Menelisik Fitartistik: Pentingnya Imagery

Imagery dalam senam, bergunakah? [Sumber foto:Wikimedia Commons]
SAYA masih menghadapi mental block yang besar dalam melakukan back handspring seperti yang sudah diajarkan coach saya di kelas Fitartistic, Jonathan Sianturi, dalam beberapa pertemuan terakhir.

Sebenarnya saya sudah tidak ada masalah berarti saat mengeksekusi gerakan ini dengan matras tinggi di belakang saya. Tapi begitu matras setinggi lutut itu disingkirkan, otak saya seolah memberitahukan kecemasan akan ancaman potensial. Seolah-olah saya tidak mempercayai kekuatan kedua telapak tangan saya dalam menopang tubuh agar kepala ini tidak terbentur lantai. Konsekuensinya, saya bisa melenting dengan percaya diri saat masih ada matras setinggi lutut itu. Begitu matras itu tidak ada, keberanian dan kepercayaan diri saya juga sirna seketika.

Padahal secara esensi, gerakannya sama saja. Hanya saja saya harus membangun kepercayaan diri itu dengan imagery, demikian kata coach Jonathan.

Saya mencoba meresepi kata-katanya itu. Pertama-tama saya tentu heran. “Apa hubungannya imagery dengan senam?” protes saya dalam hati. Rasa-rasanya kedua bidang ini sama sekali tidak berkaitan, batin saya terus memberontak.

Sebagai mantan mahasiswa sastra, saya tahu apa itu imagery. Menurut Collins Dictionary, imagery merujuk pada bayangan yang kita ciptakan dalam benak/ otak kita berdasarkan pada kata-kata yang biasanya ada dalam karya sastra seperti syair, bait lagu, atau puisi.

Lama-kelamaan saya paham dengan saran coach Jonathan untuk menggunakan imagery dalam berlatih gerakan-gerakan yang menantang.

“Kadang dalam melakukan gerakan-gerakan senam, Anda harus menggunakan imagery karena apa yang Anda pikirkan itu mempengaruhi realitas,” tegasnya.

Dengan kata lain, pikiran memiliki pengaruh pada apa yang terjadi dalam kenyataan. Jika Anda hanya berpikir,”Duh, saya akan gagal pasti habis ini” atau “Gerakan ini susah. Pasti saya jatuh deh!”, vibrasi pikiran itu seolah akan mengirimkan sebuah sinyal ke alam semesta bahwa Anda memang pantas untuk jatuh. Maka, saran coach Jonathan, bangunlah mentalitas positif melalui imagery yang positif juga.

Dan inilah tantangan mengajarkan pada orang yang sudah dewasa, selain tubuh yang sudah lebih kaku dan terbiasa dengan rutinitas lainnya, mental mereka juga lebih sulit dibentuk.

Kenapa? Karena kita sebagai orang dewasa sudah memiliki kemampuan untuk membentuk pendapat dan pemikiran sendiri. Dan kita lebih asertif dan defensif dalam memegang opini itu dibandingkan anak-anak.

Karena itu, saya memiliki pekerjana rumah yang sangat besar di aspek ini. Bila saya sudah menaklukkan mental block satu ini, saya akan bisa menaklukkan yang lain juga. (*/)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *