Pesona Abadi Jakarta di Mata Pengangguran

image

Ia baru saja lulus sekolah teknik menengah. Kepalanya gundul bak gundu. Rambut tak tersisa. Kulit gelap. Tingginya rata-rata. Wajahnya masih polos. Ah, aku terjebak menjelaskan anak itu seperti stereotip pemuda kampung yang baru masuk peradaban. Tapi begitulah anak itu terlihat sekilas. Tak banyak bicara. Entah karena malu atau segan atau acuh atau semuanya. Dialah salah satu warga baru ibukota tercinta. Anak itu adik penunggu kos. Ia sengaja ikut ke Jakarta setelah lulus sekolah di Gombong, Kebumen. Hari-hari berikutnya kulihat ia sibuk memasukkan lamaran dibantu sang kakak yang juga pontang panting mencarikan lowongan kerja. Sempat kudengar kata ‘Cikarang’ ,sebuah kawasan industri tampaknya. Aku juga tak paham benar. Ia baru saja melamar di sana dan ditolak. Alasan? Mungkin karena mereka mencari yang penampilannya lebih resik,kata kakaknya blak-blakan. Tetangga kampung datang berkunjung dan ikut berbincang membahas kegagalannya menembus ujian wawancara kerja. “Makanya kalau punya luka mending ditunggu aja mpe kering,” kata si tetangga nimbrung ikut menghakimi si pemuda malang. Wajahnya ada luka dan anak itu gatal ingin mengelupas bekas luka yang sudah agak mengering. Ternyata belum sembuh benar. Dan alhasil terlihat lebih merah dan menjijikkan. Pantas saja ditolak. Malamnya kusadari anak itu tak sendirian. Tak kurang 3 orang menanyakan lowongan kerja padaku di Facebook. Mereka rata-rata fresh graduate. Ada yang berkeluh kesah cemas jika ijasahnya tak diterima bekerja. Ada yang sedang bekerja mengetik siang malam jaga warnet dan sudah mati bosan di sana ingin pekerjaan baru. Dan ada teman SMA yang beranak dua dan akan memiliki satu bayi lagi tetapi mengaku menganggur. Ia membombardirku dengan banyak pertanyaan di facebook messenger lalu meminta nomor ponsel dan sesi pertanyaan dan jawaban berlanjut via pesan pendek. Sejumlah pertanyaan tentang prospek dan gaji ia ajukan secara agresif. Aku hafal tipe orang seperti ini. Mereka berputar putar hingga satu saat terkuak pula tujuan utamanya. Ternyata itu untuk menanyakan tawaran kerja yang diberikan pada saudaranya. Entah benar atau tidak. Kujawab sekadarnya. Aku tak pernah merasa wajib menolong orang orang seperti ini dengan sepenuh hati. Mereka penuh agenda tersembunyi. Dan itu memuakkan. Kujawab sekenanya saja agar ia cepat puas dan selesai percakapan itu segera. Kembali lagi pada para penganggur ini. Aku cuma ingin memberikan simpatiku yang terdalam dan mendoakan agar mereka jangan sampai cepat menyerah. I can feel you, folks.

This entry was posted in grammar and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *