Belajar Mengurai Sebuah Asana Yoga

Saat saya baru berlatih yoga dahulu, melihat banyak pose-pose yoga yang menantang dan sulit seringkali membuat saya menyangka saya tidak akan bisa menguasainya. Itu karena saya belum tahu teknik-teknik dasarnya sehingga secara mental saya sudah terbebani. Kompleksitas mental dan psikologis itu akan menambah tantangan bagi murid pemula yang masih meraba-raba dan bereksperimen untuk menemukan apa yang sedang terjadi pada tubuh dan pikiran mereka saat sebuah pose dilakukan.

Karena itulah, seorang guru yoga perlu sekali memiliki kemampuan untuk bisa mengurai sebuah asana yang terlihat kompleks bagi para muridnya dan menjelaskan taat laksana atau prosedurnya dengan lebih runtut dan gamblang. Sebisa mungkin hindari kata-kata yang terlalu ilmiah, anatomis dan teknis, misalnya nama-nama otot dan tulang dalam bahasa Latin atau mencekoki murid dengan terlalu banyak nama asana dalam bahasa Sansekerta. Bukannya semua itu tidak penting untuk dipelajari, tetapi lakukan perlahan dengan penuh kesabaran sesuai porsinya. Kecuali jika mengajar murid yang level mahir (advanced), semua istilah ‘keren’ tadi bisa diaplikasikan secara liberal atau sesering dan sesuka kita.

Uraian berikut ini mungkin tidak hanya akan bermanfaat bagi Anda yang mengajar yoga tetapi juga bagi Anda, murid-murid  yang masih merasa perlu banyak belajar (seperti saya) agar nantinya jika seorang instruktur yang memimpin kelas kita masih kurang sesuai harapan, kita bisa memberikan masukan dan pertanyaan yang konstruktif untuk mereka demi kebaikan kedua belah pihak yaitu pengajar dan yang diajar.

Menurut Jason Crandell, untuk bisa memahami apa yang sedang terjadi pada tubuh selama melakukan sebuah asana yoga dalam tataran fisik semata, usahakan menguraikan sebuah pose (terutama asana jenis menantang dan susah dilakukan). Caranya dengan tidak melihatnya secara keseluruhan dulu tetapi mengamati apa yang terjadi pada sejumlah bagian tubuh yang paling dilibatkan. Lakukan pengamatan ini secara cermat dan teliti agar bisa memahami pose secara keseluruhan nantinya. Misalnya, saat melakukan pose kobra, amati bagian-bagian tubuh yang dilibatkan — dari kepala, leher, bahu, telapak tangan, lengan, tulang belakang (gerakan dan arahnya),  pinggul, posisi kedua tungkai dan telapak kaki.

Dari penguraian tadi, kita pada akhirnya akan bisa memahami bahwa sebuah pose (tak peduli sesukar apapun kelihatannya) sejatinya tersusun dari berbagai aksi yang lebih sederhana dan bisa diamati/ diidentifikasi secara terpisah. Ibaratkan saja sebuah pose yoga sebagai suatu teka teki (puzzle) yang telah diacak. Anda tinggal menyusun bagian-bagian kecilnya dengan sabar agar hasil akhirnya bisa serasi dan selaras sehingga elok dipandang dan dirasakan serta memberi manfaat.

Setelah kita mahir dengan penguraian sebuah asana, nantinya semakin lama belajar asana itu, kita akan makin bisa berkreasi untuk membuat asana tersebut bekerja sesuai dengan keinginan dan kebutuhan kita. Saat kita ingin intensitasnya lebih mudah, kita bisa memodifikasi bagian-bagian penyusunnya sedemikian rupa agar menjadi lebih bisa diakomodasi tubuh yang sedang lelah atau cedera. Namun, jika kita sedang ingin meningkatkan intensitas latihan sebuah pose, bisa saja kita memmodifikasi unsur-unsur penyusunnya tadi sehingga asana itu menjadi lebih menantang.

Konsepnya sebenarnya mirip dengan cara kita mengerjakan soal sebuah ujian saat sekolah dahulu, yaitu kerjakan soal yang mudah dulu baru lanjut ke soal-soal yang lebih susah. Ah, ternyata nasihat guru saya dulu berguna juga ya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *