Cradle

IT WAS SUNDAY night when I saw someone’s text on my phone. An unsolicited text it really was but I almost dropped my jaw. It was from a person I look up to. A man of significance. Such a figure to me and many other aspiring writers.

He is of Chinese descendant but other than the genetic factor, he is more Javanese than I am. He opened his text with Islamic salutation I even only seldom use in very limited circles. But he liberally uses it as if it were normality, part of daily conversation at home. He managed to abbreaviate the salutation into “Ass.Wr.Wb” and concluded the text with “Wass”. Very considerate about me, knowing I’m a Javanese and moslem.

“How are you? Sometime ago I wrote this short story with your hometown Kudus as the setting. Your birth place surely possesses a great deal of potential. Go explore it!” he advised me.

I sighed and frowned. Really? Why can’t I see that? I must have been so short-sighted.

I could not return his text immediately that night as it took me a while or a whole night to be exact as to how I had to select the most appropriate words to respond to this hugely humble literary giant’s message.

I tried to please him, saying I was more than flattered to know he still remembers this unknown literary enthusiast who keeps wanting to get published but has to drag himself so hard to the finish line.

Three hours after that, he returned my text and showed me in what newspaper the short story about my tiny hometown was published. I guess he has kept a neat filing system and record containing all his academic and literary works.

“Kudus is a unique town, mas Akhlis. Please explore it.” His words sank down in my silence for a moment or two, leaving me empty-headed, not knowing what to do next.

But it is true that we humans need people like him to remind us of how far we have gone from our home and now that we long for more adventures, more novelty, more experience, more meaning and values and the list goes on and on, we almost always take the potential of our own cradle for granted. (*)

Mister Fixer

15936669_10209757571153378_6331441846918302436_o

Selama setahun lebih dipunyai, baru kali ini dia tidak enak dinaiki. Pasalnya, ban depan kempes sekempes-kempesnya. Padahal baru saja mengeluarkannya untuk menuju jalanan.

Bengkel tambal ban sepeda di dekat pasar yang habis kebakaran itu tutup. Masygul, saya langkahkan kaki dengan remah-remah kesabaran yang tersisa ke bengkel kedua sesuai arahan seorang pria. Tanpa hasil juga karena si pemilik bengkel tak sanggup memperbaiki ban sepeda. Ia hanya bisa memperbaiki ban-ban tebal milik sepeda motor. Apa daya, saya mesti terus melangkah mencari bengkel lagi.

Hingga saya temukan juga bengkel Mister Fixer ini. Dan seorang bapak segera keluar. Tidak ada siapa-siapa kecuali dia. Saya girang. Artinya kasus sepeda ini segera tertangani.

“Saya juga sewakan sepeda,” katanya. Ia menjawab sebelum saya bertanya karena mata saya menelusuri tiap jengkal halaman rumahnya yang dipenuhi belasan sepeda berbagai jenis. Dari MTB, city bike, sepeda onta. Untuk sewa perorangan, tarifnya cuma Rp15.000 tetapi untuk sewa korporat ia patok dua kali lipatnya. Untuk keperluan syuting, ia bisa berlakukan skema tarif khusus juga. Peluang bisnis yang bagus mengingat beberapa ratus langkah dari bengkelnya memang terletak sebuah rumah produksi yang sinetron-sinetronnya menjejali layar kaca rumah tangga Indonesia.

Saat sepeda saya masih ditanganinya, ia kedatangan pelanggan lain, seorang ibu dengan sepeda pink tunggangan anaknya. Tapi ia utamakan sepeda saya dan ia panggil karyawannya. Bukannya meraih ponsel untuk menelepon atau mengirim pesan, ia ambil sebuah kentongan kayu berbentuk cabai raksasa di pintu bengkel dan memukulnya. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Si pegawai tak muncul jua.

Perhatiannya beralih kembali ke sepeda saya. Melihat sepeda yang tersaput debu, ia pintar menawarkan jasanya,”Mau dicucikan?”

Mata saya mengerjap. “Mau.”

“Dua, eh, sepuluh ribu…,” timpalnya agak terbata ragu.

“Baiklah…” saya berserah.

“Sayang. Soalnya sepedanya bagus.” Sebuah eufemisme dari “Mas mas, punya sepeda bagus tapi ngurus kok nggak becus…”

Untuk semua itu, ia cuma mematok Rp25.000 saja. Sepeda dicuci bersih, ban disemir, rem diservis, rantai diminyaki, pokoknya siap menggenjot saja. Ah, enaknya!

Ingin membawa sepeda Anda untuk servis di sini? Tinggal cari saja gang Karet Belakang, Karet Kuningan, Jaksel. (*)

Syukur

Seorang laki-laki mendatangi orang bijak yang ia segani. Orang bijak itu sudah tersohor ke mana-mana akan nasihat-nasihatnya yang bernas dan jitu.

Kepada sang orang bijak, ia berkeluh kesah. “Hidup saya tiada rasa istimewa. Semuanya hambar. Bahkan saya tidak pernah mengecap rasanya berkecukupan. Harta saya pas-pasan. Saya lihat ke sekeliling saya, tetangga kana kiri selalu hidup lebih berlimpah. Ternak mereka jauh lebih banyak, rumah mereka lebih megah, emas mereka lebih banyak, halaman mereka lebih luas, dan keluarga mereka lebih bahagia. Apa yang harus saya lakukan agar bisa sekaya dan sebahagia mereka?” ucapnya panjang lebar.

Sang orang bijak tersenyum simpul, seolah siap memuntahkan kata-kata petuahnya. Kata pria arif dan bijaksana itu pada si pengeluh,”Kau tahu sebenarnya kau sudah bahagia dan kaya…”

“Bagaimana bisa? Saya masih menyedihkan seperti ini. Saya masih jauh dari kesempurnaan mereka,” tukas pria itu dengan muka murung.

“Kau tahu beda orang kaya dan orang miskin?” tanya si orang bijak lagi.

“Tentu hartanya yang berlimpah ruah adalah mereka yang bisa disebut kaya. Sebaliknya, mereka yang berkekurangan disebut miskin,” ujar pria itu dengan nada tinggi. Baginya itu sudah jelas dan tampaknya ia kesal karena sang pria bijak tak lekas menjawab pertanyaannya mengenai cara agar laya dan bahagia.

“Menjadi orang kaya itu mudah. Kau hanya perlu bersyukur. Begitu kau memiliki rasa syukur dalam hatimu, kau sudah menggenggam kekayaan dan kebahagiaan yang dianugerahkan Tuhan padamu. Mereka yang miskin terus resah mencari, menumpuk, menimbun dan mengeruk. Tidak ada rasa syukur dan cukup.” jelasnya lagi mengenai perbedaan si kaya dan miskin.

Kini wajah sang pengeluh mulai teduh. Amarahnya luruh.

***

Berapa banyak dari kita yang merasa bahwa menabung dan menyimpan ialah sebuah kewajiban? Pada titik tertentu, kebiasaan menabung — apapun itu yang ditabung  — memberikan dampak positif karena mempersiapkan kita untuk masa depan yang tidak pasti. Namun, di sisi lain, menabung membuat kita terlalu terobsesi dengan apa yang disebut kekayaan. Karena kekayaan kita samakan dengan harta, aset, materi yang dimiliki. Padahal belum tentu semua materi itu membawa serta kebahagiaan.

Dan mengenai rasa syukur yang membuat kita kaya itu, sebuah studi ilmiah menyimpulkan bahwa manusia merasa lebih bersyukur atas hal-hal yang ia bisa lakukan dan alami daripada benda-benda yang ia miliki. Rasa syukur dan berterima kasih pada apa yang diberikan Tuhan yang kita bisa nikmati dan alami itu juga membuat manusia lebih dermawan kepada sesamanya.

Hal yang berkebalikan terjadi pada mereka yang mengutamakan kepemilikan benda sebagai peraih kepuasan. Rasa syukur itu ada tetapi kemudian diikuti dengan rasa egois, tidak mau membaginya ke orang lain.

Kata pengajar psikologi dari Cornell University Thomas Gilovich, kita perlu memikirkan perasaan kita saat pulang ke rumah setelah membeli barang. “Anda mungkin akan berkata,’Barang X ini bagus ‘ tetapi Anda cenderung tidak akan berkata,’Saya merasa bersyukur bisa memiliki barang X ini.” Bahkan jika Anda masih ingat bersyukur pun, Anda tidak akan menyatakannya selantang saat mengalami sebuah pengalaman.

Ada dugaan bahwa pengalaman lebih banyak memicu rasa syukur sebab melibatkan lebih banyak hubungan sosial. Logis, karena dalam mengecap sebuah pengalaman, Anda akan diharuskan berinteraksi dengan lebih banyak orang dengan cara yang lain daripada dengan membeli sebuah barang. Membeli sebuah barang hanya sebuah interaksi transaksional tanpa ikatan emosi, menurut saya, sehingga akan lebih instan, rapuh dan kurang membekas dalam benak kita. Lain dengan pengalaman hidup yang mengharuskan kita berinteraksi lebih erat dan melibatkan sisi emosional kita sebagai manusia.

Mencari Presiden Boneka (2)

Retorika yang selama ini Trump gembor-gemborkan selama kampanye tidak bisa dikatakan positif. Namun, Tom berpendapat itu hanya caranya mendapatkan simpati dari para pemilih. Selama ini, Trump sudah pernah menyinggung kelompok-kelompok minoritas seperti imigran Meksiko, kaum muslim, perempuan dan kaum difabel. Apakah Trump benar-benar akan merealisasikan retorikanya itu? Hanya Tuhan yang tahu.
Dan dukungan untuk Trump sebetulnya lebih banyak datang dari mereka yang tinggal di perdesaan di seluruh pelosok AS. Itulah kenapa kita lebih banyak mendengarkan citra negatifnya di media-media arus utama Amerika. Itu karena media-media berpusat di daerah-daerah perkotaan, yang kebanyakan lebih terdidik dan progresif, dan bersimpati pada Partai Demokrat yang terbuka daripada Partai Republik yang kolot.

“Di perdesaan seperti itulah orang-orang lebih sulit diyakinkan mengenai berbagai alasan mengapa memilih Clinton berbahaya,” kata Tom lagi.
Ia menambahkan sentimen yang sama juga lazim ditemukan di wilayah perdesaan di Indonesia. Orang-orang di perdesaan tidak akan mempermasalahkan isu-isu yang mengawang-awang seperti hak-hak sipil, hak-hak LGBT, kebebasan berpendapat, kebebasan pers, tetapi mereka lebih peduli pada kesejahteraan dalam kehidupan nyata. Apakah mereka masih bisa makan, minum, mendapat pekerjaan yang 
layak dan adil sesuai kemampuan dan ketrampilan, menjaga kesehatan dengan biaya semurah mungkin, dan sebagainya. Hidup aman, nyaman, tanpa banyak hambatan, itulah yang ada dalam pikiran orang-orang perdesaan. Sederhana dan tidak muluk-muluk. 
Harapan sederhana kaum perdesaan AS inilah yang gagal menjadi fokus dalam kampanye Partai Demokrat selama ini. Obama dan Clinton kurang menunjukkan itikad teguh mereka dalam mengatasi masalah lapangan kerja di daerah-daerah rural Amerika yang tingkat kesejahteraannya lebih rendah dari perkotaan. 

Para pemilih di perdesaan ini jumlahnya mencapai 55-65% dari keseluruhan populasi AS. Dan di perdesaan jugalah orang-orang manula lebih banyak tinggal. Mereka pensiunan dan veteran yang harus menanggung biaya tinggi untuk Obamacare. Penerapan Obamacare memang didasari niat mulia tetapi setelah itu malah terjadi peningkatan biaya asuransi juga. Dan hal ini membebani rakyat pada 
akhirnya. Kenaikan biaya asuransi tidak begitu terasa jika kita masih muda, sehat dan masih bisa bekerja siang malam karena masih dalam usia produktif. Lain halnya, jika kita sudah berusia uzur, tidak 
banyak bisa menghasilkan uang dan sakit-sakitan. Setiap kenaikan biaya pemeliharaan kesehatan akan terasa memberatkan. Patut dipahami jika mereka kurang bersimpati pada Demokrat. 
Mengenai pertanyaan apakah semua pendukung Trump juga membenci kaum minoritas, Tom menjelaskan jawabannya tidak sesederhana iya atau tidak. Ia mengenal sejumlah pendukung Trump di lingkungan tempat tinggalnya yang juga berkawan dengan imigran Latin dan Muslim. “Dan tebak, para pendukung Trump yang saya kenal ini tidak pernah melontarkan lelucon atau ejekan pada kelompok Latin atau Muslim. Mereka hanya mempedulikan soal isu ekonomi yang memprihatinkan. Obama dan Clinton gagal dalam menunjukkan keseriusan dalam menangani masalah ekonomi ini,” ucapnya.
Tentang jenis strategi yang Trump gunakan sepanjang kampanye ini, saya bertanya pada Tom mengapa ia begitu percaya diri. Trump sebetulnya tidak begitu yakin dengan strategi semacam itu. Tidak pernah, tegas Tom. “Jadi, semua itu semata-mata hanya eksperimen?” batin saya. Dan mungkin dengan pernyataan-pernyataan kontroversialnya yang menohok banyak pihak, Trump menimbulkan kegaduhan yang justru membuatnya tidak hanya membuatnya makin dibenci tetapi juga makin dielu-elukan oleh banyak orang.

Tom kembali menegaskan pandangan tentang rekam jejak Nyonya Clinton yang sudah berlumuran darah. Ratusan orang tewas di Amerika Latin karena Clinton mendukung kudeta lokal. Begitu juga kasus Benghazi, yang melibatkan Clinton. 

Menurut Tom, Clinton juga ikut bertanggung jawab atas meletusnya Perang Irak di dekade lalu karena ia menyetujui usulan perang dari presiden berkuasa George W. Bush ke Kongres. “Hillary ialah salah satu petinggi Demokrat yang membantu Republikan menyatakan persetujuan berperang di Irak,” tukasnya. Padahal perang bisa dicegah jika Clinton dan Demokrat menyatakan ketidaksetujuan pada usulan Bush.

Efek susulan dari perang di negeri seribu satu malam itu sangat panjang. Kekosongan kekuasaan di Irak membuat kondisi Timur Tengah menjadi labil dan dari situ, ibarat sel-sel yang sudah bermutasi sedemikian rupa menjadi sel kanker, Al Qaeda dan ISIS lahir. 

Pada gilirannya, teror merebak dan citra Islam makin tercoreng di dunia. “Menurutmu, jika Saddam Husein masih hidup, apakah ia akan membiarkan kelompok semacam ISIS merajalela?” ia bertanya secara retoris pada saya. Di sini, saya mulai mendekonstruksi narasi mengenai Saddam Husein yang selama ini mungkin dibentuk oleh Barat. Sebuah narasi yang mengatakan bahwa Saddam diktator yang jahat dan tidak kenal ampun. Tetapi di sisi lain, keberadaan rezimnya diakui atau tidak ada gunanya juga, yakni untuk menjaga kestabilan kawasan Timur Tengah. (Bersambung)

BANGSA RORO JONGGRANG

Kau tahu kisah legendaris itu bukan? Seorang putri yang minta dibuatkan seribu candi dalam semalam oleh seorang pria yang mabuk kepayang padanya. Tentu musykil kelihatannya tapi karena kesungguhan yang tidak terbendung untuk mendapatkan pujaan dan bantuan dari lelembut yang berpihak sebagai bala bantuan, akhirnya hampir rampung juga proyek yang bertenggat mepet itu. Tapi karena inti permintaan mustahil itu ialah penolakan secara halus, apa boleh buat si putri menghalalkan kecurangannya demi menggagalkan tegaknya candi keseribu itu. 

Zaman melaju dan masih di tanah yang sama dalam banyak kesempatan saya juga saksikan kemampuan orang-orang semacam pemuda gigih tadi, yang tanpa banyak rencana dan karena terpaksa satu atau lain hal ia harus bekerja tanpa henti dalam jangka waktu sempit dan hasilnya ternyata di luar dugaan, begitu memukau.

Tak cuma rakyat, budaya ini juga ada di pemerintahannya. Seorang karib pernah mendengar dari rekannya, yang tinggi besar berkat warisan gen Aria, tentang bagaimana pemerintah sebuah negara asing dibuat berdebar penuh kepanikan karena bekerjasama dengan para birokrat pemerintah negeri ini yang kerjanya lambat dan santai bahkan mengabaikan pembuatan rencana jangka panjang dalam pematangan sebuah perhelatan besar yang waktu penggodokannya tidak mencukupi. Pemerintah negara manca itu pusing tujuh keliling mengetahui tenggat waktu makin dekat tanpa melihat ada kemajuan signifikan dalam persiapan. Namun, begitu digelar ternyata hasilnya tidak begitu buruk juga. Tanggapan publik relatif positif.

Kemalasan penuh keberuntungan semacam itu juga dialami teman saya. Ia gubah kisah pendek sebagai tugas dalam pelatihan dalam semalam karena sudah banyak menunda akibat berkubang kesibukan dan baru mengirimkannya sehari sebelum tenggat waktu. Sementara saya sudah menyelesaikannya jauh-jauh hari. Sebulan sebelumnya bahkan. Dan bukan cuma satu kisah tapi dua cerita pendek saya kirimkan sebagai bahan pertimbangan. Nelangsanya toh saya tidak bisa berbuat apa-apa saat kisah teman itu terpilih sebagai salah satu yang terbaik dan saya yang sudah rampung dari jauh-jauh hari cuma bisa meringis bertepuk tangan. Haha, saya ingin tertawa terpingkal-pingkal di depan cermin lalu membenturkan dahi ini ke benda itu sampai puas.

Sineas-sineas muda ini juga tipe pekerja yang begitu. Dengan bahan bakar kreativitas, ambisi dan ketakutan kehabisan waktu, mereka bisa menyabet penghargaan bergengsi. Terlihat sebagai sebuah keberuntungan namun saya yakin mereka tidak mengandalkan itu saja. Seperti teman saya yang mengaku tidak tidur semalaman karena menulis cerpen itu saat saya sudah nyenyak dan berpuas diri dengan hasil kerja saya yang selesai tepat waktu. Ah, mungkin “pre-crastination” jauh lebih berbahaya daripada “procrastination”. Atau tidak? Sungguh sebuah misteri.

Things to Try Before I Die

It gets me restless every time I remember him. He is a great friend of mine who gets me thinking into the idea of not wasting any single second of my dear life. 

On that fateful day, he told me this:”I don’t have much time. I need to get this book done.”

His persistence and hard work and attention to details and unwavering spirit and dedication to his mission are so mind blowing to me I am awestruck completely by his words. Every and each of his utterances bring me more and more enlightenment and wisdom to my shamefully dark, shallow and narrow-minded soul. 

He said to me he wanted to write a book on ancient, traditional and rare ethnic hand-made fabrics that pretty much are the cultural heritages of my own mother land. Yet, he cares more than I actually do. “What a shame, Akhlis,” I kept cursing myself every time he mentioned topics I am clueless about Indonesian fabrics. His breadth of knowledge never fails to stun me. I am like a dwarf and he is a god flying gracefully up there. 

He has been doing his research for the book and making money from his profession as an art dealer. What an artist entrepreneur!

Prior to this shift of profession, he had been working as a nutrition advisor and chef at a huge chain hotel if I am not mistaken. He got paid so much for the expertise. He did a great job and managed to bring more new customers to the hotel. At least that was what he claimed. 

Suddenly after eight years of total dedication to his work, he got fired. Just like that. No remorse. 

But that calamity brought him to another unexpected turn of destiny. He has visited many places in the country more than I and most natives of Indonesia do, successfully shaming us to the core of our national identity.

He wants to accomplish the mission of his life before his death: writing a book on garments that evoked the same interest and enthusiasm in his ancestors centuries ago. One of his predecessors had close relationships with the past rulers of neigboring countries of Indonesia. And he really did much research on this stuff, proving his utmost skills and experience and everything.

And tonight I solemnly remember the moment when I encountered a great figure. He once asked me,”What innovative things do you want to do in your current position as a journalist?”

The question took me by surprise. And I was not prepared intellectually to make any argument on what the right answer had to be. 

And I just quipped innocently,”I would visit and cover more people with small businesses and startups throughout the country, sir.”

He nodded as I told him I had no backings in terms of funding and simply every resource. Completely naive and blind.

Nothing he could do. But I can now achieve it after my abrupt departure from his business empire. I kept telling myself I can make it without succumbing to any interfering ignorant patrons.

Now this is the right time, I guess. Though it will not be an easy feat, I know this is the best I can do with the talent and skills I have.
Satrio, March 6th 2016

Lemon Tea

Ia duduk terpekur di depan saya. Ada yang mengganjal dalam pikirannya. Akhir-akhir ini ia memang sangat stres. Istilah orang untuk menyebut stres yakni “banyak pikiran”. Frase itu juga yang ia sebut tatkala menjelaskan bagaimana usulan saya untuk meluruhkan lemak di tubuh gempalnya berbalik menjadi bumerang.

Begini ceritanya. Saya memang pernah sesekali mendorongnya untuk melakukan sebuah cara alami membasmi lemak bergelambir di sekujur tubuhnya yang bahenol itu. Saya sarankan demikian:”Minum saja air perasan lemon MURNI dicampur air hangat setiap kali bangun tidur. Ditanggung nanti langsingan deh. Cobak ajah.”

Ia terbujuk juga dengan persuasi saya. Maklum saya tidak cuma berucap tetapi juga melakukannya dan menjadi teladan nyata. Kerampingan badan saya menjadi cambuk baginya untuk mewujudkan saran tadi. Sesegera mungkin.

Hanya saja ia takut kalau cuma minum lemon saja. “Saya kan punya maag,” ucapnya memberi alasan. Semua manusia normal juga punya maag alias lambung, batin saya dengan nada antagonis. Lalu ia mengambil sebuah inisiatif revolusioner. Atas prakarsa sendiri, dengan kreatif ia mencampur air lemon itu dengan teh. Jadilah secangkir lemon tea. Padahal saya sarankan ia minum air perasan lemon murni. MURNI. Saya pikir semua orang tahu arti kata “murni”, yaitu tak ternoda, tak tercampur apapun, tidak tercemar. Saya salah. Saya mengetahui pemahaman kata itu masih salah kaprah tatkala saya pesan jus ke seorang pedagang jus buah. Saya sebut murni tetapi akhirnya saya masih mengecap tambahan biang gula buatan juga di kerongkongan. Mereka pikir saya keberatan jika jus terlalu masam atau tawar atau langu. Wanita ini juga berpola pikir sama ternyata. Saya cuma bisa menarik napas panjang lalu menutup mata dan merapal mantra penyejuk jiwa,”Sabarrrrr….”

Ia teguk segelas lemon tea tersebut dan setelah itu mengaku kurang enak badan. Kepalanya melayang, keringat dingin bercucuran, badan lemas. Sampai tak bisa mencuci pakaian, keluhnya pada saya. Seolah meminta pertanggungjawaban atas saran saya yang memicu semua itu. Ia minta dikerok oleh suami dan minta rehat sebentar.

Badannya lumayan lebih segar sampai keringat pun mengucur, akunya lagi. Dasar bandel, ia justru menggunakan momen itu untuk mandi. Alasannya karena gerah. Tak betah.

“Kamu itu masuk angin dan habis kerokan malah mandi,” tegur atasannya. Meski terlihat cuek, bosnya juga peduli. Sebab kalau ia sakit, cucian di rumah itu akan menumpuk. Sebuah bentuk kepedulian transaksional yang samar. Itu masih lebih baik daripada abai sama sekali.

Dasar ia suka bersikukuh dengan pendapatnya, ia menimpali,” Ya mau gimana lagi. Kan keringetan.”

Alhasil, tubuhnya semakin tak karuan. Rasakan, mungkin begitu gumam sang majikan.

Tak kuasa menahan gangguan kesehatan itu, ia larikan dirinya esok paginya ke puskesmas desa yang jadi langganan.

Pada sang dokter jaga ia bertanya membabi buta. Ia tak mau mati di usia paruh baya. Meski ia sadar rambutnya yang sudah menguban jumlahnya cukup banyak juga.

“Jantung saya gimana, dok?” ia takut dengan tren mati karena angin duduk yang dipicu serangan jantung.

“Jantung bagus…,” tukas dokter jaga puskesmas dengan santai sambil menekan-nekan stetoskop ke tubuh wanita malang itu berulang-ulang.

“Paru-paru??” desaknya lagi karena tak mau rugi. Ia mau memastikan semua onderdilnya sehat paripurna tanpa banyak biaya periksa.

“Hhh… oke kokkk!” hibur dokternya.

“Usus??!!” Agresivitas makin tidak terkontrol.

“Yaaaa bagosss!!!” teriak dokter dengan kesabaran ekstra.

“Beneran ya, dok?!” ia mencari konfirmasi lagi.

Sang dokter tak sanggup menjawab lagi.

“Lalu kalau bagus dan sehat semua, kenapa saya bisa sakit gini, dok?!!” protesnya sampai urat lehernya menonjol kehijauan.

“Ibu coba turunkan berat badan dulu saja ya,” tutur dokter jaga itu lirih. Mungkin ia ingin menyampaikannya sehalus mungkin supaya tak ada lara dari kata-kata tentang perkara paling peka bagi wanita: kisaran bobot raga mereka dalam satuan kilogram.

“Kurangi makan gorengan, santan dan sambal yaaa,” dokter itu memberi pantangan makan.

“Nah itu dok. Semuanya saya suka!!!” teriak wanita itu lagi. Hanya saja kali ini dalam hati.

Saputangan

Setelah insiden mabuknya yang menggemparkan tempo hari, ia tak pernah sekalipun membahas apapun yang bertema mukus. Masuk akal juga karena orang mabuk tak tahu menahu perkara yang terjadi di sekelilingnya, dan persisnya, tak sadar benda-benda menjijikkan yang ia keluarkan dari tubuhnya.

Kali ini dia menyapa saya dengan ceria saat saya menghaluskan hidangan makan malam dengan gigi geligi di rahang yang sempit ini. Ia baru saja keluar untuk berolahraga. Tetangga satu atap namun lintas kebangsaan itu peminat olahraga malam memang. Meskipun pernah mabuk, ia sadar kesehatan juga sebetulnya.

Kali ini ia berceloteh tentang saputangan yang membuatnya naas. “Akhlise, handupon saya baru,” tuturnya seolah pamer dalam bahasa Indonesia yang dikombinasikan dengan cengkok Korea. Saya mengangguk tersenyum mengulum nasi dan lauk pauk yang sudah mendingin. Ponselnya bukan Samsung Galaxy keluaran anyar. Cuma Samsung seri entry-level berlayar TFT yang anak-anak sekolah dasar di kawasan Menteng malu untuk pakai.

Saya bertanya padanya bagaimana dengan ponselnya sebelumnya. Kisahnya pun bergulir tanpa saya gali.

Syahdan ia naik Kopaja untuk ke gereja di suatu hari Minggu. Pakaiannya selalu rapi dan relatif wangi. Dulu saya hapal ia hanya pakai kemeja biasa namun baru-baru ini saya amati gaya berpakaiannya berubah lebih modis. Sebuah jas coklat muda tipis ia kenakan dengan sebuah celana yang pas kaki. Sebuah revolusi untuk seorang pria yang hanya memiliki satu pakaian bersantai dan beberapa pilihan pakaian kerja.

Pria asal Seoul yang bergaya hidup bukan main sederhana itu menjejakkan kaki ke atas lantai sebuah bus kopaja ke arah destinasinya, sebuah gereja di kawasan yang menjadi daerah konsentrasi ekspatriat negeri ginseng (Kalau India punya Pekojan, Cina punya Pecinan, lalu Korea punya nama apa ya enaknya?).

Ia berdiri di bus itu dan membaur bersama orang lokal yang berbau matahari. Tangannya menjangkau besi di atas kepalanya.

Andai saja ia tak tertarik untuk berbuat mulia bagi sesama, mungkin kisah ini tidak akan bisa Anda baca. Tanpa peringatan, sebuah saputangan jatuh ke lantai bus yang agak kosong itu. Ia lupa ia hidup di Jakarta, bukan Seoul. Tingkat kriminalitas di sini menggila. Apalagi di atas lantai bus Kopaja durjana. CCTV belum sebanyak di Korea. Itupun belum semuanya bekerja maksimal.

Dasar baik hati. Ia ambilkan saja saputangan itu dan menyerahkan pada pemiliknya. Sang pemilik gembira.

Tiba saat turun, tetangga saya itu pun merogoh saku celananya. Ia ingin tahu sudah seberapa terlambatnya ia ke gereja. Atau ingin membaca percakapan terakhirnya di Kakao Talk bersama sang anak gadis yang ada di Seoul. Mereka tak bisa bersama saat Natal. Video chat pun berguna sebagai pelipur laranya.

Tak ada ponsel yang ia inginkan di dalamnya. Jelas sudah ponsel itu beralih tangan. Rahangnya setengah tertarik gravitasi begitu ia dongakkan kepala ke arah bus jahanam yang ia baru saja tumpangi. Seorang pria melambaikan saputangan dan ponsel kemudian berteriak girang:”Bye mister!”

Upaya dan Pepaya

Entah ada apa dengan tempat itu. Tiap kali ke sana pasti berjumpa dengan orang-orang seperti ini. Orang-orang yang menolak mengemis di usia petang mereka walaupun mereka bisa saja menjadikan kerut dan bungkuk sebagai aset berharga mengais rupiah. Orang-orang yang tidak mau bertekuk lutut di tengah deraan ekonomi dan tetap memegang teguh kemandirian sebagai makhluk yang bermartabat.

Setelah sebelumnya mendengar dari teman ada seorang bapak yang menawarkan jasa fotografi model lama, saya juga pernah sendiri menemui dan berbicara dengan seorang ibu tua yang berjualan kudapan dalam kantong-kantong plastik di depan rumah sakit megah yang berlokasi di salah satu jalan protokol ibukota. Anaknya kala itu tak bekerja karena gengsi. Masih pilih-pilih lowongan. Sementara ibunya tidak, jadi dialah yang memilih bekerja. Melakukan apa saja asal dapur tetap mengepul meskipun itu artinya membakar daging tubuhnya sendiri. Sebuah payung menaunginya dari terik surya dan curahan tirta. Pagi buta ia naik bus dari Ciputat dan duduk menggelar dagangan. Satpam rumah sakit untungnya berbaik hati.

Lalu malam ini, dua orang perempuan tua selintas pandang tengah bercakap-cakap hangat. Lapak mereka bersebelahan di koridor jembatan penyeberangan. Perempuan yang satu menunggui dagangannya yang berupa buah-buah dengan tampilan yang tidak akan kita temui di supermarket besar. Kecil dan kurang menarik. Tersebar tanpa susunan yang memikat.

Saya sudah telanjur melangkahkan kaki, meniti tangga ke bawah. Melihat pepaya itu, rasanya saya harus kembali. Gamang, saya berhenti sejenak, mencari kantong. Saya memang membiasakan sebisa mungkin tak pakai kantong plastik baru saat berbelanja. Ternyata tak ada kantong jadi saya pikir saya akan bawa pulang pisang saja yang bisa diselipkan ke tas laptop ini.

Pisang itu tidak ditempeli etiket atau stiker apapun. Bukan produk brand buah yang mahal. Saya tanya berapa dan ia jawab 5000. Lalu saya tanya lagi dengan menunjuk pepaya. “Ini 10.000,” ucapnya memberikan pepaya terbesar dan yang ia klaim sudah matang. Saya merogoh kantung di tas untuk membayarkan sejumlah uang dan ia malah memberikan saya bonus. “Ini saya tambahi.” Pepaya lain yang lebih mungil ia sodorkan. Ah, baik hatinya.

Saya bayar seketika itu juga. Tanpa menawar. Saya memang tak pandai menawar. Apalagi kalau harus dihadapkan dengan ibu-ibu. Saya tunduk saja dengan patokan harganya. Toh saya tidak peduli dengan rasanya. Pun bentuknya. Saya cuma ingin membelinya karena pepaya itu mirip pepaya-pepaya yang mendiang nenek saya pernah ambilkan buat saya di kebun belakangnya yang sempit. Pepaya kampung yang mungkin tidak manis tetapi ia rawat sedemikian rupa untuk dimakan cucu-cucunya saja.

Pepaya itu lumayan besar dan saya pikir tak akan muat di dalam tas punggung tipis ini. Saya nekat saja jejalkan dua pepaya dan 4 pisang itu dan ternyata masih banyak ruang di dalamnya sembari menampik tas plastik hitam dari tangan sang penjual. Saya tutup resleting dan semua buah itu tersimpan dengan rapi. Aneh.

Sekonyong-konyong saya bertanya,”Ibu jualan di sini terus?” Jarang saya melihatnya. Entah karena saya berjalan terlalu cepat atau pikiran saya yang terlalu terpusat saat lewat di titik itu. Jualan sampai jam 9, kata temannya. Ibu ini sudah tua tapi masih jualan, imbuhnya lagi.

Di lapak sebelah, teman ibu penjual buah itu memamerkan pakaian rajutan buatannya sendiri. Kalau saya perempuan, mungkin saya akan beli juga hasil rajutannya yang warna warni itu.

Tembakau dan Sastra: Peran Rokok Kretek dalam Proses Kreatif Pramudya Ananta Toer

Pramudya_Ananta_Tur_Kesusastraan_Modern_Indonesia_p226
Sekelompok sastrawan dan tembakau sudah seperti bayi kembar siam. Pramoedya Ananta Toer termasuk di antaranya. (Sumber foto: Wikimedia Commons)

Sebagai seseorang yang tidak pernah menaruh sejumput tembakau pun di mulut, saya tidak pernah berpikir untuk menggunakan bahan adiktif apapun sebagai substansi utama untuk mendorong laju proses kreatif atau menghancurkan kendala menulis (writer’s block) yang menggelayut di benak. Kafein juga tidak, karena tubuh dan alam bawah sadar saya menolak. Saya tidak mau mengalami ketergantungan dalam bentuk apapun, apalagi dalam bentuk yang merugikan kesehatan dalam jangka panjang. Saya mau menulis dalam berbagai situasi, ada atau tidak sesuatu itu, saya akan tetap bertahan dan berhasil menyelesaikan tulisan. Semakin saya bersandar pada hal-hal itu, saya pikir kinerja saya dalam menulis akan tersendat secara konyol.

Namun, begitu saya membaca uraian sastrawan Indonesia Pramoedya Ananta Toer, saya mengetahui betapa pentingnya peran tembakau dalam kehidupan dan proses berkarya seorang penulis sekalibernya. Bisa dikatakan mengisap rokok kretek sudah menduduki prioritas yang setara dengan keharusan makan nasi setiap hari bagi Pram, sebutan akrab  almarhum yang menulis uraian itu dalam bentuk sekapur sirih dalam buku bertajuk “Kretek” (2000) tulisan Mark Hanusz. Gila tetapi nyata, pikir saya.

Pram menceritakan kenangannya itu pada pembaca. Persentuhan perdananya dengan berawal saat masa kanak-kanak. Pram belia sudah rajin mengumpulkan bungkus rokok kretek yang dijual bebas di Blora, kota kelahirannya. Di sana ia bermain dengan bungkus-bungkus yang beraneka ragam itu sebagai sebuah kesenangan belaka tetapi belum mencicip tembakau melalui isapan mulut. Ini tentu sangat berbeda dengan beberapa fenomena saat ini yang menunjukkan sebagian anak-anak di bawah usia remaja sudah mengadopsi kebiasaan buruk mengisap rokok. Pram muda baru merokok secara aktif saat ia berusia 15 tahun. Setidaknya itu menurut pengakuannya. Kita tidak akan pernah tahu apakah ia sudah menjajalnya sejak lama sebelum itu atau memang baru saja.

Saya mengingat nama “Nitisemito” sebagai salah satu ruas jalan besar di kota kelahiran saya, Kudus. Saya melintasinya tiap kali memasuki atau meninggalkan kota itu untuk ke Jakarta. Jadi bisa dikatakan ia menjadi salah satu urat nadi lalu lintas dan transportasi kami. Namun, dalam ingatan Pram, Bal Tiga Nitisemito adalah sebuah merek rokok kretek termasyhur yang ia isap pertama kali di masa remajanya. “Saya masih ingat dengan jelas rokok kretek yang saya pertama kali isap. Jenisnya klobot – terbungkus dalam kulit jagung dan diikat dengan benang katun merah,” tuturnya.  Sekelebat saya pernah juga melihat rokok semacam itu dalam keluarga saya. Rokok yang pernah dikonsumsi saudara nenek saya.

Ketergantungan yang saya singgung di awal itu sempat membuat Pram kepayahan saat harus bekerja tanpa rokok. Seperti ia katakan dalam pengakuannya:”Selama perjalanan pertama saya ke Amerika Serikat, saya berjanji pada diri sendiri saya akan berhenti merokok. Saat saya di Washington saya harus menulis laporan dan rasanya saya tidak sanggup melakukannya. Itulah saat saya mulai merokok kembali, (dan) meskipun kemudian saya sudah merokok, laporan itu tetap tak rampung juga.” Ironisnya, bahkan rokok kadang tidak bisa membuat kita lebih produktif. Hanya sebagai pelampiasan keresahan yang tidak beralasan.

Saat Pram mengklaim “semua pria Indonesia merokok dan mereka merokok kretek”, saya merasa saya sudah kehilangan jati diri saya sebagai pria Indonesia. Namun, tetap harus saya terima dengan lapang dada. Berdasarkan klaim Pram itu, saya bisa dicap tidak pria dan tidak Indonesia hanya karena menolak dan tidak pernah nyaman untuk merokok.

Pernyataan Pram memang ada benarnya. Rokok membantu para pria untuk bergaul, bersosialisasi dan membuka jalan ke lingkaran pergaulan di banyak hal. Kerap saya temui, dua orang yang asing satu sama lain bisa menjadi akrab karena meminjam pemantik api atau karena sama-sama harus berdiri di luar ruangan di kala tubuh mendamba tembakau karena di dalam berpendingin udara. Saat meminjam muka-muka perokok bisa sangat manis, ramah dan bersahabat meski dengan preman sekalipun. Heran? Tidak, karena sejak kecil saya juga sudah tak terhitung banyaknya menghadiri acara-acara sosial yang melibatkan rokok di dalamnya. Merokok seolah sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Kudus dan memang sudah semestinya demikian karena dari kabupaten terkecil di provinsi Jawa Tengah ini rokok kretek menyebar ke mana-mana. Dan karena rokok, saya juga relatif terkucil dari pergaulan. Saya lelah harus bercakap-cakap dengan menahan napas di sebuah kumpulan “cerobong asap” bersarung dan berpeci di hajatan kelahiran, pernikahan, khitan, syukuran, hingga kematian.

Dalam kasus Pram, rokok kretek membantunya untuk tidak hanya berkreasi dalam dunia sastra dan jurnalistik, tetapi juga memberikannya kemampuan menolerir semua penderitaan sepanjang hidupnya yang turun naik selama masa revolusi di republik ini. “Kretek membantu saya melalui beberapa masa sulit,” kenang sang sastrawan. Di pulau Buru, Pram yang harus menjalani masa pengasingan itu tetap tidak terpisahkan dari rokok dan merokok. Walaupun cengkeh sulit ditemukan karena pembatasan jual beli di pasar, Pram terus saja merokok tanpa peduli bahan-bahannya. Pokoknya, asal ada dedaunan yang bisa dikeringkan dan dimasukkan dalam gulungan sebagai rokok yang bisa diisap, ia sudah lega. “Kami membuat rokok sendiri, dengan daun kelapa dan longsongan kertas-kertas apapun yang kami bisa temukan.” Di masa pendudukan Jepang saat banyak orang tewas kelaparan, Pram menggunakan rokok sebagai alat bertahan hidup. Rokok menurut Pram bisa mencegah rasa lapar muncul. Mungkin inilah yang membuat para perempuan juga tertarik menggunakan rokok sebagai sebuah alat praktis penurun berat badan, yang tentu sebuah salah kaprah karena harga yang harus dibayar tidaklah setimpal dengan dampak kesehatannya.

Terlepas dari polemik kesehatannya, rokok kretek sudah memberikan Kudus kemajuan ekonomi yang relatif tinggi sejak kemunculannya di akhir abad ke-19, tulis Hanusz. Bukan hendak sesumbar, tetapi Anda bisa bandingkan sendiri kondisi ekonomi warga Kudus dengan kabupaten-kabupaten di sekitarnya, seperti Purwodadi, Pati, Jepara dan Demak. Semua karena kontribusi cukai.

Dan yang terpenting, rokok kretek juga telah menjadi lokomotif penggerak proses kreatif sastrawan-sastrawan Indonesia yang saya yakin juga mayoritas suka atau setidaknya di masa lampau pernah kecanduan merokok.

Salam kretek dari warga Kudus pembenci rokok!