Mrs C

Tidak terbayang betapa leganya saya saat ia berkata,”Oh, kamu. Iya, saya tahu wajahmu.” Syukurlah ia mengenali saya karena jika tidak, saya bisa kehilangan muka saat itu juga.

Saya kenali wajahnya setelah beberapa kali bertemu di taman. Dan kami kembali bertemu hari itu di sebuah tempat sejauh 900 km lebih dari taman itu. Tidak ada kebetulan dalam setiap perjumpaan, saya yakin.

“Di sini rumah saya. Tak ada tempat lain yang sesempurna tempat ini bagi saya,” ucapnya dalam bahasa Inggris. Kami berjabat tangan dan berkenalan. Sebelumnya kami tak sempat melakukannya karena ia tak punya banyak waktu untuk bercakap-cakap.

Walaupun ia bisa saja mengajar yoga jika mau, ia menampik mengajar demi uang. Ia hanya mengantongi izin tinggal tanpa izin kerja di tanah air jadi ia tak bisa dibayar sebagai profesional.

Lagipula ia tak mengejar uang. “Sekarang saatnya saya menikmati hidup. Saya tidak melakukan semua ini karena uang,” ucapnya tulus. Netranya tajam menatap saya. Saya tersenyum lalu mengalihkan pandangan sebab malu karena belajar untuk meraup rupiah. Lalu saya memaafkan diri, mungkin ini perjalanan yang berbeda darinya. Mungkin saya bisa sampai di titik tempatnya berada, atau tidak. Hanya Tuhan yang tahu.

Ia tinggalkan pekerjaannya, mungkin karena masuk masa pensiun, dan memilih tinggal di pulau itu dengan suaminya. Telah 39 tahun mereka bersama dan saat saya bertanya kenapa suaminya tak pernah bersamanya saat ia beryoga, katanya suaminya tak suka. Entah apa yang ia sukai, katanya. Ia maklum bahwa seseorang bisa berubah. Begitu juga suaminya. Kedua tangannya mengisyaratkan dua jalan yang berbeda dan berpisah ke arah yang berlainan. Namun, ia tak menyebut itu sebagai perceraian. Hanya memberikan ruang bagi perubahan masing-masing tanpa harus banyak menuntut. Kedua anaknya sudah dewasa. Yang pertama 31 tahun dan kedua 29 tahun. Masing-masing tinggal di London dan benua kanguru. Ia juga tak banyak menuntut keduanya berkunjung rutin. “Saya tahu mereka sibuk dengan kehidupan mereka masing-masing,” ia mencoba menerangkan sikapnya dengan nada bijak.

Selain yoga, ia rupanya menyukai tarian salsa. Bahkan ia lebih dulu menyukai salsa daripada yoga. Jadi raut wajahnya yang lebih belia itu bukan sesuatu yang tiba-tiba. Ia menikmati hidupnya. Tentu masih ada kerut-kerut di sana sini. Tetapi ia merasa nyaman dan tidak menjadikannya masalah besar. Semua manusia mau tetap muda tetapi toh roda waktu tidak bisa mencegah laju penuaan.

Cita-citanya berikutnya ialah pergi ke sebuah kota di anak benua Asia. Untuk apalagi selain belajar lebih dalam tentang yoga dan meditasi dari negeri asalnya. Ia ingin mendayagunakan waktu yang tersisa dengan bernyanyi. “Suara saya mungkin tidak bisa membuat saya terkenal layaknya penyanyi profesional tapi saya mau mendendangkan mantra-mantra dengan riang,” ujarnya.

“Sudah saatnya bagi saya memberikan kembali apa yang saya peroleh dan menjadi diri saya sepenuhnya,” imbuh wanita itu. Jadi begitu rasanya mendalami yoga tanpa adanya keinginan mendulang rupiah, atau dollar. Hanya untuk memuaskan dirinya. Tak peduli kata orang. Tak peduli untung rugi dan ketenaran diri. Tetapi kebutuhan tetap terpenuhi. Sungguh hidup yang membuat iri.

Lalu sebelum kami berpisah, ia berbaik hati berbagi kiat ayurvedanya. Ia sarankan saya memijat diri dengan minyak wijen atau kelapa yang sudah dihangatkan sedikit sesuai suhu tubuh dari ujung kaki lalu naik ke atas menuju jantung atau chakra anahata. Ia tawarkan juga cara membersihkan toksin dari tubuh yang dibuang dari tenggorokan. Ada alat khususnya. Dan ia berjanji akan membawakannya kelak jika sempat melawat ke Jakarta.

Setelah itu ia mengucapkan sampai jumpa. Ia mengajak berpelukan. Tapi kami baru saja ikut kelas power yoga yang menguras energi, dan tubuh kami masih lembab dengan keringat. Saya agak segan karena mungkin ia bisa merasa mual. Alih-alih berkata begitu, ia malah memeluk saya makin erat dan berkata,”Let’s breathe…” Ia tersenyum dan melepas pelukan. Lalu ia mengayuh sepedanya ke rumahnya yang berada di dekat sebuah museum di kecamatan kosmopolitan itu. Kami tak sempat berpikir untuk bertukar nomor atau kontak di media sosial. Sebab kami yakin akan bertemu kembali. Nanti meski tidak pasti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *