masukan dan pertanyaan yang konstruktif untuk mereka demi kebaikan kedua belah pihak yaitu pengajar dan yang diajar.

Menurut Jason Crandell, untuk bisa memahami apa yang sedang terjadi pada tubuh selama melakukan sebuah asana yoga dalam tataran fisik semata, usahakan menguraikan sebuah pose (terutama asana jenis menantang dan susah dilakukan). Caranya dengan tidak melihatnya secara keseluruhan dulu tetapi mengamati apa yang terjadi pada sejumlah bagian tubuh yang paling dilibatkan. Lakukan pengamatan ini secara cermat dan teliti agar bisa memahami pose secara keseluruhan nantinya. Misalnya, saat melakukan pose kobra, amati bagian-bagian tubuh yang dilibatkan — dari kepala, leher, bahu, telapak tangan, lengan, tulang belakang (gerakan dan arahnya),  pinggul, posisi kedua tungkai dan telapak kaki.

Dari penguraian tadi, kita pada akhirnya akan bisa memahami bahwa sebuah pose (tak peduli sesukar apapun kelihatannya) sejatinya tersusun dari berbagai aksi yang lebih sederhana dan bisa diamati/ diidentifikasi secara terpisah. Ibaratkan saja sebuah pose yoga sebagai suatu teka teki (puzzle) yang telah diacak. Anda tinggal menyusun bagian-bagian kecilnya dengan sabar agar hasil akhirnya bisa serasi dan selaras sehingga elok dipandang dan dirasakan serta memberi manfaat.

Setelah kita mahir dengan penguraian sebuah asana, nantinya semakin lama belajar asana itu, kita akan makin bisa berkreasi untuk membuat asana tersebut bekerja sesuai dengan keinginan dan kebutuhan kita. Saat kita ingin intensitasnya lebih mudah, kita bisa memodifikasi bagian-bagian penyusunnya sedemikian rupa agar menjadi lebih bisa diakomodasi tubuh yang sedang lelah atau cedera. Namun, jika kita sedang ingin meningkatkan intensitas latihan sebuah pose, bisa saja kita memmodifikasi unsur-unsur penyusunnya tadi sehingga asana itu menjadi lebih menantang.

Konsepnya sebenarnya mirip dengan cara kita mengerjakan soal sebuah ujian saat sekolah dahulu, yaitu kerjakan soal yang mudah dulu baru lanjut ke soal-soal yang lebih susah. Ah, ternyata nasihat guru saya dulu berguna juga ya!

Rahasia Arm Balance

Kontraintuitif, begitu nasihat guru ini saat mengajarkan pose arm balance atau keseimbangan dengan tangan. Saat guru lain mendorong kita untuk mengencangkan dan mengaktifkan otot ini itu, memfokuskan pada tenaga di pijakan tangan, ia malah berwejangan,”Pikirkan tentang relaksasi, bukan kekuatan, saat melakukan arm balance”. Entah saya harus percaya atau tidak padanya tetapi mesti dicoba dulu agar bisa membuktikan validitas argumennya.

Jika Anda berjuang menaklukkan pose arm balance, pindahkan fokus energi Anda dari bisep-bisep yang menegang itu. Lalu ke mana seharusnya? Tanya saya dalam hati.

“Mungkin hal terpenting dalam arm balance adalah mengasah sikap santai, penuh keingintahuan dan tanpa ambisi dan ketergesaan berlebihan,” ucapnya. Perhatikan jika kita terlalu gigih untuk melakukannya atau karena terlalu pesimis bisa melakukannya dengan baik dan aman tanpa muka mendarat di lantai.

Jika itu terjadi, temukan suatu titik keseimbangan dalam pikiran kita, antara upaya dan relaksasi. Bagaimana untuk tetap berupaya tanpa terlalu bernafsu. Atau bagaimana untuk tetap rileks tanpa menjadi terlalu pasrah dan santai. Jadi ini bukan cuma soal kekuatan lengan atau teknik-teknik fisik nan ciamik.

Pantas seorang teman mengelu-elukan guru ini. Meski ia tak bertubuh atletis atau berupa menawan, ia memiliki pemikiran yang menarik untuk ditelisik. Tabik yoga!

3 Pelajaran dari Si Delapan

Astavakrasana pose yang terlihat sulit tetapi sejatinya hanya membutuhkan upaya yang sedikit. (Sumber foto: Wikimedia Commons)

Acungkan jari Anda jika menganggap astavakrasana sebuah asana yang sulit dieksekusi. Saatnya mengubah persepsi itu, karena melakukan asana satu ini tak serumit asumsi. Ini bukan soal ukuran otot gluteus atau kekuatan tangan atau kaki semata. Bila mengetahui teknik yang tepat dan pemanasan yang jitu (salah satunya dengan melakukan pose-pose memilin tubuh dengan lebih banyak sebelumnya), niscaya ia akan lebih mudah dilakukan dengan aman dan nyaman. Bahkan bisa menahannya dengan senyum tetap tersungging di wajah seperti saya dan teman saya Charles di bawah.

Namun, mari kita kupas lebih dalam mengenai astavakrasana lebih dari segi fisiknya. Pertama, mari kita belajar berbakti pada orang tua dari kisah di balik asana ini. Menurut legenda, saat masih janin pahlawan kita yang bernama Astavakra ini mengalami cacat fisik karena kutukan sang ayah yang emosional saat merasa terhina oleh keturunannya sendiri. (Beberapa ayah yang ‘sakit jiwa’ memang tidak pernah ingin menyerahkan status alpha male mereka dalam keluarga bahkan pada anak laki-laki mereka sendiri, termasuk ayah Astavakra yang konon seorang pemuka agama.) Ia membetulkan pengucapan salah yang terlontar dari mulut ayahnya yang tengah membaca ayat suci Rig Weda. Anak itu pun terlahir cacat. Tubuhnya menjadi mirip angka delapan (“asta” bermakna delapan dalam bahasa Sansekerta). Meski terlahir cacat, ia tetap tumbuh sebagai anak yang menghormati ayahnya dan terus menunjukkan kesalihan dan kecerdasan serta kebijakan dalam kepribadiannya. Rasa hormatnya pada sang ayah durhaka itu tak luntur. Buktinya saat ayah Astavakra kalah dalam suatu perdebatan antarpemuka agama Hindu dan harus diasingkan di kerajaan air Baruna sang dewa kematian, anak 12 tahun itu melakukan segalanya agar orang tuanya itu dibebaskan. Ia berkelana untuk menantang orang yang sudah mengalahkan sang ayah. Dengan kecerdasan dan pemikirannya yang bijak, ia kalahkan lawan ayahnya itu.

Pelajaran kedua yaitu agar kita jangan menilai seseorang dari penampilan fisiknya semata. Karena bentuk tubuh Astavakra yang tak lazim dan kurang elok dipandang mata, orang-orang yang menyaksikan perdebatan intelektual itu mencemoohnya. Namun, begitu si anak laki-laki ingusan itu membuka mulut, keluarlah untaian kalimat bernas, berwawasan luas dan bermakna dalam, seolah berasal dari pendalaman dan penghayatan penuh selama berpuluh-puluh tahun. Ia menang dalam pertarungan yang di dalamnya ia dianggap sebagai anak bawang alias underdog. Tak cuma membebaskan sang ayah, ia juga mendapat pengikut baru berkat pemikiran bijaknya itu. Pengikut-pengut baru itu termasuk mereka yang mengejeknya sebelumnya dan raja yang hadir di perdebatan.

Ketiga, kisah Astavakra dan pose yang terilhami darinya memberikan pelajaran tentang pentingnya kesederhanaan dalam menyikapi permasalahan hidup. Guru yoga Aadil Palkhivala berkata pose ini tampak menantang sekali tetapi kenyataannya justru pose ini salah satu pose keseimbangan tangan yang termudah. “Apa yang ingin disampaikan pose ini pada kita ialah bahkan saat keadaan dalam hidup ini tampak begitu sulit dan rumit, namun jika kita tahu bagaimana menghadapinya, kondisinya tidak sepelik yang kita pikir atau lihat”.

Seperti Astavakra yang menaklukkan dengan kekuatan dari dalam pikiran dan hatinya, menaklukkan pose ini juga harus dengan kelapangan pikiran dan hati yang lebih abadi. Tidak hanya mengandalkan kekuatan dan kelenturan otot dan tulang yang suatu hari nanti akan lekang.

#Yoga Is Not Your Hiding Place from Reality

‎”Some people might think that by practicing Yoga you’re running away from the world and are not going to enjoy anything. But yogis are the people who are going to enjoy everything. Because when you’re the master of your life, you’re not controlled by anything and you can enjoy everything. This is the aim of Yoga.” – Swami Satchidananda

I stumbled upon the gorgeously arranged string of words on a fellow yogi’s Instagram feed. So though some people think social media is full of prentention, it can be filled with true wisdom, too.

It reminded me of a friend who complained right after he was on board, flying to Jakarta after his amazing yoga retreat in Bali. “Back to the real world, guys! Wish I could stay longer there,” he blurted on Facebook, wanting us to know what he truly felt about being back to the hectic life and the daily grind that sucks most of the time.

Another friend of his noticed the escapism attitude in the complaint, criticizing:”So yoga is your way to flee the reality?”

That, however, did stun me in someway as well. There is a point, or some, in our life when things really don’t go the way we want. And if you’re a yogi/ni or familiar with yoga practice, yoga may help alleviate all or most or some of the pain.

I totally can relate to my friend’s complaint. Yoga — as far as I’m concerned — enables me to rest from the binding monotonous routines, study our Self more profoundly, solemnly, without any unnecessary external intervention. ‎Yoga provides me arare opportunities to be on my own, be my own master. I feel free, unchained, uncontrolled, let go by the norms and demands of the society and authority. What a sanctuary!

So when a yoga class is over, I suddenly turn miserable and forlorn again. ‎What’s wrong with this feeling and mind?

‎What Swami Satchidananda states indeed opens my eyes that what I feel after yoga classes is somewhat similar to what my escapist friend felt after his glorious yoga retreat.

Can we enjoy everything we go through in life just like what the Indian thinker suggests?

That, I suppose, is one of the most worth thinking subject matters a yogi/ni can have. ‎That could be our lifelong homework, too.

4 Fotografer Gila di Balik Foto-foto Yoga

‎Foto-foto yoga sinting itu tak tercipta dengan sendirinya. Mereka ada berkat bantuan para fotografer ini. Sementara saya berpose, mereka mengerahkan segala daya upaya, bakat dan ketrampilan, pengalaman serta pengamatan agar hasil tertampil sesempurna mungkin di mata Anda semua. Meski harus diakui kesempurnaan hanya milik Allah – kata Dorce – mereka tidak pasrah dengan peralatan, lighting, dan kondisi model yang seadanya. Dan kalau banyak orang mengira saya gila, mereka sering lebih gila lagi dari saya dengan meminta pose-pose nan musykil dilakukan oleh badan saya yang ringkih ini.

1. Dwi Budi Susetyo alias Tyo
Di malam hari, Tyo sering memberi inspirasi via Whatsapp. Bentuknya foto-foto pose menantang dari siapa saja yang ia temukan di dunia maya. Tanpa kalimat pengantar, ia hanya mengirimkan pada saya. Maksudnya tentu mendorong saya untuk mencobanya nanti jika ada kesempatan. Ia tahu saya suka bereksplorasi sekali sepekan di Taman Suropati. Kebanyakan foto-foto saya di taman itu adalah hasil jepretan beliau dengan menggunakan smartphonenya yang selalu bertanya “apa” dalam bahasa Jawa, Oppo.

2. Lusia Ambarwati atau Uci Duck Himura
‎Cari saja di Facebook nama aliasnya. Nama aslinya sungguh tak dikenal orang. Mungkin ia anggap kurang membawa hoki. Yang pasti bagi saya, kadang ide-idenya membuat saya bergidik ngeri. Hasil pengejawantahan ide paling sintingnya ialah saat saya headstand di zebra cross perempatan jalan saat sekelompok kendaraan bermotor berhenti menunggu lampu hijau. Anda bayangkan saja dag dig dug-nya. Headstand dengan berpacu bersama waktu, yang cuma kurang dari semenit. Kalau saya lihat foto itu kembali, saya tidak yakin itu diri saya sebenarnya. Itu badan saya yang sedang kerasukan instruksi beliau. Kamera DSLR-nya membuat kualitas foto-foto lebih bagus.

3. Edward Tjokro atau Ed
‎Seorang teman pernah bertanya pada saya, kalau saya foto yoga di tempat kerja, siapa yang mau membantu saya menekan tombol kamera? Kantor baru saya berbeda kondisinya dari musholla di kantor sebelumnya yang lebih kondusif. Sebelumnya musholla di kantor terdahulu lebih senyap dan saya bisa memakai timer untuk ambil gambar sendiri. Lebih praktis. Tapi sejak pindah ke gedung pencakar langit ini, saya harus mengandalkan jasa Ed. Pria plontos yang tinggal di kawasan banjir itu pasrah saja kalau saya meminta bantuan mengambil gambar di sudut-sudut kantor selepas jam kerja. Kebanyakan foto saya di kantor adalah hasil bantuannya yang tanpa pamrih. Seperti saat saya melakukan astavakrasana di atas safe deposit box, camel pose di sebuah sudut di atas laci, dan sebagainya. Lain dari dua orang sebelumnya, Ed tak tahu yoga dan bukan praktisi yoga. Namun, ia pernah mengambil beberapa kelas yoga singkat dengan saya di kantor, dan sejak itu belum mencoba lagi.

4. Pak Dirman alias Ipoenk Tjabic
‎Foto pose natarajasana di tulisan ini diambil olehnya. Pak Dirman yang chubby ini bekerja sebagai security officer di kantor. Dan ia pernah menyarankan saya mengambil foto yoga di tempat-tempat yang di luar dugaan seperti lift, atau di meja maket, atau di ruang rapat dan kerja direksi. Yang terakhir saya masih pertimbangkan masak-masak karena bisa jadi berisiko untuk kelanggengan karir saya di sana. Dan sejujurnya manajer saya sudah pernah menyaksikan foto-foto saya di jejaring sosial. Dan tak ada pelarangan apapun, bahkan ia mau memasukkan itu dalam situs berita kami, sebuah ide yang terlalu berani buat saya. Pendiri perusahaan juga pernah menyaksikan saya headstand, jadi sudah bukan barang aneh lagi.

Jadi jika lain kali ada foto-foto yoga saya, Anda bisa tebak fotografer mana yang mengambilnya sekarang.

Trik Tendangan dalam Ardha Viparita Salabhasana

‎Banyak yang bertanya bagaimana cara mengangkat kedua kaki di udara dalam pose ardha viparita salabhasana seperti yang ada dalam foto. Ada yang mencoba mengangkat dengan langsung menaikkan kedua kaki ke atas perlahan dengan menggunakan tangan sebagai titik tumpuan.

Cara ini memang mudah bagi yang otot-otot core miliknya sudah kuat sekali. Berbanggalah mereka yang memilikinya.

Namun, bagi mereka yang sekurus saya dan kekuatan batang tubuhnya kurang bagus, ada cara lain sebagaimana juga disarankan oleh mendiang B.K.S. Iyengar di bukunya Light on Yoga.

Triknya adalah melakukan tendangan ke udara. Jadi begini caranya. Tengkuraplah di mat, kedua tangan di samping tubuh. Tarik napas dalam, kemudian langkahkan kaki mendekat ke atas. Ingat, bagian tubuh lain masih menempel di matras yoga Anda. ‎Yang boleh bergerak cuma kaki. Angkat satu kaki ke atas dan gunakan satunya sebagai tumpuan. Tarik napas dalam-dalam lalu lecutkan kaki yang sudah di atas dengan diikuti kaki yang lain. Setelah kedua kaki di udara, perlahan hembuskan napas keluar sembari dekatkan telapak kaki ke depan bawah. Anda bisa memilih untuk tidak menyentuh kaki sampai puncak kepala atau ke lantai/ tanah jika memang belum bisa. Versi mudahnya adalah yang di atas. Kaki bisa divariasikan seperti kaki garudasana. Atau lurus saja. Sesuai selera.

Setelah kaki berada di udara, ganti mereka yang otot corenya kuat yang harus kesulitan untuk melengkungkan tubuhnya karena pose ini termasuk jenis asana back bend yang cukup dalam.

Punggung bawah sangat berisiko cedera jika belum cukup banyak pemanasan dan bagi yang sudah pernah cedera otot punggung bawah, berhati-hatilah atau cedera yang lebih parah bisa terjadi.

Dengan kedua kaki di atas, cobalah tahan pose sembari mencoba bernapas normal. Meski sulit, cobalah mengatur napas. Inilah puncaknya, Anda harus tenang dan ‘menikmati’ pose. Ketenangan dan kesadaran akan mengurangi risiko cedera.

Jangan menyudahi pose ini dengan sembarangan. Gunakan satu kaki sebagai penopang tubuh saat mendarat. Turunkan satu kaki kemudian diikuti yang lainnya. Kedua tangan tetap bekerja menopang tubuh dan kaki agar tidak terjatuh ke sisi depan atau samping.

Begitu kedua kaki sampai di tanah‎, jangan serta merta duduk dan berdiri. Idealnya Anda perlu melakukan pose penetralisir (counter pose) sebagai penyeimbang. Pose fetus atau child’s pose bisa dilakukan selama beberapa hitungan napas atau hingga detak jantung kembali normal. Jika lower back masih terasa pegal, berbaringlah kemudian tarik kedua paha ke perut, dan gulingkan badan ke kedua sisi samping. Atau jika masih belum mantap, lakukan pose memilin tubuh (twisting) dalam kondisi telentang. Kaki kanan dilipat kemudian lutut diletakkan ke arah kiri hingga menyentuh mat tanpa harus membuat bahu terangkat. Lakukan sisi sebaliknya. Dan tetaplah bernapas.

Selamat mencoba!

Langkah demi Langkah Melakukan Tripod Headstand dengan Kaki Garudasana

‎Pertama-tama, sebelum mencoba pose tripod headstand dengan kaki garudasana, pastikan teknik dasar headstand yang konvensional sudah dikuasai dengan baik.

Bagi Anda yang bermasalah dengan daerah kepala dan leher serta bahu, pose ini bukan untuk Anda.

Otot batang tubuh atau core muscles juga dipastikan sudah kokoh agar nantinya lebih aman.

Dan pastikan berat badan si pelaku tidak berlebihan, karena nantinya kepala dan leher serta tanganlah yang menyangga tubuh sebagai pengganti kaki. Jadi jika berat badan tidak memungkinkan, jangan memaksa diri.

Untuk bisa mencapai pose di foto, lakukan pemanasan dahulu dengan headstand beberapa kali. Jika sudah terbiasa dan ‘panas’, saatnya mencoba dengan kedua tangan dalam chi mudra di lantai dan kedua telapak kaki masih di lantai terpisah jauh (prasarita padottanasana/ wide stance forward bend)‎. Letakkan puncak kepala di mat, jika mat terlalu keras, alasi dengan handuk. Kuatkan leher dengan diam di posisi prasarita padottanasana itu beberapa saat.

Baru setelah yakin tangan dan leher serta kepala sudah kuat, angkatlah kaki satu per satu ke atas. Satu masih di bawah, satu ke atas. Tahan di posisi itu.

Jika sudah merasa solid dan yakin, satu kaki yang masih menapak di lantai silakan diangkat juga. Luruskan dua kaki dulu lalu perlahan jalin kedua kaki hingga terpilin mirip posisi kaki garudasana.

Lakukan bersama dengan guru atau teman yang berpengalaman yang dapat mengawasi agar terhindar dari cedera atau kecelakaan.

It’s for fun so don’t harm or kill yourself in the process! Be safe!

Dedikasi dan Penghormatan untuk Yoga, Alasan B. K. S. Iyengar Latihan 2 Jam Tiap Hari Selama 80 Tahun

image

Berikut adalah petikan wawancara dengan tokoh yoga legendaris B. K. S. Iyengar yang saya kutip dan terjemahkan secara bebas dari laman Sakal Times.

Pertanyaan:”Apa yang memotivasi Anda berlatih yoga selama 2 jam setiap hari bahkan di usia 95 tahun?”

Jawaban:”Saya sudah berlatih yoga selama 80 tahun. Saya tidak perlu motivasi eksternal. Semua datang dari diri sendiri.

Yoga sudah memberikan saya nama, ketenaran dan semuanya. Maka dari itu, saya memberikan penghormatan pada yoga dengan melaksanakannya setiap hari. Dedikasi saya pada yoga adalah satu-satunya motivasi saya.”

Pertanyaan:”Apa pesan Anda pada generasi muda?”

Jawaban:”Tubuh ini seperti pakaian bagi jiwa. Tugas kita adalah memeliharanya. Ia wadah bagi jiwa. Tanpa pakaian ini, kita tidak bisa bergerak dan berbicara. Maka dari itu, badan harus dipelihara. Yoga tidak cuma memelihara badan fisik tetapi membawa kedamaian pada pikiran. Dengan ketenangan pikiran, Anda bisa menjadi lebih toleran, sabar dan penuh welas asih. Inilah yang paling diperlukan di masa sekarang. Ia akan mengajarkan pada Anda bagaimana membebaskan diri dari kesombongan. Yoga merupakan cara terbaik memelihara jiwa dan raga dan itulah mengapa yoga harus dilakukan setiap hari dengan sepenuh hati. Setiap orang semestinya melakukan latihan yoga setiap hari. Seseorang tak perlu mengorbankan kegiatan lainnya untuk berlatih yoga. Sembari kita menjalani rutinitas hidup, kita juga harus menyisihkan waktu untuk diri sendiri.”

Pertanyaan:”Seberapa banyak yoga yang harus dilakukan setiap hari?”

Jawaban:”Seseorang seharusnya berlatih yoga setidaknya selama satu jam setiap hari. Itu yang paling minimum, tidak bisa lebih rendah dari itu. Sebagian orang berpendapat berlatih yoga selama 15-20 menit sudah cukup. Itu belum cukup. Jika Anda melakukan olahraga lain seperti renang, berjalan, lari, Anda masih harus sisihkan waktu setidaknya separuh jam untuk yoga. Itu karena yoga melatih pikiran Anda, sesuatu yang tidak bisa dilakukan olahraga lainnya.

Waktu yang Anda habiskan untuk berlatih yoga adalah satu-satunya waktu saat Anda fokus pada diri sendiri. Hanya inilah yang bisa membawa ketenangan dalam pikiran.”