Fitartistik: Tanpa Batas, Lebih Asyik

HUMAN flag adalah salah satu gerakan yang tidak terbayangkan bisa saya lakukan. Gerakannya disebut demikian karena posisi tubuh meniru bendera yang tengah tertiup angin kencang, sampai benar-benar tegak lurus dengan tiang.

Tapi hari ini saya mencoba dan ternyata bisa juga!

Fitartistik inilah yang menurut saya adalah latihan dengan hanya menggunaka  berat tubuh (body weight workout) yang tanpa menargetkan harus menguasai ini itu tetapi secara lambat namun pasti membangun kekuatan dan kelenturan tubuh sehingga kita pada suatu saat tiba juga pada titik yang diinginkan. Tentu jika syarat-syaratnya terpenuhi: latihan dengan disiplin dan konsisten.

Coach Jonathan Sianturi sendiri memberikan sedikit nasihat pada saya yang memiliki tipe tubuh ectomorph ini agar memperbanyak latihan fisik jenis muscle-up agar kekuatan lebih terbangun secara alami. Ia menyarankan makan lebih banyak protein alami seperti putih telur dan ikan.

Jadwal latihan juga perlu diatur. Bisa dengan dua hari berturut-turut latihan sampai lelah baru dua hari berikutnya benar-benar istirahat. Ini yang dinamai recovery period. Kemudian bisa juga selanjutnya satu hari latihan dan diikuti satu hari istirahat. Ini yang dinamakan mini break. Demikian saran Jonathan.

Apakah Olahraga di Rooftop Saat Malam Hari Baik untuk Kesehatan?

Olahraga di rooftop memang mengasyikkan, tetapi perlu dipertimbangkan efeknya untuk tubuh. (Foto: Wikimedia Commons)

Kemarin saya dihubungi seorang pewarta media nasional, dengan tujuan untuk mengetahui pendapat saya sebagai praktisi yoga tentang tren olahraga malam hari di atap bangunan alias rooftop.

Memang saya amati ada komunitas-komunitas yang dengan sengaja membuat jadwal latihan fisik di malam hari dengan tujuan untuk mengakomodasi para pekerja kantoran usia produktif yang ingin tetap bisa berolahraga tetapi tidak sempat melakukannya di pagi hari.

Ada beberapa hal yang menurut saya perlu diperhatikan bagi mereka yang ingin berolahraga di malam hari.

Tidak terlalu dekat dengan jam tidur

Hal pertama yang menurut saya perlu diperhatikan saat berolahraga di malam hari ialah usahakan untuk tidak melakukannya saat mendekati waktu tidur.

Kenapa? Karena tubuh kita ini sudah memiliki irama sirkadian (irama alami kerja tubuh) yang diatur secara alami, dan ditandai dengan terbit dan tenggelamnya matahari. Manusia memiliki kecenderungan sebagai makhluk diurnal, bukan nocturnal. Artinya, manusia itu berkegiatan di pagi sampai petang hari dan begitu matahari sudah tenggelam, tubuh manusia melambatkan kinerjanya untuk fase istirahat yang diperlukan agar tetap bisa berfungsi baik. Karena itulah, manusia tidak bisa disamakan dengan kelelawar atau burung hantu yang nocturnal atau beraktivitas di malam hari.

Saat kita berolahraga terlalu larut dan dekat dengan jam tidur, tubuh kita cenderung hangat dan adrenalin terpacu, sehingga bagi sebagian orang ini justru membuat mereka bersemangat, bukannya tertidur pulas pada malam harinya.

Memang olahraga akan membuat tubuh melepaskan hormon endorfin sehingga membuat kita lebih rileks dan tertidur lebih pulas. Namun, patut diingat bahwa tidak semua orang merasakan efek yang sama. Ada yang mendapati efek overstimulasi sehingga tidur mereka justru terganggu. Ini yang pernah saya alami setelah saya beryoga dengan intens (banyak pose-pose inversi yang lumayan menguras tenaga) di malam hari. Alih-alih merasa rileks dan mengantuk, saya malah melek semalaman dan bersemangat. Jelas esoknya saya justru makin lemas karena kuantitas dan kualitas tidur berkurang. Tentu sekali lagi ini berpulang pada masing-masing individu. Jika Anda tipe orang yang seperti saya, hindarilah berolahraga terlalu malam (jam 8 malam ke atas).

Tidak terkena angin malam

Satu poin penting lain yang menurut saya patut diperhatikan saat berolahraga di rooftop ialah memastikan apakah tempatnya terlindung dari angin malam. Berolahraga di tempat terbuka memang asyik karena udaranya lebih segar tetapi efek menyehatkan itu akan maksimal jika itu dilakukan di pagi hari. Sinar matahari membuat imunitas meningkat, tubuh mendapatkan asupan vitamin D, dan sirkulasi darah meningkat sehingga kita bersemangat menjalani aktivitas seharian. Kalaupun ada angin saat pagi hari, rasanya di badan juga menyegarkan karena angin ini bukan jenis angin malam.

Lain halnya jika kita berolahraga di ruang terbuka di malam hari. Angin malam membuat mereka yang kebugarannya kurang malah makin rentan. Seperti kita ketahui bahwa tidak semua orang yang ikut tren olahraga di rooftop adalah mereka yang memiliki tingkat kebugaran yang sangat prima seperti atlet profesional. Ada kondisi-kondisi yang perlu diperhatikan sebelum berolahraga di malam hari agar olahraga itu tidak membuat kita malah sakit.

Namun, tentu hal ini masih bisa disiasati. Cobalah berolahraga di tempat yang relatif terlindung angin malam kalaupun memang terpaksa hanya bisa olahraga di malam hari sehabis kerja. Dan jika ini tidak memungkinkan, pakailah kaos atau jaket tipis yang berfungsi untuk menahan tiupan angin yang akan membuat tubuh kita yang ‘kebingungan’. Kita ibaratkan tubuh sebagai sebuah lilin yang kita nyalakan dengan olahraga sebagai korek apinya. Apakah kita bisa menyalakan lilin di tempat yang anginnya kencang? Nah, itulah kenapa tubuh kita akan kerepotan menyesuaikan suhunya. Saat ia dipacu untuk lebih panas, ia akan ditiup angin sehingga dipaksa lebih dingin. Bukannya menjadi sehat, kita bisa masuk angin akhirnya.

Karena itulah, dalam yoga yang saya tekuni selama ini kurang disarankan untuk beryoga (melakukan latihan asana/ fisik yang berintensitas tinggi) di malam hari. Jikalau ingin beryoga di malam hari, disarankan untuk memilih jenis latihan yang bersifat Yin, atau restoratif, yang fokusnya berbeda. Jika latihan vinyasa atau power yoga berfokus lebih banyak pada penguatan otot dan peningkatan kekuatan kardiovaskuler, latihan yoga jenis Yin akan memberikan kesempatan tubuh untuk rileks, meregangkan otot, sendi dan ligamen, mengendurkan syaraf serta condong pada meditasi agar alam bawah sadar lebih tenang dan istirahat lebih berkualitas.

Jaga intensitas

Intensitas berlatih saat malam hari menurut saya lebih sulit dijaga karena suhu udara yang lebih rendah membuat kita memerlukan waktu lebih lama untuk pemanasan. Karena itu, pemanasan perlu dilakukan lebih intens untuk menghindari kram. Tubuh juga menjadi kurang peka terhadap intensitas karena suhu yang lebih sejuk. Kita pacu dan pacu terus sampai tiba-tiba terasa lelah sekali atau lemas. Lain halnya jika berolahraga di pagi hari yang menurut saya lebih ideal. Untuk itu, Anda bisa coba membandingkan efek olahraga di pagi dan malam hari. Bagaimana rasanya di tubuh?

Simpulan

Jadi, apakah berolahraga di rooftop itu bagus atau tidak untuk kesehatan?

Jawabannya tergantung pada banyak faktor.

Dan tentunya masih mau menyisihkan waktu untuk berolahraga malam hari sekalipun lebih baik daripada tidak berolahraga sama sekali. Maka dari itu, meski ada hal-hal yang perlu diperhatikan, bukan berarti kita hindari sama sekali olahraga di malam hari.

Satu yang juga tidak kalah penting ialah mencoba bereksperimen dengan tubuh. Mungkin ada orang yang lebih cocok berolahraga di malam hari karena alasan-alasan tertentu. Sebaliknya, ada yang lebih pas di waktu lain.

Lalu mana yang benar dan bagus: olahraga di malam hari atau pagi hari? Begitu mungkin tanya Anda.

Yang saya ketahui pasti ialah keduanya lebih baik daripada tidak berolahraga sama sekali. (*/Foto: Wikimedia Commons)

When Asian Women Say ‘Me Too’

In 2006 #MeToo was launched by American activist Tarana Burke as a form of solidarity for victims of sexual assaults. It went viral overnight in the wake of Hollywood movie producer Harvey Weinstein’s misconduct last October which  prompted women around the globe to break all the silence ‘wall’ around the issue of sexual assault and harassment. The movement reached its peak when Oprah Winfrey presented a speech at the Golden Globes stage on January 7. Another notable figure who ‘helped’ launch the movement is gymnast McKayla Maroney who spoke openly about what Larry Nassar (a former USA gymnastics team doctor) had done to her when she was 13. Nassar was arrested last November after being accused of sexually harassing not only Maroney but also many other female. Ever since, the movement has been snowballing.

Asia is not immune to the movement, impacting at various levels on Asian women. In some Asian countries, we have seen some achievement in women empowerment. In China, for example, the battle against gender-based violence has reached some new heights as thousands women showed support for the initiative. Despite government censors, the movement has been fruitful especially on academic circles. Beihang University alumnae Luo Qianqian bravely accused her professor on the campus, Chen Xiaowu, of sexual assault in 2005 when the man served as her academic advisor. Luo was not alone as half of the female students at 15 Chinese universities stated they had been subjected to sexual misconduct on campus, according to a study released in 2014 by the All-China Women’s Federation. The pursuit of justice ended happily. Chen was removed from his position and sanctioned by the Ministry of Education.

In India, according to Ranjana Kumari (Chairperson of Women Power Connect) the movement has been responded widely and positively. Though most of these Indian women do not detail who their perpretators were and what really happened to them but they confessed that the same thing had happened to them at work and on campus. “They find the space on social media and could say ‘this is what happened to me, too!’” she elaborated. She also noted that the majority of women who work in the informal sector and are very marginalized in the society have no such privilege to speak up even on social media and need assistance in some way.

In the Arab world, the movement was responded to differently. As stated by Egypt-born feminist author Mona Eltahawy, the importance of the hashtag is not about women speaking out or does the community blame the woman or not. “It has allowed women to see each other as all being victims of patriarchy. This is an institutionalized form of discrimination that regardless of where you’re from,” the author of Headscarves and Hymen remarked.

For the Asian women context, according to Indonesian journalist behind feminist news portal Magdalene.co Devi Asmarani, cultural factors prove to remain strong in preventing them from speaking up about sexual harassment. The main cultural factor playing here is the strong patriarchy culture prevalent in most part of Asia. “Patriarchy plays a strong role in intergender relations, which consequently belittles sexual violence and harassment. This ends up undermining the urgency of issue among society members and stakeholders. Public knowledge on sexual violence also needs improvement. They assume only rapes or assaults can fit the definition of sexual violence; while harassment, catcalling and many other forms of such misconducts do not qualify. Most offenses like these are left unpunished, forgiven or considered trivial,” Devi commented via email. This fact, she added, brings so much burden on the shoulders of victims, both ones of rape and harassment as they are required to be able to provide convincing evidence.

She also pointed out that when the legal system and law enforcement do not sympathize with victims, there is more reluctance to file reports or speak openly about violence they had to endure. As the stigma lingers among sexually-harassed women, they grow more reluctant to report or open talk about what they had gone though publicly. Often women are seen as ones who desire such treatment.

So what can be done about it? “Keep talking,” Devi asserted herself. The more stay silent, the longer the problem keeps amounting. Both survivors and non-survivors must unite and cooperate to speak up and show their support of the me-too movement as well as educate the public in general on how prevalent and massive this issue has become in Asia, too.

These days, Asian women encounter a tremendous amount of challenges amidst the increasingly conservative society and  more prevalent religious fundamentalism that aim to reposition women back to domestic realm. “But I’m convinced that eventually gender equality is something inevitable. So it’s either you’re with us or against us,” she concluded.

The #MeToo movement certainly puts women in Asia in an uncomfortable moment and discomfort but it is the inconvenience that empowers them to enable a  major social change especially in Asian communities. This is the best momentum to give more emphasis on the issue urgency, waking up us all to start a very honest conversation about gender relations, sex and all the taboos that we badly need to address. (*/)

 

Writing from ‘Corners’

Sometimes you have to shift the focus, from the limelight to the corners. (Credit: Wikimedia Commons)

Don’t try to write about winners. Too many people have written about them. Write about losers. They’re many and everywhere to see but each has a unique stroy to tell.

That’s what Mitch Albom stated in his talks:

“Go to the corners. The best stories I’ve ever written come out of those corners.”

The best stories are not always about winners or those with gold medals in their necks. Some are even less than that but they actually hide equally touching or even more heart-wrenching and inspiring lessons to let audience know.

Albom discovered one of his best while he was covering Olympics in Barcelona 1992.

He was sitting around and the story came to him unexpectedly. “Sometimes stories come to you when you put yourself in certain places.”

When everyone there seemed to be engrossed with Carl Lewis, the fastest runner at the time, Albom spotted a runner who seemed to fail to make it. This poor runner failed to perform as he wished because his hamstring got injured.

Every spectator thought he was done.

But as a writer, Albom had his instinct to keep an eye on him.

“He was in the lane, lying down on his knees. You can see his agonizing pain. He got up and cried.”

And then Albom saw an unexpected scene afterwards. There was a man running towards the failing runner. He grabbed the runner and lifted him up and persisted to walk the runner along the remaining track. Everyone seeing this cheered them up. In marathon, if you do cross the finsih line, no matter what your time is, you’re entered in the book as one who gets there fastest. So what matters most is that you finish.”

Albom ran towards them and talked to both. As the two men were in tears, he found a fact that the runner is the man’s son.

“That’s what my father taught me how to run when I was a little boy…,” the runner said to Albom.

Writing from ‘corners’ sounds very counterintuitive, I must say. But this is a  worth-trying approach to gain a fresh perspective towards an issue or topic.

When everyone’s attention is absorbed by winners, those who fail sometimes save the best lessons for us writers.

I find this very useful for novices and beginners in writing who assume they have to find a huge and spectacular story to write so that they can be called a great writer.

Some writers are known because of their great and grand themes. Some are not but still they make great success. The second succeed thanks to their instinct of finding the most substantial themes in life among piles of mundane, ordinary and boring things around them. In other words, they write about things most people and new writers ignore or choose to ignore in a greated depth, a fresh angle and a brand new style no author has ever tried or dared before.

What’s your most mundane story? And how can you turn them into captivating stories? (*/)

Pandai Menerjemahkan? Yuk Berkontribusi untuk Pelokalan Mozilla

Pelokalan alias localization mungkin terdengar asing bagi banyak orang. Namun, pada dasarnya ini sama saja dengan penerjemahan. Hanya saja yang diterjemahkan bukan teks dalam file dokumen yang selama ini kita sudah akrabi.

Lalu apa yang diterjemahkan dalam pelokalan?

Saya mendapatkan jawabannya dalam lokakarya (workshop) pelokalan yang diselenggarakan malam ini di Mozilla Community Space, Kuningan, Jakarta.

Selama ini kita mungkin jarang menggunakan produk-produk Mozilla yang sudah berbahasa Indonesia. Padahal jika mau mencarinya, kita bisa temukan dengan mudah di sini. Peramban (browser) berbahasa Indonesia mungkin jarang dipakai anak muda perkotaan yang sudah akrab dengan bahasa Inggris. Tetapi bagi mereka yang tidak sebaik anak-anak muda ini dalam pemahaman bahasa Inggris, produk berbahasa Indonesia tentunya akan sangat membantu.

Di sinilah Anda yang berminat dalam bidang bahasa dan penerjemahan (terutama dari bahasa Inggris ke Indonesia) bisa memberikan sumbangsih.

Dipandu praktisi pelokalan Mozilla Indonesia Lidya Christina, hari ini kami menjajal bagaimana berkontribusi dalam proyek-proyek pelokalan produk-produk Mozilla untuk pengguna Indonesia.

Pertama-tama, bagi Anda yang ingin berpartisipasi, bisa mempelajari Panduan Gaya Pelokalan (Style Guide) yang mencakup:

  1. Formalitas
  2. Gaya selingkung (nada dan suara)
  3. Keluwesan bahasa
  4. Penanganan istilah setempat, idiom dan bahasa asing
  5. Konsistensi gaya
  6. Terminologi
  7. Satuan dan ejaan bahasa Indonesia

Sementara itu, gaya pelokalan Mozilla yang lazim terdiri dari dua unsur utama: akurasi dan kefasihan. Akurasi artinya ketepatan dalam menerjemahkan teks sehingga pesannya tetap tersampaikan dengan jelas dan tidak bertele-tele. Kefasihan terkait dengan bagaimana hasil pelokalan itu terkesan alami dan tidak janggal, atau kaku.

Untuk Anda yang ingin berkontribusi, Anda dipersilakan membuat akun Mozillian dulu di Mozillians.org agar kontribusi Anda bisa terlacak. Tujuannya bukan untuk pamer tetapi agar Anda bisa menyumbangkan lebih banyak jika hasil pelokalan Anda terbukti bisa diterima (acceptable) dan berkualitas sehingga layak dipakai dalam produk-produk Mozilla untuk pengguna yang berbahasa Indonesia.

Nantinya jika Anda berminat untuk lebih banyak terlibat dalam upaya pelokalan, Anda bisa naik jenjang dari kontributor menjadi penerjemah. Kontributor bisa menyumbang usulan penerjemahan namun masih ada kemungkinan hasilnya tidak dipakai atau ditolak karena berbagai pertimbangan. Untuk level penerjemah, sudah diberikan kewenangan untuk menolak hasil pelokalan dari kontributor dan turut memberikan usulan dan perbaikan. Dan tentunya manajer memiliki kewenangan lebih banyak dari sekadar penerjemah.

Kembali lagi ke cara melokalkan produk Mozilla, Anda bisa masuk (login) ke akun Mozillians Anda dan kemudian masuk ke  https://pontoon.mozilla.org/. Di sini mirip dengan wadah untuk menampung berbagai proyek pelokalan produk Mozilla. Anda bisa memilih mana yang Anda sukai, tetapi diutamakan pilihlah proyek yang tenggat waktunya mendesak dan memiliki tingkat prioritas lebih tinggi.

Sebagai catatan, bila bingung dengan istilah atau kata yang harus diterjemahkan, cobalah menggunakan beberapa referensi seperti:

  1. http://transvision.mozfr.org
  2. http://kateglo.com
  3. https://id.m.wikipedia.org/wiki/Daftar_Istilah_Internet_Indonesia
  4. https://id.wikisource.org/wiki/Panduan_Pembakuan_Istilah,_Pelaksanaan_Instruksi_Presiden_Nomor_2_Tahun_2001_Tentang_Penggunaan_Komputer_Dengan_Aplikasi_Komputer_Berbahasa_Indonesia

Setelah bereksperimen melokalkan string atau untaian kata-kata dalam proyek Common Voice milik Mozilla, kami bisa melihat pencapaian masing-masing. Kontribusi masing-masing kontributor terlihat jelas.

Dan di sini Anda sebisa mungkin memakai ragam bahasa formal karena ini akan dipakai untuk pengguna secara luas, bukan menyasar ke segmen anak muda saja.

Tertarik ikut? Nantikan lokakarya pelokalan berikutnya (yang sedianya akan diadakan pada Selasa malam) di Mozilla Community Space. (*/)

The Problem of Favorite Poses

YOUR favorite postures can do you more harm than good – if done continuously in too long a period of time. Yin yoga guru Paul Grilley takes snail pose as one example. He loved this pose so much he did it frequently for 15 years and each practice he held the pose for a long time. “Then I have an upper spine and ilio sacral problems which I determined were caused by my favorite pose!” He wrote in his book “Yin Yoga: Principles and Practice”.

I too have similar issues back then. The difference was my favorite asanas were backbends. Until one day I felt a disturbing, stinging pain in my lower back. This didn’t feel good, I thought, so I left my deep backbend practice for weeks and lowered down the intensity. Now I still do backbending poses but with more awareness and less ambition of deepening only to impress people (ego really sucks). How about you? What favorite pose that got you injured?

Menelisik Fitartistik (9): Melenting ke Belakang

Hari ini setelah melakukan rutinitas dari jogging beberapa lap, lari mundur dan pemanasan reguler, akhirnya untuk handstand saya mulai untuk diajari teknik straddle-legged handstand. Kedua kaki panjang membuka ke samping dengan tangan menekan ke lantai dan menutup lurus ke atas. Saya masih perlu membangun kekuatan untuk meneruskan kedua kaki menutup lurus ke atas. Hari ini saya coba dan hanya bisa setengah jalan. Dengan bantuan coach Jonathan, saya lebih mulus melakukan teknik satu ini.

Hari ini saya juga kembali berlatih cartwheel. Satu hal yang saya pernah asumsikan ialah dalam gymnastik kita juga harus melatih kedua sisi badan. Jadi saat cartwheel misalnya saya selain sudah bisa dan nyaman di sisi kanan, saya mesti juga latih sisi kiri.

Tapi menurut coach J, asumsi khas yoga yang semacam itu ternyata tidak berlaku di dunia gymnastik termasuk fitartistik yang berorientasi ketrampilan. “Biasanya ada sisi yang lebih bagus dan sisi itulah yang nantinya akan dilatih agar hasil terbaik dapat dicapai,” ungkap coach J. Ia sendiri berkaca dari pengalamannya bahwa bagaimanapun kerasnya berlatih ada satu sisi yang lebih lemah, kurang nyaman dan kurang lincah. Bahkan coach saja baru bisa cartwheel di sisi kiri yang ia anggap lemah saat usianya sudah menanjak. Saat muda, justru ia lebih banyak memakai sisi yang dominan, lincah dan kuat. Karena itulah, pilih satu sisi yang mampu menunjukkan ketrampilan dan kestabilan paling baik. Kecuali memang Anda seorang ambidextrous, yang memiliki kemampuan motorik sama baik di kedua sisi badan.

Yang menarik hari ini saya dikenalkan dengan teknik melenting ke belakang. Reka ulangnya ada di serangkaian foto di atas. Dari jongkok kemudian saya harus merentangkan lengan ke depan dan mesti menekuk lutut dan bersiap melontarkan badan ke belakang.

Langkah selanjutnya ialah latihan kayang secara statis, atau diam. Dengan begitu tubuh akan lebih lentur dan siap ke gerakan melenting ke belakang.

Kemudian saya diinstruksikan melakukan semua urutan gerakan tadi dengan lancar tanpa jeda. Tentu badan saya masih belum tahu orientasinya dan kebingungan. Susah menyesuaikan antara perintah dari otak dengan gerakan tubuh. Ternyata kita tidak sepenuhnya menguasai tubuh kita sendiri. Tubuh kita perlu diajak bekerjasama dengan lembut dan bertahap. Tidak bisa dikasari secara mendadak. Perlu taktik dan kesabaran. Inilah yang sulit dan menantang.

Menelisik Fitartistik (8): Handstand Itu Mahal

HANDSTAND itu mahal. Demikian kata coach Jonathan Sianturi.

Ya betul juga sebab handstand asal-asalan, dengan cara yang sembarangan, mungkin lebih mudah dilakukan. Asal kedua kaki naik ke atas dan jadilah.

Tapi jika mau melakukannya dengan teknik yang benar dan aman serta memberi lebih banyak faedah daripada risiko cedera bagi tubuh, teknik yang benar tak pelak diperlukan.

Di pertemuan ini saya masih berjuang agar teknik handstand saya bisa lebih mapan dan aman. Tapi memang lagi lagi kembali pada komitmen masing-masing. Berapa banyak waktu yang bisa diluangkan untuk belajar dan berlatih? Nah, itu yang jadi pertanyaan.

Saya sendiri masih agak labil. Bisa naik tetapi untuk mempertahankan handstand susahnya bukan main. Resepnya dari coach: handstand dengan muka menghadap dinding. Agak mengerikan tapi bagus untuk melatih respons tangan tatkala tubuh agak limbung ke depan. Mekanisme rem itu mesti dibangun perlahan tiap hari. (*/)

Menelisik Fitartistik (7): Mempertahankan Pencapaian

HARI INI COACH Jonathan Sianturi memberikan sebuah tantangan baru agar latihan handstand saya bisa berkembang. Tidak berkembang lamban.

Disarankannya saya untuk handstand dengan muka menghadap (bukan membelakangi) tembok. Dan pergelangan tangan serta seluruh permukaan tubuh depan saya mengenai dinding. Bila sudah bisa mempertahankan posisi ini dengan nyaman, barulah saya bisa mencoba menjauhi sedikit dinding itu ke depan dengan ujung jari kaki mengenai dinding dan kalau bisa tetap di postur handstand tanpa menyentuh dinding. Saya sendiri tahu ini tidaklah mudah. Saya sudah pernah mencoba handstand dengan seluruh tubuh depan mengenai tembok tapi untuk sedikit menjauh dari dinding dengan masih mempertahankan postur itu, saya terus terang belum mencoba karena belum yakin. Jadi, ini patut saya coba. Bukan hanya saat latihan yang hanya dua kali seminggu tapi kalau bisa saban hari. Toh ini latihan skills, bukan latihan kekuatan dan condotioning yang mengandalkan repetisi hingga menguras tenaga.

Terkait kemajuan dalam latihan planche, saya masih bertahan di level dua setengah, kata bang Jo. Agak perlu usaha lebih banyak agar terbiasa dengan posisi tangan yang tetap lurus saat tubuh mulai condong ke depan. Ini sangat menantang apalagi pergelangan tangan saya belum terlatih secara intensif untuk itu. Makanya saya terus berlatih dengan barbel agar dapat membantu penguatannya. Dengan berat tubuh yang sudah mendukung (baca: relatif ringan), saya merasa bisa membuat kemajuan pesat bila pergelangan tangan dan bahu saya sudah lebih kuat sebagai fondasi gerakan-gerakan yang sangat menantang dan menuntut keberanian dan keterampilan berakrobat.

4 Benefits of Volunteering at Mozilla Community Space

Just a brief caveat, I’m not going to say anything here about the free-flow snacks and drinks and free internet connection available at anytime (though they’re two of the benefits to lure more people into coming more often and spend nights there).

Here I give you four of so many benefits of volunteering as a keyholder at Mozilla Community Space.

BETTER MENTAL HEALTH

Certainly Mozilla Community Space is no place to go to cure your mental disorder or illness but I’m serious about this. According to Harvard Health Publishing (a publishing section of Harvard Medical School), people who volunteer have a better mental health condition. Stephanie Watson of Harvard Women’s Health Watch elaborates on this point, saying:

Studies have shown that volunteering helps people who donate their time feel more socially connected, thus warding off loneliness and depression. (source: healthharvard.edu)

It’s an inconceivable benefit that I’m sure everyone wants to reap from volunteering for any social causes, including Mozilla which is a non-profit organization.

In Mozilla Community Space, you’ll meet not only friends you’re already familiar with but also an endless supply of new acquaintances who can bring you a lot of new perspectives in life.

LONGER HEALTH SPAN

It’s useless to live a long life but bedridden, too il to wake up and enjoy the world and all things in it. That’s why I pick the ‘health span’ term instead of ‘life span’.

Great news for you who are too worried about your physical health, and most specifically your blood pressure. Now, you can get less dependent on your anti-hypertension medication by spending more time to volunteer in Mozilla Community Space.

More on this, read on below:

Those who had volunteered at least 200 hr in the 12 months prior to baseline were less likely to develop hypertension (OR = 0.60; 95% CI [0.40, 0.90]) than nonvolunteers. There was no association between volunteerism and hypertension risk at lower levels of volunteer participation. Volunteering at least 200 hr was also associated with greater increases in psychological well-being (source: here).

BUILD WIDER NETWORKS

If you’re under 40 years old like me, volunteering does nothing to boost your wellbeing but hey, let me tell you that the benefit is not always about health. Volunteering can be impactful even if you’re a lot younger, especially when it comes to networking. Volunteering at young age  especially allows you to get exposed to people and worlds outside of your comfort zone. For young people, that comfort zone may be your school, your family and immediate relatives maybe. But if you volunteer, you’ll discover so many unknown worlds other than people you’ve known since your childhood.

In Mozilla Community Space, I can meet with younger people, lots of them actually (I’m the eldest newly-appointed keyholder). And seeing these youths who are as old as my younger siblings pretty much gives me a great deal of youthful spirit. Besides, more acquaintances means more opportunities in fact.

ADD MEANING TO LIFE

Life is a lot more boring if you only focus on your personal life goals. You want this and that and when you have it all, only you can enjoy it. Life can be more meaningful than that by volunteering your time and energy to a specific cause you prefer.

So what’s my cause?

Freedom!

For the sake of freedom in the virtual world, I want to be more actively involved in Mozilla Indonesia.

Why Mozilla?

Because nowadays our freedom as internet users have been ‘robbed’ by all tech giants like Google, Microsoft, Facebook, etc. We are made to trade our privacy and private details with convenience, a bait too tempting to refuse. They shape our lives and our future as human civilization, too. So we need an alternative which is free from business, commercial interests.

The keyword is FREEDOM.

Freedom to make choices, whether we willingly swap our privacy for convenience or hold tightly that last shred of privacy and explore the web without being herded like a bunch of dumb sheeps and being fed by grass decided by algorithms.  (*/)