5 Most Valuable Life Lessons from Top CEOs

The experience of writing CEO profiles is a humbling one. (Photo credit: Mine)

EXHAUSTED but relieved and elated.  That’s what I really feel right now. It’s perhaps similar to what a mother or father feels after a newly born baby finally in their arms. A gruelling nine months have passed and now it’s time to unwind a bit and celebrate.

With hindsight, I can sense a great deal of passion spilled into the book. My passion, too.

The project was a blast and came to me without any warning. I was recruited as one of the writers because interviewing and writing [and rewriting, if needed] profiles of more than 30 CEOs in several months with tight deadlines was too overwhelming for one or two writers.

Anyway, here is five hugely valuable life lessons  learned from a number of CEOs I interviewed in person.

Courage to move and start anew

It’s a lesson I discovered when I interviewed Mindaugas Trumpaitis, CEO of PT HM Sampoerna Tbk. He admitted that his success is thanks to his family. His parents allowed him to leave their politically turbulent country, Lithuania, for working overseas. He had roamed Latvia, Switzerland, Finland, Mexico and Ecuador and Peru. Now he also explores Indonesia, making a history with the company he is leading.

Reinvention for improvement

Sometimes we have to let go our current career and be daring enough to take risks and ‘jump to another boat’. That’s what Trumpaitis taught me. He worked as a lecturer at Klapeida University for a decade before he made up his mind to enrich his knowledge and insights and reinvent himself as a businessman. Imagine that, from an academician to a business executive. Quite a move, isn’t it?

Making the most of what you have

Another example of this lesson is Rino Donoseputro’s career journey. The leader of Standard Chartered Bank Indonesia said bluntly he never wanted or dreamed of – even the slightest – that he would someday take the helm as a business leader at a bank. What he wished for was a career as a diplomat, traveling from a country to another. A career of banker, therefore, never crossed his mind. But then destiny led him to another path somehow.  He even described himself as a reluctant to passionate banker.

So if you think your dream is unreachable, think again. What you have now is probably what will eventually make you successful. You just have to find a way to be passionate about it. Don’t do the job just because you need the money [though it really matters in fact] or because you want the pride and prestige of being a part of a cool company or workplace.

In Rino’s case, he managed to show his best and impress his then global CEO Mervin Davis in a taxi trip to the international airport one day in 2002. That’s when he knew his life would never be the same again. He was offered by the CEO to move to London, where the bank’s headquarters was located and worked there as a staffer directly working for the global CEO. So never compromise your quality performance even if you think your job is not the best in the world. Strive for the excellence no matter what. Because that’s how you’ll get noticed by the universe.

Integrity

Paulus Sutisna of DBS Bank Indonesia learned a lot about this when the crisis hit his former workplace, Citibank, in 1997-1998. As a banker, he knew and experienced firsthand the bitterness of Asian financial crisis. That was the right time to learn people’s real characters. Some are deceitful, he discovered. They showed no intention to cooperate with his bank and then got away with the loans. “Some looked very rich but after the crisis, they refused to pay and even avoided us,” he recalled the darkest days in his career. However,  very few still had their last shred of dignity, trying to negotiate their loans with him and his bank, and maintaining good relationships even they could escape and disappear if they wanted to. Then he learned his clients’ characters and that proves to be useful later on.

I see this as a good point. Regardless of the industry we work in, integrity is so important and should never be compromised. It’s the last quality that has the greatest significance other than competence and many others. If one has integrity, anything else in him would be appreciated. But once integrity is fading away, any other factors would fail to be taken into account.

Organization

Get involved in an organization so that you can learn a lot about leadership and humans and how to manage them. All these skills are always useful even if you’re living as a hermit in the middle of a jungle.

Iqbal Latanro of Taspen taught me this. He has always wanted to be actively involved in any organizations since his days at elementary school because he knew that way his leadership and communication skills would grow rapidly.

You may find the more complete narrative of these CEOs’ thoughts inside “Indonesia Most Admirable CEOs 2017”. It is now sold at Periplus, Gramedia and Book and Beyond outlets in Indonesia. (*/)

Fitartistik: Tanpa Batas, Lebih Asyik

HUMAN flag adalah salah satu gerakan yang tidak terbayangkan bisa saya lakukan. Gerakannya disebut demikian karena posisi tubuh meniru bendera yang tengah tertiup angin kencang, sampai benar-benar tegak lurus dengan tiang.

Tapi hari ini saya mencoba dan ternyata bisa juga!

Fitartistik inilah yang menurut saya adalah latihan dengan hanya menggunaka  berat tubuh (body weight workout) yang tanpa menargetkan harus menguasai ini itu tetapi secara lambat namun pasti membangun kekuatan dan kelenturan tubuh sehingga kita pada suatu saat tiba juga pada titik yang diinginkan. Tentu jika syarat-syaratnya terpenuhi: latihan dengan disiplin dan konsisten.

Coach Jonathan Sianturi sendiri memberikan sedikit nasihat pada saya yang memiliki tipe tubuh ectomorph ini agar memperbanyak latihan fisik jenis muscle-up agar kekuatan lebih terbangun secara alami. Ia menyarankan makan lebih banyak protein alami seperti putih telur dan ikan.

Jadwal latihan juga perlu diatur. Bisa dengan dua hari berturut-turut latihan sampai lelah baru dua hari berikutnya benar-benar istirahat. Ini yang dinamai recovery period. Kemudian bisa juga selanjutnya satu hari latihan dan diikuti satu hari istirahat. Ini yang dinamakan mini break. Demikian saran Jonathan.

Apakah Olahraga di Rooftop Saat Malam Hari Baik untuk Kesehatan?

Olahraga di rooftop memang mengasyikkan, tetapi perlu dipertimbangkan efeknya untuk tubuh. (Foto: Wikimedia Commons)

Kemarin saya dihubungi seorang pewarta media nasional, dengan tujuan untuk mengetahui pendapat saya sebagai praktisi yoga tentang tren olahraga malam hari di atap bangunan alias rooftop.

Memang saya amati ada komunitas-komunitas yang dengan sengaja membuat jadwal latihan fisik di malam hari dengan tujuan untuk mengakomodasi para pekerja kantoran usia produktif yang ingin tetap bisa berolahraga tetapi tidak sempat melakukannya di pagi hari.

Ada beberapa hal yang menurut saya perlu diperhatikan bagi mereka yang ingin berolahraga di malam hari.

Tidak terlalu dekat dengan jam tidur

Hal pertama yang menurut saya perlu diperhatikan saat berolahraga di malam hari ialah usahakan untuk tidak melakukannya saat mendekati waktu tidur.

Kenapa? Karena tubuh kita ini sudah memiliki irama sirkadian (irama alami kerja tubuh) yang diatur secara alami, dan ditandai dengan terbit dan tenggelamnya matahari. Manusia memiliki kecenderungan sebagai makhluk diurnal, bukan nocturnal. Artinya, manusia itu berkegiatan di pagi sampai petang hari dan begitu matahari sudah tenggelam, tubuh manusia melambatkan kinerjanya untuk fase istirahat yang diperlukan agar tetap bisa berfungsi baik. Karena itulah, manusia tidak bisa disamakan dengan kelelawar atau burung hantu yang nocturnal atau beraktivitas di malam hari.

Saat kita berolahraga terlalu larut dan dekat dengan jam tidur, tubuh kita cenderung hangat dan adrenalin terpacu, sehingga bagi sebagian orang ini justru membuat mereka bersemangat, bukannya tertidur pulas pada malam harinya.

Memang olahraga akan membuat tubuh melepaskan hormon endorfin sehingga membuat kita lebih rileks dan tertidur lebih pulas. Namun, patut diingat bahwa tidak semua orang merasakan efek yang sama. Ada yang mendapati efek overstimulasi sehingga tidur mereka justru terganggu. Ini yang pernah saya alami setelah saya beryoga dengan intens (banyak pose-pose inversi yang lumayan menguras tenaga) di malam hari. Alih-alih merasa rileks dan mengantuk, saya malah melek semalaman dan bersemangat. Jelas esoknya saya justru makin lemas karena kuantitas dan kualitas tidur berkurang. Tentu sekali lagi ini berpulang pada masing-masing individu. Jika Anda tipe orang yang seperti saya, hindarilah berolahraga terlalu malam (jam 8 malam ke atas).

Tidak terkena angin malam

Satu poin penting lain yang menurut saya patut diperhatikan saat berolahraga di rooftop ialah memastikan apakah tempatnya terlindung dari angin malam. Berolahraga di tempat terbuka memang asyik karena udaranya lebih segar tetapi efek menyehatkan itu akan maksimal jika itu dilakukan di pagi hari. Sinar matahari membuat imunitas meningkat, tubuh mendapatkan asupan vitamin D, dan sirkulasi darah meningkat sehingga kita bersemangat menjalani aktivitas seharian. Kalaupun ada angin saat pagi hari, rasanya di badan juga menyegarkan karena angin ini bukan jenis angin malam.

Lain halnya jika kita berolahraga di ruang terbuka di malam hari. Angin malam membuat mereka yang kebugarannya kurang malah makin rentan. Seperti kita ketahui bahwa tidak semua orang yang ikut tren olahraga di rooftop adalah mereka yang memiliki tingkat kebugaran yang sangat prima seperti atlet profesional. Ada kondisi-kondisi yang perlu diperhatikan sebelum berolahraga di malam hari agar olahraga itu tidak membuat kita malah sakit.

Namun, tentu hal ini masih bisa disiasati. Cobalah berolahraga di tempat yang relatif terlindung angin malam kalaupun memang terpaksa hanya bisa olahraga di malam hari sehabis kerja. Dan jika ini tidak memungkinkan, pakailah kaos atau jaket tipis yang berfungsi untuk menahan tiupan angin yang akan membuat tubuh kita yang ‘kebingungan’. Kita ibaratkan tubuh sebagai sebuah lilin yang kita nyalakan dengan olahraga sebagai korek apinya. Apakah kita bisa menyalakan lilin di tempat yang anginnya kencang? Nah, itulah kenapa tubuh kita akan kerepotan menyesuaikan suhunya. Saat ia dipacu untuk lebih panas, ia akan ditiup angin sehingga dipaksa lebih dingin. Bukannya menjadi sehat, kita bisa masuk angin akhirnya.

Karena itulah, dalam yoga yang saya tekuni selama ini kurang disarankan untuk beryoga (melakukan latihan asana/ fisik yang berintensitas tinggi) di malam hari. Jikalau ingin beryoga di malam hari, disarankan untuk memilih jenis latihan yang bersifat Yin, atau restoratif, yang fokusnya berbeda. Jika latihan vinyasa atau power yoga berfokus lebih banyak pada penguatan otot dan peningkatan kekuatan kardiovaskuler, latihan yoga jenis Yin akan memberikan kesempatan tubuh untuk rileks, meregangkan otot, sendi dan ligamen, mengendurkan syaraf serta condong pada meditasi agar alam bawah sadar lebih tenang dan istirahat lebih berkualitas.

Jaga intensitas

Intensitas berlatih saat malam hari menurut saya lebih sulit dijaga karena suhu udara yang lebih rendah membuat kita memerlukan waktu lebih lama untuk pemanasan. Karena itu, pemanasan perlu dilakukan lebih intens untuk menghindari kram. Tubuh juga menjadi kurang peka terhadap intensitas karena suhu yang lebih sejuk. Kita pacu dan pacu terus sampai tiba-tiba terasa lelah sekali atau lemas. Lain halnya jika berolahraga di pagi hari yang menurut saya lebih ideal. Untuk itu, Anda bisa coba membandingkan efek olahraga di pagi dan malam hari. Bagaimana rasanya di tubuh?

Simpulan

Jadi, apakah berolahraga di rooftop itu bagus atau tidak untuk kesehatan?

Jawabannya tergantung pada banyak faktor.

Dan tentunya masih mau menyisihkan waktu untuk berolahraga malam hari sekalipun lebih baik daripada tidak berolahraga sama sekali. Maka dari itu, meski ada hal-hal yang perlu diperhatikan, bukan berarti kita hindari sama sekali olahraga di malam hari.

Satu yang juga tidak kalah penting ialah mencoba bereksperimen dengan tubuh. Mungkin ada orang yang lebih cocok berolahraga di malam hari karena alasan-alasan tertentu. Sebaliknya, ada yang lebih pas di waktu lain.

Lalu mana yang benar dan bagus: olahraga di malam hari atau pagi hari? Begitu mungkin tanya Anda.

Yang saya ketahui pasti ialah keduanya lebih baik daripada tidak berolahraga sama sekali. (*/Foto: Wikimedia Commons)

When Asian Women Say ‘Me Too’

In 2006 #MeToo was launched by American activist Tarana Burke as a form of solidarity for victims of sexual assaults. It went viral overnight in the wake of Hollywood movie producer Harvey Weinstein’s misconduct last October which  prompted women around the globe to break all the silence ‘wall’ around the issue of sexual assault and harassment. The movement reached its peak when Oprah Winfrey presented a speech at the Golden Globes stage on January 7. Another notable figure who ‘helped’ launch the movement is gymnast McKayla Maroney who spoke openly about what Larry Nassar (a former USA gymnastics team doctor) had done to her when she was 13. Nassar was arrested last November after being accused of sexually harassing not only Maroney but also many other female. Ever since, the movement has been snowballing.

Asia is not immune to the movement, impacting at various levels on Asian women. In some Asian countries, we have seen some achievement in women empowerment. In China, for example, the battle against gender-based violence has reached some new heights as thousands women showed support for the initiative. Despite government censors, the movement has been fruitful especially on academic circles. Beihang University alumnae Luo Qianqian bravely accused her professor on the campus, Chen Xiaowu, of sexual assault in 2005 when the man served as her academic advisor. Luo was not alone as half of the female students at 15 Chinese universities stated they had been subjected to sexual misconduct on campus, according to a study released in 2014 by the All-China Women’s Federation. The pursuit of justice ended happily. Chen was removed from his position and sanctioned by the Ministry of Education.

In India, according to Ranjana Kumari (Chairperson of Women Power Connect) the movement has been responded widely and positively. Though most of these Indian women do not detail who their perpretators were and what really happened to them but they confessed that the same thing had happened to them at work and on campus. “They find the space on social media and could say ‘this is what happened to me, too!’” she elaborated. She also noted that the majority of women who work in the informal sector and are very marginalized in the society have no such privilege to speak up even on social media and need assistance in some way.

In the Arab world, the movement was responded to differently. As stated by Egypt-born feminist author Mona Eltahawy, the importance of the hashtag is not about women speaking out or does the community blame the woman or not. “It has allowed women to see each other as all being victims of patriarchy. This is an institutionalized form of discrimination that regardless of where you’re from,” the author of Headscarves and Hymen remarked.

For the Asian women context, according to Indonesian journalist behind feminist news portal Magdalene.co Devi Asmarani, cultural factors prove to remain strong in preventing them from speaking up about sexual harassment. The main cultural factor playing here is the strong patriarchy culture prevalent in most part of Asia. “Patriarchy plays a strong role in intergender relations, which consequently belittles sexual violence and harassment. This ends up undermining the urgency of issue among society members and stakeholders. Public knowledge on sexual violence also needs improvement. They assume only rapes or assaults can fit the definition of sexual violence; while harassment, catcalling and many other forms of such misconducts do not qualify. Most offenses like these are left unpunished, forgiven or considered trivial,” Devi commented via email. This fact, she added, brings so much burden on the shoulders of victims, both ones of rape and harassment as they are required to be able to provide convincing evidence.

She also pointed out that when the legal system and law enforcement do not sympathize with victims, there is more reluctance to file reports or speak openly about violence they had to endure. As the stigma lingers among sexually-harassed women, they grow more reluctant to report or open talk about what they had gone though publicly. Often women are seen as ones who desire such treatment.

So what can be done about it? “Keep talking,” Devi asserted herself. The more stay silent, the longer the problem keeps amounting. Both survivors and non-survivors must unite and cooperate to speak up and show their support of the me-too movement as well as educate the public in general on how prevalent and massive this issue has become in Asia, too.

These days, Asian women encounter a tremendous amount of challenges amidst the increasingly conservative society and  more prevalent religious fundamentalism that aim to reposition women back to domestic realm. “But I’m convinced that eventually gender equality is something inevitable. So it’s either you’re with us or against us,” she concluded.

The #MeToo movement certainly puts women in Asia in an uncomfortable moment and discomfort but it is the inconvenience that empowers them to enable a  major social change especially in Asian communities. This is the best momentum to give more emphasis on the issue urgency, waking up us all to start a very honest conversation about gender relations, sex and all the taboos that we badly need to address. (*/)

 

Writing from ‘Corners’

Sometimes you have to shift the focus, from the limelight to the corners. (Credit: Wikimedia Commons)

Don’t try to write about winners. Too many people have written about them. Write about losers. They’re many and everywhere to see but each has a unique stroy to tell.

That’s what Mitch Albom stated in his talks:

“Go to the corners. The best stories I’ve ever written come out of those corners.”

The best stories are not always about winners or those with gold medals in their necks. Some are even less than that but they actually hide equally touching or even more heart-wrenching and inspiring lessons to let audience know.

Albom discovered one of his best while he was covering Olympics in Barcelona 1992.

He was sitting around and the story came to him unexpectedly. “Sometimes stories come to you when you put yourself in certain places.”

When everyone there seemed to be engrossed with Carl Lewis, the fastest runner at the time, Albom spotted a runner who seemed to fail to make it. This poor runner failed to perform as he wished because his hamstring got injured.

Every spectator thought he was done.

But as a writer, Albom had his instinct to keep an eye on him.

“He was in the lane, lying down on his knees. You can see his agonizing pain. He got up and cried.”

And then Albom saw an unexpected scene afterwards. There was a man running towards the failing runner. He grabbed the runner and lifted him up and persisted to walk the runner along the remaining track. Everyone seeing this cheered them up. In marathon, if you do cross the finsih line, no matter what your time is, you’re entered in the book as one who gets there fastest. So what matters most is that you finish.”

Albom ran towards them and talked to both. As the two men were in tears, he found a fact that the runner is the man’s son.

“That’s what my father taught me how to run when I was a little boy…,” the runner said to Albom.

Writing from ‘corners’ sounds very counterintuitive, I must say. But this is a  worth-trying approach to gain a fresh perspective towards an issue or topic.

When everyone’s attention is absorbed by winners, those who fail sometimes save the best lessons for us writers.

I find this very useful for novices and beginners in writing who assume they have to find a huge and spectacular story to write so that they can be called a great writer.

Some writers are known because of their great and grand themes. Some are not but still they make great success. The second succeed thanks to their instinct of finding the most substantial themes in life among piles of mundane, ordinary and boring things around them. In other words, they write about things most people and new writers ignore or choose to ignore in a greated depth, a fresh angle and a brand new style no author has ever tried or dared before.

What’s your most mundane story? And how can you turn them into captivating stories? (*/)

Pandai Menerjemahkan? Yuk Berkontribusi untuk Pelokalan Mozilla

Pelokalan alias localization mungkin terdengar asing bagi banyak orang. Namun, pada dasarnya ini sama saja dengan penerjemahan. Hanya saja yang diterjemahkan bukan teks dalam file dokumen yang selama ini kita sudah akrabi.

Lalu apa yang diterjemahkan dalam pelokalan?

Saya mendapatkan jawabannya dalam lokakarya (workshop) pelokalan yang diselenggarakan malam ini di Mozilla Community Space, Kuningan, Jakarta.

Selama ini kita mungkin jarang menggunakan produk-produk Mozilla yang sudah berbahasa Indonesia. Padahal jika mau mencarinya, kita bisa temukan dengan mudah di sini. Peramban (browser) berbahasa Indonesia mungkin jarang dipakai anak muda perkotaan yang sudah akrab dengan bahasa Inggris. Tetapi bagi mereka yang tidak sebaik anak-anak muda ini dalam pemahaman bahasa Inggris, produk berbahasa Indonesia tentunya akan sangat membantu.

Di sinilah Anda yang berminat dalam bidang bahasa dan penerjemahan (terutama dari bahasa Inggris ke Indonesia) bisa memberikan sumbangsih.

Dipandu praktisi pelokalan Mozilla Indonesia Lidya Christina, hari ini kami menjajal bagaimana berkontribusi dalam proyek-proyek pelokalan produk-produk Mozilla untuk pengguna Indonesia.

Pertama-tama, bagi Anda yang ingin berpartisipasi, bisa mempelajari Panduan Gaya Pelokalan (Style Guide) yang mencakup:

  1. Formalitas
  2. Gaya selingkung (nada dan suara)
  3. Keluwesan bahasa
  4. Penanganan istilah setempat, idiom dan bahasa asing
  5. Konsistensi gaya
  6. Terminologi
  7. Satuan dan ejaan bahasa Indonesia

Sementara itu, gaya pelokalan Mozilla yang lazim terdiri dari dua unsur utama: akurasi dan kefasihan. Akurasi artinya ketepatan dalam menerjemahkan teks sehingga pesannya tetap tersampaikan dengan jelas dan tidak bertele-tele. Kefasihan terkait dengan bagaimana hasil pelokalan itu terkesan alami dan tidak janggal, atau kaku.

Untuk Anda yang ingin berkontribusi, Anda dipersilakan membuat akun Mozillian dulu di Mozillians.org agar kontribusi Anda bisa terlacak. Tujuannya bukan untuk pamer tetapi agar Anda bisa menyumbangkan lebih banyak jika hasil pelokalan Anda terbukti bisa diterima (acceptable) dan berkualitas sehingga layak dipakai dalam produk-produk Mozilla untuk pengguna yang berbahasa Indonesia.

Nantinya jika Anda berminat untuk lebih banyak terlibat dalam upaya pelokalan, Anda bisa naik jenjang dari kontributor menjadi penerjemah. Kontributor bisa menyumbang usulan penerjemahan namun masih ada kemungkinan hasilnya tidak dipakai atau ditolak karena berbagai pertimbangan. Untuk level penerjemah, sudah diberikan kewenangan untuk menolak hasil pelokalan dari kontributor dan turut memberikan usulan dan perbaikan. Dan tentunya manajer memiliki kewenangan lebih banyak dari sekadar penerjemah.

Kembali lagi ke cara melokalkan produk Mozilla, Anda bisa masuk (login) ke akun Mozillians Anda dan kemudian masuk ke  https://pontoon.mozilla.org/. Di sini mirip dengan wadah untuk menampung berbagai proyek pelokalan produk Mozilla. Anda bisa memilih mana yang Anda sukai, tetapi diutamakan pilihlah proyek yang tenggat waktunya mendesak dan memiliki tingkat prioritas lebih tinggi.

Sebagai catatan, bila bingung dengan istilah atau kata yang harus diterjemahkan, cobalah menggunakan beberapa referensi seperti:

  1. http://transvision.mozfr.org
  2. http://kateglo.com
  3. https://id.m.wikipedia.org/wiki/Daftar_Istilah_Internet_Indonesia
  4. https://id.wikisource.org/wiki/Panduan_Pembakuan_Istilah,_Pelaksanaan_Instruksi_Presiden_Nomor_2_Tahun_2001_Tentang_Penggunaan_Komputer_Dengan_Aplikasi_Komputer_Berbahasa_Indonesia

Setelah bereksperimen melokalkan string atau untaian kata-kata dalam proyek Common Voice milik Mozilla, kami bisa melihat pencapaian masing-masing. Kontribusi masing-masing kontributor terlihat jelas.

Dan di sini Anda sebisa mungkin memakai ragam bahasa formal karena ini akan dipakai untuk pengguna secara luas, bukan menyasar ke segmen anak muda saja.

Tertarik ikut? Nantikan lokakarya pelokalan berikutnya (yang sedianya akan diadakan pada Selasa malam) di Mozilla Community Space. (*/)

4 Benefits of Volunteering at Mozilla Community Space

Just a brief caveat, I’m not going to say anything here about the free-flow snacks and drinks and free internet connection available at anytime (though they’re two of the benefits to lure more people into coming more often and spend nights there).

Here I give you four of so many benefits of volunteering as a keyholder at Mozilla Community Space.

BETTER MENTAL HEALTH

Certainly Mozilla Community Space is no place to go to cure your mental disorder or illness but I’m serious about this. According to Harvard Health Publishing (a publishing section of Harvard Medical School), people who volunteer have a better mental health condition. Stephanie Watson of Harvard Women’s Health Watch elaborates on this point, saying:

Studies have shown that volunteering helps people who donate their time feel more socially connected, thus warding off loneliness and depression. (source: healthharvard.edu)

It’s an inconceivable benefit that I’m sure everyone wants to reap from volunteering for any social causes, including Mozilla which is a non-profit organization.

In Mozilla Community Space, you’ll meet not only friends you’re already familiar with but also an endless supply of new acquaintances who can bring you a lot of new perspectives in life.

LONGER HEALTH SPAN

It’s useless to live a long life but bedridden, too il to wake up and enjoy the world and all things in it. That’s why I pick the ‘health span’ term instead of ‘life span’.

Great news for you who are too worried about your physical health, and most specifically your blood pressure. Now, you can get less dependent on your anti-hypertension medication by spending more time to volunteer in Mozilla Community Space.

More on this, read on below:

Those who had volunteered at least 200 hr in the 12 months prior to baseline were less likely to develop hypertension (OR = 0.60; 95% CI [0.40, 0.90]) than nonvolunteers. There was no association between volunteerism and hypertension risk at lower levels of volunteer participation. Volunteering at least 200 hr was also associated with greater increases in psychological well-being (source: here).

BUILD WIDER NETWORKS

If you’re under 40 years old like me, volunteering does nothing to boost your wellbeing but hey, let me tell you that the benefit is not always about health. Volunteering can be impactful even if you’re a lot younger, especially when it comes to networking. Volunteering at young age  especially allows you to get exposed to people and worlds outside of your comfort zone. For young people, that comfort zone may be your school, your family and immediate relatives maybe. But if you volunteer, you’ll discover so many unknown worlds other than people you’ve known since your childhood.

In Mozilla Community Space, I can meet with younger people, lots of them actually (I’m the eldest newly-appointed keyholder). And seeing these youths who are as old as my younger siblings pretty much gives me a great deal of youthful spirit. Besides, more acquaintances means more opportunities in fact.

ADD MEANING TO LIFE

Life is a lot more boring if you only focus on your personal life goals. You want this and that and when you have it all, only you can enjoy it. Life can be more meaningful than that by volunteering your time and energy to a specific cause you prefer.

So what’s my cause?

Freedom!

For the sake of freedom in the virtual world, I want to be more actively involved in Mozilla Indonesia.

Why Mozilla?

Because nowadays our freedom as internet users have been ‘robbed’ by all tech giants like Google, Microsoft, Facebook, etc. We are made to trade our privacy and private details with convenience, a bait too tempting to refuse. They shape our lives and our future as human civilization, too. So we need an alternative which is free from business, commercial interests.

The keyword is FREEDOM.

Freedom to make choices, whether we willingly swap our privacy for convenience or hold tightly that last shred of privacy and explore the web without being herded like a bunch of dumb sheeps and being fed by grass decided by algorithms.  (*/)

Menelisik Fitartistik (6): Menanamkan Disiplin Latihan

MEMASUKI PERTEMUAN KEENAM, teknik-teknik dasar sudah diberikan semua dan tugas saya sekarang ialah terus berlatih dengan konsistensi yang terpelihara. Begitu sudah mulai dan berkomitmen, sebaiknya memang tidak berhenti begitu saja karena alasan apapun juga. Kenapa? Karena kalau Anda sudah terbiasa dan kemudian berhenti di tengah jalan, apapun hasil yang Anda sudah dapatkan di titik itu akan surut kembali ke nol begitu berhenti berlatih dalam waktu lama yang tidak bisa ditentukan. Itulah kenapa latihan harus konsisten dan disiplin.

Lagi-lagi saya harus menghadapi menu yang sama dengan sebelumnya. Jogging beberapa putaran, melompati anak tangga, lalu lari mundur, dan kemudian pemanasan ala Fitartistik yang ada enam sirkuit itu (lain kali akan saya rinci lagi keenamnya), latihan inti dan pendinginan.

Latihan inti sendiri terbagi dalam beberapa gerakan dasar. Pertama handstand. Ya, lagi-lagi handstand. Ini supaya makin terbiasa dengan sensasinya. Dan memang dengan pengulangan, keterampilan apapun bisa tersempurnakan. Repetisi juga membuat saya makin fokus dalam meneliti detail-detail yang penting agar handstand ini makin sempurna. Tidak seperti yoga, dalam Fitartistik tidak dilarang untuk mengejar kesempurnaan (meskipun relatif juga makna kesempurnaan itu).

Detail-detail yang terlewatkan dalam handstand itu misalnya penempatan dan posisi jari jemari saya di permukaan lantai. Selama ini saya tidak mengamati benar tetapi begitu saya perhatikan lebih cermat, jari jemari saya memang kurang pas dan kokoh dalam menopang berat tubuh. Ruas-ruas jari saya ternyata seharusnya tidak terkena permukaan lantai semua. Sisakan sedikit rongga antara sendi jari dan lantai sehingga jari-jari itu bisa difungsikan sebagai rem bila tubuh hampir condong ke depan. Dan fakta aneh yang saya rasakan ialah kekuatan jari kelingking saya yang terlalu rendah untuk ikut mengerem daya tarik bumi. Saya merasa kelingking saya terlalu melebar ke samping luar. Jari-jari yang terlalu lebar dibuka sehingga telapak tangan menempel semuanya di lantai (seperti dalam downward-facing dog) juga malah kontraproduktif dalam handstand, menurut pengalaman saya. Posisi mencengkeram lebih pas untuk handstand.

Apakah jari-jari ini cuma bisa dipakai mengetik dan tidak bisa dilatih handstand? Hanya waktu yang bisa menjawab. Sementara itu, yang saya bisa lakukan hanyalah berlatih terus.

Untuk cartwheel, saya masih harus berjuang untuk menyeimbangkan sisi kanan dan kiri. Sisi kiri saya masih tidak sekuat dan selentur sisi kanan sehingga saat cartwheel, saya merasa canggung dan gerakannya kaku, kurang memenuhi ekspektasi.

Untuk persiapan planche, saya terus memperlama ketahanan dalam posisi tubuh di atas paralel bar. Saya masih terus berlatih dengan posisi kedua tangan menggenggam palang dan posisi lutut ditekuk ke arah dada tetapi tidak menyentuh ketiak dan dada sama sekali. Bila ini sudah stabil dan tahan lama dan di ketinggian yang memadai, saya bisa mencoba planche dengan kaki terbuka lurus ke samping (straddle legs). (*/)

Begini Cara Media-media Ini Bisa Bertahan dan Hasilkan Laba Tanpa Taktik Clickbait

KITA SEMUA TAHU apa itu “clickbait”. Judul berita (konten) yang menggoda untuk diklik karena membangkitkan emosi dan perasaan tertentu dalam diri pembacanya. Jangankan orang awam yang berpendidikan rata-rata, mereka yang tergolong intelektual dan berpemikiran dewasa dan matang saja kadang terperosok ke jebakan satu ini. Kenapa? Karena clickbait menyasar ke elemen emosi manusia, bukan akal. Mereka berupaya memuaskan emosi-emosi yang tak tersalurkan dan hasrat itu cuma bisa disalurkan hanya dengan satu tap (di layar ponsel) atau klik (di laptop atau desktop).

Saat ini clickbait sudah menjadi taktik yang lumrah dan murah(an). Tinggal mengutak-atik judul menjadi bombastis dan sedikit menipu, pembaca pasti gatal mengklik.

Tapi kita tahu bahwa cara semacam itu akan ada akhir masa efektifnya. Orang makin terlatih untuk mengenali judul-judul yang menjebak. Dan meskipun sebagian pembaca memang tidak jera jatuh di ‘perangkap’ yang sama, sebagian lainnya sudah mengenali betul judul-judul konten tipe clickbait dan meninggalkannya tanpa ingin sekalipun membaca.

Saya sendiri sebagai seorang jurnalis di era media baru sekarang ini makin jengah juga dengan kondisi jurnalisme yang makin semrawut. Siapa saja bisa mempublikasikan pendapat dan pemikiran mereka di internet dan tidak peduli apakah itu memang layak dipublukasikan atau tidak, pokoknya ada yang baca dan mengklik lalu ada yang mau beriklan, sudah baguslah.

Tanggung jawab terhadap kemaslahatan masyarakat yang membaca seolah dikesampingkan, kalau tidak bisa dikatakan diabaikan sama sekali.

Dan yang paling mencemaskan, perusahaan media lama yang sejak lama sudah punya nama besar dan reputasi baik di mata masyarakat lama-lama juga larut ke dalam pusaran tren clickbait ini.

Saya pernah mendengarkan sekelompok jurnalis dari perusahaan media tertentu yang mengeluhkan rekan-rekan mereka di segmen daring (alias para wartawan online) yang secara bebas memanipulasi judul berita sedemikian rupa tanpa mempertimbangkan faktor lain kecuali hitungan ditampilkannya sebuah laman web atau pageviews. Mereka ini jurnalis-jurnalis dari era media lama yang menyayangkan ‘pengkhianatan’ yang dilakukan rekan-rekan mereka di media baru.

Apakah clickbait itu salah?

Tentu tidak serta merta salah. Jurnalisme bukan bidang yang tidak membutuhkan modal besar (apalagi jika ingin melakukannya dalam koridor jurnalisme yang sebenarnya). Produk jurnalisme yang berkualitas bagus dihasilkan dengan biaya yang tinggi, waktu yang relatif lama dan melibatkan banyak pihak (tidak cuma kutip satu sumber lalu klik ‘publish’). Bisnis media juga bukan jenis bisnis yang bisa dilakukan sembarang orang. Perlu keterampilan dan pengalaman dalam melakukannya.

Hanya saja masalahnya ialah cara untuk meraup untung agar bisa bertahan hidup itulah yang melenceng dari hakikat jurnalisme semula.

Judul-judul clickbait sudah semestinya tidak menjadi andalan utama media-media saat ini untuk menarik pengunjung dan melejitkan hitungan pageviews.

Berikut adalah beberapa media yang terbukti sukses memanfaatkan strategi lain yang lebih kreatif dan menarik daripada sekadar memperbanyak pageviews melalui judul-judul yang menyesatkan dan isi/ konten yang kurang edukatif, informatif dan terkesan asal.

“Le Un” memang nomor wahid dalam hal menyajikan informasi dalam bentuk dan desain cetak yang menarik dan unik.

LE UN

Perusahaan media bernama “Le Un” (Satu) ini mengandalkan cita rasa seni untuk mengemas kontennya agar menarik pembaca. Media ini menggabungkan seniman dengan penulis-penulis. Le Un yang terbit mingguan ini berbentuk mirip sebuah peta raksasa yang dilipat dengan apik, memakai kertas yang mengkilap dan font yang rapi dan elegan. Konon format dan bentuk itu didapat dari poster propaganda yang turut membentuk sejarah Prancis modern seperti sekarang. Dan teks di dalamnya tidak mendominasi. Justru konten teks disajikan secara harmonis dengan grafis dan ilustrasi serta foto yang warna-warni sehingga tidak menjemukan pembaca. Ada komik, cerpen, kolom dan konten lain yang biasa ada dalam surat kabar atau majalah.

SUDDEUTSCHE ZEITUNG MAGAZIN

Majalah dari Jerman ini lain dari majalah lazimnya. Apa pasal? Sampul-sampulnya dihiasi dengan karya seni abstrak yang menggelitik keingintahuan calon pembelinya. Hal ini diakui sebagai kelebihan yang menjual bagi majalah tersebut karena banyak media mengandalkan foto dan ilustrasi yang terlalu gamblang untuk dipahami di sampul depan.  

Sebagai konsekuensinya, Suddeutsche Zeitung Magazin tidak bisa sembarangan memilih gambar sampul. Berbagai pilihan ditentukan secara cermat oleh seorang direktur seni yang berpengalaman. Dan penyunting kepala (editor in-chief) harus bekerja secara selaras dengan direktur seni tadi agar tercipta sampul yang memukau calon pembeli.

Monocle, majalah yang kemudian berkembang menjadi bisnis media yang komplit.

MONOCLE

Tahun 2007, majalah Monocle diluncurkan dengan konten yang global. Kini dengan jumlah pembaca yang makin besar, mereka mengandalkan komunitasnya sebagai daya tarik utama. Dengan kata lain, para pembaca diperlakukan secara istimewa dengan memberikan mereka banyak kesempatan untuk menghadiri event khusus pelanggan majalah tersebut saja. Layanan yang prima juga menggenjot daya saing di tengah persaingan yang tiada ampun di industri media.

Konten-konten di situs web dan majalahnya sama sekali tidak dibumbui headline yang terlalu ‘merangsang’. Mereka tetap berpegang teguh pada prinsip jurnalisme yang berimbang dan gaya penuturan yang bercerita (storytelling).

Tidak cuma web dan majalah, Monocle juga menyediakan kanal komunikasi radio, Monocle 24, yang disiarkan dari kantor pusat mereka di Midori House, London.

Tidak bisa dipungkiri Monocle memang menyasar segmen terbatas, yakni mereka yang tidak sungkan menghabiskan sejumlah uang untuk menikmati hidup dengan kualitas yang prima. (foto: Monocle/*)

Menelisik Fitartistik (5):Membina Ketekunan

PADA LATIHAN KELIMA, saya menjadi lebih tahu kemampuan tubuh sendiri. Eksplorasi gerakan-gerakan dasar sudah dilakukan, dan saya menjadi lebih tahu batasan kemampuan, kelemahan dan kekuatan saya.

Di titik ini, saya tidak diperkenalkan dengan gerakan-gerakan baru lagi. Level yang saya sudah lampaui juga masih kabur. Ini karena dalam Fitartistik, ada lima aspek yang diajarkan: mobilitas, fleksibilitas, kekuatan core, skills, dan conditioning.  Dalam hal mobilitas dan fleksibilitas, karena saya sudah beryoga selama bertahun-tahun, kendala relatif nihil. Dalam tiga aspek sisanya, saya akui masih memiliki segunung ‘pekerjaan rumah’.

Karena saya tidak diberikan gerakan-gerakan baru, saya pun harus fokus pada gerakan-gerakan yang sudah diberikan pada pertemuan-pertemuan sebelumnya namun saya masih belum bisa secara sempurna lakukan.

Misalnya saat melakukan cartwheel, saya merasa lebih nyaman dengan tangan kanan mendarat lebih dulu. Kalau saya daratkan tangan kiri, tubuh limbung dan koordinasi tubuh menjadi kacau balau. Ini menunjukkan sisi kiri saya sangat perlu dilatih agar seimbang.

Lalu pekerjaan rumah lainnya ialah melakukan roll depan yang lebih mulus dan efisien. Bagaimana menilai roll depan kita efisien atau tidak? Caranya cukup dengan mengukur jarak sekali berguling ke depan. Apakah jaraknya jauh atau cuma sedikit saja? Jika saya bandingkan dengan coach Jonathan Sianturi yang membimbing, sekali roll depan saja ia bisa setidaknya menempuh jarak dua kali dari saya. Saya perlu lebih berani mendorong tubuh ke depan sehingga tubuh terlontar lebih jauh ke depan. Selama ini saya merasa masih harus berhati-hati dengan leher dan sedikit menjadi ‘mental block’. Padahal jika leher sudah ditundukkan sampai dagu kena dada, leher relatif aman. Sekarang masalahnya ialah bahu. Karena bahu saya kecil dan tulangnya menonjol, saya merasa sakit karena langsung beradu dengan lantai berpegas yang menjadi arena kami berlatih (bayangkan saja sakitnya jika di lantai atau mat yoga biasa).

Saya juga kembali harus menyempurnakan latihan planche saya yang masih tertatih-tatih. Seperti yang bisa disaksikan di foto di atas, saya merasa masih berat untuk bisa mendorong bahu dan dada saya ke depan agar saya bisa meluruskan kaki ke samping (ini yang disebut straddle legs). Genggaman jari tangan dan pergelangan tangan saya belum sekuat harapan rupanya. Atau setidaknya belum terbiasa dengan gerakan itu sebab selama dalam yoga tidak pernah diajarkan untuk itu. Jadi mungkin saja saya bisa suatu saat nanti jika terus berlatih. Kapan? Saya tidak tahu. Asalkan terus berlatih, pasti akan datang juga saatnya.

Sementara itu, untuk pengayaan, saya melakukan eksperimen sehabis kelas dengan ring. Saya lakukan gerakan untuk melatih mobilitas sendi bahu dan otot core. Back lever dengan kaki terbuka ke samping juga masih belum stabil. Untuk naik ke atas dalam posisi l-sit juga belum bisa lebih dari dua kali (entah karena habis tenaga setelah latihan selama dua jam lamanya atau belum terbiasa). Selanjutnya keterampilan-keterampilan dasar ini masih harus terus saya latih karena merekalah fondasi untuk gerakan-gerakan yang lebih sukar dan menantang. (*/)