Orang Kudus soal Hukuman Mati untuk Bupati Kudus

Saya yakin sepenuhnya bahwa para pemimpin adalah cerminan dari rakyat yang memilihnya. Dan jika ada yang salah dalam diri pemimpin, seharusnyalah kita sebagai rakyat perlu tidak hanya mengoreksi pemimpin tersebut tetapi juga mawas diri. Apa saja yang sudah kita lakukan sehingga kita terkena musibah memiliki pemimpin yang kurang membanggakan para pengikutnya?

Karena itulah, saya menulis “Begini Cara Jadi Pemilih Cerdas dan Bersih di 2019” lalu. Karena saya sendiri juga sudah muak dengan masyarakat Indonesia yang rata-rata terlalu pemaaf atau berlagak sok lupa dengan rekam jejak para pemimpin yang sudah jelas-jelas mengkhianati amanat rakyat di masa lalu dan masih saja memilih oknum-oknum tersebut di periode setelahnya.

Di tulisan tersebut, saya menekankan bagaimana kita sebagai rakyat yang memiliki hak pilih untuk tidak memilih orang-orang yang sudah terbukti tanpa keraguan sudah melakukan tindak kejahatan korupsi, kolusi atau nepotisme.

Yang saya takutkan terjadi juga di kampung halaman saya, Kudus. Sebagai putra daerah, saya sangat malu dengan apa yang terjadi dengan bupati Tamzil yang sebenarnya dulu sudah pernah menjabat kemudian terpilih kembali.

Sebelumnya Tamzil sudah pernah terpilih sebagai bupati pada tahun 2003 hingga 2008. Tahun 2014, ia dicokok aparat karena dugaan keterlibatannya dalam korupsi dana bantuan sarana dan prasarana pendidikan kabupaten Kudus untuk tahun anggaran 2004. Ia ditetapkan sebagai tersangka dan tahanan bulan September di tahun yang sama. Cuma dipenjara selama 1 tahun 10 bulan dan denda Rp100 juta, ia kemudian melenggang bebas Desember 2015.

Perbuatan nista yang terbukti di pengadilan itu tidak membuat surut niatnya untuk mencalonkan diri lagi. Tahun 2018 ia terpilih lagi sebagai bupati dan kembali terperosok di lubang yang sama setelah bebas selama 3 tahun 7 bulan. Kali ini soal jual-beli jabatan di lingkaran pemerintah kabupaten Kudus yang uangnya dipakai untuk melunasi cicilan mobil pribadi. Ia terseret bersama dengan staf khususnya Agus Soeranto dan Pelaksana Teknis Sekretaris Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Akhmad Sofyan. Tak cuma Tamzil, ternyata Agus juga pernah dipenjara gara-gara korupsi pula. ’Luar biasa’ berani ya!!!

Kini lagi-lagi ia menjadi bulan-bulanan orang-orang di sekitarnya. gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengomentari ulah Tamzil sebagai “nekat dan cenderung ndablek (Jawa: keras kepala, susah dinasihati)”. Parpol yang mengajukannya, Hanura, pun mengutuk perilakunya dengan menyatakan seruan untuk menghukum dengan seberat-beratnya.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menambahi dengan melemparkan pertimbangan dan wacana untuk menghukum mati Tamzil karena tersangkut kasus korupsi sampai dua kali, seolah memandang enteng hukum di negeri ini.

Memang susah untuk memberantas korupsi di negeri yang mengutamakan nilai-nilai kekeluargaan ini. Menurut Elizabeth Pisani dalam bukunya, memang kecenderungan budaya orang Indonesia mengedepankan kekeluargaan dalam mendapatkan solusi. Sayangnya, nilai luhur itu kerap diterapkan juga untuk urusan merampas hak-hak orang lain.

Kudus dengan citra relijiusnya (dua makam Walisongo berada di sini: Sunan Kudus dan Sunan Muria) menjadi tercoreng karena kasus ini. Dan sejatinya bukan cuma soal citra daerah tetapi juga integritas seluruh jajaran pemerintahannya. (*/)

This entry was posted in save our nation and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *