“Oostindisch doof zijn”

IDIOM satu ini memiliki riwayat yang panjang dalam sejarah Belanda yang berkaitan dengan Indonesia. Secara harafiah, maknanya ialah “pura-pura tidak mendengar ala Hindia Timur”.

Idiom ini berasal dari masa lampau saat Indonesia masih menjadi jajahan Belanda yang bernama resmi Hindia Timur (Ooost Indie). Mereka menganggap Indonesia sebagai bagian dari kerajaan Belanda hingga 1949, kata tutor yang mengajarkan saya dari Belanda itu.

Kenapa 1949? Bukankan kita bangsa Indonesia sudah menyatakan proklamasi kemerdekaan di tahun 1945. Ternyata mereka menghitung masa kemerdekaan kita dari sejak kekalahan agresi militer, bukannya dari proklamasi kemerdekaan pasca kekalahan Jepang di Perang Dunia II.

Idiom ini muncul dari kejengkelan para pemimpin bangsa Indonesia yang kala itu harus menghadapi dan berdebat dengan para pejabat Hindia Belanda. Mereka kerap menemui jalan buntu saat harus berkomunikasi dengan perwakilan Belanda yang berpura-pura tidak memahami mereka tetapi sebetulnya mereka paham dan tahu benar duduk permasalahan keluhan bangsa Indonesia. (*)

Hoer VS Huur

Salah satu yang guyonan tentang bahasa yang paling populer ialah kesalahan pengucapan oleh pembelajar bahasa asing yang memicu kesalahpahaman penutur asli. Dalam bahasa Belanda ada juga lelucon semacam itu.

Mevrouw Ita yang menggantikan Meneer Tonny yang entah kenapa absen sore itu menerangkan pentingnya pelafalan yang baik agar kami tidak terjebak dalam kesalahan yang menggelikan. Wanita itu berkacamata dengan warna hitam dan elegan. Rambutnya sebahu dan warnanya legam dan berkilau. Saya curiga ia mengecatnya secara rutin.

“Jadi hati-hati kalau mau mengucapkan ‘huur‘ dan ‘hoer‘ ya…,” pintanya. Ia tak menjelaskan pada kami arti kedua kata itu secara langsung.
.
Mevrouw Ita meraih spidol dan mulai menulis. Begitu kelar ( yang merupakaan serapan dari ‘klaar‘ yang artinya selesai), ada dua kalimat di papan tulis:
– Ik betaal de huur.
– Ik betaal de hoer.

Yang pertama, jelas Mevrouw Ita, maknanya lebih beradab. Yang kedua seperti sebuah pengakuan dosa.

Ia melanjutkan:”Bedakan pengucapan keduanya. Jika tidak, Anda bisa kehilangan muka.”

Kata ‘huur’ berasal dari kata kerja dasar ‘huren‘ yang artinya menyewa. Mevrouw Ita secara samar menyebut arti ‘hoer’ sebagai pekerja seks – bukannya teks – komersial. Otak saya mencari-cari padanan katanya dalam kosakata dalam bahasa Inggris dan Indonesia. Ah, pasti kata ‘whore’. Sejumlah kata bahasa Belanda memang mirip dengan bahasa Inggris tetapi lain pengejaannya.

Mevrouw Ita melanjutkan,”Kalimat pertama artinya ‘saya membayar sewa’ dan kedua ‘saya membayar pelacur’.

Kata-kata kotor semacam ini entah kenapa langsung menancap dalam ingatan tanpa banyak upaya. Begitu juga dengan kata-kata umpatan dalam bahasa kumpeni seperti “je moeder” (mbokmu), “kuss mijn kont” (kiss my ass), “hoerenjong” (son of a bitch), “godverdomme” (goddamit), “moederneuker” (mother fucker), “schijt” (shit) dan sebagainya. Semua kata kata kotor itu tentu tidak diberikan oleh Mevrouw Ita yang anggun dan sopan itu di depan kelas. Saya mencarinya sendiri. Dengan penuh semangat. (*)

Hoax dan Buku

Perihal hoax, Amerika Serikat di tahun 1938 juga pernah dibuat acak-acakan seperti Indonesia masa sekarang. Sebuah sandiwara disiarkan melalui radio yang menjadi medium populer saat itu. Isinya soal serangan makhluk asing dari luar bumi. Orang Amerika bukan kumpulan orang dungu. Mereka memiliki tingkat literasi yang sudah baik saat itu. Pasalnya, hoax soal mendaratnya alien di AS itu dikemas sebagai suatu hiburan yang bertema serius. Gaya penyampaiannya seperti berita. Di radio, jika seseorang mendengarkan sekilas, dan ketinggalan konteks karena tak mendengarkan dari awal siaran, tentunya mengira itu siaran berita yang tidak main-main. Akibatnya banyak warga AS pendengar sandiwara itu yang menganggap hiburan fiktif itu sebagai fakta. Mereka kalang kabut, ketakutan karena akan dianiaya alien-alien berkepala mirip ujung korek api. Diduga pembuat sandiwara memanfaatkan ketakutan dan kecemasan dalam benak warga AS yang baru lepas dari jeratan Great Depression agar lakonnya laku di pasar. Begitu dongeng pak Hilmar Farid di atas mimbar.
.
“Jadi kalau ada anggapan orang Indonesia mudah percaya hoax karena kurang baca buku, itu patut disangsikan. Kalau ada hubungannya pun, korelasinya tidak langsung,” tegasnya.
.
Ia menambahkan bahwa tidak semua buku dan bahan bacaan cetak saat ini juga memuat fakta dan bukti yang sudah terverifikasi. “Sebagian penerbit malah mencoba mengambil keuntungan dari masyarakat yang kebingungan ini dengan menerbitkan buku-buku hoax dan menjadikannya sebagai suatu dagangan,” cerita beliau yang bersuara merdu itu. Saya pikir Dirjen Kebudayaan Kemdikbud itu cocok sebagai penyulih suara, terutama untuk tokoh-tokoh protagonis yang kebapakan dalam banyak tayangan telenovela India maupun Meksiko.
.
Ya, suka membaca juga belum tentu jaminan kita bebas virus hoax. Tetapi menurut saya kuncinya ialah ketelitian memilih buku bacaan. Kalau penulisnya tidak punya rekam jejak yang meyakinkan, dan penerbitnya juga dikenal sebagai kelas kacangan yang menerbitkan buku-buku berjudul bombastis, sebaiknya tak usah dibaca. Apalagi direkomendasikan ke orang lain. Itu seperti orang yang tidak tahu kebenaran berita copas whatsapp tapi menyebarkannya juga di grup whatsapp dia sendiri. Dan saat ditanya kenapa menyebarkan, alasannya cuma karena mau menyebarkan saja. Tidak mau bertanggung jawab secara moral karena ikut menyebarkan kekeliruan yang masif. Semoga saya dan Anda sekalian dijauhkan dari kemalasan intelektual semacam itu.
.
Namun, di antara kumpulan penerbit yang ada, buku-buku penerbit Yayasan Pustaka Obor bisa dikatakan relatif bebas hoax. Kenapa? Karena penulis-penulisnya adalah akademisi dan peneliti serta pengarang yang sudah teruji kredibilitas dan diketahui jatidiri aslinya. Bukan semacam Eny Arrow, yang dikenal luas tetapi tak pernah diketahui parasnya.
.
Selamat ultah ke-40 Obor! Semoga apimu terus menerangi Indonesia yang haus ilmu.

Anatomi Ideal Rilis Pers Gaya Formal

Rilis pers lazimnya dibagikan oleh pihak penyelenggara untuk para pewarta. (Sumber: Wikimedia Commons)

Sebagai seorang wartawan, saya kerap menerima rilis pers. Biasanya rilis pers ini dibagikan dalam jumpa pers yang diadakan sebelum sebuah event secara resmi digelar. Di dalam sebuah rilis pers, biasanya dimasukkan berbagai informasi esensial agar para pewarta lebih mudah dalam memahami inti event yang dimaksud. Dengan membaca rilis pers ini, pekerja pers akan juga lebih mudah menyusun pertanyaan yang disusun sesuai kebutuhan pembaca medianya atau sesuai arahan redaksi yang mengutusnya ke sana.

Tulisan ini merangkum beberapa poin penting yang semestinya tercakup dalam sebuah rilis pers, dan bisa dijadikan panduan untuk menyusun rilis pers yang baik. Hal ini penting karena rilis pers yang baik turut menunjukkan level, citra dan keseriusan sebuah penyelenggara event dalam menangani perhelatan yang digelarnya.

FONT

Sebuah rilis pers yang baik biasanya hanya berupa 1-2 lembar kertas yang berisi informasi yang diketik rapi dengan font yang resmi. Meskipun formal, bukan berarti rilis pers harus memakai Times New Roman. Jenis font yang masih layak, lazim dipakai dalam dokumen-dokumen dan pantas digunakan dalam korespondensi bisnis seperti Georgia, Arial, Calibri (lazim dipakai di Microsoft Word, program pengolah kata di Windows), Apple Braille (Mac) dan sejenisnya. Intinya, harus mudah dibaca dan mampu menyampaikan kesan resmi. Font Comic Sans dan setipe itu tentu sangat tidak disarankan karena terlalu santai. Font jenis Monotype Corsiva yang terlalu meliuk-liuk sehingga menyulitkan membaca juga kurang disarankan dipakai dalam rilis pers. Untuk pemilihan font, tentunya harus dikonsultasikan dengan klien yang bersangkutan, karena bisa jadi tiap klien (apalagi yang sudah skala dunia) memiliki panduan tersendiri yang disepakati bersama dalam lingkungan internalnya.

Masih terkait penggunaan font, jangan lupa gunakan font tebal (bold) untuk menekankan poin-poin penting yang menjadi fokus rilis pers. Font tebal disarankan dipakai untuk mencetak nama orang dan tempat penting. Nama ini misalnya nama jajaran direksi atau nara sumber penting yang hadir dalam jumpa pers yang bisa diwawancarai pewarta, atau tempat yang baru selesai dibangun dan siap diperkenalkan dan dibuka untuk publik. Sebagai tambahan, garis bawah (underline) kurang disarankan karena membuat rilis pers kurang rapi. Sementara itu, font miring (italic) diperlukan dalam mencetak istilah-istilah asing yang belum diserap ke dalam bahasa Indonesia.

LOGO

Di bagian atas (kop), idealnya mesti ada sebuah logo perusahaan yang proporsinya sudah dipertimbangkan secara cermat dan seragam dengan penggunaannya di media lain. Dengan kecermatan dalam menentukan proporsi, Anda akan lebih yakin bahwa rilis pers itu memang dikeluarkan oleh lembaga/ korporasi yang bersangkutan.

FOTO

Meskipun rilis pers hanya dicetak hitam putih, keberadaan foto juga bisa saja menarik pembaca. Foto yang diambil tentunya yang memuat hal yang paling kuat mewakili citra dan bidang tempat penyelenggara event bergerak. Misalnya, jika rilis pers dikeluarkan sebuah hotel, tentu saja akan lebih cocok untuk menampilkan interior presidential suite yang terbaik dan termewah. Bukannya memuat foto kolam renang, spa atau gym, meskipun dua fasilitas tersebut juga pasti ada di dalamnya.

Jumlah foto tentunya disesuaikan dengan kebutuhan. Tidak perlu terlalu banyak, asal sudah mampu membantu menyampaikan tujuan pembuatan rilis pers itu sendiri. Jikalau memang dirasa perlu memberikan foto berwarna resolusi besar agar dapat segera dibawa pulang dan diunggah pewarta daring, boleh saja Anda masukkan file-file foto tadi ke dalam flash disk sehingga lebih ringkas. Flash disk itu juga bisa diberikan sebagai salah satu souvenir bagi pewarta yang hadir dalam jumpa pers. Alternatif lain untuk menyediakan foto resoulsi besar ialah dengan memberikan tautan di situs resmi lembaga/ perusahaan yang bersangkutan, yang di dalamnya sudah disediakan foto-foto yang siap diunduh oleh pewarta dan publik yang berkepentingan.

JUDUL

Judul adalah kunci. Begitu pentingnya judul sehingga ia haruslah dicetak dengan huruf kapital. Judul bisa saja ada dua jenis: judul besar dan kecil. Biasanya judul besar menyampaikan secara ringkas isi rilis pers. Sementara itu, judul kecil menyuguhkan latar belakang yang perlu diketahui pembaca mengenai peristiwa yang dimuat dalam judul besar. Judul juga bisa memuat angka-angka yang menunjukkan pencapaian (terutama jika rilis pers memuat prestasi korporasi/ lembaga dalam periode tertentu).

TEMPAT DAN TANGGAL

Seperti surat formal, akan lebih baik jika uraian rilis pers diawali dengan tempat (kota) dan tanggal dibagikannya rilis pers tersebut kepada pewarta. Disarankan untuk memakai font tebal agar lebih mudah dibaca dan menarik perhatian.

5W dan 1H

Seperti artikel berita, sebuah rilis pers juga harus memenuhi kriteria jurnalistik 5W (when, where, why, who, what) dan 1H (how). Dan akan lebih bagus lagi jika paragraf pertama sudah memuat itu semua dalam kalimat yang ringkas, padat dan singkat. Paragraf pertama bisa memuat 2-3 kalimat pendek yang sarat informasi umum dan penting. Tidak perlu terlalu detail di sini karena nantinya di paragraf selanjutnya, Anda bisa merinci lebih leluasa.

KUTIPAN

Diperlukan kutipan untuk bisa menguatkan sebuah rilis pers di mata pewarta. Kutipan harus dipilih sedemikian rupa sehingga membangun keingintahuan pewarta untuk bertanya nantinya dalam sesi tanya jawab dalam jumpa pers. Jadi, jangan terlalu pelit dengan informasi tetapi juga jangan terlalu boros. Secukupnya saja asal sudah bisa membuat orang yang membaca bertanya-tanya versinya yang lebih lengkap. Dari kutipan itu, wartawan yang kritis bisa memakainya untuk mengembangkan daftar pertanyaan yang menjadi kerangka tulisan mereka nanti.

Siapa saja yang diperlukan kutipannya dalam rilis pers? Soal ini, sangat bervariasi. Tetapi jika harus diberikan ancang-ancang, berikanlah setidaknya dua kutipan dari dua nara sumber berbeda. Contohnya, cantumkan satu kutipan dari direktur kemudian satu kutipan dari

KELEBIHAN

Dalam rilis pers, bagian yang menjelaskan kelebihan event/ program/ produk sebuah lembaga atau korporasi haruslah ada karena memang itulah tujuan dasar menyusun rilis pers. Untuk menjelaskan kelebihan, Anda bisa memakai deskripsi yang memakai kata-kata sifat yang bertujuan mengundang orang untuk mendekat, mengonsumsi atau mengunjungi. Kata-kata itu misalnya “menarik”, “elegan”, atau “bergaya”. Di sini diperlukan kreativitas tinggi sekaligus kekayaan kosakata penulis rilis pers agar tidak menggunakan kata-kata manis yang klise dan cenderung memuakkan. Akan lebih baik jika penulis rilis pers bisa merangkai kata sedapat mungkin agar tetap terkesan natural meski pada intinya harus memberikan kesan positif sebaik-baiknya.

CALL-TO-ACTION

Jika salah satu tujuan digelarnya event/ program ialah menjual jasa atau produk, jangan sungkan untuk memberikan pernyataan bahwa ada diskon atau potongan harga khusus bagi mereka yang ingin mencoba memakai jasa atau produk tersebut. Di dalamnya Anda bisa mencantumkan tautan (link) di situs web resmi lembaga atau perusahaan klien yang bersangkutan untuk mengklaim diskon itu segera sebelum periode penawaran diskon berakhir.

KETERANGAN TAMBAHAN

Di bagian sebelum paragraf terakhir, lebih disarankan jika ada deskripsi singkat mengenai latar belakang penyelenggara program/ event yang dijelaskan dalam rilis pers. Yang bisa dicantumkan di sini ialah nama penyelenggara, grup bisnisnya atau organisasi besar yang menaunginya, sejarah singkat (dalam 1-2 kalimat singkat), pencapaian terbesar dan terkini, jangkauan dan sebaran program/ event, kelebihan yang menjadi daya jual/ selling point.

Di bagian ini, Anda bisa bubuhkan alamat situs resmi grup bisnis atau organisasi besar yang menjadi tempat bernaung sang penyelenggara event/ program.

ALAMAT DAN KONTAK

Di bagian paling akhir rilis pers, sertakan juga narahubung (contact person) yang bisa dihubungi jika ada pertanyaan, jabatan sang nara hubung (untuk meyakinkan pihak luar tentang otoritasnya dalam memberikan jawaban), nama lembaga/ perusahaan, alamat lengkapnya, nomor telepon yang dapat dihubungi setiap saat, dan alamat surat elektronik (surel). Akan lebih baik lagi jika ada juga akun media sosial yang dapat diikuti untuk bisa mengetahui kabar terbaru dan berinteraksi dengan brand/ bisnis yang bersangkutan secara real time. Akun apa saja yang perlu disertakan? Untuk lingkup Indonesia, pastikan setidaknya ada laman penggemar (fanpage, bukan akun personal) Facebook dan akun Twitter. Instagram juga bisa ditambahkan tetapi tidak sekrusial dua sebelumnya.

Terakhir sebelum Anda mencetak dan membagikan rilis pers ke media, periksa dan baca lagi draftnya untuk menghindari kesalahan ejaan (typo) yang dampaknya bisa mengganggu dan memalukan. Kesalahan tanda baca dan tata bahasa juga kerap ditemukan dalam rilis pers. Dan dalam jumlah yang terlalu banyak, kesalahan-kesalahan minor ini akan cukup meyakinkan media bahwa rilis pers itu disiapkan secara terburu-buru atau kurang matang. (*)

On WhatsApp Diet

I failed again.

After some time ago I uninstalled WhatsApp and tried so hard to resist the inner temptation of adopting it back in my daily routine of virtual communications (the peer pressure to be back was too huge), now I experimented with a milder strategy of controlled disconnecting in the time of hyperconnectivity. 

This time I tried to leave some WhatsApp groups. But believe me, it is not because I despise those in them. They are kind and nice. Several verbal attacks might occur occasionally but are relatively forgivable.

At first, I thought this would be a successful strategy to restrict my WhatsApp data consumption, which according to my casual digital audit contributed the biggest percentage of my online activity. It dawned on me too that financially this has to be managed and controlled. It is not that I can’t afford the data plan but as I think more this 

Very alarming.

And then I wish to limit my screen time, too. I have done too much work with computers in all sorts. Laptops, Smartphones, both combined are so lethal and eye strain kills me at the end of the day. My eyes suffer. And the dark circles and eye bags don’t seem very nice on me. This is getting serious, I thought.

So unhealthy.

But apart from all that mentioned above, my relationships may suffer in some way. Because I left the groups announced, without any prior notice or – even worse- conflicts, I might be seen as impolite, uncivilized, overly sensitive ( baper as Jakartans call it), silly, eccentric, bizarre, even cocky and mentally unpredictable. 

Cradle

IT WAS SUNDAY night when I saw someone’s text on my phone. An unsolicited text it really was but I almost dropped my jaw. It was from a person I look up to. A man of significance. Such a figure to me and many other aspiring writers.

He is of Chinese descendant but other than the genetic factor, he is more Javanese than I am. He opened his text with Islamic salutation I even only seldom use in very limited circles. But he liberally uses it as if it were normality, part of daily conversation at home. He managed to abbreaviate the salutation into “Ass.Wr.Wb” and concluded the text with “Wass”. Very considerate about me, knowing I’m a Javanese and moslem.

“How are you? Sometime ago I wrote this short story with your hometown Kudus as the setting. Your birth place surely possesses a great deal of potential. Go explore it!” he advised me.

I sighed and frowned. Really? Why can’t I see that? I must have been so short-sighted.

I could not return his text immediately that night as it took me a while or a whole night to be exact as to how I had to select the most appropriate words to respond to this hugely humble literary giant’s message.

I tried to please him, saying I was more than flattered to know he still remembers this unknown literary enthusiast who keeps wanting to get published but has to drag himself so hard to the finish line.

Three hours after that, he returned my text and showed me in what newspaper the short story about my tiny hometown was published. I guess he has kept a neat filing system and record containing all his academic and literary works.

“Kudus is a unique town, mas Akhlis. Please explore it.” His words sank down in my silence for a moment or two, leaving me empty-headed, not knowing what to do next.

But it is true that we humans need people like him to remind us of how far we have gone from our home and now that we long for more adventures, more novelty, more experience, more meaning and values and the list goes on and on, we almost always take the potential of our own cradle for granted. (*)

Mister Fixer

15936669_10209757571153378_6331441846918302436_o

Selama setahun lebih dipunyai, baru kali ini dia tidak enak dinaiki. Pasalnya, ban depan kempes sekempes-kempesnya. Padahal baru saja mengeluarkannya untuk menuju jalanan.

Bengkel tambal ban sepeda di dekat pasar yang habis kebakaran itu tutup. Masygul, saya langkahkan kaki dengan remah-remah kesabaran yang tersisa ke bengkel kedua sesuai arahan seorang pria. Tanpa hasil juga karena si pemilik bengkel tak sanggup memperbaiki ban sepeda. Ia hanya bisa memperbaiki ban-ban tebal milik sepeda motor. Apa daya, saya mesti terus melangkah mencari bengkel lagi.

Hingga saya temukan juga bengkel Mister Fixer ini. Dan seorang bapak segera keluar. Tidak ada siapa-siapa kecuali dia. Saya girang. Artinya kasus sepeda ini segera tertangani.

“Saya juga sewakan sepeda,” katanya. Ia menjawab sebelum saya bertanya karena mata saya menelusuri tiap jengkal halaman rumahnya yang dipenuhi belasan sepeda berbagai jenis. Dari MTB, city bike, sepeda onta. Untuk sewa perorangan, tarifnya cuma Rp15.000 tetapi untuk sewa korporat ia patok dua kali lipatnya. Untuk keperluan syuting, ia bisa berlakukan skema tarif khusus juga. Peluang bisnis yang bagus mengingat beberapa ratus langkah dari bengkelnya memang terletak sebuah rumah produksi yang sinetron-sinetronnya menjejali layar kaca rumah tangga Indonesia.

Saat sepeda saya masih ditanganinya, ia kedatangan pelanggan lain, seorang ibu dengan sepeda pink tunggangan anaknya. Tapi ia utamakan sepeda saya dan ia panggil karyawannya. Bukannya meraih ponsel untuk menelepon atau mengirim pesan, ia ambil sebuah kentongan kayu berbentuk cabai raksasa di pintu bengkel dan memukulnya. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Si pegawai tak muncul jua.

Perhatiannya beralih kembali ke sepeda saya. Melihat sepeda yang tersaput debu, ia pintar menawarkan jasanya,”Mau dicucikan?”

Mata saya mengerjap. “Mau.”

“Dua, eh, sepuluh ribu…,” timpalnya agak terbata ragu.

“Baiklah…” saya berserah.

“Sayang. Soalnya sepedanya bagus.” Sebuah eufemisme dari “Mas mas, punya sepeda bagus tapi ngurus kok nggak becus…”

Untuk semua itu, ia cuma mematok Rp25.000 saja. Sepeda dicuci bersih, ban disemir, rem diservis, rantai diminyaki, pokoknya siap menggenjot saja. Ah, enaknya!

Ingin membawa sepeda Anda untuk servis di sini? Tinggal cari saja gang Karet Belakang, Karet Kuningan, Jaksel. (*)

Syukur

Seorang laki-laki mendatangi orang bijak yang ia segani. Orang bijak itu sudah tersohor ke mana-mana akan nasihat-nasihatnya yang bernas dan jitu.

Kepada sang orang bijak, ia berkeluh kesah. “Hidup saya tiada rasa istimewa. Semuanya hambar. Bahkan saya tidak pernah mengecap rasanya berkecukupan. Harta saya pas-pasan. Saya lihat ke sekeliling saya, tetangga kana kiri selalu hidup lebih berlimpah. Ternak mereka jauh lebih banyak, rumah mereka lebih megah, emas mereka lebih banyak, halaman mereka lebih luas, dan keluarga mereka lebih bahagia. Apa yang harus saya lakukan agar bisa sekaya dan sebahagia mereka?” ucapnya panjang lebar.

Sang orang bijak tersenyum simpul, seolah siap memuntahkan kata-kata petuahnya. Kata pria arif dan bijaksana itu pada si pengeluh,”Kau tahu sebenarnya kau sudah bahagia dan kaya…”

“Bagaimana bisa? Saya masih menyedihkan seperti ini. Saya masih jauh dari kesempurnaan mereka,” tukas pria itu dengan muka murung.

“Kau tahu beda orang kaya dan orang miskin?” tanya si orang bijak lagi.

“Tentu hartanya yang berlimpah ruah adalah mereka yang bisa disebut kaya. Sebaliknya, mereka yang berkekurangan disebut miskin,” ujar pria itu dengan nada tinggi. Baginya itu sudah jelas dan tampaknya ia kesal karena sang pria bijak tak lekas menjawab pertanyaannya mengenai cara agar laya dan bahagia.

“Menjadi orang kaya itu mudah. Kau hanya perlu bersyukur. Begitu kau memiliki rasa syukur dalam hatimu, kau sudah menggenggam kekayaan dan kebahagiaan yang dianugerahkan Tuhan padamu. Mereka yang miskin terus resah mencari, menumpuk, menimbun dan mengeruk. Tidak ada rasa syukur dan cukup.” jelasnya lagi mengenai perbedaan si kaya dan miskin.

Kini wajah sang pengeluh mulai teduh. Amarahnya luruh.

***

Berapa banyak dari kita yang merasa bahwa menabung dan menyimpan ialah sebuah kewajiban? Pada titik tertentu, kebiasaan menabung — apapun itu yang ditabung  — memberikan dampak positif karena mempersiapkan kita untuk masa depan yang tidak pasti. Namun, di sisi lain, menabung membuat kita terlalu terobsesi dengan apa yang disebut kekayaan. Karena kekayaan kita samakan dengan harta, aset, materi yang dimiliki. Padahal belum tentu semua materi itu membawa serta kebahagiaan.

Dan mengenai rasa syukur yang membuat kita kaya itu, sebuah studi ilmiah menyimpulkan bahwa manusia merasa lebih bersyukur atas hal-hal yang ia bisa lakukan dan alami daripada benda-benda yang ia miliki. Rasa syukur dan berterima kasih pada apa yang diberikan Tuhan yang kita bisa nikmati dan alami itu juga membuat manusia lebih dermawan kepada sesamanya.

Hal yang berkebalikan terjadi pada mereka yang mengutamakan kepemilikan benda sebagai peraih kepuasan. Rasa syukur itu ada tetapi kemudian diikuti dengan rasa egois, tidak mau membaginya ke orang lain.

Kata pengajar psikologi dari Cornell University Thomas Gilovich, kita perlu memikirkan perasaan kita saat pulang ke rumah setelah membeli barang. “Anda mungkin akan berkata,’Barang X ini bagus ‘ tetapi Anda cenderung tidak akan berkata,’Saya merasa bersyukur bisa memiliki barang X ini.” Bahkan jika Anda masih ingat bersyukur pun, Anda tidak akan menyatakannya selantang saat mengalami sebuah pengalaman.

Ada dugaan bahwa pengalaman lebih banyak memicu rasa syukur sebab melibatkan lebih banyak hubungan sosial. Logis, karena dalam mengecap sebuah pengalaman, Anda akan diharuskan berinteraksi dengan lebih banyak orang dengan cara yang lain daripada dengan membeli sebuah barang. Membeli sebuah barang hanya sebuah interaksi transaksional tanpa ikatan emosi, menurut saya, sehingga akan lebih instan, rapuh dan kurang membekas dalam benak kita. Lain dengan pengalaman hidup yang mengharuskan kita berinteraksi lebih erat dan melibatkan sisi emosional kita sebagai manusia.

Mencari Presiden Boneka (2)

Retorika yang selama ini Trump gembor-gemborkan selama kampanye tidak bisa dikatakan positif. Namun, Tom berpendapat itu hanya caranya mendapatkan simpati dari para pemilih. Selama ini, Trump sudah pernah menyinggung kelompok-kelompok minoritas seperti imigran Meksiko, kaum muslim, perempuan dan kaum difabel. Apakah Trump benar-benar akan merealisasikan retorikanya itu? Hanya Tuhan yang tahu.
Dan dukungan untuk Trump sebetulnya lebih banyak datang dari mereka yang tinggal di perdesaan di seluruh pelosok AS. Itulah kenapa kita lebih banyak mendengarkan citra negatifnya di media-media arus utama Amerika. Itu karena media-media berpusat di daerah-daerah perkotaan, yang kebanyakan lebih terdidik dan progresif, dan bersimpati pada Partai Demokrat yang terbuka daripada Partai Republik yang kolot.

“Di perdesaan seperti itulah orang-orang lebih sulit diyakinkan mengenai berbagai alasan mengapa memilih Clinton berbahaya,” kata Tom lagi.
Ia menambahkan sentimen yang sama juga lazim ditemukan di wilayah perdesaan di Indonesia. Orang-orang di perdesaan tidak akan mempermasalahkan isu-isu yang mengawang-awang seperti hak-hak sipil, hak-hak LGBT, kebebasan berpendapat, kebebasan pers, tetapi mereka lebih peduli pada kesejahteraan dalam kehidupan nyata. Apakah mereka masih bisa makan, minum, mendapat pekerjaan yang 
layak dan adil sesuai kemampuan dan ketrampilan, menjaga kesehatan dengan biaya semurah mungkin, dan sebagainya. Hidup aman, nyaman, tanpa banyak hambatan, itulah yang ada dalam pikiran orang-orang perdesaan. Sederhana dan tidak muluk-muluk. 
Harapan sederhana kaum perdesaan AS inilah yang gagal menjadi fokus dalam kampanye Partai Demokrat selama ini. Obama dan Clinton kurang menunjukkan itikad teguh mereka dalam mengatasi masalah lapangan kerja di daerah-daerah rural Amerika yang tingkat kesejahteraannya lebih rendah dari perkotaan. 

Para pemilih di perdesaan ini jumlahnya mencapai 55-65% dari keseluruhan populasi AS. Dan di perdesaan jugalah orang-orang manula lebih banyak tinggal. Mereka pensiunan dan veteran yang harus menanggung biaya tinggi untuk Obamacare. Penerapan Obamacare memang didasari niat mulia tetapi setelah itu malah terjadi peningkatan biaya asuransi juga. Dan hal ini membebani rakyat pada 
akhirnya. Kenaikan biaya asuransi tidak begitu terasa jika kita masih muda, sehat dan masih bisa bekerja siang malam karena masih dalam usia produktif. Lain halnya, jika kita sudah berusia uzur, tidak 
banyak bisa menghasilkan uang dan sakit-sakitan. Setiap kenaikan biaya pemeliharaan kesehatan akan terasa memberatkan. Patut dipahami jika mereka kurang bersimpati pada Demokrat. 
Mengenai pertanyaan apakah semua pendukung Trump juga membenci kaum minoritas, Tom menjelaskan jawabannya tidak sesederhana iya atau tidak. Ia mengenal sejumlah pendukung Trump di lingkungan tempat tinggalnya yang juga berkawan dengan imigran Latin dan Muslim. “Dan tebak, para pendukung Trump yang saya kenal ini tidak pernah melontarkan lelucon atau ejekan pada kelompok Latin atau Muslim. Mereka hanya mempedulikan soal isu ekonomi yang memprihatinkan. Obama dan Clinton gagal dalam menunjukkan keseriusan dalam menangani masalah ekonomi ini,” ucapnya.
Tentang jenis strategi yang Trump gunakan sepanjang kampanye ini, saya bertanya pada Tom mengapa ia begitu percaya diri. Trump sebetulnya tidak begitu yakin dengan strategi semacam itu. Tidak pernah, tegas Tom. “Jadi, semua itu semata-mata hanya eksperimen?” batin saya. Dan mungkin dengan pernyataan-pernyataan kontroversialnya yang menohok banyak pihak, Trump menimbulkan kegaduhan yang justru membuatnya tidak hanya membuatnya makin dibenci tetapi juga makin dielu-elukan oleh banyak orang.

Tom kembali menegaskan pandangan tentang rekam jejak Nyonya Clinton yang sudah berlumuran darah. Ratusan orang tewas di Amerika Latin karena Clinton mendukung kudeta lokal. Begitu juga kasus Benghazi, yang melibatkan Clinton. 

Menurut Tom, Clinton juga ikut bertanggung jawab atas meletusnya Perang Irak di dekade lalu karena ia menyetujui usulan perang dari presiden berkuasa George W. Bush ke Kongres. “Hillary ialah salah satu petinggi Demokrat yang membantu Republikan menyatakan persetujuan berperang di Irak,” tukasnya. Padahal perang bisa dicegah jika Clinton dan Demokrat menyatakan ketidaksetujuan pada usulan Bush.

Efek susulan dari perang di negeri seribu satu malam itu sangat panjang. Kekosongan kekuasaan di Irak membuat kondisi Timur Tengah menjadi labil dan dari situ, ibarat sel-sel yang sudah bermutasi sedemikian rupa menjadi sel kanker, Al Qaeda dan ISIS lahir. 

Pada gilirannya, teror merebak dan citra Islam makin tercoreng di dunia. “Menurutmu, jika Saddam Husein masih hidup, apakah ia akan membiarkan kelompok semacam ISIS merajalela?” ia bertanya secara retoris pada saya. Di sini, saya mulai mendekonstruksi narasi mengenai Saddam Husein yang selama ini mungkin dibentuk oleh Barat. Sebuah narasi yang mengatakan bahwa Saddam diktator yang jahat dan tidak kenal ampun. Tetapi di sisi lain, keberadaan rezimnya diakui atau tidak ada gunanya juga, yakni untuk menjaga kestabilan kawasan Timur Tengah. (Bersambung)

BANGSA RORO JONGGRANG

Kau tahu kisah legendaris itu bukan? Seorang putri yang minta dibuatkan seribu candi dalam semalam oleh seorang pria yang mabuk kepayang padanya. Tentu musykil kelihatannya tapi karena kesungguhan yang tidak terbendung untuk mendapatkan pujaan dan bantuan dari lelembut yang berpihak sebagai bala bantuan, akhirnya hampir rampung juga proyek yang bertenggat mepet itu. Tapi karena inti permintaan mustahil itu ialah penolakan secara halus, apa boleh buat si putri menghalalkan kecurangannya demi menggagalkan tegaknya candi keseribu itu. 

Zaman melaju dan masih di tanah yang sama dalam banyak kesempatan saya juga saksikan kemampuan orang-orang semacam pemuda gigih tadi, yang tanpa banyak rencana dan karena terpaksa satu atau lain hal ia harus bekerja tanpa henti dalam jangka waktu sempit dan hasilnya ternyata di luar dugaan, begitu memukau.

Tak cuma rakyat, budaya ini juga ada di pemerintahannya. Seorang karib pernah mendengar dari rekannya, yang tinggi besar berkat warisan gen Aria, tentang bagaimana pemerintah sebuah negara asing dibuat berdebar penuh kepanikan karena bekerjasama dengan para birokrat pemerintah negeri ini yang kerjanya lambat dan santai bahkan mengabaikan pembuatan rencana jangka panjang dalam pematangan sebuah perhelatan besar yang waktu penggodokannya tidak mencukupi. Pemerintah negara manca itu pusing tujuh keliling mengetahui tenggat waktu makin dekat tanpa melihat ada kemajuan signifikan dalam persiapan. Namun, begitu digelar ternyata hasilnya tidak begitu buruk juga. Tanggapan publik relatif positif.

Kemalasan penuh keberuntungan semacam itu juga dialami teman saya. Ia gubah kisah pendek sebagai tugas dalam pelatihan dalam semalam karena sudah banyak menunda akibat berkubang kesibukan dan baru mengirimkannya sehari sebelum tenggat waktu. Sementara saya sudah menyelesaikannya jauh-jauh hari. Sebulan sebelumnya bahkan. Dan bukan cuma satu kisah tapi dua cerita pendek saya kirimkan sebagai bahan pertimbangan. Nelangsanya toh saya tidak bisa berbuat apa-apa saat kisah teman itu terpilih sebagai salah satu yang terbaik dan saya yang sudah rampung dari jauh-jauh hari cuma bisa meringis bertepuk tangan. Haha, saya ingin tertawa terpingkal-pingkal di depan cermin lalu membenturkan dahi ini ke benda itu sampai puas.

Sineas-sineas muda ini juga tipe pekerja yang begitu. Dengan bahan bakar kreativitas, ambisi dan ketakutan kehabisan waktu, mereka bisa menyabet penghargaan bergengsi. Terlihat sebagai sebuah keberuntungan namun saya yakin mereka tidak mengandalkan itu saja. Seperti teman saya yang mengaku tidak tidur semalaman karena menulis cerpen itu saat saya sudah nyenyak dan berpuas diri dengan hasil kerja saya yang selesai tepat waktu. Ah, mungkin “pre-crastination” jauh lebih berbahaya daripada “procrastination”. Atau tidak? Sungguh sebuah misteri.