Making It to London Book Fair 2019

Jepretan Layar 2019-03-17 pukul 17.19.08.png

My heart can’t contain the joy upon discovering the news that a couple of books in which I was involved have finally made it at London Book Fair 2019.

Though I’m childless, I can tell this feeling is slightly similar to what parents of a child feel when s/he discovers some news from teachers that his or her child has just made an achievement that deserves heartfelt praise and appreciation.

I’m by no means the instigator of both books but I’d been involved actively in the writing, translating and publishing process.

The first book is “KINTAMANI BALI DOG” (Anjing Kintamani Bali, 2016) in which I acted as one of the editors. Its author, Dewi S. Dewanto, is a lover of Indonesian native dog breed only found in Bali.

She keeps some Kintamani Bali dogs at home. One of them is named Foxy, a wolf-sized home dog that seems to be destined to protect its owner from potential threats, even that is from fellow humans like me.

I remember the  time when I paid Dewi a visit. Foxy couldn’t help sniffing at us the guests. She walked anxiously around me to find out whether I was a threat or not in the territory. With a dog this agile and protective, I bet no thief would ever come so close to the house. Unless s/he wants some deadly bites in the flesh.

Foxy, however, is really sweet when you have gotten her ‘sweet spot’. She just doesn’t mind any perils as long as she can defend her owner/ master.

Why is the book special?

I should say this is a must-have for Indonesian dog lovers. The book discusses everything the world needs to know about the dog breed that can only be found nowhere else but Bali, Indonesia. You’ll find a broad range of knowledge, from the origin of it to how to select puppies and take care of these fluffy-furred dogs.

The second book is different from “Kintamani Bali Dog”. While KBD is a nonfiction work, “Of Stars and Prayers” (2016) is a fiction work written by Wikan Satriati, my fellow editor, for child readers. As the author puts it, the book contains some short stories on prayers.

The book was first published in Indonesian in 2008 under the title “Gadis Kecil Penjaga Bintang: Tamsil tentang Doa untuk Anak dan Orangtua“. In 2016 Wikan made some revisions and published the book in English.

Below is Wikan’s testimony of my translation:

Terima kasih pula untuk Akhlis Purnomo yang mengerjakan sebagian besar penerjemahan buku ini secara sangat bagus: “Doa untuk Ayah-Bunda”, “Seorang Murid dan sebuah Batu”, “Kristal Bintang Jingga”, “Perjalanan Doa”, serta kelengkapan penerbitan lainnya.
(I would thank Akhlis Purnomo for his translating most of the book very well:”Doa untuk Ayah-Bunda” (Prayers for Mom and Dad), “Seorang Murid dan sebuah Batu” (A Student and a Rock), “Kristal Bintang Jingga” (The Prayer‘s Journey) and others.)

WhatsApp Image 2019-03-17 at 10.09.53 AM.jpeg

Both books are proof of my contribution to the Indonesian literary translation, which is in increasing demand as the global audience wants more diversity.

I am always looking forward to other opportunities of translating Indonesian authors’ books to be translated into English so more readers around the globe can enjoy stories from Indonesia.

If you’re an Indonesian author searching for an English-Indonesian translator, I’d love to work together to make your works known to global readership. (*/)

Daya Kata-kata

Mendiang Pramoedya Ananta Toer di masa mudanya (Sumber foto: Wikimedia Commons)

Sebuah rekaman suara tanpa judul itu saya putar kembali pagi ini. Rekaman yang tertumpuk dalam gudang digital saya. Sebuah ceramah bernas mengenai kekuatan kata oleh seorang pekerja sastra kampiun bernama Martin Aleida terdengar jelas di dalamnya. Saat tersebut namanya saya ingat cerita seorang teman yang berceloteh bahwa Martin ditakuti oleh seorang penulis lain karena riwayatnya yang dicap sebagai tahanan politik yang membuatnya dijebloskan ke penjara dahulu kala. “Saya takut akan dibacoknya karena ia komunis,” kata teman saya mengutip reaksi spontan penulis temannya itu.

Akan tetapi, bagi saya wajah Martin tak menunjukkan bekas kebengisan. Raut muka dan gaya bicaranya santun. Ingatannya memang masih tertancap di masa lalu. Luka-luka dan usia yang renta itu membuatnya terus membicarakan masa lalu dan tak banyak membahas masa depan.

Penderitaan sebagai pesakitan politik rezim Orde baru itu menjadi tema besar karya-karyanya. “Sastra memihak kalian, para penderita,” klaim Martin yang pertama kali saya temui secara langsung dalam sebuah seminar berbayar singkat di Taman Ismail Marzuki beberapa waktu lalu. Saat itu ia tampil sederhana dalam sebuah acara yang menjadi rangkaian Asean Literary Festival 2015.

Terkait daya doa dan kata-kata, Martin menjelaskan sebuah cerpen gubahannya,  yang menceritakan perjalanan seorang pria yang terobsesi untuk mati dengan diiringi doa. Pria itu tak mau mati seperti ayahnya yang dicangkul kepalanya dan dibiarkan jenazahnya membusuk begitu saja tanpa ada prosesi pemakaman yang layak. Sejak itu, ia meneguhkan tekad agar bisa meninggalkan dunia dalam perpisahan berbalur doa-doa indah dan menyejukkan telinga, hati dan pikiran.

Untuk mewujudkan ritual kematian yang indah itu, ia membawa bekal seekor anjing kintamani bali. Tujuannya berkelana mencari dan menemukan orang Bali yang berdarah murni di Sumatra.

Dia yakin akan menemukan orang semacam itu di sana. Ia sewa jasa seorang sopir dan menjelajah lewat jalur darat. Untuk membiayai kebutuhan hidup sehari-harinya, pria itu juga membawa monyet dan alat-alat pertunjukan jalanan dan mereka menari untuk mendapatkan perhatian dan sedekah dari orang-orang yang lewat.

Begitulah perjuangan seorang manusia ‘hanya’ untuk mendapatkan sebuah doa, yang berupa kata-kata di penghujung kehidupan fananya. Ini sungguh sebuah ironi yang menyayat hati. Terutama karena seuntai kata bisa diproduksi begitu mudahnya, sehingga seolah membuat derajatnya hampir nihil.

Kata-kata (baik yang terucap maupun tergurat dalam material konkret) bagi saya memiliki kekuatan, daya, dan energi. Saat kata-kata itu bermunculan terlalu acak dan tanpa tujuan yang jelas apalagi sampai mencederai inti dari interaksi yang sebaiknya penuh dengan kebajikan dan keselarasan, itulah yang namanya “diare” atau “berak” dalam hal verbal. Diare kata-kata ini Anda bisa temukan di berbagai tempat, baik fisik maupun elektronik. Baru-baru ini saya mencoba untuk menghentikan kebiasaan “berak” verbal itu di aplikasi percakapan virtual dan media sosial. Sungguh, kemudahan mengeluarkan kata di mana saja dan kapan saja, tanpa harus ada misi dan visi tertentu menjadi sebuah bumerang yang mematikan. Selain memudahkan orang menyebarkan energi baik lewat kata-kata positif, ternyata manusia lebih mudah takluk pada hasrat menyebarkan atau melampiaskan energi negatif itu melalui kata-kata negatif pula. Atau mungkin kata-kata yang sebetulnya netral tetapi karena kesalahpahaman terhadap konteks yang rumit, terpantiklah sebuah konflik. Bahkan saya menemukan kenyataan bahwa diam melulu di sebuah ruang percakapan maya juga bisa mengundang cacian.

Kembali pada Martin, sastrawan veteran ini kembali mengajak kita untuk lebih cermat dan hemat dengan kata-kata yang kita keluarkan dalam bentuk lisan dan tulisan. Dicontohkan kasus sastrawan legendaris negeri Pramoedya Ananta Toer. Kata Martin, buku-buku Pram yang diterbitkan melalui penerbit Balai Pustaka lebih enak dinikmati para pecinta kata karena lebih tertata. “Kata-katanya terjaga, terjamin, konsisten,” tukas Martin.

Setelah lepas dari Balai Pustaka, Pram menerbitkan buku bersama sejumlah penerbit lain. Dan titik ini, Pram sudah diakui sebagai sastrawan besar dibanding sebelumnya. Maka dari itu, ia diberi kebebasan dalam menulis, yang artinya tanpa kekangan dari para penyunting. Mereka percaya tangan sastrawi Pram saja sudah bisa menghasilkan karya sastra berkualitas unggul tanpa campur tangan siapapun. “Pram tidak seperti orang kebanyakan yang sebelum mengeluarkan kata-katanya secara terbuka pada publik — bersedia membaca ulang beberapa kali hingga benar-benar yakin bahwa yang terbaiklah yang tersaji untuk pembaca. “Ia mengetik dengan sepuluh jarinya karena terlatih sebagai soerang juru ketik (typist) dan begitu cerita itu jadi ia tidak pernah membacanya kembali,” jelas Martin. Seorang sahabat Pram bernama Idrus bisa dikatakan menjadi penyunting andal bagi sang pengarang. Begitu besarnya peran Idrus ini sampai Pram sendiri memanggilnya “guru”. Itu karena Idrus memiliki kejelian membuang kata-kata yang tidak perlu dalam karya-karyanya. Karena kebebasan merangkai kata yang terlalu banyak itulah, kualitas karya Pram selanjutnya malah kurang terjaga, demikian disiratkan Martin dalam pernyataannya.

Mirip halnya dengan pengarang Amerika Serikat Ernest Hemingway yang awalnya menulis novel The Old Man and the Sea dalam bentuk yang jauh lebih panjang. Begitu panjang isinya sampai ditolak karena tidak bisa dimuat dalam majalah Look. Menerima penolakan karena alasan terlalu panjang, Hemingway pun mencari akal dengan membaca berulang kali karyanya dan memangkas dengan ‘sangat keji’.

Perampingan karya yang ‘amat keji’ semacam itu konon juga menjadi salah satu kiat bagi J. K. Rowling dalam menulis dan menghasilkan karangan yang apik sehingga laik baca. Dikatakan sendiri oleh Rowling dalam sebuah interviu dengan novelis Ann Patchett, sebuah bagian panjang dan rinci mengenai adegan otopsi terhadap jenazah karakter utama dalam novel The Casual Vacancy dengan sangat amat terpaksa ia hapus karena dianggap tak sesuai dengan harapan. Rowling meratapinya sampai sekarang karena bagaimanapun juga ia sudah mengorbankan banyak sekali waktu untuk meriset seluk beluk prosedur medis otopsi yang riil.

Pengalaman yang sama ‘menyakitkannya’ mengenai pemangkasan radikal sebuah karya hasil kerja keras yang ternyata harus dibuang begitu saja  juga sudah pernah saya alami sendiri. Sakit hati? Tidak bisa. Karena jika saya menganggap semua penghapusan itu sebagai sebuah tindakan personal yang menyinggung maka saya hanya akan melelahkan diri. Tujuan mempertahankan keutuhan karya malah menjadi sebuah perjuangan demi keutuhan ego saya saja. Padahal ada tujuan yang lebih besar daripada keharusan memelihara keutuhan ego seseorang dalam penulisan sebuah buku. Selama bekerja sebagai blogger, mungkin saya tak banyak mengalami penyaringan dari penyunting (editor) namun begitu saya harus terlibat dalam penulisan sebuah buku, saya mau tidak mau saya harus memilah-milah kata dengan jauh lebih cermat dan detil. Dan saya bersyukur bisa mencicipinya sebagai seorang penulis baru. Pada akhirnya, kita harus akui bahwa kesuksesan seorang penulis bukan cuma terletak pada kepiawaiannya menata kata tetapi juga pada kekompakannya bekerja dengan penyunting dan semua anggota tim lain.