A Review: “Monyet Bercerita” (A Monkey Has Stories)

PERSONALLY, I know Aris Kurniawan. He is a friend of mine with whom I occasionally meet at a local park on Saturday morning. We go there for the different reasons: he does aerobics training with a bunch of sedentary people who would rather spend their Saturday morning snoring in bed; whereas, I do my calisthenics routine and yoga practice, all mixed up to suit my own needs and flavor instead of observing a certain, fixed set of rules.

He is by no means related to the renowned novelist Eka Kurniawan because “Kurniawan” is a very very commonplace last name in Indonesia (a country where last name doesn’t mean anything except the extension of our first name). But he has a certain literary flair, too.

In spite of his humble beginning, Aris is a prolific writer himself. He may not garner as much praise and global acknowledgment as the other Kurniawan I just talked about. Yet, I should say he has got his own place in the local literary scene.

To my surprise, Aris had begun his writing career long before he is as settled as now. He got published when he was an eleventh grader. His first work is titled “Krematorium“, a poem published by then Weekly newspaper “Pikiran Rakyat Edisi Cirebon” (currently known as “Mitra Dialog“). Currently, he is working as a copywriter, just like me, by day. By night, we change into creatures with literary pursuits.

If you happen to love batik, Cirebon (or some say “Ceribon”, which is not a correct spelling) is no stranger. This coastal town in the border of Central and West Java saves a lot of history and mysteries.

And this is where Aris was born and grew up.

This fact alone promises us readers a lot of stories from local scenes that have not been widely discussed or brought to spotlight to the global audience.

In his excerpt, Aris explained that his short story collection “Monyet Bercerita” (roughly translated as “A Monkey Has Stories“) is built with two different premises, i.e. his childhood in Cirebon and his experiences as a grownup in Tangerang, now part of Banten province.

When Aris gave me this book a week ago as a friendly gift, I had no idea the depth of the stories inside it.

Feminism is one of the current issues that readers can find out in MB. “Nokturno” is his short story that tells a badass heroine that acts like a vigilante, trying to trap a dirty, corrupt politician with her own tactics. Too bad, she is outsmarted. Probably the failed eastern version of Amy ‘Gone Girl’ Dunne.

Local rural legends and myths also spice up the collection. You’ll find the legend of Prince Panjunan and Kejaksan. Also, there are some stories of the troops of betraying soldiers who got cursed into monkeys for violating their loyalty oath intertwined in narratives.

The book is not a heavy read, either physically and intellectually. It’s only 190 pages long and you’ll find it even more digestible when reading.

The only thing that may obstruct your reading experience is some local slang words (probably Javanese slang). I wish there were some foot notes to explain what they mean. Luckily, I am Javanese myself. Hence, it’s not an issue for me. (*/)

MOCO, Ahok, dan Minat Baca Orang Indonesia di Era Digital (1)

Sulasmo Sudharno: MAsyarakat Indonesia maunya gratisa. (Dok. pribadi)

Lelaki itu duduk di belakang saya. Ia dipanggil ke depan beberapa menit kritis sebelum adzan maghrib yang kami nantikan berkumandang. Saya berhenti mencatat dan memberinya jalan. Saya tidak tahu apa yang akan ia sampaikan tetapi dari gelagat sang penyelenggara acara yang begitu antusias hingga mempersilakannya tetap berbicara di panggung meski momen kritis berbuka puasa sudah sebentar lagi, saya duga ia bukan orang yang bisa diremehkan. Dan memang benar, apa yang ia sampaikan bukan sesuatu yang normatif, membuat kami di kursi menguap dan gelisah memikirkan makanan dalam benak.

Sulasmo Sudharno, begitu namanya, adalah seorang lelaki Jawa tulen. Maksud saya, layaknya orang Jawa memberi pidato di depan publik, ia menunjukkan ‘unggah-ungguh’. Mimik dan bahasa tubuhnya yang merunduk-runduk di depan bangku yang dipenuhi para pegiat dunia susastra yang lebih senior, yang di antaranya mencakup penyair dan akademisi Sapardi Djoko Damono dan orang-orang di sekitar tokoh tersebut yang sudah menunjukkan pengalaman tinggi.

Dan untuk menunjukkan ke-Jawa-annya, tentu ia menyapa hadirin yang lebih sepuh dahulu daripada kami yang ada di kelompok bangku lain yang masih ‘hijau’. Saya selalu memandang kagum orang-orang yang bisa berbicara di depan publik dengan ketenangan dan kemurahsenyuman orang Jawa (sumeh, katanya). Karena saya sendiri Jawa tetapi sulit melakoninya. Ditambah rautnya yang bundar, membuat ia tampak seperti Semar yang bijak. Di masa tuanya saya pikir ia akan mirip menjadi karakter pewayangan satu itu. Bijak, uzur dan bernas, penuh dengan pelajaran hidup.

Tapi lain dari Semar yang mengabdi ke penguasa, Sulasmo tidak menggantungkan penghidupan ke pemerintah. Ia secara mandiri sebagai entrepreneur dan pendiri startup mencari nafkah dengan berjualan buku. Hanya saja, karena sudah era digital, ia memilih mencoba menjual buku dalam bentuk digital juga.

“Tidak laku, pak. Setahun omset kami cuma Rp800.000,” ujarnya, seolah-olah audiens di depannya hanyalah Sapardi Djoko Damono. Ada nada pilu dalam ceritanya tetapi beginilah orang Jawa, mereka sanggup bercerita kesedihan dengan suara mendayu-dayu sambil tetap menyungging senyum.

Saya mengangguk-anggukkan kepala, sepakat dengannya. Orang Indonesia mana mau merogoh uang untuk menebus biaya pembuatan konten? Gratis selamanya kalau bisa.

Itu omset tahun pertama. Bisa dimaklumi jika masih rendah. Tetapi apa daya, di tahun kedua, meski onset melonjak menjadi RpRp31 juta, tak banyak yang bisa dilakukan untuk bertahan dengan strategi yang sama: menyasar kaum pecinta buku.

Sulasmo terus mengoceh bagaimana nelangsanya menjual buku digital di aplikasi gratisan. “Sudah memakai strategi potong pulsa, tidak banyak yang mau beli buku dari kami. Padahal jumlah karyawan hampir 100 orang.”

Strategi yang sama ini saya pernah jumpai juga di Google Books. Dan belum pernah saya coba meski saya punya kemampuan membeli juga. Entah kenapa, membeli buku fisik masih terasa lebih mantap. Saya cenderung berpikir saat saya sudah berkutat dengan layar seharian dalam pekerjaan, di waktu luang saya ingin menatap benda lain saja tetapi masih tetap ingin membaca dan menikmati konten. Solusinya membeli buku kertas. Tidak bisa ditawar lagi. Mata saya lelah.

Setelah babak belur di tahun pertama dan kedua, Lasmo dan rekan-rekannya yang lain di Aksaramaya (Panya M. Siregar, Gani, dan Ardiansyah) yang mereka dirikan pada tanggal 4 Februari 2013, memutuskan menerapkan strategi lain untuk menggenjot pemasukan riil ke bisnis yang baru berkecambah itu. Mereka mencoba menangkap fenomena kegandrungan anak-anak muda pecinta sinetron “Ganteng-Ganteng Serigala” untuk dimasukkan sebagai lokomotif penarik animo membaca target konsumen.

Karena anak-anak generasi milenial ini adalah kelompok yang vokal dan memiliki luapan kreatif yang bisa disalurkan dalam bentuk tulisan (lain dengan kaum ibu yang saat menonton dan mengkritisi plot sinetron kesayangannya dengan mengomel dan berhenti di situ saja), mereka menuliskan jalan cerita sinetron GGS itu dengan plot yang mereka masing-masing kehendaki. Ini adalah penyaluran kreativitas menulis dari ketidakpuasan dengan skenario yang dibuat penulis naskah di rumah produksi mapan. Sebab mereka tak bisa memprotes, maka mereka memutuskan menulis skenario mereka sendiri. Tipikal anak muda yang pemberontak.

Tim Aksaramaya kemudian diperintahkan untuk bergerak menyisir dunia media sosial, terutama Instagram untuk mendapatkan sebanyak mungkin skenario-skenario GGS ‘tandingan’ tersebut. Dan dengan menggunakan alat tagar (hashtag) rasanya memang lebih mudah mencari unggahan yang dimaui di Instagram (Twitter terlalu pendek).

Hasilnya ada. Sebanyak 21 buku ditelurkan dari strategi ini. Aksaramaya pun turun tangan menjadi penerbit juga akhirnya untuk bisa mengakomodasi karya-karya anak muda tersebut. “Karena penerbit belum ada yang percaya dengan konsep semacam ini. Bukan tidak percaya pada teknologi tapi karena belum ada pasarnya,” terang Lasmo.

Tulisan-tulisan itu lalu ditayangkan di aplikasi MOCO. Terjadilah ‘traction‘, yang artinya muncul tanggapan dari pasar. Lasmo cukup bergembira karena ribuan orang membacanya.

Namun, traction itu sia-sia karena bagaimanapun juga sebuah bisnis akan mati merana tanpa ada pemasukan nyata tidak peduli sebanyak apapun orang menggemarinya. Penggemar yang tidak berdaya beli seperti tanaman bonsai yang mahal, langka dan molek tetapi tidak bisa memberi makan pemiliknya yang sekarat kelaparan. “Ada 35.000 yang mengunduh secara gratis. Begitu disuruh bayar, raib semua…” katanya lagi.

Mengenaskan.

Tetapi saya bisa katakan itu juga yang saya akan lakukan. Menikmati buku di gawai masih terbatas pada ‘permainan’. Koleksi yang serius dalam bentuk fisik. Itu paradigma saya dalam menikmati buku. Tetapi dalam kasus ini, saya duga karena muda-mudi penggemar GGS ini adalah mereka yang masih belum memiliki kekuatan membeli yang stabil, artinya belum memiliki penghasilan sendiri, masih sekolah atau kuliah. Jadi, bisa dimaklumi jika pos anggaran yang bisa disalurkan untuk pembelian konten digital dianggap jauh di luar jangkauan.

Lasmo mengajukan hipotesisnya dari pengalaman MOCO tersebut. Pertama ialah tampilan e-book yang masih belum pas untuk dinikmati di gawai. Banyak e-book yang sekadar bentuk digital hasil pemindaian (scan) atau file pdf dari buku cetaknya. Sehingga saat membaca, penikmat konten mesti susah payah scroll ke berbagai arah agar besar huruf pas di mata (bisa dimaklumi makin tua, makin susah membaca di layar ukuran kecil). Dan ini merepotkan sekali. Pengalaman menikmati e-book yang sungguh belum maksimal.

Aplikasi yang masih dalam proses pengembangan masih belum menarik konsumen. Ditambah dengan ketiadaan kanal pembayaran, membuat transaksi pembelian e-book masih terasa musykil. (*/ bersambung)