Apakah Harus Nge-Blog Sesering Mungkin?

Menulis blog mirip lari marathon. Bukan sprint.

Menulis blog tiap hari terasa mudah awalnya jika memiliki banyak ide tetapi di tengah jalan, setidaknya pasti sesekali saya ‘disergap’ kemalasan, atau kesibukan lain yang tak kalah pentingnya.

Dengan bangga, saya mengatakan saya tak lagi bisa disebut sebagai narablog yang produktif. Blog-blog saya sudah lebih jarang diperbarui. Tetapi itu bukan karena saya malas menulis. Justru karena saya lebih produktif menulis untuk kebutuhan profesi saya.

Betul, saya sudah tak seproduktif dulu lagi. Namun, itu bukan karena saya sudah tak memiliki passion atau karena kemalasan yang susah dihalau. Atau karena saya tak memiliki alat dan sarana.

Tidak.

Justru saya bisa menulis dengan leluasa dengan koneksi internet dan laptop yang tersedia.

Kini saya pikir menulis blog hanya untuk sekadar eksis hanya memberikan kesia-siaan. Sering kita menulis blog hanya untuk menulis ulang soal apa yang sudah diutarakan banyak orang di luar sana. Atau kita hanya menulis sebuah blog hanya untuk bisa terkesan mutakhir, tidak ketinggalan langkah zaman yang begitu cepat. Kalau ada isu terbaru dan blog kita tidak membahasnya, kita menjadi merasa terbelakang dan ‘nista’ karena tidak cepat menanggapinya. Semacam FOMO (Fear of Missing Out). Ketakutan yang menjadi penyakit laten dalam diri para sosok social media influencer. Bukan, saya bukannya berambisi untuk menjadi seperti itu tetapi setidaknya saya bersikap realistis, bahwa kehidupan semacam itu berisiko untuk membuka masalah baru.

Namun, bukan berarti bahwa saya berhenti untuk membahas topik yang sedang panas dengan sudut pandang yang segar tetapi saya akan mengarahkan upaya lebih banyak untuk memberikan opini yang otentik daripada sekadar mengekor opini dari A, atau B, atau C, atau X. Dan inilah yang susah, sebab saya harus berpikir lebih banyak.

Jadi, apakah memang frekuensi kita menulis blog itu penting?

Ada saat saya merasa sangat bersemangat dan memiliki banyak ide untuk ditulis. Semakin banyak yang ditulis, akan semakin banyak pembaca datang juga. Kunjungan naik dan blog ini makin populer. Bukankah itu yang diinginkan seorang narablog?

Yang jelas, mengisi blog dengan tulisan baru dengan teratur memberikan sejumlah keuntungan, misalnya:

1. Semakin banyak Anda mengunggah, semakin banyak laman web yang diindeks oleh mesin pencari.

2. Semakin banyak yang Anda unggah, makin banyak kunjungan yang Anda terima dari pengguna Internet yang menerima konten Anda.

3. Makin banyak Anda mengunggah konten, makin tinggi potensi konten Anda untuk dijadikan rujukan oleh orang.

4. Makin banyak Anda mengunggah, makin tinggi peluang Anda untuk mengukuhkan status sebagai pakar atau ahli.

Ada banyak manfaat sering mengunggah konten baru ke blog kita.

Masalahnya, yang patut dicamkan adalah kualitas seharusnya menjadi prioritas dibandingkan kuantitas. Jika yang kita lakukan sebagai narablog cuma menulis ulang apa yang sudah ditulis banyak orang, orang tentu akan jemu. Akhirnya mereka menjadi tidak tertarik untuk menjadi pembaca blog kita.

Sekarang, apakah kita harus menulis blog setiap hari?

Narablog berbeda memiliki opini dan jawaban berbeda tentang ini. Betul bahwa menulis blog saban hari atau setidaknya beberapa kali seminggu akan menghasilkan angka kunjungan yang lebih tinggi dan membuat kita lebih profesional. Apalagi jika Anda menulis blog untuk kepentingan finansial, frekuensi menjadi penentu keberhasilan. Masalahnya, jika konten itu cuma mengulang yang sudah ada, tidak ada manfaatnya Anda membuat sebanyak mungkin konten untuk diunggah setiap hari.

Beberapa kiat yang pernah saya coba ialah bereksperimen dengan beragam topik yang relevan dengan ceruk atau bidang yang saya tekuni; frekuensi mengunggah konten baru. Satu yang belum pernah saya coba ialah meneliti kebiasaan pembaca blog saya. Apakah mereka lebih banyak yang membaca pada waktu tertentu? Saya belum tahu. Mungkin sudah saatnya saya berusaha mencari tahu. (*/)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *