Meditasi Basa-basi

(Sumber foto: Wikimedia Commons)

Ting! Layar gawainya menyala tiba-tiba. Azwar membuka pesan baru di WhatsApp. Tampaknya pesan itu dari nama yang belum tercatat di dalam kontak ponsel pintarnya. Ia menerka dari foto profil sang pengirim. Foto tak menjawab pertanyaan Azwar karena si pemilik nomor memasang foto tanda sakral Om. “Siapa lagi ini?” batinnya. Ia tidak merasa memberikan nomor ke sembarang orang yang tidak ia kenal dengan baik jadi bagaimana orang ini mendapatkannya dan yang terpenting siapa dia?

Segera ia baca dengan sedikit tergesa karena mesti mengejar bus Trans Jakarta jurusan Dukuh Atas. Begini bunyi pesan itu: “Hai Azwar. Apa kabar? Aku dapat nomormu ini dari Robby, temanmu. Kita bertemu di kelas yoga pekan lalu di Eco Yoga di Ancol. Kau masih ingat kan? Aku ada informasi workshop meditasi. Tanggal 16 April nanti, hari Minggu, jam 6. Kata Robby, kau berminat belajar meditasi jadi kupikir kau akan suka. RUSLI.”

Sialan si Robby, umpat Azwar. Berani-beraninya dia memberikan nomorku ke orang asing seperti ini. Saat Azwar hendak mengetik umpatan dalam benaknya dalam jendela percakapan di ponsel, sebaris kalimat tanya muncul menyita perhatian.

Rupanya dari Robby. Rupanya ia sudah menunggu dengan tekun hingga pesannya terbaca oleh si penerima. Begitu dua tanda centang biru itu muncul dan tulisan ONLINE tertera, seketika ia ketikkan pesan lagi pada Azwar. Ketiknya,”Tempatnya di Balai Kartini. Gurunya Sogyal Rinpoche yang terkenal itu. Dia dari Tibet. Kalau kita booking sekarang masih lebih murah. Nanti H-7 sudah naik banyak.”

Azwar dengan santai mengetik jawabannya sembari sesekali menoleh ke kanan kiri. Ternyata bus TJ keparat itu belum sampai ke halte ini juga, batinnya.
“Baiklah, memang berapa tiketnya?” ia mengetuk tombol ‘kirim’.

Sejurus kemudian Rusli mengirimkan jawaban. “Waktunya 3 jam penuh. Biayanya cuma Rp3 juta, bro.”

Azwar mengernyit. Ia tidak suka dipanggil “bro”, apalagi oleh orang yang belum begitu ia kenal seperti Rusli. Ia baru sekali bertemu Rusli dan itupun secara sekilas di sebuah kelas yoga tempo hari. Sehubungan dengan pertemanan, Azwar memang pribadi yang cukup pemilih.

Ia tidak begitu suka gaya Rusli. Dari pengamatannya, Rusli yang berambut gondrong dan tidak tersisir itu membuatnya cukup mual. Apa pasal? Pakaiannya kerap terlihat kumal dan bau badannya lumayan memicu rasa mual. Apalagi setelah kelas yoga yang membuat kelenjar keringat bekerja sangat giat.

Azwar berkata pada diri sendiri,” Acara meditasi sesingkat itu biayanya 3 juta?! Gila saja.”

“Mahal juga ya…” jawab Azwar lagi. Ia mengharap sinyal penampikan itu tertangkap oleh si penerima pesan.

“Tapi kita bisa dapat diskon 50% jika mendaftar berdua sekarang juga. Hari ini.”

Azwar menetralkan mukanya. Kalau Rp1,5 juta mungkin ia bisa mempertimbangkan. Toh ini lokakarya meditasi yang menghadirkan praktisi meditasi terkenal dari mancanegara. Wajarlah kalau biayanya mahal. 

Sedetik dua detik kemudian, sebuah file foto tertampil di layar percakapan. Tertera di situ sebuah pengumuman lokakarya meditasi dengan kalimat persuasif begini: 

“A MEDITATION WORKSHOP YOU’LL REGRET TO MISS

WITH SOGYAL RINPOCHE FROM TIBET

FEEL THE TRUEST MEDITATION EXPERIENCE…”

Sebagai latar belakang, tertampil foto seorang pria berkulit kuning dan bermata sipit, berkepala plontos.

Aneh sekali, gumam Azwar lagi. Di situ tidak ia jumpai keterangan biaya atau harga tiket masuk.

“Ini kok tidak ada harganya ya?” tanya Azwar. 

“Iya. Harganya baru diberitahukan jika menelepon ke nomor itu,” jawab Rusli dari ujung sana.

Karena Robby sudah menjerumuskannya untuk bertemu dengan orang itu dan masuk dalam lokakarya meditasi ini, akhirnya Azwar mendapatkan sebuah ide pembalasan. 

“Bagaimana kalau Robby sekalian saja diajak bareng ke sana?” Azwar melontarkan gagasannya.

“Oh, mau ajak Robby? Oke, bisa juga kok. Nanti aku daftarkan. Aku biasa ikut acara begini dan sudah kenal dengan panitia acaranya.”

Azwar mengangguk perlahan-lahan. Jadi, Rusli itu biasa meditasi. Pantas ia mirip pertapa begitu. Penampilannya agak tak terurus. 

Sebelum Azwar merespon, Rusli sudah menimpali lagi,”Kalau Robby ikut juga, tiket masuknya jadi cuma Rp1,25 juta, bro.”

“Oh ya?” tanya Azwar tidak percaya. “Okelah kalau begitu aku akan ajak dia secepatnya.”

“Hari ini ya, bro. Jangan terlalu lama.”

Bus Trans Jakarta itu datang juga. Azwar mengetik, “OK.” 

Sekejap ia sudah melompat, dan duduk di sebuah kursi di bus nyaman itu. Ponselnya tak ia hiraukan lagi. Ia takut jadi korban pencopet lagi jika pamer gawai di angkutan umum seperti ini.

 

***


Esok paginya, Azwar memeriksa WhatsApp. Mendadak ia ingat dengan pesan semalam. Ia terlalu sibuk menonton DVD sampai tertidur dan lupa mengirimkan biaya lokakarya meditasi ke rekening di pengumuman yang dikirimkan Rusli.

Karena merasa tidak enak, Azwar menghubungi Rusli. 

“Hai, maaf baru ingat transfer. Apa masih bisa transfer sekarang? Rp1,25 juta kan?” tanya Azwar.

Rusli segera menjawab,”Iya, jangan khawatir aku sudah bayarkan dulu, bro. Rp2,5 juta buat kamu dan Robby. Nanti transfer saja ke rekeningku di BCA 6524373649.”

“Oh sudah dibayarkan dulu? Wah jadi nggak enak nih,” alasan Azwar. Ia agak terkejut juga kenapa Azwar bisa melakukan hal itu padahal mereka belum berteman dekat. Mungkin itulah yang terjadi jika seseorang rajin bermeditasi. Mereka menjadi penuh welas asih, bahkan pada orang yang baru ditemui.

Segera ia hubungi Robby. “Hei Rob, kamu yang kasih nomerku ke Rusli ya? Sekarang kamu juga harus ikut lokakarya meditasi ini, kunyuk!” Ia ketuk tanda ‘kirim’.

Beberapa menit berlalu. Balasan dari Robby sampai juga. “Iya aku kasih ke dia. Kenapa? Kan orangnya juga baik sih. Jangan su’udzon dulu, War.”

“Ah sudahlah. Sekarang kamu juga mesti bayar Rp1,25 juga buat ikut acara itu. Aku mau transfer uang itu ke Rusli. Dia sudah bayarkan dulu untuk kita karena kemarin harusnya kalau kita bayar, kita dapat diskon lumayan,” tukas Azwar sedikit jengkel.

“Oke oke. Tapi mahal banget sih, War. Acara gitu doang juga,” timpal Robby.

“Tapi tahu gak itu harga awalnya malah Rp3 juta, cong!” 

“Hah masak 3 juta sih??!!” tukas Robby tak percaya.

“Iye, udah deh kamu cepetan transfer ke Rusli daripada kita malu,” ketik Azwar lagi.

Ia ke ATM terdekat di sebuah gerai minimarket dan mengirimkan uang itu ke rekening Rusli. 

 

***

 

Hari itu datang juga. Lokakarya meditasi akan berlangsung dalam beberapa menit lagi. 

Dari seberang jalan, Azwar dan Robby tampak panik. Mereka hampir terlambat. 

Mereka sempat menghubungi Rusli di WhatsApp tetapi belum ada jawaban. Pikir keduanya, Rusli tengah asyik menyiapkan diri untuk ke acara besar itu.

Sebuah gedung berdiri megah di hadapan mereka. Tak punya waktu untuk mengagumi kekokohan dan arsitektur gedung kuno itu, mereka masuk saja ke dalam, merapal doa agar masih bisa diperbolehkan masuk. 

“Gara-gara kamu mules pagi-pagi sih, kita jadi telat…,” Robby berbisik mengkritik.

“Siapa yang mau juga mencret kayak gitu, Rob! Sepertinya aku salah makan tadi malam,” Azwar memegang perutnya dengan sedikit meringis.

Mereka ke meja pendaftaran dan seorang gadis mempersilakan masuk. Tidak ada pemeriksaan tiket. Gadis itu cuma menunjukkan mereka jalan masuk ke auditorium yang sudah dipenuhi orang. Sebuah tulisan besar terpampang, bunyinya:”MEDITASI BERSAMA SOGYAL RINPOCHE”. 

Azwar sejenak bertanya dalam hatinya,”Judul acaranya sedikit lain dari poster digital yang dikirimkan Rusli padaku. Ah, mungkin itu hanya perasaanku.” Ia usir pemikiran itu dan berfokus pada apa yang ia harus lakukan: mengikuti lokakarya meditasi ini dengan khusyuk.

Kata Rusli tempo hari, mereka hanya cukup menunjukkan bukti pembayaran. Tapi gadis ini sama sekali tidak menunjukkan keinginan memastikan mereka pengunjung gelap. Aneh. Karena acara hampir dimulai, keduanya segera duduk tanpa banyak protes. Tempat duduk mereka kurang strategis. Di sudut yang agak gelap dan di barisan paling belakang. Sial sekali.

Lokakarya dimulai. Semua peserta sudah berdiam diri, bersiap menyambut sang pembicara Rinpoche yang termasyhur sebagaimana dikatakan Rusli pada keduanya. Ini kali pertama Azwar dan Robby menghadiri acara meditasi semacam ini. Dan pikiran mereka bercampur aduk, dari cemas sampai antusias. Cemas karena tidak tahu apa yang mesti dilakukan, Antusias karena tahu mereka akan belajar banyak hal berharga bagi diri mereka.

Mereka duduk di bantal meditasi tebal. Siapa saja tak diperbolehkan menghidupkan gawai di dalam auditorium dan suasana remang meraja di dalamnya. Membuat keduanya langsung merasa terbuai kantuk. Ditambah lagi dengan kondisi udara dalam ruangan yang makin sejuk.

Lampu menyorot ke sebuah panggung di depan. Pria itu duduk diam tanpa suara. Hanya beralaskan bantal tipis, ia tangkupkan kedua telapak tangannya di kedua kakinya yang terlipat. Azwar mengenali laki-laki itu sebagai Rinpoche yang tersohor ke mana-mana, yang selalu dielu-elukan Rusli. “Hei, tapi di mana Rusli? Aku tak bisa menemukannya…,” pikiran itu melintas dalam benaknya namun ia cepat singkirkan karena ia hendak berkonsentrasi pada meditasi.

Tetap tidak ada suara. Suasana hening sekali. Dan semua orang di dalam auditorium tampak bergeming. Akhirnya Azwar memejamkan matanya juga, mengikuti semua orang yang melakukan hal yang sama di sekitarnya. 

“Heh…,” bisik Robby menepuk lembut paha Azwar. “Apa yang kita perbuat di sini? Cuma diam saja seperti ini?”

“Iya,” tukas Azwar selirih mungkin yang ia bisa. Ia khawatir akan ditegur orang karena berisik.

Mereka pun duduk diam sampai 5 ,menit kemudian 10 menit dan 15 menit. Robby yang sudah terkantuk-kantuk akhirnya bertanya,”Sampai kapan begini?”

“Sebentar lagi,” bisik Azwar. Ia berpikir ini hanya meditasi pembuka jadi tak akan berlangsung terlalu lama. 

Memasuki menit ke 30, Azwar mulai gelisah juga. Seperti Robby, ia mulai bertanya dalam hati, sampai kapan duduk diam ini akan berakhir? Ia datang untuk belajar meditasi, bukan duduk diam. Kalau duduk diam saja, ia bisa melakukannya sendirian di rumah.

Musik berupa tetabuhan bambu terdengar mengalun pelan dan lirih tetapi itu malah makin meninabobokkan Azwar. Robby sendiri sudah dari awal berjuang menyingkirkan kantuknya. Beberapa menit kemudian Azwar mendengar dengkuran halus di sebelahnya. Dalam keremangan ia lihat Robby duduk bersandar dan kepalanya tergolek lemah ke samping.

“Dasar pelor,” ejek Azwar dalam hati. Ia pejamkan matanya lagi. Sebenarnyaia juga ingin menidurkan dirinya saja tetapi ada semacam gengsi dalam dirinya. 

“Sebentar lagi pasti Rinpoche akan berbicara sesuatu,” gumamnya.

Satu jam berlalu. Robby yang sudah bangun lagi menepuk halus paha Azwar yang sudah kesemutan parah. “Belum juga?” bisiknya.

“Lum,” jawabnya sependek mungkin. Azwar mulai merasa bosan juga. 

Dua jam berlalu dan tidak tampak adanya tanda-tanda Rinpoche akan berbicara jua. “Ada apa ini? Acara macam apa ini? Katanya lokakarya meditasi, kok cuma duduk duduk begini?” Azwar mulai kebosanan juga.

Sesekali ia mendengar orang terbatuk, bergerak membetulkan duduknya, atau memutar bahu yang pegal. Mereka sekadar ingin bergerak agar peredaran darah lancar kembali.

Hampir tiga jam berlalu, dan belum ada tanda-tanda Rinpoche akan membuka mulut dan memberikan pada kami petunjuk mengenai bagaimana melakukan meditasi dengan baik dan benar. 

Kesabaran Azwar hampir habis juga. “Masak tiga jam dan bayar satu juta lebih cuma untuk duduk duduk begini?”

Beberapa menit kemudian sebuah lampu menyorot ke depan. Rinpoche membuka matanya. Ia berdiri, tersenyum simpul, dan beringsut ke belakang panggung. Kakinya yang telanjang membuat suara berdecit halus di panggung yang alasnya terbuat dari kayu. Benar-benar sepi, bahkan saat sang bintang keluar panggung, hadirin tidak bertepuk tangan. 

Seorang gadis berambut panjang, berkacamata dan berdandanan sederhana tampil di depan, mengisi kekosongan panggung akibat kepergian sang meditator. Ucapnya santun,”Demikian meditasi bersama Rinpoche kali ini. Semoga bapak dan ibu dapat merasakan energi positif dalam ruangan ini. Sampai berjumpa kembali di sesi meditasi bersama Rinpoche tahun depan. Ajak keluarga dan teman menghadiri acara gratis ini.”

Gratis?! Azwar tersentak. Seketika Robby menoleh pada Azwar. “Jadi? Si Rusli…??!”

Penuh amarah, mereka berdua berlari meninggalkan ruangan meditasi itu dan menuju pintu depan. (*)

This entry was posted in fiction and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *