Mencari Presiden Boneka (1)

 

Selamat datang Presiden Trump! (Foto: Wikimedia Commons)

Hari ini Tom tampak gelisah dan bolak-balik memeriksa gawai di tangannya. Laptopnya terbuka. Waktu sudah lewat tengah malam. Udara dingin musim gugur menusuk tetapi ia tak kunjung terlelap.

Ia sibuk bercakap dengan saya yang berada di Jakarta. Kami mulai bersahabat di dunia maya sejak saya kebetulan menemukan blognya suatu hari di tahun 2009 saat saya mulai menulis blog ini. Ia poliglot. Ia menulis dalam Bahasa Indonesia, Inggris dan Prancis.

Tom secara usia masuk ke golongan milenial. Ia baru saja duduk di semester terakhir di sebuah kampus di negara bagian Kentucky. Dan untuk membiayai kuliahnya ia bekerja juga di sebuah gudang milik Amazon, bisnis besar milik Jeff Bezos.

Bagi Tom, ini bukan saatnya untuk bergembira. Ia baru saja mengunggah fotonya sehabis memberikan suara di sana. Tom memang sudah menjadi warga negara AS meskipun dulu ia lahir dan besar di Indonesia. Namun, Tom masih merasakan koneksi dengan Indonesia juga. Maklum, Indonesia merupakan bagian dari kenangan masa kecilnya. Ia masih beberapa kali mengunggah foto-fotonya bahkan seekor kucing yang ia bawa dari Indonesia baru saja mati beberapa pekan lalu.

Ini bukan kali pertama bagi Tom memberikan suara dalam pemilihan presiden. Ia sudah pernah berpartisipasi juga dalam Pilpres 2008. “Saya memilih Obama,” ujarnya. Entah ia bangga atau tidak. Anda akan tahu nanti.

Tom tidak suka dengan dua kandidat yang dianggap paling perkasa: Hillary Clinton dan Donald Trump. Baginya, keduanya sama-sama parahnya. Ia lebih menyukai Jill Stein, seorang kandidat perempuan yang sudah jelas-jelas akan kalah karena kurang populer. Mengenai alasannya memilih Stein, Tom menjelaskan pada saya,”Saya tidak ingin bermusuhan dengan orang Meksiko atau kaum muslim. (saya memilihnya -pen) karena Stein memiliki rekam jejak yang bersih.”

Tom tahu Stein akan kalah juga akhirnya jadi ia tidak banyak menaruh harapan. Ia cuma memastikan hak suaranya tidak jatuh ke kedua kandidat yang ia benci. Stein, menurutnya, tidak menerima dana mencurigakan yang mencurigakan dari Arab Saudi dan Inggris. Sebagai generasi milenial, ia tidak serta merta berpendapat. Ia punya bukti meski itu cuma sebuah tautan tulisan di dunia maya.

“Kau pikir siapa yang akan menang?” tanya saya pada Tom.

“Trump yang akan menang. Kau akan terkejut,” tukasnya.

Saya menjawab dengan ungkapan keterkejutan. Tetapi kemudian mulai bisa menerima kenyataan bahwa politik mirip dengan pertandingan sepakbola. Semua kemungkinan di atas kertas, semua prediksi, semua analisis dan komentar dari para komentator kenamaan dan berpengalaman bukanlah apa-apa jika dibandingkan dengan hasil pemungutan suara tahap akhir.

Kebencian terhadap Nyonya Clinton tidak bisa dianggap remeh sebetulnya. Tetapi di lingkungan sekitar Tom, sentiment anti-Clinton lebih kental dibandingkan rasa kontra terhadap Trump. Untuk memberikan bukti, ia mencoba meyakinkan saya bahwa di media orang hanya mengetahui bahwa orang-orang Latin membenci Trump. “Tetapi saya tahu beberapa orang Latin yang memilih Trump. Tidak semua orang membenci Trump.”

Saya tidak habis pikir karena setahu saya Trump sudah pernah menghina kelompok imigran Latin di AS. Jadi, kurang masuk akal kalau sudah dihina masih juga memilih si penghina. Namun, itulah yang terjadi. Di sini, logika kita dijungkirbalikkan dengan fakta. Lalu kita bisa apa dan mau apa? “Kau harus tinggal di sini dulu untuk bisa memahami semua ini,” tegasnya. Ia benar. Saya pun menyimak lagi.

Bagaimana dengan Indonesia jika Trump menjadi pucuk pimpinan AS? Tom tidak menjawab langsung pertanyaan saya. Ia malah memberikan penjelasan panjang lebar soal pandangannya tentang kondisi hidup para politisi elit di negerinya. Kata Tom, para politisi hidup nyaman di ibukota. Mereka ini misalnya keluarga Obama, Clinton dan Bush.

Kemudian mereka menerima donasi berlimpah dari berbagai perusahaan multinasional dan negara asing. “Tetapi mereka mengklaim berjuang demi kepentingan rakyat dan di saat yang sama juga menerima kucuran dana-dana tadi,” tuturnya. Jika ia di hadapan saya, saya bisa bayangkan mukanya sendu, kecewa. Obama, yang ia elu-elukan dulu, ternyata juga menjadi bagian dari grup elit yang bergelimang harta di tengah kemelaratan rakyatnya. Sebagian besar warga AS hanya mampu menyumbang 100 sampai 1000 dollar untuk upaya kampanye mereka sehingga kecil kemungkinan mengandalkan pemasukan dari sumbangan saja.

Tom sebenarnya kecewa. Kandidat jagoannya terjegal di langkahnya menuju putaran final ini. Bernie Sanders sudah ia gadang-gadangkan sebab ia sangat yakin politisi gaek itu lebih bersih dari politisi-politisi elit tadi. Inilah kenapa saya memilihnya, tukasnya.

Dan menurutnya, Trump juga bagian dari lingkaran elit politik tadi. Kekayaan Trump didapat dari warisan orang tuanya dan bisnisnya. Jadi dalam aspek ini, Trump memiliki keunggulan.

Tom mendukung kampanye #NeverHillary dan tidak pernah berubah pikiran. Ia juga tidak ingin menghakimi pilihan orang lain. Bahkan saat saya tanya pilihan orang tuanya, ia tidak menjawab secara jelas. “Mereka bisa memilih kandidat manapun yang mereka anggap paling mewakili kepentingan mereka.” Simpulan saya, ia tidak ingin tahu pilihan orang tuanya juga. Dan orang tuanya juga tidak merasa harus tahu apalagi turut campur dengan preferensi politik anaknya. Ini berbeda dari keluarga Indonesia. Saat Pilpres 2014 lalu, orang tua saya beberapa kali menanyakan kandidat pilihan saya. Saya sendiri merasa kurang nyaman dengan pertanyaan yang menyelidik semacam itu. Bagi saya, itu bagian dari privasi saya sebagai seorang warga negara, tidak peduli mereka orang tua saya atau bukan. Tetapi memang untuk isu politik, saya berusaha untuk netral dan tidak mengumbar ke siapa saja. Karena saya juga tidak mau diintervensi atau dikomentari atau diajak berdebat soal pilihan saya. Bagi saya, sekali suka, apapun alasannya akan tetap suka. Biasanya setelah diajak berdebat juga orang tidak akan berubah pikiran dan anehnya makin mantap pilihannya. Jadi bagi saya sendiri, tidak ada faedahnya berdebat dengan orang lain dan menimbulkan kegaduhan di sekitar.

Saya ingin tahu bagaimana perspektifnya sebagai bagian kaum milenial di AS. “Setahumu, kandidat manakah yang dipilih banyak generasi milenial?”

Ia agak ragu tetapi menaksir bahwa kurang dari separuhnya memilih Clinton. Kaum milenial membenci Nyonya Clinton sebab menurut Tom, mereka tidak menghendaki seorang kandidat yang sudah memiliki riwayat korup. Ini juga rupanya alasan mengapa seorang teman saya di AS yang pernah masuk dan naik kereta bawah tanah di Washington D. C. merasa terintimidasi oleh para pemilih milenial perempuan yang melihatnya mengenakan kaos pendukung Hillary Clinton.

Dari situ, saya berpendapat warga AS menghendaki perubahan. Dan karena perubahan drastis harus dilakukan oleh orang di luar lingkaran elit kekuasaan, hanya Trump satu-satunya kandidat yang memenuhi persyaratan itu dan juga memiliki kekuatan dan dukungan besar untuk terus maju. Mereka hanya ingin perubahan. Bukan masalah apakah perubahan itu baik atau buruk, yang penting ada perubahan dulu. Dan bersama perubahan, akan ada ketidakpastian. Inilah yang ditakutkan banyak pihak.

Tom sendiri menganggap kecenderungan AS memilih Trump sebagai sebuah fenomena ayunan pendulum. “Jika Anda ingin pendulum itu bergoyang jauh ke kiri, Anda harus melemparnya sejauh mungkin ke kanan dulu.”

Sebelumnya menjadi pendukung Obama, Tom menyatakan jagoannya itu juga sudah tertular korup oleh keluarga Clinton. Obama menurut kabar akan membeli sebuah rumah senilai 6 juta dollar AS pasca pensiun. Padahal jika kita menilik gaji tahunannya sebagai presiden AS yang ‘cuma’ 400 ribu dollar, rasanya rumah sebesar itu terlalu mewah. “Gajinya selama 8 tahun sebagai presiden hanya 3,2 juta dollar,” Tom menghitung serius. Jadi, patutlah dipertanyakan sumber dana sebesar itu. “Artinya ada 2,8 juta dollar yang muncul tiba-tiba dalam rekening Obama,” tandas Tom lagi.

“Ini menjadi peringatan bagi Amerika!” cetus Tom.

“Bagi seluruh dunia,” timpal saya. Saya pun tertular kekhawatirannya karena sudah pasti dampak Pilpres AS ini akan menjalar ke seluruh dunia. Apalagi Indonesia, sebagai salah satu pion AS.

Di mata Tom, Obama cuma versi ‘ringan’ dari keluarga Clinton. Sebagai politisi, Hillary Clinton mengantongi pemasukan 20 juta dollar per tahun. Sangat besar untuk ukuran standar penghidupan politisi di sana. “Rata-rata politisi AS cuma berpendapatan antara 200 sampai 400 ribu dollar per tahun.”

Tom memberikan saya sebuah tautan di laman New York Times, yang isinya daftar sumbangan ke Yayasan Clinton. Di dalamnya ada juga keterangan dari ajudan Clinton.

Meski awalnya dicalonkan Partai Republik, anehnya Trump kemudian dibenci oleh para politisi dari sana. Mayoritas petinggi Republik menghendaki Cruz, Jeb Bush, atau Mitt Romney saja yang melaju ke kursi kepresidenan.

Tom menjelaskan lebih detail mengapa kemenangan Trump lebih baik daripada kemenangan Clinton. “Jadi dengan menangnya Trump dan Partai Republik, kami akan bisa lebih banyak melakukan check and balance tapi jika Clinton yang menang, Partai Demokrat akan tunduk begitu mudahnya di bawah komando Clinton. Apalagi jika terpilih ia akan jadi presiden perempuan pertama AS. Itu saja sudah membuatnya kekuasaannya amat kuat. Ia bisa saja menjadi diktator,” jelasnya panjang lebar.

Tom ada benarnya. Karena Trump memiliki kekuasaan dan kharisma serta pengalaman politik yang jauh lebih sedikit daripada Nyonya Clinton yang bahkan sejak suaminya menjabat sudah banyak makan asam garam perpolitikan AS.

Untuk memastikan, saya bertanya lagi, “Jadi, itu artinya warga AS lebih ingin mencari kandidat yang lebih mudah dikendalikan?”

“Bisa dikatakan demikian,” Tom mengkonfirmasi.

Banyak orang terkecoh dengan tidak banyaknya komentar Clinton soal kaum muslim. Justru Trump yang lebih dikenal dengan sikap anti-muslimnya padahal kata Tom, sikap dan pendekatan Clinton terhadap muslim tidak kalah mengerikannya dan itu bukan sekadar wacana tetapi sudah menjadi pengetahuan umum. Untuk mendukung opininya, Tom lagi-lagi melayangkan pada saya sebuah tautan dari sebuah laman berita Israel. Ringkasnya, isinya ialah Clinton sudah menjalin hubungan erat dengan Israel dan menolak keberadaan negara merdeka Palestina serta berjanji mendanai organisasi IDF (Israeli Defense Force). Logikanya, jika Clinton menggelontorkan lebih banyak dana ke IDF, akan ada lebih banyak warga Palestina tewas sehingga jatuhnya wilayah Palestina akan makin mungkin dan nyata.

Sementara itu, Trump memiliki sikap yang justru lebih netral daripada Clinton dalam hal konflik Israel versus Palestina. Dari laman hareetz.com, Tom mengutip demikian: “And despite his careful concessions to pro-Israel rhetoric at AIPAC, he curiously and perhaps somewhat defiantly hasn’t stopped championing his neutrality when it comes to the Israeli-Palestinian conflict.”

Dalam sebuah video kampanyenya, Trump bahkan menyatakan secara gamblang bahwa dirinya akan sangat senang jika bisa menyaksikan tercapainya kesepakatan antara kedua kelompok yang terus bertikai itu. “Saya ingin tetap senetral mungkin karena jika tanpa netralitas, pihak lain juga tidak akan berbuat yang sama. Namun, ingat Israel, saya mencintaimu.” (bersambung)

 

This entry was posted in interview and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *