“La Grande Borne”: Mengintip Diari Pribadi Pengarang Progresif

Membaca beberapa bagian awal buku tulisan pengarang perempuan Indonesia ini, saya sempat terkesan dengan gaya berceritanya yang tidak cuma mengalir tetapi juga sangat blak-blakan. “Tanpa tedeng aling-aling”, kalau boleh menggunakan jargon bahasa Jawa yang kadang ia masukkan dalam tulisan-tulisannya.

Yang cukup mengguncang ialah keberaniannya mengutarakan ganjalan-ganjalan hatinya yang ia pendam selama berumahtangga dengan diplomat Perancis Yves Coffin serta dua anaknya Lintang dan Padang.

Dan yang tidak kalah memalukan juga ialah bagaimana ia memiliki keberanian untuk mengungkap perselingkuhan yang ia lakukan dengan seorang pria yang ia panggil “kapten” di dalam bukunya ini. Perselingkuhan tersebut memang patut dipahami (meskipun secara moral dan agama pasti dianggap salah) apalagi setelah ia banyak mengalami keperihan dalam hubungan rumah tangganya dengan si diplomat yang menurutnya pelit bahkan pada keluarga dekatnya sendiri. Jika merunut keluhan-keluhannya dalam hubungan rumah tangganya, tidak heran jika akhirnya bercerai juga.

Sebagai penggemar karya-karyanya sejak saya masih duduk bangku sekolah menengah atas dulu, saya terkejut dengan gaya bertutur Nh. Dini di buku ini yang agak ‘gelap’, pesimis dan nakal. Ternyata itu karena pernikahannya dengan seorang pria asing tak membuahkan kebahagiaan sejati. Alih-alih bersetia sepenuhnya dan bungkam menerima takdir, pengarang yang bangga dengan latar belakang Jawa-nya itu malah menghentak dengan sikap dan pemikiran serta tindak-tanduknya yang dianggap melenceng dari budaya Jawa.

Berkali-kali saya saksikan perjuangan Nh. Dini dalam himpitan dua budaya: Barat dan Jawa. Misalnya saat ia dan anaknya Lintang menerima perlakuan yang dingin dan kikir dari suaminya, ia kerap mengucapkan bahwa mereka seharusnya bersyukur karena masih banyak orang di luar rumah mereka di dunia ini yang masih harus mengais-ngais tempat sampah untuk sekadar makan dan tidur di luar karena tak memiliki rumah. Ini adalah pendekatan hidup ‘nrimo’ ala Jawa yang ditanamkan oleh ibunda Nh. Dini pada dirinya sejak kecil dan susah sekali luntur. Namun, karena memang jiwa Nh. Dini tidak bisa dikekang oleh norma yang tak adil, ia pun melanggarnya sendiri.

Singkat kata, “La Grande Borne” ini memang lain daripada karya-karyanya sebelumnya, terutama “Sekayu” yang mengisahkan masa kecilnya di Semarang. Materi cerita dan nuansa serta gaya penuturannya sudah lain karena memang sang empunya cerita sudah mengalami perkembangan karakter, dari kanak-kanak menjadi dewasa.

Dan menurut saya, di titik inilah Nh. Dini mengalami krisis hidup paruh baya (midlife crisis). Ia mengalami keresahan yang amat sangat dengan kehidupan pribadinya (baca: ketidakharmonisan dengan suami) sehingga ia terus menyibukkan diri dengan anak-anaknya, menyibukkan diri merawat kucing bernama Miau yang biaya perawatannya mahal, menyibukkan diri juga untuk belajar dan mengambil ujian SIM di Perancis yang terkenal ketat dan tidak mengenal kata Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN).

Saya sangat mengagumi keberanian Nh. Dini yang dengan tak gentar mengangkat sendiri kisah hidupnya untuk dipertontonkan kepada khalayak ramai. Ia lebih mirip David Sedaris daripada J.K. Rowling bagi saya. Sedaris misalnya mampu membungkus kisah hidupnya yang pedih sebagai pekerja serabutan tanpa keahlian yang membanggakan sebagai kisah-kisah humor yang menggelitik. Sementara itu, di ujung sana J.K. Rowling ialah jenis pengarang yang tidak menyangkut pautkan kehidupan pribadinya dalam karya-karyanya. Rowling bahkan mengaku dirinya tidak pernah menulis diari atau catatan pribadi harian.

Entah apakah ia bisa disebut sebagai pengarang feminis atau tidak tetapi yang pasti mendiang Nh. Dini ialah seorang penulis berpandangan progresif, terbuka dan kritis terhadap kondisi dalam masyarakat di sekitarnya. (*/)

This entry was posted in writer and tagged , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to “La Grande Borne”: Mengintip Diari Pribadi Pengarang Progresif

  1. dwimp3 says:

    oh, diary ya? coba aku lihat! biar tahu seperti apa diary-nya. mungkin aku bisa belajar menulis diary darinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *