5 Pelajaran Hidup dari Freddie Mercury di Bohemian Rhapsody

Sebelum menonton film biopic Freddie Mercury ini, saya cuma sepintas lalu mengenal band bernama Queen. Karena genrenya yang kurang familiar plus periode kepopuleran mereka yang jauh sebelum kesadaran musikal saya terbangun, saya terus terang kurang paham siapa saja personel band tersebut, lagu-lagu hitsnya, kehidupan mereka sebagai seniman, musisi dan pribadi.

Tentu saja karena ini jenis film biopic, kendalanya ialah ketimpangan antara film dan ‘kenyataan’ versi para pelakon peran di kehidupan nyata. Ada banyak selentingan bahwa film itu kurang pas menggambarkan Freddie. Ia bukan biang kerok bubarnya Queen karena sebelum ia merintis karier solo, sebelumnya ada juga anggota Queen lain yang sudah melakukan hal serupa. Lalu ada juga yang mengritik film ini karena dianggap melenceng dari sejarah. Untungnya semua itu bukan masalah bagi saya yang bukan penggemar berat Queen.
Tanpa ekspektasi macam-macam sejak awal, saya duduk di bioskop dan cuma mengharap adanya hiburan yang cukup layak untuk mengisi waktu senggang.

Kisah hidup Mercury ini berawal dari dirinya yang masih bekerja serabutan sambil mondar-mandir mencari posisi sebagai penyanyi profesional. Dan di dalam film, saya menemukan banyak pelajaran hidup dari jalan hidup Freddie yang tidak lazim. Berikut di antaranya.

PELAJARAN 1: “Uang tidak bisa membeli kebahagiaan tapi bisa memberikannya.”
Orang kaya yang tidak bahagia memang menyedihkan. Tetapi lebih menyedihkan lagi orang miskin yang tidak bahagia. Saya sepakat dalam hal ini. Uang memang bisa membebaskan manusia dari tuntutan pemenuhan kebutuhan ekonomi. Uang memberikan kita pilihan. Orang kaya dan miskin bisa saja sama-sama jalan kaki tetapi bisa saja karena si orang miskin terpaksa jalan kaki karena tak punya uang. Sementara itu, si orang kaya bisa saja naik mobil tetapi memilih berjalan karena ingin menikmati suasana, berolahraga, atau menikmati udara segar. Motifnya sudah lain sama sekali. Yang satu karena tidak ada pilihan, yang lain karena sengaja memilih. Yang satu merasa terpaksa dan berat hati, yang lain merasa rela dan senang.

PELAJARAN 2: “Saat saya mati, saya ingin diingat sebagai musisi yang punya nilai dan substansi.”
Freddie tidak berkarya hanya karena ia ingin keuntungan finansial atau ketenaran. Ia menggubah lagu agar lagu itu bisa diingat sepanjang masa. Melewati generasinya sendiri jika bisa. Dan itu terbukti.
Idealisme Freddie juga ditunjukkan dengan karakter keras kepalanya saat berhadapan dengan seorang produser musik kenamaan yang tak memahami keunikan Bohemian Rhapsody. Jadi, walaupun usianya tak bisa dikatakan panjang, hidup Freddie lumayan bermakna karena idealisme, nilai dan substansi tadi.

PELAJARAN 3: “Saya selalu tahu saya seorang bintang dan sekarang semua orang sepakat dengan itu.”
Meski sering dipanggil pemuda ‘Paki” (karena ia anak imigran Pakistan), Freddie mengetahui panggilan jiwanya dari muda, yakni menjadi penampil yang berkualitas. Ia menolak anjuran ayahnya untuk hidup selayaknya pemuda lain seumurannya yang kuliah, mengantongi gelar dan merintis karier yang bagus dan membanggakan hingga pensiun usia tua nanti. Freddie yakin ia tak dilahirkan untuk menjalani kehidupan semacam itu. Bukan berarti kehidupan berkarier semacam yang banyak dari kita jalani itu lebih buruk tetapi ia hanya yakin bahwa ia memiliki pilihan yang lebih sesuai dengan jiwanya. Dan ia tidak cuma meminta profesi idamanya itu datang kepadanya. Ia berusaha keras untuk itu.

PELAJARAN 4: “Saya hanya seorang pelacur musik.”
Di balik glamornya profesi seniman dan musisi yang ia lakoni, Freddie tahu dirinya tetap manusia biasa. Yang membuatnya luar biasa adalah optimisme dan semangatnya dalam berkarya secara maksimal dalam rentang waktu hidupnya yang relatif pendek tetapi bernas. Kehidupan sebagai rock star juga tidak membuatnya berubah kepribadian. Ia tetap tahu esensi pekerjaannya: pengamen. Ia menyanyi dan tampil untuk menyenangkan orang. Dan ia melakukan tiap pekerjaannya dengan tingkat keseriusan yang tinggi.

PELAJARAN 5: “Perbuatan yang baik, perkataan yang baik, pemikiran yang baik”
Filosofi ini didengungkan oleh ayah Freddie yang datang ke Inggris sebagai seorang kepala keluarga imigran. Sebagai seorang ayah, ia berharap Freddie bisa membanggakan dirinya dengan mengikuti jalur yang diterima oleh masyarakat kebanyakan. Tetapi Freddie bukanlah pribadi yang biasa sehingga ia tidak sanggup mengungkung dirinya dalam kehendak sang ayah dan tuntutan masyarakat. Untungnya Freddie memiliki seorang ibu yang mendukung apapun yang dilakukan anaknya. Adegan tentang Freddie yang menuju ke rumahnya untuk ‘sowan” ke orang tuanya sebelum tampil di panggung konser amal Live Aid cukup mengharukan karena di situ, Freddie akhirnya menyaksikan ayahnya luluh dan mengakui bahwa pencapaian anaknya di dunia musik memang membawa kebaikan bagi banyak orang. Freddie, seburuk apapun ia di mata diri ayahnya, memiliki dedikasi yang tidak terkira pada dunia musik dan ia menggunakan popularitasnya untuk membantu orang lain yang dekat dengannya dan bahkan yang jauh darinya seperti orang-orang di Afrika yang rentan terjangkit AIDS.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *