Parodi Yoga: L o k a l

Pengantar

 

Beberapa hari lalu saya dihubungi Respect Magz untuk bekerjasama membuat event di Taman Suropati. Majalah kecil ini giat mempromosikan makanan organik sehat dan peduli pada kesejahteraan petani lokal. Ajakan itu saya sambut dengan semangat ’45 karena toh TKP, tempat kejadian perkara-nya di ruang terbuka biasa saya membuat Yoga Gembira.

 

Secara coincidence, ajakan itu seperti keinginan yang sudah saya rencanakan jauh hari sebelumnya, bahwa saya akan merayakan ulang tahun saya dengan mengajar yoga ke teman-teman komunitas Social Yoga Club di taman itu dengan mendedikasikan uang hasil donasi Susu Tante (Sumbangan Sukarela Tanpa Tekanan) itu untuk disumbangkan ke Klinik Bumi Sehat di Ubud, Bali. Dan untuk acara itu saya akan membawa tumpeng, nasi+lauk berbentuk genung yang biasa dipakai masyarakat Jawa untuk acara slametan, tolak bala, syukuran, atau keriaan lainnya.

 

Ada tiga kata yang menarik perhatian saya yang nanti segera akan jadi tulisan parodi ini, yaitu organik, lokal dan tumpeng. Tiga kata itu kalau dipaksa-paksa dihubung-hubungkan bisa saja ada benang merahnya, tapi koq kayaknya njlimet mencari alasan filosofisnya. Dari pada njilmet dan bikin pusing saya sendiri, saya tulis Parodi Yoga ini saja. Dan, begini jadinya…

 

 

L o k a l

 

Kita sering mendengar pidoto bapak-bapak pejabat, baik yang ada di kementerian sekitar istana atau yang ada di gedung DPR, sering kali kita mendengar kalimat seperti ini: “Mari kita terus giat membangun agar kita bisa sejajar dengan bangsa-bangsa yang maju….”. Kalimat seperti itu akan terasa inflatif kalau kita hidup di jaman Orde Baru. Mari kita telaah kalimat pidato masif dan seragam itu.

 

Kalau kita perhatikan kata-kata dalam pidato seperti itu, sepertinya mengandung ajakan “mulia” untuk giat bekerja dan memprovokasi untuk tetap semangat. Tapi kalau diulik lebih dalam, koq aku merasa orang-orang yang berpidato itu, walaupun mempunyai jabatan prestisius dan uangnya buaaanyak benerrrr, sepertinya tidak berseri, dia masih dihinggapi perasaan minderwaldeg, kata orang Belanda, rasa rendah diri, gak pede, alias minder. Minder apa? Mungkin Anda bertanya begitu. Ya, minder karena dia kan bilang “agar kita bisa sejajar dengan bangsa-bangsa yang maju….”  artinya dia menilai dirinya sendiri rendah. Ini bukan masalah kerendah-hatian, humble, wong dia-dia itu udah jadi pejabat publik dan duitnya bejibun, bukan juga karena berpendidikan rendah, karena coba ajainga-inga waktu kampanye jadi calon anggota legislatif, DPR, mereka berlomba mencantumkan gelar akademiknya bederet-deret. Aku koq lebih melihat, orang-orang itu sepertinya berpikir bahwa segala sesuatu yang datangnya dari luar, yang asing, khusunya dari Barat, dianggapnya pasti hebat dan lebih unggul, sambil, nah ini dia, parahnya, memandang rendah segala sesuatu yang sifatnya lokal, karena takut dianggap kampungan.

 

Kejadian hampir sama terjadi juga di dunia peryogaan di Indonesia tercinta ini. Kita semua tahu lah, kepopuleran yoga di NKRI ini datang belakangan, dari India lewat dunia Barat, karena marak diberitakan di media bahwa para selebriti Hollywood ramai-ramai berlatih yoga. Orang-orang yoga di negeriku, tanah tumpah darahku ini, baik guru aka pemilik studio, apalagi yang cuma murid aka anggota, seperti aku ini yang anggota komunitas Yoga Gembira, silau memandang guru yoga dari luar negeri, apalagi dari India, apalagi Bule! Padahal, sekarang ini guru-guru yoga lokal gak kalah kualitasnya. Ada Olop Arpipi, guruku yang juga sudah ngajar di luar negeri. Ada kawan baikku, Koko Yoga yang waktu di acara Yoga In The Park di Central Park bikin kawan Akhlis Purnomo bilang, jaw dropping, terbengong-bengong kagum lihat koreografi yoganya. Dengan kata lain, guru-guru yoga lokal gak kalahlah. Guru yoga lokal seperti juga buah-buahan lokal, pepaya, pisang, mangga, jambu yang dibawa dari Pasar Minggu dan di Kota banyak pembelinya, yaa, seperti lagu itu, gak kalah kandungan gizinya, bahkan karena sumbernya dekat, gak perlu shipping yang makan waktu, kadang buah lokal lebih fresh, dan yang pasti gak pake wax, lilin biar gak dimakan rayap dan lebih mengkilap.

 

Banyak dari kita mencari-cari, bahkan rela menghabiskan uang puluhan juta untuk berguru jauh-jauh ke luar negeri hanya untuk merasakan belajar langsung dari guru besar, guru ngetop. India adalah negar yg jadi DTW, daerah tujuan wisata utama bagi praktisi yoga ini. Sementara kalau duitnya sedikit kurang banyak, menunggu-nunggu workshop yang diajar oleh orang asing, guru import. Ada kebanggan sendiri kalau pernah belajar sama orang asing. Gengsi pun akan naik. Lumayan buat dicantumin di CV buat nglamar ngajar di studio-studio yoga. Asyik juga bisa foto bareng guru-guruimport untuk kemudian diupload di facebook atau twitter. Dan, studio-studio yoga pun menajwab keinginan dan animo pratisi yoga yang sedang bergairah dengan rajin membuat workshop atau teacher traning guru bule.

 

Sedang asyik aku mengomentari kelakuan praktisi yoga lokal ini, eh suara dari dalam hati ini yang emang suka nyinyir, menimpali: “Bukannya eloe pernah begitu juga mas. Kan eloe pernah ke India juga. Pernah juga loe takjub, pake nyembah-nyembah ke guruloe di India itu? Mikir dulu lah loe, mas, jangan asal njeplak ngomongloe…”. Segera aku tersadar, dan kubilang dengan tersipu: “Ah eloe, masih inget aja…hehe….” , kemudian kutambahkan : “Yaaa… itu periode gue masih di alam mimpi yang berjalan-jalan…, masih perlu guru-guru idola. Ah eloe mbuka aib gue aja…”. Kujawab begitu, yang di dalam hati ini nyolot, “Ah, gak ngerti apa omonganloe mas, tapi, selain ke India, kan eloe mas pernah juga belajar ke negara-negara barat, ke guru-guru bule, muna’ loe mas!”.

 

Sebenarnya kalau dipikir, dalam hal spiritual, dimana yoga ada di dalamnya, Indonesia ini dahsyat juga, bahkan sejak jaman dulu. Ketika jaman Sriwijaya, guru-guru Tibetan Buddhist, kaya guru-gurunya Dalai Lama pernah ngangsu kawruh, belajar ke wilayah NKRI ini. Aliran kejawen, salah satu “agama asli” suku-suku Indonesia banyak ajarannya yang dengan filosofi yoga, demikian juga, mungkin, locals wisdom dari suku-suku tradisi di Indonesia lainnya, suku-suku di pedalaman yang sangat erat dan selaras hidupnya dengan alam, itu kan udah yogi….

 

Walaupun mungkin namanya bukan yoga, tapi dari cerita orang tuaku, tujuh generasi di atasku sudah mempraktekkan yoga, Mereka, selain olah fisik, semacam silat jawa, beberapa gerakkannya banyak yang mirip asana, juga latihan-latihan olah nafasnya, mirip bener sama pranayama dalam yoga. Belum lagi laku batin dengan aneka macam dan jenis  puasanya, bertapa yang mirip retret, semedhi, itu seperti meditasi. Keluargaku nglakoni semua itu. Yaaa itu kupikir seperti jalan yoga, dari Raja Yoga, Bhakti Yoga, atau Karma Yoga juga. “….tapi mas, koq yogaloe gak oke ah mas, kalah lentur sama mas Lentur Akhlis, mas?”, timpal suara dari dalam. “Yaaa loe lagigue kan keturunan kedelapan”, jawabku menirukan iklan XL menjelang Lebaran kemarin…

 

 

 

yudhi widdyantoro

Pengecer Jasa Yoga


Parodi Yoga: L o k a l

Pengantar

 

Beberapa hari lalu saya dihubungi Respect Magz untuk bekerjasama membuat event di Taman Suropati. Majalah kecil ini giat mempromosikan makanan organik sehat dan peduli pada kesejahteraan petani lokal. Ajakan itu saya sambut dengan semangat ’45 karena toh TKP, tempat kejadian perkara-nya di ruang terbuka biasa saya membuat Yoga Gembira.

 

Secara coincidence, ajakan itu seperti keinginan yang sudah saya rencanakan jauh hari sebelumnya, bahwa saya akan merayakan ulang tahun saya dengan mengajar yoga ke teman-teman komunitas Social Yoga Club di taman itu dengan mendedikasikan uang hasil donasi Susu Tante (Sumbangan Sukarela Tanpa Tekanan) itu untuk disumbangkan ke Klinik Bumi Sehat di Ubud, Bali. Dan untuk acara itu saya akan membawa tumpeng, nasi+lauk berbentuk genung yang biasa dipakai masyarakat Jawa untuk acara slametan, tolak bala, syukuran, atau keriaan lainnya.

 

Ada tiga kata yang menarik perhatian saya yang nanti segera akan jadi tulisan parodi ini, yaitu organik, lokal dan tumpeng. Tiga kata itu kalau dipaksa-paksa dihubung-hubungkan bisa saja ada benang merahnya, tapi koq kayaknya njlimet mencari alasan filosofisnya. Dari pada njilmet dan bikin pusing saya sendiri, saya tulis Parodi Yoga ini saja. Dan, begini jadinya…

 

 

L o k a l

 

Kita sering mendengar pidoto bapak-bapak pejabat, baik yang ada di kementerian sekitar istana atau yang ada di gedung DPR, sering kali kita mendengar kalimat seperti ini: “Mari kita terus giat membangun agar kita bisa sejajar dengan bangsa-bangsa yang maju….”. Kalimat seperti itu akan terasa inflatif kalau kita hidup di jaman Orde Baru. Mari kita telaah kalimat pidato masif dan seragam itu.

 

Kalau kita perhatikan kata-kata dalam pidato seperti itu, sepertinya mengandung ajakan “mulia” untuk giat bekerja dan memprovokasi untuk tetap semangat. Tapi kalau diulik lebih dalam, koq aku merasa orang-orang yang berpidato itu, walaupun mempunyai jabatan prestisius dan uangnya buaaanyak benerrrr, sepertinya tidak berseri, dia masih dihinggapi perasaan minderwaldeg, kata orang Belanda, rasa rendah diri, gak pede, alias minder. Minder apa? Mungkin Anda bertanya begitu. Ya, minder karena dia kan bilang “agar kita bisa sejajar dengan bangsa-bangsa yang maju….”  artinya dia menilai dirinya sendiri rendah. Ini bukan masalah kerendah-hatian, humble, wong dia-dia itu udah jadi pejabat publik dan duitnya bejibun, bukan juga karena berpendidikan rendah, karena coba ajainga-inga waktu kampanye jadi calon anggota legislatif, DPR, mereka berlomba mencantumkan gelar akademiknya bederet-deret. Aku koq lebih melihat, orang-orang itu sepertinya berpikir bahwa segala sesuatu yang datangnya dari luar, yang asing, khusunya dari Barat, dianggapnya pasti hebat dan lebih unggul, sambil, nah ini dia, parahnya, memandang rendah segala sesuatu yang sifatnya lokal, karena takut dianggap kampungan.

 

Kejadian hampir sama terjadi juga di dunia peryogaan di Indonesia tercinta ini. Kita semua tahu lah, kepopuleran yoga di NKRI ini datang belakangan, dari India lewat dunia Barat, karena marak diberitakan di media bahwa para selebriti Hollywood ramai-ramai berlatih yoga. Orang-orang yoga di negeriku, tanah tumpah darahku ini, baik guru aka pemilik studio, apalagi yang cuma murid aka anggota, seperti aku ini yang anggota komunitas Yoga Gembira, silau memandang guru yoga dari luar negeri, apalagi dari India, apalagi Bule! Padahal, sekarang ini guru-guru yoga lokal gak kalah kualitasnya. Ada Olop Arpipi, guruku yang juga sudah ngajar di luar negeri. Ada kawan baikku, Koko Yoga yang waktu di acara Yoga In The Park di Central Park bikin kawan Akhlis Purnomo bilang, jaw dropping, terbengong-bengong kagum lihat koreografi yoganya. Dengan kata lain, guru-guru yoga lokal gak kalahlah. Guru yoga lokal seperti juga buah-buahan lokal, pepaya, pisang, mangga, jambu yang dibawa dari Pasar Minggu dan di Kota banyak pembelinya, yaa, seperti lagu itu, gak kalah kandungan gizinya, bahkan karena sumbernya dekat, gak perlu shipping yang makan waktu, kadang buah lokal lebih fresh, dan yang pasti gak pake wax, lilin biar gak dimakan rayap dan lebih mengkilap.

 

Banyak dari kita mencari-cari, bahkan rela menghabiskan uang puluhan juta untuk berguru jauh-jauh ke luar negeri hanya untuk merasakan belajar langsung dari guru besar, guru ngetop. India adalah negar yg jadi DTW, daerah tujuan wisata utama bagi praktisi yoga ini. Sementara kalau duitnya sedikit kurang banyak, menunggu-nunggu workshop yang diajar oleh orang asing, guru import. Ada kebanggan sendiri kalau pernah belajar sama orang asing. Gengsi pun akan naik. Lumayan buat dicantumin di CV buat nglamar ngajar di studio-studio yoga. Asyik juga bisa foto bareng guru-guruimport untuk kemudian diupload di facebook atau twitter. Dan, studio-studio yoga pun menajwab keinginan dan animo pratisi yoga yang sedang bergairah dengan rajin membuat workshop atau teacher traning guru bule.

 

Sedang asyik aku mengomentari kelakuan praktisi yoga lokal ini, eh suara dari dalam hati ini yang emang suka nyinyir, menimpali: “Bukannya eloe pernah begitu juga mas. Kan eloe pernah ke India juga. Pernah juga loe takjub, pake nyembah-nyembah ke guruloe di India itu? Mikir dulu lah loe, mas, jangan asal njeplak ngomongloe…”. Segera aku tersadar, dan kubilang dengan tersipu: “Ah eloe, masih inget aja…hehe….” , kemudian kutambahkan : “Yaaa… itu periode gue masih di alam mimpi yang berjalan-jalan…, masih perlu guru-guru idola. Ah eloe mbuka aib gue aja…”. Kujawab begitu, yang di dalam hati ini nyolot, “Ah, gak ngerti apa omonganloe mas, tapi, selain ke India, kan eloe mas pernah juga belajar ke negara-negara barat, ke guru-guru bule, muna’ loe mas!”.

 

Sebenarnya kalau dipikir, dalam hal spiritual, dimana yoga ada di dalamnya, Indonesia ini dahsyat juga, bahkan sejak jaman dulu. Ketika jaman Sriwijaya, guru-guru Tibetan Buddhist, kaya guru-gurunya Dalai Lama pernah ngangsu kawruh, belajar ke wilayah NKRI ini. Aliran kejawen, salah satu “agama asli” suku-suku Indonesia banyak ajarannya yang dengan filosofi yoga, demikian juga, mungkin, locals wisdom dari suku-suku tradisi di Indonesia lainnya, suku-suku di pedalaman yang sangat erat dan selaras hidupnya dengan alam, itu kan udah yogi….

 

Walaupun mungkin namanya bukan yoga, tapi dari cerita orang tuaku, tujuh generasi di atasku sudah mempraktekkan yoga, Mereka, selain olah fisik, semacam silat jawa, beberapa gerakkannya banyak yang mirip asana, juga latihan-latihan olah nafasnya, mirip bener sama pranayama dalam yoga. Belum lagi laku batin dengan aneka macam dan jenis  puasanya, bertapa yang mirip retret, semedhi, itu seperti meditasi. Keluargaku nglakoni semua itu. Yaaa itu kupikir seperti jalan yoga, dari Raja Yoga, Bhakti Yoga, atau Karma Yoga juga. “….tapi mas, koq yogaloe gak oke ah mas, kalah lentur sama mas Lentur Akhlis, mas?”, timpal suara dari dalam. “Yaaa loe lagigue kan keturunan kedelapan”, jawabku menirukan iklan XL menjelang Lebaran kemarin…

 

 

 

yudhi widdyantoro

Pengecer Jasa Yoga

Happy Birthday to Myself!


Carla, the short-haired seasoned art contributor of the Jakarta Post I saw today. She's been to Venice, Paris, just to cover arts.

The great day is today, October 27th 2011. No words can exactly depict my gratitude to God. It’s my birthday.

I started my day around 5.15 today. Slightly chilly, no wonder it was raining in torrents last night. Not as usual, after subuh/ early morning  prayer, I suddenly had an urge to grade the students’ papers. I should’ve gotten it done months ago, but well.. every weekend it seems my brain can’t handle demanding tasks. Need to take a break, seriously. No, don’t get me wrong. I love my job but when you do the same things repeatedly, boredom strikes and that sounds pretty normal. You’re no machine.

Juggling between two jobs is definitely a challenge. Getting richer? For sure. Getting wary? Don’t ask.

Carla taking pictures.

And the morning ritual proceeded. This time I started my morning yoga session late, around 6.40 am. But better late than never. I didn’t sweat a lot this morning. Perhaps it’s because of the cool air. In the meantime, several texts arrived in my message inbox,congratulating me on my 28th birthday. Oddly, none of these texters’ numbers is familiar to me.

FYI, I deleted my actual date of birth on Facebook only to learn how many people remember my birthday WITHOUT the help of Facebook’s reminder. And I’m glad some still congratulated even my birthday wasn’t on the alert. Technology is great but it’s not when it comes to personal feelings. You can’t automate sincerity, care, or gratitude.

Then the routine continued, getting myself prepared to go to the office, with all my properties in the backpack. “Never leave anything precious in the vacant rented room in Jakarta” is one of the best lesson learned after a case of burglar last few months.

Stepping my feet on the office at 08.27, I rushed into the prayer room. Dhuha prayer was done and copywrote some articles before my late breakfast around 10.10. The breakfast was my old style meal: oatmeal, honey, and 2 apples.

While peeling the apples, a coworker named D came into the pantry. And suddenly we were discussing about foods, health, and I found myself preaching about balance, why people don’t have to stick too much to a strict diet to get healthy. Cheating may sometimes be needed to stick to what we want to achieve in the long run. Eating mindfully is what is great to the body and mind-controlling works best when it comes to curbing ‘evil’ appetite.

Split headstand, a pose I used to think very challenging months ago. I think yoga is for me.

As I realized we talked too much, I got back upstairs, only to be told I had to go to the gallery. “A press conference you need to attend,” the m*d*s* said. There I went.

It turned out a tour in the gallery for some journalists invited. It was a tour and because there was no one appointed a tour leader, everyone seemed scattered every where they wanted. It fell apart, to me. Too few people came as well for an art exhibition this huge.

What  I will remember most about today is the conversation I heard between Clara, an experienced art contributor I several times spotted here, and the art center director. In short, she opened my eyes about how vast the potential of becoming a writer and a traveller. So it popped out on my mind, “Someday I’ll follow her track, going around the globe and writing every single thing I see on the trip.” I want to follow the passion yet the fear holds me back.

I tweeted last Wednesday an idea of backpacking, learning yoga and writing a book at the same time. Iwan Setyawan replied , saying that was a great idea. He suggested me to Mysore, India. It turned out Shri K. Patthabi Jois’ yoga sanctuary. Jois is a yogi , a guru so renowned for his ashtanga yoga teachings. I clicked on the link Iwan gave (kpjayi.org) and randomly combed the photos of young Jois doing yoga. Clearly stated by the pictures, yoga is for slim, flexible people hardly having flesh like ..me? And yes I think so. Everyone has their own propensity and limitation. To me, I can’t be as muscular as the bodybuilders but I later concluded that this body frame is what some people are looking for! They’re dying night and day only to be as thin and flexible as me. So be grateful please, Akhlis!

Speaking about passion and the challenges arising after deciding to follow it, I recall Soegianto. This 30-year-young man  really hit the bull’s eye. I talked with him for one and a half hour for an interview we arranged a week before. What stunned me is the fact that this seemingly mild-mannered guy can go as outspoken as one can be when it comes to explaining his passion, his startup: Sedapur. A man with a load of noble missions and visions. Interesting and aspiring.

And recently I listen to Shania Twain’s songs again after a while. This song below is titled “Today is your day”, pretty much her personal story about how to weather a devastating betrayal. As for me, today is my day too. Because I get tired of setting goals, let me simplify how I want to be remembered when I someday die:

“An obituary of MYSELF”

I ……………………………………..

 

 

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=OMciyWyugKY&w=560&h=315]

 

 

Yoga Peduli Bangsa

 Social Yoga Club

                                                       A Club for Young at Heart

                                        Independen – Terbuka – Toleran – Kultural 

                                                       (www.socialyogaclub.com)

 

                                                             Bekerjasama dengan

 

                                                                Respect Magazine

 

                                                                 M e n g a d a k a n

 

                                                      Yoga Gembira Peduli Bangsa  

 

 

Marilah kita upayakan fit tubuh, pikiran, dan jiwa kita dengan mengikuti latihan yoga gembira ini sebagai upaya untuk menjaga kesehatan sekaligus sebagai sarana untuk merayakan kebersamaan dan merawat pluralisme, sekalian untuk meningkatkan kesetiakawanan sosial.  Setelah berlatih yoga bersama, akan diikuti dengan diskusi konsumen. Karena itu, marilah BerYoga, BerGembira, BerIlmu, dan BerAmal.

 

 

Tempat               : Taman Suropati

 

Waktu                : Minggu, 30 Oktober 2011, pukul 06.30 s.d. 11.00

 

Instuktur          : yudhi widdyantoro

 

Diskusi               : “Good Food for A Great Life”

  1.                         –  Husna Zahir (Direktur YLKI)
  2.                         – Tejo Wahyu Jatmiko (Editor in Chief Respect)

 

Hidangan           : Tumpengan dan Jajan Pasar Tradisional

 

Donasi               : Sumbangan Sukarela Tanpa Tekanan (Susu Tante)

 

 

Sebagai wujud dari kepedulian kami pada masalah pendidikan dan kesehatan, donasi Anda pada acara ini akan disumbangkan untuk maksud dan tujuan kemanusiaan. Bagi yang tidak sempat berlatih tapi ingin menyumbang, dapat ditranfer ke rekening Social Yoga Club yaitu BCA no: 3423109927a.n. Yudhi Widdyantoro.

 

 

Atas Nama Social Yoga Club 

Yudhi, Metta, dan Akhlis

 

Catatan: Harap membawa tumbler/minuman sendiri dan tidak mengotori taman!

 

Keterangan lebuh lanjut bisa hubungi:  

Yudhi: +62818859561(sms saja) 

Metta: +62811888081

Akhlis: +085641960955

 

———————————————————————————————-

 

 

Diskusi Konsumen “Good Food For A Great Life”

 

Teman-teman yang baik,

 

“Let your food be your medicine and medicine be your food.” Hipocrates 

 

Bagaimana hubungan makanan kita dengan kesehatan tubuh kita? Lalu apa hubungan antara pangan lokal dengan kesejahteraan para petani di desa?

Menjadi konsumen di negara  dengan kekayaan pangan lokal yang sangat beragam, sedikitnya  ada 77 jenis sumber karbohidrat, 75 jenis sumber lemak, 26 jenis kacang-kacangan, 89 jenis buah-buahan, 232 jenis sayuran dan lainnya ternyata belum dinikmati secara maksimal. Pangan lokal, yang diproduksi dengan teknik ramah lingkungan oleh para produsen kecil dengan sepenuh hati bisa menjadi pilihan di tengah berbagai masalah kesehatan, lingkungan dan ekonomi yang ada.

Respect Magazine mengundang rekan-rekan untuk berdiskusi sambil berpiknik dan menikmati suasana di taman kota. Sebelum berdiskusi, kami juga mengajak kawan-kawan untuk mengenal yoga bersama kawan-kawan dari Komunitas Yoga Gembira.

Pembicara:

1.     Huzna Zahir, Direktur Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia.

2.     Tejo Wahyu Jatmiko, Aliansi Desa Sejahtera/Editor In Chief Respect Magz.

 

Hari/Tanggal       : Minggu, 30 Oktober 2011

Waktu                   : 06.30 – 11.00

Tempat                : Taman Suropati, Jalan Diponegoro

 

Acara:

Yoga Gembira (Harap membawa alas masing-masing berupa tikar/handuk/karpet)

Diskusi Konsumen

Makan Bersama

 

Mengingat tempat yang terbatas, dimohon untuk melakukan konfirmasi dengan mengirimkan data diri berupa nama, alamat, no telepon dan account Facebook atau Twitter ke respectmagz@gmail.com. Sampai bertemu di hari Minggu pagi!

 

Salam hangat,

 

 

Respect Magazine