Online Privacy Made Easy: Cara Nggak Ribet Jaga Privasi Data di Internet

Jepretan Layar 2018-03-09 pada 18.47.47

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Privasi di dunia maya. Hoahm. Mendengarnya saja sudah membuat mengantuk. Ngaku aja.

Tapi memang mesti diakui topik bahasan ini kurang populer dibandingkan tema-tema lain yang lebih ‘merangsang’ seperti “bagaimana mendapatkan 1 juta follower di Instagram”, “menjadi trending topic di Twitter”, atau semacamnya.

Baru dianggap penting kalau sudah terkena dampaknya di kehidupan nyata. Misalnya, pernah menjadi korban online phishing atau akun media sosial pernah diretas orang sehingga tidak lagi bisa masuk ke akun sendiri dan si peretas yang jahil ini berpura-pura sebagai kita untuk meminjam uang dari orang-orang yang ada dalam daftar teman atau pengikut kita. Kalau sudah ‘tertimpa tangga’ seperti ini, barulah kita ngeh,”Njir, penting nih topiknya!!!”

Diberi kesempatan untuk berbicara sebagai keyholder di Mozilla Indonesia Community Space tanggal 19 Januari kemarin, saya ingin menandaskan bahwa memang topik privasi di era digital sekarang sudah sangat darurat. Apalagi untuk masyarakat Indonesia yang masih tergolong awam. Tak heran di sini isu ini masih dianggap mengawang-awang. Masyarakat masih dalam tahap ‘mabuk asmara’ dan ‘bulan madu’ dengan dunia Internet karena meskipun hidup masyarakat kita semakin dijajah oleh beragam metode dan produk digital, kita masih dalam fase adopsi awal sehingga masyarakat kita belum sepenuhnya sadar akan dampaknya. Dampak yang paling banyak dikeluhkan sampai saat ini ialah fenomena anak-anak yang makin kecanduan gawai. Beberapa teman yang di sekitar saya pernah mengeluhkan hal ini, bahwa anak mereka sudah begitu susah dipisahkan dari ponsel cerdas karena ponsel itu begitu adiktif dan mereka menolak terlibat dalam dunia nyata karena dunia maya lebih asyik. Tapi kembali lagi bagaimana orang tua memberikan disiplin bagi anak-anak mereka. Siapa suruh memberik gawai pada anak-anak yang belul akil balig padahal Bill Gates dan orang-orang di Silicon Valley saja menghindari memberikan gawai pada anak-anak mereka sebelum mencapai usia 13 tahun. Di Indonesia, malah anak-anak sejak dini dibiasakan dengan gawai seolah termotivasi dengan semboyan “makin dini, makin bagus”. Seolah ingin mencuri start. Padahal malah efeknya kontraproduktif untuk perkembangan anak itu.
Pertama-tama, kita perlu paham mengapa privasi di dunia maya itu penting bahkan wajib dijaga. Sederhananya, di Internet kita mempertukarkan banyak informasi pribadi, misalnya nama lengkap, alamat tinggal, kantor, nomor telepon, sampai ke data keuangan penting seperti nomor kartu kredit (yang bisa celaka jika diketahui orang karena rawan disalahgunakan), PIN, kata kunci, dan sebagainya. Dari pertukaran itu, ada jejak yang ditinggalkan dan jika ada pihak yang berniat kurang terpuji, kita bisa menjadi korban kejahatan digital. Ini hanya satu di antara begitu banyak alasan lain, seperti kerahasiaan identitas pengguna, dan sebagainya.

Alasan-alasan teresebut ditambah dengan kondisi di Indonesia yang masih jauh dari ideal. Isu online privacy masih belum populer untuk publik Indonesia. Pemerintah pun belum secara formal dan resmi mengakui isu ini dalam konstitusi, sehingga apapun yang terjadi nanti masyarakat harus siap menjadi korban akibat negara, penegak hukum dan aparat yang masih terseok-seok mengikuti perkembangan zaman. Pemerintah kita juga terbukti masih belum serius untuk menjaga privasi masyarakat yang dibuktikan dengan sejumlah skandal bocornya data E-KTP. (baca di sini)

Di tengah kondisi yang masih jauh dari ideal ini, kita sebagai pengguna Internet tidak bisa abai terhadap privasi data kita sendiri.

Caranya adalah dengan menerapkan sejumlah kiat di bawah ini.

Optimalkan Kekuatan Kata Kunci

Jika tidak mau privasi kita dilanggar begitu saja, logikanya kita mesti memagari rumah kita dengan baik. Makin kuat pagarnya dan makin kokoh gerbangnya, makin susah orang masuk begitu saja ke rumah kita tanpa izin. Sama saja dengan privasi kita di Internet. Kata kunci adalah pagar kita yang paling pertama. Jika kata kunci kita sangat mudah ditebak, jangan salahkan orang jika akun kita disalahgunakan.

Kalau kita disuruh membuat kata kunci yang susah ditebak, biasanya kita beralasan:”Nanti susah diingat!” Dan perlu dicamkan juga bahwa kata kunci untuk setiap akun di Internet harus berbeda. Nah, di sinilah Anda perlu menggunakan penyimpan kata kunci (password manager) yang tersedia. Hanya saja, diperlukan kecermatan untuk menyimpan semua kata kunci itu di satu akun password manager. Jangan sembarangan karena bisa-bisa semua kata kunci kita diketahui peretas. Kalau mau berusaha 100% aman, catat semua kata kunci kita di selembar kertas dan kita simpan dengan baik dan hanya kita sendiri (dan Tuhan) yang tahu. Namun, memang cara ini kurang praktis.

Kekuatan kata kunci akan makin baik jika kita mengaktifkan autentikasi 2 faktor, yakni dengan mengaitkan nomor ponsel dengan akun digital kita sehingga jika akun kita tertimpa peretasan, kita langsung bisa mengembalikan kontrol melalui pengiriman kode ke nomor ponsel yang terdaftar bersama akun. Karenanya, sangat penting untuk langsung memblokir nomor ponsel yang hilang atau dicopet agar si pencuri tidak bisa masuk ke akun-akun digital kita dan membuat kerugian makin besar dan tidak tertanggulangi lagi.

Berperilaku Cerdas di Media Sosial

Memakai media sosial memang enak. Gratis pula. Tapi jangan lupa dengan pengaturan privasinya! Mungkin Anda lupa bahwa jika tidak diatur, konten apapun yang kita uggah ke media sosial bisa dilihat oleh sembarang orang. Dan tidak semua orang memiliki itikad yang baik. Ada yang bisa dengan niat yang kurang baik mengaduk-aduk linimasa atau galeri Anda di media sosial dan menyalahgunakannya. Bisa saja foto pribadi Anda atau anggota keluarga yang di dalamnya diedit atau dipergunakan untuk tujuan yang buruk.

Berbagi boleh saja tetapi sedari bahwa terlalu banyak berbagi (oversharing) juga akan menimbulkan masalah baru. Mereka yang berniat buruk akan bisa dengan mudah mempelajari data Anda dan kemudian mengeksploitasinya. Misalnya, saat Anda ingin mengabarkan bahwa Anda akan terbang ke mancanegara, Anda mungkin akan terdorong untuk memamerkan tiket pesawat Anda. Padahal di dalam tiket tersebut ada barcode, nama lengkap Anda, dan alamat.

Gunakan HTTPS

Pernahkah Anda menjumpai tanda kunci gembok bernama hijau di sudut address bar peramban dan tulisan “https“? Nah, itu artinya Anda dalam koneksi yang relatif lebih aman daripada simbol kunci gembok berwarna hitam dengan tanda seru. (Lebih lengkap di sini).

Pahami Cara Kerja Kuki (Cookie)

Secara sederhana, “kuki” bisa diartikan sebagai data kecil yang disimpan dalam piranti (ponsel, komputer) anda apabila anda menjelajahi sesuatu laman web atau aplikasi. Kuki dimiliki oleh laman web atau aplikasi tertentu dan tidak boleh dibaca oleh orang lain. Baca lebih rinci mengenai bagaimana cara Anda bisa mengatur kuki di sini.

Gunakan VPN

Virtual Private Network (VPN) dapat didefinisikan sebagai bentuk teknologi yang memungkinkan pengguna web untuk mengakses internet jika tersambung dari lokasi-lokasi berbeda sehingga operator ISP/jaringan lokal tidak dapat memeriksa atau memfilter trafik dan setiap situs atau layanan lainnya akan melihat alamat IP yang berbeda-beda. Dengan VPN, kita bisa menjelajahi web dengan lebih aman karena anonim. Namun demikian, tidak semua layanan VPN yang gratis itu juga sepenuhnya aman dari pelacakan lho. Ada juga layanan-layanan VPN ‘nakal’ yang menyalahgunakan kepercayaan penggunanya.

Maksimalkan Penggunaan Firefox

Dalam peramban Mozilla Firefox, sudah ada banyak ‘senjata’ yang bisa kita pakai untuk mempertahankan privasi daring kita. Sebut saja:

  • Master password
  • Private browsing
  • Facebook Container
  • Do not track
  • Tracking protection
  • Lightbeam

Selengkapnya lihat salindia presentasi saya di sini. (*/)

One Sure Way to a Better Writing

1130px-Albert_Anker_Schreibendes_MC3A4dchen_1902RAISE your hand if you hate reading a book that frustrates more than entertains you.

Well, I’m no exception.

I’ve recently started reading Yuval Noah Hariri’s “Homo Deus”. And in spite of the buzz that this book is extremely cool (and thus reading this in public makes you look intelligent, critical and impressively updated), I still have to struggle to find enjoyment in reading it.

But then I realize that a book is supposed to be a main food for thought. And reading a good book is like feeding yourself a nutritious super food. It definitely makes you healthier and more alive than ever before.

So I came to the conclusion that a good book is also like a healthy food: it’s not as delicious as junk food but it offers numerous benefits in the ways we’ve never imagined.

The fact that I write for a living also pushes me to read not only good but great books. It’s more about enriching my vocabulary, strengthen my linguistic ‘muscles’ than keeping up with all the trends.

Yet, what happens now is that I – and a lot of us – am reading more online materials than great quality books. We read more trashy, clickbait articles that are produced or reproduced within minutes and fewer book that are very well thought and heavily edited and revised by experienced editors of major publishers.

And it’s no wonder that our linguistic skills including our writing skills just suck, getting rotten and rusty from day to day underuse.

If you’re a writer or copywriter or anyone working in the domain of language and creativity like me, chances are you’ll find your work or your sentences monotonous, boring and less enticing the more you consume ‘junk’ content every day.

It totally MAKES sense! If you read trash, you write trash as well!

Simply put, to write better, watch your reading materials. Make sure you consume good quality materials.

And science even justifies this!

A study by the University of Florida and published in International Journal of Business Administration revealed that people who read only online content (social media content and popular online news outlets with less quality) have the lowest score in their writing complexity than people who read journal articles or great quality fictional works such as novels written by critically acclaimed authors.

What is ‘writing complexity’ we are discussing here? There’re many factors that show someone’s ability to produce advanced and complex structures in writing. This complexity may encompasses lengths of sentences that one produces, how sophisticated someone’s choice of word (diction) is, and so forth.

Complexity of writing sometimes does NOT necessarily mean you have to write lengthy sentences that confuse readers. Making complex yet efficient sentences means we are able to tactfully organize more than one ideas in a sentence without being lengthy. We just have to make sure that every word is impactful enough to be there. Each word has its own reason to be in a sentence.

What is interesting to note is that this is irrespective of duration. That means it’s not about how many hours you spend, but more about the quality of reading materials you consume on daily basis. Those who have better writing skills admitted they only spent several hours a week reading quality materials instead of online stuff that is packed with listicles, clickbaits, or hoaxy and sensational news items.

And because writing is a type of communication, this rule also applies in speaking skills learning. Someone who wants to master better speaking skills must also try to listen to great quality oral materials.

I know that not all online content available is bad for our writing skills development. But if you’re a writer or someone who earns a living by writing, please take this piece of advice: “Read well-written things”. A co-author of the study mentioned some of the best online news outlets such as “The Economist” or “Wall Street Journal” or “New Yorker” magazine but in my opinion well-written and well-edited books, be it non-fiction or fiction, are still the best option.

And because I’m Indonesian, I can translate the advice to this: Read more “Majas Kreatif” or “Tempo” magazine and less Detik.com, IDNTimes.com, Brilio.co, Tempo.co (yes, the online channel of Tempo just displays cheesy and racy clickbaits), Viva.co.id, Merdeka.com, TribunNews.com, Suara.com, OkeZone.com, etc. (*/)