Making It to London Book Fair 2019

Jepretan Layar 2019-03-17 pukul 17.19.08.png

My heart can’t contain the joy upon discovering the news that a couple of books in which I was involved have finally made it at London Book Fair 2019.

Though I’m childless, I can tell this feeling is slightly similar to what parents of a child feel when s/he discovers some news from teachers that his or her child has just made an achievement that deserves heartfelt praise and appreciation.

I’m by no means the instigator of both books but I’d been involved actively in the writing, translating and publishing process.

The first book is “KINTAMANI BALI DOG” (Anjing Kintamani Bali, 2016) in which I acted as one of the editors. Its author, Dewi S. Dewanto, is a lover of Indonesian native dog breed only found in Bali.

She keeps some Kintamani Bali dogs at home. One of them is named Foxy, a wolf-sized home dog that seems to be destined to protect its owner from potential threats, even that is from fellow humans like me.

I remember the  time when I paid Dewi a visit. Foxy couldn’t help sniffing at us the guests. She walked anxiously around me to find out whether I was a threat or not in the territory. With a dog this agile and protective, I bet no thief would ever come so close to the house. Unless s/he wants some deadly bites in the flesh.

Foxy, however, is really sweet when you have gotten her ‘sweet spot’. She just doesn’t mind any perils as long as she can defend her owner/ master.

Why is the book special?

I should say this is a must-have for Indonesian dog lovers. The book discusses everything the world needs to know about the dog breed that can only be found nowhere else but Bali, Indonesia. You’ll find a broad range of knowledge, from the origin of it to how to select puppies and take care of these fluffy-furred dogs.

The second book is different from “Kintamani Bali Dog”. While KBD is a nonfiction work, “Of Stars and Prayers” (2016) is a fiction work written by Wikan Satriati, my fellow editor, for child readers. As the author puts it, the book contains some short stories on prayers.

The book was first published in Indonesian in 2008 under the title “Gadis Kecil Penjaga Bintang: Tamsil tentang Doa untuk Anak dan Orangtua“. In 2016 Wikan made some revisions and published the book in English.

Below is Wikan’s testimony of my translation:

Terima kasih pula untuk Akhlis Purnomo yang mengerjakan sebagian besar penerjemahan buku ini secara sangat bagus: “Doa untuk Ayah-Bunda”, “Seorang Murid dan sebuah Batu”, “Kristal Bintang Jingga”, “Perjalanan Doa”, serta kelengkapan penerbitan lainnya.
(I would thank Akhlis Purnomo for his translating most of the book very well:”Doa untuk Ayah-Bunda” (Prayers for Mom and Dad), “Seorang Murid dan sebuah Batu” (A Student and a Rock), “Kristal Bintang Jingga” (The Prayer‘s Journey) and others.)

WhatsApp Image 2019-03-17 at 10.09.53 AM.jpeg

Both books are proof of my contribution to the Indonesian literary translation, which is in increasing demand as the global audience wants more diversity.

I am always looking forward to other opportunities of translating Indonesian authors’ books to be translated into English so more readers around the globe can enjoy stories from Indonesia.

If you’re an Indonesian author searching for an English-Indonesian translator, I’d love to work together to make your works known to global readership. (*/)

Pandai Menerjemahkan? Yuk Berkontribusi untuk Pelokalan Mozilla

Pelokalan alias localization mungkin terdengar asing bagi banyak orang. Namun, pada dasarnya ini sama saja dengan penerjemahan. Hanya saja yang diterjemahkan bukan teks dalam file dokumen yang selama ini kita sudah akrabi.

Lalu apa yang diterjemahkan dalam pelokalan?

Saya mendapatkan jawabannya dalam lokakarya (workshop) pelokalan yang diselenggarakan malam ini di Mozilla Community Space, Kuningan, Jakarta.

Selama ini kita mungkin jarang menggunakan produk-produk Mozilla yang sudah berbahasa Indonesia. Padahal jika mau mencarinya, kita bisa temukan dengan mudah di sini. Peramban (browser) berbahasa Indonesia mungkin jarang dipakai anak muda perkotaan yang sudah akrab dengan bahasa Inggris. Tetapi bagi mereka yang tidak sebaik anak-anak muda ini dalam pemahaman bahasa Inggris, produk berbahasa Indonesia tentunya akan sangat membantu.

Di sinilah Anda yang berminat dalam bidang bahasa dan penerjemahan (terutama dari bahasa Inggris ke Indonesia) bisa memberikan sumbangsih.

Dipandu praktisi pelokalan Mozilla Indonesia Lidya Christina, hari ini kami menjajal bagaimana berkontribusi dalam proyek-proyek pelokalan produk-produk Mozilla untuk pengguna Indonesia.

Pertama-tama, bagi Anda yang ingin berpartisipasi, bisa mempelajari Panduan Gaya Pelokalan (Style Guide) yang mencakup:

  1. Formalitas
  2. Gaya selingkung (nada dan suara)
  3. Keluwesan bahasa
  4. Penanganan istilah setempat, idiom dan bahasa asing
  5. Konsistensi gaya
  6. Terminologi
  7. Satuan dan ejaan bahasa Indonesia

Sementara itu, gaya pelokalan Mozilla yang lazim terdiri dari dua unsur utama: akurasi dan kefasihan. Akurasi artinya ketepatan dalam menerjemahkan teks sehingga pesannya tetap tersampaikan dengan jelas dan tidak bertele-tele. Kefasihan terkait dengan bagaimana hasil pelokalan itu terkesan alami dan tidak janggal, atau kaku.

Untuk Anda yang ingin berkontribusi, Anda dipersilakan membuat akun Mozillian dulu di Mozillians.org agar kontribusi Anda bisa terlacak. Tujuannya bukan untuk pamer tetapi agar Anda bisa menyumbangkan lebih banyak jika hasil pelokalan Anda terbukti bisa diterima (acceptable) dan berkualitas sehingga layak dipakai dalam produk-produk Mozilla untuk pengguna yang berbahasa Indonesia.

Nantinya jika Anda berminat untuk lebih banyak terlibat dalam upaya pelokalan, Anda bisa naik jenjang dari kontributor menjadi penerjemah. Kontributor bisa menyumbang usulan penerjemahan namun masih ada kemungkinan hasilnya tidak dipakai atau ditolak karena berbagai pertimbangan. Untuk level penerjemah, sudah diberikan kewenangan untuk menolak hasil pelokalan dari kontributor dan turut memberikan usulan dan perbaikan. Dan tentunya manajer memiliki kewenangan lebih banyak dari sekadar penerjemah.

Kembali lagi ke cara melokalkan produk Mozilla, Anda bisa masuk (login) ke akun Mozillians Anda dan kemudian masuk ke  https://pontoon.mozilla.org/. Di sini mirip dengan wadah untuk menampung berbagai proyek pelokalan produk Mozilla. Anda bisa memilih mana yang Anda sukai, tetapi diutamakan pilihlah proyek yang tenggat waktunya mendesak dan memiliki tingkat prioritas lebih tinggi.

Sebagai catatan, bila bingung dengan istilah atau kata yang harus diterjemahkan, cobalah menggunakan beberapa referensi seperti:

  1. http://transvision.mozfr.org
  2. http://kateglo.com
  3. https://id.m.wikipedia.org/wiki/Daftar_Istilah_Internet_Indonesia
  4. https://id.wikisource.org/wiki/Panduan_Pembakuan_Istilah,_Pelaksanaan_Instruksi_Presiden_Nomor_2_Tahun_2001_Tentang_Penggunaan_Komputer_Dengan_Aplikasi_Komputer_Berbahasa_Indonesia

Setelah bereksperimen melokalkan string atau untaian kata-kata dalam proyek Common Voice milik Mozilla, kami bisa melihat pencapaian masing-masing. Kontribusi masing-masing kontributor terlihat jelas.

Dan di sini Anda sebisa mungkin memakai ragam bahasa formal karena ini akan dipakai untuk pengguna secara luas, bukan menyasar ke segmen anak muda saja.

Tertarik ikut? Nantikan lokakarya pelokalan berikutnya (yang sedianya akan diadakan pada Selasa malam) di Mozilla Community Space. (*/)

Mengenal Linguistik dan Profesi Linguis lewat Film “Arrival”

Linguis seksi Dr. Louise Banks (diperankan aktris Amy Adams) dalam film “Arrival” bantu lejitkan pamor profesi linguis. (Sumber foto: Wikimedia Commons)

DALAM sejumlah karya sinema produksi asing, saya sering menemukan pesan-pesan yang lebih bermakna dari hanya sekadar hiburan. Salah satunya yang paling saya kagumi ialah bagaimana mereka ini mencoba menyisipkan profesi-profesi dan kecintaan pada pekerjaan-pekerjaan itu dalam sinema-sinema mereka. Maka melalui film-film itu seolah kita bisa meneropong ke dalam dunia yang sama sekali asing bagi kita. Dan dari situ, kita bisa menemukan betapa mengasyikkannya profesi tersebut, yang mungkin sebelumnya terkesan biasa saja tetapi kemudian setelah dimasukkan dalam film menjadi terkesan lebih luar biasa, gemerlap, dan berdampak bagi masyarakat sekitar.

Salah satu contoh film yang menyuguhkan gambaran mengenai sebuah profesi itu adalah “Arrival” yang baru-baru ini diluncurkan. Saya tertarik dengan film-film yang berkaitan dengan kepenulisan dan bahasa, dan karena film ini mengenai perjalanan seorang pakar linguistik (linguis) memecahkan bahasa alien, saya jadi ingin menontonnya juga. Latar belakang disiplin ilmu dan ketertarikan saya sejak kecil memang bahasa jadi film ini rasanya sayang untuk saya lewatkan sebagai tontonan dan topik tulisan.

Film fiksi ilmiah yang disutradarai oleh Denis Villenueve ini menceritakan perjuangan seorang linguis memecahkan bahasa alien. Kemunculan dua belas pesawat alien di muka bumi di awal film kemudian memicu pihak militer AS untuk merekrut Dr. Louise Banks, akademisi dan linguis terkenal yang dimainkan oleh aktris Amy Adams. Di sini kita menemukan plot yang lain dari yang lain. Sejauh ini kita kerap menyaksikan film-film bertema alien selalu dipenuhi atmosfer horor, teror, kengerian, dan pertumpahan darah. Skenarionya biasanya begini: Manusia bumi diculik ke pesawat alien lalu ditawan atau manusia bumi berlarian ke sana kemari akibat alien yang agresif dan sinting. Pokoknya alien digambarkan sebagai makhluk aneh, asing serta perusak. Harus dimusuhi dan dibasmi tanpa kompromi.

Namun, film yang didasarkan pada cerpen Ted Chiang berjudul “Story of Your Life” ini mengambil perspektif lain. Dikisahkan para alien ternyata juga bisa berwatak pasifis, alergi kekerasan, tidak invasif. Mereka pecinta kedamaian dan hadir tanpa menimbulkan kerusakan, untuk kemudian mengajak manusia bumi bekerjasama. Sebuah dekonstruksi sudut pandang bagi saya. Dan saya suka. Karena jika ada yang beda itu bisa membuat pikiran saya tambah kaya.

“Arrival” membahas mengenai linguistik dan lebih banyak lagi isu mengenai umat manusia dan bahasa yang mereka miliki. Kita belajar bagaimana manusia berkomunikasi dengan spesies lain dan bagaimana mereka membuatnya paham dengan bahasa kita atau membuat paham dengan bahasa mereka. Keduanya diperlukan agar proses komunikasi berjalan efektif.  Komunikasi dan interaksi antarspesies saya pikir yang menjadi intisari film ini. Melalui bahasa, diplomasi damai terlaksana. Dan jika proses komunikasi melalui bahasa ini berjalan mulus, perdamaian akan terpelihara. Hal ini membuat kita menengok kembali sejarah bahwa kebanyakan perang dipicu oleh ketidaksesuaian proses berkomunikasi. Ada yang salah dalam proses tersebut hingga pesannya tidak tersampaikan sempurna atau dipahami dengan kurang utuh atau terdistorsi. Atau bisa juga karena bahasa yang membuka peluang interpretasi yang majemuk. Contoh huru-hara akibat bahasa ialah unjuk rasa 4 November 2016 lalu. Semua kericuhan itu sebetulnya hanya mempermasalahkan bahasa yang dipakai seseorang dalam menyampaikan pesan sebenarnya yang ternyata membuka pintu interpretasi yang sangat peka bagi sebagian orang. Dan interpretasi yang berbeda-beda inilah yang membuat skala masalah kian meraksasa.

Sebagai gambaran singkat, linguistik ialah disiplin ilmu yang berfokus pada bahasa dan strukturnya. Layaknya sebuah pohon, linguistik memiliki banyak cabang lagi seperti fonetik yang mempelajari suara dan ujaran (speech) dalam aspek fisiknya, fonologi yang meneliti soal suara dalam aspek kognitif, morfologi yang menekankan pada proses pembentukan kata, sintaks yang menunjukkan pembentukan kalimat, semantik yang mempelajari makna, pragmatik yang meneliti penggunaan bahasa. Ini semua cuma beberapa saja yang paling banyak dikenal dan dipelajari orang. Cabang-cabang linguistik lainnya masih ada seperti linguistik sejarah, sosiolinguistik, psikolinguistik, ethnoliguistik (atau anthropologi lingustik), dialektologi, linguistik komputasional, neurolinguistik, dan sebagainya.

Kembali pada profesi Dr. Banks sebagai linguis, pada hakikatnya pekerjaan utama seorang linguis ialah mempelajari bagaimana bahasa bekerja. Dan upaya memecahkan makna bahasa yang belum dikenal seperti yang dilakukan Prof. Banks hanya secuil di antaranya. Tugas-tugas lain seorang linguis ialah mempelajari aspek neurosains dalam proses kerja suatu bahasa, bagaimana suatu bahasa berubah-ubah, bagaimana bahasa-bahasa berbeda bisa menjalankan fungsi yang sama, bagaimana anak-anak mempelajari kemampuan berbahasa mereka, bagaimana bahasa berhenti bekerja pada kondisi aphasia dan alzheimer’s, bagaimana manusia belajar bahasa dalam suasana kelas, dan sebagainya. Dan yang tidak kalah menarik ialah bagaimana bahasa bekerja dalam bidang profesi lainnya seperti politik. Linguis juga mempelajari fenomena-fenomena bahasa yang ada di masyarakat seperti kemunculan bahasa baru dan berhentinya perkembangan bahasa-bahasa kuno seperti Sansekerta dan Latin.

Para linguis bisa mencari nafkah dengan menjalani sejumlah pilihan pekerjaan. Kebanyakan memang menjadi akademisi dan pengajar seperti Banks yang diperankan Amy Adams, tetapi tidak terbatas pada itu.

Sebagian lainnya bekerja sebagai peneliti di instansi dan perusahaan. Bahkan perusahaan-perusahaan internet seperti Google, Yahoo, dan sebagainya juga mempekerjakan linguis. Ini agar bahasa yang dipakai dalam produk-produk mereka lebih ramah pengguna (user friendly) sehingga tidak membingungkan. Tanda sebuah produk mudah digunakan ialah kemudahan anak-anak atau remaja untuk mencerna instruksi-instruksi di dalamnya.

Linguis juga bisa menyusun kamus. Mereka diberi kewenangan untuk menentukan kata mana yang bisa masuk kamus atau tidak. Dan keputusan itu dibuat berdasarkan penelitian mendalam terlebih dulu. Bukan karena selera semata atau naluri.

Satu pekerjaan bagi linguis yang tergolong unik ialah pencipta bahasa baru bagi film-film Hollywood. Jika Anda pernah menonton film-film fiksi Hollywood dengan bahasa yang tidak pernah Anda jumpai di sudut bumi manapun (sebut saja “Avatar” dan “Game of Thrones”), itu adalah hasil kerja keras para linguis yang dileburkan dalam karya sinematik. Untuk meyakinkan bahwa bahasa itu adalah bahasa yang sama sekali asing dan baru bagi penonton, linguis ditugasi untuk menemukan dialek dan pelafalan yang berbeda. Dan diperlukan kedalaman pengetahuan dan sejarah bahasa di sini. Tidak bisa sembarang orang melakukannya

Pekerjaan-pekerjaan yang tipikal dilakukan oleh linguis ialah menjadi penulis buku dan kolom di media massa, pakar pelokalan (localization) bahasa, pemrosesan bahasa alami (alat penerjemahan bahasa seperti Google Translate), dan sebagainya.

Satu pekerjaan bagi linguis yang baru-baru ini mulai menjadi tren di bidang teknologi informasi ialah analis semantik/ big data. Sederhananya, para linguis turut membantu pakar komputer dan ahli statistik dalam menelaah lautan data digital demi mencari simpulan atau benang merah yang berharga untuk pihak tertentu.

Dalam bidang bahasa dan budaya, linguis juga bisa bekerja sebagai penerjemah, sebuah pekerjaan yang saya lakoni juga. Linguis di bidang ini juga dapat berkecimpung dalam proses dokumentasi dan revitalisasi bahasa-bahasa yang hampir punah. Indonesia menjadi surga bagi linguis yang tertarik dalam area ini karena kekayaan bahasa daerah kita yang tidak terkira.

Di bidang kesehatan, para linguis dapat menjalankan tugas membantu para pasien stroke, lansia dan anak-anak dengan kesulitan bicara. Linguis juga bisa membantu diagnosis gangguan atau kelainan atau penyakit tertentu pada pasien. Itu karena masing-masing penyakit misalnya Alzheimer’s, stroke, skizofrenia, depresi, dan sebagainya memiliki karakteristik gangguan kebahasaan yang unik. Jadi, nantinya linguis akan bisa juga menentukan penyakit orang berdasarkan ucapannya.

Untuk mempelajari bagaimana bahasa bekerja, linguis mengumpulkan data bergantung pada sasaran penelitiannya, kemudian menganalisis dan melaporkan data yang terkumpul. Lain dari penelitian akademis di Indonesia yang begitu rampung tidak diikuti dengan tindak lanjut nyata (atau cuma teronggok di rak perpustakaan kampus), seorang linguis tidak berhenti kerjanya setelah menyusun laporan. Ia perlu menyarankan tindakan selanjutnya setelah sebuah simpulan dari penelaahan data tercapai. Perubahan ini diharapkan bisa mengubah kondisi menjadi lebih baik, entah itu memodifikasi cara penanganan pasien gangguan bicara, pemilihan kata dalam sebuah situs daring, pemilihan nama yang tepat bagi sebuah perusahaan agar citra yang terbangun sesuai keinginan,  dan sebagainya.

Di samping itu, linguis perlu memperkaya khasanah pengetahuannya dengan banyak membaca dan mengamati. Pengetahuan mereka mengenai bahasa bisa diperkaya dengan mengujungi laman daring dan jurnal ilmiah yang khusus berkaitan dengan linguistik atau bidang ilmu lain yang relevan. Publikasi ilmiah yang menjadi bacaan lumrah bagi para linguis ialah Nature , Science sampai Journal of the Acoustical Society and of America serta Cerebral Cortex.

Profesi linguis akan selalu dibutuhkan oleh umat manusia, tidak peduli ia diakui secara formal atau tidak sejak dulu sampai sekarang. Dan jika Anda memiliki keinginan untuk menjadi linguis, jangan tunggu sampai alien datang ke bumi. Mulai belajarlah bahasa dari sekarang! (*)

Penerjemahan Karya Sastra, Pekerjaan Rumah Berlimpah bagi Indonesia

Ada hal yang menggelitik tatkala Wakil Pimpinan Frankfurt Book Fair Claudia Kaiser menyampaikan kritik transparannya mengenai proses kerjasama dengan pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), yang menurutnya berjalan sangat lamban. Kaiser menyatakan dengan nada kritis, yang segera dihentikan oleh editor John H. McGlynn dari Yayasan Lontar yang tampil bersamanya hari itu (22/3/2015) dalam diskusi “The Role of Literary Translation” dalam rangkaian Asean Literary Festival 2015 di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki. Meskipun interupsi McGlynn itu disampaikan dengan mimik muka bercanda, saya tahu hal yang Kaiser coba untuk sampaikan mungkin bisa disalahartikan oleh sebagian pihak dan berdampak pada kerjasama nantinya.

Desliana Maulipaksi telah menuliskan laporan selayang pandangnya yang berjudul “Pentingnya Program Penerjemahan Karya Sastra Suatu Negara” di Kemdikbud.go.id. Dan kini saya akan melengkapi reportasenya itu, bukan dengan sudut pandang birokrat atau pihak luar/ asing yang bekerjasama dengan birokrat, tetapi lebih sebagai bagian dari kelompok akar rumput alias rakyat yang mencemaskan kemajuan susastra negerinya di tingkat dunia.

Kaiser mengaku pemerintah Indonesia saat itu memiliki minat yang besar dalam berpartisipasi dalam Frankfurt Book Fair. “Tetapi kami katakan dibutuhkanwaktu setidaknya 3 tahun untuk mempersiapkan diri dengan baik,” sarannya pada kementerian. “Kami pun banyak menelepon, bertukar surel, dan kami menunggu selama 2 tahun. Akhirnya kami putuskan kami tak bisa menunggu lebih lama. Saat kami sudah berhenti berharap, nota kesepahaman diteken tiba-tiba. Namun, (persiapannya) sudah terlambat. Akhirnya hanya ada waktu 2 tahun untuk bersiap-siap.”

Masih kata Kaiser, program pendanaan penerjemahan juga menemui aral. Perubahan dari pihak pemerintah Indonesia terjadi terus menerus bahkan setelah jadwal dan linimasa sudah ditetapkan sebelumnya oleh pihak Frankfurt Book Fair.

McGlynn bukannya tidak mengkritik sama sekali. Tinggal di Indonesia puluhan tahun membuatnya tahu bagaimana menyampaikan kritik dengan lebih ‘Indonesia’, lain dari cara Kaiser yang lebih ‘Aryan’. Ia turut memberikan masukan mengenai kurangnya perhatian pemerintah pada perkembangan dunia susastra di sini. “Sudah banyak festival sastra di Indonesia, itu bagus. Akan tetapi untuk menghadiri acara-acara itu pun para penulis dan penerbit masih belum didukung oleh pemerintah. Tidak ada anggaran yang teralokasikan secara khusus untuk mendanai kegiatan para penulis dan penerbit untuk memperkenalkan karya-karya di festival sastra,” ujar McGlynn.

Selama ini, masih kata McGlynn, para penulis harus menggunakan kenalan mereka di dalam lingkaran birokrasi. Mereka yang diberangkatkan biasanya adalah para pegiat sastra yang dikenal kalangan pemerintah juga. Jika tidak dikenal, pupus sudah harapan untuk diajak.

McGlynn menyarankan pemerintah untuk merealisasikan rencana besar (grand plan) khusus bagi pegiat sastra di Indonesia agar mereka makin dimudahkan dalam berkarya dan memperkenalkan karya-karya mereka. Bertahun-tahun lalu saat McGlynn memulai karirnya sebagai penerjemah, digagas sebuah program penerjemahan sastra ke bahasa-bahasa negara Asean. Dan ia menegaskan ini bukan proyek yang bersifat komersial. “Siapapun yang memberikan uangnya untuk proyek ini akan kehilangan uangnya itu,” tegas McGlynn terus terang.

“Karena itulah diperlukan peran pemerintah,” timpal Kaiser dengan gemas sedetik setelah McGlynn berbicara.

Di Indonesia, peran pemerintah memang tidak bisa diabaikan. Namun, sebuah kebodohan untuk menunggu pemerintah mengatasi semua tantangan di lapangan secara otomatis dalam waktu secepatnya.

Untungnya, pihak swasta juga sudah menunjukkan kepeduliannya. “Ada sebagian kalangan swasta yang sudah menunjukkan kepeduliannya,” katanya. Lagi-lagi, tidak ada skema insentif yang dapat mendorong korporasi swasta Indonesia untuk secara kontinu menjadi penyandang dana proyek-proyek penerjemahan. Buktinya, tidak diberikan pemotongan terhadap jumlah pajak yang dibebankan pada perusahaan-perusahaan yang menyumbang di proyek-proyek penerjemahan karya sastra. McGlynn menjelaskan,”Diperlukan adanya struktur pajak yang memberikan keuntungan bagi korporasi swasta yang bersedia memberikan sumbangsih bagi keberlangsungan institusi-institusi budaya. Anda bisa mendapatkan insentif pajak untuk olahraga di Indonesia, tetapi tidak untuk sastra.” Skema insentif pajak semacam itu sudah terbukti sukses di Amerika Serikat dan negara-negara lain. Inilah yang menjadi pekerjaan rumah kita semua.

Jerman juga mengalami tantangan yang sama. Menurut Kaiser, minat korporasi swasta di negerinya untuk mendanai program penerjamahan karya sastra masih rendah karena mereka lebih mengutamakan visibilitas brand. Karenanya, mendukung sebuah acara olahraga akan lebih menguntungkan daripada mendukung program sastra, tandas wanita yang menguasai bahasa Mandarin itu. Kalaupun ada proyek penerbitan yang didanai, lanjutnya, buku hasil pendanaan biasanya bertema sejarah perusahaan yang memberikan pendanaan.

Inilah Proses Produksi Buku Terjemahan

Ingin tahun bagaimana sebuah buku terjemahan bisa dihasilkan? Berikut penjelasannya, seperti saya kutip dari penjelasan penerjemah fiksi berpengalaman Dina Begum.

Akuisisi

Dalam tahap pencarian naskah, editor akuisisi mencari naskah asli bahasa asing. Bila dianggap bagus dan lisensi menerbitkannya ke bahasa Indonesia tersedia, naskah dibawa ke rapat redaksi. Di rapat redaksi, rapat ini biasanya juga diikuti pihak marketing dan keuangan dan membahas prediksi penjualan naskah, apakah akan diterima konsumen atau tidak. Memasuki tahap negosiasi, bila naskah disetujui, editor akuisis menghubungi agen atau penerbit naskah untuk memperoleh lisensi menerbitkannya ke bahasa Indonesia.

Editorial

Selama proses penerjemahan, editor menunjuk penerjemah yang akan menggarap naskah. Penrjemah menerima Surat Perintah Kerja (SPK) dari penerbit dan bekerja sesuai dengan tenggat waktu yang disepakati. Pengeditan 1, editor mengedit naskah. Setelah selesai, naskah dikirim ke bagian tata letak (setter). Untuk tata letak, setter mulai mengatur tata letak dan menghasilkan cetak coba (pruf/ proofreading). Kemudian editor membaca cetak coba (pruf) untuk memeriksa apakah ada kesalahan dalam ejaan, tanda baca, tata letak, dan sebagainya. Tahap ini bisa berlangsung 3-4 kali. Naskah yang telah melalui tahap tata letak dan baca pruf akan kembali ke editor untuk disunting lagi secara keseluruhan sebelum diserahkan ke bagian produksi.

Produksi

Pembuatan sampul buku dan ilustrasi. Tahap ini biasanya berlangsung simultan dengan tahap-tahap di atas. Setelah itu, naskah yang sudah rampung dikirimkan ke percetakan. Untuk waktu pencetakan bisa beragam. Jika sudha tercetak, buku-buku akan didistribusikan ke berbagai tempat agar dapat dibeli konsumen. Sejumah salinan/ eksemplar buku akan dikirim juga ke pemegang lisensi buku asli dan penerjemahnya (sebagai bukti bahwa buku terjemahannya sudah diterbitkan).

Tips untuk Penerjemah agar Tetap Dilirik Penerbit

Penerjemahan selalu terkait dengan tenggat waktu. Semua selalu dilakukan dengan berpatokan pada durasi pengerjaan padahal kerumitannya juga mungkin tak kalah tinggi.  Penerjemah harus mempertahankan tingkat akurasi hasil penerjemahannya dan tetap berpacu melawan waktu.

Selama ini saya selalu berpikir bahwa penerjemahan yang berkualitas haruslah yang dikerjakan dengan penuh ketelitian dan karena itu tidak bisa diburu-buru. Tetapi sebuah sudut pandang lain diberikan oleh Maria E. Sundah, salah satu penerjemah kawakan Himpunan Penerjemah indonesia. Ia beralasan sebuah proses penerjemahan harus dilakukan dengan cepat berdasarkan pertimbangan tersendiri, yaitu karena jika dilakukan terlalu lama, buku yang diterjemahkan sudah tidak in lagi alias sudah basi. Ini bisa dipahami karena sekarang buku-buku baru selalu bermunculan di rak toko buku dan etalase e-bookstore dalam kecepatan yang lebih tinggi.

Maria kembali memberikan ‘bocoran’ tentang bagaimana menjadi penerjemah idaman penerbit. Menurutnya, penerjemah harus sudah familiar dengan buku-buku terbitan penerbit yang bersangkutan. Itu karena setiap penerbit memiliki gaya yang berbeda-beda. Dengan memahami gaya mereka yang khas, peluang untuk mengerjakan dengan lebih baik sesuai keinginan penerbit juga akan lebih tinggi dan waktu yang dihemat untuk menyunting juga lebih banyak.

Masih tentang penghematan waktu, Maria juga mengatakan perlunya kemampuan penerjemah menghasilkan teks sasaran yang (almost) zero-defect alias (mendekati) sempurna.  Apa hubungannya teks hasil yang akurat dan penghematan waktu? Maria berargumen, “Dengan menghasilkan teks yang zero defect, penyunting akan membutuhkan waktu lebih pendek untuk memperbaiki naskah dan akhirnya buku akan lebih cepat diterbitkan.” Sangat masuk akal.

Belajar 'Ilmu Monyet' dalam Penerjemahan

Ilmu monyet dalam menerjemahkan? Aliran dan jenis ilmu apa itu? Mungkin ini pertama kali Anda menemukan istilah aneh ini. Akan tetapi, itulah terminologi khusus Maria E. Sundah, seorang pakar dan praktisi penerjemahan yang terlontar dalam perbincangan santai kami siang itu di acara Kopi Darat anggota Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI) yang bertempat di Kafe Dedaunan, Kebun Raya Bogor, 12 Maret 2013 yang lalu.

Ilmu monyet Maria gunakan untuk merujuk pada kiat yang menurutnya sangat efektif memecahkan teks yang sebelumnya ia tak begitu pahami karena tingkat pemahamannya yang kurang di disiplin ilmu yang berkaitan dengan teks tersebut. “Saat di kelas (pen- Maria dulu bekerja sebagai pengajar di Universitas Indonesia) dulu saya selalu ngomong ilmu monyet. Niruuu!” celetuk Maria yang diiringi gelak tawa kami semua yang mendengarkan paparannya dengan  seksama. Sebenarnya ia belum memberikan uraian pengalamannya di penerjemahan kuliner di sesi berbagi kepada semuanya tetapi di percakapan santai kami ini pun banyak ilmu bertebaran yang bisa dituai.

Mari berkata, pernah ia harus menerjemahkan teks bertema sosiologi. “Padahal saya tidak terlalu mengerti sosiologi,” ujarnya. Solusinya menurut Maria ialah seorang penerjemah harus tidak segan untuk banyak membaca dan melakukan riset sendiri. Caranya meriset ini cukup sederhana, hanya dengan banyak membaca teks-teks sosiologi dalam bahasa Indonesia (atau bahasa lain yang relevan) dengan tujuan untuk mengakrabkan otak dengan istilah-istilah serta jargon yang digunakan dalam disiplin ilmu sosiologi. Dengan membaca kita juga secara perlahan memahami cara gagasan dituangkan dalam teks-teks bertema sosiologi. “Kita jadi tahu cara ngomong mereka. Kita juga menebak-nebak arti istilah-istilah asing dalam teks,” paparnya. Internet juga membantu untuk memeriksa akurasi, dengan menggunakan Google Translate, kamus online berbagai bahasa, dan situs layanan kamus elektronik lain yang lebih spesifik. Dengan demikian, kita bisa mengetahui lumrah tidaknya, lazim tidaknya, berterima tidaknya hasil penerjemahan kita nantinya karena percuma saja jika kita sudah bekerja keras menerjemahkan tetapi akhirnya pembaca hasil terjemahan kebingungan karena semua istilahnya aneh dan sama sekali asing di telinga mereka mesti itu disajikan dalam bahasa ibu mereka.

Seorang penerjemah yang baik, menurut Maria, harus bisa mempertanggungjawabkan hasil penerjemahannya dan itu berlaku untuk semua teks, fiksi atau non-fiksi. “Penerjemah harus memiliki simpati pada pembaca terjemahannya, sehingga ia tidak bekerja asal-asalan, karena pembaca tidak memiliki ‘kemewahan’ untuk membaca dan memahami teks sumber,” tandas Maria.

Free Download Trados 2011 (Trial Version)

 For any of you who really want to give Computer Assisted/ Aided Translation tools (CAT) a try,  maybe you need to download and use this before making a purchase.

Here is the link:  http://www.mediafire.com/?gnt2ktfai1c6s. Hope it doesn’t get blocked because in some of my connection the file sharing service sites like mediafire get blocked.

Clue: After downloading all the files in the folder on Mediafire, click twice disk1.exe to unite all the separate files. Trados Studio 2011 and Multiterm 2011 will be of great help for a professional translator or a pro translator wannabe like me.

Happy downloading…

Thanks to Arfan Achyar, my fellow translator for providing the link above.

Pusat Penerjemahan Sastra: Impian Eliza Vitri Handayani, Penerjemah dan Masyarakat Sastra Indonesia

Dari kiri ke kanan: Penerjemah David Colmer, penggagas InisiatifPenerjemahanSastra.org Eliza Vitri Handayani, penerjemah Kari Dickson dan penerjemah bahasa Inggris-Norwegia Kate Griffin

Saat saya masuki aula besar di atas galeri seni di Erasmus Huis Sabtu pukul 7 lewat 15 menit malam kemarin (13/10/2012), suasana khidmat terasa. Ruangan yang besar tersebut tidak terisi penuh. Kursi di bagian depan cuma terisi satu dua orang. Hampir setahun lalu saya juga pernah berada di sini, untuk menonton film pemenang ajang SBM Golden Lens Award di bulan November 2011. Sangat berkesan.

Malam kemarin juga tak kalah berkesan. Saya bertemu teman yang selama ini hanya bersua secara virtual di Facebook dan blog, Dina Begum. Teman-teman baru sesama penerjemah juga banyak bertebaran di seantero ruangan sampai saya bingung harus memilih meredam gesekan usus yang masih kosong atau berkenalan dengan sebanyak mungkin orang di kesempatan langka malam itu. Cuma sempat berkenalan dengan Budi Suryadi yang membuat kami tergelak dengan lelucon angsa dan kuda nil di tengah danau dan Asep Gunawan yang mengira saya masih lulusan  baru.

Eliza Vitri Handayani malam itu membuka acara pembacaan hasil penerjemahan karya sastra penulis Gustaaf Peek dari Belanda dan Kjesrti A. Skomsvold dari Norwegia. Wanita muda penggagas InisiatifPenerjemahanSastra.org itu menyampaikan pidato pembukaan dengan fasih di hadapan peserta lokakarya penerjemahan sastra yang telah berlangsung selama 5 hari sebelumnya, para pembicara dan sejumlah pemerhati dunia penerjemahan di tanah air. Kalangan penerbit dan badan lain yang menaruh minat pada penerjemahan juga menyempatkan hadir.

Eliza tampak sibuk melayani percakapan dengan tamu lain sehingga saya harus berpikir beberapa kali untuk menemukan cara menyela obrolannya dengan orang lain. Terus terang saya bukan orang yang suka menyela. Itu salah satu hal yang paling tidak berbudaya menurut saya.  Dan sekonyong-konyong, saya terkejut saat Eliza menghampiri saat saya menundukkan pandangan untuk berfokus pada makanan di piring yang sudah hampir tandas. Mungkin ia dengan sengaja menghampiri semua orang di ruangan ini. Peluang emas, pikir saya. Saya bombardir saja dengan pertanyaan-pertanyaan spontan. Inilah cuplikan singkat wawancara impromptu saya dengan Eliza.

 

Apa tujuan utama diadakannya lokakarya ini?

Tujuannya sebagai alat pengembangan kompetensi penerjemah. Berdasarkan wawancara dengan penerjemah, editor dan penerbit, saya temukan 3 kendala utama dalam dunia penerjemahan di tanah air yakni: kompetensi penerjemah, kondisi kerja di penerbitan, dan rendahnya apresiasi terhadap karya terjemahan. Dan tahun ini tujuan acara ini (lokakarya penerjemahan di Erasmus Huis) adalah untuk memecahkan masalah-masalah tersebut. Pertama, meningkatkan kompetensi penerjemah dengan mengadakan lokakarya, seminar, membahas kondisi kerja dan acara umum seperti ini untuk mengangkat profil penerjemah. Apalagi mereka jarang diundang. Jika diundang pun, penerjemah jarang diberikan kesempatan berbicara di depan. Di sini, mereka diwawancarai dan diberikan kesempatan berbicara.

Orang juga perlu menyadari bahwa proses penerjemahan karya sastra itu tidak hanya baca karyanya lalu mengetik, atau menbuka kamus dan tinggal memasukkan arti kata. Prosesnya sangat rumit.

Ada alasan khusus mengapa memilih karya sastra dari Norwegia dan Belanda untuk lokakarya tahun ini?

Sebenarnya bisa dari mana saja karena kebetulan saya tinggal di Norwegia separuh tahun dan (kita memilih) Belanda karena kita memiliki hubungan sejarah yang kuat dan dukungan praktisnya juga karena mereka juga memiliki lembaga tersendiri untuk mendukung penerjemahan karya-karya sastra mereka.

Apakah benar apresiasi terhadap hasil penerjemahan karya sastra lebih rendah dibandingkan terhadap karya aslinya?

Saya pikir tidak. Hanya banyak yang kurang percaya dengan terjemahan bahasa Indonesia sebab banyak orang berpikir dengan kemampuan berbahasa Inggris sedikit, orang sudah bisa menerjemahkan, banyak buku yang tidak diedit, penerbit cuma mengejar tenggat waktu untuk merilis buku, dan banyak pembaca yang bisa membaca bahasa Inggris. Jadi mereka tidak percaya dengan hasil terjemahan dalam bahasa Indonesia.

Mengapa memilih karya Gustaaf Peek?

Ada berbagai pertimbangan yang tidak hanya dari kita tetapi juga dari donor. Gustaaf belum menerjemahkan karyanya ke bahasa Inggris, kita ingin karyanya bisa diterjemahkan ke bahasa Inggris dan lainnya. Dan karena karyanya menarik.

Dalam lokakarya dilakukan penerjemahan secara relay (dari bahasa Norwegia –> Inggris –> Indonesia). Apakah dengan cara ini risiko kesalahan justru akan makin tinggi?

Betul, biasanya memang demikian. Tapi kita berusaha mengatasi itu dengan mendatangkan penulis aslinya dan penerjemah asal. Saya dengan berat hati mengadakan penerjemahan relay tetapi tidak merekomendasikan relay translation tanpa partisipasi penerjemah pertama.

Apakah nanti jika penerjemah Indonesia membutuhkan bantuan untuk menghubungi penulis atau penerjemah pertama, apakah akan dibantu?

Ya, jika kami nanti sudah menjadi sebuah pusat penerjemahan sastra di Indonesia. Sekarang pun jika kami bisa membantu, akan kami bantu.

Seberapa perlu penerjemah karya sastra memahami konteks sosial budaya yang menjadi latar belakang karya sastra?

Itu juga perlu, seperti tadi saat membahas keadaan cuaca di Norwegia yang tidak bisa ditemui di Indonesia. Unsur pakaian juga. Dengan menghadirkan penulis, kita bisa mengetahui semua itu, bagaimana rasanya memakai pakaian itu.

Itu kalau penulisnya masih ada, jadi proses penerjemahan lebih lancar karena masih bisa berdiskusi. Bagaimana jika penulisnya sudah meninggal?

Tujuan lokakarya ini bukan supaya kita menjadi lebih tergantung pada penulis. Kita tidak selalu memiliki kesempatan untuk bertukar pikiran dengan penulis. Ini hanya sebagai cara untuk membaca teks lebih dekat. Karena penulis juga sebisa mungkin ingin memasukkan semua yang ingin ia sampaikan ke dalam teks.

Untuk tahun-tahun mendatang, apa yang akan dilakukan setelah penyelenggaraan lokakarya penerjemahan karya sastra ini?

Kita memiliki ide untuk memberikan penghargaan bagi buku terjemahan karya sastra terbaik karena belum ada yang khusus mengapresiasi terjemahan sastra sampai sekarang. Padahal itu ada prosesnya dan seninya sendiri.

Kira-kira kapan realisasinya?

Pinginnya tahun depan.

Sudah melobi pihak apa saja untuk realisasi ini?

Rahasia dulu deh. Haha.

Tapi secara umum, apakah antusiasmenya sudah ada terhadap apresiasi terjemahan karya sastra?

Sudah. Secara umum saja, dari Festival Sastra. Sebab itu pesta, kita memberi anugerah untuk merayakan pencapaian jadi alangkah baiknya kalau di Festival Sastra. Jadi akan ada banyak penonton sehingga suasananya meriah. Pihak lain ialah organisasi yang tertarik dalam bidang penerjemahan, media yang banyak bergerak di bidang penerjemahan.

Apakah tahun depan diadakan lagi lokakarya seperti ini?

Sedang direncanakan. Kalau bisa dari bahasa-bahasa Asia.

Apakah ada rencana untuk memberikan lokakarya tetapi yang melibatkan bahasa-bahasa lain yang tidak sepopuler bahasa Inggris?

Ada. Tantangannya akan lebih sulit mencari pesertanya. Tetapi itu memang harus ditumbuhkan seperti misalnya yang sekarang di lokakarya yang langsung dari bahasa Belanda, kan kebanyakan dosen atau pengajar bahasa dan itu memiliki kesulitan sendiri karena mereka belum tentu memiliki kemampuan menulis yang baik tapi di sisi lain kita harus tumbuhkan minat mereka untuk menerjemahkan karya sastra Belanda.

Bagaimana dengan kualitas para penerjemah kita?

Banyak yang sudah hebat seperti para pembicara di lokakarya tadi. Tapi banyak juga yang lain yang masih perlu ditingkatkan.

Wawancara pun harus berhenti karena dua teman Elisa menghampiri dan mengajak mengobrol sejenak untuk berpamitan dan mengucapkan dukungan terhadap inisiatifnya mendirikan pusat penerjemahan sastra pertama di Indonesia. Saya pun mempersilakan padanya untuk menyantap makanan yang sudah diambil sebelum saya memberondongnya dengan pertanyaan.

Semoga impian Eliza, yang juga impian kita semua, akan terwujud dengan lancar segera!

 

 

A Feast of Translators' Souls at Erasmus Huis Jakarta (Photo Albums)

I was having a great time at Erasmus Huis #Jakarta , attending a celebration for translators of literary works. On stage the translators and the author of the translated work collaborated to read the original text and translation result as well as to bring the scene to life.

The long haired tall slender guy is Gustaaf Peek,an award winning author from the Netherlands,whose work titled ‘Dover’ is translated in the lit works translation workshop by the participants. And standing by his side,a blonde English lady named Kate Griffin who specializes in intl literature translated into English.

The workshop is an initial step towards an Indonesian literary translation centre,says Eliza Vitri Handayani the founder and director of InisiatifPenerjemahanSastra.org.

An interesting compilation of lit works and photos published by Lontar Foundation. Lontar is a tree whose leaves were used to write on. Lontar to Indonesia is like papyrus to Egypt. It’s what brought our ancestors to the higher civilization, historic age.

Simultaneous translation is such a pain for speakers,translators and listeners. Many distortions of meaning are found here and there unless the translators are actively involved in each and every progress of a given subject matter.

An impressive performance of a passage from Gustaaf Peek’s “Dover” by 3 female translators from Semarang. Mr. Peek himself said the depiction and translation process gave him a different fresh perspective on his own writing. He reckoned “Dover” too horrifying, and kidded “Who wants to watch such a horrifying movie?” as he explained his novel will be filmed.

The panel discussion last night: look at Arif Bagus Prasetyo, the man sitting at the right end. Isnt he an impersonator of mr @budionodarsono  (CEO and founder of Detik.com) ?

It is not a pricey wealth seminar that can bring me a great deal of money but this is something I’d really like doing even if I already have everything in life: arts and languages.