Kawat Gigi: Perlu atau Tidak?

Ada banyak faktor mengapa saya ingin memasang kawat gigi meskipun sudah di usia yang tak bisa dikatakan remaja lagi. Banyak yang berkata merapikan gigi idealnya dilakukan saat masih anak-anak atau saat remaja sehingga hasilnya lebih optimal dan juga cepat.

Bagi saya sendiri, dahulu kesadaran perawatan gigi baru hanya sebatas memeriksakan diri saat ada gigi yang berlubang atau goyah atau perlu dicabut segera. Sekarang, dengan tinggal di kota besar dan memiliki akses yang lebih lebar pada perawatan gigi, saya kemudian berpikir untuk merapikan gigi meskipun memang biayanya tak bisa dikatakan murah meriah.

Saya sendiri memilih kawat gigi konvensional yang mungkin secara estetis kurang menarik. Tapi tunggu dulu, meskipun aspek estetikanya kurang, kawat gigi yang berbahan metal justru lebih efektif. Anehnya menurut riset, orang kebanyakan memilih jenis kawat gigi yang terbuat dari bahan non metal agar terlihat lebih menaik. Ironisnya, bahan-bahan non-metal tadi justru membuat perawatan menjadi lebih rumit dan sukar.  Riset ini dilakukan oleh tim peneliti dari Ohio State University dan dipublikasikan di American Journal of Orthodontics and Dentofacial Orthopedics.

Kawat gigi konvensional yang terbuat dari bahan stainless steel justru paling awet dan efisien. Kawat jenis ini dapat dirawat dengan mudah namun dianggap paling tidak menarik.

Jenis tray memiliki keterbatasan dalam mengakomodasi jenis gerak gigi, kunyahan dan efisiensinya. Sementara itu, jenis keramik kadang bisa retak dan pecah sehingga aspek ketahanannya tak sebagus kawat gigi stainless steel.

Jenis tray mengatur gigi-gigi kita dalam cetakan yang setiap dua pekan diubah serempat milimeter. Tray ini bisa dicopot saat makan atau sikat gigi namun harus selalu dipakai sepanjang hari, 7 hari seminggu, 24 jam sehari.

Seperti pernah saya katakan di cerita saya mengenai pencabutan gigi geraham bungsu saya tempo hari, posisi gigi geligi yang kacau balau kadang memang perlu dirapikan dan diintervensi agar mencegah masalah. Dan meskipun secara langsung perapian gigi dengan kawat tidak berkaitan dengan pencegahan lubang atau pembusukan gigi, secara tak langsung dengan letak gigi yang lebih rapi akan memudahkan kita dalam membersihkan gigi dengan sikat. Ini terjadi dalam kasus gigi geraham bungsu saya. Gigi geraham bungsu saya yang posisinya kurang pas membuat saya susah membersihkan gigi geraham di sebelahnya, dan ini membuatnya lebih rawan terhadap risiko masalah gigi seperti lubang dan sebagainya.

Karenanya, meskipun sebuah temuan ilmiah dari tim penelitian University of Adelaide menyatakan bahwa perawatan perapian gigi dengan kawat ini memang TIDAK menjamin secara nyata perlindungan dari risiko gigi berlubang di masa datang. Tetap saja meskipun gigi Anda sudah rapi tetap harus menggosok gigi secara teratur dan mesti memeriksakan gigi secara teratur ke dokter gigi.

Penelitian berbeda yang dilakukan tim peneliti universitas yang sama menyatakan bahwa perawatan ortodentis ini juga tak seratus persen menjamin naiknya kepercayaan diri pada seseorang. Hanya karena memiliki gigi yang rapi, tidak secara otomatis Anda akan bisa mengalami perbaikan kepercayaan diri karena kepercayaan diri lebih luas cakupannya daripada sekadar kerapian dan keserasian gigi. Yang cukup mengejutkan bahwa dibandingkan merapikan gigi, kita bisa menaikkan kepercayaan diri hanya dengan rajin menggosok gigi (setidaknya dua kali sehari) dan berkonsultasi dengan dokter gigi secara teratur (setidaknya enam bulan sekali).

Portrusi atau gigi depan yang tidak rata dan cenderung menonjol keluar ternyata juga tidak cuma lebih sedap dipandang tetapi juga membuat risiko gigi itu patah atau rontok jika kita terjatuh dalam kecelakaan atau terbentur pada permukaan yang keras secara tak sengaja. Hal ini terutama berlaku bagi mereka yang aktif secara fisik. Inilah alasan kenapa anak-anak yang memiliki gejala portrusi disarankan meratakan gigi mereka sedini mungkin. Dan terutama karena alasan inilah saya melakukan pemasangan kawat gigi.

Setelah dua minggu mengenakan kawat gigi, saya bisa katakan bahwa minggu pertama bukanlah pengalaman yang nyaman. Di masa penyesuaian ini, saya merasakan kunyahan saya terasa aneh dan saya tidak bisa secara nyaman menggigit makanan.

Bahkan karena dinding mulut saya masih belum terbiasa dengan kehadiran kawat gigi yang merupakan objek asing dalam mulut, saya sempat mengalami sariawan terutama di sekitar area pipi yang berdekatan dengan gigi samping. Inilah area yang terus bersinggungan dengan kawat gigi terutama saat proses pengunyahan. Jangan ditanya bagaimana rasanya. Kadang jika saya kelewat giat mengunyah, saya lupa ada kawat gigi dan sedikit darah keluar dari dinding mulut akibat gesekan kawat.

Karena itulah, beberapa teman berceletuk bahwa memasang kawat gigi bisa menyebabkan si pemakainya malas makan dan tidak heran berat badan mereka bisa turun. Untuk mengantisipasi agar hal itu tak terjadi, saya melumatkan makanan dan menambahkan air agar lebih encer dan lunak sehingga mudah ditelan tanpa banyak kunyahan. Jika memang tidak ada makanan lunak, saya berusaha sedemikian rupa agar makanan tadi bisa dihancurkan menjadi potongan yang lebih kecil sehingga tidak terjebak di antara kawat gigi.

Satu lagi yang patut menjadi perhatian ialah proses penyikatan gigi yang lebih menguras waktu. Kawat gigi membuat lebih banyak sisa makanan berada di dalam mulut usai makan. Sehingga mau tidak mau, saya harus banyak berkumur daripada biasanya. Tak cukup berkumur, saya juga mesti segera menyikat gigi begitu usia bersantap karena membersihkan sisa makanan di gigi dengan tusuk gigi atau jari jemari di depan orang lain terasa kurang sopan. Saya harus ke toilet untuk menyikat gigi dan berkumur sehingga kebersihan mulut tetap terjaga.

Update:

Setelah memakai kawat, saya mengalami beberapa keluhan seperti kulit dalam rongga mulut yang rawan lecet dan berdarah pada hari-hari pertama tapi menurut teman hal ini bisa diatasi dengan minum jus buah segar banyak-banyak. Sariawan pun terusir dengan alami.

Untuk pengalaman selanjutnya, tetap akan saya teruskan di sini. Nantikan saja update dari saya. (*/)

This entry was posted in health and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *