Dalam Mrtasana dengan Kino MacGregor

Jauh sebelum Instagram merasuk dalam dunia yoga kontemporer seperti sekarang, ashtangi Kino MacGregor sudah menentukan gaya berpakaiannya sendiri. Sebagian orang mungkin menyangka ia berpakaian minim hanya untuk menarik perhatian para pengikut di jejaring sosial tetapi sejak dari dulu ia memang lebih memilih demikian sebagai pakaian dalam latihan yoga sehari-hari karena kenyamanan.

Dalam sebuah foto di majalah bertema yoga edisi tahun 2008 itu, saya melihatnya sedang memeragakan pose natarajasana (lord of the dance pose) yang saya juga amat gandrungi. Kakinya kala itu belum lurus. Sekarang ia sudah bisa meluruskannya. Ia tampak samping dengan mata fokus ke depan, hanya sports bra hitam dan celana pendek ketat warna serupa yang menempel di tubuhnya. Hanya saja, rambut pirangnya masih tergelung rapi. Sekarang ia lebih suka mengurainya begitu saja secara natural.

Kino duduk siang itu di sebuah panggung kecil dengan ketinggian cuma sejengkal dari lantai. Saya mendekatinya, mencoba menyampaikan bahasa tubuh yang mengundang perhatian karena saya tidak bisa berbicara lantang di depan orang-orang dan meminta berbincang sebentar.

“Baiklah, apa yang Anda ingin tanyakan? Maaf nama Anda siapa?” tanyanya lembut. Tangannya mengurai rambut ikal mayangnya yang keemasan. Riasan wajahnya tipis dan tampak alami. Di belakangny sebuah backdrop raksasa menunjukkan Kino dengan pose natarajasana terbaiknya sembari memamerkan senyum menawannya.

Saya sebut nama saya. Kino masih kesulitan mengucapkannya. Saya contohkan pengucapannya. Masih juga ia salah ucap. Putus asa, saya berkata,”Anda tahu nama tendon di atas tumit yang jika putus akan membuat seseorang tak bisa berjalan selamanya?”

“Oh, Achilles heels?”

“Tepat sekali,” tukas saya.

“Nama Anda Achilles?”

“Bukan. Tetapi mirip seperti itu kan?”

“Iya juga,” ia menganggukkan kepala, tak sabar menjawab pertanyaan saya.

“Oke, mbak Kino. Boleh kan saya panggil begitu?”

“Silakan saja. Tapi artinya apa sih ‘mbak’?” tanya Kino ingin tahu.

“Itu artinya sebutan untuk perempuan yang dihormati,” karang saya.

“Oh ya? Hmm, saya suka kalau begitu,” ucapnya dengan mata berbinar.

Tak sabar saya mulai wawancara saya dalam bahasa Inggris acak-acakan,”Jadi bagaimana sih mbak Kino mulai tertarik dengan Ashtanga Yoga? Kok nggak tertarik sama olahraga yang lain, yang lebih modern gitu? Zumba kek, les mills kek, atau senam kegel. Yoga kan kuno ya mbak? Eh, ya nggak sih?”

“Begini ya, Achilles,” ia menatap ke bawah, tetapi bukan untuk mencari-cari uang yang jatuh.

“Bisa saya gambarkan dulu saya itu gadis Amerika…,” ucapnya.

“Ah berarti sekarang sudah tidak lagi gadis, mbak Kino???” tanya saya kepo.

“Saya sudah menikah. Tapi belum ada anak,” jawab Kino dengan menyungging senyum.

“Ok lanjut…”

“Baiklah. Begini ceritanya…”

“Oh sudah begitu saja ya?”

“Belum! Hmm..” ia mencoba bersabar menghadapi pewawancara setengah sinting ini.

“Oh oke. Silakan dilanjutkan,” ucap saya sambil mendorong dagu maju, menunjukkan antusiasme.

“Jadi saya dulu gadis Amerika yang cuma tahu sedikit tentang ikonografi ( citra-citra visual dan lambang-lambang yang dipakai dalam sebuah karya seni atau ilmu atau interpretasi dari citra dan lambang tadi) dunia Timur. Saya suka hal yang berbau Timur. Dan tiba-tiba saya terpikat dengan Ashtanga Yoga dan Dewa Syiwa,” terang Kino dengan mata berbinar. Jadi itu menjelaskan kenapa ia sangat suka dengan pose natarajasana. Konon natarajasana menggambarkan dewa perusak itu sedang menari-nari. Di antara banyak perwujudan Syiwa, sosok penari semesta inilah yang diambil sebagai inspirasi dalam asana yoga. Tarian Syiwa yang dilambangkan dalam pose natarajasana ini melambangkan ritme universal kehidupan dan kematian, proses tanpa akhir yang melibatkan penciptaan dan peluluhlantakan, kematian dan kelahiran kembali yang tidak ada habisnya dalam alam semesta.

Ia terus menceritakan mimpinya yang isinya pertemuannya dengan K. Pattabhi Jois, sang pendiri Ashtanga Yoga. Saat itu Kino sudah berlatih Ashtanga selama kurang dari setahun. “Malam itu saya bermimpi didatangi K. Pattabhi Jois yang tersohor itu. Dan tebak apa yang ia lakukan pada saya? Saya saat itu terjebak dalam situasi darurat saat Dewa Syiwa sedang mengamuk membabi buta.”

“Maksud mbak Kino? Ada peperangan begitu? Dewa Syiwa melawan siapa?”

“Nggak tahu sih. Lupa lupa inget. Tapi yang penting suasananya persis layak di film Lord of the Rings, tapi versi Hindunya gitu,” terang wanita Amerika itu dengan nada bicara yang mulai mencair.

“Wow, seru banget yak,” timpal saya lagi, memberikan jawaban yang penuh semangat dengan harapan ia memberikan lebih banyak cerita menarik pada saya.

“Lalu K. Pattabhi Jois menyelamatkan saya dari Syiwa yang sedang marah itu dan menempatkan saya dalam sebuah perahu ke kota Mysore, India.”

“Perahu apa itu, mbak?”

“Itu tidak penting, Achilles. Yang penting saya seolah mendapatkan pesan untuk segera ke Mysore. Lalu dalam dua minggu, saya mendapatkan tiket pesawat ke India. Dalam hitungan detik sejak bertemu dengan Jois dalam mimpi saya itu, saya tahu Jois akan menjadi sosok berpengaruh dalam hidup saya.”

“Begitu mbak Kino sampai di Mysore, langsung ketemu itu pak Joisnya?”

“Sebelum pikiran saya yang penuh logika ini bekerja, saya hanya memasrahkan diri dengan berlutut di depan beliau dan menyentuh kaki beliau. Dari saat itulah, saya menganggap beliau sebagai guru saya.”

Itu semua terjadi delapan belas tahun lalu. Kino bersama dengan Tim Feldman yang dulu tunangannya dan sekarang suaminya mendirikan Miami Life Center satu dekade sejak pertemuan pertama dengan Jois.

“Oh I see. Gitu yang ceritanya mbak. Eh tapi kenapa tidak pakai nama ‘studio’ gitu?” Saya merangsek dengan pertanyaan baru.

“Karena kami berdua mau Miami Life Center tidak cuma tempat berlatih yoga tetapi juga menawarkan kelas-kelas nutrisi dan mengadakan berbagai workshop tentang spiritualitas, olah tubuh dan bimbingan hidup,” katanya lagi dengan sabar.

Satu hal yang saya kagumi dari Kino ialah ia juga akademisi. Saat itu ia menyandang status sebagai kandidat Ph. D. atau S3 dalam disiplin ilmu kesehatan holistik selain statusnya sebagai seorang yogini yang serius dan pemilik sebuah pusat kesehatan paripurna. Tampak sekali ia perempuan yang tidak sembarangan dalam perkara kecerdasan dan bakat.

Saya belum menyerah,”Bagi mbak Kino, yoga itu apa sih?”

“Hmm, yoga bagi saya ialah katalis untuk mewujudkan perubahan besar dalam hidup kita. Begitu kira-kira, Achilles. Saya juga meyakini bahwa semua siswa memerlukan komunitas dan dukungan. Karena itulah saya mendirikan Miami Life Center itu,” jelas yogini yang pose-posenya menggemparkan jagat Instagram itu. “Miami Life Center pada dasarnya ingin memberikan panduan spiritual bagi mereka yang ingin mengintegrasikan pelajaran-pelajaran dari kesadaran yang lebih tinggi ke dalam kehidupan sehari-hari.”

Di lembaganya itu, Kino membuka kelas kelompok khusus Ashtanga Yoga namun ia mengaku tujuan sejatinya ialah bagaimana agar gaya yoga khas Mysore yang tradisional dan berfokus pada ritme masing-masing pelaku itu tetap lestari. “Kelas-kelas yang dipandu guru bisa membuat murid frustrasi dan menantang, Achilles,” tuturnya meyakinkan saya mengenai kelebihan gaya beryoga satu ini. Terus terang saya belum mencicipinya.

“Anda harus mencobanya. Mysore memberikan Anda banyak waktu dan ruang untuk melakukan banyak modifikasi dan waktu untuk berlatih sesuai kebutuhan masing-masing.” Kami terdiam sejenak. Saya mencari-cari pertanyaan lagi.

“Apa sih trik supaya disukai murid?”tanya saya lagi secara spontan.

“Tidak ada lah. Yang penting saya bisa membantu mereka dengan semangat keterbukaan dan empati.” Jelas ia merendahkan hati.

Kino mengibaratkan diri sebagai mercusuar yang memancarkan sinar spiritual bagi orang-orang yang ingin mencari jauh ke dalam diri mereka sendiri. “Kehadiran saya sebagai guru juga bertujuan sebagai membuka ruang menuju berbagai kemungkinan bagi murid-murid saya dan pada saat yang sama menghargai tradisi dan warisan turun-temurun yang saya ajarkan,” jelasnya.

Belum sempat pertanyaan berikutnya terlontar dari lidah ini, tiba-tiba terasa ada yang menyengat panas di pipi saya. Saya tengadahkan muka. Sekonyong-konyong Kino yang ada di hadapan saya berubah menjadi pancaran piksel-piksel halus di layar laptop. Laptop saya itu rupanya yang memanas dan menyengat pipi ini. Dalam mrtasana alias savasana singkat di sebuah kursi di Starbucks sore itu saya telah bertemu dengan idola saya yang tak bisa saya temuidi dunia nyata. Tetapi toh saya masih bersyukur, karena saya belum sampai terlambat mengajar sebuah kelas yoga yang dilimpahkan pada saya karena seorang guru senior menghadiri workshop Kino. Kedatangan Kino membawa rezeki tidak langsung juga bagi saya.

This entry was posted in fiction and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *