Menulis Lebih Giat dengan Instagram

Jumat (6 April) kemarin menjadi tonggak ‘bersejarah’ bagi pengguna handset Android yang sudah begitu lama menanti dengan sabar kelahiran Instagram for Android. Saya masih ingat pernah menulis tentang bakal datangnya Instagram di Android lebaran 2011 lalu dan baru sekarang terwujud. Sungguh penantian yang cukup lama.

Pertengahan tahun 2011 saya sempat saksikan pernyataan seorang geek di depan panggung acara publik yang dengan bangganya memproklamasikan kegandrungannya bermain Instagram sampai kuota Internet bulanannya habis sebelum batas waktu yang seharusnya. Ah, kupikir itu semacam kegilaan jejaring sosial layaknya Friendster pertama kali menyita perhatian kita dulu. Sayang aku tak begitu merasakan kegilaan berjejaring di Friendster.

Dalam 4 hari terhitung sejak mengunduh Instagram for Android Jumat pagi itu, aku sudah mencatatkan statistik: 57 foto, 10 pengikut,134 mengikuti.

image

Dua teman pengguna Instagram yang kutemui saat social media course Januari kemarin yakni Babab Dito dan Nukman Luthfie. Mungkin bisa dikatakan mereka early adopter dan experienced user dalam hal Instagram. Babab Dito bahkan mengabadikan gambar-gambar dengan iPhonenya yang dilengkapi lensa makro tambahan dan sebuah tripod mini. Sementara om Nukman sangat konsisten mengunggah dan memamerkan jepretan candidnya yang bertema embun dan kopi. Ia bahkan sudah lupa memperbarui status Facebook dengan teks karena terlampau asyik mengunggah foto-foto via Instagram yang ia juga tautkan ke akun Twitter dan Facebooknya.

Untukku sendiri, Instagram lebih berguna sebagai pemicu inspirasi menulis. Memotret benda, orang, peristiwa yang sehari-hari bisa ditemui tetapi kita tak pernah cermati tiba-tiba menjadi amat mengasyikkan dan inspiratif karena bisa memicu aliran ide yang tak terbendung. Keinginan untuk menceritakan kisah di balik objek dalam gambar Instagram yang berefek menarik itu berhasil menjadi pelatuk yang memicu peluru kreativitas menulis kreatif dalam diriku.

Dan ini amat adiktif. Pertama, karena bisa dilakukan dalam perangkat, dan Instagram memang hanya bisa diakses via perangkat ponsel cerdas. Tak seperti Facebook dan Twitter, versi web Instagram tidak ada. Kupikir itu merupakan taktik nan jitu dari tim Instagram untuk cegah isu hak cipta dan pengunduhan tak berijin gambar yang sudah diunggah di dalamnya. Tapi tetap saja bisa dilihat dan diunduh via tautan yang ditampilkan di dinding Facebook dan linimasa Twitter.

Satu hal yang menggembirakan di Instagram ialah Instagram handle-ku yang lebih ringkas. Di jejaring sosial lain aku harus gunakan user name atau handle yang lebih panjang dengan menyertakan nama kedua. Tetapi di sini tidak. Handle @akhlis masih tersedia.

Begitulah pengalamanku beberapa hari ini bereksperimen dengan Instagram. Bagaimana denganmu?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *