Enda Nasution: "Blog adalah Pilar Kelima Demokrasi"

Blogging sambil belai-belai kucing kesayangan. Nikmat!

Sebenarnya ini postingan pertama aku setelah blogku (www.akhlis-purnomo.com)  sudah ‘almarhum’ (gara-gara salah teknis saat update ke WordPress versi terbaru). Daripada aku bermuram durja dan tidak tahu harus menulis di mana, akhirnya kuputuskan membuat blog ini. Sengaja memilih WordPress.com karena jika suatu saat mau buat blog yang ‘beneran’ bisa langsung diekspor ke sana.

Memang benar, menulis itu bukan hanya membutuhkan keahlian mengetik dan ketekunan. Menulis juga butuh membaca! Tanpa membaca, kering rasanya otak dari ide untuk dituang dalam posting.

Sore ini saat selesai salat Asar tak sengaja ingin sekali membaca sebuah koran yang tergeletak di meja musholla. Entah sebuah divine coincidence atau apa, pas di halaman tengah koran itu kutemukan foto Enda Nasution memegang erat sebuah laptop, sebuah TV layar datar di belakangnya yang memamerkan beranda blognya dan tulisan headline “ENDA NASUTION-MENGAWAL PILAR KELIMA DEMOKRASI”. Wow! Seketika langsung kuputuskan membawa koran itu ke meja jadi maaf buat yang punya koran. Korannya aku bawa untuk referensi dulu ya.

Enda Nasution memang sudah bukan orang asing di telingaku. Pertama aku mendengar namanya (mungkin) saat ramai-ramai adanya pelacakan siapa yang membuat blog terorisme yang meresahkan itu setahun lalu setelah meledaknya bom Marriott yang kedua. Bung Enda saat itu diwawancarai oleh sebuah TV swasta di suatu siang dan dengan gamblang menjelaskan bahwa blog itu buatan blogger amatir ( which kind of offended me).

Di tulisan satu halaman penuh itu dibahas perjalanan panjang Enda dalam mengarungi samudra blogging. Tapi aku cuma akan membahas beberapa poin tentang blogging yang menurutku amat ‘seksi’ untuk dibahas.

Blogging should mirror your pursuit of personal happiness and bring you more friends

Terkait dengan kunjungannya ke AS baru-baru ini, Bung Enda menceritakan bagaimana blogging di AS dan Indonesia berbeda satu sama lain. Sesuai dengan paham individualisme yang kental, blogging di AS adalah sebuah perwujudan dari pengejaran kebahagiaan seseorang sementara di sini blogging adalah ajang mengakrabkan diri dengan orang lain. Nampak seperti dua ujung yang berjauhan dalam satu spektrum. Tetapi di sini aku pikir bukan masalah putih atau hitam, sosial atau individual. Masing-masing punya karakter dan why should we imitate others? Jadi berbanggalah dengan diri kita.

Meski begitu, sebenarnya aku perlu memberi sanggahan tentang dikotomi invidual vs. sosial ini. Sepengetahuanku para blogger di dunia Anglosaxon (Australia, Amerika dan Inggris) juga mempunyai wahana untuk bersosialisasi. Tengok saja di SXSW Interactive yang baru diselenggarakan di Austin, Texas. Dan sebentar lagi pada tanggal 14-16  Oktober juga akan diselenggarakan event internasional bernama Blog World New Media Expo 2010 di Las Vegas yang dibanjiri blogger-blogger ingusan maupun kawakan di seluruh dunia. Jadi setidaknya acara ini menjadi pembuktian bahwa blogging bagi blogger-blogger luar negeri terutama AS bukan melulu tentang ambisi personal, tetapi juga melibatkan sebuah jejaring relasi yang luasnya menembus batas geografis.

Sebuah pernyataan yang aku hanya bisa amini ialah bahwa blogger Indonesia cenderung suka menjadi konformis agar sebisa mungkin menghindari konflik. Tak bisa disangkal memang begitulah kultur kita. Beropini secara blak-blakan masih dianggap tabu. Tak perlu disesali, karena kita memang bukan Amerika.

Blog and social networking sites are Tom and Jerry-they’re foes who complete each other

Yah, itu kesimpulanku menanggapi opini Enda Nasution. Ia mengibaratkan semua jejaring sosial sebagai warung dan blog sebagai rumah atau induk dari kegiatan interaksi online.

Hmm, untuk yang satu ini aku berbeda pendapat juga. Pasalnya, banyak anak muda sekarang sudah terlampau jauh kecanduan situs jejaring sosial hingga terlalu malas menulis panjang dan berakibat membuat posting blog pun jadi cuma 140 karakter. Tidak percaya? Gejala micro-blogging yang tidak pada tempatnya ini terlihat di Kompasiana.com. Di sana anggota-anggotanya pernah mengeluh tentang sering ditemuinya artikel yang cuma sepanjang status Facebook atau Twitter. Dan isinya pun kurang mengandung informasi yang esensial.

Blend blogging with entrepreneurship, and you’ll get blogpreneur

Bung Enda mengumpamakan blog yang kita tulis sebagai sebuah etalase bening yang memajang semua expertise, skills, dan pengalaman yang kita peroleh. Sebuah pengamalan total dari ajaran narcissism, tapi ini terkesan jauh lebih elegan dan cerdas dari menulis kalimat “Gue makhluk paling keren di jagat raya” di dinding Facebook kita. Bukannya dikagumi, malah tambah dicerca teman-teman di Facebook.

Menurut pengalamanku sendiri sih, blogging memang mengasah banyak kemampuan seseorang. Misalnya, mengasah kemampuan berpikir logis dan runtut (which I’m still learning currently), bermain kata, bersikap jujur (dengan menghindari plagiarisme konten yang kita sajikan), dan pastinya kemampuan menuangkan ide dalam tulisan.

Jujur tertarik dengan blog awalnya karena ada iming-iming ulasan berbayar alias paid review. Aku sudah mulai blogging (aku masih merasa ganjil kalau pakai ngeblog, terdengar too casual) sekitar Agustus tahun lalu, tapi ironisnya baru dapat job paid review akhir-akhir ini (1-2 bulan terakhir). Itu karena Google Pagerank yang sudah memadai (minimal 2) dan harus blog yang independen, bukan nebeng alias gratisan seperti ini >.<

Mengenai blogpreneur, entah mengapa aku kok merasa jarang menemui blogger Indonesia yang benar-benar ‘berjualan’ di blognya. Termasuk saat melihat blog Bung Enda. Masih terlihat lebih bagus dan profesional blog-blog luar negeri yang hidup dari aktivitas blogging, seperti Gary Veynerchuk, Darren Rowse, Deb Ng, Lynn Terry, dan lain-lain.

Dan masih mengenai blogpreneur, aku sempat juga berkenalan dengan seorang ( uhm dua bahkan) blogger Malaysia yang menggantungkan kepulan asap dapur mereka dari blogging. Bermula karena aku berkunjung ke blognya, ia mengunjungi blogku dan mengetahui aku bisa menulis bahasa Inggris dengan baik. Dia mengajakku menulis artikel untuk blognya (yang kira-kira berjumlah puluhan, oh gosh! Aku satu aja kewalahan). Singkat cerita dia suka outsource tenaga penulis dan membayarnya sebagai freelance content writer. Aku mau saja, kelihatannya gampang dan cukup dibayar lewat Paypal. Sialnya aku belum terlalu paham dan mematok harga yang rendah sekali untuk ukuran newbie sekalipun. Padahal kerjaannya harus dikejar-kejar deadline dan harus nongkrong seharian depan laptop. Tantangan tersulitnya ialah menulis dengan cepat dan meyakinkan seperti seorang ahli tentang hal-hal yang sama sekali buta! Bayangkan saja, aku orang Indonesia yang bahkan baru mulai masuk angkatan kerja harus menulis tentang rekening 401 (k) yang notabene ialah rekening pensiunan di Amerika sana. Bahkan di suatu saat aku harus menulis ulang sebuah artikel menjadi 10 artikel lain yang intinya harus sama. Alhasil pemakaian sinonim harus diterapkan. Saat itu juga aku diberikan sebuh software bagus yang bernama The Best Spinner yang tugasnya memintal satu artikel menjadi lebih banyak artikel unik lainnya. Intinya software itu hanya mempermudah orang membuat artikel dengan kata-kata lain sehingga terlihat unik bagi Google atau mesin pencari lain. Jadi sepanjang hari aku harus memintal dengan memilih-milih padanan kata yang pas buat kata dalam satu artikel. Well, it’s a modern sweatshop!

Blog is the 5th estate

Aku pernah belajar Tata Negara di SMA dan setahuku ada tiga pilar demokrasi menurut Montesquieu: yudikatif, eksekutif dan legislatif (Trias Politika, bener ya?). Pilar keempat itu pers dan kelima, menurut Enda, ialah blog. Itu dipertegas oleh mantan PM Malaysia Mahathir Muhammad yang mengatakan blog akan menjadi sebuah kekuatan politik baru. Dan kalau menilik fenomena yang ada, aku setuju sekali.

Blog dianggap mampu mewakili suara hati rakyat (yang melek internet terutama). Dan itu mengingatkanku dengan sindrom “gerakan Facebooker”. Semua isu yang kira-kira kurang populer dan ditentang atau menunjukkan ketidakadilan, langsung mendapat perhatian dan sorotan dari pegiat blogging dan social networking ini. Tak habis pikir, sampai Krisdayanti dicium cowoknya pun ada gerakan Facebooker anti-KD! That I don’t understand. Kalau isu cicak vs buaya dan Prita aku masih bisa mengerti, tapi ini?? Terlalu mengada-ada dan tidak esensial. This thing has been overrrated,menurutku.

Blogging in Indonesia is highly prospective provided that…

Masa depan blogging di tanah air diramalkan akan terus gemilang. Ini didukung dengan adanya pertumbuhan pesat (bahkan cenderung gila-gilaan) pengguna internet di penjuru nusantara. Meski menurutku sempat agak kehilangan pamor saat jejaring sosial meledak hebat beberapa tahun terakhir ini, blogging masih menyimpan pesona tersendiri.

Di balik semua prospek indah itu, terselip kekhawatiran dalam diri Enda tentang kemerdekaan berpendapat yang nampaknya sekarang sudah agak dibatasi (thanks to Mr. Tifatul Sembiring yang mencoba memblokir situs-situs favorit kamu).

Menurutku sih ini bagian dari sebuah siklus. Kita pernah mengalami keterkekangan. Lalu tiba-tiba datang era euforia speech freedom. Pers sangat bebas. Penerbitan sangat dipermudah. Dan lalu saat-saat represif a la ORBA merasuk kembali. Penarikan beberapa buku atau pencekalan buku/ karya yang dianggap kontroversial beberapa waktu lalu dan juga diborongnya majalah Tempo yang menampilkan rekening gemuk para polisi juga menjadi bukti nyata kembalinya era kelam demokrasi yang meski perlahan namun pasti menguasai kita lagi jika tidak diambil tindakan tegas.

Dan datanglah internet. Ini lebih sulit dibendung lagi. You can burn books but you can’t burn a blog. Dan jujur, Indonesia masih berada dalam masa pencarian identitas. Kita masih bereksperimen dengan internet. Kita masih kikuk saat harus menangani masalah yang muncul tidak terduga berkaitan dengan penggunaan internet ini.

Yang paling mengesankan ialah  belum ada tindakan nyata dari kalangan akademisi tentang potensi blog sebagai sebuah media baru baik dalam bidang politik, sosial, ekonomi, dan sebagainya.

Ah, apapun itu aku akan selalu jatuh cinta pada blog. Seperti yang kulakukan sekarang, ngeblog dengan terkantuk-kantuk setelah sahur dan hanya tidur 2,5 jam. Mari ngeblog, meski hanya dalam mimpi. Tidur dulu ah sebelum ngantor…

(image credit: www.sarahlacy.typepad.com)

2 thoughts on “Enda Nasution: "Blog adalah Pilar Kelima Demokrasi"

  1. hehehe…nice first posting, Akhlis!
    ngeblog is not your dream anymore, Akhlis! tuh udah nongol satu tulisan.
    Akhlis, visit mine yg udah rodo jamuran gak ke urus n byk yg gak mutu..hahahaha…: temancurhat.wordpress.com

  2. Hi Tam,
    Thanks dah komen yaw! Haha ^_^
    mendingan kita brainstorming dulu di blog nih untuk melemaskan otot2 menulis kita yang masih kaku…
    Ok deh, nanti aku mampir ke blog situ.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *