Setengah Jam Bersama Devi Purnaningsih

Pertama kalinya sore ini saya menunggangi ojek kuda besi daring dengan joki yang memiliki uterus. Maaf, bukannya saya vulgar tetapi begitulah istilahnya dalam ilmu hayat bab sistem reproduksi yang saya pelajari sepanjang sekolah menengah.

Sebelumnya saya memang pernah bersua dengan pengendara ojek aplikasi yang berkelamin perempuan. Saat itu di sebuah ruas jalan di Jakarta Utara dan penumpangnya perempuan. Lalu saya pikir memang ada ojek perempuan yang khusus melayani penumpang perempuan.

Tetapi saya salah. Ojek perempuan tak sungkan mengantarkan penumpang yang berkelenjar prostat juga.

Tulisan “Devi Purnaningsih”, begitu nama pengendara ojek saya sore tadi, muncul di layar ponsel saya. Saya pikir saya salah baca. Mungkin itu Devi Purnawira, Devis Purnaningsyah, atau Devi Purnato. Akhiran -sih membuat saya bimbang. Benarkah ini perempuan?

Sejurus sebuah panggilan masuk. Halo, saya sapa. Suara seorang wanita mengalun dari mikrofon ponsel. Iya, ia memang seorang pemilik tuba falopi.

Apa yang membuat Devi tergerak turun mengojek ke jalan? Klise memang. Apalagi alasannya kalau bukan perihal finansial. Dan dalam kasus Devi, itu yang jadi alasan. Saya tanya pekerjaannya sebelumnya. “Jualan pakaian, mas. Susah muterin duitnya. Ngutangin malah macet tagihannya,” keluhnya. Tangannya yang bersarung tangan coklat memegang erat stang sepeda motor itu. Menderu seru. Seolah menyalurkan kegeramannya pada para penunggak utang.

Sebagai tukang ojek daring, Devi baru seumur jagung. Kariernya baru dijalani dua bulan. Meski demikian, itu sudah lumayan, pikir saya. Berkendara di jalanan ibukota sungguh bukan perkara gampang. Saya saja 5 tahun di sini tak kunjung hapal nama-nama jalannya secara sempurna.

Devi mengaku masih harus banyak belajar. Meski terhitung pemula, “prestasinya” tidak bisa disepelekan. Sebagian “prestasi” Devi sebagai pengendara Gojek ialah membuat seorang penumpang pria muda pusing tujuh keliling di suatu malam pukul 11 di kawasan Mega Kuningan. Kok muter di sini melulu ya, tanyanya pasrah. Area yang ia kuasai ialah Jakarta Utara, dan dekat Tangerang. Jadi kalau di Jaksel, saya tak banyak tahu jalan, aku Devi.

Sembari menikmati percakapan, sesekali saya amati kakinya yang tak begitu jenjang menapaki tepian trotoar. Caranya menapak begitu hati-hati. Metode manuvernya saat menyalip kendaraan lain juga lebih halus. Tarikan gasnya lebih terkendali. Khas wanita pokoknya. Jauh dari kesan ugal-ugalan.

“Bisa pilih penumpang nggak, bu?”tanya saya karena ingin tahu. Saya tidak bisa bayangkan sosok semungil itu mengangkut penumpang pria berbadan besar. Jauh lebih besar dari saya. Devi mengaku belum pernah tetapi ia sudah dua kali angkut penumpang wanita berbodi ekstra. Seorang siswa SMA yang gemuk lalu satu lagi entah siapa. Saya tak bisa mendesaknya mengulangi lagi. Takut mengganggu konsentrasi mengemudi. Jadi saya simpulkan ia cukup beruntung mendapatkan saya sebagai penumpang.

“Bukan masalah berat atau tidak. Kadang ada penumpang kurus yang rasanya lebih berat karena badannya tegang, seperti takut jatuh. Yang berat badannya lebih kalau rileks saja malah terasa relatif lebih ringan”, ucapnya.

“Prestasi” Devi lainnya ialah menyusuri jalan layang Tanah Abang sampai Kota Kasablanka dengan penuh percaya diri. Maklumlah ia belum tahu jalan gantung itu khusus buat mobil dan truk. Begitu turun ia dipanggil seorang pengemudi Gojek lainnya. “Kamu dari mana? Gila kamu ya. Lewat atas kan gak boleh!”hardik kolega prianya. Habisnya kan tidak tahu, jawabnya lalu terkekeh. Mulutnya terkatup begitu rekannya berceloteh,”Jangan lewat situ apalagi malem malem. Ada orang hamil mati bunuh diri di situ. Tau!” Saya yang tahu kisahnya mencoba meluruskan. Sebenarnya bukan bunuh diri tetapi wanita hamil itu naas karena sepeda motor yang ia bonceng dengan sang suami di suatu malam melawan arah dan nekat naik ke jalan layang. Panik akibat kejaran polisi yang siap menilang, mereka melaju terus meski sudah diklakson banyak mobol. Akibatnya sepeda motor itu kehilangan keseimbangan dan jatuhlah di depan putaran Kuningan City. Tragis dan mengiris.

Perjalanan kami berakhir paripurna di depan pintu kos saya. Sekelebat ibu kos muncul dan masuk lagi. Lalu bertanya dalam bisik:” Ojeknya perempuan ya?” Saya mengangguk lalu berucap santai,”Kenapa mau juga (ngojek kayak dia daripada bosen di rumah melulu untuk mencuci pakaian, menyeterika dan memasak)?” Saya lupa. Ia saban pagi mengandalkan suami dan anaknya untuk ke pasar. Ia tak bisa menunggangi kuda besi apapun. Lain dari Devi yang sudah melesat pergi menjemput penumpang berikutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *