Tren Bersepeda di Jakarta: Dari Pergerakan Nasional Hingga Era Digital

Sejak memiliki sepeda sendiri akhir tahun 2015, saya belum bisa bersepeda dalam radius yang terlampau ambisius. Maklumlah, saya bukan pesepeda yang ‘serius’ dan ‘profesional’, yang meluncur membelah jalan-jalan Jakarta dengan celana ketat streamline dan kostum yang benar-benar dikhususkan untuk mengayuh bak Lance Armstrong di Tour d’France. Yang terjauh ‘cuma’ 13 km pergi pulang dari kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan hingga Ancol dan saya sudah jera karena rute berangkat terasa lebih segar, penuh energi, pendek dan menyenangkan. Namun, dengan jarak yang kurang lebih sama, rute pulang selalu saja terasa lebih meremukkan badan. Apalagi di Jakarta dengan cuaca pesisir tropis. Bersepeda 26 km sehari sudah membuat kebutuhan asupan energi saya melonjak tajam.

Bersepeda di Jakarta zaman sekarang sangat tidak nyaman. Alasannya segudang. Medannya naik turun (jalan layang dibangun di sana-sini); pepohonan jarang (kalaupun ada, ditebangi karena takut menimpa kabel listrik dan telepon); jalur khusus sepeda kalaupun ada sangat sedikit dan terbatas. Belum lagi risiko paru-paru yang rontok dan jebol kalau sehari-hari harus bersepeda berpacu bersama sepeda motor, bus dan angkutan kota, mobil pribadi dan truk serta trailer molen yang membuat sepeda saya terkesan begitu rapuh. Mereka ikan hiu putih besar, hiu martil, manta, barakuda, paus pembunuh, paus biru sementara saya ikan teri, kedua terlemah dari posisi terbawah yang dihuni plankton, para pejalan kaki. Begitulah sekilas soal hierarki pengguna jalan di sini. Barbar. Masih segar di ingatan ini berita tragis seorang pesepeda yang ditabrak lari pengemudi mobil sampai tewas di jalur protokol Sudirman-Thamrin pada suatu Sabtu pagi. Apakah itu membuat pemerintah lebih serius memikirkan nasib pesepeda? Tidak.

Surga Pesepeda

Mari kita mengenang Jakarta di awal abad lalu sebagai surga atau setidaknya tempat yang lebih menyenangkan bagi para pesepeda. Melalui koleksi kartu pos yang dimiliki Scott Merrillees dalam bukunya “Greetings from Jakarta”, saya seperti menaiki mesin waktu Doraemon dan kembali ke Batavia di penghujung abad ke-19 dan awal abad ke-20. Saat itu, jalan-jalan di Jakarta masih relatif lengang dan lapang. Polusi masih dalam batas wajar karena kendaraan bermotor impor dari negeri sakura belum membanjiri Batavia.

Sebuah perusahaan bernama Netherlands Indies Sports Company didirikan pada tahun 1897 dan mulai beroperasi dari sebuah bangunan megah nan mewah di dekat ujung selatan Jalan Medan Merdeka Barat di atas lahan yang kemudian dipakai sebagai asrama Theosophy Society Jakarta. Perusahaan tersebut dimiliki oleh firma dagang terkemuka E. Dunlop & Co. Di awal abad ke-20, kawasan Medan Merdeka masih menjadi titik konsentrasi banyak kegiatan olahraga seperti bersepeda, golf, kriket, tenis dan balap kuda. Itu karena pusat pemerintahan masih terpusat di Kota Tua Jakarta di utara. Jadi, bisa dipahami skala masifnya ekspansi wilayah Jakarta ini dalam satu abad berkat ledakan penduduk dan desentralisasi ekonomi yang tak kunjung sukses.

Sepanjang dekade pertama abad ke-20 itulah, sepeda naik daun di Batavia sebagai olahraga baru yang menarik karena tidak selambat jalan kaki tetapi juga tidak begitu merepotkan layaknya moda transportasi yang ditarik hewan seperti kuda yang memerlukan pemeliharaan lebih intensif dan rumit. Para pemilik modal di Nederlands Indische Sport Maatschappij (Netherlands Indies Sports Company) kemudian merancang rencana untuk menarik untung dari demam sepeda yang mulai melanda kota Jakarta dan sudah merebak di berbagai wilayah di dunia pada tahun 1890-an. Caranya mudah saja, yakni dengan mendirikan sebuah toko sepeda dan bengkel sepeda di Jalan Medan Merdeka Barat. Seperti produk teknologi terbaru pada umumnya, para pemakai awal (early adopter) ialah kalangan elit pejabat Eropa, Timur Asing atau orang lokal yang kaya raya dan berpengaruh. Tidak cuma itu, mereka juga tidak ragu untuk menginvestasikan uang mereka dalam pembangunan velodrome berbahan semen yang dibangun tepat di belakang toko dan bengkel sepeda tersebut.

Sayangnya, Netherlands Indies Sports Company harus dijual pada tahun 1908. Padahal usianya baru tujuh tahun. Diduga alasan penyebab penjualan tersebut ialah sudah berlalunya tren bersepeda tadi.

Sepeda yang Merakyat

Di antara banyaknya warga Batavia yang terpikat dengan pesona sepeda, ada sosok Ernest Douwes Dekker (1879-1950). Kita mengenalnya sebagai sosok yang menonjol dalam gerakan kebangkitan Indonesia, terutama dengan dikenalnya tiga tokoh berjuluk Tiga Serangkai, yang salah satunya ialah Dekker. Ia sendiri adalah jurnalis terkemuka pada masanya. Tulisan-tulisannya sarat dengan pembelaan terhadap Indonesia. Ia mengemukakan ide kemerdekaan Indonesia dalam karya-karyanya itu. Sebagai pewarta yang mengikuti perkembangan zaman, Dekker tahu betul adanya demam sepeda di banyak tempat di dunia termasuk Indonesia. Dalam sebuah kesempatan, ia bahkan terlihat sedang giat penuh semangat mengayuh sepedanya di velodrome milik the Netherlands Indies Sports Company yang didirikan di Jalan Medan Merdeka Barat juga. Foto Dekker bersepeda itu kemudian dijadikan latar kartu pos dan diberi caption singkat “Douwes Dekker op de baan” (Douwes Dekker di atas ban) dan bertanggal 8 September 1903.

Yang unik dan tak banyak diketahui orang, selain gemar mengayuh sepeda Dekker kemudian juga mengubah namanya agar lebih Indonesia, menjadi “Danudirdja Setiabudi”. Konon, menurut legenda, kecamatan Setiabudi di Jakarta Pusat (tetapi sekarang secara administratif masuk ke Jakarta Selatan) yang kini menjadi daerah yang saya mukimi itu dinamai demikian untuk menghargai jasa-jasa wartawan berdarah campuran Eropa-Asia tersebut.


Tak peduli timbul tenggelamnya tren, sepeda sampai sekarang terus ada dan dipakai. Meskipun ia sudah mulai ditinggalkan orang karena kecepatannya kurang bisa diandalkan tetapi toh ia masih dipakai oleh banyak orang juga. Karena sepeda seperti kata presiden Jokowi adalah sarana transportasi ramah lingkungan yang merakyat, yang karena itulah ia pilih untuk hadiahkan pada rakyatnya yang beruntung bisa bertemu, bisa mengumpulkan keberanian dan bisa menjawab pertanyaannya yang kadang tak disangka-sangka di berbagai kesempatan yang ia hadiri. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *