Yoga, Mimpi, dan Kreativitas

Dalam savasana idealnya kita tetap sadar, jangan sampai lelap apalagi mendengkur. Inilah tantangannya. (Foto: Radiantly Alive Yoga Studio ,Ubud)
Dalam savasana idealnya kita tetap sadar, jangan sampai lelap apalagi mendengkur. Inilah tantangannya. (Foto: Radiantly Alive Yoga Studio ,Ubud)

Baru-baru ini saya bertemu dengan seorang mahasiswa yang ingin membahas yoga dalam penelitian akademiknya (skripsi). Dan saya entah kenapa menjadi orang yang ia pilih untuk menjadi narasumber. Kemungkinan besar karena saya sudah memajang berbagai kontak saya di dunia maya, sehingga tidak heran jika siapa saja termasuk dia bisa tiba-tiba memiliki akses menuju alamat surel saya dan bertanya soal yoga.

Kami pun bertukar kata lewat surel dan untuk kepentingan pemenuhan data, saya pun dikirimi sebuah daftar pertanyaan. Ia menanyakan pekerjaan saya, saya mengaku sebagai copywriter. Dan sebuah pertanyaan menggelitik yang tercakup di dalamnya ialah:”Apakah gerakan hatha yoga bisa membantu menemukan ide kreatif dalam pekerjaan Anda? Jika iya, kenapa bisa? Gerakan yoga apa saja yang bisa mengembangkan kreativitas? Apakah selama beryoga sering mendapat inspirasi? Seperti apa contoh nyata dan solusi kreatif dari yoga dalam pekerjaan Anda?”

Terus terang saya tergagap. Selama ini saya beryoga dan meyakini kontribusi yoga dalam performa kreatif dalam pekerjaan saya begitu saja. Tetapi itu saya mesti akui hanya sebatas sugesti subjektif yang tidak bisa saya jelaskan secara gamblang, apalagi secara ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan. Saya pun tidak yakin harus mengutip hasil penelitian siapa atau yang mana untuk mendukung opini saya itu, jadi saya selama ini hanya meyakini saja karena demikianlah yang setidaknya saya rasakan. Saya merasa lebih bisa bekerja dengan baik setelah beryoga. Itu saja.

Namun, begitu saya ditanya seperti ini, saya mau tak mau harus mencari jawabannya dari berbagai literatur yang saya bisa temukan. Awalnya saya hanya bisa memberikan jawaban yang mengawang-awang. Semuanya mengandalkan perasaan, sensasi, dan subjektivitas melulu.

Saya baru menyadari bahwa memang ada penjelasan yang lebih ilmiah untuk itu. Dan itu saya temukan dalam uraian Andrea Rock, seorang jurnalis investigasi yang berhasil memenangkan sejumlah penghargaan bergengsi seperti National Magazine Award dan Investigative Journalist dan Editors Award. Dalam karyanya yang berjudul “The Mind at Night”.

Tulisan Rock membahas soal mimpi dan hubungannya dengan pengasahan kreativitas. Dikatakan oleh Rock bahwa:

One way to really tap into the creative potential of dreams is to train yourself to experience lucid dreaming – that is, to realize you’re dreaming while you’re dreaming, and to stay asleep.

If you can do this, you might be able to then take control of your dream and do things that you can’t do while you’re awake, like take to the sky and fly.

This isn’t always possible, but there are a few techniques to increase you chances.

While you’re awake, stop from time to time to ask yourself whether what you’re seeing is reality or a dream. This will make it easier to raise this question in your dream without waking up, which is the key trigger to achieving lucidity.”

[Terjemahan bebas: Salah satu cara untuk menggali potensi kreatif mimpi ialah dengan melatih diri kita untuk mengalami mimpi secara jernih dan sadar – maksudnya, dengan menyadari bahwa kita sedang bermimpi saat kita tengah bermimpi dan tetap terlelap.

Jika Anda bisa melakukan ini, Anda mungkin bisa mengambil kendali atas mimpi Anda dan melakukan hal-hal yang tidak bisa Anda lakukan saat terjaga, seperti melambung ke angkasa dan terbang.

Ini memang tidak selalu mungkin tetapi terdapat sejumlah teknik untuk meningkatkan peluang untuk bisa mencapai kesadaran saat bermimpi.

Saat Anda terjaga, berhentilah dari waktu ke waktu untuk bertanya pada diri Anda sendiri apakah yang Anda saksikan itu kenyataan atau mimpi. Dengan melakukannya Anda akan lebih mudah untuk memunculkan pertanyaan yang sama dalam mimpi Anda tanpa harus terbangun, yang menjadi kunci untuk dapat mencapai kesadaran.”]

Kemudian pertanyaan saya, setelah kita tahu bahwa kreativitas yang lebih tinggi bisa dicapai dengan mencapai kesadaran (lucidity) sepanjang kita bermimpi, bagaimana yoga bisa membantu kita menjangkau dan mempertahankan level kesadaran semacam itu? Ini karena sulit sekali membangunkan kesadaran diri kita selama kita bermimpi. Kebanyakan manusia hanya akan membiarkan dirinya terhanyut dalam isi mimpinya, entah itu menyenangkan atau mengerikan atau menyedihkan. Mereka terlarut dalam emosi yang mendominasi mimpinya. Padahal saat emosi terlalu menunggangi pikiran, kesadaran sejati justru tertidur.

Dalam latihan yoga, kita biasa menemui istilah “awareness” atau kesadaran dalam instruksi-instruksi guru. Kesadaran ini memang wajib senantiasa dilatih selama beryoga, dan juga dalam kehidupan sehari-hari. Karena tanpa kesadaran, kita bakal cenderung larut dalam roda rutinitas sehari-hari. Dan inilah mengapa orang kerap berceletuk,”Waktu berjalan cepat ya?” atau “Rasanya hari/ minggu/ bulan ini cepat sekali berlalu.” Ini bisa terjadi karena orang selalu bergegas, tergesa, hingga tanpa sadar terseret dalam emosi dan pikiran keseharian yang kurang membekas dalam benak. Karena itulah, kesadaran perlu sekali dijaga dalam melakukan aktivitas apa saja.

Savasana atau pose mayat yang sering dijadikan pose penutup dalam latihan yoga serta teknik yoga nidra yang mengiringinya juga menurut saya juga ada manfaatnya dalam melatih kesadaran kita untuk membedakan mana mimpi dan kenyataan. Dan justru menurut saya pose mayat inilah yang paling menantang di antara pose-pose yoga lainnya sebab dalam pose ini seorang praktisi yoga mesti merilekskan tubuh fisik dan pikiran serta jiwanya secara menyeluruh, tanpa kecuali tetapi tidak melepaskan kesadaran begitu saja. Kesadaran sepanjang melakukan savasana idealnya terus terjaga. Dan inilah tantangan terberatnya: bagaimana pikiran kita tetap terjaga di ambang batas kesadaran dan tidak terseret dalam relaksasi sampai tidur nyenyak dan mendengkur. Dengan alasan tersebut, saya kurang setuju jika sebagian orang (terutama mereka yang pemula) berseloroh bahwa savasana adalah pose favorit mereka karena paling mudah dilakukan. Tinggal berbaring di lantai dan tidur pulas. Tunggu, itu tidur biasa, bukan savasana yang dimaksudkan dalam yoga.

Secara lebih rinci, kita perlu mengetahui perbedaan antara relaksasi dalam savasana versus tidur dalam pengertian yang dipahami khalayak umum. Swami Satyananda Saraswati dalam “Yoga Nidra” terbitan Bihar School of Yoga tahun 1976 menyatakan bahwa relaksasi tidak berarti tidur. “Relaksasi artinya kebahagaiaan sejati; ia tidak memiliki akhir. Saya menyebut kebahagiaan sebagai relaksasi mutlak; tidur ialah aktivitas yang berbeda sama sekali. Tidur hanya memberikan istirahat bagi pikiran dan indra kita. Kebahagiaan merilekskan atma, jiwa dalam diri ini; itulah kenapa, dalam tantra, Yoga Nidra ialah gerbang menuju Samadhi,” terang sang guru panjang lebar.

Kemampuan kita mengatur napas dan raga menurut saya menjadi penentu penting dalam melatih kesadaran sepanjang bermimpi. Dalam mimpi tentunya kita akan kehilangan kendali terhadap napas dan raga kita. Dalam kenyataan, kita memiliki kemampuan mengendalikan keduanya. Indra-indra aktif sehingga kita bisa merasakan sakit, nyeri, lega dengan nyata. Jadi, saat kita melakukan latihan yoga, kita coba saja untuk melakukan teknik pranayama dan asana dengan terus menerus menjaga kesadaran. Jangan lengah sedikitpun dengan menanyakan “apakah ini mimpi atau kenyataan?”.

Saat kita sudah terbiasa dengan pemeliharaan kesadaran dalam berlatih yoga, hingga dalam setiap kegiatan yang kita lakukan sehari-hari, akan lebih mudah juga untuk mengasah kemampuan untuk menyadari bahwa kita sedang bermimpi saat masih dalam mimpi. (*)

Anomali Bernama Baduy (4)

Di tepian sungai inilah kami beryoga bersama setelah menyelesaikan leg pertama trekking yang ternyata masih panjang. (Credit: Machfud Achyar)
Di tepian sungai inilah kami beryoga bersama setelah menyelesaikan leg pertama trekking yang ternyata masih panjang. (Credit: Machfud Achyar)

YOGA. Hari pertama pukul 11-12 siang kami melakukan yoga di dekat sungai yang dilintasi sebuah jembatan bambu yang didirikan dengan rancangan yang tiada duanya. Jembatan bambu Gajeboh ini adalah sekumpulan bambu yang disatukan dengan tekun dan teliti memakai tali ijuk pohon aren. Ia membentang sekitar 20 meter menyatukan dua tepi sungai Ciujung. Konon konstruksi ini dibangun dengan gotong royong warga Baduy Luar.

Tidak ada logam apalagi paku dan baut serta mur untuk saling menggabungkan elemen-elemennya. Hanya elemen-elemen organik dari alam yang ada. Selain bambu, pengikatnya hanya serabut berwarna hitam yang juga dipakai sebagai atap rumah yang dipilin sedemikian rupa sehingga berbentuk tali yang besar dan kokoh. Para pelintas jembatan yang baru pertama kali pastinya merasa miris tetapi saya pikir itu karena kebiasaan mereka yang sudah terbiasa menapak di beton yang diam dan kokoh sehingga saat menyadari bambu yang mereka injak berayun-ayun, mereka panik, seakan tidak percaya dengan kekokohan desain dengan material alami ini. Padahal alam itu dapat diandalkan lebih daripada yang kita kira.

Matras-matras yoga berwarna-warni digelar di salah satu tepi sungai yang disatukan jembatan tersebut. Saya di tengah dengan pandangan menghadap ke aliran sungai yang gemericiknya terdengar lirih tersamar keriuhan suara para wisatawan lokal di akhir pekan seperti sekarang. Keramaian memuncak di hari Sabtu dan Minggu sehingga membuat perkampungan menjadi lebih hingar bingar.

Karena baru saja kami melalui jalur trekking yang begitu menantang, fokus latihan pun saya berikan pada area bahu, leher, punggung, sepanjang tulang belakang dan seluruh daerah pinggul yang mendapatkan tekanan dari beban-beban berupa barang bawaan dan tas-tas berat.

Kami berangkat lagi dari perkampungan Baduy Luar setelah makan siang serta salat zuhur. Pukul 1 siang, kami pun melangkahkan kaki untuk melanjutkan kembali perjalanan yang ternyata masih jauh. Beberapa gambar masih bisa diambil di titik ini karena meskipun kami sudah masuk ke perkampungan Baduy, ini baru wilayah Baduy Luar, yang dikenal lebih terbuka dan lebih moderat dalam menyambut pengunjung luar. Penggunaan alat-alat komunikasi dan elektronik masih diperkenankan. Meski demikian, saya enggan juga menyentuh alat-alat simbol keterhubungan – dan keterikatan – dengan dunia modern. Saya ingin menenggelamkan diri dalam kehidupan mereka tanpa komunikasi virtual dan digital. Setidaknya dalam 2 hari ini. Diet digital ini ampuh untuk mengurangi tingkat ketergantungan manusia modern perkotaan yang kerap cemas dan merasa tidak berdaya tanpa gawai-gawainya. Saya ingin memberikan gawai itu pada porsinya kembali, bahwa mereka tidak bisa menentukan suasana hati saya. Bahwa perangkat-perangkat itu hanyalah kepanjangan dari diri saya, bukan bagian dari diri saya. Jadi, jika saya tidak memakainya, saya masih merasa utuh, tidak merasa ada yang kurang dan perlu untuk dilengkapi.

Beryoga di tepi sungai seperti ini menyuguhkan suatu sensasi berbeda dari beryoga di studio bahkan di taman kota sebagaimana yang saya kerap lakukan di Jakarta. Perbedaan itu begitu subtil, halus, sampai saya kehilangan kemampuan untuk menggambarkannya dengan kata-kata yang tertata. Yang pasti, inilah bedanya beraktivitas di tengah lansekap yang sudah penuh rekayasa dan lansekap yang relatif masih terjaga kemurniannya dari intervensi manusia.

Keesokan paginya latihan yoga bersama kami adakan juga di halaman antarrumah yang sebetulnya tidak seberapa lapang. Permukaan sebidang tanah mungil itu lebih rata dan kering dibandingkan halaman yang lebih luas tetapi permukaannya lebih penuh bebatuan dan basah.

Beryoga di ruang terbuka semacam ini memang memerlukan konsentrasi ekstra agar pikiran bisa lebih terfokus. Begitu banyak potensi distraksi, yang jika dipikir-pikir akan menjadi tantangan tersendiri.

Kelas kami pagi itu mulanya berlangsung khidmat. Kami memulai dengan pikiran yang tenang. Saya sendiri harus menempatkan diri di beranda sebuah rumah yang posisinya lebih tinggi dari sekitarnya, seolah membuat saya memiliki sebuah panggung khusus untuk melakukan demonstrasi yoga. Ian, seorang peserta, saya daulat sebagai peraga juga.

Semua berjalan lancar tanpa kendala…

Hingga sekonyong-konyong entah dari arah mana seekor ayam jantan merangsek masuk ke tengah para peserta yang sedang asyik masyuk melakukan yoga. Belum cukup, seekor ayam jantan lainnya mengikuti temannya (atau lawannya?) lalu bertarung sengit di tengah-tengah halaman, seakan tidak peduli ada sejumlah peserta yang kalang kabut dan panik tidak tertahankan karena ketakutan terkena taji dan patukan.

Menyaksikan insiden itu, saya sempat kebingungan apakah harus tertawa menikmati ini semua atau mengusir dengan keji kedua satwa yang sejatinya tidak tahu apa-apa. Dan sebelum kelas yoga saya kocar-kacir dan bubar sebelum waktunya, untunglah ayam-ayam jantan itu sudah berpindah dari arena persabungan yang tidak sepatutnya. (bersambung)

Tidak Perlu Menganggap Terlalu Serius Guru Yoga Modern

Screen Shot 2016-07-15 at 16.39.25GURU yoga sekarang terlalu menganggap dirinya ‘serius’, ‘tinggi’ dan ‘agung’. Padahal itu cuma ilusi semata. Begitu kira-kira pesan dari guru yoga Alexander Medin.

Menarik, pikir saya.

Hanya karena seseorang bisa memeragakan sebuah asana dengan lancar dan ahli, seolah otomatis dia bisa dikatakan sebagai guru. “Itu tidak bisa dibenarkan,” ujarnya.

Kita, para guru yoga di abad ke-21 ini, tidak memiliki hak untuk mengklaim diri kita memahami yoga hanya dengan mengatakan indahnya yoga dengan menunjukkan duduk dalam pose lotus atau meliuk ke belakang dalam gerakan backbend yang mencengangkan.

Banyak tuduhan yang mencoreng nama yoga karena adanya sejumlah guru yoga yang terlalu berambisi menonjolkan diri mereka dalam jagat yoga. Mereka ini justru tidak begitu mengindahkan dan memperdalam pengalaman yang lebih mendalam soal yoga dengan dirinya sendiri.

Tetapi inilah kehidupan. Anda mesti terlihat lebih berkharisma, kalem, dan berwibawa sebagai guru yoga. Bisa dikatakan ini hanya penciptaan sebuah ilusi untuk menarik murid untuk belajar pada guru-guru yoga ini.

Sehingga satu hal yang patut dicamkan dalam menghadapi segala macam tingkah guru yoga saat ini ialah jangan terlalu menganggap mereka sebagai sosok yang serius dan agung. Tidak ada satu orangpun yang tahu persis apa yang mereka sesungguhnya lakukan meskipun itu sudah dibuktikan dengan pengalaman beryoga selama bertahun-tahun, berpuluh-puluh tahun atau seumur hidup sekalipun. Kerap kita menemukan pernyataan dan perbuatan mereka yang sangat melenceng dari apa yang digariskan dalam ajaran yoga.

Saat seorang guru yoga mengklaim dirinya tahu sesuatu tentang yoga, kita semestinya skeptis untuk tetap mempertanyakan keabsahan klaimnya itu secara kritis tanpa secara terang-terangan menghina atau menyinggung harga diri atau ego guru yang bersangkutan. Kita semestinya tetap kritis saat seorang guru yoga menyatakan dirinya seorang guru yoga yang tahu X atau Y dengan hanya mengandalkan sertifikat, garis keturunan, dan label -label eksternal semacam itu. Kebenaran yoga tidak bisa dibatasi dan didefinisikan hanya dengan menggunakan semua label yang lazim kita temui saat ini.

Manusia dari berbagai jalan hidup dan pekerjaan juga bisa dikatakan seorang yogi. Hanya karena seseorang pandai berasana tidak serta merta membuatnya menjadi seorang yogi. Seorang ‘guru yoga’ belum pasti seorang yogi juga, tetapi sebaliknya seorang musisi, pedagang, pejabat dan sebagainya bisa juga menjadi seeorang yogi.

Jika obsesi seseorang untuk berlatih yoga adalah untuk menjaga kesehatan dan menjaga kerampingan dan keawetmudaan tubuh fisiknya, seseorang mungkin belum dapat dikatakan sebagai seorang yogi. Seorang yogi semestinya mengejar ketidakterbatasan, kebahagiaan sejati. (*)

Daphne Tse Empowers Others by Voice

Living in a modern age, most people seek recovery and cure from external sources. At the same time, they ignore what the mother nature has provided them simply because they take these ubiquitous yet invaluable resources for granted. One of these resources is sound, which can be used as medicine as well. Natural sounds such as every human being’s voice is unique and proves to be effective to heal us. Daphne Tse is one of the big believers of the powerful healing effect of voice. Having music and yoga as her roots, Daphne who is from Texas invented what she called “Nada Yoga”. Simply put, she blended yoga practice with folk music.
Back then, Daphne learned music formally at University of Texas in Austin, The Old Town School of Folk Music in Chicago. With Jai Uttal, she studied kirtan music. Kirtan is a devotional song in which a group repeats lines sung by a leader. She also released music on Shiva Rea’s yoga music compilations. The singer cum songwriter also recorded 2 solo albums titled “Mata” and “Finding Water”.

In her class “Nada Yoga: Chakra Chanting, Toning and Sound Meditation” at Namaste Festival 2014, Daphne showed us how our own voice can be the best tool to cure the ailing body and spirit by opening and balancing chakras with toning and sounding. With more open and balanced chakras, energy inside us is expected  to flow better than before.

Her main teaching is “if you can breathe, you can do yoga.” The very first step of doing yoga is people become aware of their breath. “Because most people breathe all day long and they’re not even aware they’re breathing. The breath (pranayam) is the most sustainable yoga practice of all yoga branches.”

“Many people are afraid of their singing voices, and we try to move away from that,”she explained. She leads students how to find the love of their voices again and be able to find that expression in life and find the empowerment around [the notion that] they can change their life just by their own voice.

Sound healing and music therapy sparked her interest years ago as she decided to study with Jonathan Goldman in Colorado in 2001. Through Goldman, Daphne learned the scientific studies of how sounds create space in the body and how it can be used as medicine.

As a gymnast in middle school almost 20 years ago, Daphne whose father practices meditation regularly started doing yoga. In Los Angeles, she met teachers such as Eric Schiffman, Shiva Rea, etc and learned yoga asanas more seriously.

Her first and favorite yoga teacher is Eric Schiffman, a student of Krisnamurti. “Practice in the Stillness”, Schiffman’s practice, drew Daphne’s interest. “He inspired me in the fact that I could see all elements of yoga especially meditation,”she reminisced. The teacher used the word “maliable”, which means we can move, shift, change and flow just like water. That’s the big, impactful teaching of Schiffman she always remembers.

The older Daphne gets, the more she realizes that everything is yoga. Yogis are not only the ones on the yoga mats, she said. Her father does meditate and swim but never steps on a yoga mat, and that doesn’t mean he’s a yogi. “Yoga is a very integrated practice, and what I’m interested in now is all the integration of yoga, from the asana to the breath work, to the dance, to the music, and mantra. Integrating it all into our lives on a daily basis.”

Daphne has a big interest in mantras, sounds, sound healing, and the use of yoga sound (Nada Yoga). While doing asanas, finding the sound that matches works into the body. She further explained,”Let’s say you’re doing a hip opener [pose], and sound it into your hip, not sitting there silently.”

In spite of that, Daphne also told me that one of the teachings she learned is that we can also stand silently inside our own body and be healed.

Now she’s not doing as much of asanas. Daphne prefers meditation, dancing and singing. “Twenty years of doing triangle pose and surya namaskar… It’s beautiful, I love it and it’s a great practice and I liked then the flexibility and maliability.” She believes yoga practice doesn’t have to look a certain way.

It took a moment for Daphne to think how she wants to be remembered. Yet, simply put, by her teaching she wants to help create spaciousness in her students’ heart to love and to be able to give love selflessly.

To Daphne, it’s much easier to stand in the podium and teach what you know without paying attention to students. She doesn’t teach that way because she believes that a yoga teacher needs to be open and be received by students. Teaching is actually serving the people so the most important thing is “look at your audience, your students and see what their needs are first.” She put emphasis on simplicity of teaching, too.

As technology seeps into every and each part of our lives, yoga teachers also have to adapt to it. At 43, Daphne admitted she’s not into it that much, like younger generation. Also, she cautioned against the dominant ego while we post stuff on social media. There has to be separation between the yoga teachings and themselves on the web. “It’s a great tool to connect with the community but at the same time not to depend on it.”

Freedom, flow and love are three words she’d use to describe yoga succinctly. With yoga, she finds freedom as well as maliability like water. And by love, she meant “connecting to the heart”.

Antara Surya Namaskar, Gulat, Matahari dan Haji

Surya namaskaraDalam praktik yoga modern, surya namaskar (sun salutation/ salam matahari) adalah sebuah koreografi (sekuen gerakan seperti dalam dunia tari) yang sering diperdebatkan kehalalannya untuk dipraktikkan kaum muslim. Di India yang menjadi asal yoga sendiri, argumen kelompok pro-yoga versus kontra terus mengemuka. Mereka yang ingin sun salutation dipraktikkan di sekolah-sekolah India beralasan surya namaskar tidak akan membuat seseorang berpindah keyakinan. Sementara itu, mereka yang menganut Islam konservatif menampik alasan tadi dan mengatakan melakukan surya namaskar sama saja dengan menyembah matahari, bukan Allah sebagai satu-satunya sesembahan manusia.

Asal muasal surya namaskar sendiri cukup rumit tetapi bisa disederhanakan sebagai berikut. Meskipun dijumpai dalam praktik yoga yang dianggap klasik dan tradisional, surya namaskar sebetulnya tidak sekuno dugaan kita. Tujuan pelaksanaan surya namaskar sendiri dahulu kala ialah memang untuk menyembah matahari dalam masyarakat India Kuno sebagai bentuk syukur datangnya hari baru. Praktik semacam ini lazim ditemui pada para penganut Hindu India sebelum era penjajahan Inggris. Mereka melakukannya dengan merapal japa mantra di setiap gerakan, tanpa ada keserasian gerak dan napas. Jadi fokus gerakannya ialah ritual dan pemujaan semata.

(Baca: Haruskah Memulai Latihan Yoga dengan Surya Namaskar?)

Dalam perkembangannya di kemudian hari, sekuen ini kemudian diadopsi oleh pendiri kemaharajaan Maratha di abad ke-17, Shivaji. Untuk meningkatkan tingkat kebugaran fisik para serdadunya, Shivaji kemudian menggunakan gerakan surya namaskar ini dan memodifikasinya sebagai gerakan pemanasan fisik saban pagi bagi para prajurit agar tetap bugar dan siap bekerja mempertahankan keutuhan kerajaan. Surya namaskar kemudian tenggelam seiring berjalannya waktu. Masyarakat India tak mempedulikannya lagi hingga pada tahun 1938, pemimpin kerajaan Aundh (sekarang di sekitar Mumbai) yang bernama Bhavanrao Shrimant Balasaib Pandit Pathinidi mengangkatnya kembali melalui bukunya The Ten Poin-way to Health – Surya Namaskars (1936).  Sebagai penggemar gulat tradisional India, Pathinidi ingin memperkenalkan surya namaskar kembali yang ia ketahui dan pelajari dari Shrit. Balasaheb Mirajkar (raja dari Miraj). Dalam ajaran Balasaheb yang kemudian dipraktikkan Pathinidi, surya namaskar tidak lagi menjadi sebuah tarian pemujaan Brahman di pagi hari dengan menghadap sang surya tetapi sudah menjelma menjadi senam pemanasan sebelum bergulat. Surya namaskar yang dipraktikkan Bhavanrao inilah yang kemudian didokumentasikan dalam film pendek dan disimpan oleh British Film Institute, Inggris. Dokumentasi tadi sedikit banyak membentuk wajah yoga di Barat.

Lebih lanjut lagi, jika dicermati kita akan menemukan perbedaan antara surya namaskar yang dipraktikkan umat Hindu di India pra penjajahan Inggris dan surya namaskar di masa Pathinidi. Pathinidi telah memodifikasi surya namaskar menjadi lebih terstruktur, runut dan lebih selaras dengan napas. Pathinidi juga menghapus japa mantra dari gerakan surya namaskar, sehingga membuat gerakan ini tidak lagi bersifat spritual apalagi relijius. Pathinidi juga memperbaiki panduan postur dan cara napas dalam surya namaskar agar lebih jelas dan baku. Menurutnya, gerakan tadi dapat menguatkan kebugaran dan vitalitas tubuh secara keseluruhan terutama otot-otot lengan dan jantung yang amat perlu dilatih tiap hari bagi para pegulat pria di masa itu. Jadi ditegaskan lagi bahwa saat itu, surya namaskar merupakan bagian integral gulat India, bukan yoga.

Setelah pegulat mengadopsinya, barulah praktisi yoga asana modern di awal abad ke-20 mulai berlatih surya namaskar untuk memanaskan tubuh mereka sebelum berlatih asana. Belum dapat dipastikan siapa yang memasukkan surya namaskar dalam praktik yoga asana modern. Tetapi jika ditilik kurun waktunya, bisa jadi yang bertanggung jawab atas adopsi surya namaskar dalam latihan yoga kita ialah Shivananda atau Krishnamacharya, dua sosok menonjol dalam penyebaran yoga modern di era tersebut. Surya namaskar modern juga bisa dilakukan tanpa harus menghadap matahari (bahkan bisa membelakangi matahari atau pada malam hari jika Anda ingin). Tidak ada keharusan waktu dalam melakukan surya namaskar modern. Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa surya namaskar yang sekarang kita lakukan di kelas yoga hanya memiliki kemiripan gerakan fisik dengan surya namaskar kuno yang bersifat ritual. Namun, pada hakikatnya tujuan dan niat pelaksanaan surya namaskar kuno dan kontemporer (masa kini) sangatlah berbeda.

Evolusi dan mutasi esensi yang mirip juga ternyata terjadi pada haji. Mungkin tidak banyak muslim tahu bahwa ibadah haji dulu bukan sebuah ritual untuk menyembah Allah SWT. Menurut penjelasan Philip K. Hitti dalam bukunya The History of Arabs, ibadah terakhir dalam rukun Islam itu dilaksanakan oleh orang Arab (bangsa Semit) sebagai bentuk pemujaan mereka pada matahari. Haji cara purba itu dilangsungkan biasanya dalam musim gugur di bulan-bulan seperti sekarang.

Selain untuk memuja matahari, haji di masa pra-Islam itu dimaksudkan sebagai sebuah “upacara perpisahan dengan raja matahari yang panasnya membakar”, tulis Hitti dalam bukunya. Haji sebelum Muhammad datang juga ditujukan sebagai penyambutan dewa hujan Quzah yang bertanggung jawab atas kesuburan bumi Arab. Kala itu, haji digelar di Arab Utara dengan iringan semarak selebrasi tahunan masyarakat Arab di tiap bulan Zulhijjah.

Walaupun ritual ini tujuannya memuja dewa-dewa, anehnya Nabi Muhammad tidak serta merta menghapusnya. Alih-alih melarang umat muslim untuk berhaji, Rasul malah melestarikan budaya haji purba itu. Hanya saja memang tujuannya tidak lagi untuk menyembah ‘raja matahari’ dan dewa hujan Quzah. Ritual haji yang kemudian dikenalkan Muhammad SAW itu tetap mempertahankan mayoritas praktik masyarakat Arab sebelum Islam datang tetapi dengan beberapa modifikasi. Di antaranya yang paling penting ialah tata cara dan adab pelaksanaan haji serta lafaz-lafaz yang mengagungkan Allah saja. Umat muslim tidak diperkenankan berdoa kepada selain Allah selama berhaji. Jadi, jangan harap orang muslim bisa berdoa sekehendak hatinya sebab Rosul sudah memberikan teladan mengenai detail pelaksanaan haji yang sesuai Islam.

Hal ini membuat haji di masa kegelapan sebelum masa kenabian Muhammad mirip tetapi juga berbeda dalam esensinya dari haji yang dilakukan umat Islam hingga kini. Dulu orang berhaji bisa melafalkan doanya sesuai selera. Menurut catatan Rif’at yang juga dikutip Hitti, orang Arab dahulu berdoa sesuka hati mereka pada dewa-dewi mana saja yang mereka inginkan. Dalam satu kesempatan, Rif’at menjumpai seorang perempuan mengucapkan doa seperti ini:”Wahai Laylah! Jika kau turunkan hujan di tanah kami sehingga tumbuh kebaikan, maka aku akan memberimu sebotol minyak untuk membasahi rambutmu…” Masih menurut Rif’at, seorang pria Badui ditemui sedang mengulang-ulang doanya dalam bahasa Arab,”Wahai Tuhan pemilik rumah ini! Aku bersaksi bahwa aku telah datang! Jangan bilang aku tidak datang. Maafkan aku dan ayahku, jika kau berkehendak. Jika tidak, maafkan aku meskipun kau enggan, karena aku telah melaksanakan haji, seperti yang engkau saksikan.”

Setelah mengetahui perjalanan surya namaskar dan haji ini, kembali kita dihadapkan pada dilema mengenai adopsi hal-hal yang berbau keyakinan lain yang pada dasarnya juga ada manfaatnya bagi kemaslahatan kita (Baca: Yoga sebagai Salah Satu Cara Pencegahan Diabetes). Apakah hanya karena kelompok lain sudah melakukannya, kita harus menghindarinya? Saya pikir tidak bijak juga. Karena kembali semua amalan — setidaknya begitu yang saya pahami dalam Islam — berpulang pada pangkalnya, yakni NIAT.  Dari niat itu, akan kembali pada kita imbalan yang setimpal.

Rujukan:
Terjemahan bahasa Indonesia The History of Arabs oleh Philip K. Hitti (terbitan Serambi, hal. 168)
Encyclopedia of Indian Physical Culture (1950) oleh D. C. Mujumdar

10 Etika dalam Kelas Yoga

Kelas yoga juga memiliki etikanya sendiri. (Sumber foto: Wikimedia Commons)
Kelas yoga juga memiliki etikanya sendiri. (Sumber foto: Wikimedia Commons)

Setiap institusi memiliki etika dan tata lakunya masing-masing. Begitu juga dengan kelas yoga. Tidak peduli kelas yoga dalam sebuah studio, pusat kebugaran atau di tempat terbuka, semuanya memiliki etika.

Jika Anda belum pernah mengikuti kelas yoga, berikut adalah beberapa etika umum dalam kelas yoga yang perlu Anda ketahui. Dengan berbekal ini, Anda tidak akan terlalu canggung masuk ke dalam kelas dan memiliki peluang lebih rendah mempermalukan diri di antara peserta yang sudah lebih dulu berpengalaman.

  • Masuk kelas sebelum waktu mulainya: Datanglah 15-10 menit sebelum kelas dimulai. Anda akan berkesempatan untuk menyapa guru yang akan mengajar, menyapa peserta lain di sekeliling Anda, dan yang penting, menenangkan fisik dan mental sebelum beryoga. Mengikuti kelas yoga dengan pikiran masih penuh dengan kekesalan akibat kemacetan sepanjang jalan menuju kelas, beban urusan kantor dan rumah tangga akan membuat sensasi dan efek beryoga menurun. Biarkan pikiran Anda lega sejenak. Lepaskan semua beban pikiran dan kejengkelan tadi dan fokus pada kelas. Anda tidak akan memiliki waktu untuk menyiapkan diri seperti ini jika datang terlambat. Datang terlambat juga mengganggu konsentrasi orang lain di sekitar kita dan biasanya Anda akan ketinggalan beberapa menit pemanasan atau pranayama (olah pernapasan) yang penting. Dan datang lebih awal juga memberikan kesempatan untuk mendapatkan tempat yang kita inginkan di kelas. Entah itu di barisan depan agar Anda bisa menyimak penjelasan guru dengan lebih baik atau di barisan tengah atau belakang jika masih merasa belum percaya diri dan ingin mengamati dulu gerakan kawan-kawan Anda tanpa takut malu jika salah meniru.
  • Rapikan penampilan: Hanya merapikan! Anda tidak perlu berdandan hanya untuk masuk dan ikut dalam kelas yoga (itu jika tujuan Anda masuk adalah hanya untuk beryoga, bukan yang lainnya). Dalam beberapa kelas, tak jarang kita temukan orang yang merias wajah, menyasak rambut sebelum masuk kelas. Bukan itu maksud dari merapikan. Anda hanya perlu merapikan diri agar tidak mengganggu pemandangan kelas.
  • Singkirkan gawai dan barang bawaan lain: Ada beberapa guru yang tidak menyukai muridnya memegang ponsel dengan tujuan apapun selama kelas berlangsung dan ini bukannya tanpa alasan yang kuat. Ponsel adalah penghubung dengan dunia luar, padahal di kelas yoga Anda diajak masuk ke dalam sehingga bisa dipahami bahwa ponsel menjadi sumber gangguan.Tidak mengatur ponsel dalam kondisi senyap (silent mode) bahkan jauh lebih buruk lagi. Anda sudah menjahati seisi kelas karena merampas ketenangan dan fokus mereka. Jangan pernah lakukan itu di kelas yoga pertama Anda. Barang bawaan seperti tas juga lebih baik disimpan di loker khusus, atau jika tidak ada loker, jauhkan dari mat Anda. Menjauhkan barang dari jangkauan tangan akan membuat kita lebih malas mengutak-atik isinya sehingga sepenuhnya pikiran bisa fokus pada instruksi guru. Pikirkan juga perasaan guru jika ia tengah mengajar tapi Anda asyik dengan ponsel. Tidak ada orang yang suka diabaikan orang lain, begitu juga diri Anda. Maka jangan lakukan pada orang lain.
  • Kenakan pakaian yang sesuai: “Sesuai” memang subjektif. Tapi jika Anda memasuki sebuah kelas yang bertema tertentu, ada baiknya menyesuaikan dengan pakaian yang biasanya dikenakan pesertanya. Misalnya, jika ikut kelas bikram yoga, pastikan Anda memakai pakaian yang pas badan dan berbahan tertentu yang  bisa teregang tanpa menjadi sobek, memberi ruang bernapas bagi pori-pori kulit sekaligus menyerap keringat. Jika mengikuti kelas yoga di tempat terbuka, pilihan pakaian bisa disesuaikan menjadi lebih tertutup untuk alasan kesopanan. Bagi pria, mengenakan kaos sudah menjadi kelaziman tetapi di sejumlah tempat seperti Bali atau ashram yang mengizinkan peserta prianya berlatih hanya dengan celana, silakan saja. Namun, di kebanyakan studio, pusat kebugaran atau kelas-kelas kelompok privat di Jakarta dan daerah-daerah yang di dalamnya peserta bisa wanita dan pria, memakai kaos akan sangat disarankan, kecuali di kelas bikram atau hot yoga.
  • Perhatikan kebersihan: Sebelum kelas yoga, mandi dianjurkan agar tubuh dan pikiran lebih segar dan siap. Selama kelas yoga, jika Anda berkeringat dalam jumlah banyak, selalu bawa handuk agar tidak terpeleset oleh kubangan keringat sendiri. Jangan lupa mencuci tangan dan mandi sehabis ikut kelas yoga (tunggu sekitar 30-60 menit sebelum mandi agar tubuh sempat dingin dulu secara alami). Kebersihan juga diterapkan dalam konteks batin dan pikiran. Sebelum kelas, lupakan sejenak beban pikiran lainnya yang tidak berkaitan dengan kelas yoga. Inilah yang disebut sebagai konsep saucha atau kebersihan fisik dan batin dalam yoga.
  • Atur makan: Makan tepat sebelum kelas bagi pemula kadang didasari alasan takut lemas dan pingsan di dalam kelas. Tentu Anda boleh makan sebelum kelas tapi sebaiknya jangan terlalu dekat. Perlu diberi jeda waktu sekitar 3-4 jam antara waktu makan besar atau 1 jam untuk waktu makan ringan (mengudap buah matang dan manis untuk asupan energi yang mudah diserap tubuh) dan waktu dimulainya kelas yoga. Mengapa? Karena Anda tidak ingin energi habis saat pencernaan bekerja keras. Ingat, mencerna makanan juga perlu energi. Jadi alih-alih memberi asupan, makan tepat sebelum beryoga malah membebani tubuh dua kali lebih berat. Tubuh akan bingung apakah harus menyalurkan energi untuk olahraga atau pencernaan. Makan sebelum yoga juga berpotensi membuat Anda mengalami kejadian memalukan di kelas, seperti sendawa berulang atau buang angin tanpa sengaja. Gerakan memilin tubuh dan menindih perut dalam kelas yoga bisa membuat gas dalam perut yang muncul selama proses pencernaan makanan keluar dan efeknya bisa memalukan diri sendiri.
  • Beritahu guru jika ada cedera atau kondisi tertentu: Jika Anda dalam kondisi mengandung bayi, atau mengalami cedera atau luka yang belum sepenuhnya sembuh atau masih berefek sampai sekarang, jangan ragu atau malu mengatakan pada guru bahwa Anda memerlukan pemakluman khusus. Bagi mereka yang hamil, tidak disarankan beryoga asana sepanjang trimester pertama kehamilan karena di fase itu kondisi janin masih rapuh. Dan akan lebih baik lagi jika ibu hamil masuk ke kelas yoga prenatal, bukan kelas yoga biasa. Jika Anda pernah cedera lutut atau bahu misalnya, katakan juga pada guru agar saat ada postur yang Anda tidak bisa lakukan secara maksimal, Anda tidak akan dipaksa guru untuk melakukannya dengan semena-mena. Biasanya guru yang baik akan memaklumi dan tidak memaksa di luar kemampuan kita.
  • Jaga ketenangan di kelas: Berbicara di kelas yoga tidak dilarang asal Anda tahu kapan waktu yang tepat. Berbicara saat instruktur menjelaskan di depan kelas akan sangat mengganggu ketenangan. Jika Anda ingin berbicara dengan instruktur, lakukan dengan volume yang rendah. Karena kebanyakan kelas yoga dilaksanakan dalam ketenangan, akan lebih baik untuk menutup mulut dan bersikap hening sepanjang kelas, kecuali dalam sesi berbagi pendapat atau penjelasan atau dialog interaktif (tanya jawab) sebelum bagian latihan asana dan pranayama dimulai saat Anda memang dipersilakan berbicara. Kesunyian mesti dijaga terlebih lagi selama sesi savasana (pose mayat) yang di dalamnya semua orang tidak boleh bersuara. Dalam savasana, Anda dipersilakan untuk mengendurkan semua otot tubuh dan melepaskan sejenak beban yang ada dalam pikiran.
  • Bersihkan mat: Jika Anda meminjam mat yoga, kembalikan mat yoga dalam kondisi bersih, tidak basah atau lembab karena keringat.
  • Hati-hati sebelum menyentuh tubuh orang lain: Ada beberapa gerakan yang mungkin mengharuskan ada kontak fisik dengan orang lain. Namun, sebelumnya pastikan jika hal itu bisa diterima oleh orang yang menerima sentuhan. Sebagian orang tidak suka dipegang untuk alasan apapun. Ada juga yang memaklumi, asal dengan itikad baik, misalnya untuk relaksasi atau untuk koreksi postur. Sebagian lainnya benci disentuh karena merasa geli dan kurang nyaman. Semua poin ini memang terutama berlaku untuk pengajar yoga tetapi juga relevan untuk peserta, apalagi saat harus melakukan postur atau gerakan berpasangan atau berkelompok. Sama dengan tempat lain di muka bumi, kelas yoga juga tidak steril sepenuhnya dari pikiran-pikiran tidak senonoh dan jangan sampai Anda menjadi targetnya.

Sepuluh poin penting mengenai etika dalam kelas yoga di atas mungkin belum mencakup semua. Apakah ada yang tertinggal? Silakan tambahkan dalam kotak komentar.

Ricky: “Jauhi Rokok!” (Kisah Seorang Penyintas Serangan Jantung)

Screen Shot 2016-08-24 at 10.27.25
Ricky: “Jauhi rokok. Stop merokok dan jauhi perokok, karena asapnya sangat buruk untuk kesehatan kita. Rajin berolahraga dan menjaga pola makan yang sehat.” (Foto: Instagram)

Tubuh manusia mirip mesin yang membutuhkan perawatan teratur. Ia tidak bisa sesekali saja dirawat habis-habisan saat kita memiliki waktu senggang atau sedang memiliki suasana hati yang bagus lalu kita gunakan sepuas-puasnya tanpa batas dan mengabaikannya saat merasa sibuk atau malas. Karena itu, hidup aktif dan sehat di masa kecil dan remaja tidak serta merta menjamin sepenuhnya seseorang sehat seterusnya hingga fase dewasa dan tua. Jika lalai, sama saja akibatnya sefatal orang yang tidak pernah menjaga kesehatan sejak muda. Itulah pelajaran hidup yang harus dibayar Ricky Firmansyah. Dengan sangat mahal.

Sama-sama menggemari yoga, kami bertemu pertama kali dalam sebuah kelas yoga luar ruangan di suatu pagi yang cerah dan hangat di sebuah kawasan di Bumi Serpong Damai, Tangerang. Di samping manfaat kesehatannya, yoga juga memberikan manfaat lainnya yang tak kalah positifnya bagi kehidupan sosial saya: mempertemukan saya dengan orang-orang baru.

Bersama dengan orang-orang baru seperti Ricky, saya juga belajar hal-hal baru, termasuk betapa mahalnya kesehatan jantung ini.

Pada saya, Ricky mengaku sejak masa kecil sampai remaja menghabiskan waktu untuk aktif berkegiatan fisik. Ia menyukai olahraga. Dari basket, sepakbola sampai aktivitas khas pecinta alam di luar ruangan yang menantang ia lakoni.

“Tapi 15 tahun terakhir, saya malas berolahraga dan makanan yang saya konsumsi tidak terkontrol, sehingga kolesterol saya menumpuk,” terang Ricky yang ibunya juga mengalami masalah kesehatan jantung yang mirip. Pembuluh darah jantung ibu Ricky dipasangi balon untuk menyingkirkan penyumbatan akibat penumpukan plak.

Kadar kolesterol dalam tubuh Ricky perlahan tapi pasti melambung. Begitu juga dengan bobot tubuhnya. Karena tak ada keluhan berarti, ia mengabaikannya dan menjalani aktivitas sebagaimana biasanya. Padahal, jika Anda belum tahu, berat badan berlebihan saja sudah menaikkan peluang gagal jantung dua kali lipat lebih bagi mereka yang mengalaminya, apalagi jika ditambah dengan gabungan berbagai faktor lainnya seperti faktor genetik, pola hidup dan lain-lain  (sumber).

Diwal Mei 2014, Ricky merasakan sebuah keluhan di jantungnya. Hasil pemeriksaan kesehatan umumnya keluar dan memberikan sebuah hasil yang di luar dugaan: Jantungnya sedang mengalami gangguan. Pada bulan yang sama ia mengalami serangan jantung pertamanya.

Kontribusi gaya hidup menurutnya mempengaruhi kesehatannya yang kala itu menurun karena obesitas dan kadar kolesterol tinggi. Ditambah dengan buruknya pola makan dan kebiasaan merokok, kombinasi faktor-faktor tersebut bisa berakibat fatal.

Karena kondisi Ricky sudah sangat mengkhawatirkan, dokternya mengharuskan prosedur operasi bypass pada jantungnya. “Operasi saya jalani pada akhir September 2014,  saat saya kena serangan jantung yang kedua,” ungkapnya.

Peristiwa tersebut terjadi pada saat ia sedang bekerja di kantor pukul 8 pagi. “Dada mulai terasa sesak dan muncul sensasi nyeri di dada sebelah kiri.” Seketika itu juga ia dibawa istrinya ke RS Premier Jatinegara, dan langsung menjalani angiography. “Di situlah terlihat ada beberapa penyumbatan di pembuluh darah di jantung saya. Dokter menyarankan segera dilakukan operasi bypass,” tuturnya mengenang peristiwa yang tak terlupakan tersebut.

Ricky tidak bisa mengelak lagi karena menurut dokter, kondisinya sudah memburuk sampai pemasangan ring sudah tidak memungkinkan.

“Saya pasrah dan mengikuti saran dokter mengingat risiko yang setiap saat bisa saya hadapi apabila saya menolak untuk di-bypass,” kenang pria yang kini rajin berlatih yoga itu.

Pasca operasi bypass 2014 itu, Ricky merombak cara hidupnya dengan membiasakan olahraga. “Minimal jalan kaki untuk mengurangi berat tubuh saya, juga pola makan  lebih sehat dan teratur. Saya juga rajin bersepeda statis.”

Ricky tertarik dengan yoga setelah menyaksikan Virni, istrinya, yang mulai rajin berlatih yoga. Karena tak mau gegabah, ia berkonsultasi pada dokter jantungnya. “Setelah saya tanyakan pada dokter jantung saya, (mengikuti latihan yoga – pen) ternyata diperbolehkan,”ucapnya lega. Sifat latihan yoga yang low impact membuatnya relatif aman bagi penyintas gangguan jantung sepertinya.

Setelah beberapa lama mengintegrasikan yoga pada rutinitas olahraganya, Ricky mulai merasakan perubahan positif. Napasnya menjadi lebih panjang, badan lebih segar, tubuhnya lebih fleksibel. Secara mental yoga memberikan perubahan yang signifikan karena membuatnya belajar lebih rendah hati, bersabar, berterima kasih dan berbuat baik kepada sesama. Semua menyumbang pada pemulihan kesehatannya secara holistik.

“Bagaimana keluarga memberikan dukungan dalam menjaga kesehatan pasca operasi?” tanya saya. Menurutnya, dukungan keluarga sangat besar. Keluarga terutama istri sangat mendukung Ricky untuk kembali sehat. Istrinya rela menjadi “polisi” untuk memilih makanan dan selalu memberikan semangat.

Ditanya pesan yang ingin ia sampaikan pada anak-anak muda atau mereka yang masih sehat, Ricky berwejangan:”Jauhi rokok dan perokok karena asapnya sangat buruk untuk kesehatan. Rajin berolahraga dan menjaga pola makan yang sehat. Pada dasarnya boleh kalau mau makan sesuatu yang “agak kurang sehat” sesekali, misalnya durian atau makanan bersantan, asal sekedar mencicipi dan tetap diimbangi dengan olahraga supaya racunnya segera dibuang melalui keringat.”

Seolah sebagai ungkapan rasa syukurnya pada Ilahi, Ricky kini lebih menikmati hidup. Semangat itulah yang ia pancarkan dalam berbagai kegiatannya sekarang, dari melancong, sampai berkumpul dengan istri dan anak-anaknya. Karena tanpa kesehatan, semua kekayaan dan kenikmatan hidup lainnya menjadi hambar, tak bermakna.

P. S.: Makna “penyintas” sama dengan “survivor”.

(Tulisan ini dibuat untuk diikutsertakan dalam lomba blog bertema “Gaya Hidup Sehat, Untuk Jantung Sehat” dalam rangka HUT ke-35 tahun Yayasan Jantung Indonesia)

Hatta dan Yoga

Berbeda dari Soekarno yang dikenal sebagai sosok orator ulung dengan semangat yang berapi-api sehingga piawai menggerakkan massa, Hatta memang bukan tandingan yang setara. Kepribadiannya lebih tenang dan tidak begitu suka menonjolkan diri. Namun, Hatta punya kekuatannya sendiri juga. Ia adalah Yin bagi Soekarno yang Yang.

Lain dari rekannya yang tersohor sebagai pria “womanizer” alias petualang cinta yang memiliki banyak istri, Hatta memang lebih terkendali perkara birahi. Selama Indonesia belum merdeka, ia menampik untuk menata rumah tangga. Dan terbukti ia penuhi ikrarnya itu dengan menikah di usia yang pantas disebut “bujang lapuk”. Sebuah pengamalan prinsip brahmacharya yang nyata.

Kecintaannya pada buku dan menulis juga mengagumkan. Konon ada berpeti-peti buku yang ia bawa ke penjara dan tempat pengasingannya di Boven Digul. Dari apa yang ia baca itu, ia “muntahkan” lagi dalam bentuk artikel-artikel yang ia kirim ke media massa dan tulisan-tulisan panjang dan kompleks yang diterbitkan dalam bentuk buku.

Tapi yang paling istimewa bagi saya ialah ketertarikannya pada yoga. Hatta konon pernah sangat “mengapresiasi” ajaran B.K.S Iyengar dan belajar tentang yoga di bawah sang guru besar. Entah kapan pastinya saya belum tahu juga, tapi kalau dirunut di deretan kegiatan diplomasi Hatta di tahun 1947, diduga keras Hatta bersinggungan dengan dunia yoga saat melawat ke India demi mengumpulkan dukungan dari beberapa negara sahabat dalam mempertahankan keutuhan negara yang baru lahir di tengah rongrongan Belanda yang belum rela. Ia bertemu dengan sahabat lamanya, Jawarharlal Nehru, yang juga berteman dengan Mahatma Gandhi. Pada Hatta, dua tokoh penting India itu berjanji mendukung kemerdekaan kita dengan segala cara yang mereka bisa, termasuk mengumumkannya di depan forum dunia, seperti sidang PBB.

Masih menjadi misteri apakah Hatta secara konsisten berlatih yoga sejak itu atau hanya bersinggungan sepintas lalu. Buku-buku yoga apa yang ia baca? Apakah ia juga mempraktikkan asana-asana seperti yang diperagakan Iyengar? Semua itu belum ada jawabannya. Dan kalaupun ada, akan saya masukkan di buku sejarah yoga di nusantara.

Salam yoga! Merdeka!

Kreativitas dan Yoga

Yoga identik dengan keheningan, suasana khidmat. Anda tentu sering mendengar guru-guru yoga mengajak murid masuk ke dalam diri mereka dan sejenak melupakan dunia luar yang hiruk pikuk. Dan tebak apa yang Anda bisa dapatkan dalam keheningan itu?

Bagi saya, yoga mengantar saya ke keheningan yang kemudian memecut daya kreasi saya. Dalam beberapa kelas, saya tiba-tiba bisa mendapatkan ide mengenai berbagai proyek kreatif saya. Dan saya begitu tidak sabar untuyk merealisasikannya. Pengalaman yang sama juga saya temukan saat saya salat, berdoa. Entah dengan pengalaman Anda, tapi sepanjang pengalaman saya, ada keterkaitan yang tidak bisa dijelaskan secara memuaskan antara keheningan internal dalam beryoga dan salat dengan kreativitas.

Saya pikir inilah faedah yoga yang tidak pernah dikisahkan secara terbuka, bahkan dalam sutra-sutra kuno tersebut (atau karena tersurat di dalamnya secara filosofis sehingga susah dipahami pesannya). Jadi bisa dikatakan ‘efek samping’ yang positif karena zaman sekarang mayoritas orang beryoga karena ingin lebih bugar secara fisik. Ketenangan pikiran bukan prioritas. Apalagi menguatkan daya cipta dalam otak.

Yoga konon membantu manusia membuka dan mengarahkan aliran energi hidup alias prana dan membuka saluran-saluran inspirasi yang tersumbat awalnya. Penelitian bahkan menunjukkan bahwa banyak orang beryoga mengaku mengalami peningkatan kreativitas pasca bermeditasi. Indra mereka lebih tajam; cara pandang mereka berubah lebih jernih dan arah hidup mereka menjadi lebih baik dan berarti.

Dalam berasana, sebetulnya kita juga bisa menemukan peningkatan daya kreasi tadi sebagaimana dalam meditasi. Ada beberapa cara yang bisa kita tempuh untuk meletupkan kreativitas dengan yoga. Simak penjelasannya berikut ini.

Temukan cara pandang baru. Perspektif baru akan memperbarui cara kita menjalani hidup juga. Saat kita menciptakan sebuah ruang privat yang damai saat beryoga, kita mampu mebebaskan diri dari pola lama yang terus berulang dan menjenuhkan serta mengeruhkan jiwa dan pikiran. Tandanya jika ini tercapai adalah perubahan dalam sikap dan perangai, yang semula lebih mudah tersinggung dan cepat menghakimi menjadi lebih sabar dan penuh pengertian, dari yang sering berucap menyakiti hati menjadi lebih cermat berkata-kata, dari yang merasa tertekan atau peragu menjadi lebih ekspresif dan berani bersikap.

Selama latihan pose inversi, contohnya, kita bisa menemukan perubahan perspektif. Namun, bahkan dalam pose-pose yang lebih lembut, latihan asana itu bisa membantu sebagai latihan melepaskan pikiran-pikiran yang memenjarakan daya kreatif kemudian memicu tumbuh kembangnya perspektif baru yang lebih segar. Di dalam atmosfer baru yang terbuka dan lebih luas inilah Anda akan menemukan kreativitas Anda perlahan tapi pasti berkembang pesat.

Diam dan dengarkan nurani. Terlalu banyak bercengkerama dengan dunia maya melalui perangkat teknologi dapat mempertumpul kemampuan kita mendengar suara nurani. Namun, kita bisa melepaskan semua gangguan eksternal itu jika mampu membulatkan tekad untuk membatasi diri dari banjir stimulasi dan informasi, kemudian dengan penuh kesadaran memusatkan pikiran, jiwa dan raga pada keheningan di dalam diri.

Saat saya merasa buntu dalam bekerja, hal terbaik yang bisa dilakukan bukannya memaksa untuk terus bekerja agar lekas muncul ide baru atau masalah yang ada di hadapan segera tertangani. Tapi mundurlah dari hiruk pikuk dunia luar terutama dengan mematikan segala koneksi dengan dunia maya yang menyedot energi. Singkirkan dulu gawai Anda. Bagaimana jika ingin mencatat ide cemerlang Anda? Sediakan kertas dan alat tulis untuk mencatatnya tanpa harus menggunakan gawai dalam bentuk apapun.

Belajar percaya diri. Tidak ada yang lebih cepat atau efektif membunuh ide kreatif daripada ketakutan. Entah itu ketakutan dihakimi, ketakutan dikritik, ketakutan dianggap mengulang ide sebelumnya, ketakutan disepelekan orang, dan sebagainya. Yoga bisa membantu kita mengenyahkan ketakutan tanpa alasan tadi dan memperkuat keberanian mengutarakan ide baru. Semua keberanian itu bisa dipupuk dengan belajar mempercayai diri.

Saat berasana yang saya belum anggap bisa, saya kadang tidak percaya diri. Namun, bukan berarti saya berhenti. Saya dorong diri ini untuk terus mencoba. Bisa atau tidak bukan masalah. Jika saya berhasil, saya akan belajar bahwa kepercayaan diri itu bukan hal yang absurd atau sia-sia. Namun, jika saya masih gagal, saya akan berpikir bahwa kepercayaan diri itu sudah mampu membuat saya menjadi seorang pencoba yang berani melangkah. Itu juga sudah menjadi sebuah langkah maju, sebuah prestasi bagi diri karena berhasil mengalahkan kemalasan. Jadi gagal atau sukses sama-sama memiliki hikmahnya. Tidak ada kata rugi atau memalukan. Dan kita juga akan lebih banyak melihat ke dalam diri, tidak mendambakan banyak dorongan dari luar (ingin dipuji) atau tidak lemah saat menghadapi stimulus negatif dari luar (fitnah, cibiran, penghinaan).

Mindset Belajar Yoga

Alkisah seorang petani tinggal di sebuah desa yang miskin. Ia dianggap cukup makmur karena memiliki seekor kuda yang ia bisa pekerjakan untuk membajak dan mengangkut barang dan dirinya.
 
 
Suatu hari kuda itu melarikan diri. Semua tetangga petani itu menyayangkan kejadian itu. Mereka menganggap si petani pasti bersedih. Namun, petani tidak merasa demikian. Dalam benaknya, ia tidak yakin kejadian itu sebuah kemalangan atau tidak.
 
 
Beberapa hari kemudian anehnya kuda itu kembali padanya dan membawa dua ekor kuda liar bersamanya. Semua tetangga petani itu bersukacita dan mengatakan padanya betapa beruntungnya ia sekarang. Lagi lagi, petani itu bergumam, “Mungkin aku beruntung, mungkin juga tidak.’
 
 
Keesokan harinya, anak laki-laki si petani mencoba menaiki salah satu kuda liar tadi. Kuda itu tak bisa dikendalikan dan melemparnya dari atas punggungnya. Si anak mengalami patah kaki seketika. Seperti biasa tetangganya bersimpati dan mengatakan pada petani itu betapa malang dirinya. Namun, sekali lagi ia menampik penuh ragu,”Mungkin demikian, mungkin juga tidak.”
 
 
Pekan berikutnya datanglah ke desa itu para petugas pemerintahan yang mencari para pemuda untuk didaftar sebagai prajurit negara yang dikirim ke medan pertempuran. Mereka tak menerima anak laki-laki petani itu karena kakinya patah setelah insiden berkuda pekan sebelumnya. Saat tetangganya berkata betapa beruntungnya ia, petani itu berucap:”Mungkin iya, mungkin tidak.’
 
 
Inilah yang dimaksud filsuf Yunani Kuno Sokrates dalam kutipannya:”Pengetahuan sejati tergapai saat Anda sadar Anda tidak tahu apa-apa.”Hal-hal di dunia ini terus berubah dan tidak ada yang permanen. Saat Anda berpikir sesuatu itu benar, hal itu berhenti menjadi benar. Seperti algoritma pencarian Google yang selalu direvisi atau kurs mata uang yang selalu berfluktuasi. Sehingga untuk menjadi bijak seseorang mesti membebaskan pikirannya sebagaimana kita membiarkan sebuah pantai sebagai sebuah media dan membiarkan pasang surutnya gelombang kehidupan mengubah lansekap pasir itu.
 
 
Seperti itulah cara pandang yang kita dapat adopsi saat mempelajari ilmu apapun, termasuk yoga. Saat Anda berpikir memiliki bokong yang besar sebagai sebuah kemalangan saat berpose bakasana, dalam pose navasana Anda bisa menganggapnya sebagai berkah. Saat Anda memuja cara pandang, teknik, metode, pendekatan serta standar baku tertentu yang bagi Anda sudah bagus dan sempurna saat berlatih dulu, seiring dengan berjalannya waktu Anda menyadari banyak hal sudah berubah dan semua hal itu sudah kehilangan statusnya sebagai ‘acuan’. Karena itu berpuas diri dan merasa jumawa amatlah membahayakan pada hakikatnya bagi kita semua.