Mengenal Linguistik dan Profesi Linguis lewat Film “Arrival”

Linguis seksi Dr. Louise Banks (diperankan aktris Amy Adams) dalam film “Arrival” bantu lejitkan pamor profesi linguis. (Sumber foto: Wikimedia Commons)

DALAM sejumlah karya sinema produksi asing, saya sering menemukan pesan-pesan yang lebih bermakna dari hanya sekadar hiburan. Salah satunya yang paling saya kagumi ialah bagaimana mereka ini mencoba menyisipkan profesi-profesi dan kecintaan pada pekerjaan-pekerjaan itu dalam sinema-sinema mereka. Maka melalui film-film itu seolah kita bisa meneropong ke dalam dunia yang sama sekali asing bagi kita. Dan dari situ, kita bisa menemukan betapa mengasyikkannya profesi tersebut, yang mungkin sebelumnya terkesan biasa saja tetapi kemudian setelah dimasukkan dalam film menjadi terkesan lebih luar biasa, gemerlap, dan berdampak bagi masyarakat sekitar.

Salah satu contoh film yang menyuguhkan gambaran mengenai sebuah profesi itu adalah “Arrival” yang baru-baru ini diluncurkan. Saya tertarik dengan film-film yang berkaitan dengan kepenulisan dan bahasa, dan karena film ini mengenai perjalanan seorang pakar linguistik (linguis) memecahkan bahasa alien, saya jadi ingin menontonnya juga. Latar belakang disiplin ilmu dan ketertarikan saya sejak kecil memang bahasa jadi film ini rasanya sayang untuk saya lewatkan sebagai tontonan dan topik tulisan.

Film fiksi ilmiah yang disutradarai oleh Denis Villenueve ini menceritakan perjuangan seorang linguis memecahkan bahasa alien. Kemunculan dua belas pesawat alien di muka bumi di awal film kemudian memicu pihak militer AS untuk merekrut Dr. Louise Banks, akademisi dan linguis terkenal yang dimainkan oleh aktris Amy Adams. Di sini kita menemukan plot yang lain dari yang lain. Sejauh ini kita kerap menyaksikan film-film bertema alien selalu dipenuhi atmosfer horor, teror, kengerian, dan pertumpahan darah. Skenarionya biasanya begini: Manusia bumi diculik ke pesawat alien lalu ditawan atau manusia bumi berlarian ke sana kemari akibat alien yang agresif dan sinting. Pokoknya alien digambarkan sebagai makhluk aneh, asing serta perusak. Harus dimusuhi dan dibasmi tanpa kompromi.

Namun, film yang didasarkan pada cerpen Ted Chiang berjudul “Story of Your Life” ini mengambil perspektif lain. Dikisahkan para alien ternyata juga bisa berwatak pasifis, alergi kekerasan, tidak invasif. Mereka pecinta kedamaian dan hadir tanpa menimbulkan kerusakan, untuk kemudian mengajak manusia bumi bekerjasama. Sebuah dekonstruksi sudut pandang bagi saya. Dan saya suka. Karena jika ada yang beda itu bisa membuat pikiran saya tambah kaya.

“Arrival” membahas mengenai linguistik dan lebih banyak lagi isu mengenai umat manusia dan bahasa yang mereka miliki. Kita belajar bagaimana manusia berkomunikasi dengan spesies lain dan bagaimana mereka membuatnya paham dengan bahasa kita atau membuat paham dengan bahasa mereka. Keduanya diperlukan agar proses komunikasi berjalan efektif.  Komunikasi dan interaksi antarspesies saya pikir yang menjadi intisari film ini. Melalui bahasa, diplomasi damai terlaksana. Dan jika proses komunikasi melalui bahasa ini berjalan mulus, perdamaian akan terpelihara. Hal ini membuat kita menengok kembali sejarah bahwa kebanyakan perang dipicu oleh ketidaksesuaian proses berkomunikasi. Ada yang salah dalam proses tersebut hingga pesannya tidak tersampaikan sempurna atau dipahami dengan kurang utuh atau terdistorsi. Atau bisa juga karena bahasa yang membuka peluang interpretasi yang majemuk. Contoh huru-hara akibat bahasa ialah unjuk rasa 4 November 2016 lalu. Semua kericuhan itu sebetulnya hanya mempermasalahkan bahasa yang dipakai seseorang dalam menyampaikan pesan sebenarnya yang ternyata membuka pintu interpretasi yang sangat peka bagi sebagian orang. Dan interpretasi yang berbeda-beda inilah yang membuat skala masalah kian meraksasa.

Sebagai gambaran singkat, linguistik ialah disiplin ilmu yang berfokus pada bahasa dan strukturnya. Layaknya sebuah pohon, linguistik memiliki banyak cabang lagi seperti fonetik yang mempelajari suara dan ujaran (speech) dalam aspek fisiknya, fonologi yang meneliti soal suara dalam aspek kognitif, morfologi yang menekankan pada proses pembentukan kata, sintaks yang menunjukkan pembentukan kalimat, semantik yang mempelajari makna, pragmatik yang meneliti penggunaan bahasa. Ini semua cuma beberapa saja yang paling banyak dikenal dan dipelajari orang. Cabang-cabang linguistik lainnya masih ada seperti linguistik sejarah, sosiolinguistik, psikolinguistik, ethnoliguistik (atau anthropologi lingustik), dialektologi, linguistik komputasional, neurolinguistik, dan sebagainya.

Kembali pada profesi Dr. Banks sebagai linguis, pada hakikatnya pekerjaan utama seorang linguis ialah mempelajari bagaimana bahasa bekerja. Dan upaya memecahkan makna bahasa yang belum dikenal seperti yang dilakukan Prof. Banks hanya secuil di antaranya. Tugas-tugas lain seorang linguis ialah mempelajari aspek neurosains dalam proses kerja suatu bahasa, bagaimana suatu bahasa berubah-ubah, bagaimana bahasa-bahasa berbeda bisa menjalankan fungsi yang sama, bagaimana anak-anak mempelajari kemampuan berbahasa mereka, bagaimana bahasa berhenti bekerja pada kondisi aphasia dan alzheimer’s, bagaimana manusia belajar bahasa dalam suasana kelas, dan sebagainya. Dan yang tidak kalah menarik ialah bagaimana bahasa bekerja dalam bidang profesi lainnya seperti politik. Linguis juga mempelajari fenomena-fenomena bahasa yang ada di masyarakat seperti kemunculan bahasa baru dan berhentinya perkembangan bahasa-bahasa kuno seperti Sansekerta dan Latin.

Para linguis bisa mencari nafkah dengan menjalani sejumlah pilihan pekerjaan. Kebanyakan memang menjadi akademisi dan pengajar seperti Banks yang diperankan Amy Adams, tetapi tidak terbatas pada itu.

Sebagian lainnya bekerja sebagai peneliti di instansi dan perusahaan. Bahkan perusahaan-perusahaan internet seperti Google, Yahoo, dan sebagainya juga mempekerjakan linguis. Ini agar bahasa yang dipakai dalam produk-produk mereka lebih ramah pengguna (user friendly) sehingga tidak membingungkan. Tanda sebuah produk mudah digunakan ialah kemudahan anak-anak atau remaja untuk mencerna instruksi-instruksi di dalamnya.

Linguis juga bisa menyusun kamus. Mereka diberi kewenangan untuk menentukan kata mana yang bisa masuk kamus atau tidak. Dan keputusan itu dibuat berdasarkan penelitian mendalam terlebih dulu. Bukan karena selera semata atau naluri.

Satu pekerjaan bagi linguis yang tergolong unik ialah pencipta bahasa baru bagi film-film Hollywood. Jika Anda pernah menonton film-film fiksi Hollywood dengan bahasa yang tidak pernah Anda jumpai di sudut bumi manapun (sebut saja “Avatar” dan “Game of Thrones”), itu adalah hasil kerja keras para linguis yang dileburkan dalam karya sinematik. Untuk meyakinkan bahwa bahasa itu adalah bahasa yang sama sekali asing dan baru bagi penonton, linguis ditugasi untuk menemukan dialek dan pelafalan yang berbeda. Dan diperlukan kedalaman pengetahuan dan sejarah bahasa di sini. Tidak bisa sembarang orang melakukannya

Pekerjaan-pekerjaan yang tipikal dilakukan oleh linguis ialah menjadi penulis buku dan kolom di media massa, pakar pelokalan (localization) bahasa, pemrosesan bahasa alami (alat penerjemahan bahasa seperti Google Translate), dan sebagainya.

Satu pekerjaan bagi linguis yang baru-baru ini mulai menjadi tren di bidang teknologi informasi ialah analis semantik/ big data. Sederhananya, para linguis turut membantu pakar komputer dan ahli statistik dalam menelaah lautan data digital demi mencari simpulan atau benang merah yang berharga untuk pihak tertentu.

Dalam bidang bahasa dan budaya, linguis juga bisa bekerja sebagai penerjemah, sebuah pekerjaan yang saya lakoni juga. Linguis di bidang ini juga dapat berkecimpung dalam proses dokumentasi dan revitalisasi bahasa-bahasa yang hampir punah. Indonesia menjadi surga bagi linguis yang tertarik dalam area ini karena kekayaan bahasa daerah kita yang tidak terkira.

Di bidang kesehatan, para linguis dapat menjalankan tugas membantu para pasien stroke, lansia dan anak-anak dengan kesulitan bicara. Linguis juga bisa membantu diagnosis gangguan atau kelainan atau penyakit tertentu pada pasien. Itu karena masing-masing penyakit misalnya Alzheimer’s, stroke, skizofrenia, depresi, dan sebagainya memiliki karakteristik gangguan kebahasaan yang unik. Jadi, nantinya linguis akan bisa juga menentukan penyakit orang berdasarkan ucapannya.

Untuk mempelajari bagaimana bahasa bekerja, linguis mengumpulkan data bergantung pada sasaran penelitiannya, kemudian menganalisis dan melaporkan data yang terkumpul. Lain dari penelitian akademis di Indonesia yang begitu rampung tidak diikuti dengan tindak lanjut nyata (atau cuma teronggok di rak perpustakaan kampus), seorang linguis tidak berhenti kerjanya setelah menyusun laporan. Ia perlu menyarankan tindakan selanjutnya setelah sebuah simpulan dari penelaahan data tercapai. Perubahan ini diharapkan bisa mengubah kondisi menjadi lebih baik, entah itu memodifikasi cara penanganan pasien gangguan bicara, pemilihan kata dalam sebuah situs daring, pemilihan nama yang tepat bagi sebuah perusahaan agar citra yang terbangun sesuai keinginan,  dan sebagainya.

Di samping itu, linguis perlu memperkaya khasanah pengetahuannya dengan banyak membaca dan mengamati. Pengetahuan mereka mengenai bahasa bisa diperkaya dengan mengujungi laman daring dan jurnal ilmiah yang khusus berkaitan dengan linguistik atau bidang ilmu lain yang relevan. Publikasi ilmiah yang menjadi bacaan lumrah bagi para linguis ialah Nature , Science sampai Journal of the Acoustical Society and of America serta Cerebral Cortex.

Profesi linguis akan selalu dibutuhkan oleh umat manusia, tidak peduli ia diakui secara formal atau tidak sejak dulu sampai sekarang. Dan jika Anda memiliki keinginan untuk menjadi linguis, jangan tunggu sampai alien datang ke bumi. Mulai belajarlah bahasa dari sekarang! (*)

This entry was posted in miscellaneous, translation and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *