Two New Online Tools You Must Use to Combat Hoax

THERE is nothing I hate most nowadays but hoax. Fake news is so prevalent on social media that I recently deleted my Facebook personal account [though I am occasionally still on it for the sake of this blog’s presence].  I swear I never consume content through social media ever again. At least until the political situation is cooling down, which means after the next year’s Indonesian presidential election is over.

Good news is here now!

Two online weapons are already invented to eradicate fake news on the web.  By means of these tools, everyone can discover who initially spread the fake news in their circles. That way, we will easily find out who must be held responsible for any misinformation and later on blacklist these allegedly reckless and irresponsible accounts. So let’s check them out.

Once you enter the Twitter handle in the box at Hoaxy, you can see the analysis of a Twitter account [to find out if it’s a bot or not], its followers, and friends.

HOAXY

To find any culprits of fake news on Twitterverse, you can rely on Hoaxy. The open source tool presents you visualization of how online content gets spread and trackskinks published by two types of websites; i.e. low-credibility news outlets and independent fact-checking organizations. It can also detect bots or automated accounts. Hoaxy welcomes any feedbacks to improve their accuracy.

You can see the result of my own Twitter account in the above screen capture. And interestingly I can also detect all of my followers to know whether they are inclined to be bots or real accounts. Real accounts have lower scores [lower or around 1]; whereas, bots or automated accounts have higher scores [apporachig 5]. Twitter accounts with scores between 1-4 are allegedly using automation tools in some various extents regardless of the possibility if they are real people or bots.

Botometer is qite tricky to use if you are an occasional internet user because it is more technical and the interface is a bit more dull and rigid.

BOTOMETER

The next is Botometer. It assesses the degree of likelihood that an account on Twitter is in fact a bot. The higher the score gets, the higher as well the likelihood of being a bot is. To find bots around us is important because it helps to detect hoax. Hoax or fake news is usually spread by bots or automated accounts to give an impression that it is widely talked about by many people while in fact it is not at all. Botometer also serves us visualizations of scores.

Takeaway:

I definitely recommend using these online tools to stay sane in the Twitterverse amid these political events. But I do hope in the near future it is possible to use the tools  on Facebook and any other social media sites. For the time being, both have shown quite satisfactory  and reliable performance actually. (*/)

From “Global Sprint 2018” at Mozilla Indonesia

“Global sprint” may sound too foreign to most people. It in fact refers to a global online event run in many countries by Mozilla. In Indonesia, Mozilla Community held it today (May 10, 2018). It aims to spur people’s contribution to many Mozilla’s nonprofit beneficial projects.

One of its open source and nonprofit projects is Common Voice, whose goal is to teach machines how humans speak. Another product that may share similar functions is Google Voice. But Common Voice is different in that the data gathered here is NOT intended for commercial, forprofit purpose.

Here we contributed by collecting a huge amount of written texts in a certain language. In my case, my team was working on Common Voice in Bahasa Indonesia [Bahasais the improper way to refer to the language, for your information] or Indonesian.

Why does our contribution matter?

Because we all know that Internet is dominated by English-speaking, Anglosaxon-cultured audience. How about other Internet users who don’t speak or write the language? Did we notice that English content on the web is so easily found but in Indonesian less content can be found?

Mozilla is focusing on how to include these marginalized people while still giving control of their data. And because it is nonprofit by nature, they rely on volunteers.

Speaking of Indonesian representation in Common Voice, there is hardly data stored there. To fix the situation, Mozilla allows anyone to contribute by donating their sentences to the database.

“Wait, why should I do this?” you may ask yourself.

So here is the advantage. You may not help yourself directly but if you contribute, the database may help those who plan to do research on a limited budget for educational, nonprofit purposes (such as for their academic final project, thesis or dissertation research) to make their dream come true.

We read some texts and later our voice can be changed into texts by means of STT (speech to text) feature. The more sources provide texts and feedbacks, machines would distiguish voices better and more accurately. If there is any error, it is correctable.

In this Global Sprint 2018, contributors present in Jakarta’s Mozilla Community Space were sitting together to store as many sentences as possible on the database of Common Voice to improve the machines’ performance in recognizing various human voices.

Below are important and informative links you can click in case you need more resources on this Global Sprint:

  • about Mozilla Global Sprint: https://mzl.la/global-sprint
  • about Mozilla Common Voice Project: https://voice.mozilla.org/id
  • about Mozilla Community Voice Sprint: https://voice-sprint.mozilla.community/contributing/
  • Where to upload your sentences: https://voice-sprint.mozilla.community/upload/

Pandai Menerjemahkan? Yuk Berkontribusi untuk Pelokalan Mozilla

Pelokalan alias localization mungkin terdengar asing bagi banyak orang. Namun, pada dasarnya ini sama saja dengan penerjemahan. Hanya saja yang diterjemahkan bukan teks dalam file dokumen yang selama ini kita sudah akrabi.

Lalu apa yang diterjemahkan dalam pelokalan?

Saya mendapatkan jawabannya dalam lokakarya (workshop) pelokalan yang diselenggarakan malam ini di Mozilla Community Space, Kuningan, Jakarta.

Selama ini kita mungkin jarang menggunakan produk-produk Mozilla yang sudah berbahasa Indonesia. Padahal jika mau mencarinya, kita bisa temukan dengan mudah di sini. Peramban (browser) berbahasa Indonesia mungkin jarang dipakai anak muda perkotaan yang sudah akrab dengan bahasa Inggris. Tetapi bagi mereka yang tidak sebaik anak-anak muda ini dalam pemahaman bahasa Inggris, produk berbahasa Indonesia tentunya akan sangat membantu.

Di sinilah Anda yang berminat dalam bidang bahasa dan penerjemahan (terutama dari bahasa Inggris ke Indonesia) bisa memberikan sumbangsih.

Dipandu praktisi pelokalan Mozilla Indonesia Lidya Christina, hari ini kami menjajal bagaimana berkontribusi dalam proyek-proyek pelokalan produk-produk Mozilla untuk pengguna Indonesia.

Pertama-tama, bagi Anda yang ingin berpartisipasi, bisa mempelajari Panduan Gaya Pelokalan (Style Guide) yang mencakup:

  1. Formalitas
  2. Gaya selingkung (nada dan suara)
  3. Keluwesan bahasa
  4. Penanganan istilah setempat, idiom dan bahasa asing
  5. Konsistensi gaya
  6. Terminologi
  7. Satuan dan ejaan bahasa Indonesia

Sementara itu, gaya pelokalan Mozilla yang lazim terdiri dari dua unsur utama: akurasi dan kefasihan. Akurasi artinya ketepatan dalam menerjemahkan teks sehingga pesannya tetap tersampaikan dengan jelas dan tidak bertele-tele. Kefasihan terkait dengan bagaimana hasil pelokalan itu terkesan alami dan tidak janggal, atau kaku.

Untuk Anda yang ingin berkontribusi, Anda dipersilakan membuat akun Mozillian dulu di Mozillians.org agar kontribusi Anda bisa terlacak. Tujuannya bukan untuk pamer tetapi agar Anda bisa menyumbangkan lebih banyak jika hasil pelokalan Anda terbukti bisa diterima (acceptable) dan berkualitas sehingga layak dipakai dalam produk-produk Mozilla untuk pengguna yang berbahasa Indonesia.

Nantinya jika Anda berminat untuk lebih banyak terlibat dalam upaya pelokalan, Anda bisa naik jenjang dari kontributor menjadi penerjemah. Kontributor bisa menyumbang usulan penerjemahan namun masih ada kemungkinan hasilnya tidak dipakai atau ditolak karena berbagai pertimbangan. Untuk level penerjemah, sudah diberikan kewenangan untuk menolak hasil pelokalan dari kontributor dan turut memberikan usulan dan perbaikan. Dan tentunya manajer memiliki kewenangan lebih banyak dari sekadar penerjemah.

Kembali lagi ke cara melokalkan produk Mozilla, Anda bisa masuk (login) ke akun Mozillians Anda dan kemudian masuk ke  https://pontoon.mozilla.org/. Di sini mirip dengan wadah untuk menampung berbagai proyek pelokalan produk Mozilla. Anda bisa memilih mana yang Anda sukai, tetapi diutamakan pilihlah proyek yang tenggat waktunya mendesak dan memiliki tingkat prioritas lebih tinggi.

Sebagai catatan, bila bingung dengan istilah atau kata yang harus diterjemahkan, cobalah menggunakan beberapa referensi seperti:

  1. http://transvision.mozfr.org
  2. http://kateglo.com
  3. https://id.m.wikipedia.org/wiki/Daftar_Istilah_Internet_Indonesia
  4. https://id.wikisource.org/wiki/Panduan_Pembakuan_Istilah,_Pelaksanaan_Instruksi_Presiden_Nomor_2_Tahun_2001_Tentang_Penggunaan_Komputer_Dengan_Aplikasi_Komputer_Berbahasa_Indonesia

Setelah bereksperimen melokalkan string atau untaian kata-kata dalam proyek Common Voice milik Mozilla, kami bisa melihat pencapaian masing-masing. Kontribusi masing-masing kontributor terlihat jelas.

Dan di sini Anda sebisa mungkin memakai ragam bahasa formal karena ini akan dipakai untuk pengguna secara luas, bukan menyasar ke segmen anak muda saja.

Tertarik ikut? Nantikan lokakarya pelokalan berikutnya (yang sedianya akan diadakan pada Selasa malam) di Mozilla Community Space. (*/)

4 Benefits of Volunteering at Mozilla Community Space

Just a brief caveat, I’m not going to say anything here about the free-flow snacks and drinks and free internet connection available at anytime (though they’re two of the benefits to lure more people into coming more often and spend nights there).

Here I give you four of so many benefits of volunteering as a keyholder at Mozilla Community Space.

BETTER MENTAL HEALTH

Certainly Mozilla Community Space is no place to go to cure your mental disorder or illness but I’m serious about this. According to Harvard Health Publishing (a publishing section of Harvard Medical School), people who volunteer have a better mental health condition. Stephanie Watson of Harvard Women’s Health Watch elaborates on this point, saying:

Studies have shown that volunteering helps people who donate their time feel more socially connected, thus warding off loneliness and depression. (source: healthharvard.edu)

It’s an inconceivable benefit that I’m sure everyone wants to reap from volunteering for any social causes, including Mozilla which is a non-profit organization.

In Mozilla Community Space, you’ll meet not only friends you’re already familiar with but also an endless supply of new acquaintances who can bring you a lot of new perspectives in life.

LONGER HEALTH SPAN

It’s useless to live a long life but bedridden, too il to wake up and enjoy the world and all things in it. That’s why I pick the ‘health span’ term instead of ‘life span’.

Great news for you who are too worried about your physical health, and most specifically your blood pressure. Now, you can get less dependent on your anti-hypertension medication by spending more time to volunteer in Mozilla Community Space.

More on this, read on below:

Those who had volunteered at least 200 hr in the 12 months prior to baseline were less likely to develop hypertension (OR = 0.60; 95% CI [0.40, 0.90]) than nonvolunteers. There was no association between volunteerism and hypertension risk at lower levels of volunteer participation. Volunteering at least 200 hr was also associated with greater increases in psychological well-being (source: here).

BUILD WIDER NETWORKS

If you’re under 40 years old like me, volunteering does nothing to boost your wellbeing but hey, let me tell you that the benefit is not always about health. Volunteering can be impactful even if you’re a lot younger, especially when it comes to networking. Volunteering at young age  especially allows you to get exposed to people and worlds outside of your comfort zone. For young people, that comfort zone may be your school, your family and immediate relatives maybe. But if you volunteer, you’ll discover so many unknown worlds other than people you’ve known since your childhood.

In Mozilla Community Space, I can meet with younger people, lots of them actually (I’m the eldest newly-appointed keyholder). And seeing these youths who are as old as my younger siblings pretty much gives me a great deal of youthful spirit. Besides, more acquaintances means more opportunities in fact.

ADD MEANING TO LIFE

Life is a lot more boring if you only focus on your personal life goals. You want this and that and when you have it all, only you can enjoy it. Life can be more meaningful than that by volunteering your time and energy to a specific cause you prefer.

So what’s my cause?

Freedom!

For the sake of freedom in the virtual world, I want to be more actively involved in Mozilla Indonesia.

Why Mozilla?

Because nowadays our freedom as internet users have been ‘robbed’ by all tech giants like Google, Microsoft, Facebook, etc. We are made to trade our privacy and private details with convenience, a bait too tempting to refuse. They shape our lives and our future as human civilization, too. So we need an alternative which is free from business, commercial interests.

The keyword is FREEDOM.

Freedom to make choices, whether we willingly swap our privacy for convenience or hold tightly that last shred of privacy and explore the web without being herded like a bunch of dumb sheeps and being fed by grass decided by algorithms.  (*/)

Risiko Pokemon Go

Permainan dengan teknologi Augmented Reality ini memang baru diluncurkan hari pertama Lebaran kemarin tetapi sudah diunduh dan dimainkan jutaan orang di dunia. Pokemon Go berhasil membuat orang tetap setia bermain game sembari terus menggerakkan tubuh mereka untuk berburu makhluk maya yang hanya bisa dideteksi lewat layar ponsel.

Setelah beberapa hari diluncurkan dan dianggap sukses besar, muncul berita-berita negatif tentang efek berbahayanya (yang kadang begitu absurd sampai pembaca tidak yakin dengan keabsahan isinya dan media penyampainya). Misalnya, risiko tertabrak kendaraan, jatuh di trotoar yang berlubang atau tidak rata, menabrak pintu kaca, (atau tersandung mayat seperti seorang remaja di negara bagian Wyoming, AS) karena terlalu fokus berburu Pokemon di jalanan. Bahkan di tanah air sudah ada beberapa kasus, pemain game ini (lazim disebut “trainer” atau “PokeMaster”) menyewa ojek daring untuk berburu Pokemon dan tidak peduli harus membayar asalkan sukses menangkapnya.

Tapi yang sebenarnya tidak kalah berbahaya ialah ketidaksiapan orang-orang pecandu game ini, yang mulanya lebih banyak duduk dan santai sepanjang hari, tiba-tiba ‘dipaksa’ untuk beranjak dan keluar rumah atau kamarnya yang nyaman dan lebih banyak bergerak tanpa pemanasan yang cukup. Bayangkan anak-anak muda yang biasanya hanya berolahraga jari atau seminggu sekali karena kewajiban di sekolah, lalu harus berlarian bak kesetanan di tengah terik matahari siang bolong. Otot-otot mereka dingin, mudah kram. Dan mereka lebih terbiasa di sejuknya hawa dingin AC. Dan sekarang anak-anak ini (dan sebagian yang sudah bukan anak-anak juga tetapi juga bergaya hidup sama) mengumumkan dengan bangganya mereka sudah berjalan sejauh 20 km dalam sehari untuk memburu makhluk tanpa wujud yang bisa bertelur itu. Gila memang bagi kita yang tidak atau belum tahu rasanya kecanduan game ini.

Seorang peneliti Pokemon Go, Molly Larson, menyatakan ada sebagian orang yang sampai lupa menoleh ke kanan dan kiri saat menyeberang jalan dalam perburuan mereka. Risiko yang tak kalah berbahaya ialah menerobos hingga masuk ke lingkungan yang membahayakan karena si pemain lebih fokus ke layar ponsel, bukan lingkungan sekitarnya. Orang-orang yang berniat kurang baik bisa memanfaatkan kelengahan itu. Jika anak Anda suka berburu Haunter atau Pokemon malam, waspada juga dengan risiko penculikan, kekerasan baik itu atas alasan finansial atau seksual. Bisa juga pemain tidak sadar ia memasuki kawasan yang menjadi hak milik pribadi seseorang dan tidak seharusnya diterobos tanpa izin.

Entah dengan pemerintah kita, tetapi menurut Harsha Vattem dari India, pemerintah di beberapa negara sudah mengeluarkan peringatan terkait Pokemon Go.

Tentu tidak semua penggemar Pokemon Go menerima opini bahwa game kesayangannya memiliki risiko. Sejumlah PokeMaster menampik bahaya-bahaya yang disebutkan tadi. “Kalau memang berbahaya, kenapa game ini diberi rating E (Everyone) yang artinya boleh dimainkan semua orang di segala usia?” begitu protes seorang pemainnya. Itulah bahayanya fanatisme. Mau game, keyakinan atau aliran politik, sama bahayanya.

Possible, Living without WhatsApp

What was cool becomes uncool and sickening. (Photo credit: Wikimedia Commons)

Someone asked on Quora:”What does it feel like to delete your WhatsApp account?” Some people mentioned about the inefficiency of living a life in a modern, digital world of the 21st century. But some others lauded the option of living without the chat application as their lives seem to be back to normalcy. They have lived without it and claimed there was nothing wrong about getting rid of WhatsApp.

Whatever. In addition to my security concern that I have learned long time ago (read on: “WhatsApp Flaw Leaves Users Open to Spying) , this is my own experience.

Well, I haven’t gone that far to be frank. I only uninstalled the application on my smartphone. And it was at first not because I hated the application but because of the insufficient storage capacity on my smartphone. To note, I used to have an iPhone 4S with 16GB capacity but now that I lost it somewhere on the road, I had to resort to an Android one with storage capacity half of the iPhone. Poor me, I know. But the screen is more satisfying. I got another extra inch of screen to type and swipe on. Such a relief.

The limited capacity is actually a blessing in disguise. I really had to select applications that really really really mater. Ones that I need most. A friend told me to download and use Sebangsa app, an Indonesian social media with the same functions of Facebook added with some Indonesian flavors. But with all the limitations, I don’t think I can manage the time for the app. Sorry.

Aside from the less spacious memory of my smartphone, I also noticed recently that I got restless when I saw a notification from the application. It used to be a great and meaningful way to connect actually but once too many people are on it, I saw more and more people form groups of WhatsApp. What was cool back then now gradually look sickening and obnoxious.

On WhatsApp, I suddenly came to a realization that all the interactions are somewhat unnecessary and inessential. “What is it all about?” I mumbled to myself when one night I was trapped in a war of words with a bunch of pals in a group. They should’ve been kinder than this. But on WhatsApp, what I saw was their vanity. I too saw my own ugliness. As I read again my sentences, I realized I was a horrible chatter. I gave an impression of an arrogant, self-centered man. And it all came down from an uncontrollable exchange of arguments and jokes and trivial stuff that consumed too much time and energy.

On the family WhatsApp groups, a new day always started with an upload of photos or icons. And the next hour, I shall read one or two articles copied and pasted so liberally from whatever sources. The content was like a stone thrown into a pond, causing ripples and stirs. Suddenly more responses were given by participants. Some stayed silent. And then a joke was hurled into the arena, and more notifications popped.

Now I have had enough. This is INSANITY that I had to stop!

I also deleted my Path application, reasoning I have no time to manage the account. I have come to a resolution. WordPress, Facebook, Twitter, Instagram and Line are enough for me.

Why WordPress? Because the application serves as a mobile blogging tool for a writer like me. I can post anything by means of the application  without delay when it’s really necessary.

Why Facebook? Because to date it proves to be the most widely used social media service on earth. And I get more visitors and acquaintances from it.

Why Twitter? Because I can share more words continuously without annoying my friends, just like on Facebook.

Why Instagram? Because it’s the only one social media service uniquely based on visuals. So unique that Facebook and Twitter combined cannot equal the experience.

Why Line? Well, I don’t want my digital life to be owned by Facebook (WhatsApp was acquired by Facebook, to remind you) so I quit using it and opted for Line (for the sake of more funny emoticons).

Tentang Jurang (Sebuah Catatan tentang Entrepreneurship Indonesia)

 

Tanggal 16-17 Februari 2016 lalu Presiden Joko Widodo mengunjungi Silicon Valley. Apalagi agendanya jika tidak untuk menarik investasi sejumlah korporasi. (Sumber foto: laman Facebook Mark Zuckerberg)

Perempuan itu terlambat 17 menit dari waktu yang dijanjikan. Dalam surel, ia meminta maaf. “Maaf Akhlis, saya akan terlambat beberapa menit sepertinya,” ia membalas singkat.

Saya sudah menunggunya di sana. Untung saja saya bisa mengerjakan sesuatu dengan komputer jinjing. Secangkir teh chai panas juga menemani di depan mata. Kalau tidak saya bisa menggerutu kebosanan dan membeku di ruangan luas dan temaram itu.

Ia masuk ke dalam kedai dan nanar mencari orang dengan rupa yang saya deskripsikan dalam surel baru saja. Kami baru pertama bertemu hari itu.

Sementara saya sibuk memandangi layar komputer jinjing, ia bertanya apakah nama saya Akhlis. Saya jawab betul dan kami pun bersalaman untuk pertama kali.

Saya terkejut ia tidak segemuk yang saya lihat di dunia maya. Apakah ia sudah diet ketat? Tubuhnya kini lebih kurus, wajahnya tirus. Namun, jejak Kaukasia dalam gennya tidak bisa dihapus. Tulang hidungnya tinggi khas bangsa Arya.

Ia memandangi sejenak stiker-stiker di punggung komputer jinjing saya. Dan ia tampak tidak tahan melontarkan pertanyaan,”Kau dapat ini dari mana? Pameran kebudayaan Jerman?” Saya ceritakan padanya bahwa saya pernah diundang dan hadir dalam perayaan reunifikasi Jerman tanggal 1 Oktober tahun lalu. Sebuah undangan dalam koridor kedinasan. Saya masih ingat bagaimana malam itu saya harus makan malam sambil berdiri dan berceloteh soal bobroknya sebuah instansi komersial dengan seorang kolega yang lebih senior tetapi berhubungan lebih akrab dari rekan-rekan sepangkat jabatan.

Setelah perempuan itu memesan sajian roti berselai stroberi serta kopi dalam sebuah wadah berukuran tall di kedai waralaba asal negeri Paman Sam itu, ia duduk di depan saya kemudian bertanya sebelum menelan rotinya.

“Artikel apa yang ingin kau tulis jika nanti sedianya ada kesempatan?”

“Hmm…,” saya memilih kata-kata dengan cermat, tidak mau gegabah menyahut. “Tentang jurang.”

“Jurang?” kepalanya mendongak, meninggalkan pandangan dari piringnya.

” Ya, jurang… Jurang antara para entrepreneur di sini dan pemerintah,” tukas saya. Teh chai hangat itu saya teguk lagi. Cairan itu level pahitnya bukan kepalang dan sanggup membangunkan seluruh tubuh saya di tengah terpaan angin pendingin udara di atas kepala kami. Untuk mengetik saja jari jemari jadi kaku. Saya memandang iri ke seberang meja, sekelompok perempuan negeri ginseng bercakap akrab, tanpa menggigil.

“Kenapa jurang itu bisa ada?” ia kembali menggali.

Saya sedikit tersentak, berusaha mengembalikan konsentrasi dari distraksi. Seorang perempuan Korea di situ tertawa dan berbicara lantang benar, seperti di rumah sendiri.

“Karena selama ini keduanya tampak berjalan sendiri-sendiri. Tanpa ada sinkronisasi dan harmoni. Makanya jangan heran dunia entrepreneurship kita seperti ini,” terang saya setengah spontan, setengah tertata.

Banyak yang perlu dibenahi. Dan dari tahun ke tahun belum ada solusi konkret. Dalam suatu diskusi seorang perwakilan entrepreneur muda bahkan berkata tidak peduli dengan apapun yang dilakukan pemerintah. “Asal jangan sampai mengganggu laju kami. Itu saja. Terserah mereka mau apa,” timpalnya saking putus asa.

Hal itu ia lontarkan beberapa tahun lalu. Ia pantas putus asa dan memiliki resistensi pada penguasa sebab kondisi dan birokrasi negeri di sektor ini juga kacau balau. Tidak heran anak-anak muda yang kreatif itu lebih memilih bergerak di bawah tanah. Namun sayangnya, bergerak di bawah tanah juga menghalau mereka menggapai pertumbuhan yang setinggi-tingginya.

Kita masih ingat jejaring sosial Koprol yang diakuisisi Yahoo. Semua bangga dengan pencapaian spektakuler itu. Ada juga ya startup kita yang dilirik Silicon Valley, begitu komentar orang. Tetapi bangga cuma berakhir bangga, tanpa dukungan nyata. Alhasil layu juga akhirnya. Koprol dilepas begitu saja setelah Yahoo tersedot oleh lumpur isap bernama resesi yang membuat mereka sampai harus merekrut CEO cantik Marissa Meyer. Sampai sekarang Yahoo tidak pernah pulih seperti sedia kala di masa kejayaan mereka.

Kemudian ia menyebut soal Jokowi yang sedang melawat ke Silicon Valley. Saya ketinggalan berita rupanya. Dan pagi ini tadi baru mengetahuinya dari laman si pendiri jejaring sosial itu. Masih ada harapan perbaikan dan kemajuan, kira-kira begitu pesan yang hendak kenalan saya ini sampaikan.

Entahlah, saya menghela napas dalam-dalam. Mencoba mengusir kekesalan dan keputusasaan. Indonesia itu rumit, terang saya padanya yang berdarah separuh bumiputra itu. Kadang kepalanya memang yang inkompeten dan korup jadi bawahnya juga bobrok. Namun, kadang juga kepalanya sudah bagus, jajaran di bawahnya yang resisten pada perubahan yang dibawa sang kepala. Saya berdoa semoga saja saya salah.

Pertemuan presiden kali ini dengan pendiri Facebook dikatakan akan mengangkat agenda perkenalan Indonesia sebagai salah satu tujuan investasi yang seksi. Jokowi ingin meyakinkan para petinggi teknologi informasi perusahaan teknologi seperti Google, Facebook dan Twitter bahwa Indonesia bisa membantu mereka menggenjot pertumbuhan perusahaan sekaligus membantu Indonesia menggairahkan sektor ekonomi baru:ecommerce.

Sertifikasi Wartawan, Perlukah?

wp-1451576891709.pngSiang itu sebuah ruangan di Perpusatakaan Pemerintah DKI, Kuningan, tengah dipadati mereka yang berminat dengan tema UU ITE (Undang Undang Informasi Transaksi Elektronik) yang beberapa tahun terakhir membuat kehebohan tersendiri. Dari kasus Prita Mulyasari versus sebuah rumah sakit internasional yang kemudian bergulir menjadi sebuah gerakan solidaritas yang masif di jejaring sosial dan memicu perdebatan hangat di sana-sini selama beberapa lama.
Salah satu pembicara ialah Kamsul Hasan, yang menjabat sebagai ketua kompetensi PWI Pusat, Ketua Dewan Kehormatan PWI Jaya. Salah satu isu yang ia bahas adalah sertifikasi wartawan di tanah air. Akhir-akhir ini sertifikasi memang ada di berbagai bidang. Dari pendidikan (guru) sampai ketenagakerjaan (tenaga kerja spesialis), program sertifikasi rasanya sudah ada. Dan dunia jurnalistik tampaknya tidak terkecuali.
Kepada beliau saya bertanya terkait dengan sertifikasi wartawan. “Apakah ada bedanya jika seorang wartawan memiliki sertifikat atau tidak? Karena toh menurut pengalaman saya selama ini sebagai wartawan daring (online), tidak ada yang berbeda drastis perlakuan terhadap mereka yang bersertifikat dan tidak,” tutur saya dengan nada skeptis.
Saya tidak mengada-ada. Sepanjang yang saya tahu, di lapangan perbedaan perlakuan itu tidak kentara. Dan mungkin memang dianggap tidak perlu. Saya tidak bisa menjawab persis. Para pemberi kerja juga tidak terlalu memusingkan apakah calon jurnalis yang mereka akan rekrut memiliki sertifikat itu atau tidak. Lihat saja iklan-iklan lowongan kerja untuk para jurnalis. Tidak sedikitpun yang menyinggung sertifikat semacam itu. Rata-rata pemberi kerja hanya mensyaratkan calon wartawan untuk memiliki kemampuan menulis yang hebat, meriset dengan teliti dan akurat, mewawancarai dengan lancar, bersedia bekerja dengan waktu yang fleksibel di akhir pekan dan hari libur, memiliki kendaraan sendiri sehingga mobilitas lebih mudah, memiliki kompetensi dalam bidang teknologi informasi sehingga mereka bisa menyampaikan konten secara lebih cepat, bisa bekerja dengan tenggat waktu yang ketat, atau bisa bekerjasama dengan baik dalam sebuah tim editorial yang diisi dengan berbagai macam orang. Namun, herannya aspek sertifikat tidak dimasukkan ke dalam daftar persyaratan.
Kamsul sepakat dengan pernyataan saya. Memang saat ini belum ada perbedaannya, ia berargumen. Namun, begitu nanti para pemberi kerja itu tahu pentingnya standarisasi kompetensi jurnalistik seorang wartawan, sertifikasi akan menjadi sebuah daya saing, kelebihan yang bisa membuat pemiliknya menonjol dibandingkan mereka yang tidak memilikinya.
Dalam benak, saya ingin bertanya lagi, “Lalu kira-kira kapan para pemilik modal itu tahu bahwa sertifikasi wartawan itu penting bagi dunia jurnalisme Indonesia yang sudah demikian porak poranda ini?” Saya tahan pertanyaan itu dalam hati karena saya sadar jawabannya sangat bergantung pada banyak faktor di luar kendali banyak orang, bahkan organisasi sebesar PWI sekalipun. Ini semua memerlukan upaya sinergis, tidak bisa setengah hati, atau cuma menonjolkan sebagian aspek.
Untuk menolak lupa, mari kita ingat betapa semrawutnya media di Indonesia selama ajang Pemilihan Presiden yang lalu. Saat itu banyak wartawan yang melacurkan diri demi pageviews, traffic atau kunjungan ke situs berita mereka. Demi kepentingan pemilik modal, mereka juga rela menmanipulasi fakta dan data. Suatu catatan yang memilukan dalam sejarah jurnalisme Indonesia jika suatu saat nanti para mahasiswa jurusan jurnalisme menengok ke belakang. Boleh saya katakan masa itu adalah sebuah ujian bagi para jurnalis di negeri ini, dan sebagian besar dari mereka GAGAL melewatinya dengan baik. Status sebagai salah satu pilar penting dalam demokrasi tidak bisa lagi disandang dengan kepala tegak. Ada isu-isu yang bisa membungkam para jurnalis karena isu-isu itu ternyata berkaitan dengan para petinggi perusahaan tempat mereka mengabdikan hampir seluruh jiwa dan raga mereka.

Jakartans Now can Access Digital Library via Smartphone App

Jakarta is getting smarter and smarter, apparently. Thanks to our shrewd and way more tech-savvy governor, now everyone with an Android handset can access a digital library owned by the government of Jakarta. A free iOS app will soon be on App Store, too.

I happened to find this app at Indonesia International Book Fair 2015 yesterday but I couldn’t give it a try as I have no Android phone. And this app is not avaliable on my iPhone.

So I also signed up for a membership of Jakarta Public Library for the sake of curiosity. A public library is located just near where I stay so this could be a good opportunity to try it out.

Too bad I need to obtain a letter stating I work here for a certain company as I don’t have permanent residential status‎ of Jakarta yet. The staffer on duty, however, was kind enough to let me have the membership card and borrow so long as I can prove I work here formally.

12-Inch MacBook Air, Another Incremental Innovation The World Badly Needs

It was rumored yesteryear already. To be frank , it’s quite stale as news. But why is this still news? Because it’s Apple that produces it. The world doesn’t care about what innovation Axio, Advan or Raspberry Pi would bring out to the market.

They say the new tech fascination would be released in the summer of 2015.

And as always, the selling point is the thinness. But if you wish to have the generosity of ports in the new product, you’ll be disappointed. Only one 3.5mm audio jack and a single USB-C connector are left. So the 13-inch model still wins.

There’s no mention about the battery durability. But if it can last 12 hours just like the 13-inch version, that’ll be great also.

The price could be between the 11 and 13 inch model.

Let’s hope the prediction is worse than the fact later on. Yet, I suppose I’ll stay with my old 13-inch one.

Truly I cannot understand why Apple has to produce the 12-inch in the first place? Tim Cook seems to want to confuse Apple fanboys and girls after applying the same strategy in the iPads.

Now, your decision making prior to buying a MacBook Air has never been as easy and simple as before.

Wait, that doesn’t include the processor and memory variations. 128, 256, 512 GB…??! I couldn’t care less.