My Portfolio [as of February 2018]

Here is a collection of my published works in various media, both print and online. Some are written in Indonesian and some others English. They’re chronologically ordered, from most recent to oldest. Click on the titles of article to read further.

February 2018

“Indonesia’s Top Foreign CEOs 2018” Book

With Pieter Daniel Van Zyl of Allianz Utama

With Marc Louette of Sampoerna Agro

December 2017 

Perjalanan 3 Dekade Nurhayati Rahman Lunasi ‘Utang’ La Galigo [Magdalene.co]

November 2017

One of Writers of “Indonesia’s Top CEOs 2017” (Warta Ekonomi)

August 2017

Writer of Art Republik Magazine (3rd edition)


August 2017

Co-facilitator at Social Media Workshop (August 8th, 2017) for Itjen Kemenkes’ public relations division

 

July 2017

A keynote presenter  and facilitator at Social Media Workshop (July 27th, 2017) for Itjen Kemdikbud’s public relations division

 

A keynote presenter  and facilitator at Social Media Workshop (July 27th, 2017) for BPKP public relations division

 

June 2017

Translator of “Ensiklopedi Suku Bangsa Indonesia” by Zulyani Hidayah (funded by LitRI and to be published by Springer, Singapore)

October 2016

Runtuhnya Wibawa Pusat Bahasa

 

September 2016

Penulis, Pajak dan Kesejahteraan [Detik.com]

Mengapa Entrepreneur Perlu Lebih Skeptis Saat Membaca Biografi Orang ‘Sukses’

 

Kenapa Seks Sehat bagi Wanita Tapi Bisa Memperpendek Umur Pria?

August 2016

Jebakan Kuantitas dalam Inkubasi “Start-up”

April 2016

Kintamani Bali Dog (as editor)

 

January 2015

One of authors in “Menemukan Makna, Merayakan Cinta” (Yoga-themed collection of writeups)

October 2014

Writing for YogaInIndonesia.com. (click to read the article)

January 2013

Featured on Tabloid Nova as social media officer of @ciputraway (which I initiated in August 2010)

 

 

Parpol di Pemilu 2019: Memang Masih Bisa Dipercaya?

M.U.A.K.

Cuma itu satu kata dari saya setelah selama ini mengikuti bagaimana perkembangan politik Indonesia beserta tingkah polah petinggi-petinggi parpol, DPR, dan segerombol politisi yang sudah menjabat sebagai kepala daerah dan tertangkap tangan KPK.

Jarang saya mau berbicara soal politik apalagi mengomentari polah ‘badut-badut’ di dalamnya. Karena tidak akan ada habisnya dan saya memiliki pekerjaan yang lebih penting daripada duduk membaca berita politik lalu berkomentar sinis soal perilaku politisi X atau munafiknya pejabat Y.

Di satu sisi saya juga sadar bahwa saya harus ikut berpartisipasi dalam pemilihan umum nanti. Bahwa saya memiliki kekuatan – meski demikian kecilnya – untuk membantu bangsa ini mencapai perubahan.

Hanya saja di sisi lain saya tahu benar bahwa saya tidak boleh membuat kesalahan yang sama. Apakah itu? Memilih parpol yang sama di masa lalu dan sudah terbukti tidak mampu menunjukkan kinerja tetapi malah haus kekuasaan, korup, busuk, dan mengkhianati rakyat yang sudah memilih.

INTINYA: Saya tidak bisa dan jangan sampai menjadi golput!

“Baiklah, kalau kesadaran itu sudah ada lalu bagaimana selanjutnya?” Tanya sebuah suara dalam tempurung kepala.

CORET DAN BLACKLIST PARPOL-PARPOL YANG SUDAH KAMU KENAL SELAMA INI.

Saya sangat amat percaya bahwa kita tidak bisa menyelesaikan masalah dengan menggunakan pola pemikiran dan orang-orang yang sama dalam membuat masalah.

Dengan kata lain, parpol-parpol dari rezim-rezim sebelumnya itu sudah memfosil dan tidak layak pilih. Sukar mengharapkan mereka membantu bangsa dan negara ini keluar dari masalah karena: MEREKA JUGA BAGIAN DARI MASALAH!

Selanjutnya, setelah menyingkirkan parpol-parpol yang sudah memiliki rekam jejak kotor di masa lalu, kita beralih pada tahap seleksi selanjutnya yakni: apakah parpol-parpol baru yang tersisa ini digawangi atau diperkuat oleh sekelompok barisan pecundang politik yang sakit hati karena kekalahan masa lampau dan mencoba peruntungan sekali lagi untuk berebut tampuk kekuasaan?

Karena itu, marilah duduk sejenak menyeleksi parpol-parpol yang akan bertanding tahun 2019 nanti.

Berikut sedikit data untuk menentukan pilihan yang saya temukan di sampul Koran Tempo tanggal 19 Februari 2018.

  1. Partai Kebangkitan Bangsa

Berdiri: 23 Juli 1998

Ketum: Muhaimin Iskandar

2. Partai Gerakan Indonesia Raya

Berdiri: 6 Februari 2008

Ketum: Prabowo Subianto

3. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan

Berdiri: 1 Februari 1999

Ketum: Megawati Soekarnoputri

4. Partai Golongan Karya

Berdiri: 20 Oktober 1964

Ketum: Airlangga Hartato

5. Partai Nasional Demokrat

Berdiri: 26 Juli 2011

Ketum: Surya Paloh

6. Partai Gerakan Perubahan Indonesia

Berdiri: 16 April 2015

Pendiri dan ketum: Ahmad Ridha Sabana

7. Partai Berkarya

Berdiri: 15 Juli 2016

Ketum: Neneng Tutty

Pendiri: Tommy Soeharto

8. Partai Keadilan Sejahtera

Berdiri: 20 April 2002

Presiden: Mohamad Sohibul Iman

9. Partai Persatuan Indonesia

Berdiri: 7 Februari 2015

Pendiri dan ketum: Hary Tanoesoedibjo

10. Partai Persatuan Pembangunan

Berdiri: 5 Januari 1973

Ketum: Muhammad Romahurmuziy

11. Partai Solidaritas Indonesia

Berdiri: 16 November 2014

Pendiri dan ketum: Grace Natalie

12. Partai Amanat Nasional

Berdiri: 23 Agustus 1998

Ketum: Zulkifli Hasan

13. Partai Hati Nurani Rakyat

Berdiri: 14 November 2006

Ketum: Oesman Sapta Odang

14. Partai Demokrat

Berdiri: 9 September 2001

Pendiri dan ketum: Susilo Bambang Yudhoyono

Yang mana pilihan Anda? Kalau saya sih RAHASIA. (*/)

“Bisik-bisik”: Storytelling ‘Telanjang Bulat’

Buku ini diberikan oleh penulisnya pada saya di suatu pagi sehabis yoga di Taman Suropati tahun 2013 (mungkin). Reda Gaudiamo, penulis yang juga penyanyi itu, mengamati mata saya dulu setelah saya setengah merengek,”Mbak, minta bukunya…”

Duh, setelah beberapa waktu saya sadar betapa norak permintaan itu. Seharusnya saya membelinya saja untuk mendukung proses kreatifnya. Pemikiran ini baru tercetus setelah saya lebih serius menjadi penulis. Okelah jika saya mau memberikan tulisan atau hasil karya intelektual secara gratis. Namun, bila ada orang yang secara sukarela berkata ia akan membarter karya saya dengan sejumlah uang, itu memupuk kepercayaan diri saya dalam berkarya. Sungguh. Di antara pembajakan yang tidak ada habisnya di Indonesia ( secara global juga tetapi di sini tergolong parah sekali), apresiasi semacam itu sungguh tiada ternilai. Jadi, kalau saya harus bicara pada diri saya di masa lalu yang merengek minta buku gratis itu, saya akan sergah,”Penulis juga butuh makan woy!!! Lagian lo pikir royalti dari buku itu senilai saham bluechip apa? Banyak dan ngalir terus?” Ya, kalau Indonesia sebagus itu sistem penerbitan dan regulasinya, bakal ada banyak penulis kaya raya dan tidak akan ada Tere Liye yang tempo hari menyemburkan ‘api’ kesumatnya ke seantero negeri terutama para aparat pajak yang memajakinya tanpa ampun.

Baiklah, kembali ke buku Reda.

Buku ini saya katakan kocak dan ringan tapi juga bermakna. Gaya ceritanya unik sebab pembaca tidak akan disuguhi narasi yang bertele-tele. Cerpen-cerpen di dalamnya disajikan secara minimalis. Cuma dialog yang akan pembaca temui dan nikmati.

Tanpa narasi, kerja pengarang juga lebih cepat sebetulnya. Ia tidak perlu menyusun kata-kata indah dan sastrawi untuk merekatkan dialog-dialog. Alasannya mungkin karena pengarang hendak merangsang daya imajinasi pembaca. Ia biarkan pembaca menebak-nebak siapa di balik setiap baris kalimat itu. Dan ini sangat amat mengasyikkan bagi saya.

Karena cuma ada dialog, jalan cerita juga mengalir begitu saja. Alami pokoknya. Tidak ada yang direkayasa terlalu pelik. Isi obrolan ialah isu-isu keseharian yang membumi. Bukan masalah semacam hidup mati atau apakah tujuan hidup dan bagaimana kehidupan pasca kematian. Kumcer ini, maka dari itu, bersifat amat ringan dan menghibur.

Tantangannya muncul begitu karakter ada lebih dari tiga. Selain pengarang kesulitan untuk menuangkannya, pembaca juga harus lebih jeli menerka-nerka.

Setelah menelusuri buku berukuran saku setebal 155 halaman yang bisa dihabiskan sekali duduk di kafe atau perpustakaan ini, saya selalu membayangkan Reda ke mana-mana dengan membawa perekam suara di kantong bajunya. Atau kalau tidak, ia memiliki kemampuan mengingat lontaran-lontaran menggelitik dari orang-orang yang ia jumpai yang kemudian ia bisa pakai di kumpulan cerpen alias kumcer ini.

Bagi Anda yang ingin menikmati kumcer bergaya unik ini, cobalah buka aplikasi email di ponsel Anda dan ketik beberapa patah kata lalu kirimkan ke redagaudiamo@yahoo.com. Siapa tahu masih banyak buku di gudang penerbitnya. Dan tentu jangan merengek di surel untuk mendapatkannya secara cuma-cuma. Dukunglah para penulis kita untuk berkembang. (*/)

Culinary Diplomacy

After living under the same roof for more than eight years (with other lodgers of course), mr Ahn and I have gradually forged a sort of cultural exchanges. At multiple times, we not only exchange stories but also foods.

I was introduced to kimchi, quite traumatizingly, in one afternoon. For Indonesians like me who hardly ever enjoyed fermented (almost rotten) foods except terasi and tempeh throughout our life span, eating kimchi is pretty much like munching some long-kept vegetables in the home refrigerator is foreign and inconceivable.

But as an amateurish occasional culinary adventurer, I took a risk this time. Kimchi, which is like vegemite to Australians, is an almost staple food. It is omnipresent in Korean dishes and recipes. Mr Ahn mentions there are around 120 food recipes he knows that includes kimchi as one of the ingredients. “You can add kimchi to rice, to miso soup, to thick soup, literally anything. And you can make sure the food is more palatable,” he voluntarily explains to me.

I am in awe.

So tonight he pulls up his sleeves and goes downstairs with me. “Let me cook for you. Get the kimchi now!” He rushes enthusiastically to the kitchenette and turns the stove on. “Oh and your olive oil!” He knows I save a bottle of it in my room.

I am standing next to him while he is in action.

A Korean man living alone like him for years abroad knows what it takes to survive in Indonesia: a little knack for cooking your own food. Because if you can hardly swallow local foods down your throat, you have to feed yourself still. This is why Korean folks here form a tightly-knit community. The stress is much higher if you are living alone as an expatriate and if you work to earn a living for your family, defiitely you are not allowed to commit suicide abroad. To avoid such suicidal tendency, Mr Ahn, for example, regularly goes to church. The church located in South Jakarta was built and is currently attended by Koreans mostly. It is here at the church he frequently gets his real Korean food supply. The kimchi he gives me is not one everyone can buy at a commercial Korean restaurant. “It is made by an ajuma (a married middle-aged lady) at the church and she gave free kimchi for members of church.”

How nice that ajuma is.

Though I never actively encourage him to try Indonesian foods, mr Ahn finds his favorite naturally. He is known to be a greedy eater of rambutan, a tropical food he can never find in Korea unless it is imported.

His freestyle Korean fried rice is finally done. In a plate, the rice is mixed evenly with kimchi and poached egg.

“It’s all natural. No flavoring. Healthy.”

He really understands my tendency towards eating health foods.

“You know me so well. Gamsahamnida,” I quickly remark, thanking him in Korean. A simple expression I long ago acquired from Song Hye-kyo in “Full House” drama series.

I scoop the reddened yet plain-flavored rice. And with a smile from ear to ear, I give a diplomatic brief review,”Massisseoyo!” (delicious).

He smiles back at me and that pretty much concludes our culinary exchange session tonight. (*/)

Awfully Persecuted

I know this man very well. He’s well-manered, soft-spoken, with a pair of dopey eyes like ones of a deer. That day when we met the first time, he gently addressed me. We just met on that day but felt like we already forged a friendship for a very very long time.

It’s true though. We met online. We read each other’s work published on our blogs. But what makes me stunned is he had gone through a lot of hardship till today. He told me some of his pivotal life events. Such as when he was involved in a guerilla political movement and got detained for his involvement, his experience as a university dropout though he was actually a bright student in class.

Such a rough and tough life to live.

Once again, he proves to be a ‘huge fan’ of a rough and tough life. I remember reading an article stating that a man loses some amount of his testosterone after marriage. It turns out to be true.

I saw him being persecuted online by the mass on social media. Mercilessly. An eerie sensation to feel, I must say. And moments later after some exchanges of word in unstoppable fury with enraged unseen folks of different political and religious stances, he began to grapple what seemed at stake. His beloved career and family! If he kept moving forward, they all had to be sacrificed. And when he realized, damn, it was too late! There was no undo button.

He has lost his job, and pretty much everything he has fought for years fully filled with toil.

After a while, I pondered and asked myself whether such a thing is worthwhile. Having my say was always encouraged back then in my school days but nowadays I’d rather be silent and swallow everything I have in mind especially when it comes to politics.

Lately political situations and news make me puke like nothing else can do. Fanaticism, bigotry, religious bias, intolerance, LGBT debates, etc. The list goes on and on and on.

What is it all about?!! All this noise?!!

All of a sudden the world has gone wild and uncontrollable. And then I realized it has been always wild but now that internet and social media are existent to help us stay connected with one another, it has dawned on me that it also sets us apart from each other.

Disheartening, indeed.

For my forlorn, persecuted buddy out there, thank you for standing up to show them your opinion. It’s a hard, gruesome path to take for sure and definitely one I am never capable of taking or willing to take.

And for anyone on earth who have screwed up us all with hoax and hate speech and anger for the sake of their own self or group or familial or political gains, only God knows what awaits them all in the afterlife.

“Oostindisch doof zijn”

IDIOM satu ini memiliki riwayat yang panjang dalam sejarah Belanda yang berkaitan dengan Indonesia. Secara harafiah, maknanya ialah “pura-pura tidak mendengar ala Hindia Timur”.

Idiom ini berasal dari masa lampau saat Indonesia masih menjadi jajahan Belanda yang bernama resmi Hindia Timur (Ooost Indie). Mereka menganggap Indonesia sebagai bagian dari kerajaan Belanda hingga 1949, kata tutor yang mengajarkan saya dari Belanda itu.

Kenapa 1949? Bukankan kita bangsa Indonesia sudah menyatakan proklamasi kemerdekaan di tahun 1945. Ternyata mereka menghitung masa kemerdekaan kita dari sejak kekalahan agresi militer, bukannya dari proklamasi kemerdekaan pasca kekalahan Jepang di Perang Dunia II.

Idiom ini muncul dari kejengkelan para pemimpin bangsa Indonesia yang kala itu harus menghadapi dan berdebat dengan para pejabat Hindia Belanda. Mereka kerap menemui jalan buntu saat harus berkomunikasi dengan perwakilan Belanda yang berpura-pura tidak memahami mereka tetapi sebetulnya mereka paham dan tahu benar duduk permasalahan keluhan bangsa Indonesia. (*)

Hoer VS Huur

Salah satu yang guyonan tentang bahasa yang paling populer ialah kesalahan pengucapan oleh pembelajar bahasa asing yang memicu kesalahpahaman penutur asli. Dalam bahasa Belanda ada juga lelucon semacam itu.

Mevrouw Ita yang menggantikan Meneer Tonny yang entah kenapa absen sore itu menerangkan pentingnya pelafalan yang baik agar kami tidak terjebak dalam kesalahan yang menggelikan. Wanita itu berkacamata dengan warna hitam dan elegan. Rambutnya sebahu dan warnanya legam dan berkilau. Saya curiga ia mengecatnya secara rutin.

“Jadi hati-hati kalau mau mengucapkan ‘huur‘ dan ‘hoer‘ ya…,” pintanya. Ia tak menjelaskan pada kami arti kedua kata itu secara langsung.
.
Mevrouw Ita meraih spidol dan mulai menulis. Begitu kelar ( yang merupakaan serapan dari ‘klaar‘ yang artinya selesai), ada dua kalimat di papan tulis:
– Ik betaal de huur.
– Ik betaal de hoer.

Yang pertama, jelas Mevrouw Ita, maknanya lebih beradab. Yang kedua seperti sebuah pengakuan dosa.

Ia melanjutkan:”Bedakan pengucapan keduanya. Jika tidak, Anda bisa kehilangan muka.”

Kata ‘huur’ berasal dari kata kerja dasar ‘huren‘ yang artinya menyewa. Mevrouw Ita secara samar menyebut arti ‘hoer’ sebagai pekerja seks – bukannya teks – komersial. Otak saya mencari-cari padanan katanya dalam kosakata dalam bahasa Inggris dan Indonesia. Ah, pasti kata ‘whore’. Sejumlah kata bahasa Belanda memang mirip dengan bahasa Inggris tetapi lain pengejaannya.

Mevrouw Ita melanjutkan,”Kalimat pertama artinya ‘saya membayar sewa’ dan kedua ‘saya membayar pelacur’.

Kata-kata kotor semacam ini entah kenapa langsung menancap dalam ingatan tanpa banyak upaya. Begitu juga dengan kata-kata umpatan dalam bahasa kumpeni seperti “je moeder” (mbokmu), “kuss mijn kont” (kiss my ass), “hoerenjong” (son of a bitch), “godverdomme” (goddamit), “moederneuker” (mother fucker), “schijt” (shit) dan sebagainya. Semua kata kata kotor itu tentu tidak diberikan oleh Mevrouw Ita yang anggun dan sopan itu di depan kelas. Saya mencarinya sendiri. Dengan penuh semangat. (*)

Hoax dan Buku

Perihal hoax, Amerika Serikat di tahun 1938 juga pernah dibuat acak-acakan seperti Indonesia masa sekarang. Sebuah sandiwara disiarkan melalui radio yang menjadi medium populer saat itu. Isinya soal serangan makhluk asing dari luar bumi. Orang Amerika bukan kumpulan orang dungu. Mereka memiliki tingkat literasi yang sudah baik saat itu. Pasalnya, hoax soal mendaratnya alien di AS itu dikemas sebagai suatu hiburan yang bertema serius. Gaya penyampaiannya seperti berita. Di radio, jika seseorang mendengarkan sekilas, dan ketinggalan konteks karena tak mendengarkan dari awal siaran, tentunya mengira itu siaran berita yang tidak main-main. Akibatnya banyak warga AS pendengar sandiwara itu yang menganggap hiburan fiktif itu sebagai fakta. Mereka kalang kabut, ketakutan karena akan dianiaya alien-alien berkepala mirip ujung korek api. Diduga pembuat sandiwara memanfaatkan ketakutan dan kecemasan dalam benak warga AS yang baru lepas dari jeratan Great Depression agar lakonnya laku di pasar. Begitu dongeng pak Hilmar Farid di atas mimbar.
.
“Jadi kalau ada anggapan orang Indonesia mudah percaya hoax karena kurang baca buku, itu patut disangsikan. Kalau ada hubungannya pun, korelasinya tidak langsung,” tegasnya.
.
Ia menambahkan bahwa tidak semua buku dan bahan bacaan cetak saat ini juga memuat fakta dan bukti yang sudah terverifikasi. “Sebagian penerbit malah mencoba mengambil keuntungan dari masyarakat yang kebingungan ini dengan menerbitkan buku-buku hoax dan menjadikannya sebagai suatu dagangan,” cerita beliau yang bersuara merdu itu. Saya pikir Dirjen Kebudayaan Kemdikbud itu cocok sebagai penyulih suara, terutama untuk tokoh-tokoh protagonis yang kebapakan dalam banyak tayangan telenovela India maupun Meksiko.
.
Ya, suka membaca juga belum tentu jaminan kita bebas virus hoax. Tetapi menurut saya kuncinya ialah ketelitian memilih buku bacaan. Kalau penulisnya tidak punya rekam jejak yang meyakinkan, dan penerbitnya juga dikenal sebagai kelas kacangan yang menerbitkan buku-buku berjudul bombastis, sebaiknya tak usah dibaca. Apalagi direkomendasikan ke orang lain. Itu seperti orang yang tidak tahu kebenaran berita copas whatsapp tapi menyebarkannya juga di grup whatsapp dia sendiri. Dan saat ditanya kenapa menyebarkan, alasannya cuma karena mau menyebarkan saja. Tidak mau bertanggung jawab secara moral karena ikut menyebarkan kekeliruan yang masif. Semoga saya dan Anda sekalian dijauhkan dari kemalasan intelektual semacam itu.
.
Namun, di antara kumpulan penerbit yang ada, buku-buku penerbit Yayasan Pustaka Obor bisa dikatakan relatif bebas hoax. Kenapa? Karena penulis-penulisnya adalah akademisi dan peneliti serta pengarang yang sudah teruji kredibilitas dan diketahui jatidiri aslinya. Bukan semacam Eny Arrow, yang dikenal luas tetapi tak pernah diketahui parasnya.
.
Selamat ultah ke-40 Obor! Semoga apimu terus menerangi Indonesia yang haus ilmu.

Anatomi Ideal Rilis Pers Gaya Formal

Rilis pers lazimnya dibagikan oleh pihak penyelenggara untuk para pewarta. (Sumber: Wikimedia Commons)

Sebagai seorang wartawan, saya kerap menerima rilis pers. Biasanya rilis pers ini dibagikan dalam jumpa pers yang diadakan sebelum sebuah event secara resmi digelar. Di dalam sebuah rilis pers, biasanya dimasukkan berbagai informasi esensial agar para pewarta lebih mudah dalam memahami inti event yang dimaksud. Dengan membaca rilis pers ini, pekerja pers akan juga lebih mudah menyusun pertanyaan yang disusun sesuai kebutuhan pembaca medianya atau sesuai arahan redaksi yang mengutusnya ke sana.

Tulisan ini merangkum beberapa poin penting yang semestinya tercakup dalam sebuah rilis pers, dan bisa dijadikan panduan untuk menyusun rilis pers yang baik. Hal ini penting karena rilis pers yang baik turut menunjukkan level, citra dan keseriusan sebuah penyelenggara event dalam menangani perhelatan yang digelarnya.

FONT

Sebuah rilis pers yang baik biasanya hanya berupa 1-2 lembar kertas yang berisi informasi yang diketik rapi dengan font yang resmi. Meskipun formal, bukan berarti rilis pers harus memakai Times New Roman. Jenis font yang masih layak, lazim dipakai dalam dokumen-dokumen dan pantas digunakan dalam korespondensi bisnis seperti Georgia, Arial, Calibri (lazim dipakai di Microsoft Word, program pengolah kata di Windows), Apple Braille (Mac) dan sejenisnya. Intinya, harus mudah dibaca dan mampu menyampaikan kesan resmi. Font Comic Sans dan setipe itu tentu sangat tidak disarankan karena terlalu santai. Font jenis Monotype Corsiva yang terlalu meliuk-liuk sehingga menyulitkan membaca juga kurang disarankan dipakai dalam rilis pers. Untuk pemilihan font, tentunya harus dikonsultasikan dengan klien yang bersangkutan, karena bisa jadi tiap klien (apalagi yang sudah skala dunia) memiliki panduan tersendiri yang disepakati bersama dalam lingkungan internalnya.

Masih terkait penggunaan font, jangan lupa gunakan font tebal (bold) untuk menekankan poin-poin penting yang menjadi fokus rilis pers. Font tebal disarankan dipakai untuk mencetak nama orang dan tempat penting. Nama ini misalnya nama jajaran direksi atau nara sumber penting yang hadir dalam jumpa pers yang bisa diwawancarai pewarta, atau tempat yang baru selesai dibangun dan siap diperkenalkan dan dibuka untuk publik. Sebagai tambahan, garis bawah (underline) kurang disarankan karena membuat rilis pers kurang rapi. Sementara itu, font miring (italic) diperlukan dalam mencetak istilah-istilah asing yang belum diserap ke dalam bahasa Indonesia.

LOGO

Di bagian atas (kop), idealnya mesti ada sebuah logo perusahaan yang proporsinya sudah dipertimbangkan secara cermat dan seragam dengan penggunaannya di media lain. Dengan kecermatan dalam menentukan proporsi, Anda akan lebih yakin bahwa rilis pers itu memang dikeluarkan oleh lembaga/ korporasi yang bersangkutan.

FOTO

Meskipun rilis pers hanya dicetak hitam putih, keberadaan foto juga bisa saja menarik pembaca. Foto yang diambil tentunya yang memuat hal yang paling kuat mewakili citra dan bidang tempat penyelenggara event bergerak. Misalnya, jika rilis pers dikeluarkan sebuah hotel, tentu saja akan lebih cocok untuk menampilkan interior presidential suite yang terbaik dan termewah. Bukannya memuat foto kolam renang, spa atau gym, meskipun dua fasilitas tersebut juga pasti ada di dalamnya.

Jumlah foto tentunya disesuaikan dengan kebutuhan. Tidak perlu terlalu banyak, asal sudah mampu membantu menyampaikan tujuan pembuatan rilis pers itu sendiri. Jikalau memang dirasa perlu memberikan foto berwarna resolusi besar agar dapat segera dibawa pulang dan diunggah pewarta daring, boleh saja Anda masukkan file-file foto tadi ke dalam flash disk sehingga lebih ringkas. Flash disk itu juga bisa diberikan sebagai salah satu souvenir bagi pewarta yang hadir dalam jumpa pers. Alternatif lain untuk menyediakan foto resoulsi besar ialah dengan memberikan tautan di situs resmi lembaga/ perusahaan yang bersangkutan, yang di dalamnya sudah disediakan foto-foto yang siap diunduh oleh pewarta dan publik yang berkepentingan.

JUDUL

Judul adalah kunci. Begitu pentingnya judul sehingga ia haruslah dicetak dengan huruf kapital. Judul bisa saja ada dua jenis: judul besar dan kecil. Biasanya judul besar menyampaikan secara ringkas isi rilis pers. Sementara itu, judul kecil menyuguhkan latar belakang yang perlu diketahui pembaca mengenai peristiwa yang dimuat dalam judul besar. Judul juga bisa memuat angka-angka yang menunjukkan pencapaian (terutama jika rilis pers memuat prestasi korporasi/ lembaga dalam periode tertentu).

TEMPAT DAN TANGGAL

Seperti surat formal, akan lebih baik jika uraian rilis pers diawali dengan tempat (kota) dan tanggal dibagikannya rilis pers tersebut kepada pewarta. Disarankan untuk memakai font tebal agar lebih mudah dibaca dan menarik perhatian.

5W dan 1H

Seperti artikel berita, sebuah rilis pers juga harus memenuhi kriteria jurnalistik 5W (when, where, why, who, what) dan 1H (how). Dan akan lebih bagus lagi jika paragraf pertama sudah memuat itu semua dalam kalimat yang ringkas, padat dan singkat. Paragraf pertama bisa memuat 2-3 kalimat pendek yang sarat informasi umum dan penting. Tidak perlu terlalu detail di sini karena nantinya di paragraf selanjutnya, Anda bisa merinci lebih leluasa.

KUTIPAN

Diperlukan kutipan untuk bisa menguatkan sebuah rilis pers di mata pewarta. Kutipan harus dipilih sedemikian rupa sehingga membangun keingintahuan pewarta untuk bertanya nantinya dalam sesi tanya jawab dalam jumpa pers. Jadi, jangan terlalu pelit dengan informasi tetapi juga jangan terlalu boros. Secukupnya saja asal sudah bisa membuat orang yang membaca bertanya-tanya versinya yang lebih lengkap. Dari kutipan itu, wartawan yang kritis bisa memakainya untuk mengembangkan daftar pertanyaan yang menjadi kerangka tulisan mereka nanti.

Siapa saja yang diperlukan kutipannya dalam rilis pers? Soal ini, sangat bervariasi. Tetapi jika harus diberikan ancang-ancang, berikanlah setidaknya dua kutipan dari dua nara sumber berbeda. Contohnya, cantumkan satu kutipan dari direktur kemudian satu kutipan dari

KELEBIHAN

Dalam rilis pers, bagian yang menjelaskan kelebihan event/ program/ produk sebuah lembaga atau korporasi haruslah ada karena memang itulah tujuan dasar menyusun rilis pers. Untuk menjelaskan kelebihan, Anda bisa memakai deskripsi yang memakai kata-kata sifat yang bertujuan mengundang orang untuk mendekat, mengonsumsi atau mengunjungi. Kata-kata itu misalnya “menarik”, “elegan”, atau “bergaya”. Di sini diperlukan kreativitas tinggi sekaligus kekayaan kosakata penulis rilis pers agar tidak menggunakan kata-kata manis yang klise dan cenderung memuakkan. Akan lebih baik jika penulis rilis pers bisa merangkai kata sedapat mungkin agar tetap terkesan natural meski pada intinya harus memberikan kesan positif sebaik-baiknya.

CALL-TO-ACTION

Jika salah satu tujuan digelarnya event/ program ialah menjual jasa atau produk, jangan sungkan untuk memberikan pernyataan bahwa ada diskon atau potongan harga khusus bagi mereka yang ingin mencoba memakai jasa atau produk tersebut. Di dalamnya Anda bisa mencantumkan tautan (link) di situs web resmi lembaga atau perusahaan klien yang bersangkutan untuk mengklaim diskon itu segera sebelum periode penawaran diskon berakhir.

KETERANGAN TAMBAHAN

Di bagian sebelum paragraf terakhir, lebih disarankan jika ada deskripsi singkat mengenai latar belakang penyelenggara program/ event yang dijelaskan dalam rilis pers. Yang bisa dicantumkan di sini ialah nama penyelenggara, grup bisnisnya atau organisasi besar yang menaunginya, sejarah singkat (dalam 1-2 kalimat singkat), pencapaian terbesar dan terkini, jangkauan dan sebaran program/ event, kelebihan yang menjadi daya jual/ selling point.

Di bagian ini, Anda bisa bubuhkan alamat situs resmi grup bisnis atau organisasi besar yang menjadi tempat bernaung sang penyelenggara event/ program.

ALAMAT DAN KONTAK

Di bagian paling akhir rilis pers, sertakan juga narahubung (contact person) yang bisa dihubungi jika ada pertanyaan, jabatan sang nara hubung (untuk meyakinkan pihak luar tentang otoritasnya dalam memberikan jawaban), nama lembaga/ perusahaan, alamat lengkapnya, nomor telepon yang dapat dihubungi setiap saat, dan alamat surat elektronik (surel). Akan lebih baik lagi jika ada juga akun media sosial yang dapat diikuti untuk bisa mengetahui kabar terbaru dan berinteraksi dengan brand/ bisnis yang bersangkutan secara real time. Akun apa saja yang perlu disertakan? Untuk lingkup Indonesia, pastikan setidaknya ada laman penggemar (fanpage, bukan akun personal) Facebook dan akun Twitter. Instagram juga bisa ditambahkan tetapi tidak sekrusial dua sebelumnya.

Terakhir sebelum Anda mencetak dan membagikan rilis pers ke media, periksa dan baca lagi draftnya untuk menghindari kesalahan ejaan (typo) yang dampaknya bisa mengganggu dan memalukan. Kesalahan tanda baca dan tata bahasa juga kerap ditemukan dalam rilis pers. Dan dalam jumlah yang terlalu banyak, kesalahan-kesalahan minor ini akan cukup meyakinkan media bahwa rilis pers itu disiapkan secara terburu-buru atau kurang matang. (*)

On WhatsApp Diet

I failed again.

After some time ago I uninstalled WhatsApp and tried so hard to resist the inner temptation of adopting it back in my daily routine of virtual communications (the peer pressure to be back was too huge), now I experimented with a milder strategy of controlled disconnecting in the time of hyperconnectivity. 

This time I tried to leave some WhatsApp groups. But believe me, it is not because I despise those in them. They are kind and nice. Several verbal attacks might occur occasionally but are relatively forgivable.

At first, I thought this would be a successful strategy to restrict my WhatsApp data consumption, which according to my casual digital audit contributed the biggest percentage of my online activity. It dawned on me too that financially this has to be managed and controlled. It is not that I can’t afford the data plan but as I think more this 

Very alarming.

And then I wish to limit my screen time, too. I have done too much work with computers in all sorts. Laptops, Smartphones, both combined are so lethal and eye strain kills me at the end of the day. My eyes suffer. And the dark circles and eye bags don’t seem very nice on me. This is getting serious, I thought.

So unhealthy.

But apart from all that mentioned above, my relationships may suffer in some way. Because I left the groups announced, without any prior notice or – even worse- conflicts, I might be seen as impolite, uncivilized, overly sensitive ( baper as Jakartans call it), silly, eccentric, bizarre, even cocky and mentally unpredictable.